Apakah Kemiskinan yang Anda Takutkan? – Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad #NasehatUlama

Dan Abu Darda’ berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka yang sedang berbicara tentang kemiskinan dan mereka takut akan hal itu. Maksudnya, mereka takut miskin, mereka khawatir tentang rezeki mereka dan mereka takut kemiskinan menimpa mereka. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah miskin yang kalian takutkan?” Apakah kalian takut miskin? “Sungguh, dunia akan dihamparkan untuk kalian seluas-luasnya.” Maksudnya, dunia akan mereka dapatkan dan kemudian muncul fitnah di dunia. Sebagaimana disebutkan (dalam hadis)… bahwa harta adalah sumber fitnah, bahwa fitnah umat Rasulullah adalah harta dunia.

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (QS. Al-Fajr: 20)

Di antara umat Islam ada yang diuji dengan cara mendapatkan hartanya, baik dengan cara yang halal ataupun haram. Bahkan meskipun dia hartanya sudah banyak, apa yang dia miliki tidak memuaskan dirinya sehingga dia terus berusaha untuk menambah hartanya dengan cara yang haram. Beliau bersabda, “Apakah kemiskinan yang kalian takutkan?” “Demi Allah, dunia akan dihamparkan untuk kalian seluas-luasnya.” Maksudnya, apa yang kalian takutkan, apa yang kalian khawatirkan, justru harta yang melimpah akan didatangkan untuk kalian “Sehingga tidak ada yang membuat hati setiap orang dari kalian menyimpang kecuali hal tersebut.” (Hadis diriwayatkan oleh Al-Bazzar) Yakni karena dunia, karena fitnah harta dan ketamakan terhadapnya sehingga setiap orang berupaya untuk mendapatkan harta dengan segala cara,meremehkan perkara ini dan tidak mempedulikan harta yang dia dapatkan apakah halal atau haram.

Dari situlah fitnah muncul dan sebab itulah hati manusia kemudian menyimpang. Berpaling dari jalan yang lurus karena mengikuti syahwat dan tamak dalam mendapatkan harta dengan segala cara dan upaya baik dengan cara yang halal ataupun yang haram. Dan sebagaimana difahami, bahwa halal adalah apa yang Allah dan Rasul-Nya halalkan dan haram adalah apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan. Akan tetapi, orang yang diuji dengan fitnah harta sehingga dunia menjadi perhatian utamanya, harta halal adalah apa yang sudah dia dapatkan, halal baginya adalah apa yang sudah ada di tangannya, apa yang sudah digenggam tangannya, dan haram adalah apa yang belum berada di tangannya. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu, sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, dunia akan dihamparkan untuk kalian seluas-luasnya.” Dan dunia yang akan dihamparkan bagi mereka seluas-luasnya sudah terjadi sekarang sebagaimana dikabarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan banyak manusia terfitnah dengan harta dan hati mereka menyimpang karena sebab harta tersebut. Hati mereka berpaling karena sebab harta dan menyimpang dari jalan yang lurus karena harta, sehingga harta berubah menjadi sebab mereka bersikap melampaui batas, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla;

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq: 6-7)

Harta yang mereka dapatkan menjadikan mereka melampaui batas, di antara mereka ada yang mendapatkan harta kemudian melampaui batas dan membuat mereka melanggar batas-batas syariat, dan menggunakan hartanya untuk hal yang tidak diperintahkan sehingga hartanya digunakan untuk perkara yang halal dan juga yang haram, yang dengan hal tersebut muncullah fitnah yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan muncul hati yang menyimpang karena sebab harta dan usaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara walaupun cara untuk mendapatkan harta tersebut adalah cara yang haram.

============

وَأَبُوْ الدَّرْدَاءِ يَقُوْلُ: خَرَجَ عَلِيْهِمِ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَهُمْ يَتَحَدَّثُونَ فِي الْفَقْرِ وَيَتَخَوَّفُونَهُ

يَعْنِي يَخْشَوْنَ مِنَ الْفَقْرِ وَيَهُمُّهُمْ أَمْرُ الرِّزْقِ وَيَتَخَوَّفُونَ أَنْ يَحْصُلَ لَهُمْ الْفَقْرُ

فَالرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آلْفَقْرَ ؟

أَتَخْشَوْنَ الْفَقْرَ؟
لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا

يَعْنِيْ مَعْنَاهَا أَنَّهَا سَتَحْصُلُ لَهُمْ الدُّنْيَا وَسَتَحْصُلُ الْفِتْنَةُ فِي الدُّنْيَا

…كَمَا جَاءَ
الْفِتْنَةُ تَكُونُ بِالْمَالِ وَأَنَّ فِتْنَةَ أُمَّةِ رَسُولِ اللهِ إِنَّمَا هِيَ بِالْمَالِ

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
اَلْفَجْرُ- الْآيَةَ 20

وَمِنْهُمْ مَنْ يُبْتَلَى بِتَحْصِيلِهِ بِأَيِّ طَرِيقٍ سَوَاءً عَنْ طَرِيقٍ حَلَالٍ أَوْ طَرِيقٍ حَرَامٍ

وَحَتَّى لَوْ كَانَ مُكْثِرًا فَإِنَّهُ لَا يَكْفِيهِ هَذَا الَّذِي بِيَدِهِ بَلْ يَسْعَى إِلَى أَنْ يَزِيدَ عَنْ طَرِيقِ حَرَامٍ

قَالَ : آلْفَقْرَ تَخَافُونَ؟

وَاللهِ لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا

يَعْنِي مَعْنَاهُ أَنَّكُمْ يَعْنِي هَذَا الَّذِي تَخْشَوْنَهُ وَتَخَافُونَهُ يَعْنِي سَيَحْصُلُ لَكُمُ الْمَالُ الْكَثِيرُ

وَحَتَّى لاَ يُزِيغَ قَلْبَ أَحَدٍ مِنْكُمْ إِزَاغَةً إِلاَّ هِيَهْ
رَوَاهُ الْبَزَّارُ

يَعْنِي الدُّنْيَا ذَلِكَ لِفِتْنَةِ الْمَالِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهِ و كُلُّ إِنْسَانٍ يَسْعَى لِتَحْصِيلِهِ بِأَيِّ طَرِيقٍ

وَيَسْتَهِينُ فِي أَمْرِهِ وَلَا يُبَالِيْ الْمَالَ يَحْصُلُ إِلَيْهِ مِنْ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ

فَتَكُونُ الْفِتْنَةُ فِيْ ذَلِكَ وَتَكَوْنُ إِزَاغَةُ الْقُلُوبِ بِذَلِكَ

وَيَكُونُ الْاِنْحِرَافُ عَنِ الْجَادَّةِ بِاتِّبَاعِ الشَّهْوَاتِ وَالْحِرْصِ عَلَى تَحْصِيلِ الأَمْوَالِ بِأَيِّ وَسِيلَةٍ وَبِأَيِّ طَرِيقَةٍ

سَوَاءً كَانَ عَنْ طَرِيقٍ… عَنْ طَرِيقِ حَلَالٍ أَوْ حَرَامٍ

وَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ الْحَلَالَ مَا أَحَلَّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُولُهُ

لَكِنَّ مَنِ ابْتُلِيَ بِالْمَالِ وَصَارَ هَمُّهُ الدُّنْيَا الْحَلَالُ مَا حَلَّ فِي الْيَدِ الْحَلَالُ عِنْدَهُ مَا حَلَّ فِي يَدِهِ مَا وَصَلَ إِلَى يَدِهِ

وَالْحَرَامُ مَا لَمْ يَصِلْ إِلَى يَدِهِ – وَالْعِيَاذُ بِاللهِ

فَالرَّسُولُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ: لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا

وَكَانَتِ الدُّنْيَا لَتُصَبَّنَّ عَلَيْهِمْ صَبًّا قَدْ وَقَعَ كَمَا أَخَبَرَ بِهِ الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ

وَفُتِنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ بِالْمَالِ وَحَصَلَ لَهُمْ الزَّيْغُ بِسَبَبِهِ

وَزَاغَتْ قُلُوبُهُمْ بِسَبَبِ الْمَالِ وَانْحَرَفُوْا عَنِ الْجَادَّةِ بِسَبَبِ الْمَالِ

وَصَارَ الْمَالُ سَبَبًا لِلطُّغْيَانِ كَمَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ
اَلْعَلَقُ اَلآيَةُ 6 – 7

فَكَانَ حُصُولُ الْمَالِ لَهُمْ طُغْيَانٌ مِنْهُمْ مَنْ حَصَلَ لَهُ الطُّغْيَانُ وَحَصَلَ لَهُ مِنْ تَجَاوَزِ الْحُدُودِ

وَصَرْفِ الْمَالِ فِيْ غَيْرِ مَا أُمِرَ بِصَرْفِهِ فِيهِ فَيُصْرَفُ فِي الْحَلَالِ وَفِي الْحَرَامِ

فَحَصَلَتْ بِذَلِكَ الْفِتْنَةُ الَّتِيْ أَخَبَرَ بِهَا الرَّسُولُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ

وَحَصَلَتْ بِذَلِكَ إِزَاغَةُ الْقُلُوبِ بِسَبَبِ الْمَالِ وَالْعَمَلِ عَلَى التَّوَصُّلِ إِلَيْهِ بِأَيِّ طَرِيقٍ

وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ الطَّرِيقُ الْمُوصِلُ إِلَيْهِ حَرَامًا

 

 

 

Hati-hati Membagikan Foto Makanan di Media Sosial – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Dari Abdullah bin Zubair bin Awwam -Semoga Allah meridhai mereka berdua- dari ayahnya, dia berkata, “Ketika turun ayat…

Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan tersebut.’ (QS. At-Takatsur: 8)

Maka Zubair bertanya, “Wahai Rasulullah, kenikmatan apa yang akan ditanyakan kepada kami? Ini hanya ‘dua makanan hitam’, maksudnya adalah kurma dan air.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sungguh hal itu pasti akan terjadi.” Hadis diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad yang baik.

Dari Abu Hurairah -Semoga Allah meridhainya- ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi keluar rumah pada suatu hari atau suatu malam, tiba-tiba beliau bertemu dengan Abu Bakar dan ‘Umar. Lalu beliau bertanya, ‘Mengapa kalian keluar rumah pada saat seperti ini?’ Mereka menjawab; ‘Wahai Rasulullah, kami lapar!’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku juga, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, aku juga keluar karena lapar seperti kalian. Mari ikut aku!’ Kemudian mereka pergi bersama beliau dan mendatangi seorang laki-laki dari kalangan Anshar namun ternyata dia sedang tidak di rumahnya. Ketika istri laki-laki tersebut melihat beliau, dia berkata, ‘Selamat datang.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Dimana Fulan?’

Dia menjawab; ‘Dia sedang mengambil air untuk kami.’ Tiba-tiba suaminya datang dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta dua sahabat beliau,maka dia berkata; ‘Alhamdulillah, tak ada orang yang tamunya lebih mulia selain aku hari ini.’ Perawi berkata; “Lalu dia pergi kemudian datang membawa setandan kurma, di antaranya ada yang masih muda, yang mulai matang dan yang sudah matang, dan dia berkata; ‘Silakan dimakan ini,’ sambil dia mengambil sebilah pisau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya, ‘Jangan sembelih kambing yang menghasilkan banyak susu.’ Maka dia menyembelih seekor kambing untuk mereka, lalu mereka makan kambing tersebut beserta setandan kurma kemudian minum. Setelah mereka puas makan dan minum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian sungguh pasti akan ditanya tentang nikmat ini pada hari kiamat. Tadi kalian keluar dari rumah dalam keadaan lapar kemudian kalian tidak pulang kecuali setelah kalian mendapatkan nikmat ini.'”  Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam dua hadis ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang perkara yang remeh jika dibandingkan dengan keadaan manusia pada zaman sekarang berupa banyaknya kenikmatan dan beraneka jenis makanan dan minuman serta perlombaan mereka dalam meraih itu semua. Maka barangsiapa yang merenungkan dua hadis ini dengan menghadirkan hatinya, hal tersebut akan mendorong dia untuk mempersedikit menikmati dunia dan menghilangkan keinginan untuk memperbanyak menikmati berbagai makanan dan minuman.

Apabila seorang hamba yang hanya makan satu biji kurma, air, dan sedikit nikmat lain diancam akan ditanya pada hari kiamat tentang nikmat tersebut, maka bagaimana dengan keadaan orang-orang hari ini yang mereka berlezat-lezat dengan berbagai macam makanan dan minuman? Bagaimana dengan mereka yang berbangga-bangga dengan menyebarkan foto-foto makanan dan minuman mereka dan menyebut nama-namanya dan jumlahnya di media sosial pada era modern ini?

Aku bersumpah, adakah pertanyaan yang lebih berat dari pada pertanyaan kepada mereka yang memamerkan banyak kenikmatan ini kemudian lupa untuk bersyukur kepada Allah dan melupakan hak orang fakir dalam nikmat tersebut? Maka orang yang berakal apabila dia dikaruniai oleh Allah subhanahu wa ta’ala kenikmatan maka dia akan menikmatinya sesuai aturan syariat. Dan di antara hukum halal dan haram yang bisa diambil dalam masalah ini adalah peringatan agar tidak menyakiti hati orang-orang fakir. Dan inilah perkara yang telah hilang akhir-akhir ini terutama dari diri kaum wanita yang telah menjadi gaya hidup mereka untuk berbangga-bangga dengan berbagai macam makanan, minuman, dan model pakaian kemudian disebarkan melalui media-media sosial ini.

Begitu pula banyak dari kalangan laki-laki yang mengikuti gaya hidup mereka ini, maka hendaknya setiap orang senantiasa ingat ketika dia memamerkan foto-foto semacam ini kepada orang lain maka sungguh dia akan dicecar dengan pertanyaan tentang semua itu di hadapan Allah pada hari kiamat. Maka kita memohon kepada-Nya subhanahu wa ta’ala agar memberikan kita kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya dan menjauhkan kita dari sikap melampaui batas dalam menikmati nikmat-Nya.

 

========

 

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ الزُّبَيْرِ بْنِ العَوَّامِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ قَالَ : لَمَّا نَزَلَتْ

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
التكاثر – الآية 8

قَالَ الزُّبَيْرُ : يَا رَسُولَ الله ، وَأَيُّ النَّعِيمِ نُسْأَلُ عَنْهُ وَإِنَّمَا هُوَ الأَسْوَدَانِ التَّمْرُ وَالمَاءُ ؟

قَالَ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَمَا إِنَّهُ سَيَكُونُ

رَوَاهُ التِرْمِذِيُّ بِسَنَدٍ حَسَنٍ

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : خَرَجَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ لَيْلَةٍ

فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ
فَقَالَ: مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ ؟

قَالا: الجُوعُ يَارَسولَ الله
قَالَ : وَأَنَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَخْرَجَنِي الَّذِي أَخْرَجَكُمَا، قُومُوا

فَقَامُوا مَعَهُ ، فَأَتَى رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ فَإِذَا هُوَ لَيْسَ فِي بَيْتِهِ

فَلَمَّا رَأَتْهُ الْمَرْأَةُ ، قَالَتْ : مَرْحَبًا وَأَهْلًا

فَقَالَ لَهَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيْنَ فُلَانٌ؟

قَالَتْ : ذَهَبَ يَسْتَعْذِبُ لَنَا مِنَ الْمَاءِ ، إِذْ جَاءَ الْأَنْصَارِيُّ ، فَنَظَرَ إِلَى رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ

ثُمَّ قَالَ : الْحَمْدُ لله مَا أَحَدٌ الْيَوْمَ أَكْرَمَ أَضْيَافًا مِنِّي

قَالَ : فَانْطَلَقَ ، فَجَاءَهُمْ بِعِذْقٍ فِيهِ بُسْرٌ وَتَمْرٌ وَرُطَبٌ ، فَقَالَ : كُلُوا مِنْ هَذِهِ ، وَأَخَذَ الْمُدْيَةَ

فَقَالَ لَهُ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِيَّاكَ وَالْحَلُوبَ

فَذَبَحَ لَهُمْ ، فَأَكَلُوا مِنَ الشَّاةِ وَمِنْ ذَلِكَ الْعِذْقِ وَشَرِبُوْا، فَلَمَّا أَنْ شَبِعُوْا وَرَوُوْا ، قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ

ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ

هَذَانِ حَديْثَانِ قَالَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَمْرٍ يَسِيرٍ بِالنِسْبَةِ لِمَا عَلَيْهِ النَّاسُ الْيَوْمَ

مِن اتِّسَاعِ النَّعْمَاءِ وَاخْتِلَافِ المَآكِلِ وَالمَشَارِبِ وَتَنَافُسِهِمْ فِيهَا

فَمَنْ تَأَمَّلَ هَذَيْنِ الْحَدِيْثَيْنَ حَاضِرَ الْقَلْبِ حَمَلَهُ ذَلِكَ عَلَى التَّقَلُّلِ مِنَ الدُّنْيَا

وَعَدَمِ الرَّغْبَةِ فِي طَلَبِ الْاِسْتِكْثَارِ مِنَ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ

فَإِذَا كَانَ الْعَبْدُ فِي تَمْرٍ وَمَاءٍ وَشَيْءٍ يَسِيرٍ مِنَ النَّعْمَاءِ تُوُعِّدَ بِالسُّؤَالِ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

فَكَيْفَ بِحَالِ النَّاسِ الْيَوْمَ وَهُمْ يَتَلَذَّذُونَ بِأَنْوَاعٍ مِنْ المَآكِلِ وَالمَشَارِبِ ؟

وَكَيْفَ حَالُهُمْ وَهُمْ يَتَفَاخَرُونَ بِنَقْلِ صُوَرِهَا وَذِكْرِ أسْمَائِهَا وَتَعْدَادِهَا

فِيْ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ الْحَديْثَةِ ؟

وَلَعَمْرِيْ أَيُّ سُؤَالٍ أَعْظَمُ مِنْ سُؤَالِ هَؤُلَاءِ وَهُمْ يَعْرِضُونَ هَذِهِ النَّعْمَاءَ فَيَنْسَوْنَ شُكْرَ الله وَيَنْسَوْنَ حَظَّ الْفُقَرَاءِ

وَالْعَاقِلُ إِذَا أَنْعَمَ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهِ بِنِعْمَةٍ تَمَتَّعَ بِهَا عَلَى طَرِيقٍ شَرْعِيٍّ

وَمِنْ مآخِذِ الْأَحْكَامِ فِي الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ الْحَذَرُ مِنْ كَسْرِ قُلُوبِ الْفُقَرَاءِ

وَهَذَا أَمْرٌ ضَاعَ بِأَخَرَةٍ وَلَا سِيَّمَا فِيْ جَنَابِ النِّسَاءِ

الْلَاتِي صِرْنَ يَتَفَاخَرْنَ بِأَنْوَاعِ الْمَأْكُولَاتِ وَالْمَشْرُوبَاتِ وَ الْمَلْبُوسَاتِ

وَيَنْشُرْنَهَا فِي هَذِهِ الْوَسَائِلِ

وَكَذَلِكَ شَارَكَهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الرِّجَالِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَتَذَكَّرَ الْمَرْءُ

وَهُوَ يَسْتَعْرِضُ هَذِهِ الصُّورَ أَمَامَ نَاظِرَيْهِ أَنَّهُ سَيَسْتَعْرِضُهَا سُؤَالًا أَمَامَ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَنَسْأَلُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَرْزُقَنَا شُكْرَ نِعْمَتِهِ

وَأَنْ يُجَنِّبَنَا الْبَطَرَ بِهَا

Nasihat Berharga dari Syaikh Bin Baz Untuk Kaum Muslimin

Dan aku wasiatkan kepada semua orang yang sampai kepada mereka ucapanku ini, aku wasiatkan agar mereka memberi perhatian pada Al-Quran.

Dalam kitab Allah terdapat petunjuk dan cahaya dan ia merupakan pangkal segala kebaikan.

“Sesungguhnya Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

“Katakanlah: ‘Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin.'” (QS. Fussilat: 33).

Dan Allah yang Maha Suci berfirman,
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

Maka sudah menjadi kewajiban bagi ulama, penuntut ilmu dan juga orang yang membaca kitab Allah, baik dengan hafalan ataupun melihat untuk benar-benar perhatian terhadap kitab yang agung ini dan selalu membacanya dengan sepenuh hati, mempelajarinya, menadaburinya dan memikirkan kandungannya pada waktu-waktu yang tepat dalam setiap malamnya dan siangnya dan juga pada waktu-waktu luangnya sehingga dia bisa mengambil manfaat dari firman Tuhan-nya, mengenali siapa Tuhannya dan kemudian mengamalkannya, Allah yang Maha Suci berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Allah yang Maha Suci berfirman, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Maka wajib bagi semua muslim secara umum, para ulama secara khusus, dan juga penuntut ilmu untuk memberi perhatian secara khusus dan mendalam terhadap Al-Quran yang agung ini dengan menadaburinya, memikirkan kandungannya, memperbanyak membacanya, mencari faedahnya, dan kemudian mengamalkannya. Dan apabila dia menemukan kesulitan, hendaknya seorang yang berilmu menemui temannya dan orang yang memiliki ilmu dalam bidang ini, dan dia bahas masalah yang sulit baginya bersama dia dan merujuk kepada kitab-kitab tafsir yang sudah terkenal karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak  seperti tafsir Ibnu Jarir, Al-Baghawi, Ibnu Katsir dan lain sebagainya, kemudian dia pelajari lagi apa yang sulit baginya dan mengambil manfaat dari kesulitan tersebut, dan merujuk pada dalil-dalil dari hadis jika ada perkara yang kurang jelas dari sebuah ayat. Dan tidak bermudah-mudahan walaupun, -Alhamdulillah- semua kitab-kitab ini mudah. Dan ilmu-ilmu pendukung yang mempermudah memahami Al-Quran juga mudah didapatkan, seperti kitab kata-kata asing, bahasa, hadis, usul fikih, mustalah al-hadis, dan ilmu-ilmu lain yang diperlukan oleh seorang penuntut ilmu.

Dan bagi yang membaca Al-Quran namun dia tidak memahaminya, niscaya nanti Allah akan mudahkan baginya jika dia punya tekad untuk menadaburinya dan memikirkan kandungannya, dan dengan membacanya akan melembutkan hatinya, menguatkan imannya, mengingatkannya pada akhirat dan hak-hak Allah, Dan padanya terdapat sebab bertambahnya ilmu, petunjuk dan ketakwaan dan dia tidak akan dihalangi dari mengambil ilmu dari Al-Quran dan kebaikan yang ingin dia dapatkan.

Kemudian perhatikan sunnah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia adalah wahyu kedua, ia merupakan sumber kedua, barang siapa yang mengingkarinya maka dia telah kafir. Siapa yang mengingkarinya dan berkata, “Tidak perlu menggunakan sunnah.” Maka dia telah kafir dan sesat menurut kesepakatan umat Islam. Sunnah adalah sumber hukum kedua yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya untuk menafsirkan kitab Allah, menjadi dalil penguat dalam Al-Quran dan menjelaskan hukum-hukum lain yang hanya ada dalam sunnah.

Allah yang Maha Suci berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS. An-Nahl: 44)

Allah telah menjadikan Nabi-Nya orang yang menjelaskan dan menerangkan kepada manusia apa-apa yang terkadang tidak mereka fahami dari kitab Allah. Maka, sunnah itu menjelaskan Al-Quran, menjadi dalil untuknya, dan menjabarkannya.

Oleh sebab itu, aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku, para ulama dan penuntut ilmu agar memberikan perhatian terhadap sunnah, bersemangat terhadapnya, mengulang-ulang matan-matannya dan sanad-sanadnya, dan bersemangat untuk menghafalkan semampu yang mereka bisa.

Dan aku wasiatkan juga untuk menghafal kitab ‘Umdatul Hadis dan Bulughul Maram, dua kitab ini sangat bermanfaat. Terutama sekali bagi para penuntut ilmu, dua kitab ini sangat penting kedudukannya dan apabila dia mampu menghafal Muntaqal Akhbar maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan dan cahaya di atas cahaya. Namun minimal dia menghafal Umdatul Hadis karya Syeikh Abdul Ghani dan Bulughul Maram karya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Kitab ini adalah dua di antara banyak kitab yang paling bagus dan paling banyak manfaatnya. Maka aku wasiatkan kepada saudara-saudaraku untuk menghafal keduanya dan memberi perhatian khusus pada keduanya karena hal itu akan membantu dalam memahami maksud Al-Quran dan kandungan sunnah.

Kemudian aku juga mewasiatkan kepada saudaraku semuanya, para lelaki dan wanita, selain wasiat di muka untuk Al-Quran terhadap Al-Quran dan Sunnah, aku juga berwasiat agar mendengarkan Quran Radio karena sebagian orang belum bisa membaca dengan baik sehingga bacaan al-Qurannya buruk. Maka hendaknya dia mendengarkan bacaan al-Quran dari Quran Radio karena di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak dan juga ada faedahnya. Padanya terdapat pembahasan-pembahasan seputar agama yang bisa diambil manfaatnya oleh penuntut ilmu dan juga oleh yang awam ataupun yang sudah mengerti agama baik kalangan pria atau wanita. Maka aku sarankan Quran Radio, menyimaknya dengan baik dan mengambil manfaat darinya.

Dan aku juga mewasiatkan agar menyimak program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, program an-Nur ‘Ala ad-Darbi, yang di situ terdapat tanya jawab bersama sejumlah ulama. Maka aku sarankan untuk menyimak program ini dan mengambil manfaat darinya terutama bagi kalangan laki-laki dan wanita yang masih awam. Karena dari program tersebut ada manfaat yang sangat besar, kaum muslim dan muslimah bisa mengambil faedah dari program tersebut meskipun mereka berada di atas tempat tidur, di tempat duduknya masing-masing ataupun di dalam mobil mereka.

Dan ini merupakan salah satu nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya yang sepantasnya dimanfaatkan baik-baik dan kita sibukkan diri dengannya. Demikian wasiatku dan aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberikan taufik pada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan beramal shalih.

=======

وَأُوْصِيْ جَمِيعَ مَنْ تَبْلُغُهُمْ كَلِمَتِيْ هَذِهِ وَأُوصِيهِمْ بِأَنْ يُعْنَوْا بِكِتَابِ الله

فَكِتَابُ الله فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَهُوَ أَصْلٌ لِكُلِّ خَيْرٍ

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
الإِسْرَاءُ – اَلآيَةُ 9

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
فُصِّلَتْ – اَلآيَةُ 44

وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
اَلنَّحْلُ – اَلآيَةُ 89

فَالْوَاجِبُ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ وَعَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ وَعَلَى مَنْ يَقْرَأُ كِتَابَ الله حِفْظًا أَوْ نَظَرًا

أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ الْعَظِيمِ وَيُقْبِلَ عَلِيْهِ بِكُلِّ قَلْبِهِ دِرَاسَةً وَتَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُنَاسِبَةِ

فِي لَيْلِهِ وَنَهَارِهِ وَأَوْقَاتِ فَرَاغِهِ حَتَّى يَسْتَفِيْدَ مِنْ كَلَاَمِ رَبِّهِ

وَحَتَّى يَعْلَمَ عَلَى رَبِّهِ وَحَتَّى يَعْمَلَ بِذَلِكَ، يَقُولُ سُبْحَانَهُ

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
ص – اَلْآيَةُ 29

وَيَقُوْلُ سُبْحَانَهُ
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
مُحَمَّدٌ – اَلْآيَةُ 24

فَعَلَى الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً وَعَلَى الْعُلَمَاءِ خَاصَّةً وَطَلَبَةِ الْعِلْمِ أَنْ يُعْنَوْا بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ عِنَايَةً خَاصَّةً تَامَّةً

تَدَبُّرًا وَتَعَقُّلًا وَإِكْثَارًا مِنْ تِلَاوَتِهِ وَطَلَبًا لِلْفَائِدَةِ ثُمَّ الْعَمَلُ

وَعِنْدَ الْإِشْكَالِ يُرَاجِعُ الْعَالِمُ زَمِيلَهُ وَمَنْ لَدَيْهِ فَائِدَةٌ فِي هَذَا

وَيَبْحَثُ مَعَهُ بِمَا أَشْكَلَ وَيُرَاجِعُ كُتُبَ التَّفْسِيرِ الْمَعْرُوفَةِ وَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيرٌ

كَابْنِ جَرِيرٍ وَالْبَغَوِيِّ وَابْنِ كَثِيرٍ وَغَيْرِهِمْ

يُرَاجِعُهَا بِمَا أَشْكَلَ وَيَسْتَفِيْدُ فِي حَلِّ مَا أَشْكَلَ عَلَيْهِ

وَيُرَاجِعُ الْأَدِلَّةَ مِنَ الْأَحَادِيثِ إِذَا خَفِيَ عَلَيْهِ الْأَمْرُ مِنَ الْآيَةِ

وَلَا يَتَسَاهَلُ وَلَوْ هَذِهِ الْكُتُبُ- بِحَمْدِ الله- مُيَسَّرَةٌ

وَالْأَدَوَاتُ الَّتِي يُسْتَعَانُ بِهَا مُيَسَّرَةٌ مِنْ كُتُبِ الْغَرِيبِ وَ كُتُبِ اللُّغَةِ وَكُتُبِ الْحَدِيثِ وَأُصُولِ الْفِقْهِ وَمُصْطَلَحِ الْحَديثِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يَحْتَاجُهُ طَالِبُ الْعِلْمِ

وَمَنْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَلَيْسَ بِعَالَمٍ سَوْفَ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ إِذَا تَدَبَّرَ وَتَعَقَّلَ

وَفِي ذَلِكَ أَيْضًا رِقَّةٌ لِقَلْبِهُ وَقُوَّةٌ لِإِيمَانِهِ وَتَذْكِيرٌ لَهُ بِالْآخِرَةِ وَبِحَقِّ الله

وَفِيْهِ زِيَادَتُهُ عِلْمًا وَهُدًى وَتَقْوَى

وَلَا يُحْرَمُ مِنْ عِلْمٍ يَسْتَفِيْدُهُ وَخَيْرٍ يَصِلُ إِلَيْهِ

ثُمَّ السُّنَّةُ سُنَّةُ الرَّسُولِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ الْوَحْيُ الثَانِيْ وَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ مَنْ أَنْكَرَهَا قَدْ كَفَرَ

مَنْ أَنْكَرَهَا وَقَالَ: لَا حَاجَةَ إِلَيْهَا
فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ

فَهِيَ الْأَصْلُ الثَّانِيْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَى نَبِيِّهِ لِتَفْسِيرِ كِتَابِ اللهِ

وَالدَّلَالَةِ عَلَى مَا فِيْهِ وَلِبَيَانِ أَحْكَامٍ أُخْرَى جَاءْتْ بِهَا السُّنَّةُ

قَالَ سُبْحَانَهُ
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ

تُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
النَّحْلُ – اَلْآيَةُ 44

وَاللهُ جَعَلَ نَبِيَّهُ مُبَيِّنًا لِلنَّاسِ مُوَضِّحًا لَهُمْ مَا قَدْ يَخْفَى عَلَيْهِمْ مِنْ كِتَابِ الله

فَالسُّنَّةُ تُبَيِّنُ الْقُرْآنَ وَتَدَلُّ عَلَيْهِ وَتُعَبِّرُ عَنْهُ

فَأُوْصِيْ إِخْوَانِيْ أَهْلَ الْعِلْمِ وَطَلَبَةَ الْعِلْمِ بِالْعِنَايَةِ بِالسُّنَّةِ وَالْحِرْصِ عَلَيْهَا وَمُرَاجَعَةِ مُتُنِهَا وَأَسَانِيْدِهَا

وَالْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ مَا تَيَسَّرَ مِنْ ذَلِكَ

وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِعُمْدَةِ الْحَديثِ وَبُلُوغِ الْمَرَامِ بِحِفْظِ هَذَيْنِ الْكِتَابَيْنِ فَإِنَّهُمَا مُفِيدَانِ جِدًا

وَلَا سِيَّمَا لِحَقِّ طَالِبِ الْعِلْمِ هَذَانِ كِتَابَانِ لَهُمَا شَأْنٌ وَإِذَا اِسْتَطَاعَ أَنْ يَحْفَظَ مُنْتَقَى الْأَخْبَارِ فَذَلِكَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ وَ نُوْرٌ إلى نُوْرٍ

وَلَكِنَّ عَلَى الْأَقَلِّ عُمْدَةُ الْحَديثِ لِلشَّيْخِ عَبْدِ الْغَنِيِّ وَبُلُوغُ الْمَرَامِ لِلْحَافِظِ ابْنِ حَجَرٍ

هَذَانِ كِتَابَانِ مِنْ أَحْسَنِ الْكُتُبِ وَمِنْ أَنْفَعِ الْكُتُبِ

فَأَنَا أُوْصِيْ إِخْوَانِيْ بِحِفْظِهِمَا وَعِنَايَةٍ بِهِمَا لِأَنَّهُمَا يُعِيْنَانِ عَلَى فَهْمِ الْكِتَابِ وَعَلَى مَا جَاءَ فِي السُّنَّةِ

ثُمَّ أُوْصِيْ أَيْضًا إِخْوَانِيْ جَمِيعًا مِن الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ مَعَ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِكِتَابِ الله وَالسُّنَّةِ

وَأُوْصِيْ أَيْضًا بِسَمَاعِ إذَاعَةِ القُرْآنِ فَإِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ لَا تَتَيَسَّرُ لَهُ الْقِرَاءَةُ وَتَكُونُ قِرَاءَتُهُ ضَعِيفَةً

فَيَنْبَغِيْ أَنْ يَسْمَعَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ مِنَ الْإذَاعَةِ فَفِيهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ وَفِيهَا فَائِدَةٌ

وَفِيهَا أَحَادِيثُ دِينِيَّةٌ يَسْتَفِيْدُ مِنْهَا طَالِبُ الْعِلْمِ وَيَسْتَفِيْدُ مِنْهَا الْعَامَّةُ وَالْخَاصَّةُ وَالرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ

فَأَنَا أُوْصِيْ بِإذَاعَةِ الْقُرْآنِ وَالْاِشْتِغَالِ بِسَمَاعِهَا وَ الْاِسْتِفَادَةِ مِنْهَا

كَمَا أُوْصِيْ أَيْضًا بِبَرْنَامَجِ النُّورِ عَلَى الدَّرْبِ بَرْنَامَجِ الْنُوْرِ عَلَى الدَّرْبِ فِيهِ جَمَاعَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُسْأَلُوْنَ وَ يُجِيْبُوْنَ

فَأَنَا أُوْصِيْ بِسَمَاعِ هَذَا الْبَرْنَامَجِ وَالْاِسْتِفَادَةِ مِنْهُ وَلَا سِيَّمَا لِعَامَّةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

فَإِنَّ فَائِدَةً مِنْ ذَلِكَ عَظِيْمَةٌ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ وَالْمُؤْمِنَةَ يَسْتَفِيْدَانِ مِنْ هَذَا الْبَرْناَمَجِ وَهُمَا عَلَى فِرَاشِهِمَا وَهُمَا فِي مَجْلِسِهِمَا وَهُمَا فِي سَيَّارَتِهِمَا

وَهَذِهِ نِعْمَةٌ مِنْ نِعَمِ الله وَفَضْلٌ مِنَ الله فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُشْتَغَلَ إِلَى هَذَا وَيُغْتَنَمَ

هَذَا وَلَا أُحِبُّ أَنْ أُطِيْلَ وَأَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ

Indikator Mencintai Allah

Seorang ahli ibadah yang biasa disebut Dzun Nun mendapatkan pertanyaan, “Kapan aku dinilai mencintai Tuhanku? “. 

Jawaban beliau:

 إِذَا كَانَ مَا يُبْغِضُهُ عِنْدَكَ أَمَرُّ مِنَ الصَّبِرِ

“Jika hal-hal yang Allah benci  (baca: maksiat) menurut perasaanmu lebih pahit dibandingkan brotowali (tanaman super pahit)” (Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali 1/503)

Penggemar maksiat adalah orang yang menyakini jeleknya maksiat namun merasa maksiat itu suatu yang nikmat. 

Oleh karena itu meski berkeyakinan zina itu buruk namun zina tetap dilakukan. 

Meski yakin ghibah itu tercela, ghibah tidak juga ditinggalkan karena ada rasa nikmat di dalamnya. 

Lain halnya dengan orang yang benar-benar mencintai Allahﷻ. 

Ada dua hal yang terdapat dalam diri orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allahﷻ:

  1. Yakin sepenuh hati bahwa maksiat itu jelek, buruk, tercela dan dilarang serta dibenci oleh Allahﷻ 
  2. Ada perasaan jijik, muak, tidak ada enaknya, tidak ada nikmatnya dan heran mengapa ada orang yang beranggapan bahwa maksiat itu nikmat.

Orang yang betul-betul cinta Allahﷻ tidak memiliki hasrat, minat, antusias dan semangat untuk melakukan maksiat. 

Mari kita periksa hati kita, apakah kita sudah berada pada level mencintai Allahﷻ ataukah baru pada level mengaku cinta kepada Allahﷻ

Moga Allahﷻ berikan taufik kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk bisa jijik dan muak dengan semua varian maksiat. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Ini Dia Perhiasan Seorang Muslim 

Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

 

عَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فَالزُّهْدُ عَلَى الزَّاهِدِ أَحْسَنُ مِنَ الْحُلِيِّ عَلَى النَّاهِدِ

 

“Miliki sifat zuhud karena zuhud itu lebih indah dibandingkan perhiasan emas perak bagi gadis cantik.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 137)

Yang memperindah seorang muslim adalah akhlak mulia. Diantara akhlak mulia adalah zuhud. 

Zuhud tidak berarti miskin papa tanpa harta. Zuhud adalah akhlak mulia yang levelnya di atas wara’. Wara’ adalah meninggalkan semua yang berbahaya di akhirat. 

Ucapan, perbuatan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos, chat, komentar, tertawa dll yang berbuah dosa di akhirat akan ditinggalkan oleh orang yang wara’.

Sedangkan zuhud adalah meninggalkan semua yang tidak bermanfaat di akherat Semua ucapan, perbuatan, kebiasaan, hobi, pekerjaan, uang, postingan medsos chat, komentar, tertawa dll yang tidak bisa diniatkan pahala di akherat akan ditinggalkan oleh pemilik sifat zuhud.

Betapa indahnya seorang muslim yang memiliki sifat zuhud. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Istri Sholihah Bukan Bagian dari Dunia

قال أبو سليمان الداراني رحمه الله: الزوجة الصالحة ليست من الدنيا فإنها تفرغك للآخرة وإنما تفريغها بتدبير المنزل وبقضاء الشهوة جميعاً.

Abu Sulaiman ad-Darani mengatakan, “Isteri sholihah itu bukan bagian dari dunia yang melalaikan karena isteri sholihah itu membuat Anda wahai suami menjadi fokus. Hal itu karena isteri bertanggung jawab membereskan pekerjaan rumah dan menyebabkan tersalurnya syahwat biologis suami.” (Ihya Ulumuddin 2/35, Darul Fikr)

Wanita sholihah bukanlah bagian dari dunia yang melalaikan dari akherat. 

Wanita sholihah adalah bagian dari akherat karena wanita sholihah mendorong dan mendukung suami untuk bisa menggandeng tangan isteri, bersama menuju surga. 

Ada dua jasa besar isteri yang mengharuskan suami untuk senantiasa berterimakasih kepada isteri:

  1. Terpenuhinya kebutuhan biologis yang halal dan berpahala.
  2. Beresnya pekerjaan rumah.

Dua hal di atas adalah modal penting suami untuk mendapatkan ketenangan jiwa sehingga bisa maksimal berkontribusi bagi Islam dan kaum muslimin.

“Di balik lelaki yang banyak berkontribusi untuk agama dan umat terdapat wanita sholihah yang taat Allah dan rasul-Nya dan berbakti kepada suami”

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Inti Dari Adab

Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan :

رَأْسُ الْأَدَبِ عِنْدَنَا أَنْ يَعْرِفَ الرَّجُلُ قَدْرَهُ 

“Inti atau kata kunci adab menurut kami adalah tahu diri kapasitas.” (Al-Muntakhab Min Mu’jam Syuyukh as-Sam’ani hlm 668 )

Kiat inti agar seorang itu menjadi orang yang beradab, beretika dan punya sopan santun adalah tahu kapasitas diri, menyadari siapa dan bagaimana dirinya serta tahu aib dan kekurangan diri sendiri. 

Kiat ini berlaku di berbagai bidang, situasi dan kondisi. 

Dalam ibadah dan ketaatan, orang yang sadar diri bahwa banyak maksiat pada dirinya tentu tidak akan merasa dan bersikap seakan sudah benar benar sholih dan bertakwa. 

Dalam ilmu agama, jika seorang itu menyadari bahwa bukanlah seorang pembelajar dalam beragam ilmu agama dia tidak akan komentar bidang ilmu yang tidak dia kuasai. 

Jika seorang itu menyadari bahwa dirinya bukan seorang pakar dalam bidang fikih dia tidak akan mendebat orang yang puluhan tahun mengkaji masalah fikih, tidak akan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada para imam, raksasa ilmu dan seterusnya. 

Dalam ilmu dunia, jika seorang itu sadar bahwa dia bukanlah pakar ilmu kesehatan tentu akan memberikan penghormatan yang semestinya ketika pakar di bidang tersebut berbicara berdasarkan ilmunya. 

Dalam masalah akhlak, jika seorang itu sadar bahwa dirinya punya banyak kekurangan dalam bidang akhlak lalu melihat orang lain punya akhlak yang buruk dia akan banyak bercermin. 

Di bidang interaksi, ketika seorang itu sadar bahwa dia belum bisa menjadi ayah yang baik, ibu yang sempurna, suami yang perfect, isteri yang bagai bidadari, tetangga yang baik, sahabat yang ideal dst akan mudah baginya meminta maaf bila melakukan kesalahan dan mudah memaafkan orang lain. 

Mudah meminta maaf dan ringan memaafkan adalah diantara kunci pokok terwujudnya kehidupan yang penuh kenyamanan dan kebahagiaan

Inti pokok pendidikan adalah menanamkan adab pada anak didik. 

Sehingga nilai pokok yang wajib ditanamkan oleh ortu, guru dan dosen, guru ngaji dan para pendidik secara umum kepada anak didiknya adalah nilai sadar dan tahu kapasitas diri. 

Kegagalan penanaman nilai ini adalah kegagalan pendidikan. Pendidikan yang hanya menghasilkan orang-orang yang sombong dengan kepandaiannya, memiliki kesombongan akademik dan tidak sadar kekurangan diri adalah kegagalan terbesar sebuah proses pendidikan.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

 

Istri yang Pedas Lisannya: Ujian Para Kekasih Allah

Abu Hamid al-Ghazali mengatakan:

فَإِنَْهَا إِذَا كَانَتْ سَلِيْطَةً بَذِيْئَةَ اللِّسَانِ سَيَّةَ الْخُلُقِ كَافِرَةً لِلنِّعَمِ كَانَ الضَّرَرُ مِنْهَا أَكْثَرُ مِنَ النَّفْعُ وَالصَّبْرُ عَلَى لِسَانِ النِّسَاءِ مِمَّا يُمْتَحَنُ بِهِ الْأَوْلِيَاءُ

“Jika isteri itu lisannya pedas, kosa katanya jelek, buruk perangainya dan suka lupa kebaikan suami, dampak buruk menikahinya itu lebih besar dibandingkan manfaatnya. Bersabar menghadapi jeleknya lisan perempuan adalah ujian yang jamak dirasakan oleh para kekasih Allah.” (Ihya’ Ulumuddin 2/44, Dar al-Fikr)

Tidak semua orang itu mendapatkan bahagia dengan berumah tangga.

Salah pilih pasangan sehingga mendapatkan yang jelek akhlak dan perangai menyebabkan menikah lebih menderita dibandingkan sebelum menikah.

Jangan jadikan menikah itu segalanya dalam hidup ini. 

Yang paling “bengkok” dari perempuan adalah lisan dan kata-katanya. 

Para kekasih Allah, lelaki yang paling baik adalah orang yang paling semangat berbuat baik isterinya. 

Karenanya ketika lisan isteri sedang “bengkok” sering kali para kekasih Allah ini lebih memilih untuk diam dari pada melayani isteri pedas menusuk kata-katanya. 

Karena mengalah itu bukan berarti kalah.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan hidup berumah tangga untuk semua orang yang membaca dan menshare pesan ini.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jalan Surga

Ibnul Qoyyim mengatakan, 

 

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِعَبْدٍ خَيْرًا سَلَبَ رُؤْيَةَ أَعْمَالِهِ الْحَسَنَةِ مِنْ قَلْبِهِ وَالْإِِخْبَارَ بِهَا مِنْ لِسَانِهِ وَشَغَلَهُ بِرُؤْيَةِ ذَنْبِهِ فَلَا يَزَالُ نَصْبَ عَيْنَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Jika Allah ingin memberikan kebaikan yang besar untuk seorang hamba, Allah buat hati orang tersebut tidak ingat dengan amal kebaikan yang pernah dilakukan ataupun menceritakannya kepada orang lain. Di samping itu Allah jadikan orang tersebut selalu ingat dengan dosa-dosanya. Dosa itu terpampang jelas di hadapannya sehingga orang tersebut akhirnya masuk surga.” (Thariq al-Hijratain 169-172)

Ada dua langkah untuk meniti jalan surga.

Menjaga kualitas keikhlasan dalam beramal shalih dengan melupakan amal kebajikan yang pernah dilakukan dan tidak menceritakan amal kebajikan  kepada publik lewat medsos ataupun sarana lainnya. 

Senantiasa ingat  kekurangan dan maksiat diri sehingga tidak merasa lebih baik dari pada orang lain. Orang tersebut senantiasa terbayang-bayang dosanya sehingga punya nafas yang stabil untuk selalu memperbaiki kualitas diri. Pada akhirnya, buah ini semua adalah masuk surga Allah. 

Memang surga itu di akhirat namun jalan menuju surga itu ada di dunia.

Pilihan ada di hadapan kita masing-masing antara meniti jalan surga ataukah jalan neraka.

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini agar diberi kemudahan masuk surga tanpa mampir di neraka. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Jangan Bikin Orang Buruk Sangka Padamu

Salah satu pendahulu kita yang sholih memberi nasehat, 

من عرض نفسه للتهم فلا يلومن من أساء الظن به

“Siapa saja yang melakukan tindakan yang menyebabkan orang curiga janganlah dia menyalahkan orang yang buruk sangka kepadanya.” (Jami’ Ulum wal Hikam saat menjelaskan hadits keenam)

Ada dua kewajiban yang berbeda antara orang yang melakukan perbuatan dan orang yang melihat orang lain melakukan perbuatan. Masing-masing memiliki kewajiban yang berbeda.

 Pertama:
Kewajiban orang yang melihat seorang yang melakukan perbuatan tertentu adalah berbaik sangka kepada orang yang telah kita kenal sebagai orang yang baik-baik semaksimal mungkin. 

Kita berusaha mencari pemakluman sebanyak mungkin untuk beliau yang melakukan tindakan yang bisa dimaknai dengan makna negatif. 

Kedua:
Di sisi lain kewajiban orang yang akan melakukan suatu perbuatan adalah tidak melakukan perbuatan yang bisa menyebabkan orang lain yang lihat berburuk sangka.

Jika hal ini dilanggar maka jangan salahkan orang yang berburuk sangka. 

Misal ada orang yang secara sengaja minum kopi di warung kopi yang posisinya di pinggir komplek lokalisasi. 

Orang ini tidak boleh menyalahkan orang yang berprasangka buruk kepadanya karena ini adalah sebuah keniscayaan dampak dari perbuatannya.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.