Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rahasia Asmaul Husna “Allah” Dalam Al-Quran – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Kemudian beliau -semoga Allah Ta’ala merahmatinya- menjelaskan salah satu rahasia konteks Al-Quran, bahwa nama Allah “Al-Khabir (Yang Maha Mengetahui)” kebanyakannya dalam konteks amal perbuatan dan balasannya. Sebagaimana firman Allah ta’ala: “Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui (perbuatan mereka).” (QS. Al-‘Adiyat: 11) Penyebutan nama Allah “Al-Khabir” setelah penyebutan amal perbuatan dan balasannya, maksudnya adalah untuk menggugah hati dan mengingatkannya kepada derajat yang semestinya seseorang raih, berupa kesempurnaan amal, memperbagusnya, menyempurnakannya, dan ikhlas.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebarkan Asmaul Husna pada ayat-ayat dalam Al-Quran, yaitu setiap ayat yang ditutup dengan salah satu dari nama-nama Allah (Asmaul Husna) Subhanahu wa Ta’ala, atau dalam ayat tersebut ada perbuatan yang dikaitkan dengan salah satu nama-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka dalam keterkaitan atau penutupan ayat tersebut ada satu makna yang tersirat dari konteksnya, sehingga bila seseorang memperhatikan kaidah dalam konteks-konteks Al-Quran berdasarkan makna-maknanya ini, niscaya dia akan menemukan makna-makna Al-Quran dan pemahaman tentangnya yang tidak bisa dipahami oleh orang lain.

Contoh yang lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya, ketika ada lafal الْحَمْدُ ‘al-hamdu’ (pujian), Allah berfirman, الْحَمْدُ لِلهِ (Segala puji hanya bagi Allah) (QS. Al-Fatihah: 2), tidak dengan menyebut nama yang lain, الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ (Segala puji hanya bagi Ar-Rahman), dan tidak pula dengan nama-nama-Nya yang lain, namun hanya nama “Allah” saja yang dikaitkan dengan lafal pujian (الْحَمْدُ), karena pujian yang sempurna yang disematkan pada nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pujian yang sempurna sifatnya bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sifat ketuhanan (uluhiyah), karena sifat ketuhanan ini adalah sifat yang paling sempurna bagi Tuhan kita Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan sifat-sifat lainnya kembali kepadanya, sehingga nama “Allah” ini selalu diikuti oleh Asmaul Husna lainnya, dan nama “Allah” ini tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lain, bahkan sebaliknya Asmaul Husna yang lain selalu mengikutinya, dan nama “Allah” tidak pernah mengikuti Asmaul Husna yang lainnya, karena hal tersebut lebih kuat dalam menunjukkan kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka lafal pujian (الْحَمْدُ) selalu dikaitkan dengan nama “Allah”.

===============

ثُمَّ بَيَّنَ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

مِنْ أَسْرَارِ السِّيَاقِ الْقُرْآنِيِّ أَنَّ هَذَا الِاسْمَ وَهُوَ الْخَبِيرُ

يَأْتِي غَالِبًا فِي سِيَاقِ الْأَعْمَالِ وَجَزَائِهَا

كَمَا قَالَ تَعَالَى: إِنَّ رَبَّهُم بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيرٌ- الْعَادِيَاتُ – الْآيَةُ 11

فَذِكْرُ اسْمِ الْخَبِيرِ بَعْدَ ذِكْرِ الْأَعْمَالِ وَالْجَزَاءِ عَلَيْهَا

الْمُرَادُ بِهِ إِيْقَاظُ الْقُلُوبِ وَتَنْبِيهُهَا إِلَى مَا يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ عَلَيهِ

مِنْ حَالِ الْكَمَالِ وَالْإِحْسَانِ وَالْإِتْقَانِ وَالْإِخْلَاصِ

وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ نَشَرَ أَسْمَائَهُ الْحُسْنَى فِي آيَاتِ كِتَابِهِ

وَكُلُّ آيَاتٍ خُتِمَتْ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَوْ عُلِّقَ فِيهَا فِعْلٌ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَإِنَّ لِذَلِكَ التَعَلُّقِ أَوِ الْخَتْمِ مَعْنًى

رُوعِيَ فِي السِّيَاقِ فَإِذَا لَاحَظَ الْإِنْسَانُ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ

فِي سِيَاقَاتِ الْقُرْآنِ بِاعْتِبَارِ الْمَعَانِي

فَإِنَّهُ يَطَّلِعُ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ وَالْفَهْمِ عَنْهُ

مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ غَيْرُهُ

وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَثَلًا

حَيْثُ جَاءَ ذِكْرُ الْحَمْدِ قَالَ: الْحَمْدُ لِلهِ – الْفَاتِحَةُ – الْآيَةُ 2

وَلَمْ يَأْتِ غَيْرُهُ الْحَمْدُ لِلرَّحْمَنِ

أَوْ غَيْرُهُ مِنَ الْأَسْمَاءِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اسْمُ اللهِ مُتَعَلَّقًا بِالْحَمْدِ

لِأَنَّ الْحَمْدَ الْكَامِلَ الَّذِي وَقَعَ لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

هُوَ عَلَى الْوَصْفِ الْكَامِلِ الَّذِي لَهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَهُوَ وَصْفُ الْأُلُوْهِيَّةِ فَإِنَّ وَصْفَ الْأُلُوْهِيَّةِ

هُوَ أَكْمَلُ صِفَاتِ رَبِّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَجَمِيعُ الصِّفَاتِ تَرْجِعُ إِلَيْهِ وَلِذَلِكَ جَاءَ هَذَا الِاسْمُ مَتْبُوعًا لِغَيْرِهِ

وَلَمْ يَأْتِ تَابِعًا لِغَيْرِهِ بَلِ الْأَسْماءُ تَتْبَعُهُ

وَهُوَ لَا يَتْبَعُ شَيئًا مِنْهَا

فَلِأَجْلِ كَوْنِهِ أَدَلَّ فِي كَمَالِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

جَاءَ الْحَمْدُ مُعَلَّقًا بِهِ

 

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa Maksud Keberkahan Itu Bersama “Orang Tua”? – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Apa maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)?

==
“Keberkahan ada pada orang-orang tua di antara kalian.” (HR. Al-Hakim dan selainnya), dan kebaikan ada pada mereka. Orang tua yang dimaksud, ada dua jenis:

(1) orang tua secara keilmuan, mereka dituakan karena ilmu mereka terhadap alquran dan sunah, walaupun usia mereka masih muda, keberkahan ada pada mereka. Di manapun Anda bertemu orang yang paham alquran dan sunah, mengajarkan keduanya, dan mengajarkan manhaj salafus saleh -semoga Allah meridai mereka semua-maka dia termasuk orang tua. Kemudian dari orang-orang berilmu tersebut, keberkahan ada bersama orang-orang tua di antara mereka. Jadi, semua orang yang jujur berdakwah kepada alquran dan sunah, dan bukti kejujurannya adalah mengikuti manhaj salaf, mereka itulah orang tua, kemudian mereka berbeda-beda derajatnya berdasarkan usia dan ilmu mereka.

(2) orang tua jenis kedua adalah tua secara usia, walaupun mereka tidak berilmu, ada keberkahan bersama mereka, dan kebaikan ada pada mereka.
Karena meskipun mereka tidak memiliki ilmu agama, mereka memiliki kebijaksanaan yang mereka pelajari dari dunia ini.
Wahai saudaraku! Oleh sebab itulah, para pengikut hawa nafsu menjauhkan diri mereka dari kedua jenis orang tua tersebut, karena mereka tahu bahwa orang tua dari kalangan ulama akan menutup jalan syubhat mereka,
dan orang yang tua usianya juga menuntun para pemuda ke jalan kebaikan dengan fitrah dan pengalaman mereka.

Sekarang, sebagian orang tua mengingkari pemberontakan dan upaya menjelek-jelekkan pemerintah, bukan karena ilmu agama mereka, melainkan karena kebijaksanaan dari tuanya usia mereka.

Dan ketika pengikut hawa nafsu menyadari penghalang terbesar mereka dalam mempengaruhi para pemuda adalah orang-orang tua, maka mereka mencela orang tua, menjelekkan para ulama, memberi gelar jelek, menyifatkan dengan buruk, dan menjauhkan diri dari mereka, sehingga anak-anak muda merasa tidak butuh orang tua.
Mereka berkata, “Ayahmu memang tua, namun dia awam! Tetaplah bersama para pemuda!” Sehingga seorang pemuda berubah sikap di depan ayahnya, dia tidak menghargai ayahnya sama sekali.

Ayahnya berkata padanya, “Wahai anakku, …” Namun dia anggap ayahnya hina dan bodoh, dia terkena pengaruh pengikut hawa nafsu, bahkan sebagian pemuda pulang ke rumah, menemui keluarganya seperti seekor singa.
Ayah dan ibunya sedang duduk, kalaupun menyapa hanya mengucapkan salam saja, kemudian langsung masuk kamarnya sampai dia pergi lagi berkumpul bersama pemuda. Demi Allah! Semacam ini adalah perilaku pengikut hawa nafsu!

Adapun pengikut sunah, mereka memerintahkan untuk membersamai orang tua, yaitu ulama dan orang yang tua usianya, belajar dari pengalaman mereka, dan memuliakan mereka.
Demi Allah! Tidak ada yang memuliakan orang tua kecuali orang yang mulia, dan tidak ada yang merendahkan mereka kecuali orang yang tercela.Dan keberkahan ada bersama orang yang tua secara keilmuan dan secara umur. Jadi, siapa yang ingin keberkahan, sebaiknya dia selalu mematuhi arahan para ulama senior, dan bersama orang yang tua umurnya, dengan memuliakan, menghargai, dan memahami kedudukan mereka. Dan Allah yang lebih tinggi dan lebih tahu.

=========================================

مَا مَعْنَى قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيرُهُ؟

الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ – وَالْخَيْرُ فِي الْأَكَابِرِ وَالْأَكَابِرُ نَوْعَانِ أَكَابَرُ فِي الْعِلْمِ كَبَّرَهُمْ عِلْمُهُمْ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

وَإِنْ كَانُوا صِغَارَ السِّنِّ فَالْبَرَكَةُ مَعَهُمْ فَحَيْثُمَا وَجَدْتَ عَالِمًا بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ يُعَلِّمُ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَيُعَلِّمُ مَنْهَجَ السَّلَفِ الصَّالِحِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

فَاعْلَمْ أَنَّهُ كَبِيرٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْعُلَمَاءُ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ الْبَرَكَةُ مَعَ الْكِبَارِ مِنْهُمْ

فَكُلُّ مَنْ دَعَا إِلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ صَادِقًا وَعَلَامَةُ الصِّدْقِ مَنْهَجُ السَّلَفِ فَهُمْ كِبَارٌ ثُمَّ هَؤُلَاءِ الْكِبَارُ يَتَفَاضَلُونَ بِحَسَبِ سِنِّهِمْ وَعِلْمِهِمْ

وَالنَّوْعُ الثَّانِي الْأَكَابِرُ فِي السِّنِّ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ عِلْمٌ وَهَؤُلَاءِ مَعَهُمُ الْبَرَكَةُ وَمَعَهُمُ الْخَيْرُ

فَإِنَّهُمْ إِنْ فَاتَهُمُ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ لَمْ تَفُتْهُمُ الْحِكْمَةُ الَّتِي تَعَلَّمُوهَا مِنَ الدُّنْيَا

وَلِذَلِكَ يَا إِخْوَةُ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ يُزَهِّدُونَ فِي الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَفِي كِبَارِ السِّنِّ لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّ الْكِبَارَ مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقْطَعُونَ عَلَيْهِمْ طَرِيقَ الشُّبُهَاتِ

وَأَنَّ الْكِبَارَ مِنَ السِّنِّ يَدُلُّونَ الشَّبَابَ عَلَى الْخَيْرِ بِفِطْرَتِهِمْ وَخِبْرَتِهِمْ

الْآنَ بَعْضُ كِبَارِ السِّنِّ يُنْكِرُونَ مَا يَقَعُ خُرُوجٌ عَلَى وَلِيِّ الْأَمْرِ وَمِنْ طَعْنٍ فِيهِ لَا بِعِلْمٍ عِنْدَهُمْ وَإِنَّمَا بِحِكْمَةِ سِنِينَ

فَلَمَّا عَلِمَ أَهْلُ الْأَهْوَاءِ أَنَّ الْحَاجِزَ الْمَنِيعَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ تَخَطُّفِ الشَّبَابِ إِنَّمَا هُوَ الْأَكَابِرُ

طَعَنُوا فِيهِمْ فَطَعَنُوا فِي الْعُلَمَاءِ وَلَقَّبُوهُمْ وَوَصَفُوهُمْ وَزَهَّدُوا فِيهِمْ وَزَهَّدُوا الصِّغَارُ فِي الْكِبَارِ

يَقُولُونَ أَبُوكَ كَبِيرٌ فِي السِّنِّ لَكِنَّهُ عَامِّيٌّ خَلِّك مَعَ الشَّبَابِ حَتَّى يُصْبِحَ الشَّابُّ يَدْخُلُ عَلَى أَبِيهِ لَا يُقِيمُ لِأَبِيهِ وَزْنًا

يَقُولُ لَهُ أَبُوهُ يَا بُنَيَّ يَا بُنَيَّ يَضَعُ لِنَفْسِهِ أَنَّهُ مِسْكِينٌ مَا يَدْرِي عَنْ شَيْءٍ فَيَتَخَطَّفُهُ أَهْلُ الْاَهْوَاءِ حَتَّى أَصْبَحَ بَعْضُ الشَّبَابِ يَدْخُلُ بَيْتَ أَهْلِهِ كَأَنَّهُ أَسَدٌ

أُمُّهُ وَأَبُوهُ جَالِسَانِ إِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِمَا فَحَسْبُ ثُمَّ يَدْخُلُ غُرْفَتَهُ حَتَّى يَذْهَبَ إِلَى الشَّبَابِ وَاللهِ هَذَا مِنْ فِعْلِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ

أَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ فَيَأْمُرُونَ بِلُزُومِ الْكِبَارِ لُزُومِ الْكِبَارِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَلُزُومِ الْكِبَارِ السِّنِّ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْ تَجَارِبِهِمْ وَإِكْرَامِهِمْ

وَاللهِ لَا يُكْرِمُ كِبَارَ السِّنِّ إِلَّا كَرِيمٌ وَلَا يُهِينُهُمْ إِلَّا لَئِيمٌ

وَالْبَرَكَةُ مَعَ الْأَكَابِرِ فِي الْعِلْمِ وَفِي السِّنِّ فَمَنْ أَرَادَ الْبَرَكَةَ فَلْيَلْزَمْ غَرْزَ الْعُلَمَاءِ الْأَكَابِرِ

وَلْيَكُنْ مَعَ كِبَارِ السِّنِّ مُحْتَرِمًا لَهُمْ مُوَقِّرًا لَهُمْ عَارِفًا قَدْرَهُمْ وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ

 

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Cara Agar Tetap Istiqomah – Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Dan tidak ada jalan keselamatan dari perkara ini, kecuali dengan (1) BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada Allah ‘azza wa jalla, dan (2) menghadap Allah dengan BERDOA SAAT KAMU BERSENDIRIAN, juga (3) BERDOA DI SETIAP KESEMPATAN, dengan doa yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan dalam sabda beliau,
YAA MUQOLLIBAL QULUUB TSAB-BIT QOLBII ‘ALAA DIINIK
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmizi), dibarengi TERUS BERUPAYA UNTUK SELALU TAAT kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis qudsi yang dikomentari oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagai hadis yang paling agung tentang wali Allah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, jika hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah, tidak ada amalan yang dengannya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu. Dan jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan, dan jika dia meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi. Dan Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan,… seperti keragu-raguan-Ku terhadap pencabutan nyawa seorang hamba yang beriman … … ketika dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyusahkannya.” (HR. Bukhari)

Wahai saudara-saudara, ini bukanlah fatwa seorang ulama ataupun pendapat seorang imam, melainkan firman Tuhan kalian yang berbicara kepada kita semua. Inilah cara agar teguh beragama: (4) MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH DENGAN AMALAN WAJIB, kemudian (5) BERSEGERA MENGERJAKAN AMALAN SUNAH, hingga mencapai derajat ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepada-Ku …. … dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya.” Ketika Allah mencintainya, maka kebaikan pasti didapat.

Kemudian Allah berfirman, “Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, …” … menjadi penglihatannya yang dengannya dia melihat, ….. menjadi tangannya yang dengannya dia menyentuh, ….. dan menjadi kakinya yang dengannya dia berjalan.” Dengar! Seolah-olah hamba ini terjaga dari segala dosa. Pendengarannya tunduk dalam ketaatan kepada Allah, jiwanya benci dengan kemaksiatan dan condong kepada ketaatan.

Oleh sebab itulah, Anda akan dapati sebagian muslim, dan ini nyata adanya, mereka kuat menahan cambukan, namun tidak tahan mendengar suara musik, dan ketika sebagian musuh-musuh Islam mengetahui perkara ini, mereka kemudian menyiksa sebagian ulama dengan ini. Ketika Ibrahim Pasha memasuki negeri ini dan menyerang para ulama, dan kala itu, di antara ulama yang ditawan adalah syeikh Sulaiman bin Abdullah, pengarang kitab Taisir al-Aziz al-Hamid, disebutkan dalam biografi beliau, bahwa mereka ketika menawan beliau, mereka memperdengarkan alat-alat musik kepada beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tersakiti dengan yang demikian itu, mereka mengerti bahwa beliau tersakiti dengan suara alat-alat musik.

Dan ini salah satu bukti bahwa orang-orang sesat mengerti bahwa seorang mukmin tersakiti dengan perkara-perkara semacam ini. Dan sebaliknya, sebagian putra-putri Islam zaman sekarang, mereka tidak tidur kecuali sambil mendengar musik! Perhatikan bedanya, ada orang yang tersakiti dengan musik walaupun hanya terdengar dari jalan, namun rasanya seperti dicambuk di punggungnya, Maha Suci Allah! Yang ini manusia dan yang itu juga manusia! Bagaimana bisa demikian, yang ini tersakiti karena lantunan musik,dan yang itu hampir-hampir tidak bisa tidur jika tidak mendengar musik? Inilah bedanya dan inilah buahnya, inilah buah dari ibadah,dan buah dari kesungguhan, dia tunduk dalam ketaatan kepada Allah, sehingga telinganya hanya tunduk kepada apa yang Allah ridhai.

===========================================

هَذَا الْأَمْرُ لَا نَجَاةَ مِنْهُ

إِلَّا بِلُزُومِ طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَالتَّوَجُّهِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالدُّعَاءِ فِي الْخَلَوَاتِ

وَفِي كُلِّ لَحْظَةٍ بِمَا كَانَ يَدْعُو بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي قَوْلِهِ: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

مَعَ مُلَازَمَةِ الطَّاعَةِ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ

الَّذِي يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ هُوَ أَعْظَمُ حَدِيثٍ فِي الْأَوْلِيَاءِ

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي

بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ بَعْدَ

وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ

بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ

وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا

وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ

وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ

تَرَدُّدِيْ عَنْ قَبْضِي نَفْسِ عَبْدِيَ الْمُؤْمِنِ

يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

هَذَا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ لَيْسَتْ فَتْوَى عَالِمٍ وَلَا اجْتِهَادَ إِمَامٍ

وَإِنَّمَا كَلَامُ رَبِّكُمْ يُخَاطِبُنَا بِهِ

وَهُوَ طَرِيقُ الثَّبَاتِ التَّقَرُّبُ إِلَى اللهِ بِالْفَرَائِضِ

ثُمَّ الْمُسَارَعَةُ إِلَى النَّوَافِلِ حَتَّى تَحْصُلَ هَذِهِ الْمَنْزِلَةُ

يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ

بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

إِذَا أَحَبَّهُ اللهُ حَصَلَ الْخَيْرُ

ثُمَّ يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ

وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
.
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا
.
اِسْمَعْ! كَأَنَّ هَذَا الْعَبْدَ عُصِمَ مِنَ الذُّنُوبِ

سَمْعُهُ مُنْقَادٌ لِطَاعَةِ اللهِ

فَاشْمَئَزَّتْ نَفْسُهُ مِنَ الْمَعَاصِي وَتُقْبِلُ عَلَى الطَّاعَةِ

وَلِهَذَا تَجِدُ بَعْضَ الْمُؤْمِنِينَ وَهَذَا مَوْجُودٌ

لَرُبَّمَا يَتَحَمَّلُ السِّيَاطَ وَلَا يَتَحَمَّلُ الْمُوسِيقَى

وَلَمَّا عَرَفَ بَعْضُ أَعْدَاءِ الْإِسْلَامِ هَذَا الْأَمْرَ

كَادُوا لِبَعْضِ الْعُلَمَاءِ بِهَذَا الْأَمْرِ

لَمَّا دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بَاشَا هَذِهِ الْبِلَادَ وَقَاتَلَ الْأَئِمَّةَ

وَكَانَ مِنْ مِمَّنْ أُسِرَ الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللهِ

صَاحِبُ تَيْسِيرِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ ذَكَرُوا فِي تَرْجَمَتِهِ

أَنَّهُمْ لَمَّا قَبَضُوا عَلَى الشَّيْخِ أَتَوْا بِالْمَعَازِفِ عِنْدَ الشَّيْخِ

لِأَنَّهُمْ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِهَا

يَعْلَمُونَ أَنَّهُ يَتَأَذَّى بِالْمَعَازِفِ

وَهَذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَؤُلَاءِ الضُّلَّالُ يَعْلَمُونَ

تَأَذِّيَ الْمُؤْمِنِينَ بِهَذِهِ الْأُمُورِ

فِي مُقَابِلٍ بَعْضُ أَبْنَاءِ الْمُسْلِمِينَ الْآنَ

مَا يَنَامُ إِلَّا عَلَى الْمُوسِيقَى

يَعْنِي انْظُرُوْا إِلَى الْفَرْقِ رَجُلٌ يَتَأَذَّى بِالْمُوسِيقَى وَلَوْ كَانَتْ فِي الطَّرِيقِ

وَكَأَنَّهَا سِيَاطٌ فِي ظَهْرِهِ سُبْحَانَ اللهِ

هَذَا بَشَرٌ وَهَذَا بَشَرٌ

كَيْفَ أَصْبَحَ يَعْنِي هَذِهِ يَتَأَذَّى بِمُوسِيقَى

وَهَذَا لَا يَكَادُ يَنَامُ إِلَّا عَلَيْهَا؟

هَذَا الْفَرْقُ هَذِهِ الثَّمَرَةُ هَذِهِ ثَمَرَةُ الْعِبَادَةِ

وَثَمَرَةُ الْجُهْدِ انْقَادَ لِطَاعَةِ اللهِ

فَانْقَادَ سَمْعُهُ بِمَا يُرْضِيَ اللهَ

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.”

Dan Shalat Fardhu adalah ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala Shalat Fardhu merupakan ibadah yang paling agung bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah ibadah yang paling mulia, yaitu tauhid. Shalat Fardhu adalah rukun Islam yang paling mulia setelah tauhid. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada Allah dengan sesuatu yang lebih Allah cintai daripada dengan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran adalah membacanya ketika mendirikan Shalat Fardhu.

Dan waktu yang paling baik untuk mendengarkan al-Quran adalah ketika Shalat Fardhu, saat imam membacanya. Dan waktu yang paling baik untuk membaca al-Quran ada di waktu tersebut. Dan catatlah faedah berharga dari Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullahu Ta’ala, beliau berkata, “Dan keutamaan yang ada …” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.” “Dan keutamaan yang ada bagi pembaca al-Quran mencakup orang yang membacanya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya.”

Orang lainnya, yaitu selain orang yang shalat. Dan katakan juga demikian bahwa keutamaan bagi orang yang mendengar al-Quran mencakup orang yang mendengarnya saat shalat melebihi cakupannya pada orang lainnya. Juga keutamaan dalam mentadabburi al-Quran mencakup orang yang mentadabburinya saat shalat, melebihi cakupannya pada orang lain.

Ketika kita memiliki kelemahan dalam memahami perkara yang seperti ini, maka kamu mendapati beberapa makmum yang jika imam sedikit memperpanjang bacaannya, ia akan mengeluh. Lalu setelah ia bertasbih sehabis shalatnya, ia membuka mushaf al-Quran dan membacanya, masya Allah! Membacanya berlembar-lembar,
padahal bacaan al-Quran dalam shalat lebih baik.

=======================

مَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ

وَمَا هُوَ أَفْضَلُ الوَقْتِ لِتَدَبُّرِ الْقُرْآنِ

يَقُولُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ

أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

وَالصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ

هِيَ أَعْظَمُ الْقُرَبِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

الصَّلَاةُ الْفَرِيضَةُ أَعْظَمُ الْقُرَبِ

إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَعْدَ أَجَلِّ الْقُرَبِ الَّتِي هِيَ التَّوْحِيدُ

فَالْفَرِيضَةُ هِيَ أَعْظَمُ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ بَعْدَ التَّوْحِيْدِ

وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدٌ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ

َبُّ إِلَى اللهِ مِمَّا افْتَرَضَهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ

فَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ قِرَاءَتُهُ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

وَأَفْضَلُ وَقْتٍ تَسْتَمِعُ لِلْقُرْآنِ

أَنْ تَسْتَمِعَ إِلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ عِنْدَمَا يَتْلُو الْإِمَامُ

وَأَفْضَلُ وَقْتٍ لِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ هُوَ هَذَا الْوَقْتُ

وَقَيِّدُوا هَذِهِ الْفَائِدَةَ الثَّمِينَةَ لِشَيْخِ الْإِسْلَامِ ابْنِ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

يَقُولُ وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ

وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ

يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ

وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ

يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ

غَيْرَ الْمُصَلِّي

أَيْضًا قُلْ مِثْلَ هَذَا مَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ لِسَمَاعِ الْقُرْآنِ

يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ

وَمَا وَرَدَ مِنَ الْفَضْلِ فِي تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ يَتَنَاوَلُ الْمُصَلِّيَ أَعْظَمَ مِمَّا يَتَنَاوَلُ غَيْرَهُ

لَّمَا كَانَ عِنْدَنَا خَلَلٌ فِي فَهْمِ مِثْلِ هَذِهِ الْأُمُورِ

تَجِدُ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا طَوَّلَ الْإِمَامُ فِي الْقِرَاءَةِ قَلِيلًا تَضَجَّرَ

ثُمَّ بَعْدَ أَنْ يُسَبِّحَ هُوَ مِنْ صَلَاتِهِ يَفْتَحُ الْمُصْحَفَ وَيَقْرَأُ مَا شَاءَ اللهُ

يَقْرَأُ صَفَحَاتٍ

مَعَ أَنَّ مَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَفْضَلُ

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka.

Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain.

Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka.

===========================

يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ

حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي

الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ

بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ

كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ

كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ

فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ

كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ

فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ

وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ

فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ

كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ

فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ

وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ

إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ

وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ

وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ

فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ

عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ

 

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Tafsir Ayat Kursi.
Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.'” Beliau bertanya lagi, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum’.” Ia berkata, “Maka Nabi menepuk dadaku seraya bersabda, “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” “Demi Allah, semoga Allah memudahkanmu dalam mendapat ilmu wahai Abu al-Mundzir.” Diriwayatkan Imam Muslim. Dan diriwayatkan dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” Diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan.

Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Hidup kekal dan Berdiri Sendiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebut kata itu. Ia adalah ayat paling agung dalam al-Qur’an karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya. Ayat ini dimulai dengan kalimat, “Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.” Menjelaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah, diibadahi, dimintai pertolongan, sehingga tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Dia. Dan Allah ‘Azza wa Jalla Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri. Yang berdiri sendiri dan mengurusi segalanya.

Dan salah satu bukti kesempurnaan kehidupan dan kemandirian-Nya, “Dia tidak merasakan kantuk dan tidur.” Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk. Dan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”, sehingga seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Firman Allah, “Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” adalah pertanyaan pengingkaran sebagai kemustahilan itu terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat karena seluruh syafaat adalah milik Allah. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan ilmu selain Allah berasal dari pemberian-Nya. “Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.”

Dia Maha Mengetahui segala perkara di masa depan seluruh makhluk dan segala perkara di masa lalu mereka. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” semata. Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai. Dan salah satu tanda keagungan Allah, “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi.” Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Dan Dia Maha Tinggi Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. Salah satu tanda ketinggian-Nya, Dia Maha Agung, Pemilik keagungan yang sempurna.

Penulis waffaqahullah menyebutkan dalam kalimat tersebut tafsir Ayat Kursi. Dan beliau memulai tafsirnya dengan menyebutkan dua hadits tentang keutamaan ayat ini karena sebagaimana dijelaskan bahwa jiwa akan tertarik kepada sesuatu dan ingin mengetahuinya jika sesuatu itu disebutkan keutamaannya. Hadits pertama adalah hadits Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wahai Abu al-Mundzir,… dst. Diriwayatkan Imam Muslim. Dan yang menunjukkan keutamaan ayat Kursi adalah sabda beliau, “Apakah kamu tahu ayat al-Qur’an mana yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Ayat: Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum’.” Maka salah satu keutamaan Ayat Kursi adalah ia merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an al-Karim. Dan jika hadits ini dikumpulkan dengan hadits Abu Sa’id bin al-Mu’alla radhiyallahu ‘anhu yang telah dibahas sebelumnya maka diketahui bahwa satu surat penuh yang paling agung dalam al-Qur’an adalah surat al-Fatihah.

Sedangkan satu ayat yang paling agung dalam al-Qur’an adalah Ayat Kursi. Adapun hadits kedua adalah hadits Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi…” dst. Diriwayatkan Imam an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra dengan sanad yang hasan. Dan yang menunjukkan keutamaan Ayat Kursi dalam hadits ini adalah sabda beliau: “Tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.” Oleh karena itu, salah satu keutamaan Ayat Kursi bahwa orang yang senantiasa membacanya setiap selesai Shalat Wajib maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian. Kebiasaan membaca Ayat Kursi setiap selesai Shalat Wajib adalah salah satu penyebab masuk surga. Kemudian penulis menyebutkan tafsir ayat ini dan memulainya dengan berkata: “Ayat yang jelas ini disebut dengan Ayat Kursi karena hanya ayat ini yang menyebutkan kata ini.” Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah. Yakni hanya ayat ini yang menyebutkan tentang Kursi Allah.

Penulis berkata, “Dan ia adalah ayat paling agung dalam kitabullah karena mengandung penjelasan tentang keagungan Allah dan ketinggian kedudukan-Nya.” Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikan ayat ini menjadi ayat paling agung. Penjelasan tentang keagungan Allah dalam ayat ini, menjadikannya ayat yang paling agung. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Sehingga dengan disebutkannya Yang Maha Agung Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya, maka ia menjadi agung juga. Lalu penulis berkata, “Ayat ini dimulai dengan kalimat, ‘Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia’, untuk menjelaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, diibadahi, dimintai pertolongan. Sehingga, tidak ada Tuhan yang benar (berhak disembah) kecuali Allah.” Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam firman-Nya, “Hanya kepada Engkau kami menyembah”.

Kemudian penulis berkata, “Dan Dia Allah ‘Azza wa Jalla, Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” Beliau menafsirkan kata al-Qayyum (الْقَيُّومَ) dengan ucapan, “Yang Maha Berdiri Sendiri dan mengurusi segalanya.” Dialah Yang Maha Berdiri Sendiri, sehingga tidak membutuhkan selain-Nya, dan dengan kesempurnaan Qayyumiyah-Nya, Dia mengurusi segalanya. Sehingga seluruh kebaikan bagi semua makhluk berada dalam kuasa-Nya. Kemudian penulis berkata, “Salah satu tanda kesempurnaan kehidupan dan qayyumiyah-Nya, Dia tidak merasakan kantuk atau tidur. Makna السِّنَةُ adalah rasa kantuk.” Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah. Penafian rasa kantuk dan tidur pada Allah yang disebutkan ini merupakan penegasan atas sifat kehidupan dan qayyumiyah Allah.

Lalu penulis berkata, “Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi. Seluruh yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Dan bukti kesempurnaan kepemilikan-Nya, Dia enggan memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. “Firman Allah, ‘Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya’ adalah pertanyaan untuk pengingkaran.” Yakni untuk mengingkari perkataan tersebut. Yakni untuk mengingkari perkataan bahwa ada seseorang yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Beliau berkata, “Sebagai kemustahilan bahwa itu dapat terjadi tanpa mendapat izin-Nya bagi pemberi syafaat…” Sehingga tidak akan ada syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya ‘Azza wa Jalla. Penulis menyebutkan sebabnya dengan berkata, “Karena seluruh syafaat hanya milik Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah (hai Muhammad), ‘Seluruh syafaat hanya milik Allah’.” (QS. Az-Zumar: 44) Jika seluruh syafaat hanya milik-Nya Subhanahu, maka tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu penulis berkata, “Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, dan ilmu yang dimiliki makhluk merupakan pemberian-Nya.”

Sehingga tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu Allah Subhanahu. Dan ilmu yang dimiliki seluruh makhluk berasal dari ilmu Tuhan semesta alam. Lalu penulis berkata tentang firman-Nya, “Allah Maha Mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala perkara di masa depan dari seluruh makhluk.” Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Yakni segala yang akan terjadi pada mereka di hari-hari yang akan mereka lalui. Dan penulis berkata, “Dan segala perkara di masa lalu mereka.” Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Yakni dari masa lalu yang telah mereka lalui. Lalu penulis berkata, “Dan mereka tidak mengetahui apapun dari ilmu Allah kecuali apa yang dikehendaki-Nya semata. Dan Dia menyingkapkan sebagian ilmu-Nya kepada makhluk-Nya yang Dia ridhai.”

Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda keagungan Allah, ‘Kursi-Nya meliputi langit dan bumi’.” Jadi, luas Kursi-Nya meliputi seluruh langit dan bumi. “Dan makna Kursi adalah tempat dua kaki Allah ‘Azza wa Jalla.” Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas dan Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma, dan telah menjadi ijma’ dari para ulama. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya”, yakni menjaga langit dan bumi tidak memberatkan-Nya. Jadi, Allah tidak mengalami kesusahan dalam menjaga langit dan bumi. Lalu penulis berkata tentang firman Allah Ta’ala, “Dan Dia Maha Tinggi”, (yakni) pada Dzat dan sifat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya. al-‘Aliy (Maha Tinggi) adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw (Maha Tinggi) adalah salah satu sifat-Nya. al-‘Aliy adalah salah satu nama-Nya, sedangkan al-‘Uluw adalah salah satu sifat-Nya.

Dan ‘Uluw Allah (Maha Tinggi-Nya Allah) terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Maha Tinggi dalam Dzat-Nya, karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya. Karena Dia Subhanahu berada di atas seluruh makhluk-Nya.

Kedua: Maha Tinggi dalam sifat-Nya, karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Karena Dia Subhanahu memiliki al-Matsal al-A’la. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “(yakni) Sifat yang paling tinggi.” Jadi sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang tinggi (mulia/agung). Lalu penulis berkata, “Dan salah satu tanda ketinggian-Nya adalah Dia Maha Agung, pemilik keagungan yang sempurna.” Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh apapun. Yakni keagungan-Nya tidak terbatas oleh batas apapun. Demikian.
===================

تَفْسِيرُ آيَةِ الْكُرْسِيِّ

عَنْ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟

قَالَ قُلْتُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ

قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ؟

قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي، وَقَالَ

وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ

وَاللهِ لِيَهْنِكَ العِلْمُ أَبَا المُنْذِرِ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِيْ دُبُرِكُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ

لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

قَالَ اللهُ تَعَالَى

اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ

لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ

وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ

لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ

فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ

مُبَيِّنٌ أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ

فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ

وَهُو عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ

وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

وَالسِّنَةُ النُّعَاسُ

وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لَهُ

وَلِكَمَال مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ

فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكارِيٌّ

اسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُونَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ

لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلُّهَا لِلهِ

أَحَاطَ بِكُلِّ شَيءٍ عِلْمًا وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ

وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ

وَلَا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ

فَيُطْلَعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ

وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَوْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا

وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ

وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي هَذِهِ الْجُمْلَةِ

تَفْسِيرَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ

وَابْتَدَأَ تَفْسِيرَهَا بِذِكْرِ حَدِيثَيْنِ فِي فَضْلِهَا

بِمَا تَقَدَّمَ أَنَّ النُّفُوسَ تَشْتَاقُ إِلَى الشَّيْءِ

وَتَتَشَوَّقُ إِلَى مَعْرِفَتِهِ

إِذَا ذُكِرَ لَهَا فَضْلُهُ

فَالْحَدِيثُ الْأَوَّلُ حَدِيثُ أُبَيِ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ الْحَدِيثَ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ

فِي قَوْلِهِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ

قَالَ قُلْتُ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ أَنَّهَا أَعْظَمُ آيَةٍ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

وَإِذَا ضُمَّ هَذَا إِلَى حَدِيثِ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

الْمُتَقَدِّمُ

عُلِمَ أَنَّ أَعْظَمَ سُوْرَةٍ كَامِلَةٍ فِي الْقُرْآنِ

هِيَ سُورَةُ الْفَاتِحَةِ

وَأَنَّ أَعْظَمَ آيَةٍ مُفْرَدَةٍ فِي الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ

وَالْحَدِيثُ الثَّانِي حَدِيثُ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ الْحَدِيثَ

رَوَاهُ النَّسَائِيُّ فِي السُّنَنِ الْكُبْرَى وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

وَدِلَالَتُهُ عَلَى فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي قَوْلِهِ

لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

فَمِنْ فَضْلِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ

أَنَّ الْمُلَازِمَ قِرَاءَتَهَا

فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ

لَا يَمْنَعُهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا الْمَوْتُ

فَمُلَازَمَةُ قِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ

مِنْ مُوجِبَاتِ الْجَنَّةِ

ثُمَّ ذَكَرَ تَفْسِيرَ هَذِهِ الآيَةِ وَابْتَدَأَهُ بِقَوْلِهِ

هَذِهِ الْآيَةُ الْبَيِّنَةُ تُسَمَّى آيَةَ الْكُرْسِيِّ

لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِهِ

أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ

أَيْ لِاخْتِصَاصِهَا بِذِكْرِ الْكُرْسِيِّ الْإِلَهِيِّ

قَالَ وَهِيَ أَعْظَمُ آيَةٍ فِي كِتَابِ اللهِ

لِمَا حَوَتْهُ مِنْ خَبَرٍ عَنْ عَظَمَةِ اللهِ وَعُلُوِّ قَدْرِهِ

فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ

كَسَاهَا عَظَمَةً

فَخَبَرُهَا عَنْ عَظَمَةِ اللهِ كَسَاهَا عَظَمَةً

فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ عَظِيْمَةً

فَصَارَتْ بِذِكْرِ الْعَظِيْمِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَظِيْمَةً

ثُمَّ قَالَ فَمَطْلَعُهَا اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مُبَيِّنٌ

أَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْأُلُوهِيَّةَ وَحْدَهُ

فَلَا إِلَهَ حَقٌّ إِلَّا هُوَ

عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ فِي قَوْلِهِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ

ثُمَّ قَالَ وَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

وَفَسَّر الْقَيُّومَ بِقَوْلِهِ

الْقَائِمُ بِنَفْسِهِ وَعَلَى كُلِّ شَيْءٍ

فَهُوَ الَّذِي قَامَ بِنَفْسِهِ فَلَمْ يَحْتَجْ لِغَيْرِهِ

وَهُوَ الَّذِي لِكَمَالِ قَيُّوْمِيَّتِهِ قَامَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

فَمَصَالِحُ الْخَلْقِ كَافَّةً

مَوْكُوْلَةٌ إِلَيْهِ

ثُمَّ قَالَ وَمِنْ تَمَامِ حَيَاتِهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ

أَنَّهُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

وَالسِنَةُ النُّعَاسُ

فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ

تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ

فَالنَّفْيُ الْمَذْكُوْرُ فِي الْآيَةِ لِلنَّوْمِ وَالسِّنَةِ

تَأْكِيْدٌ لِحَيَاةِ اللهِ وَقَيُّوْمِيَّتِهِ

ثُمَّ قَالَ وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

فَجَمِيعُ مَا فِيهِمَا مُلْكٌ لِلهِ

وَلِكَمَالِ مُلْكِهِ امْتَنَعَ أَنْ يَشْفَعَ أَحَدٌ عِنْدَهُ قَبْلَ إِذْنِهِ

فَقَوْلُهُ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ اسْتِفْهَامٌ اِسْتِنْكَارِيٌّ

أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ

أَيْ عَلَى وَجْهِ إِنْكَارِ تِلْكَ الْمَقَالَةِ

أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ يَشْفَعُ عِنْدَ اللهِ دُونَ إِذْنِهِ

قَالَ اِسْتِبْعَادًا لِوُقُوعِهَا دُوْنَ إِذْنِهِ لِلشَّافِعِ

فَلَا تَقَعُ شَفَاعَةٌ عِنْدَ اللهِ

دُوْنَ إِذْنِهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَعَلَّلَهُ بِقَوْلِهِ لِأَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا لِلهِ

قَالَ اللهُ تَعَالَى قُلْ لِلهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا

وَإِذَا كَانَتِ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا لَهُ وَحْدَهُ سُبْحَانَه

فَلَا يَتَقَدَّمُ أَحَدٌ بَيْنَ يَدَيْهِ فِيهَا

إِلَّا بِإِذْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

ثُمَّ قَالَ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

وَعِلْمُ غَيْرِهِ لَا يَكُونُ إِلَّا بِفَضْلِهِ

فَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ عِلْمِهِ سُبْحَانَهُ

وَعِلْمُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ مِنْ عِلْمِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

فَيَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِي الْخَلَائِقِ مِنَ الْأُمُورِ الْمُسْتَقْبَلَةِ

أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ

أَيْ مَا يَكُونُ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي مُسْتَقْبَلِ الْأَيَّامِ

قَالَ وَمَا خَلْفَهُمْ مِنَ الْأُمُورِ الْمَاضِيَةِ

أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا

أَيْ مَا طَوَوْهُ فِيمَا سَلَفَ مِنْهَا

ثُمَّ قَالَ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَحْدَهُ

فَيُطْلِعُ عَلَيْهِ مَنِ ارْتَضَى مِنْ خَلْقِهِ

ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عَظَمَتِهِ أَنْ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

فَسِعَةُ كُرْسِيِّ اللهِ تَبْلُغُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

وَالْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ

صَحَّ هَذَا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

وَانْعَقَدَ عَلَيْهِ الْإِجْمَاعُ

ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى

وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا

أَيْ لَا يُثْقِلُهُ حِفْظُهُمَا

فَلا يَلْقَى اللهُ ثِقَلًا فِي حِفْظِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

ثُمَّ قَالَ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى وَهُوَ الْعَلِيُّ بِذَاتِهِ وَصِفَاتِهِ عَلَى جَمِيعِ مَخْلُوقَاتِهِ

فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ

وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ

فَالْعَلِيُّ مِنْ أَسْمَائِهِ وَالْعُلُوُّ مِنْ صِفَاتِهِ

وَعُلُوُّ اللهِ نَوْعَانِ

أَحَدُهُمَا عُلُوُّ الذَّاتِ

فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ

فَهُوَ سُبْحَانَهُ فَوْقَ خَلْقِهِ بَائِنٌ مِنْهُ

وَالْآخَرُ عُلُوُّ الصِّفَاتِ

فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

فَلَهُ سُبْحَانَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

الْوَصْفُ الْأَعْلَى

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا الْوَصْفُ الْأَعْلَى

فَالصِّفَاتُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عُلًى

ثُمَّ قَالَ وَمِنْ عُلُوِّ صِفَاتِهِ أَنَّهُ الْعَظِيْمُ ذُو الْعَظَمَةِ الْكَامِلَةِ

أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ

أَيْ فَلَا تَتَنَاهَى عَظَمَتُهُ إِلَى حَدٍّ

نَعَمْ

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa Ta’āla; “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” hingga akhir ayat, terdapat padanya penjelasan tentang hubungan antara ibadah dan rezeki Dan sungguh rezeki seseorang berbanding lurus dengan kesempurnaan ibadahnya.

Sehingga, semakin seseorang menyempurnakan ibadahnya maka semakin sempurna pula rezeki yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla berikan. Jika ada yang berkata, “Kita melihat realita, kok banyak orang miskin, padahal mereka taat beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla?” Bagaimana menjawabnya? Rezeki itu terdiri dari rezeki jasmani dan rohani. Bagus! Jadi, mereka walaupun secara lahir adalah orang yang tidak punya dan serba kekurangan, namun rezeki yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka berupa iman dan senangnya hati mereka untuk sepenuhnya taat terhadap perintah-Nya dan larangan-Nya, dan rida terhadap qada dan qadar-Nya. Ini semua adalah rezeki yang lebih berharga dibandingkan harta yang kebanyakan manusia bergelimang dengannya, berupa kendaraan, pakaian, ataupun tempat tinggal.

Kebanyakan orang hanya memandang rezeki yang bersifat fisik (jasmani) dan semisalnya saja, padahal rezeki yang lebih berharga dari itu adalah rezeki bagi hati dan rohani mereka. Seseorang apabila hatinya diberi rezeki berupa ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Ta’āla, serta bisa merasakan manisnya iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh,… maka sebenarnya inilah rezeki yang terbaik.

==================================================

قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَمَا خَلَّقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

وَقَوْلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

إِلَى آخِرِ الْآيَةِ فِيهِ بَيَانُ الصِّلَةِ بَيْنَ الْعِبَادَةِ وَالرِّزْقِ

وَأَنَّ رِزْقَ الْإِنْسَانِ عَلَى حَسَبِ كَمَالِ عِبَادَتِهِ

وَكُلَّمَا كَمَّلَ الْإِنْسَانُ عِبَادَتَهُ

كَمَّلَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى رِزْقَهُ

فَإِنْ قِيلَ: فَإِنَّنَا نَرَى أُنَاسًا فَقُرَاءَ

وَهُمْ مِنْهُمْ فِي عِبَادَةِ الله عَزَّ وَجَلَّ؟

فَمَا الجَوَابُ؟

الرِّزْقُ يَشْمَلُ الْأَرْوَاحَ والْأَجْسَامَ

!أَحْسَنْتَ

أَنْ نَقُولُ: هَؤُلَاءِ وَإِنْ كَانُوا فِي الظَّاهِرِ مِنْ أَهْلِ الْعَدَمِ وَالْحَاجَةِ

إِلَّا أَنَّ مَا رَزَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْإِيمَانِ

وَمِنْ حُظُوظِ قُلُوبِهِمْ بِالْاِسْتِغْرَاقِ فِي مُطَالَعَةِ أَمْرِهِ وَنَهْيِهِ

وَالرِّضَا بِقَدَرِهِ وَقَضَائِهِ هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الرِّزْقِ

الَّذِي يَتَقَيَّثُ بِهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

مِنَ الْمَرَاكِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَفَرِّ

وَأَكْثَرُ النَّاسِ أَبْصَارُهُمْ لَا تَتَجَاوَزُ رِزْقَ الْأَجْسَامِ وَالْأَشْبَاهِ

وَأَعْظَمُ مِنْ ذَلِكَ رِزْقُ الْقُلُوبِ وَالْأَرْوَاحِ

فَإِنَّ الْمَرْأَ إِذَا رُرِقَ قَلْبُهُ بِطَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَتَلَذُّذِ بِالْإِيمَانِ وَالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

كَانَ هَذَا هُوَ أَعْظُمَ الرِّزْقِ

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang.

Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi.

Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan:
PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah.

KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan.

KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini!

KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api.

===============================

قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ

أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟

لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ

فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ

وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا

الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا

فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا

وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ

فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ

كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ

نَعَمْ

لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ

طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟

طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ

أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ

أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ

فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ

وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ

فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ

مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ

هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ

فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ

وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى

أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى

وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ

فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ

وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ

أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ

وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ

عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ

بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ

وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ

فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

Melihat Allah di Mahsyar dan di Surga, Apa Beda Keduanya? – Syaikh Sholeh al-Ushoimi

Melihat Allah di Mahsyar dan di Surga, Apa Beda Keduanya? – Syaikh Sholeh al-Ushoimi

Salah satu bentuk keimanan kepada Allah dan kitab-kitab-Nya adalah mengimani bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di hari kiamat dengan mata kepala mereka dengan sejelas-jelasnya. Lafazh “dengan mata kepala” diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya.

Dalam hadits Jarir bin Abdullah al-Bajaliy: “Kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala kalian.” Diriwayatkan dari hadits Abu Syihab al-Hannadh, dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir radhiyallahu ‘anhu: Orang-orang beriman akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang mahsyar. Yakni di tempat yang luas di hari kiamat. Kemudian mereka dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala lagi saat di surga. Dan perbedaan antara dua kesempatan melihat Allah itu dari dua sisi.

Perbedaan antara dua kesempatan melihat Allah itu dari dua sisi:

PERTAMA:
Melihat Allah di padang mahsyar pada hari kiamat adalah sebagai bentuk ujian dan pengenalan. Melihat Allah saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah sebagai bentuk ujian dan pengenalan. Sedangkan melihat Allah saat di surga adalah sebagai bentuk kenikmatan dan pemuliaan. Sedangkan melihat Allah saat di surga… adalah sebagai bentuk karunia dan pemuliaan.

KEDUA:
Melihat Allah saat di surga khusus bagi orang-orang beriman. Melihat Allah saat di surga khusus bagi orang-orang beriman.
Sedangkan saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah bagi orang-orang beriman dan yang lainnya. Sedangkan saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah bagi orang-orang beriman dan yang lainnya menurut pendapat yang paling benar dari para ulama Ahlussunnah. Karena itu adalah bentuk ujian dan pengenalan. Sehingga terjadi pada seluruh makhluk. Sedangkan kenikmatan dan pemuliaan adalah khusus bagi orang-orang beriman. Sehingga hanya diistimewakan bagi mereka saja ketika di surga.

=================================================

مِنَ الْإيمَانِ بِاللهِ وَبِكُتُبِهِ

الْإيمَانُ بِأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

عِيَانًا بِأَبْصَارِهِمْ بِلَا خَفَاءٍ

وَقَدْ ثَبَتَ هَذَا اللَّفْظُ عِيَانًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ فِي صَحِيحِهِ

فِي حَديثِ جَرِيرٍ بْن عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

رَوَاهُ مِنْ حَديثِ أَبِي شِهَابٍ الحَنَّاضِ

عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْن أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ

عَنْ جَرِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

فَيَرَوْنَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ

أَيْ مُتَّسَعَاتِهَا

ثُمَّ يَرَوْنَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْجَنَّةِ

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الرُّؤْيَتَيْنِ مِنْ وَجْهَينِ

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الرُّؤْيَتَيْنِ مِنْ وَجْهَينِ

أَحَدُهُمَا أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

هِي رُؤْيَةُ امْتِحَانٍ وَتَعْرِيفٍ

أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

هِي رُؤْيَةُ امْتِحَانٍ وَتَعْرِيفٍ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ

فَهِي رُؤْيَةُ إِنْعَامٍ وَتَشْرِيفٍ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ

فَهِي رُؤْيَةُ إِنْعَامٍ وَتَشْرِيفٍ

وَالْآخَرُ أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ تَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ تَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

فَهِي مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَغَيْرِهِمْ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

فَهِي مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَغَيْرِهِمْ

فِي أَصَحِّ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ

لِأَنَّهَا لِلْاِمْتِحَانِ وَالتَّعْرِيفِ

وَهُوَ وَاقِعٌ عَلَى جَمِيعِ الْخَلْقِ

أَمَّا الْإِنْعَامُ وَالتَّشْرِيفُ فَيَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

فَيَكُونُ لَهُمْ فِي الْجَنَّةِ دُونَ غَيْرِهِمْ

 

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Tiga Golongan yang Tidak Diangkat Shalatnya – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri #NasehatUlama

Beliau bertanya tentang tiga golongan yang salat mereka tidak akan diangkat melebihi kepala mereka, walaupun satu jengkal saja, siapa saja mereka? Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpah untuk Nabi dan Rasul terbaik. Kemudian, saya berdoa agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan taufik-Nya untuk kita semua, pada perkara-perkara yang Allah Subḥānahu wa Ta’āla cintai dan ridai.

Sesudah itu, seorang mukmin harus berupaya untuk melaksanakan salatnya dengan sebaik dan sesempurna mungkin, dan di antara cara melakukannya adalah dengan memperhatikan hal-hal yang dengannya salat bisa sempurna. Dan di antara hal tersebut adalah berusaha untuk menyempurnakan syarat-syarat sahnya salat, sunah-sunahnya, rukun-rukunnya, dan wajib-wajibnya. Karena salat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya yang Maha Suci dan Maha Tinggi.

Adapun yang ditanyakan oleh saudara Khalifah dari Oman, tentang tiga golongan yang salatnya tidak akan naik melebihi kepala mereka (yaitu salat mereka tidak diterima), ini adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dan banyak ulama lain dengan sanad yang hasan, walaupun sebagian ulama menilai bahwa hadis ini memiliki cacat.
Dan ketiga golongan itu:
1. Orang yang mengimami suatu kaum, namun mereka benci dengannya.
2. Wanita yang tidur di malam hari dalam keadaan suaminya marah kepadanya.
Golongan ketiga adalah dua saudara yang saling memutus hubungan.
Maksudnya, mereka saling memutus hubungan silaturahmi di antara mereka. Dan inilah yang disebutkan dalam hadis. Demikian. Baik. Dua saudara, apakah maksudnya saudara kandung? Ya, itu secara tekstual hadis, tapi tidak harus saudara kandung, bisa juga saudara sebapak saja, atau seibu saja.

==================

أَنْ يَسْأَلَ عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ …

فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا مَنْهُمْ؟

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَفْضَلِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ

أَمَّا بَعْدُ فَأَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا أَنْ يُوَفِّقَ الْجَمِيعَ

لِمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ حَرِيصٌ عَلَى أَنْ تَكُونَ صَلَاتُهُ

عَلَى أَكْمَلِ الْوُجُوهِ وَأَتَمِّهَا وَمِنْ ذَلِكَ

أَنْ يُرَاعِيَ الصِّفَاتَ الَّتِي تَكْمُلُ بِهَا صَلَاتُهُ

وَمِنْ أَعْظَمِ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ حَرِيصًا عَلَى شُرُوطِ الصَّلَاةِ

وَضَوَابِطِهَا وَأَرْكَانِهَا وَوَاجِبَاتِهَا

فَإِنَّ الصَّلَاةَ صِلَةٌ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَأَمَّا مَا ذَكَرَهُ الْأَخُ خَلِيفَةُ مِنْ عُمَانَ

عَنِ الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ لَا تُرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ

فَهَذَا حَدِيثٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَةَ وَجَمَاعَةٌ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

وَإِنْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَصَفَهُ بِأَنَّهُ مَعْلُولٌ

وَهَؤُلَاءِ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

وَالثَّانِي امْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا سَاخِطٌ عَلَيْهَا

وَالثَّالِثُ أَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

يَعْنِي قَدْ قَطَعَ الصِّلَةَ الَّتِي بَيْنَهُمَا

فَهَذَا هُوَ الْمَذْكُورُ فِي الْحَدِيثِ نَعَمْ

نَعَمْ الْأَخَوَانِ تَقْصِدُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ؟

نَعَمْ هَذَا ظَاهِرُ الْحَدِيثِ لَا يَلْزَمُ أَنْ يَكُونَ الْإِخْوَةُ مِنَ الْأَبِ وَالْأُمِّ

حَتَّى وَلَوْ كَانَ مِنَ الْأَبِ أَوْ مِنَ الْأُمِّ فَقَطْ