4 Kalimat Luar Biasa yang Dapat Menggugurkan Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

4 Kalimat Luar Biasa yang Dapat Menggugurkan Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

قَالَ فَمَنْ كَبَّرَ اللهَ وَحَمِدَ اللهَ وَهَلَّلَ اللهَ وَسَبَّحَ اللهَ
Penulis berkata, “Barangsiapa yang bertakbir, bertahmid, bertahlil, dan bertasbih kepada Allah.”

كَبَّرَ اللهَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ
Bertakbir yakni membaca ALLAHU AKBAR.

حَمِدَ اللهَ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ
Bertahmid yakni membaca ALHAMDULILLAH.

هَلَّلَ اللهَ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Bertahlil yakni membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH.

سَبَّحَ اللهَ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ
Bertasbih yakni membaca SUBHANALLAH.

وَاسْتَغْفَرَ اللهَ أَيْ طَلَبَ مِنَ اللهِ الْمَغْفِرَةَ
Dan beristighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي
Dengan membaca ASTAGHFIRULLAH WA ATUUBU ILAIHI, ALLAAHUMMAGHFIRLII DZAMBII.

وَهَذَا أَيْضًا فِي الْعِنَايَةِ بِالِاسْتِغْفَارِ
Kalimat ini juga merupakan bentuk permohonan ampun kepada Allah.

الْعِنَايَةِ بِالِاسْتِغْفَارِ
Bentuk permohonan ampun kepada Allah.

الكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ
Empat kalimat tersebut…

فِيهَا ثَوَابٌ عَظِيمٌ وَأَجْرٌ جَزِيلٌ
mengandung pahala yang agung dan balasan yang besar.

وَالِاسْتِغْفَارُ فِيهِ مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ
Sedangkan istighfar dapat menghapus dosa-dosa…

فِيهِ مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ
dapat menghapus dosa-dosa.

وَالْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ نَفْسُهَا سُبْحَانَ اللهِ فِيهَا مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ عَجِيبٌ جِدًّا
Dan empat kalimat itu juga sebenarnya penghapus dosa-dosa yang luar biasa.

الكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ نَفْسُهَا فِيهَا مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ عَجِيبٌ
Empat kalimat itu sendiri sangat luar biasa dalam menghapus dosa-dosa.

وَشَأْنُهَا عَجِيبٌ فِي تَطْهِيرِ الْعَبْدِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
Ia luar biasa sekali dalam menyucikan seorang hamba dari dosa-dosanya.

صَحَّ فِي التِّرْمِذِي وَغَيْرِهِ
Dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi dan lainnya,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

كَانَ يَمْشِي يَوْمًا مَعَ أَصْحَابِهِ وَمَعَهُ عَصًا بِيَدِه
suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya.

فَمَرَّ بِشَجَرَةٍ يَابِسَةٍ
Lalu beliau melewati pohon kering…

فِيهَا وَرَقٌ يَابِسٌ
yang dedaunannya telah kering,

وَخَبَطَ الشَّجَرَةَ بِعَصَاهُ الَّتِي فِي يَدِهِ
maka beliau memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya itu.

مَاذَا يَحْدُثُ؟
Sehingga apa yang terjadi?

نَعَم؟
Ya?

تَسَاقَطَ الْوَرَقُ
Daun-daun itu berguguran.

الصَّحَابَةُ يَرَوْنَ أَمَامَهُمْ وَرَقَ الشَّجَرِ يَتَسَاقَطَ
Para sahabat melihat dedaunan pohon itu berjatuhan di depan mereka.

فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاسْتَمِعُوا إِلَى مَا قَالَ
Dengarkan dengan baik apa yang beliau sabdakan.

فَقَالَ وَهُمْ يَرَوْنَ الْوَرَقَ يَتَسَاقَطُ
Beliau bersabda ketika mereka melihat daun-daun berguguran.

قَالَ إِنَّ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ
Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH,…

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَتُحَاتُّ أَوْ لَتُسَاقِطُ ذُنُوبَ الْعَبْدِ
WA LAA ILAAHA ILALLAAH, WALLAAHU AKBAR menggugurkan atau menjatuhkan dosa-dosa seorang hamba…

كَمَا تَسَاقَطَ وَرَقُ هَذِهِ الشَّجَرَةِ
Sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran.

كَمَا تَسَاقَطَ الصَّحَابَةُ يَرَوْنَ الْوَرَقَ يَتَسَاقَطُ
Sebagaimana dedaunannya berguguran. Dan para sahabat melihatnya berguguran.

هَذَا مِثَالٌ ضَرَبَه لَهُمْ
Ini perumpamaan yang Nabi buat bagi mereka.

يُبَيِّنُ كَيْفَ أَنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَ تُسَاقِطُ الذُّنُوبَ
Untuk menjelaskan bagaimana 4 kalimat itu dapat menggugurkan dosa-dosa.

فَيَا سُبْحَانَ اللهِ
Maka subhanallah…

يُكَرِّرُ الْعَبْدُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Seorang hamba mengulang-ulang kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR.

وَتَتَسَاقَطُ هَذِهِ الذُّنُوبُ الَّتِي الَّذِي هُوَ مُتَحَمِّلُهَا
Lalu dosa-dosa yang dia pikul berjatuhan.

فَمَا أَحْوَجَ الْعَبْدُ إِلَى أَنْ يُسَاقِطَ الذُّنُوبَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ
Betapa butuh seorang hamba untuk menggugurkan dosa-dosanya dengan beberapa kalimat ini

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR”

قَالَ إِنَّ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Nabi bersabda, “Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR…

لَتُسَاقِطُ ذُنُوبَ الْعَبْدِ كَمَا تَسَاقَطَ وَرَقُ هَذِهِ الشَّجَرَةِ
menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran.”

فَالْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هَذِهِ لَهَا شَأْنٌ عَظِيمٌ فِي رِفْعَةِ الدَّرَجَاتِ
Maka empat kalimat ini sangat agung keutamaannya dalam meninggikan derajat…

وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ
Dan di samping itu pula,

لَهَا شَأْنٌ عَظِيمٌ فِي تَسَاقُطِ الذُّنُوبِ وَحَطِّ السَّيِّئَاتِ
ia memiliki keutamaan besar dalam menggugurkan dosa-dosa dan melenyapkan kesalahan-kesalahan,

وَتَكْفِيرِ الذُّنُوبِ والْخَطِيْئَاتِ
menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

Taubat dari Meninggalkan Shalat, Bagaimana Caranya? Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Taubat dari Meninggalkan Shalat, Bagaimana Caranya? Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

الَّذِينَ فَوَّتُوْا صَلَوَاتٍ
Orang-orang yang dulunya sering tidak shalat,…

عِنْدَمَا يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ
kemudian tatkala mereka bertaubat kepada Allah,

وَيَنْدَمُوْنَ وَيُوْقِنُوْنَ بِالتَّفْرِيْطِ
mereka menyesal dan menyadari kelalaian mereka,

يَتَمَنَّوْنَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلٌّ لَهُمْ
mereka berharap memiliki jalan keluar dari masalah ini.

أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِجُمْهُورِ أَهْلِ الْعِلْمِ
Menurut pandangan mayoritas ulama,

سَيَقُولُونَ لَهُمْ عَلَيْكُمْ التَّوْبَةُ
mereka akan berkata, “Kalian harus bertaubat,

وَعَلَيْكُم قَضَاءُ الصَّلَوَاتِ
dan harus mengqadha’ (mengganti) shalat yang kalian tinggalkan…

وَلَوْ كَانَتْ مُدَّةً طَوِيلَةً
meski telah berlalu lama sekali.

صَلِّ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ صَلَاةً مَثَلًا
Semisal, dengan shalat sekali lagi setiap selesai mendirikan suatu shalat.

صَلِّ مَعَ الْفَجْرِ الْحَاضِرِ فَجْرًا مِمَّا مَضَى
Kerjakan shalat subuh terkini dan satu shalat subuh lain sebagai ganti yang dulu.

وَصَلِّ مَعَ الظُّهْرِ الْحَاضِرِ ظُهْرًا عَمَّا مَضَى
Kerjakan shalat zhuhur terkini dan satu shalat zhuhur lain sebagai ganti yang dulu.

حَتَّى تُنْهِيَ الْمُدَّةَ الَّتِي فَاتَتْكَ
Lakukan itu hingga setara dengan hari-hari yang kamu lalui…

بِلَا صَلَوَاتٍ
tanpa melakukan shalat.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُقْبَلُ
Sedangkan para ulama yang berpendapat bahwa qadha’ shalat itu tidak diterima, mereka berdalil

أَنْتَ الْآنَ تَعَمَّدْتَ إِخْرَاجَ عَنْ وَقْتِهَا
bahwa kamu sengaja meninggalkannya hingga terlewat dari waktunya.

فَلَا تُقْبَلُ مِنْكَ إِذَا أَدَّيْتَ بَعْدَ وَقْتِهَا
Sehingga shalat itu tidak diterima jika kamu mengerjakannya setelah waktunya terlewat.

سَيَقُولُونَ لَهُ تُبْ إِلَى اللهِ
Para ulama itu akan mengatakan, “Bertaubatlah kepada Allah,…

وَأَكْثِرْ مِنَ النَّوَافِلِ
dan perbanyaklah melakukan shalat sunnah!

لَعَلَّكَ إِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Semoga ketika kamu datang di hari kiamat

وَنُظِرَ فِي عَمَلِكَ
dan amalanmu diperiksa.

وَأَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ مِنْ عَمَلِهِ
Sedangkan amalan seorang hamba yang pertama dihisab…

الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ
yang berkaitan dengan dirinya dan Allah…

الصَّلَاةُ
adalah shalat.

أَوَّلُ مُحَاسَبَةٍ فِي حُقُوقِ اللهِ الصَّلَاةُ
Amal pertama yang dihisab yang berkaitan dengan hak Allah adalah shalat.

أَمَّا حُقُوقُ الْعِبَادِ الدِّمَاءُ
Sedangkan yang berkaitan dengan sesama hamba adalah perkara darah (nyawa).

فِيهِ أَوْلَوِيَّاتٌ فِي الْقَضَاءِ الْحِسَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Terdapat amalan prioritas dalam proses hisab di hari kiamat.

حُقُوقُ اللهِ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ
Hak Allah yang pertama dihisab dari seorang hamba adalah shalat.

فِيهِ الزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْحَجُّ
Terdapat hak-hak Allah yang lain seperti zakat, puasa, dan haji.

وَهُنَاك حُقُوقُ الْعِبَادِ
Ada juga amalan berkaitan dengan hak sesama hamba.

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ مِنْ حُقُوقِ الْعِبَادِ الدِّمَاءُ
Dan hak sesama hamba yang pertama dihisab dari seseorang adalah perkara darah (nyawa).

طَبْعًا فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالْإِعْرَاضُ وَالشَّتَائِمُ وَإِلَى آخِرِهِ
Hak-hak sesama hamba yang lain seperti perkara harta, kehormatan, penghinaan, dan lainnya.

الصَّلَاةُ إِذَا نُظِرَ فِي عَمَلِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Adapun shalat, ketika amalan seorang hamba diperiksa pada hari kiamat…

وَوُجِدَ الْخَلَلُ فِي صَلَاتِهِ
lalu terdapat kekurangan pada shalatnya.

أَنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ الْيَوْمَ الْفُلَانِيَّ الْفَرْضَ الْفُلَانِيَّ مَا أَدَّاهَا
Semisal, shalat wajib ini pada hari ini tidak dia kerjakan.

وَهَذِهِ وَهَذِهِ وَهَذِهِ
Juga shalat ini, ini, dan ini.

يَقُولُ اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ
Maka Allah akan berfirman kepada para malaikat,..

اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟
Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah?

يَعْنِي اللهُ رَحِيمٌ
Allah Maha Pengasih.

اللهُ رَحِيمٌ وَكَرِيْمٌ
Allah Maha Pengasih lagi Maha Pemurah.

فَيَقُولُ اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ
Sehingga Allah berfirman kepada para malaikat,…

اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟
Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah?

فَيَكُونُ جَبْرَ نَقْصِ الْفَرِيضَةِ مِنَ النَّوَافِلِ الَّتِي صَلَّاهَا
Maka kekurangan pada shalat wajibnya ditutup dengan shalat sunnah yang ia kerjakan.

طَبْعًا مَا نَدْرِي الْفَرِيضَةَ الْوَاحِدَةَ كَمْ نَافِلَةً تَعْدِلُ
Tentu kita tidak mengetahui satu shalat wajib setara dengan berapa shalat sunnah,

حَتَّى يُقَالَ وَاللهِ الْفَرِيضَةُ بِسَبْعِينَ نَافِلَةٍ أَوْ
sehingga dapat dikatakan, misalnya satu shalat wajib setara 70 shalat sunnah, atau…

بِأَقَلَّ أَوْ بِأَكْثَرَ اللهُ أَعْلَمُ
setara dengan kurang atau lebih dari itu. Allahu a’lam.

لَكِنْ فَائِدَةُ النَّوَافِلِ
Namun manfaat shalat sunnah adalah…

أَنَّهُ لَوْ كَانَ هُنَاكَ تَفْرِيطٌ فِي الْفَرَائِضِ
jika ada kekurangan pada shalat wajib,…

تُقْضَى مِنْهَا يُتِمُّ التَّعْوِيضَ مِنْهَا
maka akan dilengkapi dan diganti dengan pahala shalat sunnah.

غَيْرَ أَجْرِ النَّوَافِلِ طَبْعًا
Tentu pahala shalat sunnah berbeda.

فَمِنْ فَوَائِدِ النَّوَافِلِ
Salah satu manfaat shalat sunnah adalah…

تَعْوِيضُ نَقْصِ الْفَرَائِضِ
melengkapi kekurangan shalat wajib.

مِنْ فَوَائِدِ النَّوَافِلِ تَعْوِيضُ نَقْصِ الْفَرَائِضِ
Salah satu manfaat shalat sunnah adalah melengkapi kekurangan shalat wajib.

فَسَيَقُولُونَ لِلتَّائِبِ
Para ulama ini akan berkata kepada orang yang bertaubat itu,

عَلَيْك النَّدَمُ
“Kamu harus menyesali kesalahanmu…

وَالْعَزْمُ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدَةِ وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى صَلَوَاتِكَ الْفَرَائِضِ القَادِمَةِ
dan bertekad untuk tidak mengulanginya, lalu menjaga shalat-shalat wajib yang akan datang,

وَأَكْثِرْ مِنَ النَّوَافِلِ
serta perbanyaklah mengerjakan shalat sunnah!”

Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

الْحَمْدُ لِلهِ
Segala puji hanya bagi Allah.

عُمَرُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ يَقُولُ
Umar bin Shalih al-Baghdadi pernah berkata…

سَأَلْتُ الْإِمَامَ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ
Aku pernah bertanya al-Imam Ahmad bin Hambal…

أَيُّ شَيْءٍ
Apa…

يُلَيِّنُ الْقُلُوبَ؟
yang dapat melembutkan hati?

فَنَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ
Maka beliau melihatku lalu menundukkan kepalanya,

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ
Kemudian kembali melihatku lalu menundukkan kepalanya,

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ قَالَ
Kemudian melihatku lagi seraya berkata…

بِأَيِّ شَيءٍ تَلِيْنُ الْقُلُوبُ؟
Dengan apa hati dapat menjadi lembut?

بِأَكْلِ الْحَلَالِ
Dengan memakan makanan yang halal!

هَلَّا اسْتَوْعَبْنَا الْعَلَاقَةَ بَيْنَ
Tidakkah kita memahami hubungan antara…

أَكْلِ الْحَلَالِ وَلِيْنِ الْقَلْبِ؟
memakan makanan yang halal dan kelembutan hati?

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

فَاللهَ اللهَ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ اللهَ اللهَ فِي الْإِخْلَاصِ

Wahai Ahlul Qur’an, jadikanlah Allah dan Allah selalu dalam keikhlasanmu.

فَإِنْ جَاءَكُمْ خَيرٌ
Jika ada kebaikan datang kepadamu…

مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا مِنْ وَرَاءِ الْقُرْآنِ
dari perkara dunia karena sebab al-Qur’an…

فَذَاكَ فَضْلُ اللهِ وَلَا يَضُرُّكُمْ
maka itu adalah karunia dari Allah, dan tidak membawa mudharat bagi kalian.

وَلَا يُنْقِصُ أَجْرَكُمْ
dan tidak mengurangi pahala kalian.

لَكِنْ إِيَّاكُمْ أَنْ تَجْعَلُوا ذَلِكَ قَصْدَكُمْ
Namun janganlah sekali-kali menjadikan itu sebagai tujuan kalian.

وَأَنْ
Dan…

يَكُونَ ذَلِكَ الْمُحَرِّكُ لَكُمْ
menjadikan hal itu sebagai motivasi kalian…

فِي تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ
dalam membaca al-Qur’an,

وَتَعَلُّمِ الْقُرْآنِ وَتَعْلِيمِ الْقُرْآنِ
serta dalam belajar dan mengajarkan al-Qur’an.

أَحِبَّتِيْ فِي اللهِ
Wahai orang-orang yang saya cintai karena Allah,…

إِنَّ الْمَنْزِلَةَ الْعَالِيَةَ
Sungguh derajat yang tinggi…

الشَّرِيفَةَ الرَّفِيعَةَ
mulia, dan terhormat…

الَّتِي جَعَلَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْقُرْآنِ
yang Allah berikan bagi para Ahlul Qur’an…

تَجْعَلُ الْمُسْلِمَ يُجَاهِدُ نَفْسَهُ
menjadikan setiap muslim berusaha…

جِهَادًا عَظِيْمًا
dengan sungguh-sungguh…

حَتَّى يُخْلِصَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ
agar dapat ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

فِي عِنَايَتِهِ بِالْقُرْآنِ
dalam memberi perhatian kepada al-Qur’an.

وَحَتَّى
dan agar…

يَقْصِدَ بِشَأْنِهِ كُلِّهِ مَعَ الْقُرْآنِ وَجْهَ اللهِ
dapat menjadikan segala urusannya yang berhubungan dengan al-Qur’an ditujukan hanya untuk Allah…

سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَا شَكَّ
Dan tidak diragukan lagi,..

أَنَّ مَنْ أَخْلَصَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ
bahwa orang yang ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla…
أَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
maka dunia akan mendatanginya, sedang dunia dalam keadaan tertunduk.

فَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ
“Barangsiapa yang tujuannya adalah akhirat…

جَمَعَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ
maka Allah akan memudahkan urusannya dan menjadikan kekayaan ada dalam hatinya…

وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
dan dunia akan mendatanginya, sedangkan dunia dalam keadaan tunduk kepadanya.”

كَمَا أَخْبَرَ بِذَلِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sebagaimana disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَلَا شَكَّ أَنَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ
Dan tidak diragukan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah…

جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ مَضَايِقِ الدُّنْيَا مَخَارِجًا
maka Allah akan menjadikan baginya berbagai jalan keluar (solusi) dari kesulitan-kesulitan dunia,…

عَظِيمَةً
dengan jalan keluar yang agung.

وَجَعَلَ لَهُ مِنَ الرِّزْقِ نَصِيْبًا وَافِرًا
Dan Allah akan menjadikan rezekinya lapang dan berkecukupan.

ومَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar…

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka.”

فَلَا تَحْسَبَنَّ أَنّ اللهَ يُضَيِّعُكَ
Maka janganlah sekali-kali kamu merasa Allah menyia-nyiakanmu…

إِنْ أَخْلَصْتَ لَهُ فِي عِنَايَتِكَ بِالْقُرْآنِ
jika kamu telah mengikhlaskan perhatianmu pada al-Qur’an hanya untuk Allah.

بَلْ ذَاكَ جِمَاعُ الخَيْرِ كُلِّهِ
Bahkan itu merupakan poros dari segala kebaikan…

يَجْمَعُ لَكَ خَيْرَ الدُّنْيَا
yang mengumpulkan bagimu kebaikan dunia…

وَالْآخِرَةِ
dan akhirat.

وَتَكُونُ مِنْ أَهْلِ اللهِ وَخَاصَّتِهِ
Dan kamu akan menjadi termasuk keluarga Allah dan orang teristimewa-Nya.

وَيُصْبِغُ اللهُ عَلَيْكَ نِعَمَهُ
dan Allah menyempurnakan segala kenikmatan-Nya bagimu…

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
di dunia dan di akhirat.

فَاللهَ اللهَ أَحِبَّتِي فِي اللهِ
Maka jadikanlah Allah dan Allah selalu, wahai ahibbati fillah…

فِي الْإِخْلَاصِ
dalam keikhlasanmu…

فِي الْعِنَايَةِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
ketika memberi perhatian pada al-Qur’an al-Karim.

عَلَيْنَا أَنْ نَعْتَنِيَ بِالْقُرْآنِ
Kita harus memberi perhatian pada al-Qur’an…

وَإِنَّهُ مِنْ أَسَفٍ أَنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ الْيَوْمَ
Namun sayangnya, banyak kaum muslimin sekarang…

لَا يَعْتَنِي بِالْقُرْآنِ
وَيَقُوْلُ لَيْسَ عِنْدِي وَقْتٌ
yang tidak peduli terhadap al-Qur’an, dia berkata, “Aku tidak ada waktu untuk membaca al-Quran…”

بَيْنَمَا عِنْدَهُ وَقْتٌ كَثِيرٌ
Padahal dia memiliki banyak waktu…

لِلْهَوَاتِفِ وَأُمُورِ الدُّنْيَا
untuk HP dan perkara-perkara duniawi,…

وَغَيْرِ ذَلِكَ
dan lain sebagainya.

وَهَذَا وَاللهِ مِنَ الْخُسْرَانِ
Dan ini sungguh suatu kerugian.

فَاللهَ اللهَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقُرْآنِ
Maka jadikanlah Allah dan Allah selalu -Wahai umat Muhammad!- dalam (berinteraksi) dengan al-Qur’an…

اللهَ اللهَ فِي الْإِخْلَاصِ
Jadikanlah Allah dan Allah selalu dalam keikhlasan…

عِنْدَ الْعِنَايَةِ بِالْقُرْآنِ
ketika memberi perhatian pada al-Qur’an.

أَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَ
Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi taufik…

كُلَّ مَنْ يَعْمَلُ عَمَلًا لِخِدْمَةِ الْقُرْآنِ
bagi seluruh orang yang melakukan amalan untuk berkhidmah bagi al-Qur’an…

وَلِلْعِنَايَةِ بِالْقُرْآنِ
dan untuk memberi perhatian bagi al-Qur’an…

مُخْلِصًا مُخْلِصًا لِلرَّحْمَنِ
dengan penuh keikhlasan karena Allah ar-Rahman…

مُتَّبِعًا لِسُنَّةِ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ
serta dengan mengikuti tuntunan penghulu keturunan Adnan (Nabi Muhammad)…

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَأَنْ يَتَقَبَّلَ مِنَ الْجَمِيعِ
Dan semoga Allah menerima (ibadah) dari kita semua.

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

ثُمَّ تَأَمَّلْ رَعَاكَ اللهُ فِي تَمَامِ هَذَا السِّيَاقِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ

Kemudian, -semoga Allah menjaga Anda.- Perhatikanlah penghujung kalimat pada ayat yang mulia ini

قَالَ: وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- اَلْأَنْفَالُ: ٢٤

Allah berfirman, “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)

اِنْتَبِهْ تَيَقَّظْ- وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

Sadar dan bangunlah! “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)

وَهَذَا تَنْبِيهٌ وَإِيْقَاظٌ لِلْقُلُوبِ إِذَا أَقْبَلَ عَلَيْكَ الْخَيْرُ

Ini adalah peringatan dan penggugah jiwa, bahwa ketika kebaikan mendatangi Anda.

أَقْبَلَتْ عَلَيْكَ مَوَاسِمُهُ فَاغْتَنِمْهَا

Ketika datang kepada Anda musim-musim kebaikan, maka manfaatkan baik-baik.

إِذَا وَجَدْتَ مِنْ صَدْرِكَ شَيئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ لِلطَّاعَةِ

Ketika Anda dapati kelapangan dalam dada Anda untuk berbuat ketaatan

وَالْإِقْبَالِ عَلَى الْعِبَادَةِ إِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ أَنْ تُسَوِّفَ

dan kecondongan untuk melakukan ibadah, waspadalah dan waspadalah! Jangan sampai Anda menangguhkannya

أَوْ أَنْ تُؤَجِّلَ أَوْ أَنْ تُؤَخِّرَ عَمَلَ الْيَوْمِ إِلَى الْغَدِ

atau menundanya, atau mengakhirkan yang bisa diamalkan hari ini hingga esok hari!

اِحْذَرْ أَشَدَّ الْحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ

Berhati-hatilah dengan perbuatan seperti itu!

فَهَذِهِ النَّفْسُ الَّتِي قَدْ تُقْبِلُ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ عَلَى الْخَيْرِ

Karena jiwa ini, yang terkadang condong pada kebaikan pada waktu tertentu,

فَتُسَوِّفُ أَنْتَ يَا صَاحِبَهَا وَتُؤَجِّلُ

namun Anda, sang pemilik jiwa, memilih untuk menunda dan mengakhirkannya.

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

Terkadang jiwa ini terlanjur enggan pada kebaikan.

أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

“Karena Allah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

Terkadang jiwa terlanjur enggan pada kebaikan.

وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ أَقْبَلَتْ نَفْسُهُ فَأَعْرَضَ عَنْ إِقْبَالِهَا

Karena betapa banyak orang yang jiwanya menginginkan kebaikan namun dia palingkan jiwanya darinya,

وَأَجَّلَ فِي الطَّاعَةِ وَسَوَّفَ

dan dia menunda-nunda dalam ketaatan tersebut dan menangguhkannya.

ثُمَّ بَقِيَتْ مُدْبِرَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

Kemudian akhirnya jiwanya terus-menerus enggan hingga ajal tiba.

ثُمَّ بَقِيَتْ مُعْرِضَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

Akhirnya jiwanya terus-menerus berpaling hingga ajal menjemput.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

Dan ketahuilah, …”Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)

لَيْسَ كُلُّ وَقْتٍ تُقْبِلُ النَّفْسُ لَيْسَ كُلُّ الْوَقْتِ يَنْشَرِحُ الصَّدْرُ

Tidak setiap waktu jiwa ini condong pada kebaikan dan tidak setiap saat hati ini terasa lapang.

فَإِذَا وَجَدَ الْإِنْسَانُ مِنْ نَفْسِهِ شَيْئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ وَالْإِقْبَالِ

Jadi, ketika seseorang dapati dalam dirinya kelapangan dan kecondongan pada kebaikan,

فَلْيَغْتَنِمْ ذَلِكَ وَلْيُبَادِرْ وَلْيُسَارِعْ

hendaknya dia manfaatkan itu baik-baik, bersegera, dan langsung memenuhi

إِلَى الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

panggilan tersebut karena Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

وَالنَّفْسُ لَهَا إِقْبَالٌ وإِدْبَارٌ

Karena jiwa kadang condong pada kebaikan dan kadang berpaling darinya,

تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ

kadang menginginkannya dan kadang enggan…

وَالْعَاقِلُ يَغْتَنِمُ… يَغْتَنِمُ إِقْبَالَ نَفْسِهِ

Dan orang cerdas akan memanfaatkan kesempatan ketika jiwanya sedang condong pada kebaikan.

وَيَحْرِصُ عَلَى اغْتِنَامِ ذَلِكَ

Dan bersungguh-sungguh untuk memaksimalkan kesempatan tersebut.

فِي مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ وَخَاصَّةً رَمَضَانَ تَتَهَيَّجُ النُّفُوسُ وَتَتَحَرَّكُ

Pada musim-musim kebaikan, terutama bulan Ramadan, jiwa akan bergelora dan bersemangat,

وَيَحْصُلُ مِنْهَا إِقْبَالٌ

sehingga memunculkan kecondongan pada kebaikan.

هَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْتَنَمَ فِي تَحْقِيقِ الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

Seperti ini harus dimanfaatkan untuk menjawab seruan Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

التَّسْمِيَةُ شَيْءٌ عَظِيمٌ

At-Tasmiyah (bacaan BISMILLAH) adalah perkara agung.

بِسْمِ اللهِ الْبَاءُ هَذِهِ بَاءُ الِاسْتِعَانَةِ وَالتَّبَرُّكِ

Huruf Ba’ dalam kalimat (بِسْمِ اللهِ) adalah untuk memohon pertolongan dan keberkahan.

هَذِهِ بِسْمِ اللهِ تُشْرَعُ عِنْدَ

Kalimat BISMILLAH ini disyariatkan untuk dibaca sebelum…

الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ وَرُكُوبِ الدَّابَّةِ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

makan, minum, berhubungan suami istri (jima’), berkendara, dan termasuk zikir di pagi dan petang hari.

وَلَهَا أَثَرٌ عَجِيبٌ فِي رَدِّ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَوَسْوَسَتِهِ

Ia sangat berguna untuk menolak tipu daya dan was-was setan.

فَإِنَّهَا إِذَا قِيْلَتْ تَتَصَاغَرُ الشَّيْطَانُ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Jika BISMILLAH dibaca, maka setan akan menjadi kerdil hingga menjadi seperti lalat.

بِالتَّسْمِيَةِ تُصَانُ الْعَوْرَاتُ عَنْ أَعْيُنِ الْجِنِّ

Dengan BISMILLAH, aurat akan terlindung dari pandangan jin.

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan.

إِنَّ الشَّيْطَانَ تَعَهَّدَ أَنْ يُشَارِكَنَا فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

Setan telah bertekad untuk menyertai kita dalam harta dan keturunan kita.

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al-Isra: 64)

وَلِذَلِكَ قَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ

Oleh sebab itu disyariatkan berdoa: “BISMILLAAH, ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA…

وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا عِنْدَ الْجِمَاعِ

WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA.” ketika seseorang hendak berhubungan suami istri (jima’)

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan.

وَتُحْفَظُ الذُّرِّيَّةُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

Anak keturunan akan terjaga dari tipu daya setan.

وَيُحْفَظُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ خُرُوجِهِ مِنْ بَيْتِهِ

Seorang muslim akan terjaga ketika keluar rumah.

وَيُحْفَظُ طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ أَنْ يَمَسَّهُ الشَّيْطَانُ

Makanan dan minumannya akan terlindung dari sentuhan setan.

وَيُمْنَعُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ لَهُ فِي بَيْتِهِ

Setan akan terhalang untuk ikut ke dalam rumahnya,

مَبِيتِهِ فِرَاشِهِ طَعَامِهِ شَرَابِهِ

ketika bermalam, saat di tempat tidur, dan ketika makan dan minum.

تُحْفَظُ الْمَرَاكِبُ أَنْ يَنَالَهَا الشَّيْطَانُ

Kendaraan akan terlindung dari gangguan setan.

يُرْزَقُ الْمُسْلِمُ خَيْرَ زَوْجَتِهِ وَخَيْرَ دَابَّتِهِ

Seorang muslim akan dikaruniai pasangan dan hewan tunggangan yang terbaik.

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْمَنَازِلُ وَالْأَوَانِي

Dengan BISMILLAH, tempat tinggal dan wadah-wadah akan terlindung.

غَطِّ الْإِنَاءَ أَوْكُوا السِّقَاءَ أَغْلِقِ الْبَابَ أَجِيْفُوا الْأَبْوَابَ

(Dalam hadits): “Tutuplah wadah, ikatlah tempat air, tutuplah pintu, dan rapatkanlah pintu-pintu.”

غَطُّوا الْآنِيَةَ أَوْكُوا الأَسْقِيَةَ قُولُوا بِسْمِ اللهِ

“Tutuplah wadah-wadah, ikatlah tempat air, dan ucapkanlah BISMILLAH.”

لَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

Tidak ada perkara yang berat di hadapan kalimat BISMILLAH.

فِيهِ قِصَّةٌ لَطِيفَةٌ حَدَثَتْ لِصَحَابِيّ

Terdapat kisah yang terjadi pada seorang sahabat…

يُقَالُ لَهُ أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ

yang bernama Abu Tamimah al-Hujaimi.

يَقُولُ
Ia berkata,…

عَمَّنْ كَانَ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Siapa yang pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

قَالَ كُنْتُ رَدِيفُهُ عَلَى حِمَارٍ

Lalu ia melanjutkan, “Aku pernah dibonceng Nabi di atas keledai,…

فَعَثَرَ الْحِمَارُ

kemudian keledai itu terpeleset…

فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

maka aku berkata, “Celakalah setan!”

يَعْنِي لَمَّا تَعَثَّرَ الْحِمَارُ

Yakni dia berkata ketika keledai itu terpeleset.

سَبَّ الشَّيْطَانَ الصَّحَابِيُّ هَذَا

Sahabat tersebut mencela setan.

فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

“Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’”

يَعْنِي سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ
Yakni mencela setan tidak ada manfaatnya!

سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ

Mencela setan tidak ada faidahnya!

لَكِنَّ الَّذِي يَنْفَعُ

Namun apa yang bermanfaat?

قَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

Beliau bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’…

فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

Karena jika kamu mengatakan ‘Celakalah setan!’…

تَعَاظَمَ الشَّيْطَانُ فِي نَفْسِهِ

maka setan akan menyombongkan diri;

وَقَال صَرَعْتُهُ بِقُوَّتِي

Dan ia akan berkata, ‘Aku telah mengalahkannya dengan kekuatanku’.

يَعْنِي الشَّيْطَانَ يَخْتَالُ

Yakni setan akan merasa sombong.

فَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللهِ

Namun jika kamu berkata, ‘BISMILLAH’…

تَصَاغَرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ الشَّيْطَانُ

maka setan akan menjadi kerdil…

حَتَّى يَكُونَ أَصْغَرَ مِنْ ذُبَابٍ

hingga ia menjadi lebih kecil daripada seekor lalat.”

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan ini adalah hadits yang shahih.

Inspirasi dari Nabi Tentang Adab Berdebat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Inspirasi dari Nabi Tentang Adab Berdebat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

مِنْ آدَابِ الحِوَارِ طَبْعًا الْإِصْغَاءُ وَحُسْنُ الِاسْتِمَاعِ
Salah satu adab berdebat tentunya adalah mendengar dengan seksama.

وَالْأَدَبُ يَأْسِرُ
Dan adab itu dapat menawan hati.

الْأَدَبُ يَأْسِرُ
Adab dapat menawan hati.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

فِي نِقَاشِهِ مَعَ عُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَكَانَ سَيِّدًا فِي قَوْمِهِ
pernah berdebat dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, salah seorang pembesar di kaumnya.

قَالَ يَوْمًا وَهُوَ جَالِسٌ فِي نَادِي قُرَيْشٍ
Suatu hari ‘Utbah duduk di tempat pertemuan kaum Quraisy,

وَنَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ وَحْدَهُ
sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di masjid sendirian,

مَسْجِدِ الْحَرَامِ
yakni di Masjidil Haram.

فَقَالَ لَهُمْ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَلَا أَقُومُ إِلَى مُحَمَّدٍ فَأُكَلِّمَهُ ؟
‘Utbah lalu berkata, “Wahai kaum Quraisy, bagaimana jika aku menemui Muhammad untuk berbicara dengannya,..

وَأَعْرِضَ عَلَيْهِ أُمُوْرًا لَعَلَّهُ يَقْبَلُ بَعْضَهَا ؟
dan menawarkan kepadanya beberapa hal, barangkali dia mau menerima sebagiannya?

فَنُعْطِيَهُ أَيَّهَا شَاءَ وَيَكُفَّ عَنَّا ؟
Lalu kita dapat memberi apa yang dia mau, agar dia dapat berhenti mengganggu kita.”

وَكَانَ هَذَا الْكَلَامُ قَالُوا حِينَ أَسْلَمَ حَمْزَةُ
Perkataan ini mereka sepakati ketika Hamzah baru masuk Islam.

وَرَأَوْا أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُونَ وَيَكْثُرُونَ
Dan mereka melihat pengikut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin bertambah

فَقَالُوا بَلَى يَا أَبَا الْوَلِيدِ قُمْ إِلَيْهِ فَكَلِّمْهُ
Mereka menjawab, “Baik wahai Abu Walid (panggilan ‘Utbah), pergi dan bicaralah dengannya!”

فَقَامَ إِلَيْهِ عُتْبَةُ
Maka ‘Utbah pergi menghadap beliau.

حَتَّى جَلَسَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
‘Utbah pun duduk di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata,

يَا ابْنَ أَخِي
“Wahai keponakanku,..

إِنَّكَ مِنَّا حَيْثُ قَدْ عَلِمْتَ مِنَ الثِّقَةِ فِي الْعَشِيرَةِ
Kamu telah mengetahui bahwa dirimu berasal dari keluarga yang dipercaya…

وَالْمَكَانِ فِي النَّسَبِ
dan kedudukan nasab yang tinggi.

وَإِنَّكَ قَدْ أَتَيْتَ قَوْمَكَ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ
Dan kamu telah datang pada kaummu dengan perkara yang agung;…

فَرَّقْتَ بِهِ جَمَاعَتَهُمْ
Dengan perkara itu kamu pecah belah kesatuan mereka,

وَسَفَّهْتَ بِهِ أَحْلَامَهُمْ
kamu anggap bodoh para pemimpin mereka,

وَعِبْتَ بِهِ آلِهَتَهُمْ وَدِينَهُمْ
kamu cela sesembahan dan agama mereka,

وَكَفَّرْتَ بِهِ مَنْ مَضَى مِنْ آبَائِهِمْ
dan kamu anggap kafir nenek moyang mereka.

فَاسْمَعْ مِنِّي أَعْرِضُ عَلَيْكَ أُمُورًا تَنْظُرُ فِيهَا
Maka dengarkanlah, aku akan menawarkan beberapa perkara untuk kamu pertimbangkan…

لَعَلَّكَ تَقْبَلُ مِنَّا بَعْضَهَا
Barangkali kamu dapat menerima sebagiannya.

فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قُلْ يَا أَبَا الْوَلِيدِ أَسْمَعُ
“Katakanlah wahai Abu al-Walid, aku akan mendengarkan…”

طَبْعًا التَّكْنِيَةُ هَذِهِ
Tentu beliau memanggil dengan kun-yahnya…

فِيهَا يَعْنِي تَقْدِيرٌ مُرَاعَاةٌ
untuk menghormati dan menghargai ‘Utbah,

لِهَذَا الرَّجُلِ صَاحِبِ الْمَكَانَةِ
orang yang memiliki kedudukan ini.

قَالَ قُلْ يَا أَبَا الْوَلِيدِ أَسْمَعُ
Beliau bersabda, “Katakanlah wahai Abu al-Walid, aku akan mendengarkan…”

قَالَ يَا ابْنَ أَخِي
‘Utbah berkata, “Wahai keponakanku,..

إِنْ كُنْتَ إِنَّمَا تُرِيدُ بِمَا جِئْتَ بِهِ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ مَالًا
jika dengan perkara yang kamu bawa ini kamu menginginkan harta,

جَمَعْنَا لَك مِنْ أَمْوَالِنَا حَتَّى تَكُونَ أَكْثَرَنَا مَالًا
kami akan mengumpulkan harta kami untukmu, sehingga kamu menjadi paling kaya di antara kami.

وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ بِهِ شَرَفًا سَوَّدْنَاكَ عَلَيْنَا
Jika dengannya kamu ingin kehormatan, maka kami akan menjadikanmu pembesar kami,

حَتَّى لَا نَقْطَعَ أَمْرًا دُوْنَكَ
sehingga kami tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuanmu.

وَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ مُلْكًا مَلَّكْنَاكَ عَلَيْنَا
Jika kamu ingin kekuasaan, maka kami akan menjadikanmu penguasa kami.

وَإِنْ كَانَ هَذَا الَّذِي يَأْتِيكَ رَئِيًّا تَرَاهُ
Dan jika yang mendatangimu itu adalah penampakan yang kamu lihat,..

يَعْنِي تَابِعًا مِنَ الْجِنِّ يَتَرَاءَى لَكَ
-yakni jin yang menampakkan diri dan mengikutimu-

لَا تَسْتَطِيعُ رَدَّهُ عَنْ نَفْسِكَ
yang tidak dapat kamu lawan,

طَلَبْنَا لَكَ الطِّبَّ
maka kami akan mencarikanmu pengobatan…

وَبَذَلْنَا فِيهِ أَمْوَالَنَا حَتَّى نُبْرِئَكَ مِنْهُ
dan kami akan mengerahkan harta kami hingga kamu dapat sembuh,..

فَإِنَّهُ رُبَّمَا غَلَبَ التَّابِعُ عَلَى الرَّجُلِ
karena mungkin jin itu dapat menguasai seseorang…

حَتَّى يُدَاوَى مِنْهُ
hingga ia diobati.”

فَلَمَّا فَرَغَ عُتْبَةُ
Ketika ‘Utbah selesai berbicara,

وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَمِعُ مِنْهُ
dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkannya,

قَالَ أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟
Maka beliau bertanya, “Apakah kamu sudah selesai wahai Abu al-Walid?”

قَالَ نَعَمْ
Dia menjawab, “Ya.”

قَالَ فَاسْمَعْ مِنِّي
Beliau berkata, “Kalau begitu dengarkan aku.”

قَالَ أَفْعَلُ
Dia menjawab, “Baiklah.”

هَذَا شَيْءٌ فَرَضَ نَفْسَهُ
Ini adalah hal yang harus dia lakukan.

مَا دَامَ اِسْتَمَعَ إِلَيْهِ لَا بُدَّ الْآخَرُ أَنْ يَسْتَمِعَ
Karena Rasulullah telah mendengarkannya, maka dia juga harus mendengarkan beliau.

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Bismillahirrahmanirrahim
حم
Haa miim…

تَنْزِيْلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا
Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan…

عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.

بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا
Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan,

فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.

وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ
Mereka berkata: “Hati kami berada dalam keadaan tertutup…

مِمَّا تَدْعُوْنَآ إِلَيْهِ
dari apa yang kamu ajak kami kepadanya…”

وَمَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ عَلَيْهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus membaca surat ini kepadanya.

فَلَمَّا سَمِعَ عُتْبَةُ أَنْصَتَ
Dan ketika ‘Utbah mendengarnya, ia terdiam,

وَأَلْقَى يَدَيْهِ خَلْفَ ظَهْرِهِ
Dan meletakkan dua tangannya di belakang punggungnya…

مُعْتَمِدًا عَلَيْهِمَا يَسْتَمِعُ مِنْهُ
bersandar pada kedua tangannya itu, seraya mendengarkan Rasulullah dengan seksama.

وَفِي الْآيَاتِ
Dalam ayat-ayat ini…

وَعِيدٌ
terkandung ancaman;

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud’.”

وَالنَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…

فِي قِرَاءَتِهِ أَكْمَلَ الْقِرَاءَةَ
membaca surat ini sampai selesai,

وَفِي هَذِهِ السُّورَةِ سَجَدَ
Dan ketika membaca surat ini beliau bersujud…

فِي مَوْضِعِ السَّجْدَةِ
pada ayat sajdah di dalamnya.

ثُمَّ قَالَ قَدْ سَمِعْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ مَا سَمِعْتَ ؟
Kemudian beliau bersabda, “Apakah kamu telah mendengarnya wahai Abu al-Walid?

فَأَنْتَ وَذَاكَ
Maka itulah ancaman bagimu.”

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ اِسْتَمَعَ أَوَّلًا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan terlebih dahulu…

ثُمَّ تَكَلَّمَ
kemudian baru berbicara.

وَاسْتَعْمَلَ الْإِنْصَاتَ وَسِيْلَةً لِلدَّعْوَةِ
Beliau menjadikan kemampuan mendengar sebagai perantara untuk berdakwah,

وَكَان لاَ بُدَّ لِلْمُقَابِلِ أَنْ يُنْصِتَ
sehingga lawan debatnya mau tidak mau harus mendengarkan juga

وَ
Dan…

هَذَا الْأَدَبُ نَحْتَاجُهُ جِدًّا
Inilah adab yang sangat kita butuhkan,

اسْتِمَاعُ الْمُحَاوِرِ لِمُحَاوِرِهِ
yaitu adab seorang pendebat dalam mendengarkan lawan debatnya.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَابَعَ عُتْبَةَ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan ucapan ‘Utbah…

بِاعْتِنَاءٍ
…dengan seksama.

وَأَظْهَرَ لَهُ الْإِنْصَاتَ
Dan menampakkan perhatian kepadanya.

وَمَنْ أَحْسَنَ الِاسْتِمَاعَ أَحْسَنَ الرَّدَّ
Dan barangsiapa yang dapat mendengarkan dengan baik, maka ia dapat membantah dengan baik.

وَقَدْ تَشَوَّقَ عُتْبَةُ لِلسَّمَاعِ
‘Utbah sangat tertarik untuk mendengarkan…

بَعْدَ هَذَا الْإِنْصَاتِ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendengar dengan baik.

رَأْسُ الْأَدَبِ حُسْنُ الْفَهْمِ وَالتَّفَهُّمُ وَالْإِصْغَاءُ لِلْمُتَكَلِّمِ
Inti dari adab adalah memahami dan mendengarkan lawan bicara.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْلَمُ بُطْلَانَ مَا جَاءَ بِهِ عُتْبَةُ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kesalahan apa yang dibawa ‘Utbah,

لَكِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَسْتَفْرِغَ مَا لَدَيْهِ
namun beliau ingin mendengarkan terlebih dahulu seluruh perkataannya,

لِيَرُدَّ عَلَيْهِ
agar beliau dapat membantahnya.

وَقَبْلَ مَا يَتَكَلَّمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ
Dan sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara, beliau bertanya,

أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟
“Apakah kamu telah selesai wahai Abu al-Walid?”

أَقَدْ فَرَغْتَ يَا أَبَا الْوَلِيدِ ؟
“Apakah kamu telah selesai berbicara wahai Abu al-Walid?”

قُلْتَ كُلَّ مَا عِنْدَكَ ؟ خَلَاص ؟
“Apakah kamu telah mengatakan seluruh yang ingin kamu katakan?”

هَذَا أَجْدَى وَأَنْفَعُ وَأَخْصَرُ وَأَفْيَدُ
Metode ini sangat berguna, bermanfaat, dan singkat.

وَتَفْهَمُ مَاذَا يَقُولُ الْخَصْمُ
Dan dengan ini kamu dapat memahami apa yang ingin dikatakan lawan bicara.

Ibadah Hati yang Menuntunmu Bahagia Dunia dan Akhirat – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri

Ibadah Hati yang Menuntunmu Bahagia Dunia dan Akhirat – Syaikh Sa’ad asy-Syatsri

أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللهِ
“Mereka itu mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218)

أَيْش مَعْنَى الرَّجَاءِ؟
Apa yang dimaksud dengan Roja’ (pengharapan)?

أَنْ تُأَمِّلَ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Yaitu kamu mengharap dari Allah ‘Azza wa Jalla…

أَنْ يَنَالَكَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ
agar mengaruniakanmu perbuatan baik.

أَلَيْسَ هُوَ الْأَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ؟
Bukankah Dia Dzat yang paling pemurah?

وَأَجْوَدَ الْأَجْوَدِيْنَ؟
Dan Dzat yang paling dermawan?

أَلَيْسَ هُوَ الصَّادِقُ فِي وَعْدِهِ؟
Bukankah Dia Maha Benar dalam janji-Nya?

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيلًا؟
“Dan siapakah yang paling benar perkataannya daripada Allah?” (QS. An-Nisa’: 122)

وَبِالتَّالِي
Maka dari itu…

تُحْسِنُ الظَّنَّ فِي اللهِ جَلَّ وَعَلَا
Berbaik sangkalah kamu kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (dalam hadits qudsi)…

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ
Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku…

فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ
maka biarlah dia berprasangka kepada-Ku semaunya.

إِنْ ظَنَنْتَ فِي اللهِ الْخَيْرَ جَاءَكَ
Jika kamu berprasangka baik kepada Allah, maka kebaikan akan mendatangimu.

بَسْ اِفْعَلْ أَسْبَابَهُ
Namun lakukanlah sebab-sebabnya.

مَا هُوَ تَقُولُ أَظُنُّ فِي اللهِ الْخَيْرَ وَأَنْتَ
Jangan kamu berkata, “Aku berprasangka baik kepada Allah”, sedangkan kamu…

مُخَالِفٌ لِأَمْرِهِ وَنَهْيِهِ
menyelisihi perintah dan larangan-Nya.

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَهْدِيَكَ
Kamu berharap kepada Allah agar memberimu petunjuk,

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَنْصُرَكَ
kamu berharap kepada Allah agar menolongmu,

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَرْزُقَكَ
kamu berharap kepada Allah agar memberimu rezeki,

تَرْجُو مِنَ اللهِ أَنْ يَجْعَلَ
kamu berharap kepada Allah agar menjadikan…

لَكَ أَجْرًا عَظِيْمًا بِدَعْوَةِ الْخَلْقِ وَهِدَايَتِهِمْ
bagimu pahala besar, dengan melakukan dakwah dan memberi petunjuk untuk orang lain.

وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا عِنْدَ ظَنِّكَ
maka sungguh Allah Jalla wa ‘Ala sesuai dengan prasangkamu kepada-Nya.

وَقَدْ وَعَدَكَ وَهُوَ صَادِقٌ
Allah telah berjanji kepadamu dan Dia benar dalam janji-Nya.

تُرِيدُونَ الرِّزْقَ؟
Kalian ingin rezeki?

تُحِبُّوْنَ الْفُلُوسَ؟
Kalian ingin uang?

تُحِبُّونَ؟
Ingin?

لَا تَكُنْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّكُمْ
Jangan sampai dunia menjadi tujuan terbesar kalian.

لِتَكُنِ الْآخِرَةُ هَمَّكُمْ
Namun jadikan akhirat tujuan kalian,

وَتَأْتِيْكُمُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
maka dunia akan mendatangi kalian dan ia dalam keadaan tertunduk.

Cerita Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tentang Gurunya #NasehatUlama

Cerita Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin tentang Gurunya #NasehatUlama

يَقُولُ فَضِيلَةَ الشَّيْخِ
Ia berkata, “Syaikh yang terhormat,…

وَالِدِي وَشَيْخِي فَضِيلَةَ الشَّيْخِ مُحَمَّدَ بْنُ صَالِحٍ الْعُثَيْمِيْنَ
orangtuaku dan syaikhku, yang terhormat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin…

أَمَّا بَعْدُ
Amma ba’du:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ –
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ –
– Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
– Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

إِنَّنِي كُلَّمَا قَرَأْتُ كِتَابًا لِسَمَاحَةِ الْإِمَامِ الْعَلَّامَةِ
Setiap kali aku membaca kitab karangan al-Imam al-‘Allamah,…

الشَّيْخِ عَبْدِ الرَحْمَنِ السَّعْدِيِّ أَخَذَ بِمَجَامِعِ قَلْبِي وَبَهَرَنِيْ حَسَنُ أُسْلُوْبِهِ
asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di; maka kitab itu akan menarik hatiku dan metodenya membuatku takjub,

وَسُهُولَتِهِ
begitu pula dengan kemudahannya.

لِمَا أَرَى فِيهِ مِنَ الْعِلْمِ الْجَمِّ الْغَزِيرِ
Karena aku mendapatinya mengandung ilmu yang luas dan banyak.

سَمَاحَةَ وَالِدِي، أُمْنِيَتِي الْغَالِيَةُ تَمَنَّيْتُ أَنْ تَتَحَقَّقَ
Orangtuaku yang terhormat, aku memiliki keinginan yang semoga dapat tercapai…

وَهِيَ أَنْ تُحَدِّثَنَا عَنْ حَيَاةِ هَذَا الْإِمَامِ
yaitu aku berharap Anda menceritakan kisah hidup sang imam ini…

خَاصَّةً عِلْمُهُ خُلُقُهُ
terlebih lagi tentang ilmu dan akhlak beliau,…

أَثَرُهُ عَلَى الْأُمَّةِ وَجِهَادُهُ
serta pengaruh beliau bagi umat, juga jihad beliau.

وَذَلِك لِمَعْرِفَةِ قُرْبِكَ مِنهُ لِمَعْرِفَةِ قُرْبِكَ مِنْهُ
Hal ini karena diketahui bahwa Anda dekat dengan beliau.

وَإِنِّي أَقُولُ فِي خِتَامِ هَذِهِ الْكَلِمَةِ
Dan sebagai penutup kalimat ini, aku mengucapkan…

يَلْهَجُ بِهَا كُلُّ مُؤْمِنٍ عَرَفَ قَدْرَ الْعُلَمَاءِ
kalimat yang diucapkan setiap mukmin yang mengetahui kedudukan para ulama…
ُحِبُّكَ فِي اللهِ . وَأَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْمَعَنَا نَحْنُ وَإِيَّاهُ
“Aku mencintai Anda karena Allah, dan aku memohon kepada Allah Ta’ala agar mengumpulkan kita dengan beliau…

وَوَالِدِينَا وَالْحَاضِرِيْنَ
serta para orangtua kita dan seluruh hadirin…

فِي جَنَّاتِهِ جَنَّاتِ الْفِرْدَوْسِ إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيءٍ قَدِيرٌ
di dalam surga-Nya, surga firdaus. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segalanya.

وَأَنْ يَحْفَظَكَ وَيُبَارِكَ فِي عُمْرِكَ
Dan semoga Allah menjaga Anda dan memberkahi umur Anda…

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ
Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad.”

أَمَّا الْكَلَامُ عَنِ الشَّيْخِ
Adapun pembahasan tentang asy-Syaikh…

فَإِنَّ عِبَارَاتِيْ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تُلِمَّ
maka kata-kataku tidak akan mampu menjelaskan…

بِمَا كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ
setiap ilmu dan akhlak yang beliau miliki,..
وَالْإِحْسَانِ الْعَظِيمِ رَحِمَهُ اللهُ
serta kebaikan beliau yang begitu besar -rahimahullah-.

وَقَدْ تُرْجِمَ لَهُ فِي بَعْضِ كُتُبِهِ
Dalam beberapa kitab beliau juga telah ditulis tentang biografi beliau,…

فَمَنْ أَرَادَ الْمَزِيدَ مِنْ ذَلِكَ
maka siapa yang ingin penjelasan lebih…

فَلْيُحَدِّثْ فَلْيَرْجِعْ إِلَيْهَا
maka ia dapat mentelaah kitab-kitab itu.

أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِمُعَامَلَتِهِ
Adapun tentang muamalah beliau…

فَأَنَا مَا رَأَيْتُ أَحَدًا
maka aku belum pernah melihat seorangpun…

أَحْسَنَ أَخْلَاقًا مِنْهُ رَحِمَهُ اللهُ
yang lebih baik akhlaknya dari beliau -rahimahullah-.

رَجُلٌ مُتَوَاضِعٌ
Beliau seorang lelaki yang rendah hati,

يُحِبُّ الْفُقَرَاءَ
mencintai orang-orang fakir,

يُحِبُّ السَّتْرَ عَلَيْهِمْ
dan selalu menjaga kehormatan mereka.

وَكَانَ النَّاسُ فِيمَا فِي عَهْدِهِ
Dan orang-orang pada zaman beliau,

لَيْسُوا عَلَى هَذَا الْمُسْتَوَى مِنَ الْمَالِ وَالْغِنَى
tidak berada di tingkat keuangan dan harta seperti sekarang.

بَلْ كَانُوا فُقَرَاءَ إِلَى أَبْعَدِ الْحُدُودِ
Namun mereka sangat miskin.

وَكَانَ رَحِمَهُ اللهُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ
Dahulu beliau rahimahullah pergi sendiri;

إِذَا جَاءَتْهُ الزَّكَاةُ أَوِ الصَّدَقَاتُ
Jika ada zakat atau sedekah yang diberikan kepada beliau,..

يَذْهَبُ بِهَا لِنَفْسِهِ إِلَى الرَّجُلِ الْفَقِيرِ
maka beliau sendiri yang mengantarnya kepada orang fakir,

يَقْرَعُ عَلَيْهِ الْبَابَ
beliau mengetuk pintunya,

وَيَمُدُّ لَهُ مَا بِيَدِهِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالزَّكَاةِ
dan segera memberikan sedekah dan zakat yang beliau bawa,

مِنْ غَيْرِ أَنْ يَشْعُرَ
tanpa diketahui oleh si penerima.

لِأَنَّهُ لَا يُرِيدُ بِذَلِكَ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Hal ini karena beliau tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih darinya.

وَكَان مُتَوَاضِعًا رَحِمَهُ اللهُ لِلطَّلَبَةِ
Beliau juga rendah hati kepada para penuntut ilmu.

وَكَان يُمَازِحُهُمْ
Beliau mengajak mereka bercanda;

وَرُبَّمَا يُهْدِي إِلَيْهِم أَشْيَاءَ
dan terkadang memberi mereka beberapa hadiah,

يَعْنِي لَيْسَتْ بِذَاتِ قِيمَةٍ جَلْبًا لِقُلُوبِهِم
bukan sesuatu yang berharga, namun hanya untuk menarik hati mereka.

وَكَانَ أَيْضًا رُبَّمَا يَجْعَلُ الْجُعْلَ
Terkadang beliau juga membuat tantangan…

عَلَى حِفْظِ مَتْنٍ مِنَ الْمُتُونِ
untuk menghafal suatu matan

كَمَا جَعَلَ عَلَى حِفْظِ بُلُوغِ الْمَرَامِ مِئَةَ رِيَالٍ
sebagaimana ketika beliau membuat tantangan menghafal Bulughul Maram dengan hadiah 100 Riyal.

مِئَةَ رِيَالٍ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ تُسَاوِي
100 Riyal ketika itu setara dengan…

مِئَةَ أَلْفٍ تَقْرِيْبًا فِي وَقْتِنَا هَذَا
kira-kira 100 ribu Riyal saat ini.

مَنْ يُحَصِّلُ لَهُ مِئَةَ رِيَالٍ
Siapa yang berhasil mendapat 100 Riyal.

وَعَلَى كُلِّ حَالٍ نَحْنُ وَالْحَمْدُ لِلهِ
Dan bagaimana pun, alhamdulillah, kami…

اِكْتَسَبْنَا مِنْ أَخْلَاقِهِ شَيْئًا كَثِيْرًا وَلَكِنَّمَا لَمْ نَلْحَقْهُ حَتَّى الْآنَ
dapat meneladani banyak dari akhlak beliau, namun kami masih belum bisa setara dengan beliau hingga kini.

إِنَّمَا يَسَّرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَخْلَاقِهِ
Hanya akhlak-akhlak beliau yang Allah ‘Azza wa Jalla beri kemudahan saja…

انْتَفَعْنَا بِهِ
yang dapat kami teladani dan ambil manfaatnya.

وَهُوَ رَحِمَهُ اللهُ حَصَلَ عَلَيْهِ يَعْنِي مِنَ
Beliau rahimahullah telah merasakan… yakni beberapa…

النَّكَبَاتِ وَإِيْذَاءِ النَّاسِ لَهُ
ujian dan permusuhan dari orang-orang,

وَلَا سِيَّمَا مِنْ أَقْرَانِهِ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ
terlebih lagi dari beberapa ulama yang menjadi rivalnya.

لَكِنَّهُ صَبَرَ وَاحْتَسَبَ
Namun beliau bersabar dan mengharap pahala dari cobaan itu.

وَكَانَتْ الْعَاقِبَةُ لَهُ
Dan kesudahannya berakhir baik bagi beliau.

وَلَمْ يَعْرِفْ النَّاسُ قَدْرَهُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تُوُفِّيَ رَحِمَهُ اللهُ
Orang-orang tidak mengetahui kedudukan beliau, kecuali setelah beliau wafat -rahimahullah-;

عَرَفُوا قَدْرَهُ
Barulah mereka mengetahui kedudukan beliau

وَمَا أَسْدَى إِلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الْعُلُومِ النَّافِعَةِ الْجَمَّةِ
dan mengetahui ilmu-ilmu yang bermanfaat besar yang beliau berikan untuk umat ini.

وَكُتُبُهُ كَمَا قَالَ السَّائِلُ
Dan kitab-kitab beliau seperti yang dikatakan orang yang bertanya ini…

كُتُبُهُ سَهْلَةٌ
kitab-kitab beliau mudah dipahami,

كُلٌّ يَنْتَفِعُ بِهَا
semua orang dapat memanfaatkannya,

الْعَامُّ وَطَالِبُ الْعِلْمِ
baik itu orang awam atau penuntut ilmu.

وَانْظُرْ إِلَى تَفْسِيرِهِ رَحِمَهُ اللهُ
Lihat saja tafsir beliau -rahimahullah-

يَقْرَأَهُ الْإِنْسَانُ وَكَأَنَّهُ يَشْرَبُ مَاءً
orang yang membacanya bagaikan minum air,

مِن سُهُولَتِهِ وَوُضُوحِهِ
karena begitu mudah dipahami dan sangat jelas.

وَلَهُ رَحِمَهُ اللهُ اسْتِنْبَاطَاتٌ عَجِيْبَةٌ
Beliau juga banyak mengeluarkan intisari yang menakjubkan.

مَا رَأَيْتُ مِثْلَهَا فِيمَا يَمُرُّ بِهِ مِنَ التَّفْسِيرِ
Aku tidak pernah melihat yang seperti itu dari kitab-kitab tafsir yang telah aku baca.

تَجِدُهُ مَثَلاً يَسْتَخْرِجُ فَوَائِدَ كَثِيرَةً مِنَ الْآيَةِ
Sebagai contoh kamu mendapati beliau mengambil banyak intisari dari suatu ayat…

لَا تَجِدُهَا فِي كِتَابٍ فِي أَيِّ تَفْسِيرٍ آخَرَ
yang tidak dapat kamu temui dalam kitab tafsir yang lain.

فَالْمُهِمُّ أَنَّ الرَّجُلَ رَحِمَهُ اللهُ دُرَّةُ زَمَانِهِ
Pada intinya, beliau -rahimahullah- adalah mutiara bagi zamannya.

وَلَمْ نَعْلَمْ أَحَدًا مِثْلَهُ
Kami tidak pernah mengenal orang yang seperti beliau…

فِي حُسْنِ الْخُلُقِ وَاللِّيْنِ وَالسُّهُولَةِ
dalam kebaikan akhlak, kelembutan, dan keramahan…

وَالسَّعَةِ أَيْضًا
dan juga toleransi.

يَعْنِي لَيْسَ عِنْدَهُ ذَاكَ التَّشْدِيدُ الَّذِي يَكُونُ عِنْدَ بَعْضِ النَّاسِ
Yakni beliau tidak memiliki sikap keras yang biasa ada pada sebagian orang.

بَلْ هُوَ رَحِمَهُ اللهُ سَهْلٌ
Namun beliau adalah orang yang toleran.

إِلَّا أَنَّهُ لَا يُمْكِنُ
Akan tetapi, beliau tidak mungkin…

أَنْ يُقِرَّ شَيْئًا مُحَرَّمًا يَرَى أَنَّهُ مُحَرَّمٌ
menyetujui perkara yang haram yang menurut beliau memang haram.

بَلْ يُنْكِرُهُ غَايَةَ الإِنْكَارِ
Namun beliau akan sangat mengingkarinya.

فَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَعُمَّنَا وَإِيَّاكُمْ بِرَحْمَتِهِ وَإِيَّاهُ
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar meliputi kita dan beliau dengan rahmat-Nya…

وَأَنْ يَجْمَعَنَا جَمِيْعًا فِي دَارِ كَرَامَتِهِ
dan mengumpulkan kita semua di negeri kemuliaan-Nya (surga).

Begini Cara Nabi Sholat Tarawih dan Witir – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Begini Cara Nabi Sholat Tarawih dan Witir – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كَانَ يُصَلِّي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً لَكِنْ كَيْفَ؟

Nabi ‘alaiṣ ṣalātu was salām dulu melaksanakan Salat Tarawih sebelas rakaat, tapi bagaimana caranya?

مَثْنَى مَثْنَى أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

“Beliau salat dua rakaat kemudian salam, setelah itu dua rakaat kemudian salam, dan jangan tanya tentang panjang dan bagusnya salat beliau…

وَمَثْنَى مَثْنَى أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ

…kemudian beliau salat dua rakaat kemudian salam, setelah itu dua rakaat kemudian salam, dan jangan tanya tentang panjang dan bagusnya salat beliau…

ثُمَّ يُوْتِرُ بِثَلَاثٍ – رَوَاهُ البُخَارِيُّ

… kemudian beliau Salat Witir tiga rakaat.” (HR. Bukhari)

مَرَّةً افْتَتَحَ الْبَقَرَةَ ثُمَّ النِّسَاءَ ثُمَّ آلَ الْعِمْرَانَ فِي رَكْعَةٍ

Beliau pernah mengawali bacaannya (setelah Al-Fatihah) dengan Al-Baqarah, kemudian An-Nisa, dan kemudian Ali Imran dalam satu rakaat

الزِّيَادَةُ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً صَحِيحَةٌ

Jumlah rakaat lebih dari sebelas rakaat juga benar.

لَكِنَّ السُّنَّةَ إِحْدَى عَشَرَ مُتَأَنِّيَةً فَإِذَا زَادَ الْإِنْسَانُ لَا بَأْسَ

Namun sunahnya adalah sebelas rakaat secara santai namun jika seseorang ingin menambahnya, tidak mengapa

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

Nabi ‘alaiṣ ṣalātu was salām bersabda, “Salat malam adalah dua rakaat – dua rakaat,…

فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً

…jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu subuh, maka hendaknya kemudian dia salat satu rakaat

تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ‏

… yang menjadi Salat Witir dari salat yang telah dia laksanakan.” (HR. Bukhari)

إِذَا أَوْتَرَ مَعَ الْإِمَامِ أَحَبَّ أَنْ يُكْمِلَ مَثْنَى مَثْنَى

Jika seseorang telah Salat Witir bersama imam namun ingin melanjutkan lagi salat dua rakaat – dua rakaat

بِدُونِ إِعَادَةِ الْوِتْرِ لَا بَأْسَ

tanpa mengulangi witir lagi, maka tidak mengapa.