Rahasia di Balik Cinta Mendalam Para Ulama kepada Ibnu Taimiyah – Dr. Basysyar Awwad Ma’ruf

Semoga Allah membalas kebaikan Anda, Fadhilatul Ustadz Dr. Basysyar Awwad Ma’ruf. Ada dua hal yang menarik perhatian kita ketika menelaah perjalanan hidup Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Pertama, seluruh manusia sepakat dalam menghormati dan memuliakan Syaikhul Islam, bahkan hingga orang-orang yang menyelisihinya dan menentangnya. Adapun yang kedua, kita melihat bahwa para pencinta Syaikhul Islam, baik murid-murid beliau secara langsung di masa itu, maupun murid-muridnya secara historis yang keberadaan mereka terus berlanjut hingga hari ini.

Kita melihat sebuah fenomena: seseorang bisa jatuh cinta kepada Ibnu Taimiyah. Bahkan dalam banyak biografi ulama, ada ungkapan yang berulang-ulang disebut, yaitu bahwa hampir tidak ada seorang pun yang condong kepada Ibnu Taimiyah melainkan ia akan mencintainya. Ungkapan ini sering disebut dalam kitab-kitab biografi: “Ia adalah seorang yang mencintai Ibnu Taimiyah.” Bahkan sebagian mereka mengatakan, “Ia diuji karena kecintaannya kepada Ibnu Taimiyah.” Apa rahasia di balik rasa cinta yang kuat antara beliau dan para muridnya, baik muridnya langsung maupun muridnya secara historis? Adapun yang ingin saya tanyakan kepada Anda: Seberapa besar ruang yang ditempati Ibnu Taimiyah di hati Anda? Apakah Anda pun telah jatuh cinta kepada Ibnu Taimiyah?

Adapun saya, selain pengabdian saya dalam menjaga Sunnah Nabawiyah, sebagai kalian ketahui, saya juga mendalami ilmu rijal (kritik perawi) dan biografi ulama. Saya pun telah menelaah puluhan ribu biografi ulama yang hidup setelah generasi Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan saya bersumpah, sebagaimana Adz-Dzahabi rahimahullah pernah bersumpah di antara Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Ibrahim), bahwa saya tidak pernah melihat dan tidak pula mendengar seorang pun di dunia ini—setelah generasi Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang keberaniannya, jihadnya, dan luas ilmunya setanding dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau adalah sosok ulama rabbani yang sesungguhnya, seorang ulama mujahid dalam arti yang sebenar-benarnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Syaikh Al-Muqaddam, saya pun telah jatuh cinta pada sosok ini, sebagaimana ribuan orang telah lebih dahulu mencintainya sebelum saya Lihatlah Jamaluddin Al-Mizzi rahimahullah. Beliau lebih senior daripada Ibnu Taimiyah. Saya tidak bilang “lebih besar” darinya, tapi usianya lebih tua daripada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Al-Mizzi rahimahullah lahir pada tahun 654 H. Lalu Abul Qasim Al-Birzali lahir pada tahun 661 H. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—maaf—Al-Mizzi lahir tahun 654 H, sedangkan Syaikhul Islam lahir tahun 661 H. Lalu Syamsuddin Adz-Dzahabi lahir tahun 673 H. Jadi, yang paling senior di antara mereka adalah Jamaluddin Al-Mizzi.

Tahun wafat mereka, sebagaimana telah diketahui, yang pertama wafat adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada tahun 728 H. Benar, tahun 728 H. Setelah itu, Al-Birzali pada tahun 739 H, disusul Al-Mizzi tahun 742 H, kemudian Adz-Dzahabi pada tahun 748 H. Dahulu Tajuddin As-Subki pernah berkata bahwa Abul Abbas bin Taimiyah telah memberi kemudaratan yang besar kepada persahabatan mereka (Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, dan Al-Barzali). Tajuddin As-Subki, ayahnya adalah seorang yang sangat mulia, yaitu Taqiyuddin As-Subki. Namun Tajuddin As-Subki tidak seperti ayahnya, meskipun Adz-Dzahabi sangat memperhatikannya dan ia termasuk salah satu muridnya yang paling unggul. Namun sayangnya, ia bersikap sangat tidak santun kepada gurunya, Adz-Dzahabi. Ia bahkan berkata bahwa tidak boleh membaca kitab Tarikh Al-Islam karya Adz-Dzahabi. Padahal, isi kitabnya sendiri, yaitu Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra, sebagian besarnya diambil dari kitab Tarikh Al-Islam karya Adz-Dzahabi. Penyebab perselisihan ini, seperti yang sudah umum diketahui, adalah masalah akidah. Sebab, ikatan persahabatan yang luar biasa antara Jamaluddin Al-Mizzi, Adz-Dzahabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Abul Qasim Al-Birzali, merupakan persahabatan yang sangat kuat. Mereka adalah representasi dari arus perubahan (ishlah) pada masa itu. Sebuah gerakan besar yang memerangi praktik khurafat, yang dibuat-buat, dan berbagai penyimpangan yang saat itu telah merebak di Mesir dan Syam. Seperti pengultusan guru, serta pemberian sesaji kepada batu, kuburan, dan sebagainya. Mereka melawan penyimpangan ini secara totalitas, hingga mereka pun disakiti karenanya.

Bahkan Taqiyuddin As-Subki, ketika beliau menjabat sebagai Qadhi Qudhat (Ketua Hakim) madzhab Syafi’i di wilayah Syam, pada tahun 739 H, beliau bercerita: “Beberapa orang mendatangi saya pada malam hari dan berkata, ‘Anda harus mencopot Jamaluddin Al-Mizzi dari Darul Hadits Al-Asyrafiyah. Dia bukanlah seorang yang bermazhab Syafi’i, padahal syaratnya harus seorang yang bermazhab Syafi’i.’ Mereka berkata: ‘Al-Mizzi hanya formalitas saja bermadzhab Syafi’i, padahal aslinya dia pengikut Ibnu Taimiyah.’” Maka As-Subki pun menjawab, “Demi Allah, aku katakan pada mereka…” “Demi Allah, sekiranya Ad-Daraquthni masih hidup, niscaya ia akan merasa sungkan untuk mengajar di posisi Al-Mizzi. Bagaimana mungkin aku mencopot orang sekaliber dia dari lembaga itu?” Taqiyuddin As-Subki memang sosok yang sangat adil dan bijaksana dalam menilai sesuatu. Intinya, Adz-Dzahabi sempat tidak diperbolehkan mengajar di banyak pusat studi hadits karena kedekatan haluannya dengan Ibnu Taimiyah. Padahal, seperti yang kalian tahu, secara administratif, Al-Birzali, Adz-Dzahabi, dan Jamaluddin Al-Mizzi memang berstatus sebagai pengikut madzhab Syafi’i. Namun, akidah mereka adalah akidah salafiyah yang dikenal, yang dalam hal itu mereka mengikuti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Berbicara tentang Ibnu Taimiyah, saya ingin menceritakan satu momen luar biasa dalam perjalanan hidup beliau. Saat berlangsungnya Perang Irak-Iran dahulu, saya menulis sebuah risalah penelitian yang kemudian tersebar luas—alhamdulillah—pada waktu itu. Saat pemerintah mulai melatih para pelajar untuk menggunakan senjata, saya bercerita kepada mereka sebagai bentuk meneladani Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Saya menulis artikel berjudul “Dari Mihrab Ilmu menuju Medan Pertempuran” yang mengulas sisi perjuangan fisik Ibnu Taimiyah. Artikel itu dimuat di majalah Al-Risalah Al-Islamiyah, seingat saya sekitar tahun 1983. Duh, demi Allah, saya agak lupa kapan persisnya waktu itu. Di sana saya memaparkan keteguhan sikap Ibnu Taimiyah ketika Sultan Ghazan dari bangsa Mongol datang hendak menginvasi wilayah Syam dan Mesir. Faktanya, pasukan Mongol saat itu sudah berkemah di dekat Damaskus. Sayangnya, pasukan koalisi Mesir dan Syam mengalami kekalahan dalam perang tersebut, tepatnya pada Peristiwa Wadi Al-Khaznadar tahun 699 H. Syaikhul Islam terus memompa semangat salah satu panglima Mamluk saat itu, yaitu Panglima Arjuwash. Ketika sang panglima bertahan di dalam benteng, beliau pun turut bertahan bersamanya.

Ibnu Taimiyah melatih para ahli hadits dengan menggunakan sasaran panah, beliau memasangkan bagi mereka sasaran-sasaran itu, mengajari mereka teknik memanah, hingga cara bertarung dengan pedang, hingga Benteng Damaskus tetap aman dan tidak berhasil ditembus oleh Mongol. Padahal, pasukan Mongol saat itu sudah berhasil merangsek masuk ke wilayah pemukiman Dair Al-Maqadisah (pemukiman ulama seperti Abdul Ghani dan Al-Muwaffaq Al-Maqdisi) yang merupakan basis penganut madzhab Hambali di Syam. Pasukan Mongol melakukan perusakan hebat di Damaskus. Dalam situasi genting itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pergi menemui Sultan Ghazan secara langsung.

Salah satu saksi mata dalam pertemuan bersejarah itu adalah An-Nuwairi, penulis kitab Nihayatul Arab fi Fununil Adab. Beliau wafat tahun 732 H. An-Nuwairi menceritakan bahwa Syaikhul Islam berbicara dengan sangat tegas di hadapan Sultan Mongol tersebut, sampai-sampai kami yang mendampingi beliau mulai merapikan pakaian kami, karena khawatir darah akan muncrat mengenai pakaian kami. Kami berpikir penguasa zalim ini akan segera bangkit dan memenggal leher beliau. Ibnu Taimiyah berkata kepadanya: “Wahai Sultan, ayah dan kakekmu dahulu adalah orang kafir!” —maksudnya Hulagu dan Tolui. Jadi, kakek (buyutnya) Hulagu, dan ayahnya Hulagu adalah Tolui, sedangkan Abaqa adalah putra Hulaqu (kakek dari Ghazan). Sedangkan Mahmud Ghazan ini mengaku telah memeluk Islam. Ibnu Taimiyah berkata kepadanya, “Engkau mengaku Muslim, tapi engkau melakukan kerusakan yang begitu keji di negeri ini!” An-Nuwairi berkisah bahwa saking berwibawanya Syaikhul Islam, sang Sultan tidak berdaya untuk membalas ucapan itu.

Setelah itu, Mongol menguasai wilayah tersebut, Syaikhul Islam berangkat ke Mesir dan berbicara langsung kepada para penguasa di sana, karena saat itu wilayah Syam berada di bawah otoritas Mamluk Mesir. Beliau berkata kepada mereka, “Kalian harus memilih: membela eksistensi Islam di negeri Syam, atau kami akan melengserkan kalian—karena kalian tidak mampu melakukannya—atau kalian segera mempersiapkan pasukan-pasukan.” Beliau terus mendesak perkara ini hingga akhirnya para pemimpin Mesir memenuhi seruannya dan segera bergerak. Pasukan Ghazan pun kembali datang pada tahun 701 H.

Tepatnya dua tahun setelah peristiwa tersebut. Syaikhul Islam berangkat bersama para ahli hadits dan murid-muridnya untuk terjun langsung ke medan perang, yang saat itu terjadi di bulan Ramadhan. Pasukan pun berbaris. Ketika itu Syaikhul Islam membawa kurma di tangannya, beliau berikan kepada pasukan untuk berbuka puasa. Beliau berseru pada mereka, “Berbukalah kalian, karena berbuka akan menambah kekuatan kalian!” Beliau melakukannya berdasarkan penafsiran terhadap hadits Abu Sa’id Al-Khudri saat peristiwa Fathu Makkah. Ketika pertempuran hendak dimulai, beliau memacu kudanya berkeliling di antara para panglima, seraya berkata: “Berperanglah! ​​Demi Allah, sungguh kalian pasti akan menang!” Para panglima berkata, “Ucapkanlah: Insya Allah!” Beliau menjawab, “Aku mengucapkannya sebagai bentuk kepastian (tahqiq), bukan sekadar kemungkinan (ta’liq), karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya!”

Maka terjadilah kekalahan telak bagi pasukan Ghazan dalam Perang Syaqhab yang masyhur itu. Sebuah kemenangan yang tak lepas dari peran besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau bersama para ahli hadits dan ahli fikih terjun berperang bersama dengan tentara. Orang-orang Mesir berkata kepadanya: “Kemarilah, berperanglah bersama kami.” Beliau menjawab, “Tidak. Sesungguhnya yang sesuai sunnah, seseorang berjuang bersama kaumnya. Aku berjuang di barisan penduduk Syam bersama kalian.” Setelah itu, Syaikhul Islam menanggung berbagai gangguan dari pihak-pihak yang kontra, akibat kemunduran umat, juga penindasan dan kezaliman yang menimpa umat kala itu, serta karena keberaniannya menyuarakan kebenaran, beliau pun harus mendekam di penjara, mulai dari benteng di Iskandariyah (kawasan Bab Syarq), serta di benteng di Kairo, hingga akhir hayatnya di benteng Damaskus.

Ibnu Katsir—yang menikahi Zainab, putri gurunya sendiri (Al-Mizzi)—bercerita: “Dengan sebab kedudukan pamanku, Abu Al-Hajjaj (Al-Mizzi), aku dapat masuk ke dalam ruangan tempat Syaikhul Islam dipenjara.” Saat itu, mereka memutus dari beliau akses terhadap kertas dan pena, dan tidak mengizinkan beliau untuk menulis. Maka tidak ada lagi yang beliau lakukan selain terus membaca Al-Qur’an. Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 80 kali di hari-hari terakhirnya. Khataman terakhir beliau pun kemudian disempurnakan oleh salah seorang qari setelah beliau wafat.

Ibnu Katsir mengenang, “Aku masuk menemuinya, lalu mencium di antara kedua matanya.” Ketika itu, seluruh penduduk Damaskus keluar rumah. Laki-laki, perempuan, tua maupun muda, untuk mengiringi jenazah imam besar ini. Maka benar dan terbuktilah ucapan para ulama yang mulia: “Katakanlah kepada para ahli bid’ah: antara kami dan kalian adalah hari jenazah.” Lihatlah bagaimana orang-orang mengantar kepergian ulama paling agung yang pernah dikenal umat manusia pada zaman itu.

Itulah sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang telah mewariskan kepada kita hampir seribu karya tulis, dan menghabiskan seluruh umurnya untuk berjuang. Ketika beliau membacakan kitab Aqidah Wasithiyah karyanya dan berhasil mematahkan argumentasi lawan hingga membuat mereka terpojok, Jamaluddin Al-Mizzi sendiri—seorang syaikh yang berwibawa—keluar dan duduk di Masjid Umayyah, beliau membaca dari kitab Shahih Al-Bukhari, serta kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad, sebagai bentuk bantahan terhadap mereka. Mereka berkata, “Syaikh Al-Mizzi sengaja membacakan itu hanyalah untuk membungkam kami.” Mengingat saat itu bukan jadwal rutin kajian kitab Shahih Al-Bukhari, aksi tersebut dianggap sebagai bentuk unjuk kemenangan, sehingga mereka pun memenjarakan Al-Mizzi. Ketika itu, Syaikhul Islam dengan segala keberaniannya langsung mendatangi penjara dan mengeluarkan Al-Mizzi dengan tangannya sendiri. Beliau sama sekali tidak gentar kepada penguasa mana pun kala itu.

Maka Ketua Hakim mazhab Syafi’i pun bersumpah akan mundur dari jabatannya, bahkan sampai bersumpah cerai dan memerdekakan budak jika Al-Mizzi tidak kembali ke penjara, ia akan mengundurkan diri dan menceraikan istrinya. Mereka memohon agar Al-Mizzi sudi kembali ke penjara sekadar satu-dua jam (agar sumpah tersebut gugur), barulah setelah itu beliau dibebaskan.

Begitulah sejarah mencatatnya. Ketika Jamaluddin Al-Mizzi wafat pada tahun 742 H, Al-Hafizh Ibnu Katsir memerintahkan pengikut dan kerabatnya agar kelak ia dimakamkan di samping gurunya, Al-Mizzi. Dan subhanallah, ketika pemerintah Turki Utsmani meratakan area pemakaman untuk pembangunan Universitas Damaskus, semua bangunan makam dihancurkan, kecuali satu makam yang tetap berdiri kokoh, yaitu makam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, yang masih tetap berdiri di area Universitas Damaskus, di negeri Syam. Begitu pula dengan istri Jamaluddin Al-Mizzi, beliau adalah seorang ulama wanita yang sangat mulia.

Saya pun memiliki manuskrip kitab Tahdzibul Kamal yang berisi tulisan tangan asli dari Ibnu Katsir, istrinya (Zainab), serta Al-Mizzi sendiri. Tulisan tangan mereka semua tertera pada naskah yang dahulu dibacakan di hadapan Jamaluddin Al-Mizzi. Naskah itu ditulis tangan oleh beliau sendiri, dan saya sudah menelaahnya, alhamdulillah. Di antaranya, sebanyak 87 juz dari Tahdzib Al-Kamal, yang terdiri dari 255 juz yang ditulis langsung dengan tangan Al-Mizzi sendiri. Itu adalah naskah asli milik beliau yang di dalamnya tertera catatan riwayat pendengaran (sama’at) dan pembacaan naskah (qira’at) dari ribuan. Maaf, maksud saya puluhan ulama di masa itu yang pernah mempelajari kitab yang agung ini, yang seumur hidup saya, belum pernah saya mencintai sebuah kitab melebihi kecintaan saya pada kitab ini. Saya pun belum pernah mencurahkan perhatian pada suatu karya, sebesar perhatian saya pada kitab yang luar biasa ini.

Setiap kali saya menelaah satu per satu biografi di dalamnya, saya merasa seolah-olah sedang menulis riset tentang tokoh maupun ulama yang sedang saya teliti biografinya tersebut. Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan Anda.

=====

جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا فَضِيلَةَ الْأُسْتَاذِ الدُّكْتُورِ بَشَّار عَوَّاد مَعْرُوف يَلْفِتُ نَظَرَنَا حِينَمَا نُطَالِعُ سِيرَةَ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى أَمْرَانِ الْأَوَّلُ اجْتِمَاعُ النَّاسِ كُلِّهِمْ عَلَى تَقْدِيرِ وَاحْتِرَامِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ حَتَّى الْمُخَالِفِينَ لَهُ وَالْخُصُومِ الْأَمْرُ الثَّانِي عَلَى الْجِهَةِ الْأُخْرَى نُلَاحِظُ فِيهِ أَنَّ أَوْلِيَاءَ شَيْخِ الْإِسْلَامِ وَيَعْنِي مُحِبِّيهِ سَوَاءً كَانُوا التَّلَامِذَةَ الْمُبَاشِرِينَ أَوْ التَّلَامِذَةَ التَّارِيخِيِّينَ الَّذِينَ يَمْتَدُّ وُجُودُهُمْ إِلَى الْيَوْمِ

نُلَاحِظُ ظَاهِرَةَ الْوُقُوعِ فِي حُبِّ ابْنِ تَيْمِيَّةَ حَتَّى نَرَى فِي تَرَاجِمِ كَثِيرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ عِبَارَةً تَتَرَدَّدُ كَثِيرًا جِدًّا يَعْنِي وَمَفِيش حَدّ يُحِبُّ ابْنَ تَيْمِيَّةَ يَعْنِي وَيَمِيلُ إِلَيْهِ كَاع بَسْ دَهْ دَائِمًا تُقَالُ فِي التَّرْجَمَةِ وَكَانَ مُحِبًّا لِابْنِ تَيْمِيَّةَ وَبَعْضُهُمْ يَقُولُ وَابْتُلِيَ بِسَبَبِ حُبِّهِ لِابْنِ تَيْمِيَّةَ إِيهْ سِرُّ هَذِهِ الْعَاطِفَةِ الشَّدِيدَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ تَلَامِذَتِهِ سَوَاءً الْحَقِيقِيِّينَ الْمُبَاشِرِينَ أَوِ التَّارِيخِيِّينَ؟ الَّذِي أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَ فَضِيلَتَكُمْ عَنْهُ: مَا هِيَ الْمِسَاحَةُ الَّتِي يَحْتَلُّهَا ابْنُ تَيْمِيَّةَ فِي قَلْبِكُمْ؟ وَهَلْ وَقَعْتُمْ فِي حُبِّ ابْنِ تَيْمِيَّةَ؟

أَنَا يَعْنِي إِلَى جَانِبِ كَوْنِي مِنْ خَدَمَةِ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ فَإِنِّي كَمَا تَعْرِفُونَ مُخْتَصٌّ بِعِلْمِ الرِّجَالِ وَالتَّرَاجِمِ وَقَدْ قَرَأْتُ سِيَرَ عَشَرَاتِ الْأُلُوفِ مِنَ الْعُلَمَاءِ بَعْدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَأَحْلِفُ كَمَا حَلَفَ الذَّهَبِيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ عَلَى أَنَّنِي لَا رَأَيْتُ وَلَا سَمِعْتُ إِنْسَانًا فِي الدُّنْيَا بَعْدَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الشَّجَاعَةِ وَفِي الْجِهَادِ وَفِي الْعِلْمِ مِثْلَ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ كَانَ عَالِمًا رَبَّانِيًّا بِكُلِّ مَعْنَى الْكَلِمَةِ وَعَالِمًا مُجَاهِدًا بِكُلِّ مَعْنَى الْكَلِمَةِ

وَكَمَا تَفَضَّلَ الْعَلَّامَةُ الشَّيْخُ الْمُقَدَّمُ فَإِنِّي وَقَعْتُ فِي حُبِّ هَذَا الْإِنْسَانِ الَّذِي وَقَعَ فِي حُبِّهِ قَبْلِي آلَافٌ مُؤَلَّفَةٌ انْظُرُوا إِلَى جَمَالِ الدِّينِ الْمِزِّيِّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَهُوَ أَسَنُّ مِنِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ لَا أَقُولُ أَكْبَرَ مِنْهُ هُوَ أَسَنُّ مِنْ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْمِزِّيُّ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ وُلِدَ سَنَةَ ٦٥٤ وَالْبِرْزَالِيُّ أَبُو الْقَاسِمِ الْبِرْزَالِيُّ وُلِدَ سَنَةَ ٦٦١ وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ عَفْوًا ٦٥٤ وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ وُلِدَ سَنَةَ ٦٦١

وَوَفَيَاتُهُمْ كَمَا هِيَ مَعْلُومَةٌ تُوُفِّيَ أَوَّلُهُمْ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ سَنَةَ ٧٢٨ نَعَمْ ٧٢٨ وَبَعْدَ ذَلِكَ الْبِرْزَالِيُّ سَنَةَ ٧٣٩ ثُمَّ الْمِزِّيُّ ٧٤٢ ثُمَّ الذَّهَبِيُّ سَنَةَ ٧٤٨ كَانَ السُّبْكِيُّ يَقُولُ هَذِهِ الرُّفْقَةُ أَضَرَّ بِهَا كَثِيرًا أَبُو الْعَبَّاسِ بْنُ تَيْمِيَّةَ هَذَا السُّبْكِيُّ أَبُوهُ رَجُلٌ فَاضِلٌ جِدًّا تَقِيُّ الدِّينِ هُوَ لَيْسَ كَأَبِيهِ مَعَ أَنَّ الذَّهَبِيَّ كَانَ يُدَلِّلُهُ وَكَانَ مِنْ أَنْجَبِ تَلَامِذَتِهِ لَكِنْ مَعَ الْأَسَفِ أَقُولُ إِنَّهُ يَعْنِي أَسَاءَ مَعَ شَيْخِهِ الذَّهَبِيِّ إِسَاءَةً بَالِغَةً حَتَّى قَالَ إِنَّهُ لَا يَجُوزُ النَّظَرُ فِي كِتَابِهِ تَارِيخِ الْإِسْلَامِ مَعَ أَنَّ كِتَابَهُ فِي الطَّبَقَاتِ الْكُبْرَى مَأْخُوذٌ جُلُّهُ مِنْ تَارِيخِ الْإِسْلَامِ لِلذَّهَبِيِّ وَهَذَا سَبَبُهُ كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ الْعَقَائِدُ لِأَنَّ هَذِهِ الرُّفْقَةَ الْعَظِيمَةَ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَ جَمَالِ الدِّينِ الْمِزِّيِّ وَبَيْنَ الذَّهَبِيِّ وَبَيْنَ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ وَأَبِي الْقَاسِمِ الْبِرْزَالِيِّ كَانَتْ رُفْقَةً كَبِيرَةً هُمْ كَانُوا يُمَثِّلُونَ التَّيَّارَ الْإِصْلَاحِيَّ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ التَّيَّارَ الْعَظِيمَ الَّذِي حَارَبَ الشَّعْبَذَةَ وَالْمُمَهْرِقَاتِ وَالْأَشْيَاءَ الْكَثِيرَةَ الَّتِي كَانَتْ قَدِ انْتَشَرَتْ فِي بِلَادِ مِصْرَ وَبِلَادِ الشَّامِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ مِنْ تَقْدِيْسِ الْأَشْيَاخِ وَتَقْدِيمِ النُّذُورِ إِلَى الصُّخُورِ وَإِلَى الْقُبُورِ وَمَا غَيْرِهَا وَقَدْ حَارَبُوا هَذَا الِاتِّجَاهَ حَرْبًا شَعْوَاءَ وَأُوذُوا بِسَبَبِ ذَلِكَ حَتَّى إِنَّ تَقِيَّ الدِّينِ السُّبْكِيَّ لَمَّا جَاءَ قَاضِيًا لِقُضَاةِ الشَّافِعِيَّةِ فِي بِلَادِ الشَّامِ سَنَةَ ٧٣٩

يَقُولُ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّاسُ فِي اللَّيْلِ وَقَالُوا: عَلَيْكَ أَنْ تَعْزِلَ جَمَالَ الدِّينِ الْمِزِّيَّ مِنْ دَارِ الْحَدِيثِ الْأَشْرَفِيَّةِ هَذَا لَيْسَ شَافِعِيًّا وَشَرْطُهَا أَنْ يَكُونَ شَافِعِيًّا قَالَ لَهُ: هَذَا شَافِعِيٌّ بِالِاسْمِ هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ فَقَالَ: وَاللَّهِ قُلْتُ لَهُمْ وَاللَّهِ لَوْ عَاشَ الدَّارَقُطْنِيُّ لَاسْتَحْيَا أَنْ يُدَرِّسَ فِي مَكَانِهِ كَيْفَ أَعْزِلُهُ مِنْ هَذِهِ الدَّارِ؟ هَذَا كَانَ رَجُلًا مُنْصِفًا وَعَاقِلًا حَقِيقَةً تَقِيُّ الدِّينِ السُّبْكِيُّ الْمُهِمُّ أَنَّ الذَّهَبِيَّ حُرِمَ مِنْ كَثِيرٍ مِنْ دُورِ الْحَدِيثِ بِسَبَبِ كَوْنِهِ مِنْ هَذَا التَّوَجُّهِ مَعَ أَنَّهُ تَعْرِفُونَ يَعْنِي مِنَ النَّاحِيَةِ النَّظَرِيَّةِ كَانُوا الْبِرْزَالِيُّ وَالذَّهَبِيُّ وَجَمَالُ الدِّينِ الْمِزِّيُّ كَانُوا شَوَافِعَ يَعْنِي بِالِاسْمِ يَعْنِي كَمَا هُوَ مَعْرُوفٌ لَكِنْ عَقِيدَتُهُمْ هِيَ الْعَقِيدَةُ السَّلَفِيَّةُ الْمَعْرُوفَةُ الَّتِي اتَّبَعُوا فِيهَا شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ

ابْنُ تَيْمِيَّةَ أَذْكُرُ لَكُمْ مَوْقِفًا وَاحِدًا عَظِيمًا مِنْ مَوَاقِفِهِ وَأَنَا فِي أَثْنَاءِ الْحَرْبِ الْعِرَاقِيَّةِ الْإِيرَانِيَّةِ كَتَبْتُ بَحْثًا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَانْتَشَرَ انْتِشَارًا بِحَمْدِ اللَّهِ كَبِيرًا فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ حِينَمَا بَدَأَتِ الدَّوْلَةُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ تُدَرِّبُ الطَّلَبَةَ عَلَى السِّلَاحِ وَقُلْتُ لَهُمْ تَأَسِّيًا بِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ

كَتَبْتُ مَقَالًا اسْمُهُ: مِنْ مِحْرَابِ الْعِلْمِ إِلَى مَيْدَانِ الْقِتَالِ فِي سِيرَةِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْجِهَادِيَّةِ نَشَرْتُهُ فِي الرِّسَالَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ أَظُنُّ سَنَةَ ١٩٨٣ أَوْ مَا عَادَ وَاللَّهِ فِي ذِهْنِي يَعْنِي فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ بَيَّنْتُ فِيهِ مَوْقِفَهُ الْعَظِيمَ مِنْ حِينَمَا قَدِمَ السُّلْطَانُ غَازَانُ يُرِيدُ الْمَغُولِيُّ يُرِيدُ بِلَادَ الشَّامِ وَالْبِلَادَ الْمِصْرِيَّةَ وَالْحَقِيقَةُ أَنَّهُ عَسْكَرَ بِالْقُرْبِ مِنْ دِمَشْقَ وَانْكَسَرَتِ الْجُيُوشُ الْمِصْرِيَّةُ وَالشَّامِيَّةُ فِي تِلْكَ الْحَرْبِ مَعَ الْأَسَفِ فِي وَقْعَةِ الْخَزْنَدَارِ سَنَةَ ٦٩٩ هِجْرِيَّة وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ ظَلَّ يُشَجِّعُ أَحَدَ قُوَّادِ الْمَمَالِيكِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَهُوَ الْقَائِدُ أَرْجُوَاشُ حِينَ صَمَدَ بِالْقَلْعَةِ وَصَمَدَ هُوَ مَعَهُ

وَكَانَ يُدَرِّبُ أَهْلَ الْحَدِيثِ بِالْأَمَاجَاتِ يَنْصِبُ لَهُمُ الْأَمَاجَاتِ وَيُعَلِّمُهُمُ الرَّمْيَ رَمْيَ السِّهَامِ وَالضَّرْبَ بِالسُّيُوفِ إِلَى أَنْ سَلِمَتِ الْقَلْعَةُ قَلْعَةُ دِمَشْقَ وَلَمْ يَسْتَطِعِ الْمَغُولُ أَنْ يَدْخُلُوهَا مَعَ أَنَّهُمْ هُمُ اسْتَطَاعُوا أَنْ يَدْخُلُوا إِلَى دَيْرِ الْمَقَادِسَةِ دَيْرِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَالْمُوَفَّقِ الْمَقْدِسِيِّ وَكَانَ دَيْرَ الْحَنَابِلَةِ الْمَعْرُوفِ فِي بِلَادِ الشَّامِ وَفَعَلُوا فِي دِمَشْقَ الْأَفَاعِيلَ وَقَدْ ذَهَبَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ لِمُقَابَلَةِ غَازَانَ

وَكَانَ مِنَ الشَّاهِدِينَ عَلَى تِلْكَ الْمُقَابَلَةِ النُّوَيْرِيُّ تَعْرِفُونَهُ صَاحِبَ نِهَايَةِ الْأَرَبِ فِي فُنُوْنِ الْأَدَبِ الْمُتَوَفَّى سَنَةَ ٧٣٢ قَالَ: تَكَلَّمَ مَعَهُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ بِكَلَامٍ بَدَأْنَا نَحْنُ نُلَمْلِمُ بِثِيَابِنَا خَوْفًا مِنْ أَنْ يَنْتَشِرَ الدَّمُ عَلَى ثِيَابِنَا يَقُولُ لَنَا: سَيَقُومُ إِلَيْهِ هَذَا الطَّاغِيَةُ فَيَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ لَهُ: يَا سُلْطَانُ أَبُوكَ وَجَدُّكَ كَانَا كَافِرَيْنِ يَعْنِي هُولَاكُو وَتُوْلُوِي إِذًا هُوَ جَدُّهُ هُولَاكُو وَأَبُوهُ تُولِي أَوْ ابْنُ هُولَاكُو أَبَاقَا عَفْوًا ابْنُ هُولَاكُو وَهُوَ مَحْمُودُ غَازَانُ الَّذِي ادَّعَى أَنَّهُ صَارَ مُسْلِمًا قَالَ لَهُ: وَأَنْتَ تَدَّعِي الْإِسْلَامَ وَتَفْعَلُ هَذِهِ الْأَفَاعِيلَ فِي الْبِلَادِ يَقُولُ: مَا اسْتَطَاعَ هَذَا مِنْ شَجَاعَتِهِ أَنْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ اسْتَوْلَى مَغُولٌ عَلَى هَذِهِ الْبِلَادِ ذَهَبَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ إِلَى الْبِلَادِ الْمِصْرِيَّةِ وَقَالَ لِحُكَّامِهَا وَكَانَتِ الشَّامُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ تَابِعَةً لِمَمَالِيكِ مِصْرَ قَالَ لَهُمْ: إِمَّا أَنْ تُدَافِعُوا عَنْ بَيْضَةِ الْإِسْلَامِ فِي بِلَادِ الشَّامِ وَإِمَّا نَعْزِلَكُمْ أَنْتُمْ غَيْرُ قَادِرِينَ عَلَى ذَلِكَ وَإِمَّا أَنْ تُجَهِّزُوا الْجُيُوشَ وَظَلَّ يُلِحُّ فِي هَذِهِ الْقَضِيَّةِ حَتَّى اسْتَجَابَ لَهُ الْقَادَةُ الْمِصْرِيُّونَ وَتَوَجَّهُوا وَجَاءَتِ الْجُيُوشُ الْغَازَانِيَّةُ مَرَّةً أُخْرَى فِي سَنَةِ ٧٠١

يَعْنِي بَعْدَ ذَلِكَ بِسَنَتَيْنِ فَخَرَجَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ وَالْمُحَدِّثُونَ مَعَهُ طَلَبَةُ الْحَدِيثِ لِيَشْهَدُوا الْمَعْرَكَةَ وَكَانَتْ فِي رَمَضَانَ وَاصْطَفَّ الْجَيْشُ وَكَانَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ يَحْمِلُ بِيَدِهِ التَّمْرَ يُفَطِّرُ الصَّائِمِينَ يَقُولُ لَهُم: أَفْطِرُوا إِنَّ الْفِطْرَ أَقْوَى لَكُمْ تَأَوُّلًا بِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَحِينَ بَدَأَتْ أَرَادَتْ أَنْ تَبْدَأَ الْمَعْرَكَةُ كَانَ يَجُولُ بِفَرَسِهِ بَيْنَ الْأُمَرَاءِ يُقَوِّي يَقُولُ لَهُمْ قَاتِلُوا وَاللَّهِ إِنَّكُمْ لَمَنْصُورُونَ يَقُولُونَ لَهُ الْأُمَرَاءُ: قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ قَالَ أَقُولُهَا تَحْقِيقًا لَا تَعْلِيقًا لِأَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَعَدَ عِبَادَهُ بِالنَّصْرِ

ثُمَّ كَانَتِ الْهَزِيمَةُ الشَّنِيعَةُ لِلْجُيُوشِ الْغَازَانِيَّةِ فِي وَقْعَةِ شَقْحَبَ الْمَشْهُورَةِ الَّتِي أَسْهَمَ فِيهَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَمَعَهُ الْمُحَدِّثُونَ وَالْفُقَهَاءُ كَانُوا يُقَاتِلُونَ مَعَ الْجَيْشِ قَالَ لَهُ الْمِصْرِيُّونَ: تَعَالَ قَاتِلْ مَعَنَا قَالَ: لَا إِنَّ السُّنَّةَ أَنْ يُقَاتِلَ الْإِنْسَانُ مَعَ قَوْمِهِ أَنَا أُقَاتِلُ مَعَ أَهْلِ الشَّامِ مَعَكُمْ وَشَيْخُ الْإِسْلَامِ بَعْدَ ذَلِكَ تَحَمَّلَ بِسَبَبِ مَا أُوذِيَ بِهِ مِنْ قِبَلِ الْآخَرِينَ بِسَبَبِ التَّخَلُّفِ وَبِسَبَبِ الضَّيْمِ وَالظُّلْمِ الَّذِي لَحِقَ بِالْأُمَّةِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ وَبِسَبَبِ جَهْرِهِ بِالْحَقِّ تَحَمَّلَ سِجْنًا هُنَا فِي الْقَلْعَةِ فِي الْإِسْكَنْدَرِيَّةِ فِي هَذِهِ فِي بَابِ شَرْقٍ وَفِي الْقَلْعَةِ فِي الْقَاهِرَةِ وَآخِرُ شَيْءٍ فِي الْقَلْعَةِ بِدِمَشْقَ

قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ وَكَانَ مُتَزَوِّجًا مِنِ ابْنَةِ شَيْخِهِ الْمِزِّيِّ زَيْنَبَ قَالَ: أَنَا بِجَاهِ عَمِّي أَبِي الْحَجَّاجِ اسْتَطَعْتُ أَنْ أَدْخُلَ إِلَى الْغُرْفَةِ الَّتِي كَانَ مَسْجُونًا فِيهَا شَيْخُ الْإِسْلَامِ وَكَانُوا قَدْ قَطَعُوا عَنْهُ حَتَّى الْوَرَقَةَ وَالْأَقْلَامَ وَلَمْ يَسْمَحُوا لَهُ بِالْكِتَابَةِ فَمَا بَقِيَ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتْلُوَ كِتَابَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَخَتَمَ ٨٠ خَتْمَةً فِي آخِرِ أَيَّامِهِ وَكَانَتِ الْخَتْمَةُ الْأَخِيرَةُ ثُمَّ أُكْمِلَتْ حِينَ تُوُفِّيَ أَكْمَلَهَا أَحَدُ الْقُرَّاءِ بَعْدَهُ

يَقُولُ ابْنُ كَثِيرٍ: دَخَلْتُ عَلَيْهِ وَقَبَّلْتُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَخَرَجَتْ دِمَشْقُ عَنْ بَكْرَةِ أَبِيهَا بِرِجَالِهَا وَنِسَائِهَا بِشِيبِهَا وَشُبَّانِهَا تُشَيِّعُ هَذَا الْإِمَامَ الْكَبِيرَ وَحَقَّ وَتَحَقَّقَ قَوْلُ الْعُلَمَاءِ الْأَجِلَّاءِ: قُولُوا لِأَهْلِ الْبِدَعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ يَوْمَ الْجَنَائِزِ كَيْفَ يَخْرُجُ النَّاسُ لِيُوَدِّعُوا أَعْظَمَ عَالِمٍ عَرَفَتْهُ الْبَشَرِيَّةُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

هَذَا هُوَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ الَّذِي تَرَكَ لَنَا مَا يَقْرُبُ مِنْ أَلْفِ مُؤَلَّفٍ وَدَافَعَ… قَضَى حَيَاتَهُ كُلَّهَا يُدَافِعُ حِينَمَا قَرَأَ عَقِيدَتَهُ الْوَاسِطِيَّةَ وَتَغَلَّبَ عَلَى خُصُومِهِ وَأَحْرَجَهُمْ خَرَجَ جَمَالُ الدِّينِ الْمِزِّيُّ بِنَفْسِهِ وَهُوَ الشَّيْخُ الْوَقُورُ وَجَلَسَ فِي الْجَامِعِ الْأُمَوِيِّ يَقْرَأُ مِنْ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ خَلْقِ أَفْعَالِ الْعِبَادِ رَدًّا عَلَيْهِمْ قَالَ أُولَئِكَ إِنَّمَا خَرَجَ الشَّيْخُ الْمِزِّيُّ أَرَادَ بِهَا أَنْ يُبَكِّتَنَا فِي هَذِهِ الْقِرَاءَةِ لِأَنَّ هَذَا لَيْسَ هُوَ مَوْعِدُ الْبُخَارِيِّ وَإِنَّمَا كَانَ انْتِصَارًا فَسَجَنُوهُ وَكَانَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ مِنَ الشَّجَاعَةِ أَنْ ذَهَبَ إِلَى السِّجْنِ وَأَخْرَجَ الْمِزِّيَّ بِنَفْسِهِ مِنَ السِّجْنِ لَمْ يَعْرِفْ لَا حَاكِمًا وَلَا شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ الْوَقْتِ

فَحَلَفَ قَاضِي قُضَاةِ الشَّافِعِيَّةِ بِعَزْلِ نَفْسِهِ وَبِالطَّلَاقِ وَالْعَتَاقِ أَنَّهُ إِذَا مَا يَعُودُ الْمِزِّيُّ إِلَى السِّجْنِ يَعْزِلُ نَفْسَهُ وَيُطَلِّقُ زَوْجَتَهُ وَإِلَى آخِرِهِ يَعْزِلُ نَفْسَهُ وَيُطَلِّقُ زَوْجَتَهُ وَإِلَى آخِرِهِ فَرَجَوْهُ بِأَنْ يَعُودَ فَقَطْ لِمُدَّةِ سَاعَةٍ سَاعَتَيْنِ وَيَرْجِعُ بَعْدَ ذَلِكَ

وَهَكَذَا كَانَ وَحِينَ تُوُفِّيَ جَمَالُ الدِّينِ الْمِزِّيُّ ٦٤٢ (٧٤٢) أَمَرَ أَتْبَاعَهُ وَنَسِيبَهُ الْحَافِظُ ابْنُ كَثِيرٍ أَنْ يُدْفَنَ بِجَنْبِ شَيْخِهِ الْمِزِّيِّ وَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَمَا هَدَمَ الْعُثْمَانِيُّونَ الْمَقَابِرَ حِينَ تَأْسِيسِ جَامِعَةِ دِمَشْقَ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ هُدِمَتْ جَمِيعُ الْأَمَاكِنِ إِلَّا قَبْرًا وَاحِدًا بَقِيَ قَائِمًا وَهُوَ قَبْرُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ الَّذِي لَازَالَ قَائِمًا فِي جَامِعَةِ دِمَشْقَ مِنْ بِلَادِ الشَّامِ وَكَذَلِكَ زَوْجَةُ جَمَالِ الدِّينِ الْمِزِّيِّ وَكَانَتْ عَالِمَةً فَاضِلَةً

وَأَنَا عِنْدِي فِي تَهْذِيبِ الْكَمَالِ خُطُوطُ ابْنِ كَثِيرٍ وَخَطُّ زَوْجَتِهِ زَيْنَبَ وَالْمِزِّيِّ وَخُطُوطُهُمْ كُلُّهَا مَوْجُودَةٌ عَلَى النُّسْخَةِ الَّتِي كَانَتْ تُقْرَأُ عَلَى جَمَالِ الدِّينِ الْمِزِّيِّ وَهِيَ بِخَطِّهِ أَنَا وَقَفْتُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَمِنْهُ عَلَى ٨٧جُزْءًا مِنْ تَهْذِيبِ الْكَمَالِ الْمُتَكَوِّنِ مِنْ ٢٥٥ جُزْءًا بِخَطِّ الْمِزِّيِّ بِخَطِّهِ النُّسْخَةِ الَّتِي كَانَتْ مِلْكَهُ عَلَيْهَا السَّمَاعَاتُ وَالْقِرَاءَاتُ آلَافُ وَعَشَرَاتُ الْعُلَمَاءِ عَفْوًا عَشَرَاتُ الْعُلَمَاءِ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ الَّذِينَ قَرَأُوا هَذَا الْكِتَابَ الْعَظِيمَ الَّذِي مَا أَحْبَبْتُ كِتَابًا فِي حَيَاتِي كَحُبِّي لَهُ وَمَا اعْتَنَيْتُ بِكِتَابٍ فِي حَيَاتِي اعْتِنَائِي بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ

كُنْتُ فِي كُلِّ تَرْجَمَةٍ مِنْ تَرَاجِمِهِ أَشْعُرُ وَكَأَنَّنِي أَكْتُبُ بَحْثًا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ وَعَنْ هَذَا الشَّيْخِ الَّذِي أُحَقِّقُ تَرْجَمَتَهُ شُكْرًا جَزِيلًا جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.