Jangan Bikin Orang Buruk Sangka Padamu

Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat, 

من عرض نفسه للتهم فلا يلومن من أساء الظن به

“Siapa saja yang melakukan tindakan yang menyebabkan orang curiga janganlah dia menyalahkan orang yang buruk sangka kepadanya.” (Jami’ Ulum wal Hikam saat menjelaskan hadits keenam)

Ada dua kewajiban yang berbeda antara orang yang melakukan perbuatan dan orang yang melihat orang lain melakukan perbuatan. Masing-masing memiliki kewajiban yang berbeda.

 Pertama:
Kewajiban orang yang melihat seorang yang melakukan perbuatan tertentu adalah berbaik sangka kepada orang yang telah kita kenal sebagai orang yang baik-baik semaksimal mungkin. 

Kita berusaha mencari pemakluman sebanyak mungkin untuk beliau yang melakukan tindakan yang bisa dimaknai dengan makna negatif. 

Kedua:
Di sisi lain kewajiban orang yang akan melakukan suatu perbuatan adalah tidak melakukan perbuatan yang bisa menyebabkan orang lain yang lihat berburuk sangka.

Jika hal ini dilanggar maka jangan salahkan orang yang berburuk sangka. 

Misal ada orang yang secara sengaja minum kopi di warung kopi yang posisinya di pinggir komplek lokalisasi. 

Orang ini tidak boleh menyalahkan orang yang berprasangka buruk kepadanya karena ini adalah sebuah keniscayaan dampak dari perbuatannya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jangan Jadi Anak Durhaka

Syaikh Abu Amr Ibnu Sholah, ulama besar Syafiiyyah, dalam kitab fatawanya mengatakan :

 

اَلْعُقُوْقُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ فِعْلٍ يَتَأَذَّى بِهِ الْوَالِدُ أَوْ نَحْوُهُ تَأَذِّيًا لَيْسَ بِالْهَيِّنِ مَعَ كَوْنِهِ لَيْسَ مِنَ الْأَفْعَالِ الْوَاجِبَةِ

 “Durhaka yang hukumnya haram adalah semua tindakan yang menyebabkan  ayah atau semisalnya terganggu dengan gangguan yang tidak tergolong remeh/kecil padahal tindakan tersebut hukumnya tidaklah wajib menurut syariat.” (Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi jld 1 hlm 267, Dar Al-Manar Kairo)

Hampir-hampir tidak ada anak yang tidak pernah bikin jengkel orang tuanya. Apakah ini bermakna hampir semua anak itu melakukan dosa besar durhaka orang tua? 

Penjelasan Ibnu Sholah di atas memberikan pencerahan kepada kita terkait hal ini:

Dosa besar durhaka terhadap ayah, ibu, kakek dan nenek itu terjadi jika ada tindakan bikin jengkel yang keterlaluan. 

Diantara indikator keterlaluan adalah ibu sampai menangis, ayah marah besar, ortu mendiamkan anaknya dll. 

Akan tetapi jika hal yang bikin jengkel itu hal yang hukumnya wajib menurut agama tidak tergolong durhaka. 

Misal ada ortu yang jengkel luar biasa karena anak gadisnya disiplin tutup aurat, tidak mau pasang sesaji dll. 

Dalam kasus ini meski orang tua sangat jengkel anak tidak tergolong durhaka terhadap ortu. 

Meski bikin jengkel yang tidak keterlaluan itu tidak tergolong dosa besar durhaka ortu tidaklah diragukan bahwa mampu menghindarinya adalah sempurna dalam bakti kepada orang tua. 

Semoga Allah  jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini anak-anak yang berbakti kepada orangtua masing-masing. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jangan Remehkan Orang Lain

فينبغي للإنسان أن لا يحتقر أحدًا ؛ فربما كان المحتقَر أطهرُ قلبًا ، وأزكى عملًا ، وأخلص نية ، فإنَّ احتقار عباد الله يورث الخسران ، ويورث الذُّل والهوان

 Seorang ulama, Al-Munawi memberi nasehat,

“Sepatutnya seorang muslim itu tidak meremehkan siapapun. Boleh jadi orang yang diremehkan itu lebih bersih hatinya, lebih berkualitas amalnya dan lebih ikhlas amalnya. Tindakan meremehkan sesama muslim hanya akan membuahkan kerugian dan menyebabkan kehinaan.” (Faidhul Qodir 5/380)

Berupaya menjadi orang baik  adalah sebuah keharusan. 

Akan tetapi merasa sempurna jadi orang baik merupakan sikap yang tidak benar. 

Memantaskan diri untuk meraih predikat sholih wajib diupayakan. 

Akan tetapi merasa sudah bertakwa dan sholih adalah hal yang dilarang oleh Allah dalam surat an-Najm.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jika Kamu Mendengar Kata Yang Menyakitkanmu

Umar bin al-Khattab mengatakan, 

 

إذا سمعت الكلمة تؤذيك فطأطئ لها حتى تتخطاك

“Jika anda mendengar kata-kata yang menyakitkan dirimu tundukkanlah kepalamu sehingga kata-kata tersebut berlalu.” (Al-Aqd al-Farid 2/130) 

Dalam hidup kita tidak lepas dari mendengar kata-kata yang menyakitkan hati dari isteri, suami, anak, kawan, tetangga dll. 

Kata-kata yang menyakitkan ini jika dimasukkan ke dalam hati hanya membuat kita terhalang untuk bahagia. 

Sikap yang tepat adalah anggaplah kata-kata tersebut bagaikan angin lalu.

“Jika kata-kata tersebut membuat kita jengkel solusinya adalah tundukkan kepala beberapa saat lamanya sampai dia berlalu”.

Setelah itu angkat kepala sambil senyum manis kepala orang yang mengucapkan kata-kata tersebut. 

Insya Allah dengan kiat ini hati kita tetap bahagia. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Kaedah Menegur Kesalahan

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib mengatakan, 

وَإِيَّاكِ وَكَثْرَةَ الْعَتْبِ فَإِنَّهُ يُوْرِثُ الْبَغْضَاءَ

“Hindari terlalu sering menegur kesalahan orang lain karena hal tersebut menyebabkan timbulnya kebencian di dalam hati.” (Fiqhus Sunnah karya as-Sayyid Sabiq 2/199, Dar al-Fikr)

Yang dimaksud dengan kesalahan dalam hal ini adalah non maksiat. 

Inilah kaedah penting menegur, mengkritik, membahas dan komplain atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain semisal isteri, suami, anak, bawahan, dll.

Ketika melatih anak untuk melakukan kegiatan rumah semisal masak, ngepel lantai dll semestinya ortu jangan terlalu sering menyalahkan. 

Sikap yang tepat adalah teguran hanya ditujukan kepada kesalahan yang fatal sehingga anak tidak merasa terlalu sering ditegur dan disalahkan.

Orang yang merasa terlalu sering ditegur akan merasa dirinya itu selalu salah. Dampaknya dia mogok, mudah ngambek, ada perasaan kurang suka bahkan benci dengan orang yang sering menegur. 

Demikian juga ketika suami melakukan kesalahan dalam membelikan pesanan isteri. Hendaknya isteri tidak berulang kali komplain kepada suami karena hal ini.

Demikian pula ketika isteri melakukan kesalahan teknis terkait masakan, meletakkan barang dll. Semestinya suami bersikap lapang dada dalam kesalahan non maksiat. 

Teguran terkait hal ini dilakukan kadang-kadang saja. 

Hal yang sama juga berlaku untuk kesalahan teknis yang dilakukan oleh bawahan. 

Diantara akhlak mulia adalah tidak sering, tidak berulang kali memberi teguran atas kesalahan non maksiat yang dilakukan oleh orang lain.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Karakter Musibah

ما من شيء إلا يبدو صغيرا ثم يكبر إلا المصيبة فإنها تبدو كبيرة ثم تصغر

Wahab bin Munabbih mengatakan, “Segala sesuatu pada awalnya kecil lantas membesar kecuali musibah. Pada awal terjadinya musibah itu besar. Seiring berjalannya waktu musibah tersebut mengecil.” (Hilyatul Auliya 4/63)

Musibah itu mudah mengecil jika orang yang mengalaminya tidak memikirkannya dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat.

Akan tetapi musibah tak kunjung mengecil jika orang yang mengalaminya selalu duduk termenung memikirkannya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kata Mutiara Untuk Wanita

Abul Aswad menasehati anak perempuannya, 

إياك والغيرة فإنها مفتاح الطلاق وعليك بالزينة وأزين الزينة الكحل وعليك بالطيب وأطيب الطيب إسباغ الوضوء

“Waspadai cemburu karena cemburu itu kunci perceraian. Berdandanlah dan sebaik-baik dandanan adalah celak. Pakailah parfum dan sebaik-baik parfum adalah berwudhu dengan sempurna.” (Uyunul Akhyar 4/76)

Ada tiga nasehat penting bagi seorang isteri:

Jangan cemburu berlebihan. Betul, cemburu itu tanda cinta. Tapi suami yang semua gerak gerik dicurigai karena alasan cemburu tentu saja membuat dia sangat tidak nyaman. 

Jika ini terlalu bolak-balik terjadi sering kali berakhir dengan perceraian. 

Rajin berdandan untuk suami. Diantara kiat penting agar bisa menyejukkan mata suami adalah rajin berdandan. 

Memakai parfum pengharum badan. Parfum terbaik adalah badan yang bersih dan segar karena mandi atau wudhu. 

“Ingat, Suami juga dituntut untuk bersih dan wangi ketika berada di dekat istri”.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Istiqomah

Ibnu Qudamah al-Maqdisi mengatakan, 

وَاعْلَمْ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ إِنَّمَا هَلَكُوْا لِخَوْفِ مَذَمَّةِ النَّاسِ وَحُبِّ مَدْحِهِمْ

“Sadarilah bahwa mayoritas orang itu berubah jadi rusak agamanya karena khawatir dengan komentar negatif orang-orang disekelilingnya dan ingin mendapatkan pujian dari kawan-kawannya.” (Mukhtasar Minhaj al-Qashidin hlm 212)

Sering kali orang yang baik agamanya berubah menjadi rusak diawali dari coba-coba melakukan maksiat.

Coba-coba melakukan maksiat itu sering kali karena motivasi agar dipuji kawan atau agar tidak dicela oleh kawan. 

Demikian pula perubahan kualitas agama seringkali terjadi karena khawatir celaan tetangga ataupun kerabat. 

Muslimah berjilbab syar’i berubah menjadi berjilbab mini dan ala kadarnya seringkali terjadi karena tidak kuat dengan celaan rekan kerja, kerabat atau pun tetangga.

Oleh karena itu, kiat penting untuk awet jadi orang baik setelah hidayah dari Allah adalah memiliki mentalitas teguh pendirian.

Orang yang teguh pendirian akan membersamai orang-orang di sekitarnya ketika mereka berbuat kebaikan dan tidak ikut-ikutan berbuat kejelekan ketika mereka berbuat kejelekan. 

Kiat penting agar menjadi orang yang teguh pendirian adalah tidak menjadikan ‘selamat dari komentar miring manusia’ sebagai orientasi hidup. 

Orientasi hidup seorang muslim adalah mendapatkan ridho Allah, bukan ridho manusia.

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Praktis Tadabbur Al-Quran

Ali bin Abi Thalib mengatakan:

وَلَا خَيْرَ فِيْ قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيْها

“Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Quran jika tidak ada tadabbur (usaha untuk memahami) di dalamnya.” (Sunan ad-Darimi no 306)

Tujuan al-Quran diturunkan itu untuk direnungi kandungannya dan diamalkan. 

Membaca al-Quran itu sarana untuk tadabbur (merenungi pesan kandungan al-Quran). 

Membaca tanpa tadabbur adalah melaksanakan sarana tanpa mewujudkan tujuan. 

Kiat praktis agar bisa tadabbur adalah:

Pertama:

Paham bahasa Arab atau

Kedua:

Membaca terjemahannya atau tafsirnya setelah selesai membaca bagian dari al-Quran yang ingin dibaca. 

Meski demikian, membaca al-Qur’an itu tetap berpahala meski orang yang membacanya tidak paham isi yang dibaca.

 Perkataan Ali di atas itu motivasi untuk berusaha membaca Al-Quran dan mengetahui kandungan bacaan, bukan untuk menggembosi orang yang semangat membaca Al-Quran.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Kiat Rajin Ibadah

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh mengatakan, 

إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُوْمٌ كَبَلَتْكَ خَطِيئَتُكَ

“Jika anda tidak pernah sholat malam dan puasa sunnah di siang hari sadarilah bahwa anda orang yang merugi karena dosa membelenggu dirimu.” (Siyar A’lam an-Nubala‘ 8/435)

Hukuman maksiat itu tidak harus dalam bentuk hal-hal yang ngeri semisal hampir tersambar halilintar.

Diantara bentuk hukuman maksiat: 

  1. Diberi kemudahan untuk kembali bermaksiat.
  2. Ibadah terasa hambar Hati tetap terasa gersang meski ibadah harian tetap rutin dilakukan. Tidak ada kenikmatan yang terasa saat dan setelah melakukan aktivitas ibadah. Sholat, dzikir dan baca al-Qur’an tidak membuahkan ketenangan hati. 
  3. Sulit untuk melakukan ibadah sunnah. Sholat di akhir malam tidak pernah dilakukan. Puasa sunnah total ditinggalkan. 

Diantara sebab sulit sholat di akhir malam dan puasa sunnah adalah maksiat kepada Allah.

Diantara kiat penting agar bisa kembali rajin sholat di akhir malam ataupun puasa sunnah di siang hari adalah taubat yang serius kepada Allah. 

Moga Allah jadikan penulis dan semua pembaca tulisan ini orang-orang yang bisa merasakan nikmatnya sholat, berpuasa, dzikir, baca al-Qur’an dll dan meninggal dunia dalam kondisi beribadah kepadaNya. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.