Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?”
Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.
Kisah Keluarga yang Allah Jaga karena Tauhid – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Ketika tauhid mereka sempurna, hal itu membawa dampak besar pada mereka. Kamu mendapati dampak ketauhidan mereka terlihat pada rezeki, kesehatan, dan keturunan mereka. Sungguh hal yang menakjubkan. Saudara-saudara, sebagian keluarga yang pendahulu mereka dikenal memiliki ketauhidan yang kuat, kalian mendapati, Allah menjaga mereka …
Cerita Menginspirasi: Begini Para Ulama Menjaga Waktunya – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama
Beliau menyebutkan apa yang disebutkan oleh ar-Rabi’untuk menguatkan perkataan ini, yaitu tentang keadaan Imam asy-Syafi’i beliau berkata: ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Aku tidak pernah melihat asy-Syafi’i -radhiyallahu ‘anhu- makan di waktu siang dan tidur di waktu malam karena beliau sibuk menulis buku.” Dan yang dimaksud adalah kesungguhan beliau -rahimahullahu Ta’ala- dalam ilmu. Dari kesungguhan para ulama ini, terjadilah berbagai fenomena yang tidak masuk akal; akan tetapi orang yang sehat jiwanya dan suci hatinya maka ia akan melihatnya sebagai fenomena yang muncul dari orang-orang yang menyambut perkara agung.
Dahulu para ulama sibuk dengan ilmu ketika sedang makan, sebagaimana dibacakan pada al-Bulqasi -rahimahullahu Ta’ala- ilmu qiraat ketika beliau sedang makan. Sebagian mereka juga dibacakan ilmu ketika dia sedang berada di dalam kamar mandi saat hendak buang hajat, sebagaimana dahulu Abdurrahman bin Abu Hatim yang membacakan pada ayahnya ketika ayahnya sedang buang hajat.
Dan di antara para ulama juga, yaitu asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullahu Ta’ala- yang termasuk orang yang menghafal matan di saat berwudhu. Beliau hafal Alfiyah al-‘Iraqi di waktu-waktu beliau berwudhu. Ada orang yang membacakannya untuk beliau, lalu beliau menghafalnya dengan mendengar hingga beliau selesai menghafal matan ini di saat beliau berwudhu.
Dan sebagian ulama di zaman dulu, dibacakan kepadanya -sebagai bentuk kesungguhan mereka dalam menuntut ilmu-, dibacakan kepadanya ketika dia berwudhu. Hal itu karena keinginan mereka terhadap ilmu sangat besar sehingga itu mengambil waktu-waktu mereka. Padahal perbekalan mereka sangat minim,dan berada dalam kekurangan dan kemiskinan, serta tidak adanya kitab-kitab; namun tetap saja semangat mereka terhadap ilmu begitu besar.
Adapun sekarang, keadaan telah berubah telah tersedia bagi orang-orang berbagai fasilitas dan alat-alat yang dapat membantu mereka menuntut ilmu, andai mereka benar-benar menginginkannya, Akan tetapi keinginan mereka dalam menuntut ilmu telah melemah sehingga usaha mereka menuntut ilmu juga melemah.
Dalil bahwa al-Quran Kitab Suci Terakhir – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Yang kedua:
Al-Qur’an merupakan kitab terakhir.
Oleh sebab itu, al-Qur’an adalah penentu kebenaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya.
Apa dalil yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah kitab terakhir?
Dalil dari al-Qur’an.
Ya?
Dalil ini dari al-Qur’an? dari al-Qur’an atau dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Ya, bagus.
Baik, apa dalilnya bahwa wahyu tidak diturunkan kepada Nabi?
Sedangkan ayat-ayat dalam surat an-Nahl dan al-Qasas disebutkan bahwa wahyu diturunkan kepada selain Nabi.
Kamu harus menyusun jawaban dengan baik, kamu telah mendekati jawaban yang benar.
Ya?
Apa?
“Pada hari ini Aku telah menyempurnakan bagi kalian… Apa?
agama kalian dan Aku telah menyempurnakan bagi kalian kenikmatan-Ku.”
Ya?
Saudara ini bilang bahwa di ayat ini (Ali Imran ayat 2) disebutkan bahwa Allah menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum menurunkan al-Quran.
Ini dalil melalui isyarat… yang dimaksud bukan seperti ini.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala.
Kamu, susunlah jawaban akhi tadi, karena itulah ayat jawabannya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala…
“Muhammad bukanlah ayah dari salah satu lelaki dari kalian akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Jika beliau adalah penutup para Nabimaka kitab yang diturunkan kepada beliau.adalah kitab yang terakhir.
Karena wahyu yang menunjukkan pengutusan yang diturunkan kepada seorang Nabi yang berupa kitab pasti diturunkan kepada orang yang memiliki kenabian.
Jadi tidak ada kitab kecuali diturunkan kepada Nabi namun bisa jadi ada nabi yang tidak diturunkan kitab kepadanya.
Jelas?
Allah Ta’ala berfirman, “Dahulu manusia adalah satu umat, (lalu terjadi perselisihan) maka Allah mengutus para Nabi untuk memberi kabar gembira dan peringatan dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 213)
Jadi tidak ada kitab yang diturunkan dari Allah kecuali kitab itu diturunkan kepada seorang Nabi atau Rasul.
Namun bisa jadi ada seorang Rasul dan Nabi yang tidak diturunkan kepadanya… Apa? tidak diturunkan kepadanya kitab.
Maka ayat ini merupakan dalil bahwa al-Qur’an adalah kitab yang terakhir.
4 Kalimat Luar Biasa yang Dapat Menggugurkan Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr
Penulis berkata, “Barangsiapa yang bertakbir, bertahmid, bertahlil, dan bertasbih kepada Allah.” Bertakbir yakni membaca ALLAHU AKBAR. Bertahmid yakni membaca ALHAMDULILLAH. Bertahlil yakni membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH. Bertasbih yakni membaca SUBHANALLAH. Dan beristighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah. Dengan membaca ASTAGHFIRULLAH WA ATUUBU ILAIHI, ALLAAHUMMAGHFIRLII DZAMBII. Kalimat ini juga merupakan bentuk permohonan ampun kepada Allah. Bentuk permohonan ampun kepada Allah. Empat kalimat tersebut mengandung pahala yang agung dan balasan yang besar. Sedangkan istighfar dapat menghapus dosa-dosa dapat menghapus dosa-dosa.
Dan empat kalimat itu juga sebenarnya penghapus dosa-dosa yang luar biasa. Empat kalimat itu sendiri sangat luar biasa dalam menghapus dosa-dosa. Ia luar biasa sekali dalam menyucikan seorang hamba dari dosa-dosanya. Dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi dan lainnya, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya. Lalu beliau melewati pohon kering yang dedaunannya telah kering, maka beliau memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya itu. Sehingga apa yang terjadi? Ya? Daun-daun itu berguguran. Para sahabat melihat dedaunan pohon itu berjatuhan di depan mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dengarkan dengan baik apa yang beliau sabdakan. Beliau bersabda ketika mereka melihat daun-daun berguguran.
Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILALLAAH, WALLAAHU AKBAR menggugurkan atau menjatuhkan dosa-dosa seorang hamba. Sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran. Sebagaimana dedaunannya berguguran. Dan para sahabat melihatnya berguguran. Ini perumpamaan yang Nabi buat bagi mereka. Untuk menjelaskan bagaimana 4 kalimat itu dapat menggugurkan dosa-dosa. Maka subhanallah. Seorang hamba mengulang-ulang kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Lalu dosa-dosa yang dia pikul berjatuhan.
Betapa butuh seorang hamba untuk menggugurkan dosa-dosanya dengan beberapa kalimat ini SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR” Nabi bersabda, “Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran.” Maka empat kalimat ini sangat agung keutamaannya dalam meninggikan derajat. Dan di samping itu pula, ia memiliki keutamaan besar dalam menggugurkan dosa-dosa dan melenyapkan kesalahan-kesalahan, menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.
Taubat dari Meninggalkan Shalat, Bagaimana Caranya? Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama
Orang-orang yang dulunya sering tidak shalat, kemudian tatkala mereka bertaubat kepada Allah, mereka menyesal dan menyadari kelalaian mereka, mereka berharap memiliki jalan keluar dari masalah ini. Menurut pandangan mayoritas ulama, mereka akan berkata, “Kalian harus bertaubat, dan harus mengqadha’ (mengganti) shalat yang kalian tinggalkan meski telah berlalu lama sekali.
Semisal, dengan shalat sekali lagi setiap selesai mendirikan suatu shalat. Kerjakan shalat subuh terkini dan satu shalat subuh lain sebagai ganti yang dulu. Kerjakan shalat zhuhur terkini dan satu shalat zhuhur lain sebagai ganti yang dulu. Lakukan itu hingga setara dengan hari-hari yang kamu lalui tanpa melakukan shalat.
Sedangkan para ulama yang berpendapat bahwa qadha’ shalat itu tidak diterima, mereka berdalil bahwa kamu sengaja meninggalkannya hingga terlewat dari waktunya. Sehingga shalat itu tidak diterima jika kamu mengerjakannya setelah waktunya terlewat. Para ulama itu akan mengatakan, “Bertaubatlah kepada Allah, dan perbanyaklah melakukan shalat sunnah! Semoga ketika kamu datang di hari kiamat dan amalanmu diperiksa.
Sedangkan amalan seorang hamba yang pertama dihisab yang berkaitan dengan dirinya dan Allah adalah shalat. Amal pertama yang dihisab yang berkaitan dengan hak Allah adalah shalat. Sedangkan yang berkaitan dengan sesama hamba adalah perkara darah (nyawa). Terdapat amalan prioritas dalam proses hisab di hari kiamat. Hak Allah yang pertama dihisab dari seorang hamba adalah shalat. Terdapat hak-hak Allah yang lain seperti zakat, puasa, dan haji. Ada juga amalan berkaitan dengan hak sesama hamba. Dan hak sesama hamba yang pertama dihisab dari seseorang adalah perkara darah (nyawa). Hak-hak sesama hamba yang lain seperti perkara harta, kehormatan, penghinaan, dan lainnya.
Adapun shalat, ketika amalan seorang hamba diperiksa pada hari kiamat lalu terdapat kekurangan pada shalatnya. Semisal, shalat wajib ini pada hari ini tidak dia kerjakan. Juga shalat ini, ini, dan ini. Maka Allah akan berfirman kepada para malaikat, Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah? Allah Maha Pengasih. Allah Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sehingga Allah berfirman kepada para malaikat, Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah? Maka kekurangan pada shalat wajibnya ditutup dengan shalat sunnah yang ia kerjakan. Tentu kita tidak mengetahui satu shalat wajib setara dengan berapa shalat sunnah, sehingga dapat dikatakan, misalnya satu shalat wajib setara 70 shalat sunnah, atau setara dengan kurang atau lebih dari itu. Allahu a’lam.
Namun manfaat shalat sunnah adalah jika ada kekurangan pada shalat wajib, maka akan dilengkapi dan diganti dengan pahala shalat sunnah. Tentu pahala shalat sunnah berbeda. Salah satu manfaat shalat sunnah adalah melengkapi kekurangan shalat wajib. Salah satu manfaat shalat sunnah adalah melengkapi kekurangan shalat wajib. Para ulama ini akan berkata kepada orang yang bertaubat itu, “Kamu harus menyesali kesalahanmu dan bertekad untuk tidak mengulanginya, lalu menjaga shalat-shalat wajib yang akan datang, serta perbanyaklah mengerjakan shalat sunnah!”