7 Amalan Agar Anda Didoakan Malaikat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Marilah, kita tunjukkan beberapa amalan yang pelakunya akan dimohonkan ampun oleh para malaikat.
Terdapat dalam nash (al-Quran dan Hadis) beberapa amalan yang mana para malaikat memohonkan ampun untuk orang yang mengamalkannya. Misalnya, menunggu salat berjamaah di masjid.
Sesungguhnya para malaikat berselawat untuk salah seorang di antara kalian selama masih berada di tempat duduknya, mereka berkata, ‘Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia selagi dia belum berhadas dan salah seorang di antara kalian dianggap dalam salat selama masih menunggu salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika seseorang menunggu salat, para malaikat mendoakan kebaikan untuknya dan selepas salat apabila dia tetap duduk di tempatnya tanpa berhadas maka malaikat juga mendoakan dia. Dia duduk seperempat jam, setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai tiba salat berikutnya, selama itu malaikat mendoakan kebaikan untuknya. Baiklah, orang yang salat di saf pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada yang berada di saf-saf pertama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i dan hadis ini sahih)

Dan dalam riwayat lain, “Berselawat untuk orang yang berada di saf terdepan.”

Ketiga, menuntut ilmu.

Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sungguh orang yang berilmu akan dimohonkan ampun oleh mereka yang berada di langit dan yang di bumi sampai ikan paus di dalam laut. Dan keutamaan orang yang berilmu dari pada ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan seluruh bintang.” (HR. Abu Daud dan Tirmizi)

Empat, mengajari kebaikan pada manusia.

Orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, berbahagialah dia! Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus binatang dan makhluk yang paling besar dan yang paling kecil. sampai seekor semut dalam sarangnya dan sampai ikan paus Dan tentu juga semua binatang selain kedua binatang ini, semua binatang lainnya dan makhluk lain, Allah hanya menyebutkan kepada kita yang terkecil dan yang terbesar, namun keseluruhan binatang di alam semesta, semua binatang yang berjalan di alam ini, -Wahai para jamaah- semua binatang melata, seluruh binatang yang berjalan di alam ini. “Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit  penduduk langit adalah para malaikat, bidadari-bidadari bermata jeli, anak-anak muda yang kekal kepemudaan mereka, mereka itu adalah penduduk langit.  Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit…” Dan tentu di langit ada arwah para nabi, syuhada dan orang-orang mulia lainnya.

“Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi sampai seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus…”

Kenapa? Kenapa?
“Sungguh mereka berselawat …”

Mereka mendoakan kebaikan untuk siapa? Untuk siapa? Jumlah yang besar ini seluruhnya, ini jumlah yang besar, jumlah yang banyak.

“Sungguh mereka berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia.”

(HR. Tirmizi dan hadis ini sahih)

Tentu, para jamaah, ini adalah sesuatu yang memotivasi kita semua, Anda para laki-laki dan wanita, dia, saya dan kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam mengajarkan kebaikan kepada manusia. Demi Allah, ini membahagiakan sekali, ajarkan al-Fatihah, ajarkan makna al-Qur’an, ajarkan surat-surat pendek, ajarkan hadis Arba’in Nawawiyah, makna-makna hadis dan lain sebagainya. Ajarkan kepada manusia hukum-hukum fikih, halal dan haram, tafsir surat al-Fatihah, Ajari orang-orang adab dan akhlak, sirah nabawi, ajari orang-orang kebaikan, ajarkan kebaikan. Demi Allah, apabila kita menyibukkan diri dalam mengajarkan kebaikan niscaya akan lenyap banyak sekali kebodohan dan akan hilang banyak bid’ah, dan demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan berubah, berganti menjadi ketaatan, ilmu, cahaya, iman dan hidayah di tengah manusia.
Berilah pengajaran di masjid, mengajarlah di mimbar, mengajarlah dengan media pengumuman, mengajarlah di media sosial Facebook, mengajarlah melalui pesan-pesan WhatsApp, mengajarlah melalui surat elektronik (e-mail) dan pesan singkat di ponsel, mengajarlah dengan telepon, mengajarlah di sekolah rumah, mengajarlah di kantor-kantor, mengajarlah di pertemuan-pertemuan warga, berilah pengajaran ketika komunitas Anda berkumpul bersama Anda, ketika Anda berkumpul dengan komunitas Anda, dengan sahabat-sahabat Anda, berilah pengajaran ketika ada pertemuan keluarga, mengajarlah saat perkumpulan hari raya besok, mengajarlah!

Di semua tempat yang mungkin bagi Anda untuk menyampaikan pengajaran, maka ajarkanlah! Ajarilah, wahai jamaah, ajarilah kebaikan, ajarkan tauhid, ajarkan sunah, ajarkan sifat-sifat Allah, ajarkan makna asmaul husna yang agung, Ajarkan kepada mereka keadaan surga, neraka dan hari akhir serta segala sesuatu yang ada padanya dan apa yang akan mereka hadapi di sana. Ajari mereka tafsir surat al-Fatihah dan surat-surat pendek, ajari mereka hadis-hadis dan penjelasannya dan hukum-hukumnya, Ajari mereka adab dan akhlak, ajari mereka hal-hal yang meningkatkan iman dan melembutkan hati, ajarkan sirah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ajarkan sunah Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajarkan kehidupan Nabi Muhamad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ajarkan kebaikan! Ajarkan kebaikan! Kebaikan, apapun yang merupakan kebaikan, sesuatu yang bermanfaat untuk manusia bagi dunia ataupun akhirat mereka.Ajarkanlah kebaikan, bagaimana caranya sehingga mereka bisa menghindari hal-hal yang merupakan ancaman dalam badan mereka, yaitu pengajaran yang berhubungan dengan kesehatan. Ajarkan bagaimana cara untuk menghindari ancaman di dalam rumah dan di dalam kehidupan, yakni perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu pertahanan sipil dan protokol keselamatan dan pencegahan.

Apapun yang merupakan kebaikan dan pokok kebaikan adalah agama, maka ajarkanlah al-Qur’an dan sunah, ilmu al-Qur’an dan sunah, Cukup apabila seseorang membayangkan bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi dan bahkan seekor semut dalam sarangnya dan ikan paus dalam lautan, semua binatang melata, semuanya berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia, maka lakukanlah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Dan bayangkan saja, bagaimana pahalanya? Yakni, pada hari kiamat nanti, Anda tidak memiliki apa-apa kecuali lembaran-lembaran amal yang terbuka, yang di dalamnya terdapat doa-doa malaikat yang penuh bakti dan makhluk-makhluk Allah lain yang sangat banyak jumlahnya. Yang lain, amalan yang malaikat berselawat kepada orang yang mengamalkannya.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Al-Albani)

Makan sahur, tidakkah membantu dalam ibadah? Tidakkah menjauhkan Anda dari perihnya rasa lapar, amarah dan rasa tidak nyaman? Dan menguatkan Anda dalam beribadah? Padanya terdapat berkah? Dan menyelisihi Ahli Kitab? Yang lain, “Tidaklah seseorang berselawat untukku kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.” Lihat! Perhatikan ini! Perhatikan! “… kecuali para malaikat berselawat untuknya selama dia masih berselawat untukku.”

“Maka silakan seorang hamba memperbanyak selawat atau menyedikitkannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani)

Anda berkata, “Ya Allah, haturkan selawat untuk Nabi Muhamad.” sepuluh kali, seratus kali atau seribu kali. Maka setiap kali Anda duduk, berselawatlah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya merekapun (para malaikat) berselawat untuk Anda, mereka mendoakan kebaikan untuk Anda, para malaikat berselawat untuk Anda.

Yang lainnya, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit,  maksudnya di pagi hari, “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain pada waktu antara fajar hingga matahari terbit, Anda menjenguk ke rumah sakit atau seseorang sakit dan Anda menjenguk dia di rumahnya. “Tidaklah seorang muslim yang menjenguk muslim lain yang sedang sakit di pagi hari, kecuali ada tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuk dia.”

Tujuh puluh ribu, nolnya empat, tujuh puluh ribu malaikat, tujuh puluh ribu malaikat!  “(Mereka berselawat) hingga sore hari.” Yakni dari pagi hari sampai sore hari. Jika sore hari dimulai pada waktu salat Ashar, yakni jam empat, dan Anda berangkat menjenguk pada jam delapan pagi, sehingga dari jam delapan pagi hingga jam empat sore, delapan jam, para malaikat berselawat untuk Anda. “Dan apabila dia menjenguk pada waktu sore, maka tujuh puluh ribu malaikat berselawat untuknya sampai pagi hari. Dan dia mendapatkan kharif di surga.”

Kharif adalah panenan di surga, hasil panenan buah-buahan, buah-buahan ketika sudah dipanen, ini yang disebut dengan kharif di surga. Anda panen! Panen! Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan Ibnu Majah. Inilah beberapa amalan, beberapa amalan saja, belum seluruhnya, beberapa amalan yang membuat malaikat berselawat untuk orang yang mengamalkannya.

Nanti, bayangkan! Malaikat ini, doanya mustajab, tidak bermaksiat kepada Allah, yang mendoakan Anda ini bukan pelaku maksiat dan tidak pernah lalai dengan kewajiban, yang mendoakan Anda adalah mereka yang tidak pernah membangkang apa yang Allah perintahkan dan selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka.

Mungkin sebagian dari Anda berkata, “Mungkinkah bila Anda mengulang lagi kepada kami amalan-amalan yang tadi telah Anda sebutkan sehingga kami bisa ingat dan bersungguh-sungguh mengamalkannya?” Perhatikan saya sekali lagi! Pertama, menunggu salat jamaah dan duduk setelah salat di masjid, dan yang lebih besar pahalanya adalah menunggu salat berikutnya setelah salat.

Kedua, berada di saf pertama (salat berjamaah).

Ketiga, menuntut ilmu, dengan media apapun.

melalui kanal dakwah, situs internet, membaca buku, majelis ilmu dan kajian, mengundang ahli ilmu atau apapun caranya.

Keempat, mengajarkan kebaikan pada manusia.

Kelima, makan sahur.

Keenam, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketujuh, menjenguk orang sakit, inilah ketujuh amalan tersebut.

Ada tujuh, -Wahai jamaah-, siapa yang bisa mengulanginya untuk kita? Siapa yang bisa menyebutkan lagi untuk kita? Ada tujuh, menjenguk orang sakit, betapa banyaknya orang sakit, berselawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, makan sahur, mengajarkan kebaikan pada manusia, menuntut ilmu, berada di saf pertama dan menunggu salat. Tujuh amalan. Ya Allah, berikanlah kami taufik pada hal-hal yang membuat-Mu ridha, ya Allah berikanlah kami taufik pada perkara-perkara yang Engkau cintai dan jadikanlah amalan kami ikhlas hanya mengharap Wajah-Mu.

=====================

 

تَعَالَوْا نَسْتَعْرِضُ بَعْضَ الْأَعْمَالِ الَّتِي تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا

وَرَدَ فِي النُّصُوصِ أَعْمَالٌ تَسْتَغْفِرُ الْمَلَاَئِكَةُ لِصَاحِبِهَا

مِثَالٌ اِنْتِظَارُ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ

إِنَّ المَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ

وَأَحَدُكُمْ فِي صَلاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ الصَّلَاةُ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

لَمَّا يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو تَدْعُو لَهُ وَ بَعْدَ الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فِي مَجْلِسِهِ بِدُونِ أَنْ يُحْدِثَ فِيهِ الْمَلَاَئِكَةُ تَدْعُو لَهُ

جَلَسَ رُبُعَ سَاعَةٍ نِصْفَ سَاعَةٍ سَاعَةً سَاعَتَيْنِ إِلَى الصَّلَاةِ الَّتِي تَلِيهَا الْمَلَائِكَةُ تَدْعُو لَهُ

طَيِّبٌ أَهْلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهَ يُصَلُّونَ عَلَى صُفُوفِ الْأُوَلِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ

وَفِي رِوَايَةٍ
يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ

ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ

إنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا رِضاً لِطَالِبِ الْعِلْمِ

وَإنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى الحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

وفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ

أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ

مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَ هَنِيئًا لَهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ

أَكْبَرُ وَاحِدٍ أصْغَرُ وَاحِدٍ فِي الْحَيَوَانَاتِ وَ الْكَائِنَاتِ

حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ

طَبْعًا وَكُلُّ مَا بَيْنَهُمَا كُلُّ الْحَيَوَانَاتِ الْأُخْرَى وَ الْمَخْلُوقَاتِ بَسْ هُوَ يَعْنِي أَعْطَانَا الصَّغِيرَ وَ الْكَبِيرَ

لَكِنَّ شَامِلَ كُلَّ حَيَوَانٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ كُلَّ دَابَّةٍ يَا جَمَاعَةٌ كُلَّ دَابَّةٍ فِي الْعَالَمِ

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ

أَهْلَ السَّمَاوَاتِ اَلْمَلَائِكَةَ اَلْحُوْرَ الْعِيْنِ الْوِلْدَانَ الْمُخَلَّدُونَ أَهْلُ السَّمَاوَاتِ

إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وأَهْلَ السَّمَاوَاتِ
طَبْعًا السَّمَاوَاتُ فِيهَا أَرْوَاحُ أَنْبِيَاءٍ وَشُهَدَاءٍ وَ صَعَدَتْ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرَضِيْنَ حتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ

أَيْ؟ أَيْ؟
لَيُصَلُّونَ عَلَى

يَدْعُوْنَ لِمَنْ؟ مَنْ؟ كُلَّ الْعَدَدِ الْهَائِلِ الْهَائِلِ هَذَا الْعَدَدِ الْهَائِلِ

لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَدِيثٌ صَحِيْحٌ

بَلَى يَا جَمَاعَةٌ هَذَا مَا هُوَ دَافِعٌ لَنَا جَمِيعًا لَكَ لَكِ لَهُ لِي لَنَا أَنْ نَجْتَهِدَ فِي تَعْلِيمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

وَاللهِ سَعِيدٌ عَلِّمِ الْفَاتِحَةَ عَلِّمْ مَعَانِيَ الْقُرْآنِ عَلِّمْ قِصَارَ السُّوَرِ عَلِّمِ الْأَحَادِيثَ الْأَرْبَعِيْنَ النَّوَوِيَّةَ غَيْرَهَا مَعَانِيَ الْأَحَادِيثِ

عَلِّمِ النَّاسَ أَحْكَامَ الْفِقْهِ الْحَلَالَ الْحَرَامَ تَفْسِيرَ سُوْرِةِ الْفَاتِحَةِ

عَلِّمِ النَّاسَ الْآدَابَ وَالْأخْلَاقَ وَالسِّيْرَةَ النَّبَوِيَّةَ عَلِّمِ النَّاسَ الْخَيْرَ عَلِّمِ الْخَيْرَ

لَوِ اشْتَغَلْنَا وَاللهِ فِي تَعْلِيمِ الْخَيْرِ لَانْمَحىَ جَهْلٌ كَثِيرٌ وَزَالَتْ بِدَعٌ كَثِيرَةٌ وَكَذَلِكَ تَغَيَّرَتْ مُنْكَرَاتٌ وَمَعَاصٍ

وَصَارَتْ بَدَلًا مِنْهَا الطَاعَاتُ وَالْعِلْمُ وَالنُّورُ وَ الْإِيمَانُ وَالْهِدَايَةُ عِنْدَ النَّاسِ

عَلِّمْ فِي الْمَسْجِدِ عَلِّمْ فِي الْمِنْبَرِ عَلِّمْ فِي الْإِعْلَامِ عَلِّمْ فِي مَوَاقِعِ التَّوَاصُلِ فِيسْ بُوْك عَلِّمْ فِي رَسَائِلِ وَاتْسَاب

عَلِّمْ فِي الْبَريدِ الْإِلِكْتُرُوْنِيِّ وَرَسَائِلِ الْجَوَّالِ عَلِّمْ بِالْاِتِّصَالِ عَلِّمْ بِدُرُوسِ بَيْتِيَّةِ عَلِّمْ فِي الدِّيوَانِيَّاتِ عَلِّمْ فِي مُلْتَقَى الْحَارَّةِ

عَلِّمْ لَمَّا تُجْتَمِعُ الشِّلَّةُ مَعَكَ تَجْتَمِعُ مَعَهَا مَعَ أَصْحَابِكَ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْأَقَارِبِ عَلِّمْ فِي اِجْتِمَاعِ الْعِيدِ الْقَادِمِ عَلِّمْ كُلَّ مَكَانٍ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ التَّعَالِيمَ عَلِّمْ

عَلِّمْ يَا جَمَاعَةٌ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا التَّوْحِيدَ عَلِّمُوا السُّنَّةَ عَلِّمُوا صِفَاتِ اللهِ عَلِّمُوهُمْ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللهِ الْعَظِيمَةِ الْحُسْنَى

عَلِّمُوهُمْ صِفَةَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَ مَاذَا يُوْجَدُ فِيهِ وَمَا هُمْ مُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فِي الْآخِرَةِ

عَلِّمْهُمْ تَفْسِيرَ سُورَةِ الْفَاتِحَةِ وَقِصَارِ السُّوَرِ عَلِّمْهُمْ عَلِّمْهُمْ الْأحَادِيثَ الشُّرُوحَ الْأَحَادِيثِ وَ الْأَحْكَامَ

عَلِّمُوا الْآدَابَ عَلِّمُوا الْأَخْلَاقَ عَلِّمُوا الْإِيمَانِيَّاتِ الرَّقَائِقَ عَلِّمُوا سِيْرَةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَلِّمُوا سُنَّةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمُوا حَيَاةَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

عَلِّمُوا الْخَيْرَ عَلِّمُوا الْخَيْرَ خَيْرًا أَيَّ شَيْءٍ اِسْمُهُ خَيْرٌ شَيْءٌ يَنْفَعُ النَّاسَ فِي دِينِهِمْ وَ دُنْيَاهُمْ

عَلِّمُوا الْخَيْرَ كَيْفَ حَتَّى يَتَوَقَّى أَشْيَاءً يَعْنِي مِنَ الآفَاتِ الَّتِي فِي الْجَسَدِ شَيْءٌ يَتَعَلَّقُ بِالطِّبِّ

عَلِّمُوا كَيْفَ يَتَوَقَّى آفَاتَ فِي الْبَيْتِ فِي الْحَيَاةِ يَعْنِي أَشْيَاءٌ مِنْ عُلُومٍ مِنْ عُلُومِ الدِّفَاعِ الْمَدَنِيِّ السَّلَاَمَةِ إِجْرَاءَاتِ السَّلَاَمَةِ وَالْوِقَايَةِ

أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٍ وَرَأْسُ الْخَيْرِ الدِّيْنُ عَلِّمُوا الدِّينَ الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ عُلُومَ الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ

يَعْنِي وَاحِدٌ لَوْ بَسْ كَذَا يَتَخَيَّلُ يَعْنِي
إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ وَأهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ

كُلُّ الدَّوَابِّ كُلٌّ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ وَخَلِّهَا بِنِّيَّةٍ خَالِصَةٍ لِلهِ

وَشُفْ الْأَجْرَ كَيْفَ؟
يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا لَكَ إِلَّا صُحُفًا مُنَشَّرَةً

فِيهَا أَدْعِيَةُ الْبَرَرَةِ وَمَخْلُوقَاتِ اللهِ الْكَثِيرَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ

غَيْرُهُ أَعْمَالٌ الْمَلَاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَصْحَابِهَا

إِنَّ اللهَ وَمَلَاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
رَوَاهُ ابْنُ حِبَّان وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ

سُحُورٌ أَلَيْسَ يُعِيْنُ عَلَى الْعِبَادَةِ ؟ أَلَيْسَ جَعَلَكَ أَبْعَدَ عَنْ أَلَمِ الْجُوعِ وَالْعَصَبِيَّةِ وَالنَّرْفَزَةِ؟

وَيُقَوِّيْكَ عَلَى الْعِبَادَةِ؟ فِيهِ بَرَكَةٌ؟ يُخَالِفُ أهْلَ الْكِتَابِ؟

غَيْرُهُ
مَا صَلَّى عَلَيَّ أحَدٌ صَلَاةً إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ

شُفْ لَاحِظْ هَذَا لَاحِظْ
إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّي عَلَيَّ

فَلْيُقِلَّ العَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أوْ لِيُكْثِرَ
رَوَاهُ الْإمَامُ أَحَمْدُ وَابْنُ مَاجَه وَحَسَّنَهُ الْأَلْبَانِيُّ

تَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشَرَ مرَّاتٍ مِائِةَ مَرَّةٍ ألْفَ مَرَّةٍ أَنْتَ وَمَا كُلَّمَا أَنْتَ جَالِسٌ صَلِّ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهِيَ تُصَلِّي عَلَيْكَ تَدْعُو لَكَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْكَ

غَيْرُهُ
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً

يَعْنِيْ صَبَاحًا
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً

تُرَاحِلُ فِي المُسْتَشْفَى مَرِيْضٌ تَمُرُّ عَلَيْهِ فِي الْبَيْتِ

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِماً غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ

سَبْعُونَ أَلْفَ أَرْبَعَ أَصْفَارٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ

حَتَّى يُمْسِي
يَعْنِي مِنَ الصَّبَاحِ إِلَى الْمَسَاءِ

إِذَا كَانَ الْمَسَاءُ يُبْدَأُ الْعَصْرُ يَعْنِيْ السَّاعَةَ الأَرْبَعَةَ

وَأَنْتَ رَحَلْتَ فِي السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ الصَّبَاحَ

مِنَ السَّاعَةِ الثَّمَانِيَّةِ إِلَى السَّاعَةِ الأَرْبَعَةِ ثَمَانِيَ سَاعَاتٍ الْمَلَائِكَةُ شَغَلَ صَلَاةً صَلَاةً عَلَيْكَ

وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ ألْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبحَ

وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

الْخَرِيْفُ خُرَافَةُ الْجَنَّةِ مُجْتَنَى الثِّمَارِ الثِّمَارُ إِذَا اجْتُنِيَتْ هَذَا خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

عِنْدَكَ مَحْصُولٌ مَحْصُولٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه

هَذِهِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ مَا كُلُّ الْأَعْمَالِ بَعْضُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُصَلِّي الْمَلَائِكَةُ عَلَى أَصْحَابِهَا

بَعْدٍ شُفْ مَلَكٌ هَذَا يَعْنِي مُجَابُ الدَّعْوَةِ مَا عَصَى اللهَ الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ مَا هُمْ عُصَاةٌ مُقَصِّرُونَ

الَّذِينَ يَدْعُونَ لَكَ لَا يَعْصُونَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَ يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

يُمْكِنُ بَعْضُكُمْ يَقُولُ مُمْكِنُ تُعِيدُ لَنَا هَذِهِ الْأَشْيَاءَ الَّتِي ذَكَرْتَهَا حَتَّى نُثَبِّتَهَا وَنَجْتَهِدَ فِيهَا؟

خُذْ مَعِي مَرَّةً ثَانِيَةً وَاحِدٌ انْتِظَارُ صَلَاَةِ الْجَمَاعَةِ وَالْجُلُوسُ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي الْمَسْجِدِ

وَأَعْظَمُ مِنْهُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ

اِثْنَينِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ

ثَلَاثَةٌ طَلَبُ الْعِلْمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ

عَنْ طَرِيقِ قَنَاةٍ مَوْقِعٍ كِتَابٍ حَلْقَةِ الذِّكْرِ حَلْقَةِ الْعِلْمِ دَعْوِ الْعَالِمِ أَيُّ وَسِيلَةٍ

أَرْبَعَةٌ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ

خَمْسَةٌ السُّحُورُ

سِتَّةٌ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ هَذِهِ سَبْعَةُ أَعْمَالٍ

سَبْعَةٌ يَا جَمَاعَةٌ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا ؟ مَنْ يَعُدُّهَا لَنَا؟

سَبْعَةٌ عِيَادَةُ الْمَرِيضِ مَا أَكْثَرَ الْمَرْضَى

الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّحُورُ تَعْلِيمُ النَّاسِ الْخَيْرَ طَلَبُ الْعِلْمِ الصَّفُّ الْأَوَّلُ اِنْتِظَارُ الصَّلَاةِ

سَبْعَةٌ

يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا يُرْضِيكَ يَا اللهُ وَفِّقْنَا لِمَا تُحِبُّ وَاجْعَلْ عَمَلَنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ

 

Nasehat Indah Syaikh bin Baz Tentang Takwa #NasehatUlama

Dan takwa ini menguat, membesar, bertambah kokoh dan terus ada karena buah dari seorang hamba yang takut kepada Allah, menjaga perintah-perintah-Nya, menghindari apa yang Dia haramkan dan tidak melanggar batasan-batasan-Nya. Maka semakin hal-hal ini dijaga dan dilaksanakan dengan baik, ketakwaannya kepada Allah akan semakin baik dan sempurna. Dan setiap kali kaki seorang hamba tergelincir pada sesuatu yang membuat Allah murka, berkuranglah ketakwaan ini dan semakin melemah. Ketakwaan adalah iman dan petunjuk sebagaimana keyakinan Ahlu Sunah wal Jama’ah, iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, yakni bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat.

Keimanan adalah ketakwaan, sehingga takwa juga perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang, karena takwa adalah iman. Dengan pengertian lain yang dijelaskan oleh Ahlu Sunah bahwa iman adalah perkataan, perbuatan dan keyakinan. Dengan kata lain, perkataan dengan lisan, perbuatan dengan anggota badan dan keyakinan dalam diri, dengan hati, semua itu adalah definisi milik Ahlu Sunah. Keimanan, ketakwaan, petunjuk, keislaman, kebaikan, kesalehan dan petunjuk semua itu berupa perkataan dan perbuatan. Perkataan dan perbuatan, perkataan dengan hati dan lisan dan perbuatan dengan hati dan anggota badan.

Maka dengan berbagai ketaatan menguatlah iman dan semakin besar dan semakin sempurna pula takwanya sehingga bisa mencapai puncak kesempurnaannya. Dan dengan segala bentuk kemaksiatan melemahlah keimanan dan ketakwaan, menjadi sedikit dan semakin sedikit. Maka sesuai kadar kesungguhan seorang mukmin dalam takwanya kepada Allah, tidak melanggar apa yang Allah haramkan, menjauhi hal-hal yang mengundang murka Allah, merasa diawasi oleh Tuhan-Nya dan berhenti di belakang batasan-batasan Allah, semakin sempurnalah takwanya dan semakin besar pula imannya, islamnya, kebaikannya, petunjuknya dan kesalehannya. Dan seberapa besar pula dia terjatuh dalam dosa berupa berkataan atau perbuatan, sebesar itu pula berkurang imannya dan melemah takwanya dan kebaikannya, sesuai kadar dosa yang dia lakukan. Dan kadang kala dosa-dosa tersebut banyak sehingga membuat iman dan takwa ini terkikis dan tidak tersisa kecuali sedikit saja. Dan terkadang juga ada kesalahan yang mengakibatkan imannya hilang secara keseluruhan, menghilangkan semua takwanya, yaitu kesalahan berupa pembatal-pembatal keislaman.

Apabila dia melakukan kesalahan yang merupakan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman maka hilanglah seluruh imannya dan semua takwanya sehingga dia menjadi murtad dan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya selama-lamanya jika dia mati dalam keadaan demikian. Maka dengan ini seorang mukmin dan penuntut ilmu paham bahwa ini adalah masalah yang penting sehingga harus diperhatikan baik-baik dan bahwa dunia ini adalah tempat untuk beramal, tempat pertarungan antara kebenaran dan kebatilan dan tempat yang penuh dengan mara bahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang shahih, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena adanya fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita.” (HR. Muslim)

Dan dalam riwayat lain, “Bersegeralah kalian melakukan amal saleh karena akan datang banyak fitnah yang seperti potongan malam yang gelap gulita sehingga seseorang di pagi hari beragama Islam dan menjadi kafir pada sore harinya atau di sore hari dia masih beriman dan telah kafir pada esok harinya, karena dia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim) Demikian hadis ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak seseorang di pagi hari beriman kemudian di sore harinya telah kafir dan betapa banyak orang yang beriman di sore hari dan keesokan harinya telah kafir, sungguh tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah. Kenapa dia jadi kafir? Penyebabnya banyak, diantaranya mencela Allah, atau mencela rasul-Nya, atau mencerca agama Allah, atau mencerca al-Qur’an atau merendahkannya, atau mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencerca beliau dan merendahkan beliau, atau mengolok-olok agama Allah atau mengolok-olok masalah surga, neraka, salat, puasa, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Dengan demikian dia menjadi kafir setelah berislam dan beriman, murtad dan halal darah dan hartanya, kecuali apabila dia kembali, kecuali apabila dia bertaubat. Dan termasuk pembatal keislaman adalah mengingkari sebagian perkara yang telah Allah wajibkan berupa syariat yang telah dikenal secara luas sebagai bagian dari agama. Seperti apabila seseorang mengingkari wajibnya mengucapkan dua kalimat syahadat atau mengingkari wajibnya mengesakan Allah dan beribadah hanya kepada-Nya, sehingga dia berkata, “Tidak mengapa meminta kepada patung dan berhala dan berdoa kepada selain Allah.” Padahal dia telah terjatuh dalam syirik akbar.

Atau mengingkari wajibnya beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berkata bahwa beliau bukanlah rasul untuk seluruh manusia melainkan hanya untuk bangsa Arab saja, sebagaimana diucapkan oleh sebagian orang Yahudi dan Nasrani non-Arab. Atau mengingkari wajibnya salat, mengingkari wajibnya zakat, mengingkari wajibnya puasa Ramadan, mengingkari wajibnya haji bagi yang mampu, mengingkari syariat jihad, mengingkari haramnya zina dan minuman keras, haramnya durhaka kepada orang tua dan memutuskan hubungan silaturahmi, atau juga mengingkari haramnya riba dan haramnya minum minuman keras.

Semua ini dan yang semisalnya adalah kemurtadan, satu saja sudah cukup, satu saja dari perbuatan-perbuatan ini sudah menghilangkan keimanan dari pangkalnya, dan menghilangkan ketakwaan dari pangkalnya sehingga dia menjadi kafir, murtad dan halal darah dan hartanya, kita memohon keselamatan kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Bukhari)

Ini adalah masalah yang berbahaya di dunia ini, maka wajib bagi orang yang beriman untuk berhati-hati, senantiasa khawatir dan takut karena Allah, selalu istiqamah dan selalu menjaga agamanya. Dan termasuk pembatal keislaman adalah meninggalkan salat dengan sengaja walaupun dia mengakui kewajibannya, walaupun dia berkata bahwa salat itu wajib namun dia tidak salat dan tidak peduli dengan salat. Ini adalah masalah yang diperselisihkan oleh para ulama, dan sebagian mereka berkata bahwa pelakunya menjadi kafir dan murtad walaupun tidak mengingkari kewajibannya. Dan sebagian yang lain berkata bahwa dia tidak murtad kecuali bila mengingkari kewajibannya.

Namun dia kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama dan dia telah melakukan kemungkaran yang besar yang lebih besar dan lebih buruk dari pada zina, minum minuman keras dan yang semisalnya. Dan yang benar dalam masalah ini adalah bahwa pelakunya kafir walaupun dia tidak mengingkari kewajibannya, kafir keluar dari agama, berdasarkan dalil yang banyak, diantaranya perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlu Sunan dengan sanad yang sahih dari Buraidah -Semoga Allah meridai beliau-dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) adalah salat, barang siapa meninggalkannya dia telah kafir.” Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau dari Jabir -Semoga Allah meridhai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemisah antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah meninggalkan salat.”

Dua hadis ini dan hadis lain yang semakna dengan keduanya adalah hujah dari Allah yang telah tegak bagi setiap orang yang meninggalkan salat walau tidak mengingkari kewajibannya. Dan Abdullah bin Syaqiq al-‘Uqaili telah menceritakan adanya konsensus para sahabat Nabi akan hal ini, bahwa meninggalkan salat adalah kekafiran. Maka kita wajib untuk berhati-hati dan saling menasehati masalah salat ini dan menjaganya dan saling menasehati agar senantiasa istikamah di atas agama Allah, menjaga ketakwaan dan bersemangat untuk menguatkannya dengan menaati Allah dan rasul-Nya dan menghindari dari bermaksiat kepada-Nya, sebagaimana kita juga harus berhati-hati terhadap hal-hal yang bisa mengurangi ketakwaan dan melemahkan iman berupa semua bentuk kemaksiatan dan penyimpangan.

Saya memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung agar memberikan kita dan kalian semua taufik kepada segala hal yang membuat-Nya ridha, memberikan kepada kita dan kalian semua keistiqamahan di atas agama-Nya, membantu kita semua agar senantiasa ingat pada-Nya, bersyukur pada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya, dan memberikan taufik pada kita untuk istikamah di atas ketaatan pada-Nya dan pada rasul-Nya dan istiqamah menjaga ketakwaan pada-Nya sampai kita bertemu Dia yang Maha Suci. Sungguh Dialah yang Maha Baik lagi Maha Dermawan, semoga Allah limpahkan selawat, salam dan berkah-Nya kepada hamba-Nya sekaligus utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, dan juga kepada keluarga beliau dan sahabat-sahabat beliau, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik.

=======

وَهَذِهِ التَّقْوَى تَقْوَى وَتَكْبُرُ وَتَثْبُتُ وَتَسْتَقِرُّ مِنْ ثِمَارِ الْعَبْدِ فِي خَوْفِ اللهِ وَحِفَاظِهِ عَلَى أَوَامِرِ اللهِ وَانْكِفَافِهِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ وَوُقُوفِهِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ

فَكُلَّمَا كَانَ لِهَذِهِ الْمَسَائِلِ أَرْعَى وَأَقْوَمَ صَارَتْ تَقْوَاهُ لِلهِ أكَمَلَ وَأَتَمَّ

وَكُلَّمَا زَلَّتْ فِيهِ الْقَدَمُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يُغْضِبُ اللهُ نَقَصَتْ هَذِهِ التَّقْوَى وَضَعُفَتْ هَذِهِ التَّقْوَى

وَذَلِكَ هُوَ الْإيمَانُ وَهُوَ الْهُدَى كَمَا قَالَ أهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ الْإِيْمَانُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

يَزِيدُ وَيَنْقُصُ يَعْنِي يَزِيدُ بِالطَّاعَاتِ وَيَنْقُصُ بِالْمَعَاصِي

وَهُوَ التَّقْوَى أَيْضًا وَكَذَلِكَ التَّقْوَى قَوْلٌ وَعَمَلُ تَزِيدُ وَتَنْقُصُ لِأنَّ التَّقْوَى هِيَ الْإِيمَانُ

وَفِي عِبَارَةٍ أُخْرَى لِأَهْلِ السُّنَّةِ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَ عَقِيدَةٌ

بِلَفْظٍ آخَرَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَ اعْتِقَادٌ بِالْجَنَانِ بِالْقَلْبِ كُلُّهَا عِبَارَاتٌ لِأهْلِ السُّنَّةِ

الْإِيمَانُ وَالتَّقْوَى وَالْهُدَى وَالْإِسْلَامُ وَالْبِرُّ وَ الْإِصْلَاحُ وَالْهُدَى كُلُّهُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ

قَوْلٌ وَعَمَلٌ قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَالْجَوَارِحِ

فَبِالطَّاعَاتِ يَقْوَى الْإِيمَانُ وَيَكْبُرُ وَتَكْمُلُ التَّقْوَى حَتَّى يَصِلَ إِلَى الْقِمَّةِ

وَبِكُلِّ مَعْصِيَةٍ يَنْقُصُ هَذَا الْإِيمَانُ وَتَنْقُصُ التَّقْوَى فَمُقِلٌّ وَمُسْتَقِلٌّ

فَعَلَى حَسَبِ نَشَاطِ الْمُؤْمِنِ فِي تَقْوَى اللهِ وَ الْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِهِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَسَاخِطِهِ وَ مُرَاقَبَتِهِ رَبَّهُ وَالْوُقُوفِ عِنْدَ حُدُودِ اللهِ

تَكْمُلُ تَقْوَاهُ وَيَكْبُرُ إيمَانُهُ وَيَكْبُرُ إِسْلَامُهُ وَ يَكْبُرُ بِرُّهُ وَهُدَاهُ وَصَلَاحُهُ

وَعَلَى حَسَبِ مَا يَقَعُ مِنْهُ مِنَ الزَّلَلِ الْقَوْلِيِّ أَوِ الْعَمَلِيِّ يَنْقُصُ الْإِيمَانُ وَتَضْعُفُ التَّقْوَى وَ يَنْقُصُ الْبِرُّ عَلَى حَسَبِ مَا وَقَعَ مِنَ الزَّلَلِ

وَقَدْ يَكْثُرُ الزَلَلُ حَتَّى لَا يَبْقَى مِنْ هَذَا الْإِيمَانِ وَمِنَ التَّقْوَى إِلَّا شَيْءٌ يَسِيرٌ

وَقَدْ تَقَعُ مِنْهُ زَلَّةٌ تُزِيلُ إِيمَانَهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَتُزِيلُ تَقْوَاهُ بِالْكُلِّيَّةِ وَهِيَ النَّاقِضُ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ

إِذَا وَقَعَ مِنْهُ زَلَّةٌ تُعْتَبَرُ نَاقِضٌ مِنْ نَوَاقِضِ الْإِسْلَامِ زَالَ هَذَا الْإيمَانُ بِالْكُلِّيَّةِ وَزَالَتْ هَذِهِ التَّقْوَى بِالْكُلِّيَّةِ وَصَارَ مِنَ الْمُرْتَدِّينَ وَمِنْ أهْلِ النَّارِ الْمُخَلَّدِينَ فِيهَا أَبَدَ الْآبَادِ إِذَا مَاتَ عَلَى ذَلِكَ

وَبِهَذَا يَعْلَمُ مُؤْمِنٌ وَطَالِبُ الْعِلْمِ أَنَّ الْأَمْرَ خَطِيرٌ وَأَنَّهُ يَجِبُ بِالْعِنَايَةِ وَأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ دَارُ الْعَمَلِ وَدَارُ الصِّرَاعِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ وَ دَارُ الْأَخْطَارِ

يَقُولُ النَّبِيُّ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَفِي لَفْظٍ آخَرَ بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فَسَتَكُونُ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ

يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيْهَا مُسْلِماً وَيُمْسِي كَافِراً وَ يُمْسِي مُؤْمِناً وَيُصْبِحُ كَافِراً

يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
رَوَاهُ مُسْلِمٌ

هَكَذَا جَاءَ الْحَديثُ عَنْ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَكَمْ مِنْ مُصْبِحٍ مُؤْمِنٍ أَمْسَى كَافِراً وَكَمْ مِنْ مُمْسٍ مُؤْمِنٍ أَصْبَحَ كَافِراً وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله

بِمَاذَا ؟ بِأُمُورٍ مِنْهَا سَبُّ اللهِ أَوْ سَبُّ رَسُولِهِ أَوِ الْطَعْنُ فِي دِيْنِ الله أَوِ الْطَعْنُ فِي الْقُرْآنِ وَ تَنَقُّصُهُ

أَوْ سَبُّ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوِ الْطَعْنُ فِيهِ أَوْ تَنَقُّصُهُ أَوِ الْاِسْتِهْزَاءُ بِدِيْنِ اللهِ أَوْ بِالْجَنَّةِ أَوْ بِالنَّارِ أَوْ بِالصَّلَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ

أَوْ بِالزَّكَاةِ أَوْ بِالصِّيَامِ أَوِ الْحَجِّ أَوْ غَيْرِ هَذَا

فَيُصْبِحُ بَعْدَ إِسْلَامِهِ وَإيمَانِهِ كَافِراً مُرْتَدًّا حَلَالَ الدَّمِ وَالْمَالِ إِلَّا أَنْ يُرَاجِعَ إِلَّا أَنْ يَتُوبَ

وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَجْحَدَ بَعْضَ مَا أَوْجَبَ اللهُ مِنَ الْأُمُورِ الْمَعْرُوفَةِ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ

كَأَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ النُّطْقِ بِالشَّهَادَتَيْنِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ تَوْحِيدِ اللهِ وَالْإِخْلَاصِ لَهُ

وَيَقُولُ لَا مَانِعَ مِنْ دَعْوَةِ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ وَدَعْوَةِ غَيْرِ اللهِ فَيَقَعُ فِي الشِّرْكِ الْأَكْبَر
ِ
أَوْ يَجْحَدَ الْإيمَانَ بِالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْ يَقُولُ لَيْسَ بِرَسُولٍ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَلْ لِلْعَرَبِ فَقَطْ كَمَا يَقُولُ بَعْضُ الْأَعَاجِمِ مِنَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

أَوْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الصَّلَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ الزَّكَاةِ أَوْ أَنْ يَجْحَدَ وُجُوبَ صِيَامِ رَمَضَانَ

أَوْ وُجُوبَ الْحَجِّ مَعَ الْاِسْتِطَاعَةِ أَوْ شَرْعِيَّةَ الْجِهَادِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الزِّنَا أَوْ تَحْرِيمَ الْخَمْرِ أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ أَوْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ

أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ الرِّبَا أَوْ يَجْحَدَ تَحْرِيمَ شُرْبِ الْخَمْرِ

هَذِهِ وَأَشْبَهُهَا رِدَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنهَا تَكْفِي وَاحِدَةٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ تُزِيْلُ هَذَا الإِيمَانَ مِنْ أَصْلِهِ

وَتُزِيلُ هَذِهِ التَّقْوَى مِنْ أَصْلِهَا فَيَبْقَى صَاحِبُ ذَلِكَ كَافِرًا مُرْتَدًّا حَلالَ دَمِهِ وَمَالِهِ نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ

كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

فَالْأَمْرُ خَطِيرٌ فِي هَذِهِ الدَّارِ فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَحْذَرَ وَأَنْ يَكُونَ دَائِمًا عَلَى الْوَجِلِ وَالْخَوْفِ مِنَ اللهِ

وَعَلَى اسْتِقَامَةٍ وَمُحَافَظَةٍ عَلَى دِينِهِ

وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ يَدَعَ الصَّلَاةَ عَمْدًا وَإِنْ أَقَرَّ بِوُجُوبِهَا وَإِنْ قَالَ هِيَ وَاجِبَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُصَلِّي وَ لَا يُبَالِي

فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ تَنَازَعَ فِيهَا الْعُلَمَاءُ فَقَالَ بَعْضُهُمْ يَكُونُ مُرْتَدًّا كَافِرًا وَإِنْ لَمْ يَجْحَدْ وُجُوبَهَا

وَقَالَ آخَرُونَ لَا يَكُونُ مُرْتَدًّا حَتَّى يَجْحَدَ الْوُجُوبَ

وَلَكِنَّهُ يَكُونُ كَافِراً كُفْرًا دُونَ كُفْرٍ وَيَكُونُ قَدْ تَعَاطَى مُنْكِرًا عَظِيماً أَكْبَرَ وَأَشَدَّ مِنَ الزِّنَا وَ شُرْبِ الْخَمْرِ وَنَحوِ ذَلِكَ

وَالصَّوَابُ فِي هَذَا أَنَّهُ كَافِرٌ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ كُفْرًا أَكْبَرَ

لِأَدِلَّةٍ كَثِيرَةٍ مِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَهْلُ السُّنَنِ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

وَمِنْهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

هَذَانِ الْحَدِيثَانِ وَمَا جَاءَ فِي مَعْنَاهُمَا حُجَّةُ اللهِ الْقَائِمَةُ عَلَى كُلِّ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ وَإِنْ لَمْ يَجْحَدِ الْوُجُوبَ

وَحَكَى عَبْدُ اللهِ بْنِ شَقِيقٍ الْعُقَيْلِيِّ إِجْمَاعَ الصَّحَابَةِ عَلَى ذَلِكَ عَلَى أَنَّ تَرْكَ الصَّلَاةِ كُفْرٌ

فَالْوَاجِبُ الْحَذَرُ وَالتَّوَاصِي بِهَذِهِ الصَّلَاةِ وَ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالتَّوَاصِي بِالْاِسْتِقَامَةِ عَلَى دِيْنِ اللهِ

وَلُزُومِ التَّقْوَى وَالْحِرْصِ عَلَى مَا يُقَوِّيهَا مِنْ طَاعَةِ اللهِ وَالرَّسُولِ وَالْحَذَرِ مِنْ مَعَاصِي اللهِ

كَمَا يَجِبُ الْحَذَرُ مِمَّا يَنْقُصُهَا وَيُضْعِفُ الْإيمَانَ مِنْ سَائِرِ الْمَعَاصِي وَالْمُخَالَفَاتِ

أَسْأَلُ اللهَ بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يُوَفِّقَنَا وَإِيَّاكُمْ لِمَا يُرْضِيهِ

وَأَنْ يَرْزُقَنَا وَإِيَّاكُمُ الْاِسْتِقَامَةَ عَلَى دِينِهِ وَأَنْ يُعِينَنَا جَمِيعًا عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ

وَأَنْ يُوَفِّقَنَا لِلْاِسْتِقَامَةِ عَلَى طَاعَتِهِ وَطَاعَةِ رَسُولِهِ وَلُزُومِ تَقْوَاهُ حَتَّى نَلْقَاهُ سُبْحَانَهُ

إِنَّهُ جَوَّادٌ كَرِيمٌ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ

وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِ بِإِحْسَانٍ

Pentingnya Mempelajari Bahasa al-Quran – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Yang pertama, bahwa at-Thufi atau Sulaiman Najmuddin at-Thufi dalam kitab al-Iksir berkata,

Sesungguhnya orang-orang dan para ahli tafsir ketika mempelajari kitab Allah ‘azza wa jalla dari banyak sisinya, mereka lupa mempelajari tujuan terbesar dalam al-Qur’an setelah tujuan menunjukkan eksistensi Allah ‘azza wa jalla dan keesaan-Nya, yaitu keajaiban tata bahasanya.” Maka wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian terhadap kitab ini, kitab Allah ‘azza wa jalla, dan memperhatikan sisi kebahasaannya.

Dan cara pertama yang bisa dilakukan seseorang adalah dengan mendalami pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib), ini yang pertama, dan tentu ini tidak harus runtut. Dan pengetahuan tentang kata-kata sukar yang sulit dipahami (ghorib) bisa didapatkan dengan membaca kitab-kitab bahasa dan syair orang-orang terdahulu, maka bacalah kitab-kitab terdahulu yang terdapat padanya kata-kata sukar (ghorib) sehingga Anda bisa mengerti sinonim dan maksud katanya. Mungkin ada kata yang sudah Anda ketahui, namun apabila kata tersebut ditemukan pada beberapa konteks, Anda akan lebih memahami maksudnya.

Adapun membaca kamus, iya, ini juga salah satu cara, namun menghafalkan kamus dan definisi-definisi kata sangatlah sulit, namun dengan membacalah Anda akan mendapatkan pengetahuan, jadi inilah masalah yang berhubungan dengan kata-kata sukar (ghorib), Anda harus mengerti arti kata sukar (ghorib) dan kosa-kata bahasa.

Sebagaimana telah saya katakan pada kalian bahwa imam asy-Syafi’i berkata, “Tidaklah mungkin seseorang bisa menguasai seluruh makna kata-kata sukar (ghorib).” Dan kita sudah membahas tentang kata-kata sukar (ghorib).

Yang kedua, Anda harus meng-i’rab kalimat dan maksud dari i’rab ini adalah tidak ada kekeliruan tata bahasa. Dan sungguh dahulu Abu Bakar ash-Shiddiq -semoga Allah meridai beliau- berkhutbah di hadapan kaum muslimin ketika dilantik menjadi khalifah. Beliau berkata, “Wahai kaum muslimin, i’rab-lah al-Qur’an.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam belum pernah berkata demikian, kenapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berbicara kepada penutur asli bahasa Arab yang murni. Dan barulah orang-orang non-Arab datang di penghujung masa pemerintahan Abu Bakar. Bukankah Umar, setelah beliau ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, berkata kepada Ibnu Abbas, “Bukankah itu adalah orang yang dahulu kamu dan ayahmu perdebatkan tentang kedatangannya?” Yaitu tentang masuknya orang-orang non-Arab ke kota Madinah.

Umar berpendapat bahwa orang non-Arab tidak boleh masuk Madinah namun beliau mengikuti pendapat para sahabat (yang berpendapat) bolehnya orang-orang non-Arab masuk. Kemudian masuklah orang-orang non-Arab sehingga Abu Bakar berkata, “I’rab-lah al-Qur’an.”

Dan dahulu Abdullah bin Umar -semoga Allah meridai beliau berdua- memukul anaknya apabila keliru dalam tata bahasa al-Qur’an namun tidak memukulnya apabila tidak bisa menghafalnya. Inilah i’rab, memperhatikan ketepatan tata bahasa dalam kalimat. Diantara cara memahami i’rab adalah dengan memahami ilmu Nahwu meskipun sebagian orang mampu menerapkan tata bahasa dengan benar walaupun tidak mengerti nahwu secara keseluruhannya.

Saya mengenal orang Cina, atau berasal dari Cina namun hidup di Mekkah, dia berkata, “Wahai Abdussalaam, saya tidak memahami Nahwu kecuali hanya sedikit saja.” Tapi jika dia berkata kepada saya atau saya berbicara dengannya dengan bahasa Arab, dia tidak keliru tata bahasanya, dia seorang mahasiswa di sebuah universitas. Dia berkata, “Aku memperbanyak membaca al-Qur’an.” Ini perkataan dia, “Dan aku menyetorkan bacaanku di hadapan para syeikh.”

Dia membaca dengan suara keras dan ketika bahasa sudah ada di lisannya, didapatlah kemahiran bahasanya. Dan Anda tahu sebuah kisah, disebutkan bahwa al-Ashma’i ketika masuk ke semenanjung Arab untuk mempelajari bahasa Arab, ternyata pendapatannya tidak mencukupi, sehingga dia ingin mencukupi nafkah dengan mengajarkan al-Qur’an kepada manusia, kepada anak-anak. Ketika dia ingin mengajari mereka al-Qur’an, dia datang kepada seorang anak untuk mengajarinya. Dia mengajarinya surat al-Masad, dia berkata, “Ucapkanlah; ‘Bismillahirrahmanirrahim.'” Anak tersebut mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim.” (Ucapkan,) “Tabbat yadaa…” Anak itu mengucapkan, “Tabbat yadaan…” “Nak, ucapkan ‘Tabbat yadaa…'” “Tabbat yadaan…”
“Tabbat yadaa…!” Dia mengira anak ini sedang bermain-main. Anak ini mengucapkan, “Tabbat yadaan…”
Dia berkata, “Ucapkan; ‘Tabbat yadaa abi lahab‘” (QS. Al-Masad: 1) Anak itu baru mengucapkan, “Tabbat yadaa abi lahab…” (QS. Al-Masad: 1)

Seorang anak kecil lima tahun perkiraanya atau paling tua enam tahun, bagaimana lisannya tidak bisa salah dalam tata bahasa padahal dia tidak memahami Nahwu? Sebabnya adalah karena seringnya berbicara. Oleh sebab itulah dahulu orang-orang Arab tidak belajar Nahwu dan disebutkan bahwa orang pertama yang meletakkan kaidah-kaidah Nahwu adalah Ali -semoga Allah meridai beliau- atau Abu Aswad ad-Du’ali atas perintah Ali -semoga Allah meridai beliau- dan sebenarnya sama saja bahwa Ali -semoga Allah meridai beliau- memiliki peran dalam hal ini.

Dan maksudnya, bahwa banyaknya berbicara dengan bahasa Arab, banyak mendengarnya dan membacanya membuat seseorang tidak salah dalam masalah tata bahasa. Jadi, yang pertama, kita sudah membahas tentang kata-kata asing, dan kedua kita membahas tentang kesalahan tata bahasa, yaitu i’rab.

Inilah salah satu cara memahami ilmu Nahwu, dan ini bukan satu-satunya cara, namun kita harus meningkatkan frekuensi dalam berbicara, membaca di hadapan para guru dan membaca al-Qur’an.

Yang ketiga, memahami maksud-maksud sebuah kata.

Dan para ulama Ushul Fikih telah meletakkan banyak sekali kaidah-kaidah untuk memahami maksud-maksud sebuah kata, yaitu ilmu Balaghah atau menjadi salah satu pembahasan dalam pembahasan Balaghah. Oleh sebab itulah ulama Ushul Fikih membahas masalah Fahwul Khitab, Lahnul Khitab dan Dalilul Khitab. Mereka menjelaskan tentang manthuq (makna tersurat) dan mafhum (makna tersirat); mafhum al-muwafaqah dan mafhum al-mukhalafah. Dan makna tersirat berlawanan ada sepuluh macam atau lebih, ada mafhum ‘adad, mafhum mukhalafah al-‘adad, mafhum laqab, mafhum al-wasf, mafhum al-‘alam, dan seterusnya, mafhum as-syart, mafhum al-hasr, dan ini yang paling kuat, dan lain sebagainya.

Sehingga maksud-maksud kata ini dari mana Anda memahaminya? Dari memahami ilmu Balaghah, ini tentang maksud-maksud kata. Semua ini bisa Anda ketahui dari banyaknya kepahaman dan penjelasan yang Anda baca, maka membaca teks bahasa Arab itu teramat penting. Dan imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmati beliau- apa yang beliau lakukan pertama kali ketika menuntut ilmu? Beliau pergi ke kabilah Huzail, kabilah terkenal yang sekarang masih ada di pinggiran kota Mekkah.

Beliau tinggal bersama mereka untuk belajar bahasa Arab kepada mereka sehingga beliau menjadi orang yang paling paham bahasa Arab. Maka al-Baihaqi atau Abu Bakar al-Baihaqi mengarang sebuah kitab, yang sudah dicetak, yang beliau beri judul “Berhujah (berargumentasi) dengan Perkataan Imam asy-Syafi’i dalam Bahasa.

Karena perkataan asy-Syafi’i adalah hujah walaupun beliau hidup setelah masa kehujahan bahasa Arab, karena para ulama Nahwu berkata bahwa perkataan orang Arab yang berasal dari daerah perkotaan adalah hujah sampai pada tahun 100 hijriah, dan orang Arab yang berasal dari daerah pedalaman adalah hingga tahun 150 hijriah. Dan asy-Syafi’i wafat setelah masa itu, sepertinya pada tahun 204 hijriah atau beberapa tahun setelahnya. Maksud dari perkataan saya, bahwa banyaknya mendengar dan berbicara akan membangun bahasa Anda. Dan saya sampaikan ini tanpa saya ringkas karena, sangat disayangkan, kita mendengar bahwa sebagian orang tidak memberikan perhatian terhadap bahasa Arab, menyepelekannya dan enggan menghafal bait-bait syair padahal bait-bait syair banyak sekali manfaatnya. Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- berkata, “Aku tidak paham maksud ayat ‘Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi.'” (QS. Fatir: 1) sampai ada dua orang arab badui berselisih di dekatku dan salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Aku yang membuatnya lebih dulu dari pada kamu.’ …” Maksudnya membelahnya.

“Kemudian aku paham bahwa maksud dari Pencipta langit dan bumi adalah yang membelah, yakni yang memisahkan keduanya.” Yakni dahulu keduanya adalah satu kesatuan kemudian Allah subhanahu wa ta’ala pisahkan keduanya. Maksud saya, bahwa memahami bahasa amatlah penting dan tingkat kepahaman tiap-tiap orang berbeda-beda. Oleh sebab itu banyak orang menyatakan, “Sungguh apabila aku melihat seseorang yang penampilannya membuat aku kagum, kemudian dia berbicara dengan tata bahasa yang salah, maka saat itu harga dirinya jatuh di hadapanku.”

Banyak saudara-saudara kita yang memiliki perhatian terhadap bahasa Arab berkata, “Apabila aku duduk dan mendengarkan ceramah di masjid, kemudian yang menyampaikan ceramah salah dalam tata bahasanya, aku merasa seperti didera dengan cambuk. Kemudian aku keluar karena tidak sanggup lagi duduk.” Lihatlah bagaimana kesalahan tata bahasa bisa menyakiti (membuat tidak nyaman) orang lain. Siapa sih di antara kita yang tidak pernah salah dalam tata bahasa (lahn)?

=================

يَعْنِي أَوَّلُ الشَّيْءِ يَقُولُ الطُّوْفِيُّ أَوْ سُلَيْمَانُ نَجْمُ الدِّينِ الطُّوْفِيُّ فِي كِتَابِ الْإِكْسِيرِ يَقُولُ

إِنَّ النَّاسَ وَالْمُفَسِّرِينَ عِنْدَمَا نَظَرُوا فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ نَحوَ مَنَاحِي شَتَّى وَأَغْفَلُوْا أَهَمَّ الْمَقْصُودِ لِلْقُرْآنِ بَعْدَ مَقْصُودِ الدِّلَالَةِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتَوْحِيدِهِ

وَهُوَ الإِعْجَازُ فِي بَلَاغَتِهِ فَيَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِهَذَا الْكِتَابِ كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالنَّظَرِ فِي لُغَتِهِ

أَوَّلُ وَسِيلَةٍ أَنَّ الْمَرْءَ يُعْنَى بِمَعْرِفَةِ الْغَرِيبِ أَوَّلُ الشَّيْءِ طَبْعًا لَيْسَ بِالتَّرْتِيبِ

وَمَعْرِفَةُ الْغَرِيبِ تَكُونُ بِالْقِرَاءةِ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ مِنَ اللُّغَةِ وَالشِّعْرِ فَتَقْرَأُ فِي كُتُبِ الْأَوَائِلِ الَّتِي فِيهَا الْغَرِيبُ كَيْ تَعْرِفَ مُتَرَادِفَاتٍ وَتَعْرِفَ دِلَالَةَ اللَّفْظَةِ

فَإِنَّ اللَّفْظَ تَعْرِفُهَا وَلَكِنْ إِذَا جَاءَ سِيَاقُهَا فِي أَكْثَرَ مِنْ جُمْلَةٍ عَرَفْتَ مَا مَعْنَاهَا

أَمَّا رُجُوعُ الْمُعْجَامَاتِ نَعَمْ هُوَ الطَّرِيقُ لَكِنَّ الصَّعْبَ أَنْ تَحْفَظَ الْمُعْجَمَ أَوْ تَعْرِيفَاتٍ صَعْبٌ جِدًّا

لَكِنَّ الْقِرَاءَةَ هِيَ الَّتِي تُكْسِبُكَ الْمَعْرِفَةَ إِذَنْ هَذَا الْأَمْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْغَرِيبِ أَنْ تَعْرِفَ الْغَرِيبَ وَأَلْفَاظَ اللُّغَةِ

كَمَا قَلْتُ لَكَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يُحِيطَ أحَدٌ حَتَّى بِغَرِيبِ اللُّغَةِ وَقَدْ تَكَلَّمْنَا عَنِ الْغَرِيبِ

الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ تُعْرِبَ الْكَلَامَ وَنَعْنِي بِالْإِعْرَابِ عَدَمَ اللَّحْنِ

وَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُومُ فِي الْمُسْلِمِيْنَ خَطِيبًا لَمَّا وُلِيَ الْخِلَافَةَ فَيَقُولُ

أَيَّهَا الْمُسْلِمُونَ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ

لَمْ يَقُلْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَاذَا ؟ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُخَاطِبُ أَعْرَابًا أَقْحَاحًا

وَإِنَّمَا دَخَلَ الْأَعَاجِمُ فِي آخِرِ عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ

أَلَمْ يَقُلْ عُمَرُ لَمَّا طُعِنَ مِنْ أَبِي لُؤْلُؤَةَ الْمَجُوسِيِّ لِابْنِ عَبَّاسٍ ذَاكَ الَّذِي كُنْتُمْ تُجَادِلُ أَنْتَ وَأَبُوكَ عَنْهُمْ وَهُوَ إِدْخَالُ الأَعَاجِمِ إِلَى الْمَدِينَةِ

فَكَانَ عُمَرُ يَرَى أَنْ لَا يَدْخُلَ الْأَعَاجِمُ الْمَدِينَةَ وَ لَكِنَّهُ رَضِيَ فِي قَوْلِ الصَّحَابَةِ فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ

فَدَخَلَ الْأَعَاجِمُ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ

وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَضْرِبُ ابْنَهُ إِذَا تَرَكَ إِعْرَابَ الْقُرْآنِ وَلَا يَضْرِبُهُ عَلَى تَرْكِ الْحِفْظِ فَالْعِنَايَةُ بِإِعْرَابِ الْكَلَامِ الْإِعْرَابُ

مِنْ وَسَائِلِ الْمَعْرِفَةِ الْإِعْرَابِ مَعْرِفَةُ النَّحْوِ وَ لَكِن مِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْرِبُ وَلَا يَعْرِفُ مِنَ النَّحوِ إِلَّا بَعْضَهُ

وَأَعْرِفُ رَجُلًا صِيْنِيَّا أَوْ صِيْنِيَّ الْأَصْلِيَّ وَ يَعِيشُ فِي مَكَّةَ يَقُولُ يَا عَبْدَ السَّلَامِ لَا أَعْرِفُ مِنْ النَّحوِ شَيْئًا إِلَّا لِمَامًا

وَلَوْ كَلَّمْتَنِي بِالْعَرَبِيَّةِ وَكَلَّمْتُهُ لَا يَلْحَنُ وَهُوَ مِنْ طُلَّابِ الْجَامِعَةِ

يَقُولُ أَنَا أُكْثِرُ مِنْ قِرَاءةِ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَلَامُهُ وَ أَقْرَأُ عَلَى الْمَشَايِخِ

يَقْرَأُ بِصَوْتٍ عَالٍ فَإِذَا تَكُونُ فِي لِسَانِهِ كَانَ لَهُ مَلَكَةٌ

وَأَنْتَ تَعْرِفُ الْقِصَّةَ الَّتِي قِيلَ إِنَّ… يَقُولُونَ إِنَّ الْأَصْمَعِيَّ لَمَّا جَاءَ إِلَى الْجَزِيرَةِ الْعَرَبِيَّةِ لِيَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ

نَقَصَتْ نَفَقَتُهُ فَأَرَادَ أَنْ يَتَكَسَّبَ مِنْ تَعْلِيمِ النَّاسِ الْقُرْآنَ لِلصِّبْيَانِ فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يُعَلِّمَهُمُ الْقُرْآنَ جَاءَ لِلصَّبِيِّ يُعَلِّمُهُ

فَعَلَّمَهُ سُورَةَ الْمَسَدِ فَقَالَ لَهُ اِقْرَأْ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ قَالَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

تَبَّتْ يَدَا قَالَ الْوَلَدُ تَبَّتْ يَدَانِ

يَا وَلَدٌ تَبَّتْ يَدَا تَبَّتْ يَدَانِ تَبَّتْ يَدَا – وَظَنَّ أَنَّ الْوَلَدَ يَلْعَبُ

قَالَ تَبَّتْ يَدَانِ
قَالَ قُلْ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ
المسد – الآية 1

قَالَ
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ
المسد – الآية 1

صَبِيُّ عُمْرُهُ خَمْسُ سِتُّ سَنوَاتٍ عَلَى أَقْصَى التَّقْدِيرِ كَيْفَ لِسَانُهُ لَمْ يَسْتَطِعِ اللَّحْنَ مَعَ أَنَّهُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ إِنَّمَا هُوَ مَعَ كَثْرَةِ الْكَلَامِ

وَلِذَلِكَ الْعَرَبُ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ النَّحْوَ قِيلَ إِنَّ أَوَّلَ مَنْ وَضَعَ النَّحْوَ هُوَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَقِيلَ إِنَّهُ أَبُو الْأَسْوَدِ الدُّؤَلِيُّ بِأَمْرِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

وَالْمَعْنَى وَاحِدٌ فَإِنَّ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَوْرًا فِي ذَلِكَ

فَالْمَقْصُودُ أَنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ وَ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَالقِرَاءةَ بِهِ تَجْعَلُ الشَّخْصَ لَا يَلْحَنُ

إِذَنْ تَكَلَّمْنَا أَوَّلًا عَنِ الْغَرِيبِ وَتَكَلَّمْنَا ثَانِيًا عَنِ اللَّحْنِ وَهُوَ الْإِعْرَابُ

وَمِنْ وَسَائِلِ مَعْرِفَةِ النَّحْوِ وَلَيْسَ هُوَ الْوَسِيلَةَ الْوَحِيدَةَ وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ نُنَمَّى بِالْكَلَامِ وَبِالْقِرَاءةِ عَلَى الْمَشَايِخِ وَبِقِرَاءةِ الْقُرْآنِ

الْأَمْرُ الثَّالِثُ مَعْرِفَةُ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ

وَالْأُصُولِيُّونَ ذَكَرُوْا مِنَ التَّقْعِيدِ فِي مَعْرِفَةِ دَلَائِلِ الْأَلْفَاظِ الشَّيْءَ الْكَثِيرَ الَّذِي هُوَ عِلْمُ الْبَلَاغَةِ أَوْ هُوَ جُزْءٌ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ

وَلِذَلِكَ الْأُصُولِيُّونَ تَكَلَّمُوْا عَنْ فَحْوَى الْخِطَابِ وَ لَحْنِ الْخِطَابِ وَدَلِيلِ الْخِطَابِ

وَتَكَلَّمُوا عَنِ الْمَنْطُوقِ وَالْمَفْهُومِ وَمَفْهُومِ الْمُوَافَقَةِ وَمَفْهُومِ الْمُخَالَفَةِ

وَمَفْهُومُ الْمُخَالَفَةِ عَشْرَةُ أَنْوَاعٍ أَوْ أَكْثَرَ مَفْهُومُ الْعَدَدِ مَفْهُومُ مُخَالَفَةِ الْعَدَدِ مَفْهُومُ اللَّقَبِ مَفْهُومُ الْوَصْفِ مَفْهُومُ الْعَلَمِ وَهَكَذَا

مَفْهُومُ الشَّرْطِ مَفْهُومُ الْحَصْرِ وَهُوَ أَقْوَاهَا وَهَكَذَا

إِذَنْ هَذِهِ الدَّلَائِلُ اللَّفْظِيَّةُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُهَا؟ مِنْ مَعْرِفَةِ الْبَلَاغَةِ دَلَائِلُ الْأَلْفَاظِ

هَذِهِ تُعْرَفُ مِنَ الْفُهُومَاتِ وَالشُّرُوحَاتِ الَّتِي تُقْرَأُ فَالْقِرَاءَةُ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ مُهِمٌّ جِدًّ

وَالشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي أَوَّلِ شَأْنِهِ مَاذَا كَانَ ؟ ذَهَبَ لِهُذَيْلٍ قَبِيلَةِ هُذَيْلٍ الْمَعْرُوفَةِ وَمَا زَالَتْ بِجَانِبِ مَكَّةَ

ذَهَبَ عِنْدَهُمْ وَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ الْعَرَبِيَّ عِنْدَهُمْ فَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ النَّاسِ بِلِسَانِ الْعَرَبِ

وَأَلَّفَ الْبَيْهَقِيُّ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ كِتَابًا طُبِعَ سَمَّاهُ الْاِحْتِجَاجَ بالشَّافِعِيِّ فِي اللُّغَةِ

فَإِنَّ كَلَامَ الشَّافِعِيِّ حُجَّةٌ مَعَ أَنَّهُ جَاءَ بَعْدَ احْتِجَاجِ اللُّغَةِ

فَإِنَّ النَّحْوِيِّينَ يَقُولُونَ إِنَّ كَلَامَ الْعَرَبِ حُجَّةٌ إِنْ كَانُوا مِنْ أهْلِ الْأَمْصَارِ فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ مِنَ الْهِجْرَةِ

وَإِنْ كَانُوا مِنْ أَهْلِ الْبَوَادِي فَإِلَى سَنَةِ مِائِةِ وَ خَمْسِينَ

وَالشَّافِعِيُّ تُوُفِّيَ سَنَةَ بَعْدَ ذَلِكَ مِائِتَيْنِ وَأَرْبَعَةٍ أَظَنُّ أَوْ بَعْدَ ذَلِكَ

الْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ أَنَّ كَثْرَةَ السَّمَاعِ وَكَثْرَةَ الكَلَامِ هِيَ الَّتِي تَجْعَلُ اللُّغَةَ

أَنَا أَقُولُ هَذَا مَا رَكَّزْتُ عَلَيْهِ لِأَنَّنَا نَسْمَعُ لِلْأَسَفِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ عَدَمَ عِنَايَةٍ بِاللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ

وَالْإِحْجَامَ عَنْهَا وَعَدَمَ حِفْظٍ بِأَبْيَاتِ الشِّعْرِ فَإِنَّ أَبْيَاتِ الشِّعْرِ مُفِيدَةٌ كَثِيرَةٌ جِدًّا

ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمْ أَكُ أَعْرِفْ مَا مَعْنَى
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
فاطر – الآية 1

حَتَّى اخْتَصَمَ عِنْدِي أَعْرَبِيَّانِ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ أَنَا فَطَرْتُهَا قَبْلَكَ أَيْ شَقَقْتُهَا

فَعَرَفْتُ أَنَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَيْ شَاقُّهُ أَيْ شَاقُّهُمَا أَيْ كَانَتَا مُتَّصِلَتَيْنِ فَشَقَّهُمَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا أَنَّ مَعْرِفَةَ اللُّغَةِ مُهِمَّةٌ وَالنَّاسُ يَخْتَلِفُونَ بَيْنَ شَخْصٍ وَآخَرَ

وَلِذَلِكَ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ إِنِّي لَأَرَى الرَّجُلَ فَتُعْجِبُنِي هَيْئَتُهُ فَإِذَا تَكَلَّمَ فَلَحَنَ سَقَطَ مِنْ عَيْنِي

كَثِيرٌ مِنَ الْإِخْوَانِ الَّذِي يُعْنَى بِالْعَرَبِيَّةِ يَقُولُ إِنْ أَجْلِسْ أَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فِي الْمَسْجِدِ فَإِذَا لَحَنَ الَّذِي يُلْقِي الْكَلِمَةَ كَأَنِّي مَضْرُوبٌ بِالسِّيَاطِ

فَأَخْرُجُ مَا أَسْتَطِيعُ الْجُلُوسَ فَانْظُرْ كَيْفَ أَنَّ اللَّحْنَ يَعْنِي مُضِرٌّ فِي الْمَرْءِ
وَمَنْ مِنَّا لَايَلْحَنُ؟

 

Inspirasi Untukmu 3 Ibadah Ini Penting Sekali untuk Kamu Rutinkan – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir

Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salat hingga kedua kakinya bengkak karena lamanya beliau berdiri shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau adalah orang yang paling sempurna di atas petunjuk, paling sempurna amalannya dan paling tinggi derajatnya di sisi Allah ‘azza wa jalla namun beliau tetap mendirikan salat malam shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan di sini terdapat masalah, karena sebagian ahli fikih mungkin lebih mengutamakan menyibukkan diri dengan ilmu daripada menyibukkan diri dengan ibadah.

Terdapat pernyataan dari Abu Nasr bin Shabbagh, salah seorang ulama terkenal dari mazhab Syafi’i, beliau berkata, “Aku menghidupkan malam dengan ilmu lebih aku sukai dari pada aku menghidupkannya untuk salat.”

Dan sebenarnya, perkataan beliau jika untuk keadaan tertentu maka benar, namun jika diterapkan dalam semua keadaan maka tidak tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam rutin melaksanakan salat witir dan salat ini tidak pernah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan, baik ketika mukim ataupun ketika sedang safar. Dan oleh sebab itu, seorang penuntut ilmu hanya akan mengutamakan ilmu di atas sebagian amalan-amalan sunah ketika waktu keduanya bertabrakan saja, dan hal ini tidak bertentangan satu sama lainnya, karena sayangnya, sebagian penuntut ilmu mungkin di malam hari mereka sibuk bukan dengan menuntut ilmu melainkan hanya sibuk dengan perkara-perkara lain seperti obrolan-obrolan duniawi dan lain sebagainya.

Dan di sini ada perkara yang sangat singkat yang ingin aku wasiatkan kepada para hadirin yang kebanyakannya adalah para pemuda agar membiasakan dirinya selagi masih muda usianya dan belum banyak urusannya untuk menyempatkan diri merutinkan membaca al-Qur’an, menjadikannya wirid dalam salat dan menjadikannya sebagai wirid, terutama di malam hari. Karena salat, khususnya salat malam, sangat penting bagi penuntut ilmu karena salat malam -subhanallahil ‘adzim- merupakan salah satu sebab paling besar untuk teguh dalam beragama.

Salat malam adalah sebab yang sangat besar agar bisa teguh di atas agama dan juga perkara yang paling agung agar seseorang bisa merasa tenang kepada Tuhannya jalla wa ‘ala.Dan kalian sudah mengetahui beberapa perkataan dari sebagian ulama salaf, mereka yang berkata, “Sesungguhnya di dunia terdapat sebuah surga, siapa yang belum memasukinya, tidak akan memasuki surga akhirat.” Kenikmatan terbesar di dunia ada dua yaitu salat dan ilmu, sedangkan ilmu yang paling agung adalah al-Qur’an.

Inilah kelezatan yang paling nikmat dalam ibadah bahkan ia merupakan kelezatan dunia yang paling lezat. Maka barang siapa dikaruniai dua kenikmatan tersebut sungguh dia adalah orang yang berbahagia. Oleh sebab itu kami nasehatkan kepada para penuntut ilmu, terutama selagi masih muda, biasakan diri Anda guna meluangkan waktu untuk wirid. Aku tidak katakan, “Maksimalkan!” Dan aku tidak berkata, “Berletih-letihlah!” Sungguh Abdullah bin Mubarak -semoga Allah merahmati beliau- pernah berkata, “Aku bersungguh-sungguh melaksanakan salat malam selama dua puluh tahun dan kemudian jiwaku merasa nyaman selama dua puluh tahun.”

Sehingga maksud dari membiasakan meluangkan waktu ini adalah agar seseorang bisa melatih dirinya tahap demi tahap sampai dia meraih apa yang dia harapkan. Yang demikian itu dengan cara meluangkan waktu dan menentukan jumlah rakaatnya, ini dalam salat malam. Salat di pagi haripun demikian, luangkanlah waktu Anda untuk itu, dan kalian tahu, dan telah aku singgung tadi tentang masalah salat duha.

Terkait salat duha, terdapat dua riwayat dalam mazhab, dan pendapat yang terkenal dalam mazhab adalah sunah hukumnya secara mutlak, namun dianjurkan untuk dilakukan pada sebagian besar waktu, yakni terkadang dilakukan dan terkadang ditinggalkan. Karena ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya- menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak secara rutin melakukannya dan peniadaan dari ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya- ini paling minimal dibawa pada makna ditinggalkan sesekali waktu. Dan pendapat kedua dan merupakan pendapat yang dipilih syeikh Taqiyuddin dan pendapat ini didasarkan pada sebuah riwayat dari Imam Ahmad dalam Musnad beliau; bahwa salat duha disunahkan bagi orang yang melewatkan salat malam, yaitu salat witir, ada riwayat yang menunjukkan demikian dalam kitab Musnad dalam beberapa redaksi hadis, yang menunjukkan bahwa salat duha adalah untuk mengganti salat witir.

Oleh sebab itu, apabila suatu hari Anda melewatkan salat witir atau memang kebiasaan Anda tidak salat witir, maka jangan tinggalkan salat duha. Anda harus melaksanakan salah satu dari dua salat ini, adapun menyia-nyiakan keduanya maka tidak diragukan lagi ini adalah keburukan yang besar, tidak diragukan lagi ini adalah keburukan yang besar. Dan diantara taufik dari Allah ‘azza wa jalla yang paling agung untuk hambanya adalah seorang hamba memiliki ibadah tersembunyi di rumahnya, sebelum waktu tidurnya dan lain sebagainya dan pembahasan masalah ini panjang. Baiklah…

 

==========

 

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ مِنْ طُوْلِ قِيَامِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاَةُ وَالسَّلَامُ

وَقَدْ كَانَ أَكْمَلَ النَّاسِ هَدْيًا وَأَتَمَّهُمْ عَمَلًا وَأَعْلَاهُمْ دَرَجَةً عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَعَ ذَلِكَ كَانَ يَقُومُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهُنَا مَسْأَلَةٌ أَنَّ بَعْضًا مِنَ الْفُقَهَاءِ رُبَّمَا فَضَّلَ انْشِغَالَهَ بِالْعِلْمِ عَلَى انْشِغَالِهِ بِالْعِبَادَةِ

فَقَدْ جَاءَ عَنْ أَبِي نَصْرِ ابْنِ الصَّبَّاغِ أَحَدِ فُقَهَاءِ الشَّافِعِيَّةِ مَشْهُوْرِينَ أَنَّهُ قَالَ لَأَنْ أُحْيِيَ لَيْلَةً فِي الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْيِيَهَا صَلَاَةً

وَالْحَقِيقَةُ أَنَّ كَلَاَمَهُ إِذَا كَانَ عَلَى سَبِيلِ الْاِسْتِثْنَاءِ فَالصَّوَابُ وَأَمَّا عَلَى سَبِيلِ الْإِطْلَاقِ فَلَا

لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ كَانَ يُوَاظِبُ عَلَى صَلَاةِ الْوِتْرِ وَ هَذِهِ صَلَاةُ الْوِتْرِ مَا تَرَكَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَضَرًا وَلَا سَفَرًا

وَلِذَا فَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ إِنَّمَا يُفَاضِلُ بَيْنَهَا وَبَيْنَ بَعْضِ النَّوَافِلِ عِنْدَ التَّعَارُضِ وَلَا يُوجَدُ التَّعَارُضُ

وَالْأَسَفُ أَنَّ بَعْضَ مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ رُبَّمَا يَنْشَغِلُ فِي اللَّيْلِ لَا بِطَلَبِ الْعِلْمِ وَإِنَّمَا رُبَّمَا اِنْشَغَلَ بِأَشْيَاءَ أُخَرَ مِنْ حَدِيْثِ الدُّنْيَا وَغَيْرِهِ

وَهُنَا مَسْأَلَةٌ قَصِيرَةٌ جِدًّا أُوْصِيْ الْحَاضِرِيْنِ وَأَغْلَبَهُمْ مِنَ الشَّبَابِ أَنْ يُعَوِّدَ نَفْسَهُ فِي صِغَرِ سِنِّهِ وَحَدَثَةِ أَمْرِهِ

عَلَى أَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ يَجْعَلَ لَهُ وِرْدًا مِنَ الصَّلَاَةِ وَلِيَكُوْنَ ذَلِكَ الْوِرْدُ فِي اللَّيْلِ خَاصَّةً

فَإِنَّ صَلَاَةَ اللَّيْلِ خَاصَّةً مُهِمَّةٌ لِطَالِبِ الْعِلْمِ فَإِنَّهَا سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ مِنْ أَعْظَمِ الْأَسْبَابِ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّينِ

صَلَاَةُ اللَّيْلِ هَذِهِ الْأَسْبَابُ الْعَظِيمَةُ عَلَى الثَّبَاتِ فِي الدِّينِ وَ هِيَ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَأْنُسُ بِهِ الْمَرْءُ بِرَبِّهِ جَلَّ وَعَلَا

وَتَعْلَمُونَ مَا جَاءَ فِي بَعْضِ الْأَخْبَارِ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَنْ يَدْخُلَ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا أَمْرَانِ الصَّلَاَةُ وَالْعِلْمُ وَأَعْظَمُ الْعِلْمِ الْقُرْآنُ

هَذِهِ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الْعِبَادَاتِ بَلْ هِيَ أَعْظَمُ لَذَائِذِ الدُّنْيَا فَمَنْ فُتِحَ عَلَيْهِ فِيْهِمَا فَإِنَّهُ السَّعِيدُ

وَلِذَا نَقُولُ لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَخَاصَّةً مَا دَامَ شَابًّا عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى أَنْ تَجْعَلَ لَكَ وِرْدًا

لَا أَقُولُ بَالِغْ وَلَا أَقُولُ شُدَّ عَلَى نَفْسِكَ
فَإِنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ الْمُبَارَكِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى كَانَ يَقُولُ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ عِشْرِينَ سَنَةً فَارْتَاحَتْ عِشْرِينَ سَنَةً

فَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذِهِ الدُّرْبَةِ فَيَتَدَرَّبُ الْمَرْءُ دَرَجَةً فَدَرَجَةً حَتَّى يَصِلَ إِلَى مَا يَرْغَبُهُ وَذَلِكَ اِجْعَلْ لِنَفْسِكَ دُرْبَةً فِي الْوَقْتِ وَاجْعَلْ لَكَ دُرْبَةً فِي الْعَدَدِ هَذَا قِيَامُ اللَّيْلِ

صَلَاَةُ النَّهَارِ كَذَلِكَ اِجْعَلْ لَكَ حَظًّا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ وَأَشَرْتُ قَبْلَ قَلِيلٍ إشَارَةً لِمَسْأَلَةِ صَلَاَةِ الضُّحَى

الضُّحَى فِيهَا رِوَايَتَانِ فِي الْمَذْهَبِ وَمَشْهُورُ الْمَذْهَبِ أَنَّهُ تُسْتَحَبُّ صَلَاَةُ الضُّحَى مُطْلَقًا

لَكِنْ يُسْتَحَبُّ أَنْ تُصَلَّى غِلْبًا يَعْنِيْ أَنْ تُصَلَّى أَحْيَانًا وَتُفَرَّ أَحْيَانًا

لِأَنَّ عَائِشَةَ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ يُصَلِّيْهَا وَنَفْيُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا مَحْمُولٌ عَلَى أَقَلِّ الْأَحْوَالِ عَلَى التَّرْكِ أَحْيَانًا

وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ وَهُوَ اِخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّيْنِ وَتَدُلُّ لَهَا الرِّوَايَةُ عِنْدَ الْإمَامِ أَحْمَدَ فِي الْمُسْنَدِ

أَنَّ صَلَاَةَ الضُّحَى إِنَّمَا تُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ وَهُوَ الْوِتْرُ وَقَدْ جَاءَ فِي الْمُسْنَدِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ

فِي بَعْضِ أَلْفَاظِ الْحَديثِ فَإِنَّهَا تَكُوْنُ مُجْزِئَةً عَنْ… عَنِ الْوِتْرِ

وَلِذَا فَإِنْ جَاءَكَ يَوْمٌ… فَفَوَّتَّ الْوِتْرَ أَوْ كَانَتْ عَادَتُكَ تَفْوِيتَ الْوِتْرِ فَلَا تُفَوِّتْ صَلَاَةَ الضُّحَى

لَا بُدَّ أَنْ تَأْتِيَ بِوَاحِدَةٍ مِنَ الثِّنْتَيْنِ أَمَّا أَنْ تُضَيِّعَ الثِّنْتَيْنِ فَهَذَا لَا شَكَّ أَنَّهُ شَرٌّ عَظِيمٌ لَا شَكَّ أَنَّهُ شَرٌّ عَظِيمٌ

وَمِنْ أَعْظَمِ تَوْفِيقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لِلْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ لَهُ عِبَادَةُ سِرٍّ فِي بَيْتِهِ

وَقَبْلَ رَقْدَتِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ وَالْحَديثُ فِيهَا طَوِيلٌ، نَعَمْ

 

Jadilah Kamu Seorang Keluarga Al-Quran – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Dan tidak diragukan lagi bahwa perkataan ini menjadi mulia karena kadar kemuliaan apa yang dibicarakan, yaitu perkataan Allah ‘azza wa jalla, dan terdapat riwayat dalam beberapa tambahan redaksi hadis yang tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda;

Dan sesungguhnya keutamaan perkataan Allah ‘azza wa jalla atas semua perkataan adalah seperti keutamaan Allah ‘azza wa jalla atas seluruh makhluknya.” (HR. Ad-Darimi)

Dan oleh sebab itu imam at-Tirmizi meriwayatkan sebuah hadis dari al-Haris al-A’war dari Ali -semoga Allah meridainya- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Kitab Allah di dalamnya terdapat kabar orang-orang sebelum kalian, berita orang-orang setelah kalian, dan penetapan hukum untuk kalian, dan al-Qur’an itu serius dan bukan senda gurau, barang siapa meninggalkannya karena kesombongan niscaya Allah akan membinasakannya, tidak akan pernah habis keajaibannya dan tidak akan usang karena seringnya diulang-ulang.”

Al-Qur’an yang agung ini sungguh mengagumkan perkaranya dan mulia kedudukannya, oleh sebab itu sungguh barang siapa yang menghafalkannya dan mendapatkan bagian darinya niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memberikan dia ganjaran yang besar dan dan menempatkan dia pada kedudukan yang tinggi.

Dan di antara hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini, dan ada banyak hadis, adalah hadis sahih dalam Sahih Muslim dari Usman bin Affan -semoga Allah meridai beliau-bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ini adalah kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi bukti yang nyata, jelas dan pasti bahwa manusia yang paling baik secara mutlak dan yang paling mulia tanpa ada seorangpun yang bisa mendekati ketinggian derajatnya adalah orang yang mengemban al-Qur’an yang agung ini, mengetahui hak-haknya, menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah Allah ‘azza wa jalla perintahkan dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang ada di dalamnya.

Dan sungguh orang yang mengemban al-Qur’an disifati dengan status yang lebih agung dari itu, dan status yang lebih agung daripada status sebagai manusia yang paling baik adalah disematkannya status yang lebih agung bahwa seorang yang telah menghafal al-Qur’an dan mengembannya adalah “keluarga Allah” dan orang khusus di sisi-Nya. Dan oleh sebab itu, telah sahih hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan sanadnya tidak bermasalah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keluarga (ahli) al-Qur’an itu adalah keluarga Allah dan orang khusus di sisi-Nya.”

Dan penyandaran ini adalah bentuk pemuliaan yang dengannya dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan berupa pahala yang besar di sisi-Nya ‘azza wa ‘ala dan juga kedudukan yang tinggi lagi mulia di sisi-Nya subhanahu wa ta’ala, oleh sebab itu, telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada para pembaca al-Qur’an; ‘Bacalah dengan tartil!’…”

Dan dalam riwayat yang tidak sahih, “Bacalah dan naikilah tangga tersebut!” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

“(Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil) sebagaimana dahulu kau membacanya dengan tartil di dunia, karena kedudukanmu di surga adalah pada akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Dawud dan selain beliau)

Maka, semakin banyak seseorang menghafal al-Qur’an, hal itu semakin menunjukkan bahwa di semakin dekat dengan Allah jalla wa ‘ala, semakin tinggi derajatnya di surga dan semakin mulia kedudukannya.

Keluarga (ahli) al-Qur’an telah membawa kemuliaan yang agung dan mendapat keutamaan yang banyak dan oleh sebab itu telah sahih hadis dari Abdullah bin Amru bin al-Ash -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa beliau berkata:

Barang siapa yang telah menghafal keseluruhan al-Qur’an, sungguh dia telah mengemban perkara yang agung karena telah diletakkan di antara kedua bahunya risalah kenabian, meskipun dia tidak pernah menerima wahyu.” (HR. Al-Hakim)

Wahai saudaraku, ini hanya sedikit dan setetes saja dari melimpah ruahnya kebaikan yang telah Allah berikan kepada para keluarga (ahli) al-Qur’an. Akan tetapi, perlu kita ketahui, sebelum kita membahas bagaimana sifat-sifat seorang keluarga (ahli) al-Qur’an, bahwa tidak setiap orang yang menghafal al-Qur’an, tidak semua orang yang membaca ayat-ayatnya dan mempelajari surat-surat di dalamnya pasti mendapatkan keutamaan yang agung ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bahwa sikap manusia terhadap al-Qur’an terbagi menjadi tiga kelompok:

Dua kelompok berlebihan dan satu kelompok pertengahan; (1) Kelompok yang berlebihan, (2) Kelompok yang menyepelekan, dan (3) Kelompok pengemban al-Quran yang tidak berlebihan dan tidak menyepelekan.

Telah sahih dalam Sunan Abi Daud sebuah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari -semoga Allah meridai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya diantara bentuk pemuliaan dari Allah jalla wa ‘ala adalah Dia memuliakan orang yang beruban, memuliakan keluarga (ahli) al-Qur’an yang tidak berlebihan terhadapnya dan tidak menyepelekannya dan memuliakan seorang pemimpin yang adil.” (HR. Abu Daud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berhak mendapatkan kemuliaan di dunia dari kalangan orang-orang yang beriman dan yang akan Allah ‘azza wa jalla muliakan di dunia dan di akhirat hanyalah pengemban al-Qur’an yang bersikap tidak berlebihan terhadapnya dan tidak menyepelekannya.

Dan ini juga menunjukkan kepada kita bahwa ada banyak manusia yang mengemban ayat-ayat dalam kitab Allah ‘azza wa jalla dan menghafalkannya memiliki sifat berlebihan terhadap al-Qur’an atau bersifat menyepelekannya.

Dan tidak bisa diketahui yang mana kelompok yang pertengahan dan yang benar yang merupakan keluarga Allah, orang-orang khusus di sisi-Nya dan manusia terbaik kecuali dengan mengenali sifat-sifat keluarga (ahli) al-Qur’an tersebut, yang apabila mereka memiliki sifat-sifat ini dalam amalan dan perbuatan hati, anggota badan dan lisan mereka, maka mereka ketika itu menjadi keluarga (ahli) al-Qur’an.

Sehingga baru saja kita memahami masalah pertama, bahwa tidak setiap orang yang mempelajari huruf demi huruf dari kitab ini ataupun yang mengemban ayat-ayatnya dalam diri mereka dengan hafalan dan ketepatan serta merta menjadi keluarga (ahli) al-Qur’an yang sebenarnya. Masalah lainnya, yang harus kita perhatikan, yaitu sebagaimana telah kita ketahui bahwa surga dan neraka itu bertingkat-tingkat, demikian pula status-status lain seperti iman, takwa, kebaikan dan lain sebagainya, dan termasuk status seseorang yang merupakan keluarga (ahli) al-Qur’an juga bertingkat-tingkat.

Maka derajat sebagai keluarga (ahli) al-Qur’an tidak hanya dua derajat saja, ahli al-Qur’an dan bukan ahli al-Qur’an, namun derajatnya banyak dan bertingkat-tingkat dimana masing-masing orang berbeda derajatnya sesuai dengan kadar bertambahnya, keistiqamahannya dan pengamalannya terhadap sifat-sifat keluarga (ahli) al-Qur’an yang apabila seseorang bersifat dan beramal dengannya maka mereka menjadi keluarga Allah dan orang-orang khusus di sisi-Nya yang juga merupakan sebaik-baik manusia.

Saudara-saudaraku, sifat-sifat ini telah dijelaskan kepada kita oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sifat-sifat ini bisa ada pada sebagian manusia secara keseluruhan dan bisa juga ada pada sebagian mereka sebagiannya saja karena adanya kekurangan dalam diri mereka.

Dan telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahih sebuah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari -semoga Allah meridai beliau-bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya seorang muslim yang membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah, aromanya sedap dan rasanya enak, sedangkan orang munafik yang membaca al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, aromanya sedap namun rasanya pahit, dan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an permisalannya seperti buah kurma, tidak ada aromanya namun rasanya enak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa al-Qur’an yang agung ini manfaatnya bisa diambil bahkan oleh orang munafik, namun manfaat untuknya hanya sebatas zahir saja dan tidak bermanfaat untuk batinnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

=======

 

وَلَا شَكَّ أَنَّ الْحَدِيثَ يَعْظُمُ بِعِظَمِ الْمُتَحَدَّثِ عَنْهُ وَهُوَ كَلَامُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ زِيَادَاتِ الْحَدِيثِ أَنْ لَا ثَابِتٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ

وَإِنَّ فَضْلَ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ
رَوَاهُ الدَّارِمِيُّ

وَلِذَلِكَ قَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ الْحَارِثِ الْأَعْوَر عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ خَبَرُ مَنْ قَبْلَكُمْ وَنَبَأُ مَنْ بَعْدَكُمْ وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ وَهُوَ الْجِدُّ لَيْسَ بِالْهَزْلِ مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍإلَّا قَصَمَهُ اللَّهُ

لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ وَلَا يَخْلَقُ عَلَى كَثْرَةِ الرَّدِّ

هَذَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ أَمْرُهُ عَجِيبٌ وَشَأْنُهُ جَلِيلٌ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ حَمَلَهُ وَنَالَ قِسْطًا مِنْهُ

فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنِيلُهُ أَجْرًا عَظِيمًا وَيُنْزِلُهُ مَنْزِلَةً رَفِيعَةً

فَمِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ وَقَدْ جَاءَ عَنْهُ كَثِيرٌ مَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

وَهَذَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَليلٌ قَاطِعٌ وَجَزْمٌ تَامٌّ لَازِمٌ بِأَنَّ خَيْرَ النَّاسِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلَهُمْ بِلَا اِقْتِرَابٍ مِنْ أَحَدٍ إِلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ

هُوَ مَنْ كَانَ حَامِلًا لِهَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَكَانَ عَارِفًا بِحُقُوقِهِ وَكَانَ قَدْ أَدَّى الْوَاجِبَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ وَانْكَفَّ عَنِ الْمَنْهِيَّاتِ فِيهِ

إِنَّ مَنْ يَحْمِلُ الْقُرْآنَ يُوْصَفُ بِنَعْتٍ أَعْظَمَ مِنْ ذَلِكَ فَمِنْ أَعْظَمِ فَأَعْظَمُ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ

يُوْصَفُ نَعْتًا أَعْظَمَ وَهُوَ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ وَحَامِلَهُ هُوَ مِنْ أَهْلِ اللهِ وَخَاصَّتِهِ

وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ

أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ

وَهَذِهِ الْإِضَافَةُ إِضَافَةُ التَّشْرِيفِ يَتْبَعُهَا مَا يَتْبَعُهَا مِنَ الْأَجْرِ الْعَظِيمِ عِنْدَهُ جَلَّ وَعَلَا وَالْمَنْزِلَةِ الرَّفِيعَةِ السَّامِيَةِ عِنْدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُقَالُ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ اِقْرَأْ وَرَتِّلْ

وَفِي رِوَايَةٍ فِي خَارِجِ الصَّحِيحِ اِقْرَأْ وَارْتَقِ فِي الدَّرَجَاتِ
أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ

(اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ)
كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ

فَكُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَكْثَرَ كُلَّمَا كَانَ ذَلِكَ دَلِيلًا عَلَى قُرْبِهِ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

وَعُلُوِّ دَرَجَتِهِ فِي الْجَنَّةِ وَرِفْعَةِ مَنْزِلَتِهِ فِيهَا

أَهْلُ الْقُرْآنِ قَدْ حُمِّلُوا حَمْلًا عَظِيمًا وَأُوْتُوْا فَضْلًا عَمِيمًا وَ لِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْروِ بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ

مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ فَقَدْ حَمَلَ أَمْرًا عَظِيمًا لَقَدْ اُدْرِجَتِ النُّبُوَّةُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ

هَذَا أَيُّهَا الْأِخْوَةُ غَيْضٌ مِنْ فَيْضٍ وَبُلَالَةٌ مِنْ خَيْرٍ عَمِيمٍ جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْقُرْآنِ

وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ قَبْلَ أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَنْ حَمِلَ الْقُرْآنَ وَلَا كُلُّ مَنْ تَلَى آيَاتٍ مِنْهُ وَتَعَلَّمَ سُوَرًا

فَإِنَّهُ يَنَالُ هَذَا… فَإِنَّهُ يَنَالُ هَذَا الْفَضْلَ الْعَظِيمَ إِذْ قَدْ بَيَّنَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّاسَ فِي الْقُرْآنِ ثَلَاثَةُ أَطْرَافٍ

فَطَرَفَانِ وَوَسَطٌ غَالٍ وَجَافٍّ وَحَامِلٌ لِلْقُرْآنِ غَيْرُ غَالٍ وَلَا جَافٍّ

فَقَدْ ثَبَتَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ وَإِكْرَامَ حَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِّي عَنْهُ وَإِكْرَامَ السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْإكْرَامَ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَنَّ الَّذِي يُكْرِمُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

إِنَّمَا هُوَ حَامِلُ الْقُرْآنِ غَيْرُ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِّي عَنْهُ

وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ أُنَاسًا كَثِيرِيْنَ يَحْمِلُونَ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَحْفَظُونَهَا وَهُمْ مَنْعُوتُونَ إِمَّا بِكَوْنِهِمْ غَالِينَ فِيهِ وَإِمَّا مَنْعُوتِينَ بِأَنَّهُمْ جَافُّونَ عَنْهُ

وَلَا يُعْرَفُ الْوَسَطُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا الْحَقُّ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ الَّذِينَ هُمْ خَيْرُ النَّاسِ إِلَّا بِمَعْرِفَةِ صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ

الَّتِي إِذَا امْتَثَلُوا هَذِهِ الصِفَاتِ فِي أَفْعَالِ قُلُوبِهِمْ وَأَفْعَالِ جَوَارِحِهِمْ وَفِي لِسَانِهِمْ فَإِنَّهُمْ حِينَئِذٍ يَكُونُ أَهْلَ الْقُرْآنِ

إِذَنْ عَرَفْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ الْمَسْأَلَةَ الْأُولَى وَهِيَ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَنْ تَعَلَّمَ حَرْفًا مِنْ هَذَا الْكِتَابِ أَوْ حَوَى بَيْنَ كَتِفَيْهِ وَجَنْبَيْهِ آيَاتٍ مِنْهُ حِفْظًا وَضَبْطًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنْ أَهْلِهِ عَلَى الْحَقِيقَةِ

مَسْأَلَةٌ أُخْرَى لَا بُدَّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهَا أَنَّهُ مَعْلُومٌ أَنَّ الْجَنَّةَ دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّ النَّارَ دَرَكَاتٌ

فَكَذَلِكَ هَذِهِ الْأَوْصَافُ كَالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى وَالْبِرِّ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَوْصَافِ وَمِنْهَا كَوْنُ الْمَرْءِ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَنَّهُ دَرَجَاتٌ

فَلَيْسَتِ الدَّرَجَاتُ فِيهِ دَرَجَتَيْنِ فَقَطْ إِثْبَاتٌ وَنَفْيٌ

وَإِنَّمَا هِيَ دَرَجَاتٌ مُتَعَدِّدَةٌ يَخْتَلِفُ النَّاسُ فِيهَا بِحَسَبِ زِيَادَتِهِمْ وَضَبْطِهِمْ وَالْإِتْيَانِ بِصِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّتِي مَنِ اتَّصَفَ بِهَا وَامْتَثَلَ

فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ اللهِ وَخَاصَّتِهِ الَّذِينَ هُمْ خَيْرُ النَّاسِ

هَذِهِ الصِفَاتُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ بَيَّنَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُوْجَدُ فِي بَعْضِ النَّاسِ كَامِلَةً وَتُوْجَدُ فِي بَعْضِ النَّاسِ طَرَفًا بِسَبَبِ نَقْصٍ فِي ذَلِكَ الرَّجُلِ

وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُسْلِمَ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ

رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَالْمُنَافِقُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُهُ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

وَالْمُؤْمِنُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُهُ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ

فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ هَذَا الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ أَثَرُهُ نَافِعٌ حَتَّى فِي الْمُنَافِقِينَ وَإِنَّمَا يَنْتَفِعُ بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَلَا يَنْفَعُ فِي الْبَاطِنِ كَمَا بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Ketika Syeikh Abdurrazzaq Muda Dinasehati oleh Syeikh bin Baz dan Syeikh bin Utsaimin #NasehatUlama

Aku ceritakan kepada kalian sebuah kisah yang aku alami sendiri, aku ceritakan karena ada faedah di dalamnya. Dahulu, ketika aku berada di majelis Imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau-, ketika itu banyak orang mengelilingi beliau, berkerumun untuk bertanya. Dan aku sendiri juga memiliki pertanyaan sehingga aku ingin bertanya, namun beliau sedang dikerumuni banyak orang. Ketika azan mulai dikumandangkan, orang-orang meninggalkan beliau, kala itu, mereka sudah faham sedangkan aku sendiri belum faham dan belum mengerti. Aku katakan pada diriku sendiri, “Wahai Abdurrazzaq, ini adalah kesempatanmu untuk bertanya, Syeikh tidak sedang bersama siapapun.” Kemudian aku mendekati Syeikh dan aku ucapkan salam kepada beliau, “Assalamualaikum Syeikh, aku ingin bertanya.” Beliau berkata, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!” Beliau mengulang dua kali, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!” Ucapan ini beliau ucapkan -Semoga Allah merahmati beliau- kepadaku ketika sesi tanya jawab, majelis ilmu dan semua aktifitas berhenti. Beliau -Semoga Allah merahmati beliau- mendengar dan menyimak azan dan beliau mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan namun aku mendatangi beliau dengan prasangka bahwa ini adalah kesempatan berharga bagiku karena beliau sedang tidak bersama siapapun. Maka aku katakan, “Wahai Syeikh, aku ingin bertanya.” Dan beliau menjawab, “Dengarkan azan! dengarkan azan!” Dan ini adalah pesan berharga dari Syeikh untuk kita semua, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!”

Ingatlah dan ambil manfaat darinya, ketika waktu azan dengarkan azan, dengarkan azan dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan. Bahkan apabila Anda sedang menyimak al-Qur’an atau Anda memiliki kewajiban untuk menyimak al-Qur’an, dengarkan azan dulu dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan. Subhanallah, hal ini akan mendatangkan berkah yang sangat luar biasa terkait dengan salat, dan memberikan dampak yang tidak sedikit dalam kekhusyuan Anda dalam shalat dan tumakninah Anda dalam salat. Ini akan memberi dampak yang besar. Ketika azan berkumandang, yang merupakan panggilan yang agung lagi sempurna, kemudian Anda menghentikan segala aktifitas untuk menghormati panggilan ini, karena memahami keagungannya, kedudukannya dan betapa pentingnya azan sehingga Anda mengarkan dengan seksama dan mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan, niscaya Anda akan mendapatkan ketenangan, tumakninah dan kesungguhan dalam melaksanakan shalat dan akan berguguran dari hati Anda berbagai ketergantungan duniawi, kesibukan duniawi akan menghilang.

Sehingga Anda akan mendapati dada Anda lapang menuju rumah Allah, bersegera ke masjid, mengamalkan sunnah-sunnahnya dan bisa berzikir kepada Allah kemudian Anda salat dengan salat yang berbeda dari salat orang lain. Perhatikan hal ini dan Anda akan melihat dampak yang besar dalam salat Anda, seketika mendengarkan azan, hentikan segala aktifitas, simaklah azan dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan.

Ada pula kisah yang aku alami bersama Syeikh Ibnu Utsaimin. Masa muda adalah masa ketergesaan dan buru-buru. Suatu ketika aku datang ke masjid beliau, dan sepertinya ini adalah kali pertama aku berjumpa beliau atau kali kedua aku berjumpa beliau -Semoga Allah merahmati beliau-. Beliau mengimami shalat dan setelah salam dari salat, beliau baru duduk sebentar dan aku langsung berdiri mendekati beliau dan aku berkata, “Aku ingin bertanya.” – Lagi. Maka aku berdiri mendekati Syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- ketika beliau sedang duduk di tempat beliau dan orang-orang juga sedang duduk. Ketika beliau melihat aku datang mendekat, beliau memberi isyarat demikian dan berkata, “Duduklah! Bertasbihlah! Bertasbihlah!” Ini sebenarnya sebuah faedah untuk sebagian orang yang datang kepada seorang syeikh atau seorang penuntut ilmu padahal dia sedang menghitung tasbih dan disela dengan “Aku ingin bertanya.” Tidak demikian! Itu bukanlah waktu bertanya, waktu untuk bertasbih digunakan untuk bertasbih dan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka beliau memberikan isyarat kepadaku di hadapan orang-orang, “Duduklah! Duduklah! Bertasbihlah! Bertasbihlah!” Sehingga waktu untuk bertasbih, yaitu setelah shalat, tidak terpotong. Dan realita ini sebenarnya adalah masalah, yakni sekarang ketika Anda menghitung zikir, seharusnya Anda menghitung tiga puluh tiga kali tasbih, bukankah begitu?

Berzikir tiga puluh empat kali atau tahmid tiga puluh tiga kali, dan ketika Anda sedang berzikir, subhanallah, subhanallah, kemudian tiba-tiba seseorang datang berkata, “Assalamualaikum.” Kemudian dia menjabat tangan Anda. Hilang hitungan ini, tiga puluh tiga ini hilang, selesai sudah. “Bagaimana kabar Anda?” “Semoga kabar Anda baik.” Selesai sudah, hilanglah hitungannya. Seharusnya Anda berzikir sebanyak tiga puluh tiga kali, tiga puluh tiga ini adalah jumlah yang disyariatkan, maka hitunglah dan sempurnakan jumlahnya.

Anda akan dapati seseorang yang sebenarnya ingin fokus, yakni dia ingin menyempurnakan hitungan zikirnya namun tiba-tiba seseorang menjabat tangannya dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum, bagaimana kabar Anda? Baik? Sehat?” Sudah, hilang sudah hitungannya. Apabila Anda ingin menghitung lagi dari awal, ini jadi masalah, atau Anda ingin mengingat kembali sampai berapa hitungan Anda tadi atau tidak, ini juga masalah.

Aku sampaikan ini agar kita semua memperhatikan masalah ini karena kita memiliki banyak kesalahan yang sebagian kita harus mengingatkan sebagian yang lainnya tentang kesalahan ini sehingga perlahan kesalahan ini hilang -Dengan izin Allah- dan kita bisa tetap berada di atas Sunnah dan tetap bersemangat menjalankan amalan-amalan yang mulia seperti ini dan terbiasa mengamalkannya.

===============

أَرْوِيْ لَكُمْ قِصَّةً حَصَلَتْ لِي أَنَا… أَرْوِيْهَا لِمَا فِيهَا فَائِدَةٌ

فِي وَقْتٍ قَدِيمٍ كُنْتُ فِي مَجْلِسِ الْإمَامِ ابْنِ بَاز رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِ كَثِيرٌ يَسْأَلُونَهُ وَمُتَزَاحِمِينَ عَلَيْهِ

وَأَنَا فِي نَفْسِي السُّؤَالُ أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَ لَكِنَّ الزِّحَامَ عِنْدَ الشَّيْخِ

فَلَمَّا بَدَأَ يُؤَذِّنُ الْمُؤَذِّنُ تَفَرَّقَ عَنْهُ النَّاسُ وَهُمْ يَعْرِفُونَ وَأَنَا ذَاكَ الْوَقْتَ لَا… لَا أعْرِفُ وَلَا أَدْرِي

فَقُلْتُ فِي نَفْسِيْ: فُرْصَتُكَ يَا عَبْدَالرَّزَّاقِ، الشَّيْخُ مَا عِنْدَ أحَدٍ

وَرُحْتُ عِنْدَ الشَّيْخِ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُم الشَّيْخُ، عِنْدِيْ سُؤَالٌ

قَالَ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

عَادَهَا مَرَّيْنِ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

هَذَا قَالَهُ لِي رَحْمَةُ اللهِ فَالْأسْئِلَةُ وَ الْعِلْمُ وَ… كُلُّ يَتَوَقَّفُ

وَ كَانَ رَحِمَهُ اللهُ مُطْرِقٌ وَ يَسْمَعُ الْأَذَانَ وَيَقُولُ مِثْلَ مَا يَقُولُ لَكِنَّ جِئْتُ وَفِي ظَنِّيْ أَنَّهُ فُرْصَةٌ ثَمِينَةٌ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ

فَقُلْتُ: عِنْدِيْ سُؤَالٌ يَا الشَّيْخُ. قَالَ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

فَهَذِهِ وَصِيَّةٌ مِنَ الشَّيْخِ لَنَا جَمِيعًا
اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

اذْكُرُوْاهَا وَانْتَفَعُوْا بِهَا أَنَّ وَقْتَ الْأَذَانِ، اسْمَعِ الْأَذَانَ! اِسْمَعِ الْأَذَانَ! وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

حَتَّى لَوْ كُنْتَ تَسْتَمِعُ الْقُرْآنَ أَوْ كِفْلَ سَمَاعِ الْقُرْآنِ وَاسْمَعِ الْأَذَانَ وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

سُبْحَانَ اللهِ – هَذَا فِيهِ بَرَكَةٌ عَجِيبَةٌ عَجِيبَةٌ جِدًا تَتَعَلَّقُ بِالصَّلَاَةِ نَفْسِهَا

وَأثَرٌ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ فِي خُشُوعِكَ فِي صِلَاتِكَ وَطُمَأْنِينَتِكَ فِيهَا

لَهُ أثَرٌ عَظِيمٌ جِدًا، لَمَّا يَبْدَأُ الْأَذَانُ هَذِهِ الدَّعْوَةُ التَّامَّةُ الْعَظِيمَةُ تُدَوِّي وَتُوْقِفُ أَنْ تَعْمَلَ كُلَّهَا مُعَظِّمًا هَذَا النِّدَاءِ

مُدْرِكًا عَظَمَتَهُ وَمَكَانَتَهُ وَأهَمِّيَّتَهُ وَتَسْتَمِعُ إِلَيْهِ بِدِقَّةٍ وَ تَقَوْلُ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

يَنْزِلُ عَلَيْكَ مِنَ السُّكُونِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالْإقْبَالِ عَلَى الصَّلَاَةِ وَ يَتَسَاقَطُ مِنْ قَلبِكَ هَذِهِ التَّعَلُّقَاتُ الدُّنْيَوِيَّةُ وَالْاِهْتِمَامَاتُ كُلُّهَا تَتَسَاقَطُ

وَتَجِدُ نَفْسَكَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ لِبَيْتِ اللهِ مُبَكِّرًا لِلْمَسْجِدِ تَتَسَنَّنُ وَ تَذْكُرُ اللهَ ثُمَّ تُصَلِّي صَلَاَةً تَخْتَلِفُ عَنْ صَلَاَةِ الْآخَرِينَ

وَانْظُرْ هَذَا تَرَى لَهُ أثَرًا عَظِيمًا عَلَيْكَ فِي صَلَاَتِكَ، مُجَرَّدُ مَا تَسْمَعُ النِّدَاءَ أَوْقِفْ كُلَّ شَيْءٍ وَاسْتَمِعْ لِلْمُؤَذِّنِ وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ

حَصَلَتْ لِي قِصَّةٌ مَعَ ابْنِ عُثَيْمِيْنَ وَمَرْحَلَةُ الشَّبَابِ مَرْحَلَةُ السُّرْعَةِ وَالنْدِفَاعِ

فمَرَّيْتُ بِمَسْجِدِهِ وَأَظَنُّ أَنَّهُ الْمَرَّةُ الْأُوْلَى الَّتِي أُقَابِلُهُ أَوْ ثَانِي مَرَّةٍ أُقَابِلُهُ رَحِمَهُ اللهُ

فَبَعْدَ أَنْ سَلَّمَ وَهُوَ الْإمَامُ سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاَةِ جَلَسَ قَلِيلًا وَمُبَاشِرَةً قُمْتُ إِلَيْهِ: عِنْدِيْ سُؤَالٌ – أَيْضًا

فَقُمْتُ إِلَى الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ وَهُوَ جَالِسٌ فِي… فِي مَكَانِهِ وَ النَّاسُ جُلُوسٌ

فَلَمَّا رَآنِيْ الْمُقْبِلَ قَال – يُشِيْرُ هَكَذَا: اِجْلِس! سَبِّحْ! سَبِّحْ

فَهَذِهِ حَقِيْقَةٌ فَائِدَةٌ لِبَعْضِ النَّاسِ، يَأْتِيْ إِلَى الشَّيْخِ أَوْ طَالِبِ الْعِلْمِ وَهُوَ يَعُدُّ التَّسْبِيحَ وَيُقَاطِعُ: يَا الشَّيْخُ عِنْدِيْ سُؤَالٌ

لَا! مَا هُوَ وَقْتُ لِلسُّؤَالِ، وَقْتُ لِلتَّسْبِيحِ تَسْبِيحٌ وَذِكْرُ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَأَشَارَ لِيْ أَمَامَ النَّاسِ: ِاجْلِسْ! اجْلِسْ! سَبِّحْ! سَبِّحْ

فَوَقْتُ التَّسْبِيْحِ الَّذِي هُوَ بَعْدَ الصَّلَاَةِ مَا يُقْطَعُ وَحَقِيقَةٌ هَذِهِ مُشَكَّلَةٌ الْآنَ يَعْنِيْ الْآنَ لَمَّا تَعُدُّ – مَطْلُوبٌ مِنْكَ – ثَلَاثَةً وَ ثَلَاثِيْنَ تَسْبِيحًا أَلَيْسَ كَذَلِكَ؟

وَأَرْبَعَةً أَوْ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ تَحْمِيدًا أَوْ… فَلَمَّا تَكُوْنُ تَعُدُّ: سُبْحَانَ اللهِ… سُبْحَانَ اللهِ… ثُمَّ فَجْأَةً وَاحَدٌ جَاءَ: اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَيُدْخِلُ يَدَهُ فِي يَدِكَ

رَاحَ الْعَدَدُ، ثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ هَذِهِ رَاحَتْ – اِنْتَهَى

كَيْفَ حَالُكَ ؟ عَسَاكَ طَيِّبَةً… أَخْبَارُكَ ! خَلَاصٌ اِنْتَهَى الْعَدَدُ

وَهُوَ مَطْلُوبٌ مِنْكَ ثَلَاثَة وَثَلَاثِينَ ثَلَاثَة وَثَلَاثِينَ مَطْلُوبَةٌ بِالْعَدِّ تَعُدُّهَا وَتَضْبِطُهَا

تَجِدُ… تَجِدُ الْإِنْسَانَ مُرَكِّزًا يَعْنِي يُرِيدُ أَنْ يَضْبِطَ الْعَدَدَ فَجْأَةً يَدْخُلُ الْيَدُ فِي يَدِهِ: السِّلَامُ عَلَيْكُمْ، كَيْفَ حَالُكَ ؟ طَيِّبٌ ؟ خَيْرٌ ؟ اِنْتَهَى، الْعَدَدُ اِنْتَهَى رَاحَ

إِنْ بَدَأْتَ تَعُدُّ مِنْ جَدِيدٍ مُشْكِلَةٌ أَوْ إِنْ حَاوَلْتَ أَنْ تَسْتَحْضِرَ كَمِ الْعَدَدَ وَلَا… أَيْضًا مُشْكِلَةٌ أُخْرَى

فَأَقُولُ هَذَا حَتَّى نَنْتَبِهَ لِأَنَّ عِنْدَنَا أَخْطَاءً لَا بُدَّ أَنْ نُنَبِّهَ بَعْضُ… نُنَبِّهَ بَعْضُنَا بَعْضًا عَلَيْهِ

حَتَّى تَتَلَافَى -بِإِذْنِ اللهِ- وَنَبْقَى عَلَى السُّنَّةِ وَعَلَى الْحِرْصِ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الْجَلِيلَةِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهَا

Inilah yang Membuat Hatimu Keras – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama


Inilah hati, gumpalan kecil dalam jasad manusia, segumpal daging, sebuah organ yang menakjubkan karena mudah berbolak-balik, bisa melembut dan mengeras, bisa sehat dan sakit, bisa bersih dan terkotori.

Maka orang yang beriman dituntut untuk mensucikan hatinya. Dan kajian saya dua pekan lalu di Dubai juga membahas tentang penyucian hati. Dan penyucian diri adalah sebuah jalan menuju selamatnya hati dari kerasnya hati. Namun saya hanya memberikan satu sebab saja yang sekarang banyak tersebar yang merupakan sebab kerasnya hati dan renggangnya hubungan antar sesamayaitu berlebihan dalam menggunakan media sosial modern.

Kita dapati kebanyakan manusia hidupnya telah terikat erat secara total dengan perangkat-perangkat ini. Dan ini menyebabkan hati mengeras dan hubungan antar manusia terputus, sampai-sampai beberapa orang duduk bersama dalam satu tempat namun masing-masing tidak peduli dengan yang lainnya.

Oleh sebab itu di antara nasihat berharga dalam masalah ini hendaknya seseorang menjadwalkan waktu khusus dalam melihat perangkat-perangkat ini,untuk melihat hal-hal yang baik dan menghindari perkara-perkara yang buruk,apalagi kita mengerti bahwa kebanyakan isinya adalah menebar fitnah, mengeraskan hati, mencaci pemerintah, berita bohong terhadap pemerintah, kesalahan yang dikabarkan sebagai kezaliman, dan ajakan untuk berbuat buruk yang menyebabkan hati mengeras.

Maka nasihatku adalah agar kita mengurangi hal ini semampu kita. Salah satunya adalah Anda menjadwalkan waktu khusus untuk hal tersebut dalam setiap hari Anda, dan hal-hal yang Anda ketahui memiliki keburukan harus Anda jauhi dan orang-orang yang Anda kenal membawa keburukan harus Anda tinggalkan, kemudian sisa waktu dalam hari Anda, hindarilah melihat perangkat-perangkat itu dan isilah dengan hal-hal yang memperbaiki hati Anda, dan menyebabkan lembutnya hati Anda.

============

هَذَا الْقَلْبُ الْقِطْعَةُ الصَّغِيرَةُ فِي جِسْمِ الْإِنْسَانِ

الْمُضْغَةُ عُضْوٌ عَجِيبٌ يَتَقَلَّبُ يَلِينُ وَيَقْسُو

يَصِحُّ وَيَمْرَضُ يَسْلَمُ وَيَتَلَوَّثُ

وَالْمُؤْمِنُ مَطْلُوبٌ مِنْهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ

وَقَدْ كَانَتْ لِي مُحَاضَرَةٌ قَبْلَ أُسْبُوعَيْنِ فِي إِمَارَةِ دُبَيْ عَنْ تَزْكِيَةِ الْقُلُوبِ

وَتَزْكِيَةُ الْقُلُوبِ هِي طَرِيقُ السَّلَاَمَةِ مِنْ قَسْوَةِ الْقُلُوبِ

وَلَكِنِّي أُشِيرُ إِلَى سَبَبٍ يَنْتَشِرُ الْآنَ كَثِيرًا

وَسَبَّبَ الْقَسْوَةَ فِي الْقُلُوبِ وَالْجَفَاءَ بَيْنَ النَّاسِ

أَلَا وَهُوَ الْإغْرَاقُ فِي وَسَائِلِ الْإعْلَاَمِ الْمُعَاصِرِ

فَتَجِدُ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ أَصْبَحَتْ حَيَاتُهُمْ مُرْتَبِطَةً اِرْتِبَاطًا كُلِّيًّا بِهَذِهِ الْأَجْهِزَةِ

وَهَذَا سَبَّبَ لِلْقُلُوبِ قَسْوَةً وَلِلنَّاسِ اِنْقِطَاعًا

حَتَّى أَصْبَحَ النَّاسُ يَجْلِسُونَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ كَلٌّ مِنْهُمْ مُنْشَغِلٌ عَنِ الْآخَرِ

وَلِذَلِكَ مِنَ النَّصَائِحِ الْقَيِّمَةِ فِي هَذَا الْبَابِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يُخَصِّصُ وَقْتًا لِلْاِطِّلَاعِ عَلَى مَا فِي هَذِهِ الْأَجْهِزَةِ

مِنْ خَيْرٍ وَيَجْتَنِبُ الشَّرَّ

لَاسِيَّمَا أَنَّا وَجَدْنَا أَنَّ أَكْثَرَ مَا فِيهَا نَشْرُ فِتْنَةٍ

وَيُقَسِّى الْقُلُوبَ إشَاعَاتٌ عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ

وَكَذِبٌ عَلَيهِمْ وَالْأَخْطَاءُ تُسَمَّى خَطَايَا

وَدَعْوَةٌ إِلَى شُرُورٍ مِمَّا يَجْعَلُ الْقُلُوبَ تَقْسُو

فَالنَّصِيحَةُ أَنْ نُخَفِّفَ مِنْهَا مَااسْتَطِعْنَا

وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ تُخَصِّصَ لَهَا وَقْتًا فِي يَوْمِكَ

أَيْضًا مَا عَرَفْتَهُ بِالشَّرِّ ابْتَعِدْ عَنْهُ وَمَنْ عَرَفْتَهُ بِالشَّرِّ تَخَلَّصْ مِنْهُ

ثُمَّ بَقِيَّةُ الْيَوْمِ أَعْرِضْ عَنْهَا وَاشْتَغِلْ بِمَا يُصْلِحُ قَلْبَكَ

وَيُسَبِّبُ لَكَ رِقَّةَ الْقَلْبِ

Solusi untuk Mereka yang Terburu-buru dalam Berzikir – Syaikh al-Albany #NasehatUlama


Aku perhatikan kebanyakan manusia yang zahirnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak hanya menjaga ibadah wajibnya bahkan ibadah sunah dan perkara-perkara yang disunahkan lainnya.

Seperti misalnya dzikir setelah salat, membaca tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya, dan aku melihat sebagian mereka ketika ingin mengamalkan sabda Nabi ‘alaihissalaam

Barang siapa membaca subhanallaah setelah salat tiga puluh tiga kali, alhamdulillaah tiga puluh tiga kali dan allaahuakbar tiga puluh tiga kali, Kemudian menggenapinya seratus dengan mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli sya’in qadiir.’ Dia akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Ini adalah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih beliau.

Ketika mereka ingin mengamalkan hadis ini, Anda akan melihat sebagian mereka hampir-hampir tidak menggerakkan mulut mereka ketika bertasbih, bertahmid dan bertakbir kepada Allah. Dan apa yang kalian dengar? Barangkali kalian juga menyaksikan apa yang aku saksikan, aku tidak sendirian dalam klaim ini.

Ini kita sebut apa? Sabsabis? Kemudian, yang demikian ini buka tasbih dan bukan pula tahmid, hanya beberapa detik saja selesai berdzikir seratus kali. Barang siapa yang mengamalkan dzikir seratus kali ini, apa ganjarannya? Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.

Namun apabila cara mengamalkannya ‘basbasah’ seperti ini, demi Allah, tidak mungkin! Dia tidak boleh tergesa-gesa, hendaknya dia ucapkan seperti ini subhanallaah, subhanallaah, subhanallaah, alhamdulillaah, dan seterusnya. Aku tidak bermaksud dengan ucapanku ini untuk menghalangi manusia dari bertasbih tiga puluh tiga kali dan mengamalkan keseluruhan hadis tersebut, akan tetapi aku ingin menunjukkan kepada mereka sesuatu yang lebih utama bagi mereka secara syariat dan lebih mudah diamalkan, lebih utama secara syariat dan lebih mudah untuk diamalkan.

Perkiraanku, kalian akan mendengar hadis ini untuk pertama kalinya atau minimal sebagian dari kalian, yaitu sebuah hadis yang sangat penting sekali, hadis sahih juga, yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dan Al-Hakim dan selain mereka, dari dua sahabat dengan dua sanad yang sahih bahwa seseorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya bertemu seseorang yang bertanya kepadanya, “Apa yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kalian?”

Dia menjawab, “Beliau mengajari kami dzikir subhanallaah….” Kemudian menyebut jumlah dzikir yang dijelaskan dalam hadis sebelumnya. Maka orang tersebut berkata kepada seseorang yang melihatnya dalam mimpi, “Jadikan dzikir tersebut dua puluh lima kali, jadikan dzikir tersebut dua puluh lima kali.”

Maksudnya, ucapkanlah “Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar.”

Sehingga hitungan dzikir seratus kali yang biasanya dibaca seseorang, diubah menjadi dzikir dua puluh lima kali. Dengan cara membaca dzikir dua puluh lima kali ini seseorang tidak akan tergesa-gesa dalam melafazkannya, yang merupakan cara berdzikir yang sangat kita ingkari. Dengan ini, walaupun dia tergesa-gesa dalam berdzikir, “subhanallaah” kemudian berganti mengucapkan “alhamdulillah”, walaupun dia membacanya dengan cepat, namun kalian perhatikan dzikir ini lebih sempurna dari pada mengucapkan, “subhanallaah, subhanallaah, subhanallaah…..” terus menerus sampai “Laa ilaaha Illallaah, laa ilaaha Illallaah, Laa ilaaha Illallaah ….”

Kemudian lama-kelamaan kalian tidak akan mendengar apapun kecuali dia mengucapkan, “Allah, Allah, Allah, Allah, ….” Begitu sampai selesai.

Maka untuk mencegah orang-orang yang suka tergesa-gesa setelah selesainya salat dalam bertasbih dan bertahmid yang dijelaskan dalam hadis pertama, maka mereka hendaknya mereka mengumpulkan empat lafaz dzikir tersebut dan diucapkan sebanyak dua puluh lima kali.

Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar.
Dua puluh lima kali, dan ini lebih utama, dalilnya adalah kelanjutan hadis tentang seseorang yang mimpi tadi.

Memang bisa saja mimpi hanyalah mimpi biasa dan tidak bisa menjadi penjelasan suatu hukum karena memang kita bukan ahli dalam hal tafsir mimpi. Namun orang yang melihat dalam mimpinya ini kemudian menceritakan mimpinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menjawab, “Jika demikian, lakukan saja.”

Dari sini, muncul pertanyaan masalah fikih, “Apakah hadis ini penghapus hukum hadis yang pertama tadi, yaitu membaca tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali dan terakhir membaca tahlil sekali?”

Tidak! Hadis tersebut tidak menghapus hukum ini, namun hanya pilihan yang lebih utama. Maka apabila seseorang selesai salat kemudian berdzikir dengan hitungan tiga puluh tiga kali ini dengan tumakninah dan tidak tergesa-gesa, maka tidak menjadi masalah. Namun lebih utama baginya untuk mengumpulkan empat lafaz sekaligus sebanyak dua puluh lima kali “Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar, …. subhanallaah walhamdulillaah, ….” Begitu seterusnya sebanyak dua puluh lima kali, cara ini lebih utama baginya dari pada cara yang dijelaskan pada hadis yang sebelumnya.

Kiat Menumbuhkan Prasangka Baik Kepada Allah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Ketika seseorang memperbagus amalannya niscaya hatinya tenang, ketika dia memperbagus amalannya prasangkanya terhadap Tuhannya akan menjadi baik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku akan bersamanya apabila dia mengingat Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka ketika dia memperbagus amalannya, bersungguh-sungguh dalam beramal dan memperbaiki amalannya niscaya akan muncul prasangka baik kepada Allah. Dan ketika amalannya buruk, buruk pula prasangkanya. Maka wajib bagi orang yang beriman untuk bertakwa kepada Allah, mengagungkan Allah, menjauhi larangan-larangan Allah dan melaksanakan semua yang Allah wajibkan atas dirinya.  Dan di antara tanda-tandanya adalah seseorang akan memberikan perhatian pada shalatnya dan menjaganya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dijadikan penyejuk hatiku adalah ketika sedang mengerjakan shalat.” (HR. Tirmidzi)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barang siapa menjaga shalatnya maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan barang siapa tidak menjaganya tidak ada baginya cahaya, petunjuk ataupun keselamatan dan pada hari kiamat dia akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Haman, Qarun dan Ubai bin Khalaf.” (HR. Ahmad dan yang lainnya)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sebuah amalan dari amal-amal seorang hamba yang akan dihitung pertama kali adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka telah beruntung dan selamat dan apabila buruk shalatnya sungguh dia celaka dan merugi, sungguh dia celaka dan merugi.” (HR. Tirmidzi)

Dan disebutkan dalam hadis lain, “Perkara yang pertama kali akan hilang dari agama kalian adalah perkara amanah dan perkara yang akan hilang paling akhir dari agama kalian adalah perkara shalat.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Maka apabila Anda meng-hisab diri Anda sendiri, bersungguh-sungguh dalam beramal karena Allah, menjaga shalat berjamaah dan memperbagus amalan-amalan Anda, saat itulah prasangka yang baik kepada Allah akan muncul. Dan Anda akan tenang dengan apa yang telah Allah janjikan untuk para walinya berupa keselamatan dan kebahagiaan.

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus: 62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 63) Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. (QS. Yunus: 64)

Mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah, bertakwa dan istikamah di atas agamanya, mereka itulah wali-wali Allah. Maka barang siapa memperbaiki amalannya dan bersungguh-sungguh dalam beramal niscaya akan baik prasangkanya kepada Allah dan barang siapa buruk amalannya niscaya akan buruk pula prasangkanya. Tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah.  Baiklah.

===============

مَتَى أَحْسَنَ الْعَمَلَ اطْمَئَنَّ، مَتَى أَحْسَنَ الْعَمَلَ حَسُنَ ظَنُّهُ بِرَبِّهِ

يَقُولُ الله جَلَّ وَعَلَا

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

فَمَتَى أَحَسَنَ الْعَمَلَ وَ جَدَّ فِي الْعَمَلِ وَأَصْلَحَ فِي الْعَمَلِ حَسُنَ ظَنُّهُ بِالله

وَمَتَى سَاءَتِ الْأَعْمَالُ سَاءَتْ ظُنُوْنُهُ

فَالْوَاجِبُ عَلَى الْمُؤْمِنِ أَنْ يَتَّقِيَ الله وَأَنْ يُعَظِّمَ الله وَ أَنْ يَحْذَرَ مَحَارِمَ الله وَأَنْ يُؤَدِّيَ مَا أَوْجَبَ الله عَلَيْهِ

وَمِنْ عَلَامَاتِ ذَلِكَ الْعِنَايَةُ بِالصَّلَاَةِ وَالْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا، يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

يَقُولُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُوْرٌ وَلَا بُرْهَانٌ وَلَا نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُوْنَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَ أُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ

يَقُولُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ

فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ… فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

وَفِي الْحَدَيْثِ الْآخَرِ أَيْضًا
أَوَّلُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ الْأَمَانَةُ وَآخِرُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْهُ الصَّلَاةُ
رَوَاهُ ابْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ

فَإِذَا حَاسَبَتَ نَفْسَكَ وَجَاهَدْتَهَا لله وَ حَافَظْتَ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْجَمَاعَةِ وَأَحْسَنْتَ فِي أَعْمَالِكَ عِنْدَ هَذِهِ يَحْسُنُ ظَّنُّكَ بِالله

وَتَطْمَئِنُّ إِلَى مَا وَعَدَ بِهِ أَوْلِيَاءَهُ مِنَ النَّجَاةِ وَالسَّعَادَةِ

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ الله لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
يُوْنُسُ – الآيَةُ 62

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
يُوْنُسُ – الآيَةُ 63

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ
يُوْنُسُ – الآيَةُ 64

هُمُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّقَوْا وَاسْتَقَامُوْا عَلَى دِينِهِمْ هُمْ أَوْلِيَاءُ الله

فَمَنْ أَحْسَنَ الْعَمَلَ وَجَاهَدَ نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ حَسُنَ ظَنُّهُ بِالله وَ مَنْ سَاءَتْ أَعْمَالُهُ سَاءَتْ ظُنُوْنُهُ

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِالله

نَعَمْ

 

Dosa Melotot

Urwah bin az-Zubair mengatakan,

مَا بَرَّ وَالِدَيْهِ مَنْ أَحَدَّ النَّظَرَ إِلَيْهِمَا

“Tidaklah berbakti kepada orang tua seorang anak yang melototi keduanya.” (al-Birr karya Ibnul Jauzi no 113)

Anak berkewajiban berbakti kepada orang tuanya meski sudah berkeluarga.

Isteri tetap wajib berbakti kepada ortunya meski sudah bersuami.

Haram atas suami melarang isteri berbakti kepada ortunya.

Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar.

Menatap ortu penuh hormat adalah bentuk berbakti.

Sebaliknya, melototi orang tua karena jengkel atau marah dengan orang tua adalah bentuk durhaka.

Anak dapat dosa besar gara-gara melototi orang tua.

Anak yang pernah melototi orang tuanya wajib bertaubat, menyesali dan tidak mengulangi serta wajib minta maaf kepada orang tuanya.

Semoga Allah berikan kepada penulis dan semua pembaca tulisan ini anak keturunan yang tidak pernah melototi kita semua bahkan demikian berbakti kepada orang tuanya masing-masing. Aamiin.

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.