Bolehkah Bilang “Aku Muslim Insya Allah”? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bolehkah Bilang “Aku Muslim Insya Allah”? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jika seorang hamba ditanya tentang keimanannya, “Apakah kamu seorang mukmin atau muslim?” maka hendaklah ia menjawab, “Aku beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya.” Atau ia menjawab, “Aku seorang mukmin insya Allah.” Perkataan penulis rahimahullahu Ta’ala…”Atau ia menjawab, ‘Aku seorang mukmin insya Allah’.” adalah termasuk masalah yang berkaitan dengan iman yang disebut dengan.masalah pengecualian dalam iman, yaitu menyebutkan bahwa ia beriman namun dengan menyertakan kalimat ‘insya Allah’. Dan masalah pengecualian dalam iman ini…memiliki dua bentuk.

BENTUK PERTAMA:
Dia mengatakan itu karena ragu dan bentuk ini hukumnya haram berdasarkan kesepakatan para ulama,dan bisa jadi hukumnya kafir bagi yang mengucapkannya.

BENTUK KEDUA: Jika dia mengatakannya bukan karena keraguan.

Dan bentuk kedua ini terbagi menjadi beberapa jenis.

Jenis yang pertama…Jika dia mengatakannya untuk mengharap keberkahan melalui zikir kepada Allah, maka ini hukumnya boleh.

Dan jenis yang kedua,.. Jika dia mengatakannya karena yakin bahwa seluruh…kejadian terikat oleh takdir Allah,…maka ini hukumnya juga boleh.

Dan jenis yang ketiga,..Jika dia mengatakannya karena maksud ketidaktahuannya tentang apa yang akan terjadi di masa depan,..karena dia tidak tahu apakah akan meninggal dalam keadaan beriman atau tidak,maka ini juga boleh dilakukan.

Dan jenis yang keempat, Dia mengatakannya karena merasa dirinya masih memiliki banyak kekurangan…dan masih belum sampai pada keimanan yang sempurna, karena dia takut masih ada kelalaian dalam menunaikan kewajiban atau takut masih melakukan hal yang haram maka ini hukumnya sunnah.

Adapun para salaf yang melakukan pengecualian dalam iman ini atau menyebutkannya di dalam kitab-kitab akidah salaf…maka yang mereka maksud adalah makna-makna yang dibenarkan. Dan yang paling baik adalah jenis yang terakhir. Karena jika seorang hamba ditanya, “Apakah kamu seorang mukmin?” kemudian menjawab, “Aku seorang mukmin insya Allah” dan berharap dapat meraih kesempurnaan iman serta khawatir terhadap dirinya…jika melalaikan sebagian cabang keimanan,maka itu adalah hal yang terpuji baginya.

================================================================================

وَهَذَا جَائِزٌ أَيْضًا

وَرَابِعُهَا

أَنْ يَقُولَهَا عَلَى إِرَادَةِ الْإِزْرَاءِ عَلَى نَفْسِهِ

وَعَدَمِ بُلُوغِ الْكَمَالِ فِي الْإِيمَانِ

خَشْيَةَ التَّفْرِيطِ فِي وَاجِبٍ

أَوِ ارْتِكَابِ مُحَرَّمٍ

وَهَذَا مُسْتَحَبٌّ

وَمَنِ اسْتَثْنَى مِنَ السَّلَفِ

أَوْ ذَكَرَ هَذَا فِي كُتُبِ اعْتِقَادِ السَّلَفِيَّةِ

فَإِنَّمَا أَرَادُوا

الْمَعَانِيَ الصَّحِيحَةَ

وَأَمْثَلُهَا آخِرُهَا

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قِيلَ لَهُ أَمُؤْمِنٌ أَنْتَ

فَقَالَ مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ

يَرْجُو أَنْ يُدْرِكَ كَمَالَ الْإِيمَانِ وَيَخَافُ عَلَى نَفْسِهِ

تَضْيِيْعَ شَيْءٍ مِنْ شُعَبِهِ

كَانَ ذَلِكَ مِمَّا يُحْمَدُ لَه

Mengapa Rasulullah Sering Berdoa Berlindung dari Hutang? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Mengapa Rasulullah Sering Berdoa Berlindung dari Hutang? – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beliau bersabda, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Al-Ma’ṡam dan Al-Maghram.” (HR. Bukhari) Al-Ma’ṡam artinya adalah perkara yang karenanya seseorang mendapat dosa karena melakukan maksiat. Dan Al-Maghram adalah sesuatu yang membuat seseorang harus membayar karena sebab hukum jinayat, urusan muamalah, atau yang lainnya…
**(HUTANG ADALAH CONTOH NYATA DARI AL-MAGHRAM)

Jadi, Al-Ma’ṡam terkait dengan hak Allah subḥānahu wa ta’alā, sedangkan Al-Maghram terkait dengan hak-hak terhadap sesama manusia. Kemudian ada yang bertanya, perawi mengatakan, “Kemudian ada yang bertanya, ‘Kenapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?'” “Wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?” Ada dalam riwayat An-Nasa’i, karena dalam riwayat ini hanya disebutkan, “Dan seseorang berkata kepada beliau.”
Siapa yang berkata? Disebutkan dalam riwayat An-Nasa’i bahwa yang bertanya adalah ‘Aisyah Aisyah -semoga Allah meridainya- dengan lafal hadis,
“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau begitu sering berlindung dari Al-Maghram?’Ini adalah pertanyaan tentang hikmah di balik seringnya Nabi ‘alaihiṣ ṣalātu wassalām meminta perlindungan dari Al-Maghram. Kemudian beliau menjawab dengan perkataan beliau, “Karena seseorang bila punya tanggungan hutang, jika berkata akan dusta dan jika berjanji akan mengingkari.” (HR. An-Nasa’i) Maksudnya, jika seseorang sudah menanggung hutang, dia menjadi seorang gharim. Gharim adalah seseorang yang punya tanggungan hutang pada orang lain yang harus dia lunasi. Oleh karena itu seseorang disyariatkan untuk berdoa kepada Allah berlindung dari Al-Maghram, karena seseorang jika sudah demikian biasanya jika berkata akan dusta dan jika berjanji akan mengingkari. Jika orang yang memberi hutang datang untuk menagih hutang biasanya orang yang berhutang terpaksa berbohong atau menjanjikan sesuatu kemudian dia ingkari. Dan faedah lain dari hadis ini bahwa seseorang selayaknya tidak menjatuhkan diri dalam urusan hutang.

Dan ini adalah masalah yang disepelekan oleh banyak orang, sehingga ada sebagian orang berhutang dengan jumlah yang besar hanya untuk perkara atau benda yang bukan kebutuhan pokok (tersier), dan dia bebani dirinya sendiri dengan hutang yang mungkin dalam waktu yang teramat lama tidak mampu dia lunasi! Hutang adalah perkara yang berat, bukan urusan yang ringan! Dan terdapat hadis dalam Musnad Imam Ahmad dari ‘Uqbah bin ‘Amir, -semoga Allah meridai beliau-, beliau berkata, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan buat dirimu merasa takut setelah mendapat keamanan.”
Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Hutang!” (HR. Ahmad) Demikian.

=============================================================================

قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

الْمَأْثَمُ هُوَ الْأَمْرُ الَّذِي يَأْثَمُ بِهِ الْإِنْسَانُ مِنْ جَمِيعِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ

وَالْمَغْرَمُ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ أَدَاؤُهُ

بِسَبَبِ جِنَايَةٍ أَوْ مُعَامَلَةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ

فَالْمَأْثَمُ إِشَارَةٌ إِلَى حَقِّ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَالْمَغْرَمُ إِشَارَةٌ إِلَى حُقُوقِ الْعِبَادِ

قَالَ فَقَالَ: إِنَّ قَالَ: فَقَالَ قَائِلٌ

مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟

مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ يَا رَسُولَ اللهِ ؟

جَاءَ فِي رِوَايَةٍ لِلنَّسَائِيِّ هُنَاكَ هُنَا الرِّوَايَةُ قَالَ… قَالَتْ… فَقَالَ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ

مَنِ الْقَائِلُ؟ جَاءَ فِي رِوَايَةٍ لِلنَّسَائِيِّ أَنَّ السَّائِلَ عَنْ ذَلِكَ عَائِشَةُ

عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَلَفْظُهَا

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَكْثَرُ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ؟

وَهُوَ سُؤَالٌ عَنِ الْحِكْمَةِ مِنْ كَثْرَةِ اسْتِعَاذَتِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

مِنَ الْمَغْرَمِ فَأَجَابَ أَجَابَهَا بِقَوْلِهِ

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ – رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

أَيْ صَارَ عَلَيْهِ الدُّيُونُ تَحَمَّلَهَا فَكَانَ… بِذَلِكَ مِنَ الْغَارِمِينَ

الْغَارِمُ هُوَ الْمُتَحَمِّلُ لِحُقُوقٍ لِلنَّاسِ

فَشُرِعَ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ مِنَ الْمَغْرَمِ

لِأَنَّهُ عِنْدَمَا يَكُونُ كَذَلِكَ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ وَيَعِدُ فَيَخْلِفُ

إِذَا أَتَاهُ الدَّائِنُونَ يُطَالِبُونَهُ بِالسَّدَادِ

فَإِنَّهُ يُضْطَرُّ بِأَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْ يَعِدَهُمْ فَيُخْلِفُ

يُسْتَفَادُ مِنَ الْحَدِيثِ أَيْضًا أَنَّ الْمَرْأَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحَمِّلَ نَفْسَهُ دُيُونًا

وَهَذَا أَمْرٌ تَهَاوَنَ فِيهِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ

وَرُبَّمَا يَسْتَدِينُ الْبَعْضُ أَمْوَالًا كَثِيرَةً

فِي أُمُورٍ فِي أُمُورٍ هِيَ مِنَ الْكَمَالِيَّاتِ

وَيُرْهِقُ نَفْسَهُ فِي الدُّيُونِ

رُبَّمَا يَعِيشُ وَقْتًا طَوِيلًا مِنْ عُمْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُسَدِّدَهَا

وَالدَّيْنُ أَمْرٌ عَظِيمٌ وَلَيْسَ بِالْهَيِّنِ

وَقَدْ جَاءَ فِي مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تُخِيفُوا أَنَفْسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا

قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟

قَالَ الدَّيْنُ – رَوَاهُ أَحْمَدُ

نَعَمْ

 

Agar Sukses Menuntut Ilmu Tips dari Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Agar Sukses Menuntut Ilmu Tips dari Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Pemula yang baru memulai langkahnya dalam menuntut ilmu Disarankan baginya belajar kitab al-Arba’in karangan Imam an-Nawawi -rahimahullah- atau belajar kitab al-Ushul ats-Tsalatsah. Jika dia telah menentukan kitab untuk dipelajari…Jika dia telah menentukan kitab, maka apa yang harus dia lakukan? Penulis berkata, “Hendaklah dia jadikan mayoritas urusan dan kesibukannya pada kitab tersebut.” Di sini terdapat masalah, jika kamu berhadapan dengan para pemula; Semisal dia datang dan menanyakan (suatu kitab), maka disebutkan satu kitab, lalu disebutkan padanya kitab yang lain…Kemudian disebutkan kitab ketiga, keempat, dan seterusnya…Dia memandangnya sangat banyak…

Dia membayangkan seakan-akan ia tidak mungkin mampu mempelajari semuanya, sehingga dia tidak mau lagi menuntut ilmu! Namun (akan lebih baik) jika dia mencurahkan dirinya pada satu kitab dan tidak terombang-ambing…serta fokus pada satu kitab itu…Seperti yang dikatakan syaikh, “Menjadikan mayoritas urusan dan kesibukannya pada kitab itu… dengan menghafalnya jika memungkinkan.” Yakni menghafalnya dengan hafalan yang kuat, jika dia mampu. Apabila tidak memungkinkan, maka syaikh menunjukkan cara yang bagus sekali;Beliau berkata, “Atau mempelajarinya berulang kali, sehingga makna-maknanya teringat, meski tidak dihafal. Yakni tidak menjadi hafalan seperti ilmu lain yang telah dihafal, namun menjadi seakan-akan seperti hafalan.
Dalam artian, makna-maknanya telah tertanam dalam ingatan. Hal ini jika tidak memungkinkan baginya untuk menghafal. Maka dia dapat memakai cara kedua ini, yaitu dengan mengulangi dan mengulanginya hingga menjadi seperti hafalan. Kemudian dia harus terus mengulanginya selalu. Karena dengan cara inilah ilmu akan menetap dan terjaga.

================================================================================

وَمَثَلًا الْمُبْتَدِئُ الَّذِي هُوَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ الْآنَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ

يُنْصَحُ مَثَلًا بِالْأَرْبَعِيْنَ لِلنَّوَوِيِّ رَحِمَهُ اللهُ

يُنْصَحُ مَثَلًا بِالْأُصُوْلِ الثَّلَاثَةِ

فَإِذَا عَيَّنَ كِتَابًا

إِذَا عَيَّنَ كِتَابًا مَاذَا يَفْعَلُ؟

قَالَ يَجْعَلُ جُلَّ هَمِّهِ وَاشْتِغَالِهِ بِذَلِكَ الْكِتَابِ

هُنَا حَقِيقَةً مُشْكِلَةٌ لِكَيْ تَعْرِضَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُبْتَدِئِيْنَ

يَأْتِي مَثَلًا وَيَسْأَلُ وَيُذْكَرُ لَهُ كِتَابٌ

ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ آخَرَ

ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ ثَالِثٌ ثُمَّ يُذْكَرُ لَهُ رَابِعٌ ثُمَّ وَهَكَذَا

وَيَجِدُ أَنَّهَا أَشْيَاءٌ

يَتَصَوَّرُ أَنَّهُ لَا قِبَلَ لَهُ بِهَا وَلَا طَاقَةَ لَهُ بِهَا

فَيَتْرُكُ الْعِلْمَ مِنْ أَوَّلِهِ

لَكِنْ لَوْ جَمَعَ نَفَسَهُ عَلَى كِتَابٍ وَاحِدٍ وَتَرَكَ التَّشَتُّتَ

وَرَكَّزَ عَلَى الْكِتَابِ

مِثْلُ مَا يَقُولُ الشَّيْخُ يَجْعَلُ جُلَّ هَمِّهِ وَاشْتِغَالِهِ بِذَلِكَ الْكِتَابِ

حِفْظًا عِنْدَ الْإِمْكَانِ

يَعْنِي يَحْفَظُهُ حِفْظًا مُتْقَنًا عِنْدَ الْإِمْكَانِ

عِنْدَ عَدَمِ الْإِمْكَانِ الشَّيْخُ يُرْشِدُ إِلَى طَرِيقَةٍ حَقِيقَةً جَمِيلَةٍ جِدًّا

يَقُولُ أَوْ دِرَاسَةُ تَكْرِيرٍ

بِحَيْثُ تَكُونُ الْمَعَانِي مَعْقُولَةً لَا مَحْفُوظَةً

يَعْنِي يُصْبِحُ لَيْسَ مَحْفُوظًا مِثْلَ الَّذِي حَفِظَهُ

وَإِنَّمَا يُصْبِحُ أَشْبَهَ بِالْمَحْفُوظِ

بِمَعْنَى أَنَّ الْمَعَانِي ثَبَتَتْ عِنْدَهُ وَضَبَطَهَا

هَذَا إِنْ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ الْحِفْظُ

يَنْتَقِلُ إِلَى هَذِهِ الطَّرِيقَةِ الْأُخْرَى

وَهِيَ التِّكْرَارُ التِّكْرَارُ إِلَى أَنْ يُصْبِحَ أَشْبَهَ بِالْمَحْفُوظِ

ثُمَّ لَا يَزَالُ يُكَرِّرُ مَا مَرَّ عَلَيْهِ وَيُعِيدُهُ

لِأَنَّ هَذَا الَّذِي بِهِ ثَبَاتُ الْعِلْمِ وَبَقَاؤُهُ وَحِفْظُهُ

 

Untukmu yang Kembali Berdosa – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Untukmu yang Kembali Berdosa – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Di sini, juga ada pertanyaan, “Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda, wahai guru kami. Kami ingin memberitahu Anda bahwa kami mencintai Anda karena Allah. Pertanyaan kami, ‘Apa nasehat dan arahan Anda bagi penuntut ilmu yang terjatuh pada perbuatan yang dimurkai Allah, kemudian dia bertaubat, namun mengulanginya lagi?” Ulangi, ulangi! Dia berkata, “Pertanyaan kami adalah apa nasehat dan arahan Anda bagi penuntut ilmu yang terjatuh pada perbuatan yang dimurkai Allah, kemudian dia bertaubat namun mengulanginya lagi?”

Pertama, aku meminta kepada Allah yang Maha Dermawan untuk kita semua, agar Dia menjadikan kita semua orang yang saling mencintai karena Allah. Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Taʿālā Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. Kemudian, keadaan seseorang yang dalam hidupnya terjatuh dalam perbuatan dosa dan kesalahan, barangkali juga ia lalai menjaga dirinya, dan menjauhkannya dari maksiat. Ini adalah hal manusiawi bagi setiap orang, karena Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām bersabda, “Semua keturunan Adam pasti berbuat salah, namun sebaik-baik orang bersalah adalah yang sering bertaubat.” (HR. Tirmizi) Dan dalam hadis qudsi Allah Ta’ālā berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, namun Aku mengampuni semua dosa.” “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, namun Aku mengampuni semua dosa. Maka, mintalah ampun kepada-Ku dan Aku akan ampuni kalian.”

Dalam hadis lain, Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām juga mengabarkan bahwa Allah Ta’ālā berfirman, “Jikalau kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan musnahkan kalian, lalu Allah mendatangkan satu kaum (yang berbuat dosa), kemudian mereka meminta ampun, sehingga Dia mengampuni mereka.” Sehingga, seorang hamba tidaklah maksum, namun pasti berbuat salah dan alpa. Namun, dia harus memaksa dirinya selalu dan terus-menerus melakukan tiga perkara, yang dengan izin Allah Subẖānahu wa Ta’ālā akan bermanfaat baginya.

PERTAMA:
Senantiasa dan bersegera bertaubat! Setiap kali dia berbuat salah, dia bersegera bertaubat dari dosa dan kesalahannya.

KEDUA:
Hendaknya dia memperbanyak istighfar. Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām bersabda, “Beruntunglah orang yang mendapati banyak istighfar dalam catatan amalnya.” (HR. Ibnu Majah) Dan dalam hadis qudsi bahwa Allah Ta’ālā berfirman: “Wahai anak Adam, jika dosamu sudah mencapai petala langit, kemudian kalian meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan ampuni kalian.” (HR. Tirmizi) Ayat dan hadis tentang keutamaan istighfar ada banyak. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. Al-Anfal: 33) Jadi, perbanyaklah beristighfar.

KETIGA:
Memperbanyak dan bersegera beramal kebaikan.
Allah Taʿālā telah berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik akan menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114) Nabi ‘Alaihiṣ Ṣalātu was salām berwasiat kepada Muʿaḏ bin Jabal—semoga Allah meridainya— ketika beliau mengutusnya ke Yaman, beliau bersabda, “Bertakwalah kamu di manapun berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik yang akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmizi)

================================================================================

هُنَا سُؤَالٌ أَيْضًا يَقُولُ أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ شَيْخَنَا

نُخْبِرُكُمْ بِأَنَّا نُحِبُّكُمْ فِي اللهِ

سُؤَالِيْ هُوَ مَا هِيَ نَصِيحَتُكُمْ وَتَوْجِيهُكُمْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ

يَقَعُ فِي بَعْضِ مَسَاخِطِ اللهِ وَيَتُوبُ

ثُمَّ يَرْجِعُ بَعْدَ ذَلِكَ… أَعِدْ أَعِدْ

يَقُولُ سُؤَالِي هُوَ مَا هِيَ نَصِيحَتُكُمْ وَتَوْجِيهُكُمْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَوْ لِطَالِبِ عِلْمٍ

يَقَعُ فِي بَعْضِ مَسَاخِطِ اللهِ وَيَتُوبُ ثُمَّ يَرْجِعُ بَعْدَ ذَلِكَ

أَوَّلًا أَسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ لَنَا أَجْمَعِيْنَ

أَنْ يَجْعَلَنَا مِنَ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللهِ

إِنَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَمِيعٌ مُجِيبٌ

وَكَوْنُ الْإِنْسَانِ يَتَعَرَّضُ فِي حَيَاتِهِ لِلْوُقُوعِ

فِي بَعْضِ الذُّنُوبِ وَالْأَخْطَاءِ وَرُبَّمَا أَيْضًا يَفُوتُهُ أَنْ يَزُمَّ نَفْسَهُ

وَأَنْ يُبْعِدَهَا عَنِ الْمَعَاصِي فَهَذَا عُرْضَةٌ لَهُ الْإِنْسَانُ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

وَفِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ تُذْنِبُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُذْنِبُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

وَأَيْضًا فِي الْحَدِيثِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ اللهُ تَعَالَى

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ

وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

فَالْعَبْدُ لَيْسَ الْمَعْصُومَ الْعَبْدُ عُرْضَةٌ لِلْخَطَأِ وَالتَّقْصِيرِ

لَكِنْ يَنْبَغِي عَلَيْهِ أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ دَائِمًا وَأَبَدًا عَلَى الْعِنَايَةِ بِأُمُورٍ ثَلَاثَةٍ

يَنْفَعُهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهَا

أَلَا وَهِيَ مُلَازَمَةُ التَّوْبَةِ وَالْمُبَادَرَةُ إِلَيْهَا

وَكُلَّمَا بَدَرَ مِنْهُ خَطَأٌ يُبَادِرُ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ خَطَأِهِ وَتَقْصِيرِهِ

وَالْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُكْثِرَ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ أَنَّ اللهَ يَقُولُ

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ

ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ

وَالْآيَاتُ وَالْأَحَادِيثُ فِي فَضْلِ الْاِسْتِغْفَارِ كَثِيرَةٌ

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ

وَمَا كَانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

فَالْإِكْثَارُ مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

الْأَمْرُ الثَّالِثُ الْإِكْثَارُ مِنَ الْحَسَنَاتِ وَالْمُسَارَعَةُ إِلَيْهَا

وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

وَيَقُولُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي وَصِيَّتِهِ لِمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

عِنْدَمَا بَعَثَهُ إِلَى الْيَمَنِ قَالَ

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

 

Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Rumah Tangga Bahagia Islami: Agar Rumah Tangga Bahagia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Di antara asas pergaulan rumah tangga adalah menampakkan cinta dengan ucapan dan perbuatan, dan melakukan hal-hal yang bisa menambah rasa cinta. Manusia secara naluriah membutuhkan kasih sayang dan cinta; seorang suami membutuhkan istri yang mencintainya dan menampakkan cinta dan kasih sayang padanya, dengan perkataan dan perbuatannya; seorang istri pun membutuhkan cinta yang ditampakkan padanya, dengan perkataan dan perbuatan.

Oleh sebab itu, para lelaki harus menyadari hal ini, karena tabiat seorang lelaki, cenderung tidak banyak bicara dan bertutur kata, sehingga sebagian mereka melalaikan kebutuhan istrinya yang ingin cinta ditampakkan padanya, dan diajak ngobrol dengan kata-kata yang romantis, yang menunjukkan rasa cinta dan sayang. Sehingga perkara ini adalah salah satu asas penting dalam pergaulan rumah tangga. Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” Hadis ini ada dalam Ṣahīhain.

Perhatikan! Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Beliau menunjukkan cinta beliau kepada Aisyah di hadapan orang-orang. Ditanya lagi, “Kalau dari kalangan lelaki?” Beliau tidak berkata, “Abu Bakar,” tapi berkata, “Ayahnya.” Ini adalah bentuk beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menunjukkan rasa cintanya. Beliau juga menunjukkan kecintaan beliau dengan perbuatan beliau, diriwayatkan dari Aisyah—semoga Allah meridainya—dia berkata, “Aku pernah minum ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan gelasku kepada beliau ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau meletakkan bibirnya pada tempat bekas bibirku (di gelas), kemudian beliau minum. Aku juga pernah memakan daging ketika aku sedang haid, kemudian aku berikan tulangnya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau meletakkan mulutnya pada tempat bekas gigitanku. Hadis riwayat Muslim dalam kitab Sahih beliau.

Jadi, Aisyah ketika sedang haid, beliau mengambil gelas, kemudian minum, kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi menerima gelas bekas Aisyah minum, dan tidak sampai di sini saja, tapi memutar gelasnya ke posisi yang darinya Aisyah minum, tempat bekas bibir Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— kemudian Nabi minum dari tempat bekas Aisyah minum, —ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam wa raḍiya ʿanha— Dan ketika Aisyah menggigit al-‘Arq, yaitu tulang yang ada dagingnya, dia menggigitnya kemudian memberikannya kepada Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menerimanya, dan meletakkan mulutnya pada bekas mulut Aisyah, dan menggigit dari tempat itu.

Dari kisah ini, pada perbuatan Nabi ini, ada wujud menampakkan besarnya kecintaan, dan menunjukkan luasnya kasih sayang, ketika Nabi meminum dari gelas di tempat bekas mulutnya Aisyah, dan tidak sampai di sini saja, bahkan Nabi sengaja meletakkan mulut beliau—ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam—yang mulia, pada bekas mulutnya Aisyah. Bayangkan jika seorang suami melakukan hal ini kepada istrinya, betapa besar cinta yang akan masuk ke dalam hatinya? Dan betapa besar hal ini akan menambah kecintaanya kepada suaminya? Begitu juga ketika makan, Nabi ṣallāllāhu ‘alaihi wa sallam menggigit daging pada tempat bekas gigitan Aisyah—semoga Allah meridainya dan membuatnya rida— Ini adalah perkara agung, yang seorang lelaki dan wanita harus memahaminya, dan mengamalkannya, karena betapa butuhnya rumah tangga zaman sekarang terhadap pemenuhan cinta dan kasih sayang.

=========================================================================

وَمِنْ أُصُولِ الْعِشْرَةِ فِي الْبَيْتِ إِظْهَارُ الْمَحَبَّةِ قَوْلًا وَعَمَلًا

وَفِعْلُ مَا يَزِيدُ الْمَحَبَّةَ

الْإِنْسَانُ فِي خِلْقَتِهِ يَحْتَاجُ إِلَى الْعَاطِفَةِ يَحْتَاجُ إِلَى الْمَحَبَّةِ

فَالزَّوْجُ يَحْتَاجُ أَنْ تَتَحَبَّبَ إِلَيْهِ زَوْجَتُهُ وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ تُظْهِرَ لَهُ الْمَوَدَّةَ بِقَوْلِهَا وَفِعْلِهَا كَذَلِكَ

وَالزَّوْجَةُ كَذَلِكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَنْ تُظْهَرَ لَهَا الْمَحَبَّةُ

بِالْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَيَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ أَنْ يَتَنَبَّهُوا لِهَذَا

لِأَنَّ طَبِيعَةَ الرَّجُلِ فِي الْغَالِبِ لَا تَمِيلُ إِلَى الْأَقْوَالِ لَا تَمِيلُ إِلَى اللِّسَانِ

فَيُهْمِلُ بَعْضُ الْأَزْوَاجِ حَاجَةَ امْرَأَتِهِ إِلَى أَنْ يُظْهِرَ لَهَا الْمَحَبَّةَ

وَأَنْ يُكَلِّمَهَا بِالْكَلَامِ الطَّيِّبِ الَّذِي فِيهِ الْحُبُّ وَالْوُدُّ

فَهَذِهِ الْقَضِيَّةُ مِنَ الْأُصُولِ الْمُهِمَّةِ فِي الْعِشْرَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

قَالَ: أَبُوهَا

وَالْحَدِيثُ فِي الصَّحِيحَيْنِ

فَانْظُرُوْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ: مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟

قَالَ: عَائِشَةُ

فَأَظْهَرَ حُبَّهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا أَمَامَ النَّاسِ

قِيلَ: فَمِنَ الرِّجَالِ؟

مَا قَالَ: أَبُو بَكْرٍ
قَالَ: أَبُوهَا

وَذَلِكَ إِظْهَارًا لِمَحَبَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُظْهِرُ مَحَبَّتَهُ بِأَعْمَالِهِ

فَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ

يَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ

فَعَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَهِيَ حَائِضٌ تَأْخُذُ الْإِنَاءَ فَتَشْرَبُ

فَتُعْطِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَيَأْخُذُ مِنْهَا الْإِنَاءَ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يُدِيرُ الْإِنَاءَ إِلَى الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرَبَتْ مِنْهُ

إِلَى مَوْضِعِ فَمِهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

فَيَشْرَبُ مِنَ الْمَوْضِعِ الَّذِي شَرِبَتْ مِنْهُ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَضِيَ عَنْهَا

وَتَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ أَيْ الْعَظْمَ عَلَيْهِ اللَّحْمُ تَتَعَرَّقُ

ثُمَّ تُنَاوِلُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَأْخُذُهُ

وَيَضَعُ فَمَهُ عَلَى مَوْضِعِ فَمِهَا وَيَأْكُلُ مِنْهُ

وَفِي هَذِهِ فِي هَذَا الْعَمَلِ إِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَحَبَّةِ

وَإِظْهَارٌ عَظِيمٌ لِلْمَوَدَّةِ يَشْرَبُ مِنَ الْإِنَاءِ وَقَدْ شَرِبَتْ مِنْهُ

وَلَيْسَ هَذَا فَحَسْبُ

بَلْ يَتَعَمَّدُ أَنْ يَضَعَ فَمَهُ الشَّرِيفَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْضِعَ فَمِهَا

اُنْظُرْ لَوْ أَنَّ الزَّوْجَ فَعَلَ هَذَا مَعَ زَوْجَتِهِ

كَمْ يُدْخِلُ هَذَا السُّرُورَ إِلَى قَلْبِهَا؟

وَكَمْ يَجْعَلُهَا تَزْدَادُ مَحَبَّةً لَهُ؟

كَذَلِكَ فِي الطَّعَامِ يَتَعَرَّقُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَرْقَ

فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي تَعَرَّقَتْ مِنْهُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا

وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ يَنْبَغِي عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ أَنْ يَفْقَهُوهُ

وَأَنْ يَعْمَلُوا بِهِ مَا أَحْوَجَ الْبُيُوتَ الْيَوْمَ إِلَى أَنْ تُمْلَأَ بِالْمَحَبَّةِ وَالْمَوَدَّةِ

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

Tawakal Adalah (Ini Arti Tawakal yang Sebenarnya) – Syaikh Khalid Ismail Al-Mushabbah #NasehatUlama

Tawakal yang baik dan benar kepada Allah, adalah ketika seseorang rida dengan apa yang Allah Taʿāla takdirkan untuknya. Yaitu, sekarang, saat Anda berkata, “Aku bertawakal kepada Allah,” apa arti tawakal tersebut? Artinya, Anda serahkan urusan Anda kepada Allah, yaitu, Anda menjadikan Allah sebagai wakil (pelindung & penjamin) dalam urusan ini, biarkan Allah Jalla wa ‘Alā melakukan apa yang Dia kehendaki, mengatur semua urusan Anda. Dia yang mengatur urusannya—Dan hanya Allah pemilik sifat yang sempurna—seperti ketika Anda menunjuk seseorang untuk mewakili Anda (wakālah), apa artinya? Misalnya, mewakili Anda untuk membeli sesuatu untuk kebutuhan Anda. Anda beri dia uang dan berkata, misalnya, “Belikan ini untukku!” Ini adalah wakālah. Ini tentu boleh, karena hati Anda tetap bergantung kepada Allah, dan ini hanya sekadar perantara saja.

Baiklah, orang ini, seandainya dia membeli untuk Anda, sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Anda. Dia membelikan apa yang Anda butuhkan, tapi Anda tidak menyukainya, misalnya, Anda kesal dan marah kepadanya. Anda katakan, “Kamu tak paham sama sekali! Kamu begini dan begitu!” Anda seolah-olah tidak rida dengan perwakilannya untuk Anda. —Hanya Allah yang memiliki sifat yang sempurna—ini hanya sebagai analogi saja. Seseorang berkata, “Aku bertawakal kepada Allah, dan menyerahkan urusanku kepada-Nya.” Namun kemudian Allah takdirkan kepada Anda, sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan Anda, tidak Anda inginkan, dan tidak Anda sukai. Jika Anda memang benar-benar jujur bertawakal kepada Allah, pasti Anda rida dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Oleh karena itu, Bišri al Hāfi—semoga Allah Ta’āla merahmatinya—berkata, “Seseorang berkata bahwa dia bertawakal kepada Allah, padahal dia sedang berdusta kepada-Nya.” Beliau berkata, “Jika memang benar dia bertawakal kepada-Nya, pastilah rida dengan apa yang ditakdirkan untuknya.” Jika benar tawakalnya, pasti dia rida dengan apapun yang Allah Ta’āla lakukan untuknya. Karena hakikat tawakal adalah keridaan, rida kepada Allah Ta’āla! Inilah tanda tawakal yang benar kepada Allah. Maka, perhatikan! Ketika Nabi ṣallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah!” Kemudian beliau berkata, “Dan jangan kamu lemah!” Kemudian beliau berkata, “Janganlah kamu berkata, …” Beliau berkata, “Jika suatu keburukan menimpamu, jangan kamu berkata, … ‘Seandainya aku berbuat ini dan itu pasti aku akan begini dan begitu,’ namun katakan, ‘Allah telah menetapkan takdirnya, dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki,’ karena kata ‘seandainya’ membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

Perhatikan bagaimana Nabi ṣallāhu ‘alaihi wa sallam memperingatkan, setelah beliau memotivasi kita untuk bertawakal kepada Allah, beliau mengingatkan juga apa yang seharusnya dilakukan setelah bertawakal kepada-Nya, ketika apa yang diharapkan tidak tercapai. Jangan Anda berkata, “Seandainya aku berbuat ini dan itu pasti aku akan begini dan begitu,” kemudian Anda murka dengan takdir Allah, karena hal ini bertentangan dengan makna tawakal kepada-Nya, Tapi hendaknya Anda berkata, “Allah telah menetapkan takdir-Nya, dan Dia berbuat apa yang Dia kehendaki.” Beginilah hati orang yang bertawakal, dia rida dengan Rabb-Nya yang Mahamulia dan Mahatinggi.

===============================================================================

حُسْنُ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ وَصِحَّةُ التَّوَكُّلِ عَلَيْهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يَرْضَى

بِمَا يُقَدِّرُهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

يَعْنِي الْآنَ أَنْتَ لَمَّا تَقَوْلُ: أَنَا تُوَكَّلْتُ عَلَى الله أَيشْ مَعْنَى هَذَا؟

أَنَّكَ أَنْتَ فَوَّضْتَ أَمْرَكَ إِلَى اللهِ

يَعْنِي جَعَلْتَ اللهَ وَكِيْلًا لَكَ فِي هَذَا الْأَمْرِ

يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ يُدَبِّرُ أَمْرَكَ هُوَ جَلَّ وَعَلَا

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِثْلُ مَا أَنَّكَ وَلِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

أَنْتَ مَا مَعْنَى الْوَكَالَةِ لَمَّا تُوَكِّلُ إِنْسَانًا

مَثَلًا أَنْ يَشْتَرِيَ لَكَ شَيْئًا حَاجَةً

تُعْطِيهِ الْمَبْلَغَ وَتَقُولُ لَهُ اشْتَرِ لِي هَذِهِ الْحَاجَةَ مَثَلًا هَذِهِ الْوَكَالَةُ

هَذَا جَائِزٌ طَبْعًا لِأَنَّ قَلْبَكَ مُعَلَّقٌ بِاللهِ هَذَا مُجَرَّدُ السَّبَبِ

طَيِّبٌ هَذَا الْإِنْسَانُ لَوْ أَنَّهُ نَفْرِضُ أَنَّهُ يَعْنِي مَا وُفِّقَ لِشِرَاءِ الْحَاجَةِ

اِشْتَرَى لَكَ حَاجَةً وَمَا أَعْجَبَتْكَ مَثَلًا

فَإِذَا تَضَجَّرْتَ وَسَخَطْتَ عَلَيْهِ

قُلْتَ: أَنْتَ مَا تَعْرِفُ الشَّيْءَ وَأَنْتَ كَذَا وَكَذَا

فَأَنْتَ كَأَنَّكَ مَا رَضِيْتَ بِوَكَالَتِهِ

لِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى مِنْ بَابِ التَّقْرِيبِ

إِنْسَانٌ يَقُولُ: تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ فَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَى اللهِ

طَيِّبٌ ثُمَّ يُقَدِّرُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْكَ مَا لَا يُلَائِمُكَ

مَا لَا تُرِيدُ أَنْتَ مَا لَا تُحِبُّهُ

فَإِنْ كُنْتَ صَادِقًا فِي تَوَكُّلِكَ لَرَضِيْتَ بِقَضَاءِ اللهِ وَقَدَرِهِ

وَلِذَلِكَ يَقُولُ: بِشْرٌ الْحَافِيّ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

يَقُولُ أَحَدُهُمْ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَهُوَ يَكْذِبُ عَلَى اللهِ

قَالَ لَوْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ لَرَضِيَ بِمَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

لَوْ تَوَكَّلَ عَلَى الله لَرَضِيَ بِمَا يَفْعَلُ اللهُ تَعَالَى بِهِ

فَحَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ الرِّضَا الرِّضَا بِاللهِ

هَذِهِ عَلَامَةُ صِحَّةِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

وَلِذَلِكَ تَأَمَّلْ! النَّبِيُّ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَالَ

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ

قَالَ: وَلَا تَعْجَزْ

ثُمَّ قَالَ: وَلَا تَقُلْ

قَالَ: وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ

لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا

وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

فَتَأَمَّلْ كَيْفَ نَبَّهَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

بَعْدَ أَنْ حَثَّنَا عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

نَبَّهَ عَلَى مَا يَكُونُ بَعْدَ التَّوَكُّلِ عَلَى اللهِ

فِي حَالَةِ عَدَمِ تَحَقُّقِ الْمَطْلُوبِ

لاَ تَقُلْ لَوْ فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا

وَسَخَطَ عَلَى قَدَرِ اللهِ لِأَنَّ هَذَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ

وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

هَذَا قَلْبُ الْمُتَوَكِّلِ مُطْمَئِنٌّ بِرَبِّهِ جَلَّ وَعَلَا

 

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat membantu pemuda—dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala— agar terbebas dari berbagai fitnah (maksiat) ini.

(PERTAMA: TAUHID & IKHLAS)
Perkara yang paling agung adalah tauhid dan ikhlas kepada Allah, ini yang paling agung. Tauhid adalah jalan keselamatan dari segala keburukan, dengan izin Allah. Ikhlas kepada Zat yang berhak disembah (Allah). “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Dan dalam bacaan lain, “Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” Orang-orang yang ikhlas adalah orang yang memurnikan agamanya untuk Allah. Mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Ikhlas dan tauhid adalah jalan keselamatan. Demikian juga iman kepada Allah dan keagungan-Nya, kepada pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu keimanan bahwa Allah Maha Melihat hamba-Nya. Ini semua jalan keselamatan.

(KEDUA: BERUSAHA KERAS MELAWAN HAWA NAFSU)
Melindungi diri dari maksiat dengan melawan hawa nafsu dan menahannya, serta menekannya untuk menghalanginya terjerumus ke dalam perbuatan dosa.

(KETIGA: BERDOA)
Berdoa dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(KEEMPAT: LARI MENJAUHI SUMBER PENYEBAB MAKSIAT)
Salah satu sebab penting lainnya adalah berlari menjauh dari tempat terjadinya fitnah (maksiat), Seseorang janganlah berada di sana dan menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat), namun ia harus lari menjauh darinya dan dari tempatnya. Saat istri al-Aziz menggoda Nabi Yusuf, apa yang terjadi pada beliau? Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Baru sekedar melihat ada fitnah (maksiat) dan semacamnya, Nabi Yusuf segera bergegas menuju pintu. Pergi berlari ke arah pintu agar dapat lari dari fitnah (maksiat). Istri al-Aziz mengejarnya dan mengoyak bajunya dari belakang, sedangkan Nabi Yusuf bergegas berpaling, melarikan diri dari fitnah (maksiat).

Ini salah satu sebab keselamatan, yaitu melarikan diri dari tempat sumber fitnah. Tidak menghadapkan diri kepada fitnah (maksiat) dan menetap di tempatnya! Namun melarikan diri darinya, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat menjerumuskan seorang hamba ke dalam fitnah (maksiat). Dengan perkara-perkara ini, dan adanya dorongan syahwat yang kuat, keimanan yang benar dan keikhlasan yang sempurna menghalanginya dari terjerumus ke dalam perbuatan zina yang terlarang. Juga terlindungi oleh doa dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, permohonan perlindungan kepada-Nya, melarikan diri dari fitnah (maksiat), dan sebab-sebab lainnya yang dapat kamu perhatikan dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam.

=========================================================================

الْأُمُورُ الْمُعِيْنَةُ لِلسَّلَامَةِ مِنَ الْفِتَنِ خَاصَّةً فِتْنَةُ الْفَاحِشَةِ

وَلِيْ فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ

لِي فِي هَذَا خُطْبَةُ الْجُمْعَةِ اِسْتَخْلَصْتُ مِنَ الْقِصَّةِ

أَظُنُّ سَبْعَةَ أُمُوْرٍ مُهِمَّةٌ جِدًّا تُعِيْنُ الشَّابَّ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

عَلَى الْخَلَاصِ مِنْ هَذِهِ الْفِتَنِ

وَأَعْظَمُ ذَلِكَ التَّوْحِيدُ الإِخْلاصُ لِلهِ أَعْظَمُ ذَلِكَ

التَّوْحِيدُ نَجَاةٌ مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِإِذْنِ اللهِ

الْإِخْلَاصُ لِلْمَعْبُودِ

كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلِصِيْنَ هَذِهِ الْقِرَاءَةُ

الْمُخْلِصِيْنَ الَّذِينَ أَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلهِ

وَحَّدُوا اللهَ أَفْرَدَ اللهَ بِالْعِبَادَةِ

فَالْإِخْلَاصُ وَالتَّوْحِيْدُ نَجَاةٌ

أَيْضًا الْإِيْمَانُ بِاللهِ وَعَظَمَةِ اللهِ

وَمُرَاقَبَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَأَنَّه مُطَّلِعٌ عَلَى الْعَبْدِ وَأَنَّه يَرَاهُ هَذَا نَجَاةٌ

لاِسْتِعْصَامٍ بِمُجَاهَدَةِ النَّفْسِ وَمَنْعِهَا

وَالتَّشْدِيدِ عَلَيْهَا فِي الْإِيْبَاءِ وَالِامْتِنَاعِ عَنْ مُوَاقَعَةِ الْأَمْرِ الْمُحَرَّمِ

الدُّعَاءُ اللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

مِنَ الْأَسْبَابِ الْمُهِمَّةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتْنَةِ

مَا يَبْقَى الْإِنْسَانُ مُسْتَشْرِفًا لَهُ بَلْ يَفِرُّ مِنْهَا وَمِنْ مَكَانِهَا

لَمَّا دَعَتْهُ امْرَأَةُ العَزيزِ مَاذَا حَصَلَ مِنْهُ

اِسْتَبَقَ الْبَابَ

مُجَرَّدُ مَا رَأَى الْمَسْأَلَةَ فِيهَا فِتْنَةٌ فِيهَا كَذَا اِسْتَبَقَ الْبَابَ

رَاحَ يَعْنِي يَعْدُو جِهَةَ الْبَابِ فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ

لَحِقَتْهُ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَهُوَ مُوَلِّيًا

فَارًّا مِنَ الْفِتْنَةِ

هَذَا مِنْ أَسْبَابِ النَّجَاةِ الْفِرَارُ مِنْ مَوْضِعِ الْفِتَنِ

مَا يَسْتَشْرِفُ لَهَا وَيَبْقَى فِي مَكَانِهَا

بَل يَفِرُّ مِنْهَا

وَيَبْتَعِدُ عَنِ الْأَسْبَابِ الَّتِي تُفْضِي بِالْعَبْدِ إِلَى الْفِتَنِ

فَمَعَ هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَع قُوَّةِ الشَّهْوَةِ

مَنَعَهُ الْإِيمَانُ الصَّادِقُ وَالْإِخْلَاصُ الْكَامِلُ

مِنْ مُوَاقَعَةِ الْمَحْذُورِ

مَنَعَه أَيْضًا الدُّعَاءُ وَاللُّجُوْءُ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الاِسْتِعْصَامُ

الْفِرَارُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَرَاهَا

فِي قِصَّتِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya.

Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri!

Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.”

Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

============================================

فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ

إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا

أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ

بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ

أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً

لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا

يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ

عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ

بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا

هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ

اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا

وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا

الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ

فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ

وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ

بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ

مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ

وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا

 

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.”

Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia.

Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

==========================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا

عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ

وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ

يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ

الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ

أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ

ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ

تَسْأَلُهُ

يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا

تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ

ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ

فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ

حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا

وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ

الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ

إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ

وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ

إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ

وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ

يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ

بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ

وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.”

“Empat perkara yang membahagiakan:

(1) istri yang salihah,

(2) tempat tinggal yang luas,

(3) tetangga yang baik, dan

(4) kendaraan yang nyaman.

Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan:

(1) tetangga yang buruk,

(2) istri yang tidak salihah,

(3) tempat tinggal yang sempit, dan

(4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban)

Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia.

(ISTRI SALIHAH)
Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia.

(TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG)
Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang,
yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya.

(TETANGGA YANG BAIK)
Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia.

(KENDARAAN YANG NYAMAN)
Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia.

===============================================================================

بَابُ السَّعَادَةِ

وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ

مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ

الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ

وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ

وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ

وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ

فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ

كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ

الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا

فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا

وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ

وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ

وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ

فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا

أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ

إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ

وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ

وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ

الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ

إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ

وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ

فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا