Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

طَيِّبٌ لَوْ قَالَ قَائِلٌ
Baik, andai ada yang mengucapkan zikir,…

(Bagian yang ana kasih font merah tolong di video di kasih warna kuning ya akhi..)

وَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“…dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepadaku meski hanya sekejap mata ATAU LEBIH SINGKAT DARI ITU.”

لَمْ تَثْبُتْ؟
(Ada yang menjawab)
“Tidak shahih dalilnya.”

لَمْ تَرِدْ أَصْلًا
(Ada yang menjawab)
“Bahkan tidak ada dalilnya.”

لَكِنَّ الْكَلَامَ لَوْ قَالَهَا
Namun seandainya ada yang mengucapkannya.

لَوْ أَنَّهُ فِي الذِّكْرِ قَالَ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
Andai ada yang menambah zikir dengan, “… atau lebih singkat dari itu.”

هَا؟
Apa?

لِمَاذَا؟
Mengapa?

أَيْش؟
Apa?

التَّكَلُّفُ
(Ada yang menjawab)
“Terlalu memaksakan…”

لَوْ كَانَ فِيهَا خَيْرٌ لَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Ada yang menjawab)
“Seandainya itu baik, pasti diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”

هَا ؟
Apa?

يَعْنِي بِمَعْنَى التَّوْقِيفِيَّة
(Ada yang menjawab)
“Yakni harus sesuai tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”

دَعَوْنَا نُقَرِّرُ أَصْلًا عَامًّا
Biarkan kita tetapkan kaidah umumnya terlebih dahulu.

هَلْ تَجُوزُ الزِّيَادَةُ فِي أَذْكَارِ الْأَلْفَاظِ أَمْ لَا تَجُوزُ ؟
Apakah dibolehkan menambah lafazh zikir atau tidak?

حَتَّى نُجِيْبَ
Agar kita dapat menjawab ini.

الرُّجُوعُ إلَى الْأُصُولِ أَهَمُّ مِنَ التَّفَارِيْقِ وَالفُصُولِ
Kembali pada kaidah lebih penting daripada terombang-ambing dalam perkara turunannya.

وَلِذَلِك الْعِلْمُ الْمَبْنِيُّ عَلَى قَوَاعِدَ وَأُصُولٍ
Oleh sebab itu, ilmu yang terbangun di atas kaidah-kaidah,

يَحْمِي الْمُتَكَلِّمَ فِيهِ مِنَ الْغَلَطِ
akan menjauhkan orang yang membahasnya dari kesalahan.

أَمَّا الَّذِي يَنْظُرُ إلَى أَفْرَادِ الْمَسَائِلِ يَخْتَلُّ عِلْمُهُ
Adapun yang hanya mencermati perkara turunannya saja, ilmunya ada kecacatan.

فَتَارَةً يَقُولُ كَلِمَةً يُنَاقِضُهَا فِي مَوْضِعٍ آخَرَ
Terkadang yang ia katakan menyelisihi perkataannya di masalah lain.

لِأَنَّ الْأُصُولَ عِنْدَهُ لَمْ تَنْضَبِطْ
Sebab kaidah yang ia miliki tidak tertata.

فَلِذَلِكَ مَا الْجَوَابُ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ
Jadi, apa jawaban dari permasalahan kita ini?

أَيْش ؟
Apa?

يَقُولُ إذَا كَانَ مُتَعَبَّدٌ بِاللَّفْظِ فَيَجُوزُ
(Ada yang menjawab)
“Jika zikir itu lafazhnya dimaksudkan sebagai ibadah, maka boleh…

لَكِنَّ غَيْرَ مُتَعَبَّدٍ بِاللَّفْظِ فَلَا يَجُوزُ
…namun jika lafazhnya tidak dimaksudkan sebagai ibadah, maka tidak boleh…”

يَعْنِي
Bukan.

أَيْش ؟
Apa?

يَعْنِي مَا تَجُوزُ زِيَادَةٌ
(Ada yang menjawab)
“Yakni tidak boleh ada tambahan lafazh…”

طَيِّبٌ
Baiklah.

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟
Kita atau para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lebih banyak ilmunya?

مَا الْجَوَابُ ؟
Apa jawabannya?

أَنْتَ مَا الْجَوَابُ ؟
Kamu, apa jawabannya?!

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمِ الصَّحَابَةُ
Kita atau para sahabat yang lebih banyak ilmunya?

الصَّحَابَةُ
Para sahabat.

فَابْنُ عُمَرَ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا ذَكَرَ تَلْبِيَةَ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dalam ash-Shahih, Ibnu Umar ketika menyebutkan doa talbiyah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

قَالَ وَزِدْتُ أَنَا
ia berkata, “Dan aku menambah lafazhnya…
لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ . إلَى آخِرِ مَا ذَكَرَ
‘Labbaika wa sa’daika…’” dan seterusnya.

قَال زِدْتُ أَنَا
Ia berkata, “Aku menambahnya.”

وَصَحَّتِ الزِّيَادَةُ فِي الْأَذْكَارِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ
Penambahan lafazh zikir telah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

الْجَوَابُ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ
Jadi jawabannya, penambahan lafazh zikir dibolehkan.

الزِّيَادَةُ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ
Penambahan lafazh zikir dibolehkan…

بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi.
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ibadah shalat)

أَنْ لَا يَكُونُ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi).
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti ibadah shalat)

كَالصَّلَاةِ
Seperti bacaan dalam shalat.
(Jadi bacaan shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, TIDAK BOLEH DITAMBAH)

فَالصَّلَاةُ الْأَصْلُ أَنَّ أَلْفَاظَهَا مُقَيَّدَةٌ بِمَا وَرَدَ
Pada dasarnya, bacaan shalat terikat dengan tuntunan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

أَمَّا الدُّعَاءُ الْعَامُّ
Adapun doa yang bersifat umum,

فَهَذَا لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ
seseorang dapat menambah lafazhnya sesuai yang ia kehendaki…

لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ
seseorang dapat menambahnya sesuai yang ia kehendaki…

فَمَثَلًا مِنَ الدُّعَاءِ الْعَامِّ مَثَلًا
Contoh doa yang umum seperti ucapan,…

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
“Subhanallah wa bihamdihi” yang dibaca di siang dan malam hari.

طَيِّبٌ لَو إِنْسَانٌ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Baik, seandainya seseorang mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi wa atubu ilaihi”…

كَانَ ذَلِكَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ
maka tambahan itu tidak terlarang.

كَانَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ
Penambahan itu tidak dilarang.

لَكِنْ الْمُقَيَّدُ بِمَحَلٍّ
Namun zikir yang terikat dengan pembacaan pada ibadah tertentu

فَهَذَا الْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَبْقَى عَلَى تَقْيِيدِهِ
maka pendapat yang lebih kuat, tetap harus diamalkan sesuai lafazh yang ada.

لَكِنَّ الزِّيَادَةَ تَكُونُ حِيْنَئِذٍ جَائِزَةٌ
Tapi penambahan lafazh itu dibolehkan (jika sesuai dengan syarat di atas),

وَلَيْسَتْ مَطْلُوبَةً
dan tidak diharuskan.

يَعْنِي لَيْسَتْ مُسْتَحَبَّةً فَضْلاً عَنْ أَنْ تَكُونَ وَاجِبَةً
Yakni bukan perkara yang dianjurkan, terlebih lagi diwajibkan.

فَيَجُوز لَكِنَّ
Ia boleh dilakukan, namun…

لَكِنَّهَا غَيْرُ مَطْلُوبَةٍ
namun tidak diharuskan.

وَأَمَّا فِي هَذَا الْمَحَلِّ فَلَا
Adapun penambahan lafazh yang kita bahas di awal, tidak diperbolehkan…
لِمَاذَا ؟
Mengapa?

لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ مَعْنىً
Karena itu adalah tambahan yang tidak benar dari sisi maknanya.

كَمَا قَالَ الْأَخُ
seperti ucapan saudara kita tadi.

أَنَّ إِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ
Yakni jika seseorang mengucapkan,

طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“…meski hanya sekejap mata, atau lebih singkat dari itu.”

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”

فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ هُوَ طَرَفةُ الْعَيْنِ
Karena yang paling singkat adalah kejapan mata.

فَمَا هُوَ أَقَلُّ مُنْدَرِجٌ فِي قَوْلِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Sehingga yang lebih singkat dari itu, masuk dalam cakupan kata ‘sekejap mata’

فَلَا أَقَلَّ مِنَ الْحَدِّ الَّذِي انْتَهَى إلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Tidak ada yang lebih singkat dari batas yang disebutkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

نَعَم
Demikian.

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

وَقَدْ أَمَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
Allah -subhanah- memerintahkan dalam al-Qur’an al-Karim…

بِتَحَجُّبِ النِّسَاءِ وَلُزُوْمِهِنَّ الْبُيُوتَ
para wanita untuk menutup aurat dan menetap di rumah…

وَحَذَّرَ مِنَ التَّبَرُّجِ وَالْخُضُوعِ بِالْقَوْلِ لِلرِّجَالِ
dan melarang wanita mengumbar aurat serta mendayu-dayu saat berbicara dengan lelaki.

صِيَانَةً لَهُنَّ عَنِ الْفَسَادِ وَتَحْذِيْرًا لَهُنَّ مِنْ أَسْبَابِ الْفِتْنَةِ
Dengan tujuan menghindarkan wanita dari kerusakan, dan tidak menjadi sebab fitnah.

وَقَالَ تَعَالَى يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ
Allah Ta’ala berfirman: “Hai isteri-isteri Nabi,…

لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ
kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa;…

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
maka jangan kalian tunduk dalam berbicara sehingga mengundang nafsu orang yang hatinya berpenyakit.

وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Dan ucapkanlah perkataan yang baik,…

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian,…

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ الْأُولَى
dan janganlah kalian mengumbar aurat seperti orang Jahiliyah dahulu,

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ
dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ . الْآيَةَ
dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al-Ahzab: 32-33)

بَدَأَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Penulis -rahimahullahu Ta’ala- memulainya dengan…

فِي ذِكْرِ الْأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى حُرْمَةِ التَّبَرُّجِ
menyebutkan dalil haramnya mengumbar aurat…

وَعَظِيْمِ خَطَرِهِ
dan besarnya bahayanya.

فَأَوْرَدَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Beliau menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ
“Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain…”

الْآيَةَ مِنْ سُورَةِ الْأَحْزَابِ
Ayat dari surat al-Ahzab.

وَهَذِهِ الْآيَةُ تَوَهَّمَ مُتَوَهِّمُوْنَ
Banyak orang yang menganggap bahwa ayat ini…

أَنَّهَا مُخْتَصَّةٌ بِأَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
hanya khusus ditujukan bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَلَا تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ حُكْمًا عَامًّا
sehingga tidak dapat diterapkan sebagai hukum yang umum…

لِنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ
bagi seluruh istri kaum mukmin.

وَهَذَا الَّذِي تَوَهَّمُوْهُ مَرْدُوْدٌ
Dan anggapan ini terbantahkan,…

مِنْ أَرْبَعَةِ وُجُوهٍ
melalui empat bantahan.

فَالْوَجْهُ الْأَوَّلُ تَمَامُ الْآيَةِ
BANTAHAN PERTAMA:
Kandungan dari keseluruhan ayat ini…

إِذْ فِيهِ قَوْلُهُ تَعَالَى
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan,

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat,..

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ
dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”

فَإِنَّ هَذِهِ الْأَوَامِرَ أَحْكَامٌ عَامَّةٌ
Perintah-perintah ini merupakan hukum-hukum yang umum…

لَا تَخْتَصُّ بِنِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
tidak hanya berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam…

فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْمَأْمُورَ بِهِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ
maka ini menunjukkan bahwa perintah dalam ayat ini…

وَالْمَنْهِيَّ عَنْهُ شَامِلٌ لِجَمِيْعِ النِّسَاءِ
dan juga larangannya, berlaku bagi seluruh kaum wanita.

وَإِنَّمَا خُصَّ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِطَابِ
Adapun para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan secara khusus,

تَعْظِيْمًا لَهُنَّ
sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka,

إِذْ هُنَّ أَوْلَى النِّسَاءِ
sebab mereka wanita yang paling utama…

بِإِحْرَازِ هَؤُلَاءِ الْكَمَالَاتِ
untuk mendapat hal-hal yang sempurna itu.

كَأَمْرِهِ عَزَّ وَجَلَّ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ
Ini sama seperti perintah Allah -‘Azza wa Jalla- kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ
“Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah.”

أَوْ قَوْلِهِ فَاصْبِرْ
Atau firman-Nya, “Bersabarlah…

كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فِي آيٍ أُخَرَ
seperti kesabaran para rasul ulul azmi,” yang disebutkan dalam ayat lain.

فَإِنَّ مُبَاشَرَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ
Penyebutan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada perintah itu,…

لِإِرَادَةِ تَعْظِيْمِهِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ
untuk memuliakan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

ثَانِيهَا
BANTAHAN KEDUA:

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ عِلَّةَ ذَلِكَ
Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan sebab larangan itu…

بِقَوْلِهِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
dengan berfirman, “Sehingga timbul nafsu pada orang yang ada penyakit dalam hatinya.”

وَهَذِهِ الْعِلَّةُ لَا يَقْتَصِرُ وُجُودُهَا
Dan sebab ini tidak hanya terjadi…

عَلَى جَنَابِ حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

بَلْ هِيَ عِلَّةٌ مَوْجُوْدَةٌ
Namun sebab ini dapat terjadi…

فِي سَائِرِ مَا يَجْرِي مِنَ الْخِطَابِ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ
pada setiap perbincangan yang terjadi antara lelaki dan wanita.

وَمِنْ قَوَاعِدِ الْأُصُولِ
Dan salah satu kaidah ushul fiqih disebutkan:

أَنَّ عُمُومَ الْعِلَّةِ
“Keumuman sebab…

يُوجِبُ تَعْمِيْمَهَا فِي الْأَفْرَادِ
mengharuskan keumuman hukumnya bagi semua orang.”

فَكَمَا يُخْشَى مِنْ طَمَعِ
Sebagaimana dikhawatirkan timbulnya nafsu…

مَنْ فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ فِي حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
dari orang yang ada penyakit dalam hatinya terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

فَإِنَّهُ يُخْشَى مِنْهُ فِي الطَّمَعِ بِحُرَمِ غَيْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kekhawatiran ini juga dapat timbul terhadap wanita selain istri beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

وَثَالِثُهَا
BANTAHAN KETIGA:

أَنَّ تَوْجِيهَ الْخِطَابِ بِمَا ذُكِرَ إِلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Penyebutan perintah kepada para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

مَعَ عِفَّتِهِنَّ وَطَهَارَتِهِنَّ
padahal mereka begitu menjaga kehormatan dan kesucian,

دَالٌّ عَلَى أَنَّ غَيْرَهُنَّ مِنَ النِّسَاءِ
menunjukkan bahwa wanita selain mereka…

مُلْحَقٌ بِهِنَّ
juga masuk bersama mereka dalam perintah ini.

فَإِنَّ النِّسَاءَ لَا يَبْلُغْنَ مَبْلَغَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sebab wanita lain tidak setara dengan para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

مِنْ مَرَاتِبِ الطَّهَارَةِ وَالْعَفَافِ
dalam tingkat kesucian dan kehormatan,…

وَالْبُعْدِ عَنْ أَسْبَابِ الْغَوَايَةِ وَالرَّدْءِ
serta keselamatan dari sebab kesesatan dan perbuatan hina.

وَرَابِعُهَا
BANTAHAN KEEMPAT:

أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ
Bahwa perintah dan larangan ini…

إِذَا كَانَ وَاقِعًا فِي زَمَنِ الْقَرْنِ الْأَوَّلِ
jika diturunkan pada abad pertama,

مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
di zaman para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

مَعَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى
padahal ketakwaan mereka begitu tinggi…

وَكَمَالِ الْأَحْوَالِ
dan keadaan mereka begitu sempurna,

فَجَرَيَانُهُ فِي قُرُونِ الْأُمَّةِ الْأُخْرَى
maka penerapan hukum ini terhadap umat di zaman setelahnya…

أَحْرَى وَأَوْلَى
lebih layak dan lebih utama.

نَعَمْ
Demikian.

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama

كَانَ غُلَامٌ مِنَ الْيَهُودِ يَخْدِمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ

Dulu ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menjelang ajalnya,

فَجَاءَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهُ فَقَالَ لَهُ يَا غُلَامُ قُلْ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, kemudian berkata kepadanya, “Wahai pemuda, katakanlah: “Laa ilaaha illallaah (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah!)”

فَنَظَرَ الْغُلَامُ إِلَى أَبِيهِ فَقَالَ أَبُوهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ فَقَالَ الْغُلَامُ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ

Pemuda tersebut lantas menatap ayahnya. Ayahnya berkata, “Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad)!” Maka pemuda tersebut mengucapkan, “Laa ilaaha illallaah (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah!)”

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ تَوَلَّوْا أَخَاكُمْ

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya (setelah pemuda tersebut wafat), “Urusilah jenazah saudara kalian ini!”

يَعْنِي جَهِّزُوهُ وَكَفِّنُوهُ لِأَنَّهُ صَارَ مُسْلِمًا وَخُتِمَ لَهُ بِالْإِسْلَامِ فَصَارَ لَهُ حُكْمُ الْمُسْلِمِينَ

Maksudnya urusi jenazahnya dan kafani dia karena dia sudah menjadi seorang muslim dan meninggal di atas islam sehingga dia sama seperti muslim yang lainnya.

قَالَ لَهُمْ تَوَلَّوْا أَخَاكُمْ ثُمَّ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ بِي مِنَ النَّارِ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيْرُهُ

Beliau bersabda kepada para sahabat beliau, “Urusilah jenazah saudara kalian.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka dengan perantara aku.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)

فَهَذَا دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ هَذِهِ الْكَلِمَةِ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Ini adalah bukti keutamaan kalimat Laa ilaaha illallaah di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

مَا بَالُكُمْ بِكَلِمَةٍ تَعْدِلُ السَّمَاوَاتُ وَالْأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ

Bagaimana pendapat kalian tentang kalimat yang setara dengan langit dan bumi beserta isi keduanya? Sungguh Laa ilaaha illallaah adalah kalimat yang sangat agung.

وَقَدْ جَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ مُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ يَا رَبِّي عَلِّمْنِي شَيْئًا عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ

Terdapat sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Musa ‘alaihis salam berkata, “Wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu.. ajarkanlah sesuatu yang aku bisa berzikir dan berdoa dengannya.”

قَالَ يَا مُوسَى قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ قَالَ يَا رَبِّي كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُونَ هَذَا

Allah berfirman, “Wahai Musa, ucapkan, “Laa ilaaha illallaah (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah!)” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan kalimat ini.”

قَالَ يَا مُوسَى لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرْضِيْنَ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ فِي كِفَّةٍ

Allah berfirman, “Wahai Musa, andai kata langit yang tujuh tingkat beserta seluruh isinya, selain Aku, dan bumi yang tujuh lapis beserta seluruh isinya berada dalam salah satu sisi timbangan…

وَلَا إلَهَ إِلَّا اللهُ فِي كِفَّةٍ مَالَتْ بِهِنَّ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيْرُهُ

Sedangkan kalimat Laa ilaaha illallaah berada pada sisi yang lainnya, niscaya Laa ilaaha illallaah akan lebih berat dari pada semua itu.” (HR. Al-Hakim dan selainnya)

فَهِيَ كَلِمَةٌ عَظِيمَةٌ تَرْجُحُ بِالسَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَبِجَمِيعِ الْمَخْلُوقَاتِ

Inilah kalimat yang agung yang mengungguli beratnya langit dan bumi beserta seluruh makhluk.

فَلَوْ جُمِعَتِ الْمَخْلُوقَاتُ كُلُّهَا فِي كِفَّةِ الْمِيزَانِ وَوُضِعَتْ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ فِي الْكِفَّةِ الْأُخْرَى لَرَجَحَتْ بِهِنَّ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ

Seandainya seluruh makhluk dikumpulkan dalam salah satu sisi timbangan dan kalimat laa ilaaha illallaah diletakkan dalam sisi timbangan yang lainnya, sungguh kalimat laa ilaaha illallaah akan lebih berat daripada semua itu.

يَا لَهَا مِنْ كَلِمَةٍ عَظِيمَةٍ

Betapa agung kalimat laa ilaaha illallaah ini!

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّ رَجُلًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُؤْتَى بِهِ وَيُؤْتَى بِهِ وَتُعْرَضُ عَلَيْهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا مَلِيئةً بِالسَّيِّئَاتِ

Terdapat dalam sebuah hadis bahwasanya ada seorang laki-laki pada hari Kiamat, didatangkan kepadanya, ditampakkan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan amal yang penuh dengan keburukan,

يَعْنِي تُعْرَضُ عَلَيْهِ أَعْمَالُهُ مَكْتُوبَةٌ فِي تِسْعَةٍ وَتِسْعِينَ سِجِلًّا كُلُّهَا مَمْلُوءَةٌ بِالسَّيِّئَاتِ

yakni ditampakkan kepadanya amal perbuatannya yang tertulis dalam sembilan puluh sembilan buku catatan amal yang semuanya penuh dengan amal keburukan.

فَيَقُولُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا لَهُ يَا… يَا عَبْدِي هَلْ لَكَ مِنْ حَسَنَةٍ؟

Dan Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, apakah kau memiliki amal kebaikan?”

فَيَقُولُ لَا يَا رَبِّ فَيَقُولُ اللهُ جَلَّ وَعَلَا بَلَى إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ فَيُؤْتَى بِبِطَاقَةٍ يَعْنِي وَرَقَةٌ صَغِيرَةٌ مَكْتُوبٌ فِيهَا لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ

Dia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Kemudian Allah jalla wa ‘ala berfirman, “Kau memilikinya! Sungguh kau tidak akan dizalimi.” Kemudian didatangkan kepadanya sebuah kartu, yakni sebuah kertas kecil yang tertulis padanya kalimat laa ilaaha illallaah.

أَيْ أَنَّهُ قَالَهَا مُخْلِصًا لِله عَزَّ وَجَلَّ مُوقِنًا بِهَا وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ فَتُوضَعُ الْبِطَاقَةُ فِي كِفَّةٍ وَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ كُلُّ سِجِلٍّ مِنْهَا مَدَّ الْبَصَرِ

Maksudnya, dahulu dia pernah mengucapkannya dengan ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla dan menyakini isinya, dan meninggal di atas kalimat tersebut. Maka diletakkanlah kartu itu pada salah satu sisi timbangan dan diletakkan pula catatan-catatan tadi yang masing-masingnya sepanjang mata memandang,

وَهِيَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلًّا فَتَمِيلُ بِهِنَّ لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

yang semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, namun kemudian kalimat laa ilaaha illallaah beratnya mengungguli semua buku catatan tersebut, lantas dia pun masuk surga,

وَتُكَفَّرُ عَنْهُ سَيِّئَاتُهُ وَتُمْحَى عَنْهُ خَطَايَاهُ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ الْعَظِيمَةِ

diampuni dosa-dosanya dan dihapuskan kesalahan-kesalahannya karena kalimat laa ilaaha illallaah yang mulia ini.

فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ فَعَلَيْكُمْ بِالْإِكْثَارِ مِنْهَا لَكِنْ مَعَ مَعْرِفَةِ مَعْنَاهَا وَالْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهَا وَالتَّقَيُّدِ بِهَا فِي جَمِيعِ أَعْمَالِكُمْ وَتَصَرُّفَاتِكُمْ

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah! Hendaknya kalian memperbanyak mengucapkan kalimat ini dengan memahami maknanya, mengamalkan semua konsekuensinya dan mematuhinya dalam semua amal dan tingkah laku kalian.

فَإِنَّ حَيَاةَ الْمُسْلِمِ كُلَّهَا وَكُلَّ تَصَرُّفَاتِهِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Karena sungguh kehidupan seorang muslim secara keseluruhan, dalam seluruh perbuatannya harus dibangun di atas kalimat ini; laa ilaaha illallaah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.

وَلَا يَتَّخِذُ إِلَهًا غَيْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَلَا يَتَوَكَّلُ إِلَّا عَلَى اللهِ وَلَا يَدْعُو إِلَّا اللهَ

Sehingga janganlah Anda menyembah tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala, jangan bertawakal kecuali kepada Allah, jangan berdoa kecuali kepada Allah,

وَلَا يَرْجُو إِلَّا اللهَ وَلَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ وَلَا يَخْشَى إِلَّا اللهَ هَذَا مَعْنَى لَا إلَهَ إِلَّا اللهُ

jangan berharap kecuali kepada Allah, takutlah hanya kepada Allah dan jangan takut kepada selain Allah, inilah makna laa ilaaha illallaah, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.

وَلَيْسَتْ كَلِمَةً تُقَالُ بِاللِّسَانِ فَقَطْ

Dan ini bukanlah sekedar kalimat yang hanya diucapkan di lisan saja.

فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ وَأَكْثِرُوا مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَةِ وَاعْمَلُوا بِهَا لَعَلَّكُمْ تَكُونُونَ مِنْ أَهْلِهَا

Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dengan kalimat ini, perbanyaklah mengucapkannya dan amalkan kalimat ini agar kalian termasuk ahli tauhid.

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok.

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, ….

عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا

PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, ….

وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

… dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia. …

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. …

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. …

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.”
(HR. Tirmizi)

تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ
Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama.

أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ

Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi,

بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.”

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk.

وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama.

اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia.

يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ
رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i)

مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ

Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari,

مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ

dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan.

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat.

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ

Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula.

ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.”

قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ

Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya.

وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ

Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya.

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya.

لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة

Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini.

وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا

Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita.

وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh.

وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا

Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya.

وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ

Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali.

قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ

Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-.

يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ

Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut.

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ
Saudari kita ini bertanya:

طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ
Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an,

وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا
bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya,

وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا
sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an,

فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ
hanya fokus menghafal al-Qur’an saja.

هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟
Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum?

مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟
Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini?

الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ
Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu

مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ
yang berkaitan dengan ilmu,

لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ
tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman.

فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ
Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)…

يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ
menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali…

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ
Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya.

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ
Lalu berpindah lagi ke metode lainnya.

فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ
Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar,

فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ
Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya…

وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ
Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki,

هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟
“Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?”

فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا
beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa.

فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ
Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!”

أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ
Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,…

فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ
lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an…

إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ
Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah

وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ
dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna.

فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ
Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah)

وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ
Serta ilmu lainnya di samping semua itu.

وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ
Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan

فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ
yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’.

خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ
Bukan seperti perkataan orang bahwa,..

لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ
“Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.”

فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ
Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya

لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ
Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi;

فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ
Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an

أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا
Namun jika telah dewasa,…

فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ
maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya.

فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ
Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam,

مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ
sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya,

وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ
serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya.

فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ
Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu.

فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ
Karena ilmu adalah lautan luas.

لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ
Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya.

وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ
Barangsiapa yang bersabar dan berjuang

فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ
niscaya akan meraih banyak kebaikan.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ
Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ
menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik

بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال
yaitu yang berjalan dengan terburu-buru.

أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ
Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.”

وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ
Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,..

أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ
dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا
Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk.

وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي
Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus,

فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى
karena ini merupakan derajat yang tertinggi.

وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu),

كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ
mereka memiliki banyak aspek pendukung;

مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ
seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa,

وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ
dan berada di zaman turunnya wahyu,

فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ
sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar…

مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا
yang bagi kita belum jelas.

فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ
Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang…

مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟
Apa makna kalimat “An Tubsala”?

رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ
Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja.

وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-,

فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
mereka berbicara dengan bahasa arab tulen

فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي
sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an.

وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ
Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini

تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا
telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu.

فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ
Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai…

غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ
namun kemudian tidak berlaku lagi.

وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ
Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini.

فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum-

فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ
juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan.

وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا
Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan.

وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ
Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an.

وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ
Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat

ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ
kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at.

وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ
Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap.

وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ
Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah.

الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ
Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu,

فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ
sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu.

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ
Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan

إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ
jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah.

وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ
Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu…

فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟
maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual

إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ
karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan,

وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا
dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya.

فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ
Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini,

أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ
selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan…

بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ
kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

 

بَيَّنَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan

أَنَّ كِتَابَهُ حَاوٍ لِأَنْوَاعٍ ثَلَاثَةٍ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ
bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an.

شَرَعَ يُبَيِّنُ النَّوْعَ الْأَوَّلَ مِنْ عُلُومِ الْقُرْآنِ
Beliau mulai menjelaskan jenis pertama;

وَهُوَ عِلْمُ الْعَقَائِدِ وَأُصُولُ التَّوْحِيدِ
Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid.

وَذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan

أَنَّ هَذَا الْعِلْمَ هُوَ أَشْرَفُ الْعُلُومِ عَلَى الْإِطْلَاقِ
bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak,

وَأَفْضَلُهَا وَأَكْمَلُهَا
paling utama dan paling sempurna.

وَبِهِ تَسْتَقِيمُ الْقُلُوبُ عَلَى الْعَقَائِدِ الصَّحِيحَةِ
Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di atas aqidah yang benar.

وَبِهِ تَزْكُو الْأَخْلَاقُ وَتَنْمُو
Dengan ilmu ini, akhlak akan menjadi baik dan terpuji.

وَبِهِ تَصِحُّ الْأَعْمَالُ وَتَكْمُلُ
Dan dengan ilmu ini, amalan menjadi sah dan sempurna.

وَإِنَّمَا كَانَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ أَشَرَفَ الْعُلُومِ لِأَمْرَيْنِ اثْنَيْنِ
Ilmu aqidah menjadi ilmu yang paling mulia karena dua perkara:

أَحَدُهُمَا بِالنَّظَرِ إِلَى مُتَعَلَّقِهِ
PERTAMA:
Dari sisi apa yang dipelajari;

وَهُوَ الْعِلْمُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Yaitu ilmu tentang Allah -Subhanahu wa Ta’ala-

فَإِنَّ الْعِلْمَ بِاللهِ أَشْرَفُ مِنَ الْعِلْمِ بِغَيْرِهِ
Ilmu tentang Allah tentu lebih mulia daripada ilmu tentang selain-Nya.

وَالثَّانِي بِالنَّظَرِ إِلَى الثَّمَرَةِ النَّاتِجَةِ مِنْهُ
KEDUA:
Dari sisi manfaat yang dihasilkan darinya.

فَإِنَّمَا يُثْمِرُهُ هَذَا الْعِلْمُ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
Di antaranya adalah rasa takut kepada Allah -Subhanahu wa Ta’ala-,

وَمَحَبَّتِهِ وَالْإِخْبَاتِ لَهُ
cinta dan tunduk kepada-Nya,

وَطَلَبِ الزُّلْفَى عِنْدَهُ
dan ingin selalu dekat dengan-Nya.

يَجْعَلُهُ مُقَدَّمًا عَلَى غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ
Inilah yang menjadikan ilmu aqidah lebih utama dari ilmu lainnya.

فَلِأَجْلِ عِظَمِ مُتَعَلَّقِهِ وَجَلَالَةِ ثَمَرَتِهِ
Karena keagungan Dzat yang dipelajari di dalamnya dan besarnya manfaat yang dihasilkannya,

صَارَ عِلْمُ الْاِعْتِقَادِ الْعِلْمُ الْمُقَدَّمُ عَلَى الْعُلُومِ كَافَّةً
maka ilmu aqidah menjadi lebih utama daripada ilmu lainnya.

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ
Terdapat 6 zikir setelah shalat.

الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا
Pertama:
Membaca istighfar sebanyak 3 kali.

وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH)

وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH)

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ
Inilah zikir pertama yang dapat dibaca

دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ
setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu,

وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا
yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali,

لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ
berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim,

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ
dari Abu ‘Amr al-Auza’i,

عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ
dari Syaddad bin ‘Ammar,

عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ
dari Abu Asma’ ar-Rahabi,

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ
Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya,..

اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali.

وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ
Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam.

وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ
Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…

لَهُ مَعْنَيَانِ
memiliki dua makna.

وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ
Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…

لَهُ مَعْنَيَانِ
memiliki dua makna.

أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا
Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat)

أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا
Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat)

وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ
Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid.

الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ
Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid.

وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ
Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat)

فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا
Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam,..

اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
beliau beristighfar sebanyak 3 kali.

وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ
Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar,

دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ
tanpa menentukan lafazh istighfarnya.

وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ
Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan,

قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ
al-Walid bin Muslim berkata,

قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟
“Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?”

قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.”

قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟
“Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?”

قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.”

وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ
Inilah lafazh yang paling minimal.

لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ
Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu,

فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ
sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah)

لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ
Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut.

وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا
Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits,

فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ
sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ
Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya,

أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ
yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang…

أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH)

وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ
Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf

عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ
dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in

مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ
yang menetapkan lafazh istighfar

الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ
yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu.

وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ
Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah…

مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-,

أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ
Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya…

قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII

مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ
MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.”

وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ
Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya),

لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ
namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim,

أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ
yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam.

يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ
Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam.

فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ
Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ)…

يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ
yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam),

فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ
maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam.

فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ
Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar…

الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا
yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”.

وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ
Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan…

الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ
beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah)

بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM)

أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM)

فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH),…

أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا
atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu.

وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ
Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek,

لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ
karena ia yang paling minimal.

فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah),

قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ
maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun.

لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ
Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya,

إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا
karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja.

وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ
Dan lafazh istighfar yang paling sempurna

مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ
di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau.

وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)

فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي آخِرِ عُمُرِهِ
di akhir-akhir masa hidup beliau,

كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ
sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim

وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ
Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim,

وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي
yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-…

وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ
bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus…

عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ
dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar,

وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ
dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini.

فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ
Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya.

أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ
Adapun dari sisi pengamalan,

فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ
maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore.

أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ
Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang…

فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH).

كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ
memperbanyak bacaan istighfar ini.

فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA…

وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
…WA ATUUBU ILAIIH)

وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ
Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan…

عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ
lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar.

فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ
Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar…

بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH),

أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
atau (ASTAGHFIRULLAAHA…

وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ
WA ATUUBU ILAIIH) dan ini lebih sempurna. Wallahu a’lam.

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ
Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits.

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ
Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-,

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ
“Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ
pelajarilah fiqih hadits.”

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ
“Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.”

رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ
Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih.

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ
Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah

أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ
pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar.

وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ
Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu.

وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ
Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir.

فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ
Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits

كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ
seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi;

وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ
mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini.

مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ
Padahal Abu Abdillah al-Hakim,

صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ
pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits

ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ
menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits…

بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ
Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits.

وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ
Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami

مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ
karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi,

فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً
baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau…

يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ
Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan

مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا
adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya;

بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ
yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya,

حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي
sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar,

بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا
maka kamu baru dapat mengamalkannya.

فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ
Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ
dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim

مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ
dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.”

قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟
Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?”
50
قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ
Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya,

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.”

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ
Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini,

اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ
kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini,

فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي
dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada

النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.

فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ
Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits,

نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab,

نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ
maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya,

مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ
yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman,

لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا
karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami

إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا
padahal bukan seperti itu maknanya.

فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ
Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami

مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ
sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ
karena jika ia memahaminya dengan benar,

حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ
maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena…

الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ
pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah

لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ
yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut.

وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ
Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat,

لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ
karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata.

حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ
Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits.

فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا
Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.”

وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ
Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya.

وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ
Namun jika kamu mencarinya,

لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ
kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu.

حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ
Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan

إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ
bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan

مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ
adalah bagian dari makna hadits itu.

مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ
Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits

لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ
yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya

مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ
dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat,

وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ
dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in,

وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ
dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in,

وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ
begitu seterusnya di setiap generasi umat.

فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ
Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits,

يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ
kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu.

وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ
Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits.

وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar.

فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ
Karena salah satu hal yang merusak pemahaman

فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
adalah kerusakan bahasa arab.

قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ
Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan,

أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ
bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah,

أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab,

أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا
menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat.

وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ
Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran.

أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا
Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab,

لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً
namun lisan mereka bukan lisan arab.

فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ
Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja,

لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka,

لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ
kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab,

الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ
padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami.

وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ
Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya,

فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟
maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat?

وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala-

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ
Jika seseorang memulai shalatnya,

شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ
Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah:

السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ
Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.

وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ
yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits

فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ
dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih.

فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ
tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…

أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi”

لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
…bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ
Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an,

وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ
yaitu periwayatan para ulama qira’at.

وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

أَنْوَاعًا عِدَّةً
berbagai macam lafazh ta’awwudz,

ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini…

أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ
Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih…

هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.”

اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ
“Jika kamu membaca al-Qur’an,

فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ
Inilah lafazh yang diutamakan,

كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ
sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya,

إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ
“Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan…

جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا
…kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali…

عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ
sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih…

لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا
…menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.”

فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ
Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini.

وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ
Dan jika hendak menambah lafazhnya,

فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ
hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim”

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.”

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.”

بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ
…membacanya dengan idgham atau tidak.

وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ
Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at.

وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ
Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan…

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ
dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at,

لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ
Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan…

عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ
oleh sekelompok ulama salaf.

وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ
tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih.

وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ
Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya…

لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ
karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat,

فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ
sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh

أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ
Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan.

وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ
Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.

وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ
Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat…

يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ
dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah…

لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ
karena seorang hamba tidak memiliki cara lain…

إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ
kecuali dengan berlindung kepada Allah.

أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ
Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia,

فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik.

كَمَا قَالَ تَعَالَى
Allah Ta’ala berfirman:

اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik,

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.”

وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ
Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata,

شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ
“Setanmu yang menggoda adalah musuhmu…

فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ
…maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya…

وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ
…adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya,…

وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي
…dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu)…