Ummu Nauf bertanya: “Mengenai rasa lesu (futur) yang dialami seseorang dalam beribadah, bagaimana ia dapat mengetahui bahwa itu hal yang manusiawi, hukuman atas dosa, atau disebabkan mata jahat (ain) dan dengki?”
Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu diperuncing, tapi yang tepat adalah seseorang menanyakan bagaimana cara mengobati kelesuan dalam ibadah? Inilah pertanyaan yang bermanfaat baginya. Jawabannya, kelesuan ibadah ini dapat diatasi dengan empat langkah:
Pertama, dengan sepenuhnya menghadap kepada Allah Jalla wa ‘Ala, seraya memohon keteguhan tekad dan pertolongan-Nya. Sebagaimana pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, agar senantiasa berdoa di setiap akhir shalat: “Allaahumma a-‘innii ‘alaa syukrika wa dzikrika wa husni ‘ibaadatika” (Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa bersyukur, berzikir, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya). Inilah implementasi dari firman Allah Jalla wa ‘Ala: “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6).
Langkah kedua: Variasikanlah jenis ibadah yang Anda kerjakan. Apabila seseorang merasa lesu dalam satu jenis ibadah, cobalah untuk membuka pintu ibadah yang lainnya. Dengan begitu, ia dapat mengusir rasa bosan atau kelesuan yang tengah menghinggapi jiwa, dalam beramal saleh.
Langkah ketiga: Mengondisikan lingkungan yang mendukungnya untuk tetap taat. Hendaknya ia mencari teman-teman yang baik, yang dikenal konsisten menjalankan ketaatan, agar mereka dapat memacu kembali semangatnya dalam ketaatan.
Langkah keempat untuk mengobati kelesuan ibadah: Dengan memperbanyak zikir kepada Allah Jalla wa ‘Ala, termasuk merutinkan zikir pagi dan petang. Sebab, zikir itu dapat membentenginya dari berbagai keburukan dan gangguan setan yang terkutuk. Demikianlah cara yang tepat untuk mengobati kelesuan beribadah yang dirasakan seorang insan.
=====
أُمُّ نَوْفٍ تَقُولُ مَا يُصِيبُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْفُتُورِ فِي الْعِبَادَةِ كَيْفَ يَعْرِفُ أَنَّ هَذَا أَمْرٌ طَبِيعِيٌّ أَوْ أَنَّهُ عُقُوبَةٌ أَوْ أَنَّهُ عَيْنٌ وَحَسَدٌ
هَذَا السُّؤَالُ لَا دَاعِيَ لَهُ وَإِنَّمَا الْمُنَاسِبُ أَنْ يَسْأَلَ الْإِنْسَانُ عَنِ الْفُتُورِ كَيْفَ يُعَالِجُهُ وَهَذَا هُوَ الَّذِي يَسْتَفِيدُ مِنْهُ وَالْجَوَابُ عَنْ هَذَا أَنَّ الْفُتُورَ يُمْكِنُ مُعَالَجَتُهُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ
أَوَّلُهَا بِالتَّوَجُّهِ إِلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَسُؤَالِهِ الْعَزِيمَةَ وَالْإِعَانَةَ كَمَا أَرْشَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعَاذًا إِلَى أَنْ يَدْعُوَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَيَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِهِ جَلَّ وَعَلَا اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
وَالطَّرِيقَةُ الثَّانِيَةُ فِي انْتِقَاءِ أَنْوَاعِ الْعِبَادَاتِ فَإِذَا فَتَرَ الْإِنْسَانُ فِي عِبَادَةٍ فَتَحَ لِنَفْسِهِ بَابَ عِبَادَةٍ آخَرَ وَبِالتَّالِي يُبْعِدُ عَنْ نَفْسِهِ مَا قَدْ يُوجَدُ عِنْدَهَا مِنْ فُتُورٍ أَوْ مِلَالٍ لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ
وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنْ يُوجِدَ عِنْدَهُ بِيئَةً تُعِينُهُ عَلَى الطَّاعَةِ فَيَبْحَثُ عَنْ أَصْدِقَاءِ الْخَيْرِ الَّذِينَ يُعْرَفُ عَنْهُمْ فِعْلُ الطَّاعَاتِ لِيُنَشِّطُوهُ عَلَى الطَّاعَةِ
وَالْأَمْرُ الرَّابِعُ الَّذِي يُعَالِجُ بِهِ الْفُتُورَ أَنْ يُكْثِرَ الْإِنْسَانُ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا وَمِنَ الْأَوْرَادِ صَبَاحًا وَمَسَاءً فَإِنَّهَا تَطْرُدُ عَنْهُ الشُّرُورَ وَمِنْ هَؤُلَاءِ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ فَهَذَا طَرِيقَةٌ مُنَاسِبَةٌ لِمُعَالَجَةِ مَا قَدْ يَكُونُ عِنْدَ الْإِنْسَانِ مِنْ فُتُورٍ