Sebagian saudara kita merasa bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang berat dan sulit. Baik itu secara keseluruhan, dalam arti ia merasa sangat berat untuk mengerjakan shalat, entah dia seorang penuntut ilmu maupun selainnya, atau orang yang baru masuk Islam. Maupun ia merasa berat dalam menjalankan sebagian kewajiban shalat maupun sunah-sunah muakadnya. Di antara kewajiban shalat—menurut pendapat banyak ulama—adalah melaksanakannya secara berjamaah. Ada orang yang merasa berat untuk shalat berjamaah, tapi ia tetap menunaikan shalat.
Maka kami katakan bahwa langkah pertama yang harus ditekankan oleh seseorang setelah memberikan perhatian pada shalat, adalah melatih dirinya melalui dua perkara.
Perkara pertama: Melaksanakan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya. Karena siapa yang melakukan ibadah wajib beserta sunah-sunahnya, maka saat ia sedang malas dan lesu, ia akan tetap mengerjakan ibadah wajib tersebut dan hanya meninggalkan amalan sunahnya saja. Ini sangat jelas, dan inilah makna ucapan Imam Ahmad: “Orang yang terbiasa meninggalkan sunah rawatib adalah orang yang buruk.” Karena di saat ia sedang lemah dan lesu, bisa jadi ia akan meninggalkan ibadah yang wajib.
Perkara kedua: Memberikan perhatian pada shalat-shalat yang paling ditekankan. Adapun di antara shalat lima waktu yang paling ditekankan adalah Shalat Ashar. Kemudian Shalat Subuh, lalu Shalat Isya. Siapa yang mampu menjaga ketiga shalat ini dengan baik, niscaya ia akan mampu menjaga shalat lainnya. Bahkan para ulama menegaskan bahwa siapa pun yang menjaga Shalat Ashar dengan baik, maka ia akan lebih mudah menjaga shalat-shalat yang lain.
Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Peliharalah semua shalat fardhu dan shalat yang pertengahan…” (QS. Al-Baqarah: 238). Makna “shalat yang pertengahan” adalah Shalat Ashar. Maka, menjaga Shalat Ashar sangat ditekankan, melebihi shalat-shalat lainnya. Dahulu tidaklah beberapa Nabi terhalang dari shalat, kecuali dari Shalat Ashar. Nabi Sulaiman pernah terhalang dari Shalat Ashar. Begitu pula Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terhalang dari Shalat Ashar saat perang Khandaq. Beliau baru bisa menunaikannya setelah waktunya berakhir.
Oleh karena itu, ketika Anda melihat seseorang yang merasa berat untuk menunaikan shalat, maka katakanlah kepadanya: “Biasakanlah dirimu untuk selalu menjaga Shalat Ashar.” Sebab ia adalah shalat yang pertengahan. Barang siapa yang mampu menjaga Shalat Ashar dan seluruh shalat lainnya—”Peliharalah semua shalatmu dan shalat yang pertengahan”—niscaya ia dapat konsisten menjalankan shalat lainnya setelah itu.
=====
وَبَعْضُ الْإِخْوَانِ يَعْنِي يَكُونُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ أَمْرُهَا ثَقِيلًا وَشَاقًّا إِمَّا بِالْكُلِّيَّةِ فَيَشُقُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ سَوَاءً مِنْ طَلَبَةِ الْعِلْمِ أَوْ مِنْ غَيْرِهِمْ أَوْ مِنْ حَديْثِ عَهْدِ بِالْإِسْلَامِ أَوْ يَشُقُّ عَلَيْهِ بَعْضُ وَاجِبَاتِهَا أَوْ مَنْدُوبَاتِهَا الْمُؤَكَّدَةِ فَمِنَ الْوَاجِبَاتِ فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَهُوَ الْجَمَاعَةُ فَبَعْضُ النَّاسِ قَدْ تَشُقُّ عَلَيْهِ الْجَمَاعَةُ وَلَكِنَّهُ يُصَلِّي
فَنَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يَلْزَمُ الْمَرْءَ بَعْدَ الْعِنَايَةِ بِالصَّلَاةِ أَنْ يُدَرِّبَ نَفْسَهُ عَلَيْهَا بِأَمْرَيْنِ الْأَمْرُ الْأَوَّلُ أَنْ يَأْتِيَ بِالشَّيْءِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَمَنْ أَتَى بِالْوَاجِبِ مَعَ مَنْدُوبَاتِهِ فَإِنَّهُ فِي حَالِ كَسَلِهِ وَضَعْفِهِ فَإِنَّهُ يَأْتِي بِهِ بَعْدَ ذَلِكَ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ وَيَتْرُكُ الْمَنْدُوبَ وَهَذَا وَاضِحٌ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِ أَحْمَدَ إِنَّ الَّذِي يَتْرُكُ السُّنَنَ الرَّوَاتِبَ رَجُلُ سُوءٍ لِأَنَّهُ فِي حَالِ ضَعْفِهِ وَفُتُورِهِ قَدْ يَتْرُكُ الْفَرَائِضَ
الْأَمْرُ الثَّانِي أَنْ يُعْنَى بِالصَّلَوَاتِ الْآكَدِ وَآكَدُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْعَصْرُ ثُمَّ الْفَجْرُ ثُمَّ الْعِشَاءُ فَهَذِهِ الصَّلَوَاتُ الثَّلَاثُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِي بَلْ قَدْ نَصَّ أَهْلُ الْعِلْمِ أَنَّ مَنْ حَافَظَ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى الْبَاقِيَاتِ
كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَالصَّلَاةُ الْوُسْطَى هِيَ صَلَاةُ الْعَصْرِ فَصَلَاةُ الْعَصْرِ الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا مُؤَكَّدٌ آكَدُ مِنْ غَيْرِهَا وَمَا شُغِلَ بَعْضُ الْأَنْبِيَاءِ إِلَّا عَنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ فَقَدْ شُغِلَ سُلَيْمَانُ عَنْهَا وَشُغِلَ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهَا فِي غَزْوَةِ الْخَنْدَقِ وَمَا صَلَّاهَا إِلَّا بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا
فَلِذَلِكَ إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا تَثْقُلُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ فَقُلْ لَهُ عَوِّدْ نَفْسَكَ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ هَذِهِ هِيَ وُسْطَى الصَّلَوَاتِ فَمَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ وَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى فَإِنَّهُ سَيُحَافِظُ عَلَى بَاقِي الصَّلَوَاتِ بَعْدَ ذَلِكَ