Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Zikir yang Paling Dicintai Allah – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kalimat yang terucap oleh lisan, yang berupa zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla memiliki berbagai jenis. Di antara yang paling agung adalah yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Kalimat yang paling Allah cintai ada empat: Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.”

Empat kalimat ini adalah kalimat yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ini disepakati menjadi kalimat yang paling dicintai oleh Allah, karena dua hal yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua riwayat hadis yang telah disebutkan itu. Riwayat pertama adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling baik adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).”

Lalu riwayat kedua adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ucapan yang paling utama adalah … (lalu beliau menyebutkan empat kalimat itu).” Empat kalimat tersebut berada dalam kedudukan yang sempurna ini, karena empat kalimat itu adalah ucapan yang paling baik, dan empat kalimat itu juga merupakan ucapan yang paling utama, sehingga dengan itu, empat kalimat ini menjadi ucapan yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ucapan yang paling Allah cintai adalah lisan yang berucap ketika salah satu dari kita berkata: “Subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.”

================================================================================

وَالْكَلِمَاتُ الَّتِي يَجْرِي بِهَا اللِّسَانُ بِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

أَنْوَاعٌ مُخْتَلِفَةٌ

وَمِنْ أَعْظَمِهَا مَا ذَكَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي قَوْلِهِ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَاتَّفَقَ كَوْنُهُنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ

لِأَمْرَيْنِ ذَكَرَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي رِوَايَتَيِ الْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ

إِحْدَاهُمَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَطْيَبُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

وَالْأُخْرَى قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَفْضَلُ الْكَلَامِ ثُمَّ ذَكَرَهُنَّ

فَهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هُنَّ فِي هَذَا الْمَقَامِ الْمُنِيْفِ

لِأَنَّهُنَّ مِنْ أَطْيَبِ الْكَلَامِ

وَهُنَّ أَيْضًا مِنْ أَفْضَلِ الْكَلَامِ

فَبِذَلِكَ صَارَتْ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ

أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَأَحَبُّ الكَلَامِ إِلَيْهِ جَرَيَانُ اللِّسَانِ فِي قَوْلِ أَحَدِنَا

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

 

Dengan Siapa Kau Belajar? – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Dengan Siapa Kau Belajar? – Syaikh Abdus Salam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Di antara keanehan zaman ini juga, bahwa sebagian orang mulai belajar ilmu pada orang-orang bodoh yang dianggap ulama. Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, bahwa di akhir zaman, manusia akan belajar ilmu agama dan meminta fatwa kepada orang-orang bodoh yang dianggap ulama, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan.

Orang-orang bodoh yang dianggap ulama ini, sebenarnya mereka tidak paham ilmu agama sedikit pun, dan tidak pula diketahui juga latar belakang mereka (anonim). Betapa banyak orang yang telah tersesat dan menyesatkan, disebabkan orang-orang yang anonim, melalui berbagai media sosial ini. Mereka mengatakan pendapat yang nyeleneh, atau berkumpul bersama mereka di grup-grup atau tempat-tempat tersendiri, kemudian memberikan arahan yang buruk kepada mereka.

Oleh karena itu, harus ditegaskan lagi kepada para orang tua, agar memperhatikan masalah ini, dan mendekatkan anak-anak mereka dengan para ulama dalam urusan agama, serta mengarahkan mereka kepada ulama yang terpercaya dan telah dikenal ilmu mereka, yang orang dari berbagai penjuru telah bersaksi atas keilmuan mereka, dan hendaknya mereka tidak terjatuh pada kekeliruan ulama yang mengajari mereka, dan tidak pula mengambil kekurangan yang ada pada mereka, karena inilah bentuk pengagungan terhadap ilmu dan ulama di hadapan mereka.

======================================================================================================

وَمِنْ عَجَائِبِ هَذَا الزَّمَانِ أَيْضًا

أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ أَصْبَحَ يَأْخُذُ أَفْكَارَهُ مِنَ الرُّؤُوسِ الْجُهَّالِ

وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فِي آخِرِ الزَّمَانِ

يَأْخُذُ النَّاسُ دِيْنَهُمْ وَيَسْتَفْتُونَ الرُّؤُوسَ الْجُهَّالَ

فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ

وَهَؤُلَاءِ الْجُهَّالُ جُهَّالٌ بِالْعِلْمِ

وَمَجْهُولُ حَالٍ كَذَلِكَ

وَكَمْ مِنِ امْرِئٍ إِنَّمَا اغْتَوَى وَغَوَى

بِسَبَبِ أُنَاسٍ مَجَاهِيلَ لَايُعْرَفُونَ

عَنْ طَرِيقِ هَذِهِ وَسَائِلِ التَّوَاصُلِ

قَالُوا لَهُمْ كَلِمَةً أُخْرَى أَوِ اجْتَمَعُوا بِهِمْ

فِي مَوَاطِنَ… فِي أَمَاكِنَ مُنْزَوِيَّةٍ

فَوَجَّهُوهُمْ التَّوْجِيهَ السَّيِّئَ

وَلِذَلِكَ فَإِنَّ الْوَالِدَيْنِ يَتَأَكَّدُ عَلَيْهِمْ

أَنْ يَنْتَبِهُوا لِهَذَا الْأَمْرِ

وَأَنْ يُعَلِّقُوا أَبْنَاءَهُمْ فِي مَسَائِلِ الدِّينِ بِأَهْلِ الْعِلْمِ

فَيَدُلُّواهُمْ عَلَى أَهْلِ الْعِلْمِ الْمَوْثُوقِيْنِ الْمَعْرُوفِيْنِ

الَّذِينَ يَشْهَدُ لَهُمُ الْقَاصِي وَالدَّانِي بِهَذَا الْعِلْمِ

وَأَنْ لَا يَقَعُوا فِي أَهْلِ الْعِلْمِ أَمَامَهُمْ

وَأَنْ لَا يَقْبَلُوا النَّقِيصَةَ فِيهِمْ

فَإِنَّ هَذَا سَبَبٌ فِي تَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ عِنْدَهُمْ

 

Ajaibnya Doa: Senjata yang Tak Pernah Rusak – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ajaibnya Doa: Senjata yang Tak Pernah Rusak – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beliau menyebutkan contoh yang berkaitan dengan kisah hidup Umar bin Khattab. Beliau berkata, “Umar meminta tolong untuk mengalahkan musuhnya dengan doa.” Padahal Umar adalah prajurit terhebat, (beliau berdoa) karena doa adalah senjata, yang dengannya kemenangan atas musuh diminta. Dengan doalah cara mengalahkan musuh.

Oleh karena itu, kau dapati dalam al-Quran dan Sunah Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam berbagai doa yang semuanya adalah memohon kemenangan atas musuh dengan doa. Betapa perlunya orang-orang di zaman ini untuk memohon kepada Allah Subẖānahu wa ta’ālā agar dimenangkan atas musuh mereka, dan menjadikan tipu daya musuh mereka menimpa lehernya sendiri.

Dahulu apabila Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam takut dengan musuh, beliau berdoa:”Ya Allah, sungguh kami jadikan Engkau di leher (hadapan) mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan mereka.” (HR. Abu Dawud) Inilah meminta pertolongan kepada Allah dengan doa. Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Kalian ditolong dan diberi rezeki hanyalah dengan orang-orang lemah di tengah kalian.” (HR. Abu Dawud) Yakni, dengan doa dan keikhlasan mereka.

Doa adalah kebutuhan, faktor yang kuat, dan senjata yang ampuh. “Inilah senjata yang takkan pernah rusak,” seperti yang dikatakan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah merahmatinya. Inilah senjata yang sangat hebat. Umat Islam harus bersegera kembali kepada Allah, apalagi di zaman ini, di mana para musuh sudah menguasai mereka, dan keburukan banyak tersebar, umat Islam harus berlindung kepada Allah Subẖānahu wa ta’ālā, agar Allah balikkan tipu daya musuh pada leher-leher mereka sendiri, dan agar dapat menolong orang-orang lemah dari kalangan umat Islam di semua tempat, dan agar dapat menolong orang-orang yang menolong agama Allah Subẖānahu wa ta’ālā.

Beginilah, meminta tolong dengan doa, sebagaimana dahulu Umar bin Khattab memohon kemenangan atas musuhnya dengan doa, padahal dia adalah prajurit terhebat di antara mereka. Umar pernah berkata kepada para sahabat Nabi, “Kalian tidaklah menang karena banyaknya jumlah, tapi kalian dimenangkan dari langit.” Yaitu, dengan doa. Ditolong dari langit dengan doa, dengan kembali kepada Allah, dan berlindung kepada-Nya Subẖānahu wa ta’ālā. Umar bin Khattab—semoga Allah meridainya—juga pernah berkata, “Aku tak punya kuasa atas terkabulnya doa, tapi kewajibanku hanyalah berdoa. Jika aku diberi petunjuk untuk berdoa, niscaya akan dikabulkan, karena Allah berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.’” (QS. Ghafir: 60)

=====================================================================================================

وَذَكَرَ أَمْثِلَةً مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِسِيْرَةِ عُمَرَ

قَالَ: كَانَ يَسْتَنْصِرُ بِهِ عَلَى عَدُوِّهِ

وَكَانَ أَعْظَمَ جُنْدٍ

وَالسِّلَاحُ… وَالدُّعَاءُ سِلَاحٌ وَيُسْتَنْصَرُ بِهِ عَلَى الْأَعْدَاءِ

يُسْتَنْصَرُ بِهِ عَلَى الْأَعْدَاءِ وَلِهَذَا تَجِدُ فِي الْقُرْآنِ

وَفِي سُنَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْعِيَةً

كُلَّهَا اسْتِنْصَارٌ عَلَى الْعَدُوِّ بِالدُّعَاءِ

وَكَمْ يَحْتَاجُ النَّاسُ فِي هَذَا الزَّمَانِ

أَنْ يُلِحُّوْا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ

وَأَنْ يَجْعَلَ كَيْدَ عَدُوِّهِمْ فِي نَحْرِهِ

كَانَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِذَا خَافَ عَدُوًّا قَالَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ

وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

هَذَا اسْتِنْصَارٌ بِالدُّعَاءِ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

إِنَّمَا تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

بِدُعَائِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

الدُّعَاءُ ضَرُورَةٌ وَسَبَبٌ عَظِيمٌ وَسِلَاحٌ مَتِينٌ

يَنْبَغِي… سِلَاحٌ لَا يَخْبُو

كَمَا يَقُولُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ

سِلَاحٌ عَظِيمٌ جِدًّا

يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِينَ أَنْ يَفْزَعُوا إِلَى اللهِ

وَلَا سِيَّمَا فِي هَذَا الزَّمَانِ الَّذِي تَسَلَّطَ فِيْهِ الْأَعْدَاءُ

وَكَثُرَ فِيهِ كَثُرَتْ فِيهِ شُرُورٌ أَنْ يَفْزَعُوا إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

أَنْ يَرُدَّ كَيْدَ الْأَعْدَاءِ فِي نُحُوْرِهِمْ

وَأَنْ يَنْصُرَ الْمُسْتَضْعَفِيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ

وَأَنْ يَنْصُرَ مَنْ نَصَرَ دِيْنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

هَذَا اسْتِنْصَارٌ بِالدُّعَاءِ

قَالَ عُمَرُ… كَانَ عُمَرُ يَسْتَنْصِرُ بِهِ عَلَى عَدُوِّهِ

وَكَانَ أَعْظَمَ جُنْدِهِمْ

وَكَانَ يَقُولُ لِلصَّحَابِةِ: لَسْتُمْ تُنْصَرُونَ بِالْكَثْرَةِ

وَإِنَّمَا تُنْصَرُونَ مِنَ السَّمَاءِ أَيْ بِالدُّعَاءِ

مِنَ السَّمَاءِ أَيْ بِالدُّعَاءِ بِالْفَزَعِ إِلَى اللهِ

وَاللُّجُوءِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَكَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ

إِنِّي لَا أَحْمِلُ هَمَّ الْإِجَابَةِ

وَلَكِنَّ هَمَّ الدُّعَاءِ

فَإِذَا أُلْهِمْتُ الدُّعَاءَ فَإِنَّ الْإِجَابَةَ مَعَهُ

لِأَنَّ اللهَ يَقُولُ: ادْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

 

Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Amal Saleh yang Menghiburmu – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Seorang mukmin setelah menjawab pertanyaan kubur, Dia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.” Lalu dibentangkan baginya alas dari surga, dan dibukakan untuknya pintu menuju surga, lalu datang seseorang kepadanya, di kuburnya!

Bayangkan, seseorang mendatangi Anda saat Anda di dalam kubur, menghibur Anda, dengan wajah yang rupawan, pakaian yang bagus, dan aroma yang wangi. Dia berkata, “Bergembiralah dengan apa yang akan menyenangkan dirimu, inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.” Sehingga Anda merasa bahagia, saat Anda di dalam kubur sendiri, menginginkan seseorang yang menghibur Anda, dan berharap ada yang menemani Anda ketika di dalam kubur.

Anda akan berkata, “Semoga Allah memberimu kabar baik, siapa kamu? Wajahmu adalah wajah orang yang membawa kebaikan.” Dia menjawab, “Aku adalah amal salehmu.” “Aku adalah amal salehmu.” Dia berkata, “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad)

Ini yang akan bermanfaat bagi Anda, ketika Anda bersegera untuk salat, menuju masjid, salat di awal waktu, bersegera dalam berzikir pada Allah, membaca al-Quran, melakukan puasa, dan salat malam, serta lambannya Anda dalam bermaksiat pada Allah. “Aku tidak mengenalmu melainkan orang yang cepat dalam ketaatan kepada Allah, dan lamban saat bermaksiat kepada-Nya, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.” (HR. Ahmad) Sehingga Anda terhibur dengan amal saleh Anda.

======================================================================================================

مُؤْمِنٌ بَعْدَ أَنْ يُجِيبَ عَنْ أَسْئِلَةِ الْقَبْرِ

يَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَدِينِي الْإِسْلَامُ

وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَيُفْرَشُ لَهُ فِرَاشٌ مِنَ الْجَنَّةِ

وَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ

يَأْتِيهِ رَجُلٌ فِي قَبْرِهِ

تَخَيَّلْ يَأْتِيكَ رَجُلٌ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ

يُؤْنِسُكَ َحَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ

فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُّرُكَ

هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوْعَدُ

وَأَنْتَ تَسْتَبْشِرُ أَنْتَ فِي قَبْرِكَ وَحِيْدًا

تُرِيدُ مَنْ يُؤْنِسُكَ

تُرِيدُ مَنْ يَمَرُّ عَلَيْكَ وَأَنْتَ فِي قَبْرِكَ

تَقُولُ أَنْتَ: بَشَّرَكَ اللهُ بِالْخَيْرِ مَنْ أَنْتَ؟

فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ

فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ

يَقُولُ مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ

بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

هَذَا الَّذِي سَيَنْفَعُكَ سِرَاعُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِلَى الْمَسْجِدِ

تَبْكِيرُكَ إِلَى الصَّلَاةِ إِسْرَاعُكَ إِلَى ذِكْرِ اللهِ

إِلَى الْقُرْآنِ إِلَى الصِّيَامِ إِلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

بُطْءُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ

مَا عَلِمْتُكَ إِلَّا كُنْتَ سَرِيعًا فِي طَاعَةِ اللهِ

بَطِيئًا عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ فَجَزَاكَ اللهُ خَيْرًا

تَأْنِسُ بِعَمَلِكَ الصَّالِحِ

 

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Pahami Bacaan al-Fatihah Anda – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, dalami dan pelajari firman Allah ʿAzza wa Jalla, dan renungkan makna-maknanya, karena orang yang membaca firman Allah ʿAzza wa Jalla, sedangkan dia mengetahui maknanya, maka zikir lisannya akan selaras dengan zikir hatinya, sehingga zikirnya menjadi zikir lisan dan hati sekaligus.

Seseorang yang mengucap pujian kepada-Nya (dalam surat al-Fatihah) “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” sedangkan dia tidak mengetahui maknanya, pahalanya tidak sama dengan orang yang membaca dan memahami apa makna pujian bagi-Nya, apa makna rububiyah-Nya, makna Allah Jalla wa ʿAlā sebagai Tuhan semesta alam, apa makna ar-Rahman dan ar-Rahim?

Kemudian ketika dia membaca, “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” dia menadaburkan kalimat ini, yang secara khusus dibahas dalam buku berjilid-jilid. Kitab Ibnul Qayyim, Madārij as-Sālikīn, dan sebelum itu ada kitab karya Syekh Abu Ishaq atau Abu Ismail al-Anshari, yang ditulis hanya untuk menjabarkan dan menjelaskan bagaimana cara manusia berpegang teguh dengan ayat, “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” mengandung pendahuluan Maʿmūl atas ʿĀmilnya dan pendahuluan objek atas predikat dan subjeknya yang menunjukkan ‘pembatasan’ kepada kita, maka artinya Anda berkata, “Wahai Tuhanku, aku tidak meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu. Aku tidak menyembah kecuali hanya Engkau.” “Hanya Engkaulah yang kami sembah, …” ini adalah kesempurnaan tauhid. “… hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” ini adalah kesempurnaan keyakinan kepada Allah ʿAzza wa Jalla yang termasuk amalan hati. Jadi, tadaburkan! Siapa di antara kita yang menadaburkannya? Jadi, orang-orang dalam membaca Al-Qur’an tidaklah sama (pahalanya). Semakin seseorang paham, maka semakin sempurna pahalanya. Oleh karena itu, sebuah ibadah—dan membaca Al-Qur’an termasuk ibadah— sebuah ibadah yang dilakukan orang yang berilmu lebih besar pahalanya di sisi Allah ʿAzza wa Jalla daripada ibadahnya seorang ahli ibadah (yang tanpa ilmu). Jadi, wahai Anda yang diberi taufik, perhatikan pengetahuan Anda terhadap firman Allah ʿAzza wa Jalla! Ketahuilah bahwa Anda tidak akan mencapai batas dalam memahami makna-maknanya, dikarenakan kitab ini (Al-Qur’an) tidak akan pernah habis keajaibannya.

======================================================================================================

إِذَنْ أَيُّهَا الْمُوَفَّقُ تَفَقَّهْ

وَتَعَلَّمْ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَتَفَكَّرْ فِي مَعَانِيهِ

لِأَنَّ الَّذِي يَقْرَأُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَهُوَ يَعْلَمُ الْمَعَانِي

فَإِنَّ ذِكْرَ اللِّسَانِ يُوَاطِئُ ذِكْرَ الْقَلْبِ

فَيَكُونُ ذِكْرُهُ ذِكْرَ لِسَانٍ وَقَلْبٍ مَعًا

لَيْسَ الَّذِي يَقْرَأُ الْحَمْدَ

ٱلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

وَهُوَ لَا يَفْقَهُ مَعْنَاهَا

كَأَجْرِ الَّذِي يَقْرَأُهَا وَهُوَ يَفْهَمُ

مَا مَعْنَى الْحَمْدِ

وَمَا مَعْنَى الرُّبُوبِيَّةِ

وَمَا مَعْنَى كَوْنِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

وَمَا مَعْنَى الرَّحْمَنِ

وَمَا مَعْنَى الرَّحِيمِ

ثُمَّ إِذَا أَتَى

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

تَأَمَّلَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ

الَّتِي أُفْرِدَتْ فِيهَا مُجَلَّدَاتٌ

كِتَابُ ابْنِ الْقَيِّمِ مَدَارِجُ السَّالِكِينَ

وَقَبْلَهُ كِتَابُ الشَّيْخِ أَبِي إِسْحَاقَ… أَبِي إِسْمَاعِيلَ الْأَنْصَارِيِّ

إِنَّمَا هُوَ فِي شَرْحِ وَبَيَانِ

كَيْفَ يَكُونُ النَّاسُ فِي التَّمَسُّكِ

بِإِيَّاكَ نَعْبُدُ

وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

فِيهَا تَقْدِيمُ الْمَعْمُولِ عَلَى الْعَامِلِ

وَتَقْدِيمُ الْمَفْعُولِ عَلَى الْفِعْلِ وَفَاعِلِهِ

وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى الْحَصْرِ

فَأَنْتَ تَقُولُ: يَا رَبِّي

لَا أَسْتَعِينُ إِلَّا بِكَ

وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا لَكَ

وَلَا أَعْبُدُ إِلَّا أَنْتَ

إِيَّاكَ نَعْبُدُ – هَذَا كَمَالُ التَّوْحِيدِ

إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

هَذَا كَمَالُ الْيَقِينِ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَهُوَ أَفْعَالُ الْقَلْبِ

إِذَنْ تَأَمَّلْ مَنْ مِنَّا يَتَأَمَّلُ؟

لِذَا لَمْ يَكُنِ النَّاسُ فِي قِرَاءَةِ كِتَابِ اللهِ سَوَاءً

كُلَّمَا كَانَ أَعْلَمَ كُلَّمَا كَانَ أَجْرُهُ أَتَمَّ

وَلِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ وَمِنَ الْعِبَادَةِ قِرَاءَةُ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

لِذَا كَانَتِ الْعِبَادَةُ مِنَ الْعَالِمِ

أَجْرُهَا عِنْدَ الله عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ

مِنْ أَجْرِهَا مِنَ الْعَابِدِ

إِذَنْ أَيَّهَا الْمُوَفَّقُ

اعْتَنِ بِمَعْرِفَةِ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَبْلُغَ مُنْتَهَى مَعْرِفَةِ مَعَانِيْهِ

فَإِنَّ هَذَا الْكِتَابَ لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ

 

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Kesalahan Fatal Imam ketika Qunut – Syaikh Shalih al-Ushaimi #NasehatUlama

Di antara hukum yang harus diperhatikan, berhubungan dengan masalah ini, bahwa salah satu kewajiban salat—sebagaimana telah dibahas— adalah pengucapan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” (setelah bangkit dari rukuk dan mengucapkan SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH), bagi siapa? Bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendiri. Sekarang, banyak imam salat—semoga Allah memberi mereka petunjuk— saat Qunut Witir dalam Salat Tarawih mengucapkan “SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH” (setelah bangkit dari rukuk), (kemudian langsung membaca Doa Qunut) “ALLAAHUMMAH DINAA FII MAN HADAIT …” dan tidak mengucapkan “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu.

Saya sudah tanya sebagian mereka, karena aku perhatikan dia cepat sekali melakukannya. Kemudian dia ingat kalau dia tidak membaca “ROBBANAA WALAKAL HAMDU” terlebih dahulu. Oleh sebab itu, salatnya bagaimana hukumnya? Sah atau tidak? Apabila dia lupa atau tidak tahu hukumnya, dan benar ini yang terjadi, maka salatnya sah. Namun dia harus sujud sahwi dan perkaranya mudah. Salatnya sah tapi dia harus sujud sahwi lalu selesai perkara.

Namun, jika dia sengaja, maka salatnya tidak sah, dan perkaranya berat, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Imam itu penanggung.”
Apa arti bahwa imam itu penanggung? Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya. Apa maksudnya ia penanggung? Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Oleh sebab itu, banyak ulama merasa keberatan menjadi imam, karena beratnya tanggung jawab ini, bahwa satu orang imam menanggung salat orang yang di belakangnya. Semakin banyak jamaahnya, semakin berat tanggung jawabnya.

Jika yang salat di belakang Anda ada seratus, dua ratus, atau seribu orang, Anda menanggung salat mereka. Jika seseorang sudah keberatan menanggung satu orang dalam urusan seribu rial saja, lalu bagaimana beratnya jika Anda menanggung salat seribu orang di belakang Anda?

Oleh karena itu, barang siapa yang mengimami orang-orang, hendaknya ia bersungguh-sungguh mempelajari hukum-hukum syariat, dan mendalaminya, termasuk di dalamnya masalah ini. Ini saya sebutkan karena sudah dekatnya bulan Ramadan, masalah ini sering terulang karena kelalaian dalam memperhatikan ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan salat, Demikian.

======================================================================================================

مِنَ الْأَحْكَامِ الَّتِي يُنَبَّهُ عَلَيْهَا

تَتَعَلَّقُ بِهَذَا الْمَوْضِعِ

مِنْ وَاجِبَاتِ الصَّلَاةِ كَمَا تَقَدَّمَ

قَوْلُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

لِمَنْ؟

لِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ وَمُنْفَرِدٍ

الْآنَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ هَدَاهُمُ اللهُ

فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ

يَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِي مَنْ هَدَيْتَ

وَلَا يَقُولُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

وَقَدْ سَأَلْتُ بَعْضَهُمْ

لِأَنِّي لَاحَظْتُهُ يُسْرِعُ فِي هَذَا

فَتَذَكَّرَ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِقَوْلِ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

فَصَلَاتُهُ مَا حُكْمُهَا؟

صَحِيحَةٌ وَغَيْرُ صَحِيحَةٍ؟

إِنْ كَانَ سَهْوًا أَوْ جَهْلًا

وَهَذَا هُوَ الْوَاقِعُ فَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ

لَكِنَّهُ يَسْجُدُ لِلسَّهْوِ … … الْأَمْرُ سَهْلٌ

صَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ لَكِنْ عَلَيهِ سُجُودُ السَّهْوِ وَتَرَكَهُ

وَأَمَّا إِنْ كَانَ مُتَعَمِّدًا

فَصَلَاتُهُ بَاطِلَةٌ

وَالْأَمْرُ عَظِيمٌ

فَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ

الْإِمَامُ ضَامِنٌ

أَيشْ مَعْنَى الْإِمَامُ ضَامِنٌ؟

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ

أَيشْ مَعْنَى ضَامِنٌ؟

يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ

يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ

وَلِهَذَا كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَحَرَّجُونَ مِنَ الْإِمَامَةِ

لِأَجْلِ ثِقَلِهَا

أَنَّ الْإِنْسَانَ يَضْمَنُ صَلَاةَ مَنْ وَرَاءَهُ

وَإِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ كَبُرَ الثِّقَلُ

إِذَا يُصَلِّي وَرَاءَكَ مِائَةٌ مِائَتَيْنِ أَلْفٌ

يَعْنِي أَنْتَ تَضْمَنُ صَلَاةَ هَؤُلَاءِ

وَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَسْتَثْقِلُ

أَنْ يَضْمَنَ رَجُلًا فِي سَدَادِ أَلْفِ رِيَالٍ

فَكَيْفَ الثِّقَلُ أَنْ تَضْمَنَ صَلَاةَ أَلْفٍ يُصَلُّونَ وَرَاءَكَ

فَمَنْ يَكُونُ إِمَامًا لِلنَّاسِ

يَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ عَلَى تَعَلُّمِ أَحْكَامِ الشَّرْعِ

وَيَتَفَقَّهَا فِيهَا وَمِنْ جُمْلَتِهَا هَذَا الْمَوْضِعُ

وَذَكَرْتُهُ لِقُرْبِ الْعَهْدِ مِنْ رَمَضَانَ

لِأَنَّهُ يَتَكَرَّرُ بِسَبَبِ التَّفْرِيطِ

فِي الْاِعْتِنَاءِ بِمَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالصَّلَاةِ

نَعَمْ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jangan Takjub dengan Amalmu – Syaikh Abdus Salam asy-Syuwai’ar #NasehatUlama

Jangan takjub dengan ibadah Anda! Jangan tertipu dengan diri Anda! Barang siapa yang tertipu oleh diri sendiri dan ibadahnya, sungguh dia pasti binasa! Perbanyaklah istighfar di bulan Ramadan. Orang yang sungguh-sungguh beristighfar dengan hatinya, dialah yang akan mengetahui kekurangan amalnya. Barangkali amalannya yang sedikit, akan tetapi disertai keyakinan kepada Allah dan ketakwaan kepada-Nya, itu lebih Allah ʿAzza wa Jalla cintai daripada amalan yang banyak yang disertai kekaguman terhadapnya.

Anda tidak tahu siapa yang diterima amalannya. Anda tidak tahu siapa yang dilipatgandakan pahalanya dan siapa yang tidak, karena sungguh Allah melipatgandakan kebaikan bagi seorang hamba hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan orang lainnya tidak, disebabkan apa yang ada dalam hatinya.

======================================================================================================

لَا تُعْجِبْ بِعِبَادَتِكَ

لَا تَغْتَرَّ بِنَفْسِكَ

مَنِ اغْتَرَّ بِنَفْسِهِ وَبِعِبَادَتِهِ

فَقَدْ هَلَكَ

أَكْثِرْ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ فِي رَمَضَانَ

الَّذِي يَسْتَغْفِرُ حَقِيقَةً بِقَلْبِهِ

هُوَ الَّذِي يَعْلَمُ نَقْصَ عَمَلِهِ

رُبَّمَا كَانَ عَمَلُهُ قَلِيلًا

مَعَ يَقِينٍ بِاللهِ

وَالتَّقْوَى لِلهِ

أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ عَمَلٍ كَثِيرٍ

بِإِعْجَابٍ بِهِ

لَا تَدْرِي مَنِ الْمَقْبُولُ

لَا تَدْرِي مَنِ الَّذِي تُضَاعَفُ لَهُ حَسَنَاتٌ

وَمَنِ الَّذِي لَا تُضَاعَفُ

فَإِنَّ اللهَ يُضَاعِفُ لِلْعَبْدِ الْحَسَنَةَ

إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

وَالْآخَرُ لَا يُضَاعَفُ لَهُ بِمَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ

 

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Berserah Diri Sebelum Tidur – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

“Jika kamu hendak tidur, maka ucapkan: (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)
Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Alangkah eloknya jika seorang Muslim merenungkan makna doa ini sebelum tidur.

(ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA)”Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Karena tidur adalah kematian kecil. “Allah yang mencabut jiwa pada saat kematiannya dan pada saat belum mati ketika dia tidur, maka Allah tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya, dan mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az-Zumar: 42)

(ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu.” Allah Ta’ālā yang mematikan jiwa. Mungkin saja Allah wafatkan jiwa, sehingga takkan kembali lagi pada Anda. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya mengingat kematian ketika hendak tidur. Seolah-olah dia meletakkan sisi kanan badannya di liang kubur.

Dengan demikian, ia menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ālā. Hal ini membuat orang akan senantiasa memperbaharui taubat nasuhanya kepada Allah Jalla wa ʿAlā di setiap malam. (ALLAAHUMMA ASLAMTU NAFSII ILAIKA) “Ya Allah, aku menyerahkan diriku pada-Mu,” juga bermakna bahwa aku jadikan diri ini berserah diri dan tunduk kepada-Mu, serta rida dengan ketetapan-Mu, aku menyerahkan diriku pada-Mu, tanpa berkeberatan dengan syariat Allah, dan tanpa mengingkari takdir-Nya, hingga saat dia mencapai kesempurnaan penyerahan diri kepada-Nya, dia berkata, (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.”

(WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA) “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” (Muttafaqun ‘alaihi) Di sini ada kesempurnaan penyerahan diri, ketundukan, dan keikhlasan kepada Allah. (WAJ-JAHTU WAJHII ILAIKA)”Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” maknanya, aku menghadap kepada-Mu, wahai Tuhanku, dengan berserah diri, rida, dan tunduk pada-Mu. Karena seseorang jika ingin menghadap pada sesuatu dan memberikan perhatian padanya, dia akan menghadapkan wajah padanya dan tidak akan berpaling darinya ke kanan atau ke kiri, begitulah saat Anda berdoa, “Aku hadapkan wajahku pada-Mu.” “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang berserah diri kepada Allah, sedangkan dia mengerjakan kebaikan, …” (QS. An-Nisa: 125)

======================================================================================================

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

مَا أَجْمَلَ أَنْ يَسْتَشْعِرَ الْمُسْلِمُ هَذَا الْمَعْنَى عِنْدَ نَوْمِهِ

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

لِأَنَّ النَّوْمَ مَوْتٌ صُغْرَى

اللهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا

وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا

فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ

وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

فَاللهُ تَعَالَى يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ

مُمْكِنٌ أَنْ يَتَوَفَّاهُ لَا تَرْجِعُ إِلَيْكَ

فَيَتَذَكَّرُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ نَوْمِهِ الْمَوْتَ

وَكَأَنَّهُ قَدْ وَضَعَ جَنْبَهُ فِي قَبْرِهِ عَلَى شَقِّهِ الْأَيْمَنِ

وَهَكَذَا يُسْلِمُ نَفْسَهُ إِلَى اللهِ تَعَالَى

فَهَذَا يَجْعَلُ الْإِنْسَانَ يُجَدِّدُ

فِي كُلِّ لَيْلَةٍ تَوْبَةً نَصُوحًا إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَلَا

وَكَذَلِكَ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

يَعْنِي جَعَلْتُهَا مُسْتَسْلِمَةً لَكَ طَائِعَةً لَكَ رَاضِيَةً بِقَضَائِكَ

أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

بِلَا اعْتِرَاضٍ عَلَى شَرْعِ اللهِ

وَلَا مُنَازَعَ لِقَدَرِ اللهِ

ثُمَّ حَقَّقَ كَمَالَ الْاِسْتِسْلَامِ لِلهِ فَقَالَ

وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ

وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ

هَذَا فِيهِ كَمَالُ الْاِسْتِسْلَامِ

وَالْخُضُوعُ لِلهِ وَالْإِخْلَاصُ لِلهِ

وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ

يَعْنِي أَقْبَلْتُ عَلَيْكَ يَا رَبُّ

مُسْتَسْلِمًا رَاضِيًا طَائِعًا

وَالْإِنْسَانُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَى شَيْءٍ

وَيَعْتَنِي بِهِ يُقْبِلُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ

وَلَا يَلْتَفِتُ عَنْهُ لَا يَمْنَةً وَلَا يَسْرَةً

وَهَكَذَا تَقُولُ وَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلهِ

وَهُوَ مُحْسِنٌ

 

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Adab Doa Qunut yang Mungkin Kau belum Tahu – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Doa Qunut yang dibahas oleh Syaikh di video ini adalah Doa Qunut Witir. Wallahu a’lam. Ahsanallahu ilaikum. Penanya berkata, “Apa hukum mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut?”

“Dan apa hukum melagukan dan memperpanjang bacaan Doa Qunut, apakah itu termasuk bid’ah?” Adapun mengangkat kedua tangan (ketika membaca Doa Qunut) hukumnya mustahab (dianjurkan). Mengangkat kedua tangan saat membaca Doa Qunut hukumnya mustahab (dianjurkan). Dan ini berdasarkan dua alasan:

Alasan pertama, karena imam juga mengangkat kedua tangan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya adanya imam itu untuk diikuti.” Dan alasan kedua, karena itu doa yang disyariatkan, dan tidak ada perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya.

Tidak ada hal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menafikannya, sehingga itu disyariatkan. Sedangkan hukum melagukan bacaan doa, dan mendendangkannya secara berlebihan, maka itu menyelisihi adab berdoa dan tidak sesuai sunnah.

Maka dari itu, kami mohon kepada para imam salat, agar tidak membaca Doa Qunut seperti membaca al-Quran. Sebagian imam, ketika mereka membaca Doa Qunut, seperti membaca al-Quran; membaca ghunnahnya, membaca qalqalahnya, memanjangkan mad lazimnya, memanjangkan mad jaiznya, dan mad wajibnya, seakan-akan ia sedang membaca al-Quran dan mentartilkannya.

Adab berdoa tidak seperti ini. Demikian juga dengan mendendangkan doa secara berlebihan. Dulu para Salaf melarang hal itu, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyukai berdendang saat berdoa. Sebagaimana yang dikatakan ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa dahulu mereka tidak menyukai hal itu, dan ini mencakup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga.

Sedangkan memperpanjang Doa Qunut, maka itu juga bukan termasuk adab saat membaca Doa Qunut. Para ulama telah menyebutkan, bahwa imam tidak disunnahkan untuk memperlama berdiri saat membaca Doa Qunut, melebihi lama berdirinya saat membaca bacaan al-Quran sebelumnya, karena sunnahnya, lamanya posisi setelah berdiri membaca al-Quran saat salat adalah sama, atau lebih cepat waktunya.

Jika saat berdiri ia membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, maka sunnahnya, saat ia membaca Doa Qunut adalah menjadikan lama berdirinya untuk membaca Doa Qunut, sama seperti saat berdirinya untuk membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas, atau lebih cepat dari itu.

Dan inilah yang sesuai sunnah, selain itu, juga lebih meringankan makmum. Terlebih lagi, Doa Qunut dilakukan pada akhir salat, dan para makmum telah letih. Sehingga yang lebih meringankan makmum adalah dengan membaca Doa Qunut yang ringkas, namun maknanya menyeluruh, dan tidak memperpanjangnya. Demikian.

======================================================================================================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ

مَا حُكْمُ رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ؟

وَكَذَلِكَ تَلْحِينِ الدُّعَاءِ وَالْإِطَالَةِ هَلْ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ؟

أَمَّا رَفْعُ الْيَدَيْنِ فَمُسْتَحَبٌّ

رَفْعُ الْيَدَيْنِ فِي الْقُنُوتِ مُسْتَحَبٌّ

وَذَلِكَ لِوَجْهَيْنِ

الْوَجْهُ الْأَوَّلُ أَنَّ الْإِمَامَ يَرْفَعُ

وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

وَالْوَجْهُ الثَّانِي أَنَّهُ دُعَاءٌ مَشْرُوعٌ

وَلَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ

لَمْ يَرِدْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يُنَافِيهِ فَهُوَ مَشْرُوعٌ

وَأَمَّا تَلْحِينُ الدُّعَاءِ

وَسَجْعُهُ السَّجْعَ الْمُتَكَلَّفَ

فَهُوَ يُنَافِي الْأَدَبَ وَخِلَافُ السُّنَّةِ

وَلِذَلِكَ

نَرْجُو مِنْ أَئِمَّتِنَا أَنْ لَا يَجْعَلُوا دُعَاءَ الْقُنُوتِ كَالْقُرْآنِ

فَبَعْضُهُم يَتْلُو الدُّعَاءَ تِلَاوَةً يَغُنُّ

وَيُقَلْقِلُ

وَيَمُدُّ الْمَدَّ اللَّازِمَ

وَالْمَدَّ الْجَائِزَ

وَالْمَدَّ الْوَاجِبَ

كَأَنَّهُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُرَتِّلُ

هَذَا لَيْسَ مِنْ آدَابِ الدُّعَاءِ

وَكَذَا السَّجْعُ الْمُتَكَلَّفُ

فَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَكَانَ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْرَهُ السَّجْعَ فِي الدُّعَاءِ

كَمَا أَخْبَرَتْ أُمُّنَا عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْرَهُونَ ذَلِكَ

وَهَذَا يَشْمَلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَأَمَّا الْإِطَالَةُ

فَلَيْسَتْ مِنَ الْآدَابِ أَيْضًا لَيْسَتْ مِنْ آدَابِ دُعَاءِ الْقُنُوتِ

وَقَدْ ذَكَرَ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ لِلْإِمَامِ

أَنْ يُطِيلَ الْوُقُوفَ فِي الْقُنُوتِ

أَطْوَلَ مِنْ وُقُوفِهِ فِي الْقِرَاءَةِ قَبْلَهُ

لِأَنَّ السُّنَّةَ أَنَّ مَا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ يَكُونُ مُسَاوِيْهَا أَوْ أَقَلَّ مِنْهَا

فَإِذَا كَانَ وَقَفَ قَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

الْمُسْتَحَبُّ فِي دُعَاءِ الْقُنُوتِ

أَنْ يَجْعَلَ وُقُوفَهُ لِدُعَاءِ الْقُنُوتِ كَوُقُوفِهِ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

أَوْ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

وَهَذَا الَّذِي يُوَافِقُ السُّنَّةَ وَهُوَ أَرْفَقُ بِالنَّاسِ

وَلَا سِيَّمَا أَنَّ دُعَاءَ الْقُنُوتِ يَقَعُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ وَالنَّاسُ قَدْ تَعِبُوا

فَالْأَرْفَقُ أَنْ يُؤْتَى بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ فِي الدُّعَاءِ

وَأَنْ لَا يُطَالَ فِيهِ نَعَم

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Renungkan ini Sebelum Kau Sakit – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

Renungkan ini Sebelum Kau Sakit – Syaikh Khalid Ismail #NasehatUlama

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya …” maksudnya, merugi dengan keduanya, karena banyak orang tidak bisa memanfaatkan dua nikmat ini. “… yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Allah memberikan Anda kesehatan dan keselamatan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, “Tidak ada sesuatu yang diberikan kepada seorang hamba yang lebih baik setelah yakin, melainkan kesehatan.” (HR. Tirmizi) Jadi, kesehatan adalah nikmat yang agung, karena orang yang sakit mungkin tidak mampu melakukan banyak amal ketaatan. Sakit menghalangi Anda dari banyak ketaatan.

Hari ini Anda sehat, bisa berjalan ke masjid, kuat berpuasa di siang hari, mampu melakukan Salat Malam, bisa menghafal al-Quran, mampu berdakwah mengajak kepada Allah, dan sanggup membantu orang yang kesulitan. Namun besok, mungkin Anda terhalang dari berbagai amal ketaatan ini. Anda terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak. Anda berharap bisa bersujud kepada Allah walaupun satu kali, ingin memperlama sujud dan salat Anda, dan berangan-angan bisa berjalan ke masjid. Namun, Anda terhalang dari semua ini, dan mungkin karena rasa sakit yang sangat, hingga Anda tidak bisa menikmati zikir dan bacaan al-Quran Anda.

Andai kata orang yang sakit berusaha sekuat tenaga, tetap tak bisa diragukan bahwa di kala sehat dan selamat seseorang mampu menikmati seninya beribadah kepada Allah, maksudnya dengan berbagai jenisnya, sehingga bisa melakukan beragam ketaatan. Oleh karena itu, kita memohon kepada Allah Ta’ālā agar membantu kita memanfaatkan nikmat yang besar ini.

================================================================================

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

يَعْنِي خَسِرَهُمَا

وَمَا اسْتَغَلَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَاتَيْنِ النِّعْمَتَيْنِ

الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

أَعْطَاكَ اللهُ تَعَالَى الصِّحَّةَ وَالْعَافِيَةَ

وَكَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: مَا أُوتِيَ عَبْدٌ

بَعْدَ الْيَقِينِ أَعْظَمُ مِنَ الْعَافِيَةِ

فَالْعَافِيَةُ نِعْمَةٌ عَظِيمَةٌ

لِأَنَّ الْإِنْسَانَ الْمَرِيضَ رُبَّمَا مَا يَسْتَطِيعُ

أَنْ يُؤَدِّيَ كَثِيرًا مِنَ الطَّاعَاتِ

يَحُوْلُ الْمَرَضُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ كَثِيرٍ مِنَ الطَّاعَاتِ

الْيَوْمَ أَنْتَ صَحِيحٌ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَمْشِيَ إِلَى الْمَسْجِدِ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ النَّهَارَ

تَسْتَطِيعُ أَنَّ تَقُومَ اللَّيْلَ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَحْفَظَ الْقُرْآنَ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تَدْعُوَ إِلَى اللهِ

تَسْتَطِيعُ أَنْ تُسَاعِدَ الْمُحْتَاجِيْنَ

لَكِنْ غَدًا رُبَّمَا يُحَالُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ هَذِهِ الطَّاعَاتِ

تَكُونُ قَعِيدَ الْفِرَاشِ

لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَتَحَرَّكَ

تَتَمَنَّى أَنْ تَسْجُدَ لِلهِ سَجْدَةً

تَتَمَنَّى أَنْ تُطِيلَ فِي سُجُودِكَ وَفِي قِيَامِكَ

تَتَمَنَّى أَنْ تَمْشِيَ إِلَى بَيْتِ اللهِ

لَكِنْ حِيْلَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ هَذَا

رُبَّمَا بِسَبَبِ الْآلَامِ

رُبَّمَا مَا تَسْتَطِيعُ حَتَّى أَنْ تَسْتَمْتِعَ

بِذِكْرِكَ أَوْ قِرَاءَتِكَ لِلْقُرْآنِ

وَإِنْ كَانَ الْمَرِيضُ جَاهِدَ نَفْسَهُ لَكِنْ

لَا شَكَّ أَنَّ وَقْتَ الصِّحَّةِ وَالْعَافِيَةِ

يَسْتَطِيعُ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَفَنَّنَ فِي عِبَادَةِ اللهِ فِي فُنُونِهَا

يَعْنِي فِي أَنْوَاعِهَا وَيُنَوِّعُ فِي الطَّاعَاتِ

فَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا

عَلَى اسْتِغْلَالِ هَذِهِ النِّعْمَةِ الْعَظِيمَةِ