Agar Ibadah Terasa Nikmat dan Mudah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Agar Ibadah Terasa Nikmat dan Mudah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini juga merupakan salah satu manfaat zikir, yang luar biasa, yaitu membantu dalam ketaatan dan mempermudah ibadah. Semakin sering Anda berzikir kepada Allah, semakin Anda merasa ringan dan terbantu dalam ibadah. Orang ini datang menemui Nabi ʿalaihiṣ ṣalātu was salām karena merasa keberatan dengan banyaknya beban syariat, yaitu merasa kesulitan dan kesusahan menjalankan berbagai amalan, ibadah, dan kewajiban agama Islam, “Sungguh beban syariat dalam Islam terasa berat bagiku, nasehatilah aku!” Orang ini ketika menemui Nabi ʿalaihiṣ ṣalātu was salām dan mengatakan bahwa syariat Islam terasa berat baginya.

Apa yang dia inginkan? Apakah dia ingin diringankan beban amalannya?
Atau ingin sesuatu yang bisa membantunya dan mempermudahnya beramal? Mana yang jadi tujuannya? Ketika dia berkata, “Syariat ini terasa berat bagiku.” Apakah dia ingin Nabi ʿalaihiṣ ṣalātu was salām berkata, “Sudah, kamu tidak perlu mengerjakan sebagian salat wajib.” Atau misalnya, “Kamu tinggalkan sebagian puasa Ramadan.” Apakah orang ini berharap demikian dengan pertanyaannya tersebut? Apakah dia ingin diringankan atau dihapuskan sebagian syariat atasnya? Jawabannya, “Tidak.” Dia ingin sesuatu yang memperingan dan mempermudahnya dalam beramal. Maka Nabi menyuruhnya untuk memperbanyak zikir.

Beliau bersabda, “Hendaknya lisanmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah.” (HR. Tirmizi) Artinya bahwa jika Anda memperbanyak berzikir, niscaya salat akan ringan bagi Anda, begitu pula puasa dan semua amalan-amalan kebaikan. Subḥānallāh! Di antara manfaat zikir yang luar biasa, meringankan dan memudahkan ketaatan. Bagi sebagian orang, ibadah dan ketaatan terasa berat bagi mereka. Ketika ada panggilan salat, dia mendatanginya, namun dia merasa berat. Dalam hal ini, perhatikan betapa beratnya salat bagi kaum munafik.Dan Allah telah menyebutkan sifat mereka, “Mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit saja.” (QS. An-Nisa’: 142)
Salat berat bagi orang munafik. “Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Subuh dan salat Isya.” Sangat berat, sehingga mereka mengerjakannya dengan susah payah. Mereka tidak menunaikannya, kecuali dengan susah payah, karena terasa berat bagi mereka. “Mereka tidak mengingat Allah, kecuali sedikit saja.” (QS. An-Nisa’: 142)
Tapi seseorang yang sering berzikir, salat Subuh dan salat lainnya akan terasa ringan dan mudah baginya. Inilah salah satu manfaat zikir, yang luar biasa dan berharga.

===============================================================================

وَهَذِهِ ثَمَرَةٌ أَيْضًا عَظِيمَةٌ مِنْ ثِمَارِ الذِّكْرِ

أَنَّهُ يُعِينُ عَلَى طَاعَةٍ وَيُلَيِّنُ الْعِبَادَةَ

كُلَّمَا أَكْثَرْتَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ كَانَ ذَلِكَ سَبَبًا لِلِينِ الْعِبَادَةِ وَيُسْرِهَا عَلَيْكَ

فَهَذَا الرَّجُلُ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَانَ يَجْهَدُ فِي حَمْلِ الشَّرَائِعِ

يَعْنِي يَجِدُ جُهْدًا وَمَشَقَّةً فِي الْقِيَامِ بِالْأَعْمَالِ وَالْعِبَادَاتِ وَفَرَائِضِ الْإِسْلَامِ

إِنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَوْصِنِي

هَذَا الرَّجُلُ لَمَّا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَذَكَرَ لَهُ أَنَّ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ كَثُرَتْ عَلَيْهِ

مَاذَا كَانَ يُرِيدُ؟ هَلْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنِ الْأَعْمَالِ؟

أَوْ يُرِيدُ شَيْئًا يُعِيْنُهُ وَيُيَسِّرُ لَهُ الْأَعْمَالَ؟ أَيُّ الْأَمْرَيْنِ؟

هَلْ كَانَ يُرِيدُ لَمَّا قَالَ إِنَّهَا كَثُرَتْ عَلَيَّ أَيْ أَنْ يَقُولَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

خَلَاصٌ أَنْتَ تَتْرُكُ بَعْضَ الصَّلَوَاتِ

وَتَتْرُكُ مَثَلًا بَعْضَ رَمَضَانَ

هَلْ كَانَ يُرِيدُ هَذَا الرَّجُلُ بِهَذَا بِإِيصَالِهِ؟

هَلْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ تُخَفَّفَ عَنْهُ الْأَعْمَالُ بِأَنْ يُحْذَفَ جُزْءٌ مِنْهَا؟

الْجَوَابُ: لَا

يُرِيدُ الشَّيْءَ يُلَيِّنُ لَهُ الْأَعْمَالَ وَيُيَسِّرُهَا عَلَيْهِ

فَأَرْشَدَهُ إِلَى كَثْرَةِ الذِّكْرِ

قَالَ: لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

بِمَعْنَى أَنَّكَ إِذَا أَكْثَرْتَ مِنَ الذِّكْرِ لَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ

وَلَانَتِ الصِّيَامُ وَلَانَتْ جَمِيعُ الْأَعْمَالِ أَعْمَالِ الْبِرِّ

فَالذِّكْرُ سُبْحَانَ اللهِ مِنْ فَوَائِدِهِ العَظِيمَةِ أَنَّهُ يُلَيِّنُ الطَّاعَةَ وَيُسَهِّلُهَا

بَعْضُ النَّاسِ الطَّاعَةُ وَالْعِبَادَةُ ثَقِيلَةٌ عَلَيْهِ

إِذَا نُودِيَ إِلَى الصَّلَاةِ يَقُومُ وَلَكِنْ يُحِسُّ بِثِقَلٍ

وَانْظُرْ فِي هَذَا الْمَقَامِ ثِقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ

وَقَدْ وَصَفَهُمُ اللهُ بِأَنَِّهُمْ: لَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا

الصَّلَاةُ ثَقِيلَةٌ عَلَيْهِمْ

أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْفَجْرِ وَصَلَاةُ الْعِشَاءِ

ثَقِيلَةٌ جِدًّا وَلَا يَقُومُ لَهَا إِلَّا بِشِدَّةٍ

لَا يَقُومُ لَهَا إِلَّا بِشِدَّةٍ ثَقِيلَةٌ جِدًّا عَلَيْهِمْ

لَا يَذْكُرُونَ اللهَ إِلَّا قَلِيلًا

لَكِنِ الْإِنْسَانُ الَّذِي يَذْكُرُ اللهَ كَثِيرًا الْفَجْرُ وَغَيْرُهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ تَكُونُ لَيِّنَةً وَسَهْلَةً عَلَيْهِ

فَهَذِهِ فَائِدَةٌ عَظِيمَةٌ وَثَمِينَةٌ مِنْ فَوَائِدِ الذِّكْرِ

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Ayo Perbanyak Membaca Surat Al-Baqarah – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Salah satu keutamaan yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentang keutamaan surat yang agung ini, yang termasuk salah satu surat yang paling agung dalam al-Quran, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak membacanya, bahkan beliau ‘alaihis shalatu wassalam membaca surat ini seluruhnya dalam satu rakaat ketika beliau mengerjakan shalat malam.

Diriwayatkan Abu Daud, dari Auf bin Malik al-Asyja’i, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada suatu malam, … Beliau mendirikan shalat dan membaca surat al-Baqarah. … Tidaklah beliau melewati ayat tentang rahmat, melainkan beliau berhenti membaca, kemudian berdoa meminta rahmat Allah. … Dan tidaklah beliau melewati ayat tentang azab, melainkan beliau berhenti membaca, dan berdoa meminta perlindungan dari azab.” (HR. Abu Daud)

Inilah cara membaca yang dapat mengantarkan pada kesempurnaan pahala dan keutamaannya, di samping dapat juga mengantarkan pada penghayatan makna-makna dan petunjuk-petunjuk dalam kitab Allah ‘Azza wa Jalla.

================================================================================

وَمِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ الثَّابِتَةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي فَضْلِ هَذِهِ السُّورَةِ الْعَظِيمَةِ

الَّتِي هِيَ مِنْ أَعْظَمِ سُوَرِ الْقُرْآنِ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ مِنْ قِرَاءَتِهَا

حَتَّى لَقَدْ كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

يَقْرَأُ هَذِهِ السُّورَةَ كَامِلَةً فِي رَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ حَالَ قِيَامِهِ اللَّيْلِ

رَوَى أَبُو دَاوُدَ

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ

قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً

فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ

لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ

وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ

وَهَذِهِ هِيَ الْقِرَاءَةُ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا كَمَالُ الْأَجْرِ وَالْفَضْلِ

مَعَ مَا فِيهَا مِنْ تَأَمُّلِ الْمَعَانِي وَالدَّلَائِلِ فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Apa Maksud Perkara Mukmin Itu Menakjubkan? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maka dari itu, penulis rahimahullah mencantumkan hadits yang agung ini, yang mana Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! … Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan.” “Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan,” yakni di setiap gerak-gerik orang mukmin adalah dari kebaikan menuju kebaikan lain. Bahkan dalam musibah yang menimpanya, begitu juga dengan bencana, rasa sakit, penyakit, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Semua itu baik bagi seorang mukmin.

Oleh sebab itu, hendaklah seorang mukmin memahami hadits ini dengan baik. Jika ia tertimpa musibah, maka hendaklah ia memahami bahwa itu baik untuknya. Itu baik untuk seorang mukmin, karena ia sedang dalam ibadah kepada Allah, atau dalam ujian yang mengandung nilai ibadah. Maka hendaklah ia berusaha menyempurnakan ibadah itu, sehingga ia dapat meraih pahala dan balasannya. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin! Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan ….” Kemudian beliau ‘alaihis shalatu wassalam menjelaskan faktor penyebab mengapa seluruh perkara orang mukmin adalah kebaikan. Beliau melanjutkan sabdanya,
“… Jika ia mendapat kesenangan, ia akan bersyukur, sehingga itu baik baginya ….” Jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, kenikmatan, dan hal-hal lain yang mengundang kebahagian dan kesenangan dalam hatinya, maka ia akan menyikapinya dengan bersyukur kepada Allah sang pemberi nikmat, dan ia mengetahui bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan karunia berada di tangan Allah, Dia mengaruniakannya kepada yang Dia kehendaki.

Dan Allah pemilik karunia yang agung. “… Dan jika ia tertimpa kesusahan, maka ia akan bersabar, sehingga itu juga baik baginya.” Yaitu, ia akan menyikapinya dengan sabar, sehingga ia dapat meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar. Beliau melanjutkan, “… dan itu tidak dapat terjadi, kecuali pada orang mukmin.” Selain orang mukmin akan menyikapi kenikmatan yang didapat dengan kesombongan dan keangkuhan, dan menyikapi musibah dengan ketidakrelaan dan keluh kesah. Berbeda halnya dengan orang mukmin, seorang mukmin, dalam kebahagiaan ia bersyukur kepada Allah sang pemberi kenikmatan, dan dalam kesusahannya ia bersabar, sehingga ia beruntung dalam kedua keadaan itu. Pada keadaan pertama, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang yang bersyukur. Dan di keadaan kedua, ia beruntung dengan meraih pahala yang disiapkan bagi orang-orang sabar.

===============================================================================

وَلِهَذَا أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى هَذَا الْحَدِيثَ الْعَظِيمَ

الَّذِي قَالَ فِيهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ

إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ يَعْنِي فِي جَمِيْعِ تَقَلُّبَاتِ الْمُؤْمِنِ هُوَ مِنْ خَيْرٍ إِلَى خَيْرٍ

حَتَّى الْمَصَائِبِ الَّتِي تُصِيبُهُ

وَالْفَوَاجِعِ وَالْآلَامِ وَالْأَمْرَاضِ وَفَقْدِ الْحَبِيْبِ وَإِلَى آخِرِهِ

هَذِهِ كُلُّهَا خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ

وَلِهَذَا يَنْبَغِي عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَعِيَ جَيِّدًا هَذَا الْحَدِيثَ

فَإِذَا أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ عَلَيْهِ أَنْ يَفْهَمَ أَنَّ هَذَا خَيْرٌ

خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ لِأَنَّهُ فِي عُبُودِيَّةٍ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَوْ فِي ابْتِلَاءٍ لَهُ عُبُودِيَّتُهُ

فَيَعْمَلُ عَلَى تَحْقِيقِ تِلْكَ الْعُبُودِيَّةِ لِيَفُوزَ بِثَوَابِهَا وَأَجْرِهَا

قَالَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

وَبَيَّنَ ذَلِكَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَوْ بَيَّنَ وَجْهَ ذَلِكَ أَنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

قَالَ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

إِذَا أَصَابَهُ أَمْرٌ سَارٌّ مُفْرِحٌ نِعْمَةٌ

أَشْيَاءُ أَدْخَلَتْ عَلَى قَلْبِهِ سُرُورًا فَرَحًا

فَإِنَّه يَتَلَقَّاهَا بِشُكْرِ الْمُنْعِمِ

وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَوْلَ لَهُ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

يَعْنِي يَتَلَقَّاهَا بِالصَّبْرِ فَيَفُوزُ بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ

قَالَ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ

غَيْرِ الْمُؤْمِنِ النِّعَمُ يَتَلَقَّاهَا بِالْبَطَرِ وَالْأَشَرِّ

وَالْمَصَائِبُ يَتَلَقَّاهَا بِالسَّخَطِ وَالْجَزَعِ

أَمَّا الْمُؤْمِنُ فَأَمْرُهُ آخَرُ

فِي سَرَّائِهِ شَاكِرٌ لِلْمُنْعِمِ وَفِي ضَرَّائِهِ صَابِرٌ

فَهُوَ فِي الْحَالَتَيْنِ فَائِزٌ

فِي الْأُولَى فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الشَّاكِرِيْنَ

وَالثَّانِيَةِ فَائِزٌ فِيهَا بِثَوَابِ الصَّابِرِيْنَ

 

 

 

 

Agar Mudah Sedekah & Bayar Zakat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Agar Mudah Sedekah & Bayar Zakat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat), kecuali karena dahulu ia miskin, lalu Allah menjadikannya kaya.” (HR. Ibnu Hibban)
“Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat), kecuali karena ia dahulu  miskin, lalu Allah menjadikannya kaya.” (HR. Ibnu Hibban) Ungkapan Nabi ini, “Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat),  kecuali karena dahulu ia miskin, lalu Allah menjadikannya kaya,” merupakan “celaan” dengan ungkapan yang menyerupai “pujian”. Penegasan atas “celaan” dengan ungkapan yang menyerupai “pujian”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat),” kalimat ini adalah celaan. Kemudian beliau menegaskan celaan ini, dengan sabda beliau, ” kecuali karena dahulu ia miskin, lalu Allah menjadikannya kaya.”

Kalimat “… lalu Allah menjadikannya kaya,” adalah ungkapan pujian. Kalimat ” lalu Allah menjadikannya kaya,” adalah ungkapan pujian. Namun, sebenarnya Nabi menegaskan “celaan” atas perbuatan Ibnu Jamil, dengan ungkapan yang dianggap “pujian” itu. Karena Allah menjadikan seorang hamba-Nya menjadi kaya, adalah suatu pujian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat), kecuali karena dahulu ia miskin, lalu Allah menjadikannya kaya.” Dan ini mengandung peringatan tentang perkara yang dapat memudahkan seseorang untuk menunaikan zakat. Memudahkan diri seorang hamba untuk menunaikan zakat. Yaitu dengan mengingatkan dirinya dengan keadaannya sebelum mendapatkan hartanya yang sekarang ini.

Mengingatkan dirinya pada keadaannya sebelum mendapatkan hartanya yang sekarang ini. Karena Allah yang memberikan harta itu kepadamu, dan memberimu kecukupan dengan karunia-Nya Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepadamu untuk menunaikan “sedikit” dari “harta yang banyak” yang telah Allah berikan kepadamu. Oleh sebab itu, zakat wajib itu adalah hanya “sedikit” dari “harta yang banyak”. “Sedikit harta” yang dikeluarkan dari “harta yang banyak” yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada seorang hamba. Jika orang kaya mengingatkan dirinya sendiri pada pemberian dan karunia Allah baginya, dan keluasan harta yang diberikan padanya, padahal sebelumnya ia adalah orang miskin yang tidak memiliki apapun, maka itu akan memudahkannya untuk untuk mengeluarkan zakat. Yakni hendaklah ia mengingat masa kemiskinannya dulu.

Mengingat masa kemiskinannya dulu. Dan sungguh mengingat masa kemiskinan, memiliki pengaruh yang nyata, yang tidak hanya dalam menunaikan zakat wajib, namun juga dalam mengeluarkan sedekah. Saya ingat, ada satu orang kaya pernah bercerita kepadaku. Ia berkata bahwa ia suka untuk selalu memberikan sedekah pakaian, sandang. Ia berkata, “Aku tumbuh dalam keadaan miskin,dan aku ingat saat masih sebagai siswa di madrasah,  ada satu orang kaya yang datang sebelum hari raya, lalu ia membagikan pakaian baru kepada kami.  Dan Anda tidak dapat membayangkan, betapa hati kami sangat bahagia, karena mendapat pakaian ini.  Yakni pakaian yang dibagikan kepada kami itu.  Dan kami memakai pakaian yang bagus pada hari raya.  Itu memberi kami kebahagiaan dan keceriaan di hari raya.” Orang itu menambahkan, “Maka dari itu, aku selalu suka memberi,  karena aku selalu teringat saat-saat yang pernah aku rasakan itu.”

Dan kesimpulannya, orang kaya yang mengingat keadaannya ketika masih miskin dulu, dan mengingat bahwa Allahlah yang memberi dan mengaruniakan hartanya, itu akan memudahkannya untuk mengeluarkan zakat dan sedekah, serta mencegahnya dari sifat pelit. Nabi bersabda, “Tidak ada yang menghalangi Ibnu Jamil (dari membayar zakat), kecuali karena dahulu ia miskin, lalu Allah menjadikannya kaya.” (HR. Ibnu Hibban)

==========================================================================

قَالَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ

إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنْ كَانَ

فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

هُنَا الْعِبَارَةُ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ

إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

هَذَا تَأْكِيدٌ لِلذَّمِّ بِمَا يُشْبِهُ الْمَدْحَ

تَأْكِيدُ الذَّمِّ بِمَا يُشْبِهُ الْمَدْحَ

قَالَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ

هَذَا ذَمٌّ

ثُمَّ أَكَّدَ هَذَا الذَّمَّ بِقَوْلِهِ إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

أَغْنَاهُ اللهُ هَذَا مَدْحٌ

أَغْنَاهُ اللهُ هَذَا مَدْحٌ لَكِنَّهُ أَكَّدَ ذَمَّهُ عَلَى صَنِيعِهِ

بِهَذَا الَّذِي هُوَ يُعَدُّ مَدْحًا

إِغْنَاءُ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِلْعَبْدِ هَذَا مَدْحٌ

قَالَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ

إِلَى مَسْأَلَةٍ مُعِيْنَةٍ لِإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ

تُعِيْنُ نَفْسَ الْعَبْدِ عَلَى إِخْرَاجِ الزَّكَاةِ

وَهِيَ أَنْ يُذَكِّرَ نَفْسَهُ

بِحَالِهِ قَبْلَ هَذَا الْمَالِ

يُذَكِّرَ نَفْسَهُ بِحَالِهِ قَبْلَ هَذَا الْمَالِ

فَالَّذِي أَعْطَاكَ هَذَا الْمَالَ

وَأَغْنَاكَ مِنْ فَضْلِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى طَلَبَ مِنْكَ

أَنْ تُخْرِجَ قَلِيلًا مِنْ كَثِيرٍ أَعْطَاكَ اللهُ إِيَّاهُ

وَلِهَذَا الزَّكَاةُ الْمَفْرُوْضَةُ

هِي قَلِيلٌ مِنْ كَثِيرٍ

قَلِيلٌ يُخْرَجُ

مِنْ كَثِيرٍ أَعْطَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لِلْعَبْدِ

فَإِذَا ذَكَّرَ الْغَنِيُّ نَفْسَهُ

بِعَطَاءِ اللهِ لَهُ وَمِنَّتِهِ عَلَيْهِ وَتَوْسِيعَةِ الْمَالِ لَهُ

وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ فَقِيْرًا لَا يَمْلِكُ

فَهَذَا يُعِينُهُ عَلَى

عَلَى الْإِخْرَاجِ

أَيْ أَنْ يَتَذَكَّرَ فَقْرَهُ

أَنْ يَتَذَكَّرَ فَقْرَهُ

فِعْلًا تَذَكُّرُ الْفَقْرِ

لَهُ أَثَرٌ وَاقِعٌ لَيْسَ فَقَطْ فِي الزَّكَاةِ الْمَفْرُوضَةِ

بَلْ حَتَّى فِي الصَّدَقَاتِ

أَذْكُرُ يُحَدِّثُنِي أَحَدُ الْأَغْنِيَاءِ

يَقُولُ أَنَّهُ يُحِبُّ دَائِمًا يُخْرِجُ

صَدَقَةَ ثِيَابٍ كُسْوَةً

يَقُولُ أَنَا نَشَأْتُ فَقِيرًا

وَأَذْكُرُ لَمّا كُنَّا طُلَّابًا فِي الْمَدْرَسَةِ

جَاءَ أَحَدُ الْأَغْنِيَاءِ قَبْلَ الْعِيدِ وَوَزَّعَ عَلَيْنَا ثِيابًا جَديدَةً

وَمَا تَتَصَوَّرُ كَمْ امْتَلَأَتْ قُلُوبُنَا فَرَحًا بِهَذِهِ الثِّيَابِ

بِهَذِهِ الثِّيَابِ الَّتِي وُزِّعُ عَلَيْنَا

وَلَبِسْنَا فِي الْعِيدِ حُلَلًا جَمِيلَةً

أَدْخَلَتْ عَلَيْنَا سُرُورًا فِي الْعِيدِ وَبَهْجَةً

يَقُولُ فَأَنَا أُحِبُّ دَائِمًا أُخْرِجُ

لِأَنِّي رَأَيْتُ أَتَذَكَّرُ دَائِمًا ذَاكَ الْمَوْقِفَ الَّذِي كَانَ لِي وَحَصَلَ لِي

فَالشَّاهِدُ أَنَّ تَذَكُّرَ الْغَنِيِّ حَالَ فَقْرِهِ

وَأَنَّ اللهَ أَعْطَاهُ هَذَا الْمَالَ وَمَنَّ عَلَيْهِ بِهِ يُسَاعِدُهُ عَلَى

إِخْرَاجِهِ وَالْوِقَايَةِ مِنْ شُحِّ النَّفْسِ

قَالَ مَا يَنْقِمُ ابْنُ جَمِيلٍ إِلَّا أَنْ كَانَ فَقِيرًا فَأَغْنَاهُ اللهُ

 

Bolehkah Bilang “Aku Muslim Insya Allah”? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bolehkah Bilang “Aku Muslim Insya Allah”? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jika seorang hamba ditanya tentang keimanannya, “Apakah kamu seorang mukmin atau muslim?” maka hendaklah ia menjawab, “Aku beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya.” Atau ia menjawab, “Aku seorang mukmin insya Allah.” Perkataan penulis rahimahullahu Ta’ala…”Atau ia menjawab, ‘Aku seorang mukmin insya Allah’.” adalah termasuk masalah yang berkaitan dengan iman yang disebut dengan.masalah pengecualian dalam iman, yaitu menyebutkan bahwa ia beriman namun dengan menyertakan kalimat ‘insya Allah’. Dan masalah pengecualian dalam iman ini…memiliki dua bentuk.

BENTUK PERTAMA:
Dia mengatakan itu karena ragu dan bentuk ini hukumnya haram berdasarkan kesepakatan para ulama,dan bisa jadi hukumnya kafir bagi yang mengucapkannya.

BENTUK KEDUA: Jika dia mengatakannya bukan karena keraguan.

Dan bentuk kedua ini terbagi menjadi beberapa jenis.

Jenis yang pertama…Jika dia mengatakannya untuk mengharap keberkahan melalui zikir kepada Allah, maka ini hukumnya boleh.

Dan jenis yang kedua,.. Jika dia mengatakannya karena yakin bahwa seluruh…kejadian terikat oleh takdir Allah,…maka ini hukumnya juga boleh.

Dan jenis yang ketiga,..Jika dia mengatakannya karena maksud ketidaktahuannya tentang apa yang akan terjadi di masa depan,..karena dia tidak tahu apakah akan meninggal dalam keadaan beriman atau tidak,maka ini juga boleh dilakukan.

Dan jenis yang keempat, Dia mengatakannya karena merasa dirinya masih memiliki banyak kekurangan…dan masih belum sampai pada keimanan yang sempurna, karena dia takut masih ada kelalaian dalam menunaikan kewajiban atau takut masih melakukan hal yang haram maka ini hukumnya sunnah.

Adapun para salaf yang melakukan pengecualian dalam iman ini atau menyebutkannya di dalam kitab-kitab akidah salaf…maka yang mereka maksud adalah makna-makna yang dibenarkan. Dan yang paling baik adalah jenis yang terakhir. Karena jika seorang hamba ditanya, “Apakah kamu seorang mukmin?” kemudian menjawab, “Aku seorang mukmin insya Allah” dan berharap dapat meraih kesempurnaan iman serta khawatir terhadap dirinya…jika melalaikan sebagian cabang keimanan,maka itu adalah hal yang terpuji baginya.

================================================================================

وَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا

وَرَابِعُهَا

أَنْ يَقُولَهَا عَلَى إِرَادَةِ الْإِزْرَاءِ عَلَى نَفْسِهِ

وَعَدَمِ بُلُوغِ الْكَمَالِ فِي الْإِيمَانِ

خَشْيَةَ التَّفْرِيطِ فِي وَاجِبٍ

أَوِ ارْتِكَابِ مُحَرَّمٍ

وَهَذَا مُسْتَحَبٌّ

وَمَنِ اسْتَثْنَى مِنَ السَّلَفِ

أَوْ ذَكَرَ هَذَا فِي كُتُبِ اعْتِقَادِ السَّلَفِيَّةِ

فَإِنَّمَا أَرَادُوا

الْمَعَانِيَ الصَّحِيحَةَ

وَأَمْثَلُهَا آخِرُهَا

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قِيلَ لَهُ أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ

فَقَالَ مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

يَرْجُو أَنْ يُدْرِكَ كَمَالَ الْإِيمَانِ وَيَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ

تَضْيِيْعَ شَيْءٍ مِنْ شُعَبِهِ

كَانَ ذَلِكَ مِمَّا يُحْمَدُ لَه

Mengapa Rasulullah Sering Berdoa Berlindung dari Hutang? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Mengapa Rasulullah Sering Berdoa Berlindung dari Hutang? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beliau bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Al-Ma’ṡam dan Al-Maghram.” (HR. Bukhari) Al-Ma’ṡam artinya adalah perkara yang karenanya seseorang mendapat dosa karena melakukan maksiat. Dan Al-Maghram adalah sesuatu yang membuat seseorang harus membayar karena sebab hukum jinayat, urusan muamalah, atau yang lainnya…
**(HUTANG ADALAH CONTOH NYATA DARI AL-MAGHRAM)

Jadi, Al-Ma’ṡam terkait dengan hak Allah subḥānahu wa ta’alā, sedangkan Al-Maghram terkait dengan hak-hak terhadap sesama manusia. Kemudian ada yang bertanya, perawi mengatakan, “Kemudian ada yang bertanya, ‘Kenapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?'” “Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?” Ada dalam riwayat An-Nasa’i, karena dalam riwayat ini hanya disebutkan, “Dan seseorang berkata kepada beliau.”
Siapa yang berkata? Disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i bahwa yang bertanya adalah ‘Aisyah Aisyah -semoga Allah meridainya- dengan lafal hadis,
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?’Ini adalah pertanyaan tentang hikmah di balik seringnya Nabi ‘alaihiṣ ṣalātu wassalām meminta perlindungan dari Al-Maghram. Kemudian beliau menjawab dengan perkataan beliau, “Karena seseorang bila punya tanggungan hutang, jika berkata akan dusta dan jika berjanji akan mengingkari.” (HR. An-Nasa’i) Maksudnya, jika seseorang sudah menanggung hutang, dia menjadi seorang gharim. Gharim adalah seseorang yang punya tanggungan hutang pada orang lain yang harus dia lunasi. Oleh karena itu seseorang disyariatkan untuk berdoa kepada Allah berlindung dari Al-Maghram, karena seseorang jika sudah demikian biasanya jika berkata akan dusta dan jika berjanji akan mengingkari. Jika orang yang memberi hutang datang untuk menagih hutang biasanya orang yang berhutang terpaksa berbohong atau menjanjikan sesuatu kemudian dia ingkari. Dan faedah lain dari hadis ini bahwa seseorang selayaknya tidak menjatuhkan diri dalam urusan hutang.

Dan ini adalah masalah yang disepelekan oleh banyak orang, sehingga ada sebagian orang berhutang dengan jumlah yang besar hanya untuk perkara atau benda yang bukan kebutuhan pokok (tersier), dan dia bebani dirinya sendiri dengan hutang yang mungkin dalam waktu yang teramat lama tidak mampu dia lunasi! Hutang adalah perkara yang berat, bukan urusan yang ringan! Dan terdapat hadis dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Uqbah bin ‘Amir, -semoga Allah meridai beliau-, beliau berkata, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan buat dirimu merasa takut setelah mendapat keamanan.”
Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hutang!” (HR. Ahmad) Demikian.

=============================================================================

قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

الْمَأْثَمُ هُوَ الْأَمْرُ الَّذِي يَأْثَمُ بِهِ الْإِنْسَانُ مِنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ

وَالْمَغْرَمُ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ أَدَاؤُهُ

بِسَبَبِ جِنَايَةٍ أَوْ مُعَامَلَةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

فَالْمَأْثَمُ إِشَارَةٌ إِلَى حَقِّ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَالْمَغْرَمُ إِشَارَةٌ إِلَى حُقُوقِ الْعِبَادِ

قَالَ فَقَالَ: إِنَّ قَالَ: فَقَالَ قَائِلٌ

مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟

مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ يَا رَسُولَ اللهِ ؟

جَاءَ فِي رِوَايَةٍ لِلنَّسَائِيِّ هُنَاكَ هُنَا الرِّوَايَةُ قَالَ… قَالَتْ… فَقَالَ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ

مَنِ الْقَائِلُ؟ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ لِلنَّسَائِيِّ أَنَّ السَّائِلَ عَنْ ذَلِكَ عَائِشَةُ

عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَلَفْظُهَا

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟

وَهُوَ سُؤَالٌ عَنِ الْحِكْمَةِ مِنْ كَثْرَةِ اسْتِعَاذَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

مِنَ الْمَغْرَمِ فَأَجَابَ أَجَابَهَا بِقَوْلِهِ

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ – رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

أَيْ صَارَ عَلَيْهِ الدُّيُونُ تَحَمَّلَهَا فَكَانَ… بِذَلِكَ مِنَ الْغَارِمِينَ

الْغَارِمُ هُوَ الْمُتَحَمِّلُ لِحُقُوقٍ لِلنَّاسِ

فَشُرِعَ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الْمَغْرَمِ

لِأَنَّهُ عِنْدَمَا يَكُونُ كَذَلِكَ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ وَيَعِدُ فَيَخْلِفُ

إِذَا أَتَاهُ الدَّائِنُونَ يُطَالِبُونَهُ بِالسَّدَادِ

فَإِنَّهُ يُضْطَرُّ بِأَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْ يَعِدَهُمْ فَيُخْلِفُ

يُسْتَفَادُ مِنَ الْحَدِيثِ أَيْضًا أَنَّ الْمَرْأَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحَمِّلَ نَفْسَهُ دُيُونًا

وَهَذَا أَمْرٌ تَهَاوَنَ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

وَرُبَّمَا يَسْتَدِينُ الْبَعْضُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً

فِي أُمُورٍ فِي أُمُورٍ هِيَ مِنَ الْكَمَالِيَّاتِ

وَيُرْهِقُ نَفْسَهُ فِي الدُّيُونِ

رُبَّمَا يَعِيشُ وَقْتًا طَوِيلًا مِنْ عُمْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُسَدِّدَهَا

وَالدَّيْنُ أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلَيْسَ بِالْهَيِّنِ

وَقَدْ جَاءَ فِي مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُخِيفُوا أَنَفْسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا

قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟

قَالَ الدَّيْنُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ

نَعَمْ

 

Agar Sukses Menuntut Ilmu Tips dari Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Agar Sukses Menuntut Ilmu Tips dari Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Pemula yang baru memulai langkahnya dalam menuntut ilmu Disarankan baginya belajar kitab al-Arba’in karangan Imam an-Nawawi -rahimahullah- atau belajar kitab al-Ushul ats-Tsalatsah. Jika dia telah menentukan kitab untuk dipelajari…Jika dia telah menentukan kitab, maka apa yang harus dia lakukan? Penulis berkata, “Hendaklah dia jadikan mayoritas urusan dan kesibukannya pada kitab tersebut.” Di sini terdapat masalah, jika kamu berhadapan dengan para pemula; Semisal dia datang dan menanyakan (suatu kitab), maka disebutkan satu kitab, lalu disebutkan padanya kitab yang lain…Kemudian disebutkan kitab ketiga, keempat, dan seterusnya…Dia memandangnya sangat banyak…

Dia membayangkan seakan-akan ia tidak mungkin mampu mempelajari semuanya, sehingga dia tidak mau lagi menuntut ilmu! Namun (akan lebih baik) jika dia mencurahkan dirinya pada satu kitab dan tidak terombang-ambing…serta fokus pada satu kitab itu…Seperti yang dikatakan syaikh, “Menjadikan mayoritas urusan dan kesibukannya pada kitab itu… dengan menghafalnya jika memungkinkan.” Yakni menghafalnya dengan hafalan yang kuat, jika dia mampu. Apabila tidak memungkinkan, maka syaikh menunjukkan cara yang bagus sekali;Beliau berkata, “Atau mempelajarinya berulang kali, sehingga makna-maknanya teringat, meski tidak dihafal. Yakni tidak menjadi hafalan seperti ilmu lain yang telah dihafal, namun menjadi seakan-akan seperti hafalan.
Dalam artian, makna-maknanya telah tertanam dalam ingatan. Hal ini jika tidak memungkinkan baginya untuk menghafal. Maka dia dapat memakai cara kedua ini, yaitu dengan mengulangi dan mengulanginya hingga menjadi seperti hafalan. Kemudian dia harus terus mengulanginya selalu. Karena dengan cara inilah ilmu akan menetap dan terjaga.

================================================================================

وَمَثَلًا الْمُبْتَدِئُ الَّذِي هُوَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ الْآنَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ

يُنْصَحُ مَثَلًا بِالْأَرْبَعِيْنَ لِلنَّوَوِيِّ رَحِمَهُ اللهُ

يُنْصَحُ مَثَلًا بِالْأُصُوْلِ الثَّلَاثَةِ

فَإِذَا عَيَّنَ كِتَابًا

إِذَا عَيَّنَ كِتَابًا مَاذَا يَفْعَلُ؟

قَالَ يَجْعَلُ جُلَّ هَمِّهِ وَاشْتِغَالِهِ بِذَلِكَ الْكِتَابِ

هُنَا حَقِيقَةً مُشْكِلَةٌ لِكَيْ تَعْرِضَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُبْتَدِئِيْنَ

يَأْتِي مَثَلًا وَيَسْأَلُ وَيُذْكَرُ لَهُ كِتَابٌ

ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ آخَرَ

ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ ثَالِثٌ ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ رَابِعٌ ثُمَّ وَهَكَذَا

وَيَجِدُ أَنَّهَا أَشْيَاءٌ

يَتَصَوَّرُ أَنَّهُ لَا قِبَلَ لَهُ بِهَا وَلَا طَاقَةَ لَهُ بِهَا

فَيَتْرُكُ الْعِلْمَ مِنْ أَوَّلِهِ

لَكِنْ لَوْ جَمَعَ نَفَسَهُ عَلَى كِتَابٍ وَاحِدٍ وَتَرَكَ التَّشَتُّتَ

وَرَكَّزَ عَلَى الْكِتَابِ

مِثْلُ مَا يَقُولُ الشَّيْخُ يَجْعَلُ جُلَّ هَمِّهِ وَاشْتِغَالِهِ بِذَلِكَ الْكِتَابِ

حِفْظًا عِنْدَ الْإِمْكَانِ

يَعْنِي يَحْفَظُهُ حِفْظًا مُتْقَنًا عِنْدَ الْإِمْكَانِ

عِنْدَ عَدَمِ الْإِمْكَانِ الشَّيْخُ يُرْشِدُ إِلَى طَرِيقَةٍ حَقِيقَةً جَمِيلَةٍ جِدًّا

يَقُولُ أَوْ دِرَاسَةُ تَكْرِيرٍ

بِحَيْثُ تَكُونُ الْمَعَانِي مَعْقُولَةً لَا مَحْفُوظَةً

يَعْنِي يُصْبِحُ لَيْسَ مَحْفُوظًا مِثْلَ الَّذِي حَفِظَهُ

وَإِنَّمَا يُصْبِحُ أَشْبَهَ بِالْمَحْفُوظِ

بِمَعْنَى أَنَّ الْمَعَانِي ثَبَتَتْ عِنْدَهُ وَضَبَطَهَا

هَذَا إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ الْحِفْظُ

يَنْتَقِلُ إِلَى هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الْأُخْرَى

وَهِيَ التِّكْرَارُ التِّكْرَارُ إِلَى أَنْ يُصْبِحَ أَشْبَهَ بِالْمَحْفُوظِ

ثُمَّ لَا يَزَالُ يُكَرِّرُ مَا مَرَّ عَلَيْهِ وَيُعِيدُهُ

لِأَنَّ هَذَا الَّذِي بِهِ ثَبَاتُ الْعِلْمِ وَبَقَاؤُهُ وَحِفْظُهُ

 

Untukmu yang Kembali Berdosa – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Untukmu yang Kembali Berdosa – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Di sini, juga ada pertanyaan, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai guru kami. Kami ingin memberitahu Anda bahwa kami mencintai Anda karena Allah. Pertanyaan kami, ‘Apa nasehat dan arahan Anda bagi penuntut ilmu yang terjatuh pada perbuatan yang dimurkai Allah, kemudian dia bertaubat, namun mengulanginya lagi?” Ulangi, ulangi! Dia berkata, “Pertanyaan kami adalah apa nasehat dan arahan Anda bagi penuntut ilmu yang terjatuh pada perbuatan yang dimurkai Allah, kemudian dia bertaubat namun mengulanginya lagi?”

Pertama, aku meminta kepada Allah yang Maha Dermawan untuk kita semua, agar Dia menjadikan kita semua orang yang saling mencintai karena Allah. Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Taʿālā Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. Kemudian, keadaan seseorang yang dalam hidupnya terjatuh dalam perbuatan dosa dan kesalahan, barangkali juga ia lalai menjaga dirinya, dan menjauhkannya dari maksiat. Ini adalah hal manusiawi bagi setiap orang, karena Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām bersabda, “Semua keturunan Adam pasti berbuat salah, namun sebaik-baik orang bersalah adalah yang sering bertaubat.” (HR. Tirmizi) Dan dalam hadis qudsi Allah Ta’ālā berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, namun Aku mengampuni semua dosa.” “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, namun Aku mengampuni semua dosa. Maka, mintalah ampun kepada-Ku dan Aku akan ampuni kalian.”

Dalam hadis lain, Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām juga mengabarkan bahwa Allah Ta’ālā berfirman, “Jikalau kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan musnahkan kalian, lalu Allah mendatangkan satu kaum (yang berbuat dosa), kemudian mereka meminta ampun, sehingga Dia mengampuni mereka.” Sehingga, seorang hamba tidaklah maksum, namun pasti berbuat salah dan alpa. Namun, dia harus memaksa dirinya selalu dan terus-menerus melakukan tiga perkara, yang dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā akan bermanfaat baginya.

PERTAMA:
Senantiasa dan bersegera bertaubat! Setiap kali dia berbuat salah, dia bersegera bertaubat dari dosa dan kesalahannya.

KEDUA:
Hendaknya dia memperbanyak istighfar. Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām bersabda, “Beruntunglah orang yang mendapati banyak istighfar dalam catatan amalnya.” (HR. Ibnu Majah) Dan dalam hadis qudsi bahwa Allah Ta’ālā berfirman: “Wahai anak Adam, jika dosamu sudah mencapai petala langit, kemudian kalian meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni kalian.” (HR. Tirmizi) Ayat dan hadis tentang keutamaan istighfar ada banyak. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, perbanyaklah beristighfar.

KETIGA:
Memperbanyak dan bersegera beramal kebaikan.
Allah Taʿālā telah berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik akan menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114) Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām berwasiat kepada Muʿaḏ bin Jabal—semoga Allah meridainya— ketika beliau mengutusnya ke Yaman, beliau bersabda, “Bertakwalah kamu di manapun berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmizi)

================================================================================

هُنَا سُؤَالٌ أَيْضًا يَقُولُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا

نُخْبِرُكُمْ بِأَنَّا نُحِبُّكُمْ فِي اللهِ

سُؤَالِيْ هُوَ مَا هِيَ نَصِيحَتُكُمْ وَتَوْجِيهُكُمْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ

يَقَعُ فِي بَعْضِ مَسَاخِطِ اللهِ وَيَتُوبُ

ثُمَّ يَرْجِعُ بَعْدَ ذَلِكَ… أَعِدْ أَعِدْ

يَقُولُ سُؤَالِي هُوَ مَا هِيَ نَصِيحَتُكُمْ وَتَوْجِيهُكُمْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَوْ لِطَالِبِ عِلْمٍ

يَقَعُ فِي بَعْضِ مَسَاخِطِ اللهِ وَيَتُوبُ ثُمَّ يَرْجِعُ بَعْدَ ذَلِكَ

أَوَّلًا أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ لَنَا أَجْمَعِيْنَ

أَنْ يَجْعَلَنَا مِنَ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللهِ

إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيعٌ مُجِيبٌ

وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَتَعَرَّضُ فِي حَيَاتِهِ لِلْوُقُوعِ

فِي بَعْضِ الذُّنُوبِ وَالْأَخْطَاءِ وَرُبَّمَا أَيْضًا يَفُوتُهُ أَنْ يَزُمَّ نَفْسَهُ

وَأَنْ يُبْعِدَهَا عَنِ الْمَعَاصِي فَهَذَا عُرْضَةٌ لَهُ الْإِنْسَانُ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

وَفِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ تُذْنِبُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُذْنِبُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

وَأَيْضًا فِي الْحَدِيثِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ اللهُ تَعَالَى

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ

وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

فَالْعَبْدُ لَيْسَ الْمَعْصُومَ الْعَبْدُ عُرْضَةٌ لِلْخَطَأِ وَالتَّقْصِيرِ

لَكِنْ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ دَائِمًا وَأَبَدًا عَلَى الْعِنَايَةِ بِأُمُورٍ ثَلَاثَةٍ

يَنْفَعُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَا

أَلَا وَهِيَ مُلَازَمَةُ التَّوْبَةِ وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا

وَكُلَّمَا بَدَرَ مِنْهُ خَطَأٌ يُبَادِرُ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ خَطَأِهِ وَتَقْصِيرِهِ

وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَّ اللهَ يَقُولُ

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ

ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

وَالْآيَاتُ وَالْأَحَادِيثُ فِي فَضْلِ الْاِسْتِغْفَارِ كَثِيرَةٌ

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ

وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

فَالْإِكْثَارُ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

الْأَمْرُ الثَّالِثُ الْإِكْثَارُ مِنَ الْحَسَنَاتِ وَالْمُسَارَعَةُ إِلَيْهَا

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

وَيَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي وَصِيَّتِهِ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

عِنْدَمَا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Di antara asas pergaulan rumah tangga adalah menampakkan cinta dengan ucapan dan perbuatan, dan melakukan hal-hal yang bisa menambah rasa cinta. Manusia secara naluriah membutuhkan kasih sayang dan cinta; seorang suami membutuhkan istri yang mencintainya dan menampakkan cinta dan kasih sayang padanya, dengan perkataan dan perbuatannya; seorang istri pun membutuhkan cinta yang ditampakkan padanya, dengan perkataan dan perbuatan.

Oleh sebab itu, para lelaki harus menyadari hal ini, karena tabiat seorang lelaki, cenderung tidak banyak bicara dan bertutur kata, sehingga sebagian mereka melalaikan kebutuhan istrinya yang ingin cinta ditampakkan padanya, dan diajak ngobrol dengan kata-kata yang romantis, yang menunjukkan rasa cinta dan sayang. Sehingga perkara ini adalah salah satu asas penting dalam pergaulan rumah tangga. Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” Hadis ini ada dalam Ṣahīhain.

Perhatikan! Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau menunjukkan cinta beliau kepada Aisyah di hadapan orang-orang. Ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau tidak berkata, “Abu Bakar,” tapi berkata, “Ayahnya.” Ini adalah bentuk beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan rasa cintanya. Beliau juga menunjukkan kecintaan beliau dengan perbuatan beliau, diriwayatkan dari Aisyah—semoga Allah meridainya—dia berkata, “Aku pernah minum ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan gelasku kepada beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau meletakkan bibirnya pada tempat bekas bibirku (di gelas), kemudian beliau minum. Aku juga pernah memakan daging ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan tulangnya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau meletakkan mulutnya pada tempat bekas gigitanku. Hadis riwayat Muslim dalam kitab Sahih beliau.

Jadi, Aisyah ketika sedang haid, beliau mengambil gelas, kemudian minum, kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi menerima gelas bekas Aisyah minum, dan tidak sampai di sini saja, tapi memutar gelasnya ke posisi yang darinya Aisyah minum, tempat bekas bibir Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— kemudian Nabi minum dari tempat bekas Aisyah minum, —ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam wa raḍiya ʿanha— Dan ketika Aisyah menggigit al-‘Arq, yaitu tulang yang ada dagingnya, dia menggigitnya kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menerimanya, dan meletakkan mulutnya pada bekas mulut Aisyah, dan menggigit dari tempat itu.

Dari kisah ini, pada perbuatan Nabi ini, ada wujud menampakkan besarnya kecintaan, dan menunjukkan luasnya kasih sayang, ketika Nabi meminum dari gelas di tempat bekas mulutnya Aisyah, dan tidak sampai di sini saja, bahkan Nabi sengaja meletakkan mulut beliau—ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam—yang mulia, pada bekas mulutnya Aisyah. Bayangkan jika seorang suami melakukan hal ini kepada istrinya, betapa besar cinta yang akan masuk ke dalam hatinya? Dan betapa besar hal ini akan menambah kecintaanya kepada suaminya? Begitu juga ketika makan, Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menggigit daging pada tempat bekas gigitan Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— Ini adalah perkara agung, yang seorang lelaki dan wanita harus memahaminya, dan mengamalkannya, karena betapa butuhnya rumah tangga zaman sekarang terhadap pemenuhan cinta dan kasih sayang.

=========================================================================

وَمِنْ أُصُولِ الْعِشْرَةِ فِي الْبَيْتِ إِظْهَارُ الْمَحَبَّةِ قَوْلًا وَعَمَلًا

وَفِعْلُ مَا يَزِيدُ الْمَحَبَّةَ

الْإِنْسَانُ فِي خِلْقَتِهِ يَحْتَاجُ إِلَى الْعَاطِفَةِ يَحْتَاجُ إِلَى الْمَحَبَّةِ

فَالزَّوْجُ يَحْتَاجُ أَنْ تَتَحَبَّبَ إِلَيْهِ زَوْجَتُهُ وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَوَدَّةَ بِقَوْلِهَا وَفِعْلِهَا كَذَلِكَ

وَالزَّوْجَةُ كَذَلِكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَنْ تُظْهَرَ لَهَا الْمَحَبَّةُ

بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَيَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ أَنْ يَتَنَبَّهُوا لِهَذَا

لِأَنَّ طَبِيعَةَ الرَّجُلِ فِي الْغَالِبِ لَا تَمِيلُ إِلَى الْأَقْوَالِ لَا تَمِيلُ إِلَى اللِّسَانِ

فَيُهْمِلُ بَعْضُ الْأَزْوَاجِ حَاجَةَ امْرَأَتِهِ إِلَى أَنْ يُظْهِرَ لَهَا الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ يُكَلِّمَهَا بِالْكَلَامِ الطَّيِّبِ الَّذِي فِيهِ الْحُبُّ وَالْوُدُّ

فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ مِنَ الْأُصُولِ الْمُهِمَّةِ فِي الْعِشْرَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

قَالَ: أَبُوهَا

وَالْحَدِيثُ فِي الصَّحِيحَيْنِ

فَانْظُرُوْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ: مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

فَأَظْهَرَ حُبَّهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَمَامَ النَّاسِ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

مَا قَالَ: أَبُو بَكْرٍ
قَالَ: أَبُوهَا

وَذَلِكَ إِظْهَارًا لِمَحَبَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُظْهِرُ مَحَبَّتَهُ بِأَعْمَالِهِ

فَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

يَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ

فَعَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَهِيَ حَائِضٌ تَأْخُذُ الْإِنَاءَ فَتَشْرَبُ

فَتُعْطِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَأْخُذُ مِنْهَا الْإِنَاءَ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يُدِيرُ الْإِنَاءَ إِلَى الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرَبَتْ مِنْهُ

إِلَى مَوْضِعِ فَمِهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

فَيَشْرَبُ مِنَ الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَضِيَ عَنْهَا

وَتَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ أَيْ الْعَظْمَ عَلَيْهِ اللَّحْمُ تَتَعَرَّقُ

ثُمَّ تُنَاوِلُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْخُذُهُ

وَيَضَعُ فَمَهُ عَلَى مَوْضِعِ فَمِهَا وَيَأْكُلُ مِنْهُ

وَفِي هَذِهِ فِي هَذَا الْعَمَلِ إِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَحَبَّةِ

وَإِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَوَدَّةِ يَشْرَبُ مِنَ الْإِنَاءِ وَقَدْ شَرِبَتْ مِنْهُ

وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يَتَعَمَّدُ أَنْ يَضَعَ فَمَهُ الشَّرِيفَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْضِعَ فَمِهَا

اُنْظُرْ لَوْ أَنَّ الزَّوْجَ فَعَلَ هَذَا مَعَ زَوْجَتِهِ

كَمْ يُدْخِلُ هَذَا السُّرُورَ إِلَى قَلْبِهَا؟

وَكَمْ يَجْعَلُهَا تَزْدَادُ مَحَبَّةً لَهُ؟

كَذَلِكَ فِي الطَّعَامِ يَتَعَرَّقُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَرْقَ

فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي تَعَرَّقَتْ مِنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ أَنْ يَفْقَهُوهُ

وَأَنْ يَعْمَلُوا بِهِ مَا أَحْوَجَ الْبُيُوتَ الْيَوْمَ إِلَى أَنْ تُمْلَأَ بِالْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

Tawakal yang baik dan benar kepada Allah, adalah ketika seseorang rida dengan apa yang Allah Taʿāla takdirkan untuknya. Yaitu, sekarang, saat Anda berkata, “Aku bertawakal kepada Allah,” apa arti tawakal tersebut? Artinya, Anda serahkan urusan Anda kepada Allah, yaitu, Anda menjadikan Allah sebagai wakil (pelindung & penjamin) dalam urusan ini, biarkan Allah Jalla wa ‘Alā melakukan apa yang Dia kehendaki, mengatur semua urusan Anda. Dia yang mengatur urusannya—Dan hanya Allah pemilik sifat yang sempurna—seperti ketika Anda menunjuk seseorang untuk mewakili Anda (wakālah), apa artinya? Misalnya, mewakili Anda untuk membeli sesuatu untuk kebutuhan Anda. Anda beri dia uang dan berkata, misalnya, “Belikan ini untukku!” Ini adalah wakālah. Ini tentu boleh, karena hati Anda tetap bergantung kepada Allah, dan ini hanya sekadar perantara saja.

Baiklah, orang ini, seandainya dia membeli untuk Anda, sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda. Dia membelikan apa yang Anda butuhkan, tapi Anda tidak menyukainya, misalnya, Anda kesal dan marah kepadanya. Anda katakan, “Kamu tak paham sama sekali! Kamu begini dan begitu!” Anda seolah-olah tidak rida dengan perwakilannya untuk Anda. —Hanya Allah yang memiliki sifat yang sempurna—ini hanya sebagai analogi saja. Seseorang berkata, “Aku bertawakal kepada Allah, dan menyerahkan urusanku kepada-Nya.” Namun kemudian Allah takdirkan kepada Anda, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan Anda, tidak Anda inginkan, dan tidak Anda sukai. Jika Anda memang benar-benar jujur bertawakal kepada Allah, pasti Anda rida dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Oleh karena itu, Bišri al Hāfi—semoga Allah Ta’āla merahmatinya—berkata, “Seseorang berkata bahwa dia bertawakal kepada Allah, padahal dia sedang berdusta kepada-Nya.” Beliau berkata, “Jika memang benar dia bertawakal kepada-Nya, pastilah rida dengan apa yang ditakdirkan untuknya.” Jika benar tawakalnya, pasti dia rida dengan apapun yang Allah Ta’āla lakukan untuknya. Karena hakikat tawakal adalah keridaan, rida kepada Allah Ta’āla! Inilah tanda tawakal yang benar kepada Allah. Maka, perhatikan! Ketika Nabi ṣallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah!” Kemudian beliau berkata, “Dan jangan kamu lemah!” Kemudian beliau berkata, “Janganlah kamu berkata, …” Beliau berkata, “Jika suatu keburukan menimpamu, jangan kamu berkata, … ‘Seandainya aku berbuat ini dan itu pasti aku akan begini dan begitu,’ namun katakan, ‘Allah telah menetapkan takdirnya, dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki,’ karena kata ‘seandainya’ membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana Nabi ṣallāhu ‘alaihi wa sallam memperingatkan, setelah beliau memotivasi kita untuk bertawakal kepada Allah, beliau mengingatkan juga apa yang seharusnya dilakukan setelah bertawakal kepada-Nya, ketika apa yang diharapkan tidak tercapai. Jangan Anda berkata, “Seandainya aku berbuat ini dan itu pasti aku akan begini dan begitu,” kemudian Anda murka dengan takdir Allah, karena hal ini bertentangan dengan makna tawakal kepada-Nya, Tapi hendaknya Anda berkata, “Allah telah menetapkan takdir-Nya, dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki.” Beginilah hati orang yang bertawakal, dia rida dengan Rabb-Nya yang Mahamulia dan Mahatinggi.

===============================================================================

حُسْنُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَصِحَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَرْضَى

بِمَا يُقَدِّرُهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

يَعْنِي الْآنَ أَنْتَ لَمَّا تَقَوْلُ: أَنَا تُوَكَّلْتُ عَلَى الله أَيشْ مَعْنَى هَذَا؟

أَنَّكَ أَنْتَ فَوَّضْتَ أَمْرَكَ إِلَى اللهِ

يَعْنِي جَعَلْتَ اللهَ وَكِيْلًا لَكَ فِي هَذَا الْأَمْرِ

يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ يُدَبِّرُ أَمْرَكَ هُوَ جَلَّ وَعَلَا

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِثْلُ مَا أَنَّكَ وَلِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

أَنْتَ مَا مَعْنَى الْوَكَالَةِ لَمَّا تُوَكِّلُ إِنْسَانًا

مَثَلًا أَنْ يَشْتَرِيَ لَكَ شَيْئًا حَاجَةً

تُعْطِيهِ الْمَبْلَغَ وَتَقُولُ لَهُ اشْتَرِ لِي هَذِهِ الْحَاجَةَ مَثَلًا هَذِهِ الْوَكَالَةُ

هَذَا جَائِزٌ طَبْعًا لِأَنَّ قَلْبَكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ هَذَا مُجَرَّدُ السَّبَبِ

طَيِّبٌ هَذَا الْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ نَفْرِضُ أَنَّهُ يَعْنِي مَا وُفِّقَ لِشِرَاءِ الْحَاجَةِ

اِشْتَرَى لَكَ حَاجَةً وَمَا أَعْجَبَتْكَ مَثَلًا

فَإِذَا تَضَجَّرْتَ وَسَخَطْتَ عَلَيْهِ

قُلْتَ: أَنْتَ مَا تَعْرِفُ الشَّيْءَ وَأَنْتَ كَذَا وَكَذَا

فَأَنْتَ كَأَنَّكَ مَا رَضِيْتَ بِوَكَالَتِهِ

لِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى مِنْ بَابِ التَّقْرِيبِ

إِنْسَانٌ يَقُولُ: تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ فَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَى اللهِ

طَيِّبٌ ثُمَّ يُقَدِّرُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْكَ مَا لَا يُلَائِمُكَ

مَا لَا تُرِيدُ أَنْتَ مَا لَا تُحِبُّهُ

فَإِنْ كُنْتَ صَادِقًا فِي تَوَكُّلِكَ لَرَضِيْتَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ

وَلِذَلِكَ يَقُولُ: بِشْرٌ الْحَافِيّ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

يَقُولُ أَحَدُهُمْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَهُوَ يَكْذِبُ عَلَى اللهِ

قَالَ لَوْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ لَرَضِيَ بِمَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

لَوْ تَوَكَّلَ عَلَى الله لَرَضِيَ بِمَا يَفْعَلُ اللهُ تَعَالَى بِهِ

فَحَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ الرِّضَا الرِّضَا بِاللهِ

هَذِهِ عَلَامَةُ صِحَّةِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

وَلِذَلِكَ تَأَمَّلْ! النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَالَ

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

قَالَ: وَلَا تَعْجَزْ

ثُمَّ قَالَ: وَلَا تَقُلْ

قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ

لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا

وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

فَتَأَمَّلْ كَيْفَ نَبَّهَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

بَعْدَ أَنْ حَثَّنَا عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

نَبَّهَ عَلَى مَا يَكُونُ بَعْدَ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

فِي حَالَةِ عَدَمِ تَحَقُّقِ الْمَطْلُوبِ

لاَ تَقُلْ لَوْ فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا

وَسَخَطَ عَلَى قَدَرِ اللهِ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ

وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

هَذَا قَلْبُ الْمُتَوَكِّلِ مُطْمَئِنٌّ بِرَبِّهِ جَلَّ وَعَلَا