Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Segala puji hanya bagi Allah. Umar bin Shalih al-Baghdadi pernah berkata. Aku pernah bertanya al-Imam Ahmad bin Hambal. Apa yang dapat melembutkan hati? Maka beliau melihatku lalu menundukkan kepalanya, Kemudian kembali melihatku lalu menundukkan kepalanya, Kemudian melihatku lagi seraya berkata. Dengan apa hati dapat menjadi lembut? Dengan memakan makanan yang halal! Tidakkah kita memahami hubungan antara memakan makanan yang halal dan kelembutan hati?

================================================================================

الْحَمْدُ لِلهِ

عُمَرُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ يَقُولُ

سَأَلْتُ الْإِمَامَ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ

أَيُّ شَيْءٍ

يُلَيِّنُ الْقُلُوبَ؟

فَنَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ قَالَ

بِأَيِّ شَيءٍ تَلِيْنُ الْقُلُوبُ؟

بِأَكْلِ الْحَلَالِ

هَلَّا اسْتَوْعَبْنَا الْعَلَاقَةَ بَيْنَ

أَكْلِ الْحَلَالِ وَلِيْنِ الْقَلْبِ؟

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Wahai Ahlul Qur’an, jadikanlah Allah dan Allah selalu dalam keikhlasanmu. Jika ada kebaikan datang kepadamu dari perkara dunia karena sebab al-Qur’an maka itu adalah karunia dari Allah, dan tidak membawa mudharat bagi kalian.dan tidak mengurangi pahala kalian. Namun janganlah sekali-kali menjadikan itu sebagai tujuan kalian. …

Baca selengkapnya…Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Kemudian, -semoga Allah menjaga Anda.- Perhatikanlah penghujung kalimat pada ayat yang mulia ini
Allah berfirman, “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Sadar dan bangunlah! “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ini adalah peringatan dan penggugah jiwa, bahwa ketika kebaikan mendatangi Anda.
Ketika datang kepada Anda musim-musim kebaikan, maka manfaatkan baik-baik.
Ketika Anda dapati kelapangan dalam dada Anda untuk berbuat ketaatan dan kecondongan untuk melakukan ibadah, waspadalah dan waspadalah! Jangan sampai Anda menangguhkannya
atau menundanya, atau mengakhirkan yang bisa diamalkan hari ini hingga esok hari! Berhati-hatilah dengan perbuatan seperti itu! Karena jiwa ini, yang terkadang condong pada kebaikan pada waktu tertentu, namun Anda, sang pemilik jiwa, memilih untuk menunda dan mengakhirkannya.
Terkadang jiwa ini terlanjur enggan pada kebaikan.
“Karena Allah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Terkadang jiwa terlanjur enggan pada kebaikan.
Karena betapa banyak orang yang jiwanya menginginkan kebaikan namun dia palingkan jiwanya darinya,
dan dia menunda-nunda dalam ketaatan tersebut dan menangguhkannya.
Kemudian akhirnya jiwanya terus-menerus enggan hingga ajal tiba.
Akhirnya jiwanya terus-menerus berpaling hingga ajal menjemput.
Dan ketahuilah, …”Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Tidak setiap waktu jiwa ini condong pada kebaikan dan tidak setiap saat hati ini terasa lapang.
Jadi, ketika seseorang dapati dalam dirinya kelapangan dan kecondongan pada kebaikan,
hendaknya dia manfaatkan itu baik-baik, bersegera, dan langsung memenuhi
panggilan tersebut karena Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Karena jiwa kadang condong pada kebaikan dan kadang berpaling darinya,
kadang menginginkannya dan kadang enggan.
Dan orang cerdas akan memanfaatkan kesempatan ketika jiwanya sedang condong pada kebaikan.
Dan bersungguh-sungguh untuk memaksimalkan kesempatan tersebut.
Pada musim-musim kebaikan, terutama bulan Ramadan, jiwa akan bergelora dan bersemangat,
sehingga memunculkan kecondongan pada kebaikan.
Seperti ini harus dimanfaatkan untuk menjawab seruan Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

==============================================================================

ثُمَّ تَأَمَّلْ رَعَاكَ اللهُ فِي تَمَامِ هَذَا السِّيَاقِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ

قَالَ: وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- اَلْأَنْفَالُ: ٢٤

اِنْتَبِهْ تَيَقَّظْ- وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

وَهَذَا تَنْبِيهٌ وَإِيْقَاظٌ لِلْقُلُوبِ إِذَا أَقْبَلَ عَلَيْكَ الْخَيْرُ

أَقْبَلَتْ عَلَيْكَ مَوَاسِمُهُ فَاغْتَنِمْهَا

إِذَا وَجَدْتَ مِنْ صَدْرِكَ شَيئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ لِلطَّاعَةِ

وَالْإِقْبَالِ عَلَى الْعِبَادَةِ إِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ أَنْ تُسَوِّفَ

أَوْ أَنْ تُؤَجِّلَ أَوْ أَنْ تُؤَخِّرَ عَمَلَ الْيَوْمِ إِلَى الْغَدِ

اِحْذَرْ أَشَدَّ الْحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ

فَهَذِهِ النَّفْسُ الَّتِي قَدْ تُقْبِلُ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ عَلَى الْخَيْرِ

فَتُسَوِّفُ أَنْتَ يَا صَاحِبَهَا وَتُؤَجِّلُ

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ أَقْبَلَتْ نَفْسُهُ فَأَعْرَضَ عَنْ إِقْبَالِهَا

وَأَجَّلَ فِي الطَّاعَةِ وَسَوَّفَ

ثُمَّ بَقِيَتْ مُدْبِرَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

ثُمَّ بَقِيَتْ مُعْرِضَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

لَيْسَ كُلُّ وَقْتٍ تُقْبِلُ النَّفْسُ لَيْسَ كُلُّ الْوَقْتِ يَنْشَرِحُ الصَّدْرُ

فَإِذَا وَجَدَ الْإِنْسَانُ مِنْ نَفْسِهِ شَيْئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ وَالْإِقْبَالِ

فَلْيَغْتَنِمْ ذَلِكَ وَلْيُبَادِرْ وَلْيُسَارِعْ

إِلَى الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَالنَّفْسُ لَهَا إِقْبَالٌ وإِدْبَارٌ

تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ

وَالْعَاقِلُ يَغْتَنِمُ… يَغْتَنِمُ إِقْبَالَ نَفْسِهِ

وَيَحْرِصُ عَلَى اغْتِنَامِ ذَلِكَ

فِي مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ وَخَاصَّةً رَمَضَانَ تَتَهَيَّجُ النُّفُوسُ وَتَتَحَرَّكُ

وَيَحْصُلُ مِنْهَا إِقْبَالٌ

هَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْتَنَمَ فِي تَحْقِيقِ الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

 

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

At-Tasmiyah (bacaan BISMILLAH) adalah perkara agung. Huruf Ba’ dalam kalimat (بِسْمِ اللهِ) adalah untuk memohon pertolongan dan keberkahan. Kalimat BISMILLAH ini disyariatkan untuk dibaca sebelum makan, minum, berhubungan suami istri (jima’), berkendara, dan termasuk zikir di pagi dan petang hari. Ia sangat berguna untuk menolak tipu daya dan was-was setan. Jika BISMILLAH dibaca, maka setan akan menjadi kerdil hingga menjadi seperti lalat. Dengan BISMILLAH, aurat akan terlindung dari pandangan jin. Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan. Setan telah bertekad untuk menyertai kita dalam harta dan keturunan kita.
“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al-Isra: 64)

Oleh sebab itu disyariatkan berdoa: “BISMILLAAH, ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA.” ketika seseorang hendak berhubungan suami istri (jima’). Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan. Anak keturunan akan terjaga dari tipu daya setan.
Seorang muslim akan terjaga ketika keluar rumah. Makanan dan minumannya akan terlindung dari sentuhan setan.
Setan akan terhalang untuk ikut ke dalam rumahnya, ketika bermalam, saat di tempat tidur, dan ketika makan dan minum. Kendaraan akan terlindung dari gangguan setan. Seorang muslim akan dikaruniai pasangan dan hewan tunggangan yang terbaik.

Dengan BISMILLAH, tempat tinggal dan wadah-wadah akan terlindung. (Dalam hadits): “Tutuplah wadah, ikatlah tempat air, tutuplah pintu, dan rapatkanlah pintu-pintu.” “Tutuplah wadah-wadah, ikatlah tempat air, dan ucapkanlah BISMILLAH.” Tidak ada perkara yang berat di hadapan kalimat BISMILLAH.

Terdapat kisah yang terjadi pada seorang sahabat yang bernama Abu Tamimah al-Hujaimi. Ia berkata, “Siapa yang pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Lalu ia melanjutkan, “Aku pernah dibonceng Nabi di atas keledai, kemudian keledai itu terpeleset maka aku berkata, “Celakalah setan!” Yakni dia berkata ketika keledai itu terpeleset. Sahabat tersebut mencela setan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’” Yakni mencela setan tidak ada manfaatnya! Mencela setan tidak ada faidahnya!
Namun apa yang bermanfaat? Beliau bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’…Karena jika kamu mengatakan ‘Celakalah setan!’ maka setan akan menyombongkan diri; Dan ia akan berkata, ‘Aku telah mengalahkannya dengan kekuatanku’. Yakni setan akan merasa sombong. Namun jika kamu berkata, ‘BISMILLAH’
maka setan akan menjadi kerdil hingga ia menjadi lebih kecil daripada seekor lalat.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan ini adalah hadits yang shahih.

================================================================================

التَّسْمِيَةُ شَيْءٌ عَظِيمٌ

بِسْمِ اللهِ الْبَاءُ هَذِهِ بَاءُ الِاسْتِعَانَةِ وَالتَّبَرُّكِ

هَذِهِ بِسْمِ اللهِ تُشْرَعُ عِنْدَ

الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ وَرُكُوبِ الدَّابَّةِ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

وَلَهَا أَثَرٌ عَجِيبٌ فِي رَدِّ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَوَسْوَسَتِهِ

فَإِنَّهَا إِذَا قِيْلَتْ تَتَصَاغَرُ الشَّيْطَانُ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الذُّبَابِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُصَانُ الْعَوْرَاتُ عَنْ أَعْيُنِ الْجِنِّ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

إِنَّ الشَّيْطَانَ تَعَهَّدَ أَنْ يُشَارِكَنَا فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

وَلِذَلِكَ قَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ

وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا عِنْدَ الْجِمَاعِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

وَتُحْفَظُ الذُّرِّيَّةُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

وَيُحْفَظُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ خُرُوجِهِ مِنْ بَيْتِهِ

وَيُحْفَظُ طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ أَنْ يَمَسَّهُ الشَّيْطَانُ

وَيُمْنَعُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ لَهُ فِي بَيْتِهِ

مَبِيتِهِ فِرَاشِهِ طَعَامِهِ شَرَابِهِ

تُحْفَظُ الْمَرَاكِبُ أَنْ يَنَالَهَا الشَّيْطَانُ

يُرْزَقُ الْمُسْلِمُ خَيْرَ زَوْجَتِهِ وَخَيْرَ دَابَّتِهِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْمَنَازِلُ وَالْأَوَانِي

غَطِّ الْإِنَاءَ أَوْكُوا السِّقَاءَ أَغْلِقِ الْبَابَ أَجِيْفُوا الْأَبْوَابَ

غَطُّوا الْآنِيَةَ أَوْكُوا الأَسْقِيَةَ قُولُوا بِسْمِ اللهِ

لَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

فِيهِ قِصَّةٌ لَطِيفَةٌ حَدَثَتْ لِصَحَابِيّ

يُقَالُ لَهُ أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ

يَقُولُ

عَمَّنْ كَانَ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ كُنْتُ رَدِيفُهُ عَلَى حِمَارٍ

فَعَثَرَ الْحِمَارُ

فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

يَعْنِي لَمَّا تَعَثَّرَ الْحِمَارُ

سَبَّ الشَّيْطَانَ الصَّحَابِيُّ هَذَا

فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

يَعْنِي سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ

سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ

لَكِنَّ الَّذِي يَنْفَعُ

قَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

تَعَاظَمَ الشَّيْطَانُ فِي نَفْسِهِ

وَقَال صَرَعْتُهُ بِقُوَّتِي

يَعْنِي الشَّيْطَانَ يَخْتَالُ

فَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللهِ

تَصَاغَرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ الشَّيْطَانُ

حَتَّى يَكُونَ أَصْغَرَ مِنْ ذُبَابٍ

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ

Inspirasi dari Nabi Tentang Adab Berdebat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Inspirasi dari Nabi Tentang Adab Berdebat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

 

 

 

Salah satu adab berdebat tentunya adalah mendengar dengan seksama. Dan adab itu dapat menawan hati. Adab dapat menawan hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdebat dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, salah seorang pembesar di kaumnya. Suatu hari ‘Utbah duduk di tempat pertemuan kaum Quraisy, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di masjid sendirian, yakni di Masjidil Haram. ‘Utbah lalu berkata, “Wahai kaum Quraisy, bagaimana jika aku menemui Muhammad untuk berbicara dengannya, dan menawarkan kepadanya beberapa hal, barangkali dia mau menerima sebagiannya? Lalu kita dapat memberi apa yang dia mau, agar dia dapat berhenti mengganggu kita.” Perkataan ini mereka sepakati ketika Hamzah baru masuk Islam. Dan mereka melihat pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin bertambah Mereka menjawab, “Baik wahai Abu Walid (panggilan ‘Utbah), pergi dan bicaralah dengannya!” Maka ‘Utbah pergi menghadap beliau. ‘Utbah pun duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata, “Wahai keponakanku, Kamu telah mengetahui bahwa dirimu berasal dari keluarga yang dipercaya dan kedudukan nasab yang tinggi. Dan kamu telah datang pada kaummu dengan perkara yang agung; Dengan perkara itu kamu pecah belah kesatuan mereka, kamu anggap bodoh para pemimpin mereka, kamu cela sesembahan dan agama mereka, dan kamu anggap kafir nenek moyang mereka. Maka dengarkanlah, aku akan menawarkan beberapa perkara untuk kamu pertimbangkan Barangkali kamu dapat menerima sebagiannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah wahai Abu al-Walid, aku akan mendengarkan…” Tentu beliau memanggil dengan kun-yahnya…untuk menghormati dan menghargai ‘Utbah, orang yang memiliki kedudukan ini. Beliau bersabda, “Katakanlah wahai Abu al-Walid, aku akan mendengarkan…” ‘Utbah berkata, “Wahai keponakanku,..jika dengan perkara yang kamu bawa ini kamu menginginkan harta, kami akan mengumpulkan harta kami untukmu, sehingga kamu menjadi paling kaya di antara kami. Jika dengannya kamu ingin kehormatan, maka kami akan menjadikanmu pembesar kami, sehingga kami tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuanmu. Jika kamu ingin kekuasaan, maka kami akan menjadikanmu penguasa kami. Dan jika yang mendatangimu itu adalah penampakan yang kamu lihat, -yakni jin yang menampakkan diri dan mengikutimu- yang tidak dapat kamu lawan, maka kami akan mencarikanmu pengobatan…dan kami akan mengerahkan harta kami hingga kamu dapat sembuh,..karena mungkin jin itu dapat menguasai seseorang hingga ia diobati.”…

Ketika ‘Utbah selesai berbicara, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya, Maka beliau bertanya, “Apakah kamu sudah selesai wahai Abu al-Walid?” Dia menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Kalau begitu dengarkan aku.” Dia menjawab, “Baiklah.” Ini adalah hal yang harus dia lakukan. Karena Rasulullah telah mendengarkannya, maka dia juga harus mendengarkan beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bismillahirrahmanirrahim Haa miim…Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam keadaan tertutup dari apa yang kamu ajak kami kepadanya…” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus membaca surat ini kepadanya. Dan ketika ‘Utbah mendengarnya, ia terdiam, Dan meletakkan dua tangannya di belakang punggungnya bersandar pada kedua tangannya itu, seraya mendengarkan Rasulullah dengan seksama.

Dalam ayat-ayat ini terkandung ancaman; “Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud’.” Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surat ini sampai selesai, Dan ketika membaca surat ini beliau bersujud pada ayat sajdah di dalamnya. Kemudian beliau bersabda, “Apakah kamu telah mendengarnya wahai Abu al-Walid? Maka itulah ancaman bagimu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan terlebih dahulu kemudian baru berbicara. Beliau menjadikan kemampuan mendengar sebagai perantara untuk berdakwah, sehingga lawan debatnya mau tidak mau harus mendengarkan juga. Dan…Inilah adab yang sangat kita butuhkan, yaitu adab seorang pendebat dalam mendengarkan lawan debatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan ucapan ‘Utbah……dengan seksama. Dan menampakkan perhatian kepadanya. Dan barangsiapa yang dapat mendengarkan dengan baik, maka ia dapat membantah dengan baik. ‘Utbah sangat tertarik untuk mendengarkan…karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendengar dengan baik.

Inti dari adab adalah memahami dan mendengarkan lawan bicara. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kesalahan apa yang dibawa ‘Utbah, namun beliau ingin mendengarkan terlebih dahulu seluruh perkataannya, agar beliau dapat membantahnya. Dan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara, beliau bertanya, “Apakah kamu telah selesai wahai Abu al-Walid?” “Apakah kamu telah selesai berbicara wahai Abu al-Walid?” “Apakah kamu telah mengatakan seluruh yang ingin kamu katakan?” Metode ini sangat berguna, bermanfaat, dan singkat. Dan dengan ini kamu dapat memahami apa yang ingin dikatakan lawan bicara.

================================================================================

مِنْ آدَابِ الحِوَارِ طَبْعًا الْإِصْغَاءُ وَحُسْنُ الِاسْتِمَاعِ

وَالْأَدَبُ يَأْسِرُ

الْأَدَبُ يَأْسِرُ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي نِقَاشِهِ مَعَ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَكَانَ سَيِّدًا فِي قَوْمِهِ

قَالَ يَوْمًا وَهُوَ جَالِسٌ فِي نَادِي قُرَيْشٍ

وَنَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَحْدَهُ

مَسْجِدِ الْحَرَامِ

فَقَالَ لَهُمْ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَلَا أَقُومُ إِلَى مُحَمَّدٍ فَأُكَلِّمَهُ ؟

وَأَعْرِضَ عَلَيْهِ أُمُوْرًا لَعَلَّهُ يَقْبَلُ بَعْضَهَا ؟

فَنُعْطِيَهُ أَيَّهَا شَاءَ وَيَكُفَّ عَنَّا ؟

وَكَانَ هَذَا الْكَلَامُ قَالُوا حِينَ أَسْلَمَ حَمْزَةُ

وَرَأَوْا أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُونَ وَيَكْثُرُونَ

فَقَالُوا بَلَى يَا أَبَا الْوَلِيدِ قُمْ إِلَيْهِ فَكَلِّمْهُ

فَقَامَ إِلَيْهِ عُتْبَةُ

حَتَّى جَلَسَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ

يَا ابْنَ أَخِي

إِنَّكَ مِنَّا حَيْثُ قَدْ عَلِمْتَ مِنَ الثِّقَةِ فِي الْعَشِيرَةِ

وَالْمَكَانِ فِي النَّسَبِ

وَإِنَّكَ قَدْ أَتَيْتَ قَوْمَكَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ

فَرَّقْتَ بِهِ جَمَاعَتَهُمْ

وَسَفَّهْتَ بِهِ أَحْلَامَهُمْ

وَعِبْتَ بِهِ آلِهَتَهُمْ وَدِينَهُمْ

وَكَفَّرْتَ بِهِ مَنْ مَضَى مِنْ آبَائِهِمْ

فَاسْمَعْ مِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْكَ أُمُورًا تَنْظُرُ فِيهَا

لَعَلَّكَ تَقْبَلُ مِنَّا بَعْضَهَا

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قُلْ يَا أَبَا الْوَلِيدِ أَسْمَعُ

طَبْعًا التَّكْنِيَةُ هَذِهِ

فِيهَا يَعْنِي تَقْدِيرٌ مُرَاعَاةٌ

لِهَذَا الرَّجُلِ صَاحِبِ الْمَكَانَةِ

قَالَ قُلْ يَا أَبَا الْوَلِيدِ أَسْمَعُ

قَالَ يَا ابْنَ أَخِي

إِنْ كُنْتَ إِنَّمَا تُرِيدُ بِمَا جِئْتَ بِهِ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ مَالًا

جَمَعْنَا لَك مِنْ أَمْوَالِنَا حَتَّى تَكُونَ أَكْثَرَنَا مَالًا

وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِهِ شَرَفًا سَوَّدْنَاكَ عَلَيْنَا

حَتَّى لَا نَقْطَعَ أَمْرًا دُوْنَكَ

وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ مُلْكًا مَلَّكْنَاكَ عَلَيْنَا

وَإِنْ كَانَ هَذَا الَّذِي يَأْتِيكَ رَئِيًّا تَرَاهُ

يَعْنِي تَابِعًا مِنَ الْجِنِّ يَتَرَاءَى لَكَ

لَا تَسْتَطِيعُ رَدَّهُ عَنْ نَفْسِكَ

طَلَبْنَا لَكَ الطِّبَّ

وَبَذَلْنَا فِيهِ أَمْوَالَنَا حَتَّى نُبْرِئَكَ مِنْهُ

فَإِنَّهُ رُبَّمَا غَلَبَ التَّابِعُ عَلَى الرَّجُلِ

حَتَّى يُدَاوَى مِنْهُ

فَلَمَّا فَرَغَ عُتْبَةُ

وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَمِعُ مِنْهُ

قَالَ أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟

قَالَ نَعَمْ

قَالَ فَاسْمَعْ مِنِّي

قَالَ أَفْعَلُ

هَذَا شَيْءٌ فَرَضَ نَفْسَهُ

مَا دَامَ اِسْتَمَعَ إِلَيْهِ لَا بُدَّ الْآخَرُ أَنْ يَسْتَمِعَ

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

حم

تَنْزِيْلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا

عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا

فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ

مِمَّا تَدْعُوْنَآ إِلَيْهِ

وَمَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْهِ

فَلَمَّا سَمِعَ عُتْبَةُ أَنْصَتَ

وَأَلْقَى يَدَيْهِ خَلْفَ ظَهْرِهِ

مُعْتَمِدًا عَلَيْهِمَا يَسْتَمِعُ مِنْهُ

وَفِي الْآيَاتِ

وَعِيدٌ

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ

وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

فِي قِرَاءَتِهِ أَكْمَلَ الْقِرَاءَةَ

وَفِي هَذِهِ السُّورَةِ سَجَدَ

فِي مَوْضِعِ السَّجْدَةِ

ثُمَّ قَالَ قَدْ سَمِعْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ مَا سَمِعْتَ ؟

فَأَنْتَ وَذَاكَ

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اِسْتَمَعَ أَوَّلًا

ثُمَّ تَكَلَّمَ

وَاسْتَعْمَلَ الْإِنْصَاتَ وَسِيْلَةً لِلدَّعْوَةِ

وَكَان لاَ بُدَّ لِلْمُقَابِلِ أَنْ يُنْصِتَ

وَ

هَذَا الْأَدَبُ نَحْتَاجُهُ جِدًّا

اسْتِمَاعُ الْمُحَاوِرِ لِمُحَاوِرِهِ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَابَعَ عُتْبَةَ

بِاعْتِنَاءٍ

وَأَظْهَرَ لَهُ الْإِنْصَاتَ

وَمَنْ أَحْسَنَ الِاسْتِمَاعَ أَحْسَنَ الرَّدَّ

وَقَدْ تَشَوَّقَ عُتْبَةُ لِلسَّمَاعِ

بَعْدَ هَذَا الْإِنْصَاتِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَأْسُ الْأَدَبِ حُسْنُ الْفَهْمِ وَالتَّفَهُّمُ وَالْإِصْغَاءُ لِلْمُتَكَلِّمِ

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْلَمُ بُطْلَانَ مَا جَاءَ بِهِ عُتْبَةُ

لَكِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَسْتَفْرِغَ مَا لَدَيْهِ

لِيَرُدَّ عَلَيْهِ

وَقَبْلَ مَا يَتَكَلَّمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ

أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟

أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟

قُلْتَ كُلَّ مَا عِنْدَكَ ؟ خَلَاص ؟

هَذَا أَجْدَى وَأَنْفَعُ وَأَخْصَرُ وَأَفْيَدُ

وَتَفْهَمُ مَاذَا يَقُولُ الْخَصْمُ

 

Ibadah Hati yang Menuntunmu Bahagia Dunia dan Akhirat – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri

Ibadah Hati yang Menuntunmu Bahagia Dunia dan Akhirat – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri

“Mereka itu mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218) Apa yang dimaksud dengan Roja’ (pengharapan)? Yaitu kamu mengharap dari Allah ‘Azza wa Jalla agar mengaruniakanmu perbuatan baik. Bukankah Dia Dzat yang paling pemurah? Dan Dzat yang paling dermawan? Bukankah Dia Maha Benar dalam janji-Nya? “Dan siapakah yang paling benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisa’: 122) Maka dari itu. Berbaik sangkalah kamu kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi). Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku maka biarlah dia berprasangka kepada-Ku semaunya. Jika kamu berprasangka baik kepada Allah, maka kebaikan akan mendatangimu.

Namun lakukanlah sebab-sebabnya. Jangan kamu berkata, “Aku berprasangka baik kepada Allah”, sedangkan kamu menyelisihi perintah dan larangan-Nya. Kamu berharap kepada Allah agar memberimu petunjuk, kamu berharap kepada Allah agar menolongmu, kamu berharap kepada Allah agar memberimu rezeki, kamu berharap kepada Allah agar menjadikan bagimu pahala besar, dengan melakukan dakwah dan memberi petunjuk untuk orang lain maka sungguh Allah Jalla wa ‘Ala sesuai dengan prasangkamu kepada-Nya. Allah telah berjanji kepadamu dan Dia benar dalam janji-Nya. Kalian ingin rezeki? Kalian ingin uang? Ingin? Jangan sampai dunia menjadi tujuan terbesar kalian. Namun jadikan akhirat tujuan kalian, maka dunia akan mendatangi kalian dan ia dalam keadaan tertunduk.

================================================================================

أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ

أَيْش مَعْنَى الرَّجَاءِ؟

أَنْ تُأَمِّلَ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

أَنْ يَنَالَكَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ

أَلَيْسَ هُوَ الْأَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ؟

وَأَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ؟

أَلَيْسَ هُوَ الصَّادِقُ فِي وَعْدِهِ؟

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيلًا؟

وَبِالتَّالِي

تُحْسِنُ الظَّنَّ فِي اللهِ جَلَّ وَعَلَا

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ

إِنْ ظَنَنْتَ فِي اللهِ الْخَيْرَ جَاءَكَ

بَسْ اِفْعَلْ أَسْبَابَهُ

مَا هُوَ تَقُولُ أَظُنُّ فِي اللهِ الْخَيْرَ وَأَنْتَ

مُخَالِفٌ لِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَهْدِيَكَ

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَنْصُرَكَ

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَرْزُقَكَ

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَجْعَلَ

لَكَ أَجْرًا عَظِيْمًا بِدَعْوَةِ الْخَلْقِ وَهِدَايَتِهِمْ

وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا عِنْدَ ظَنِّكَ

وَقَدْ وَعَدَكَ وَهُوَ صَادِقٌ

تُرِيدُونَ الرِّزْقَ؟

تُحِبُّوْنَ الْفُلُوسَ؟

تُحِبُّونَ؟

لَا تَكُنْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّكُمْ

لِتَكُنِ الْآخِرَةُ هَمَّكُمْ

وَتَأْتِيْكُمُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ