Senyum Bagian dari Akhlak Islam

Jarir bin Abdullah al-Bajali mengatakan,

ما رآني ﷺ إلا تبسم في وجهي  

“Tidaklah Rasulullah melihatku kecuali beliau tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini dikomentari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi sebagai berikut:

هذا ‎خُلق الإسلام .. وينبغي لمن كان عبوسا مُنقبضا أن يتبسّم ، ويُحسِّن خلُقه ، ويمقت نفسه على رداءة خلقه ، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب ..

“Inilah (baca: suka tersenyum) adalah akhlak Islam. Sepatutnya orang yang punya sifat bawaan cemberut dan tegang, sulit senyum untuk berlatih suka senyum, memperbagus akhlaknya dan membenci dirinya yang memiliki akhlak yang buruk. Sebuah keniscayaan melawan dan menghukum diri sendiri agar bisa menjadi orang yang mudah tersenyum.” (Siyar 10/141)

Syarat vital agar menjadi seorang yang berakhak mulia adalah berwajah ceria, berhias senyum manis yang tulus tanpa rekayasa. 

Orang yang suka menolong orang lain namun dengan wajah datar tanpa ekspresi akan dinilai gagal menjadi orang yang berakhak mulia. 

Jika senyum dengan orang lain itu bernilai pahala maka senyum di hadapan isteri, suami, ayah dan ibu jauh lebih berpahala. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.