Lima Cara Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil Setelah Shalat Fardhu – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Lima Cara Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil Setelah Shalat Fardhu – Syaikh Shalih al-Ushoimi

-ahsanallahu ilaikum-
Tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Pembacaan zikir-zikir ini memiliki 5 macam cara.

(1) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 10 kali.

(2) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar walaa ilaaha illallah.” Dibaca sebanyak 25 kali.

(3) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, tanpa menambahnya menjadi 100 kali.

(4) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan disempurnakan menjadi 100 dengan kalimat, “Allahu akbar.”

(5) “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan disempurnakan menjadi 100 dengan kalimat, “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu lahul mulku, walahul hamdu, wahuwa ‘ala kulli syai’in qodir.”

Itulah cara kelima dari zikir yang dibaca setelah shalat fardhu, Yang terdiri dari tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Zikir-zikir itu memiliki 5 cara pembacaan: Pertama,…

(PERTAMA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 10 kali. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan para penulis kitab as-Sunan, Dari riwayat Abdullah bin Amr -radhiyallahu ‘anhuma- Bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Terdapat dua hal, yang tidaklah dibaca oleh seorang muslim, melainkan ia akan masuk surga, dan dua hal ini cukup mudah…” Beliau menyebut salah satunya, yaitu mengucap zikir “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” sebanyak 10 kali.
“Yakni mengucap tasbih 10 kali, takbir 10 kali, dan tahmid 10 kali.” Sanad hadits ini shahih.

(KEDUA)
Membaca “Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 25 kali; dan ditambah bacaan tahlil (laa ilaaha illallah) 25 kali, sehingga menjadi 100 kali. Menjadi 100 kali.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan an-Nasa’i dari riwayat, Zaid bin Tsabit -radhiyallahu ‘anhu- bahwa seseorang dari kaum Anshar bermimpi dan dikatakan padanya dalam mimpi itu. “Bacalah dalam shalat kalian, ‘Subhanallah’ 25 kali, ‘Allahu akbar’ 25 kali, dan ‘Alhamdulillah’ 25 kali. Dan tambahlah dengan bacaan tahlil sebanyak 25 kali.”

Maka ia menceritakan mimpinya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, maka Nabi -shallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan mereka untuk mengamalkan apa yang disebutkan lelaki kaum Anshar itu. Sanad hadits ini shahih.

(KETIGA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, tanpa menambahnya menjadi 100 kali. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dalam hadits itu disebutkan perintah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada mereka untuk bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 33 kali. Dan tidak disebutkan penambahannya menjadi 100 kali.

(KEEMPAT)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan menyempurnakannya menjadi 100 dengan mengucapkan kalimat, “Allahu akbar.” Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim, dari riwayat Ka’ab bin ‘Ujrah. Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim dari riwayat Ka’ab bin ‘Ujrah. Disebutkan pula dalam hadits riwayat seorang kaum Anshar yang diriwayatkan an-Nasa’i. Dan yang kelima;

(KELIMA)
Membaca “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar.” Dibaca sebanyak 33 kali, dan menyempurnakannya menjadi 100 dengan mengucapkan kalimat, “laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku, walahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.” Hal ini disebutkan dalam Shahih Muslim dari riwayat. Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-

Itulah lima cara pembacaannya yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Diriwayatkan pula cara keenam, yaitu dengan membaca zikir ini sebanyak 11 kali. Namun riwayat ini mengandung kesalahan periwayatan oleh Suhail bin Abu Shalih, dalam riwayat dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Dan riwayat yang benar dalam hadits ini bukan menyebutkan 11 kali, namun yang disebutkan adalah 10 kali. Disyariatkan bagi seorang hamba untuk membaca zikir ini dengan salah satu cara tersebut. tidak dengan menggabungkannya

Baik itu dengan membacanya 10 kali, atau 25 kali, atau dengan jumlah-jumlah lainnya. Dan yang terbaik, membaca dengan cara-cara itu secara bergantian. Yaitu dengan mengamalkan cara ini dalam shalat ini, cara itu di shalat lain, dan cara lainnya di shalat lainnya. Atau dengan cara ini di hari ini, dan cara lain di hari lain, dan cara lain di hari lainnya. Ini lebih baik daripada menggabungkan sunnah-sunnah yang memiliki beragam cara. Dan ini pendapat yang dipilih Ibnu Taimiyah al-Hafid, dan Abu al-Faraj Ibnu Rajab dalam kitabnya al-Qawaid. Demikian. Dan disyariatkan ketika membaca tasbih ini, untuk menghitungnya dengan ‘aqdul ashabi’. Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa kalian tidak berzikir setelah shalat? Apa itu ‘aqdul ashabi’? Apa makna ‘al-‘Aqd’? Maknanya yaitu menggenggamkan jari ke telapak tangan. Itulah makna ‘al-‘Aqd’. Menggenggamkan jari ke telapak tangan, disebut dengan ‘al-‘Aqd’. Adapun meletakkan ujung jari ke telapak tangan, bukanlah ‘al-‘Aqd’. Sambil mengucap, “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” (3x) Ini boleh dilakukan. Namun sunnahnya adalah dengan al-‘Aqd, yakni menggenggamkan jari-jari ke telapak tangan.Sambil mengucapkan, “Subhanallah walhamdulillah wallahu akbar” (3x) Inilah yang dinamakan dengan al-‘Aqd. Demikian.

================================================================================

أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْكُمْ

التَّسْبِيحُ وَالتَّحْمِيدُ وَالتَّكْبِيرُ وَالتَّهْلِيلُ وَلَهُ خَمْسُ صِفَاتٍ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

يَقُولُهُ عَشْرَ مَرَّاتٍ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

يَقُولُه خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

يَقُولُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً بِلَا تَمَامٍ لِلْمِئَةِ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

يَقُولُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً

وَيَقُولُ تَمَامَ الْمِئَةِ اللهُ أَكْبَرُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

يَقُولُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً

وَيَقُولُ تَمَامَ الْمِئَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْخَامِسُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ

دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ

وَهُوَ التَّسْبِيحَاتُ وَالتَّحْمِيدَاتُ وَالتَّكْبِيرَاتُ وَالتَّهْلِيْلَاتُ

وَلَهَا خَمْسُ صِيَغٍ الأُولَى

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

عَشَر مَرَّاتٍ لِمَا رَوَاهُ أَصْحَابُ السُّنَنِ

مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيْهِمَا

رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

وَهُمَا يَسِيْرٌ

ثُمَّ ذَكَرَ

قَوْلَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

عَشْرَ مَرَّاتٍ

بِأَنْ يُسَبِّحَ عَشْرًا وَيُكَبِّرَ عَشْرًا وَيَحْمَدَ عَشْرًا

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

وَالثَّانِيَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَعَ زِيَادَةِ

التَّهْلِيْلِ فَتَتِمُّ مِائَةً

فَتَتِمُّ مِائَةً

لِمَا رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ

زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا مِنَ الْأَنْصَارِ

رَأَى رُؤْيَا وَفِيهَا

اِجْعَلُوا فِي صَلَاتِكُمْ

سُبْحَانَ اللهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ

وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ

وَزِيْدُوا التَّكْبِيْرَ وَزِيْدُوا التَّهْلِيلَ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ

فَقَصَّهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنْ يَفْعَلُوا كَمَا ذَكَرَ الْأَنْصَارِيُّ

وَإِسْنَادُهُ صَحِيحٌ

وَالثَّالِثَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ بِلَا تَمَامٍ لِلْمِئَةِ

وَجَاءَ هَذَا فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

فِي الصَّحِيحَيْنِ

وَفِيهِ أَمْرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ

أَنْ يُسَبِّحُوا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَيَحْمَدُوْا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَيُكَبِّرُوْا ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ

وَلَمْ يَذْكُرْ تَمَامًا لِلْمِئَةِ

وَالرَّابِعَةُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ

وَيَقُولُ تَمَامَ الْمِئَةِ اللهُ أَكْبَرُ

وَثَبَتَ هَذَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ

مِنْ حَدِيثِ كَعْبِ ابْنِ عُجْرَةَ

وَثَبَت هَذَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ كَعْبِ ابْنِ عُجْرَةَ

وَجَاءَ أَيْضًا فِي حَدِيثِ الْأَنْصَارِيِّ عِنْدَ النَّسَائِيّ

وَالْخَامِسَةُ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ

وَيَقُولُ تَمَامَ الْمِئَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ

وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

جَاءَ هَذَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ

أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

هَذِهِ هِيَ الصِّيَغُ الْخَمْسُ

الثَابِتَةُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَرُوِيَتْ صِيْغَةٌ سَادِسَةٌ وَهِيَ

قَوْلُهُنَّ أَحَدَ عَشَرَ مَرَّةً

وَهِيَ رِوَايَةٌ خَطَأٌ أَخْطَأَ فِيهَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ

فِي رِوَايَةِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

فَالْمَحْفُوْظُ فِي حَدِيثِهِ دُونَ ذِكْرِ الْأَحَدَ عَشَرَ

وَإِنَّمَا ذِكْرُ الْعَشْرِ

وَالْمَشْرُوْعُ أَنْ يَأْتِيَ الْعَبْدُ

بِوَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الصِّيَغِ

وَلَا يَجْمَعَ بَيْنَهَا

فَإِمَّا أَنْ يَقُولَ عَشْرًا وَإِمَّا أَنْ يَقُولَ خَمْسَةَ وَعِشْرِينَ أَوْ إِلَى آخِرِ هَذِهِ الْأَعْدَادِ

وَالْأَفْضَلُ أَنْ يُنَوِّعَ بَيْنَهَا

فَيَأْتِي بِهَذَا فِي الصَّلَاةِ وَهَذَا فِي الصَّلَاةِ وَهَذَا فِي الصَّلَاةِ

أَوْ يَأْتِي بِهَذَا فِي يَوْمٍ وَذَاكَ فِي يَوْمٍ وَالثَّالِثُ فِي يَوْمٍ

فَهَذَا أَحْسَنُ مَا يَكُونُ مِنَ الْجَمْعِ بَيْنَ السُّنَنِ الْمُتَنَوِّعَةِ

وَهُوَ اخْتِيَارُ ابْنِ تَيْمِيَّةَ الْحَفِيدِ

وَأَبِي الْفَرَجِ ابْنِ رَجَبٍ فِي قَوَاعِدِهِ نَعَمْ

الْمَشْرُوعُ إِذَا جَاءَ بِهَذِه التَّسْبِيحَاتِ

أَنْ يَعْقِدَ الْأَصَابِعَ مَعَهَا

وَعَقْدُ الْأَصَابِعِ هُوَ أَيْشْ ؟

مَا هُوَ عَقْدُ الْأَصَابِعِ ؟

مَا تَذْكُرُونَ اللهَ أَنْتُمْ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ أَيْشْ عَقْدُ الْأَصَابِعِ ؟

أَيْشْ مَعْنَى الْعَقْدِ ؟

رَدُّهَا إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ

هَذَا الْعَقْدُ

رَدُّهَا إلَى بَاطِنِ الْكَفِّ. هَذَا يُسَمَّى عَقْدًا

فَأَمَّا وَضْعُ إِصْبَعٍ عَلَيْهَا هَذَا مَا يُسَمَّى عَقْدًا

يَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

هَذَا جَائِزٌ

لَكِنَّ السُّنَّةَ الْعَقْدُ

يَعْنِي أَنْ تَضُمَّ الْإِصْبَعَ إِلَى بَاطِنِ الْكَفِّ

تَقُولُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَاللهُ أَكْبَرُ

هَذَا يَقَعُ بِهِ الْعَقْدُ

نَعَم

 

Dzikir Pagi Petang Apakah Harus Dibaca Semua? Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Dzikir Pagi Petang Apakah Harus Dibaca Semua? Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Masih ada permasalahan lain, yaitu zikir-zikir yang di baca di waktu pagi dan petang ini (Zikir Pagi dan Petang), apakah disyariatkan bagi seorang hamba untuk membaca satu zikir saja dalam sehari, kemudian membaca zikir lain di hari yang lain, dan membaca zikir lainnya lagi di hari berikutnya? Ataukah disyariatkan baginya untuk membaca seluruh Zikir Pagi di pagi hari dan membaca seluruh Zikir Petang di sore hari? Apa jawabannya? Ya, apa? Membaca semuanya? Dia menjawab, seluruh Zikir Pagi dibaca semuanya dan tidak hanya membaca beberapa saja. Ya? Yakni membaca zikir-zikir itu semuanya. Baik, apa yang menjadi dalilnya? Atau apa kaidah yang menjadi landasannya?

Semuanya diajarkan oleh para sahabat. Namun apakah ada satu sahabat yang mengajarkan semuanya? Apa dalil atau kaidah yang menjadi landasannya? Memungkinkan. Benar! Kaidah dalam perkara ini adalah Tempat pembacaannya memungkinkan kita untuk membaca semua zikir. Nash yang ada dalam syariat, jika tempatnya memungkinkan kita untuk mengerjakan semua, maka dikerjakan semua. Namun jika tempatnya tidak memungkinkan, maka cukup dikerjakan salah satunya. Sebagai contoh, bacaan doa istiftah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- banyak sekali. Akan tetapi, berapa doa yang harus dibaca orang yang shalat? Satu saja. Mengapa? Wahai Ibrahim. Karena tidak memungkinkan. Baik, dari mana kita dapat mengatakan tempatnya tidak memungkinkan? Sebenarnya sama, yang ini satu orang hanya menyebutkan satu doa. Dan orang lainnya juga menyebutkan satu doa Karena Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-

Ketika bertanya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- “Wahai Rasulullah, setelah bertakbir, engkau DIAM SEJENAK, apa yang engkau baca ketika itu?” Maka beliau mengajarkannya SATU DOA. Maka diketahui waktu DIAM SEJENAK itu hanya untuk membaca SATU DOA ISTIFTAH saja. Inilah dalil bahwa tempat membaca doa itu hanya untuk satu doa. Namun jika tempat membaca itu memungkinkan untuk lebih dari satu doa, seperti tasbih-tasbih yang dibaca saat ruku’, atau doa-doa yang dibaca saat sujud. Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Saat ruku’ agungkanlah Rabb kalian. Sedangkan saat sujud, maka perbanyaklah doa, karena doa di saat itu pantas dikabulkan.” Sehingga seluruh riwayat zikir dan doa dalam sujud dapat dibaca, karena tempat pembacaannya memungkinkan untuk itu. Demikian pula dengan Zikir Pagi dan Zikir Petang, tempat pembacaannya memungkinkan untuk itu, maka zikir-zikir itu dapat dibaca semuanya.

================================================================================

بَقِيَتْ مَسْأَلَةٌ أُخْرَى وَهِيَ

هَذِهِ الْأَذْكَارُ الَّتِي تَكُونُ فِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

هَلِ الْمَشْرُوعُ لِلْعَبْدِ

أَنْ يَأْتِيَ بِذِكْرٍ فِي يَوْمٍ

ثُمَّ ذِكْرٍ آخَرَ فِي يَوْمٍ

ثُمَّ ذِكْرٍ فِي ثَالِثٍ فِي يَوْمٍ؟

أَو يُشْرَعُ لَهُ

أَنْ يَجْمَعَ جَمِيعَ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ فَيَقُوْلُهَا فِي الصَّبَاحِ

وَجَمِيعَ الْمَسَاءِ فَيَقُوْلُها فِي الْمَسَاءِ

مَا الْجَوَابُ؟

نَعَمْ. هَا؟

يَجْمَعُهَا كُلَّهَا

يَقُولُ جَمِيعَ مَا وَرَدَ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ يَقُولُهُ

وَلَا يَقْتَصِرُ عَلَى بَعْضِهَا

هَا ؟

يَقُولُهَا جَمِيْعًا يَجْمَعُهَا يَعْنِي

طَيِّبٌ . مَا الدَّلِيلُ عَلَى هَذَا؟

أَوْ مَا الْقَاعِدَةُ الَّتِي تُبْنَى عَلَيْهَا؟

هِيَ كُلُّهَا مِنْ تَعْلِيمِ الصَّحَابَةِ

لَكِنْ هَلْ عَلَّمَهَا كُلَّهَا الْوَاحِدُ؟

مَا الدَّلِيلُ مَا الْقَاعِدَةُ الَّتِي يُبْنَى عَلَيْهَا

يَقْبَلُ أَحْسَنْتَ

قَاعِدَةُ الْمَسْأَلَةِ

أَنَّ الْمَحَلَّ يَقْبَلُ جَمْعَهَا جَمِيْعًا

فَالْوَارِدُ فِي خِطَابِ الشَّرْعِ

إذَا كَانَ الْمَحَلُّ يَقْبَلُهُ جَمِيْعًا

قِيْلَ

وَإِذَا كَانَ الْمَحَلُّ لَا يَقْبَلُهُ

اُقْتُصِرَ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهَا

فَمَثَلًا أَنْوَاعُ الِاسْتِفْتَاحِ

الْوَارِدَةُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرَةٌ

لَكِنْ كَمْ يَقُولُ الْمُصَلِّي مِنْهَا ؟

وَاحِدٌ لِمَاذَا ؟

يَا إبْرَاهِيمُ

الْمَحَلُّ لَا يَقْبَلُ

طَيِّبٌ مِنْ أَيْنَ هَذَا الْمَحَلُّ لَا يَقْبَلُ ؟

نَفْسُ الشَّيْءِ هُنَا ذَكَرَ فِي الدُّعَاءِ هَذَا وَاحِدٌ

وَعِنْدَ وَاحِدٍ ثَانِي وَاحِدٌ

لِأَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

لَمَّا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ إذَا كَبَّرْتَ سَكَتَّ هُنَيْهَةً

فَمَاذَا تَقُولُ ؟

فَقَال وَعَلَّمَهُ وَاحِدًا

فَعُلِمَ أَنَّ هَذِهِ السَّكْتَةَ

تَصْلُحُ لِاسْتِفْتَاحٍ وَاحِدٍ

فَهَذَا الدَّلِيلُ قَامَ عَلَى أَنَّ الْمَحَلَّ لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا وَاحِدًا

وَأَمَّا إِذَا كَانَ الْمَحَلُّ قَابِلًا لِلزِّيَادَةِ

مِثْلُ التَّسْبِيحَاتِ الْوَارِدَةِ فِي الرُّكُوعِ

أَوْ الْأَدْعِيَةِ الْوَارِدَةِ فِي السُّجُودِ

النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ

وَأَمَّا السُّجُودُ فَأَكْثِرُوا فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ

فَإِنَّهُ قَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

فَجَمِيعُ مَا وَرَدَ مِنَ الْأَذْكَارِ الْأَدْعِيَةِ فِي السُّجُودِ تُقَالُ

لِأَنَّ الْمَحَلَّ قَابِلٌ لِذَلِكَ

وَمِثْلُهُ كَذَلِك أَذْكَارُ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

فَإِنَّ الْمَحَلَّ قَابِلٌ لِذَلِك

فَيَأْتِي بِهَا جَمِيْعًا

 

 

Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Dan terakhir adalah tahap ketiga, yaitu tahap setelah belajar. Jika seorang murid selesai belajar dan sebelum datang jadwal belajar selanjutnya, baik itu harian, mingguan, atau lainnya, maka hendaklah ia memperhatikan dua perkara…Hendaklah ia memperhatikan dua perkara… Pertama: Berusaha menghafal ilmu. …

Baca selengkapnya…Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Baik, andai ada yang mengucapkan zikir, “…dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepadaku meski hanya sekejap mata ATAU LEBIH SINGKAT DARI ITU.” (Ada yang menjawab)
“Tidak shahih dalilnya.” (Ada yang menjawab)
“Bahkan tidak ada dalilnya.”
Namun seandainya ada yang mengucapkannya. Andai ada yang menambah zikir dengan, “… atau lebih singkat dari itu.”

Apa?
Mengapa?
Apa?

(Ada yang menjawab)
“Terlalu memaksakan…”
(Ada yang menjawab)
“Seandainya itu baik, pasti diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
Apa?
(Ada yang menjawab)
“Yakni harus sesuai tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
Biarkan kita tetapkan kaidah umumnya terlebih dahulu.
Apakah dibolehkan menambah lafazh zikir atau tidak?

Agar kita dapat menjawab ini. Kembali pada kaidah lebih penting daripada terombang-ambing dalam perkara turunannya.Oleh sebab itu, ilmu yang terbangun di atas kaidah-kaidah, akan menjauhkan orang yang membahasnya dari kesalahan. Adapun yang hanya mencermati perkara turunannya saja, ilmunya ada kecacatan. Terkadang yang ia katakan menyelisihi perkataannya di masalah lain. Sebab kaidah yang ia miliki tidak tertata.

Jadi, apa jawaban dari permasalahan kita ini?
Apa?

(Ada yang menjawab)
“Jika zikir itu lafazhnya dimaksudkan sebagai ibadah, maka boleh namun jika lafazhnya tidak dimaksudkan sebagai ibadah, maka tidak boleh…”
Bukan.
Apa?
(Ada yang menjawab)
“Yakni tidak boleh ada tambahan lafazh…”
Baiklah.
Kita atau para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lebih banyak ilmunya?
Apa jawabannya?
Kamu, apa jawabannya?!
Kita atau para sahabat yang lebih banyak ilmunya?
Para sahabat.

Dalam ash-Shahih, Ibnu Umar ketika menyebutkan doa talbiyah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ia berkata, “Dan aku menambah lafazhnya ‘Labbaika wa sa’daika…’” dan seterusnya.
Ia berkata, “Aku menambahnya.” Penambahan lafazh zikir telah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Jadi jawabannya, penambahan lafazh zikir dibolehkan.
Penambahan lafazh zikir dibolehkan…

DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi.
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ibadah shalat)
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi).
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti ibadah shalat)
Seperti bacaan dalam shalat.
(Jadi bacaan shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, TIDAK BOLEH DITAMBAH)

Pada dasarnya, bacaan shalat terikat dengan tuntunan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Adapun doa yang bersifat umum, seseorang dapat menambah lafazhnya sesuai yang ia kehendaki seseorang dapat menambahnya sesuai yang ia kehendaki…

Contoh doa yang umum seperti ucapan,…
“Subhanallah wa bihamdihi” yang dibaca di siang dan malam hari.
Baik, seandainya seseorang mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi wa atubu ilaihi” maka tambahan itu tidak terlarang. Penambahan itu tidak dilarang.

Namun zikir yang terikat dengan pembacaan pada ibadah tertentu maka pendapat yang lebih kuat, tetap harus diamalkan sesuai lafazh yang ada. Tapi penambahan lafazh itu dibolehkan (jika sesuai dengan syarat di atas), dan tidak diharuskan. Yakni bukan perkara yang dianjurkan, terlebih lagi diwajibkan. Ia boleh dilakukan, namun tidak diharuskan.
Adapun penambahan lafazh yang kita bahas di awal, tidak diperbolehkan…
Mengapa?
Karena itu adalah tambahan yang tidak benar dari sisi maknanya. seperti ucapan saudara kita tadi. Yakni jika seseorang mengucapkan, “…meski hanya sekejap mata, atau lebih singkat dari itu.” Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”
Karena yang paling singkat adalah kejapan mata. Sehingga yang lebih singkat dari itu, masuk dalam cakupan kata ‘sekejap mata’
Tidak ada yang lebih singkat dari batas yang disebutkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Demikian.

===============================================================================

طَيِّبٌ لَوْ قَالَ قَائِلٌ

وَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

لَمْ تَثْبُتْ؟

لَمْ تَرِدْ أَصْلًا

لَكِنَّ الْكَلَامَ لَوْ قَالَهَا

لَوْ أَنَّهُ فِي الذِّكْرِ قَالَ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

هَا؟

لِمَاذَا؟

أَيْش؟

التَّكَلُّفُ

لَوْ كَانَ فِيهَا خَيْرٌ لَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

هَا ؟

يَعْنِي بِمَعْنَى التَّوْقِيفِيَّة

دَعَوْنَا نُقَرِّرُ أَصْلًا عَامًّا

هَلْ تَجُوزُ الزِّيَادَةُ فِي أَذْكَارِ الْأَلْفَاظِ أَمْ لَا تَجُوزُ ؟

حَتَّى نُجِيْبَ

الرُّجُوعُ إلَى الْأُصُولِ أَهَمُّ مِنَ التَّفَارِيْقِ وَالفُصُولِ

وَلِذَلِك الْعِلْمُ الْمَبْنِيُّ عَلَى قَوَاعِدَ وَأُصُولٍ

يَحْمِي الْمُتَكَلِّمَ فِيهِ مِنَ الْغَلَطِ

أَمَّا الَّذِي يَنْظُرُ إلَى أَفْرَادِ الْمَسَائِلِ يَخْتَلُّ عِلْمُهُ

فَتَارَةً يَقُولُ كَلِمَةً يُنَاقِضُهَا فِي مَوْضِعٍ آخَرَ

لِأَنَّ الْأُصُولَ عِنْدَهُ لَمْ تَنْضَبِطْ

فَلِذَلِكَ مَا الْجَوَابُ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ

أَيْش ؟

يَقُولُ إذَا كَانَ مُتَعَبَّدٌ بِاللَّفْظِ فَيَجُوزُ

لَكِنَّ غَيْرَ مُتَعَبَّدٍ بِاللَّفْظِ فَلَا يَجُوزُ

يَعْنِي

أَيْش ؟

يَعْنِي مَا تَجُوزُ زِيَادَةٌ

طَيِّبٌ

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟

مَا الْجَوَابُ ؟

أَنْتَ مَا الْجَوَابُ ؟

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمِ الصَّحَابَةُ

الصَّحَابَةُ

فَابْنُ عُمَرَ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا ذَكَرَ تَلْبِيَةَ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ وَزِدْتُ أَنَا

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ . إلَى آخِرِ مَا ذَكَرَ

قَال زِدْتُ أَنَا

وَصَحَّتِ الزِّيَادَةُ فِي الْأَذْكَارِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ

الْجَوَابُ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ

الزِّيَادَةُ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ

بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ

أَنْ لَا يَكُونُ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ

كَالصَّلَاةِ

فَالصَّلَاةُ الْأَصْلُ أَنَّ أَلْفَاظَهَا مُقَيَّدَةٌ بِمَا وَرَدَ

أَمَّا الدُّعَاءُ الْعَامُّ

فَهَذَا لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ

لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ

فَمَثَلًا مِنَ الدُّعَاءِ الْعَامِّ مَثَلًا

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

طَيِّبٌ لَو إِنْسَانٌ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

كَانَ ذَلِكَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ

كَانَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ

لَكِنْ الْمُقَيَّدُ بِمَحَلٍّ

فَهَذَا الْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَبْقَى عَلَى تَقْيِيدِهِ

لَكِنَّ الزِّيَادَةَ تَكُونُ حِيْنَئِذٍ جَائِزَةٌ

وَلَيْسَتْ مَطْلُوبَةً

يَعْنِي لَيْسَتْ مُسْتَحَبَّةً فَضْلاً عَنْ أَنْ تَكُونَ وَاجِبَةً

فَيَجُوز لَكِنَّ

لَكِنَّهَا غَيْرُ مَطْلُوبَةٍ

وَأَمَّا فِي هَذَا الْمَحَلِّ فَلَا

لِمَاذَا ؟

لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ مَعْنىً

كَمَا قَالَ الْأَخُ

أَنَّ إِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ

طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ

فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ هُوَ طَرَفةُ الْعَيْنِ

فَمَا هُوَ أَقَلُّ مُنْدَرِجٌ فِي قَوْلِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ

فَلَا أَقَلَّ مِنَ الْحَدِّ الَّذِي انْتَهَى إلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

نَعَم

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

Allah -subhanah- memerintahkan dalam al-Qur’an al-Karim para wanita untuk menutup aurat dan menetap di rumah dan melarang wanita mengumbar aurat serta mendayu-dayu saat berbicara dengan lelaki.

Dengan tujuan menghindarkan wanita dari kerusakan, dan tidak menjadi sebab fitnah.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa; maka jangan kalian tunduk dalam berbicara sehingga mengundang nafsu orang yang hatinya berpenyakit.

Dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian mengumbar aurat seperti orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Penulis -rahimahullahu Ta’ala- memulainya dengan menyebutkan dalil haramnya mengumbar aurat dan besarnya bahayanya.

Beliau menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain…”
Ayat dari surat al-Ahzab. Banyak orang yang menganggap bahwa ayat ini hanya khusus ditujukan bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak dapat diterapkan sebagai hukum yang umum bagi seluruh istri kaum mukmin. Dan anggapan ini terbantahkan, melalui empat bantahan.

BANTAHAN PERTAMA:
Kandungan dari keseluruhan ayat ini…
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”
Perintah-perintah ini merupakan hukum-hukum yang umum tidak hanya berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini menunjukkan bahwa perintah dalam ayat ini dan juga larangannya, berlaku bagi seluruh kaum wanita.
Adapun para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan secara khusus, sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka, sebab mereka wanita yang paling utama untuk mendapat hal-hal yang sempurna itu.

Ini sama seperti perintah Allah -‘Azza wa Jalla- kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melalui firman-Nya: “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah.” Atau firman-Nya, “Bersabarlah seperti kesabaran para rasul ulul azmi,” yang disebutkan dalam ayat lain.

Penyebutan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada perintah itu, untuk memuliakan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

BANTAHAN KEDUA:
Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan sebab larangan itu dengan berfirman, “Sehingga timbul nafsu pada orang yang ada penyakit dalam hatinya.”
Dan sebab ini tidak hanya terjadi terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Namun sebab ini dapat terjadi pada setiap perbincangan yang terjadi antara lelaki dan wanita.
Dan salah satu kaidah ushul fiqih disebutkan: “Keumuman sebab mengharuskan keumuman hukumnya bagi semua orang.”
Sebagaimana dikhawatirkan timbulnya nafsu dari orang yang ada penyakit dalam hatinya terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kekhawatiran ini juga dapat timbul terhadap wanita selain istri beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

BANTAHAN KETIGA:
Penyebutan perintah kepada para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal mereka begitu menjaga kehormatan dan kesucian, menunjukkan bahwa wanita selain mereka juga masuk bersama mereka dalam perintah ini. Sebab wanita lain tidak setara dengan para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam tingkat kesucian dan kehormatan, serta keselamatan dari sebab kesesatan dan perbuatan hina.

BANTAHAN KEEMPAT:
Bahwa perintah dan larangan ini jika diturunkan pada abad pertama, di zaman para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal ketakwaan mereka begitu tinggi dan keadaan mereka begitu sempurna, maka penerapan hukum ini terhadap umat di zaman setelahnya lebih layak dan lebih utama.

Demikian.

================================================================================

وَقَدْ أَمَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ

بِتَحَجُّبِ النِّسَاءِ وَلُزُوْمِهِنَّ الْبُيُوتَ

وَحَذَّرَ مِنَ التَّبَرُّجِ وَالْخُضُوعِ بِالْقَوْلِ لِلرِّجَالِ

صِيَانَةً لَهُنَّ عَنِ الْفَسَادِ وَتَحْذِيْرًا لَهُنَّ مِنْ أَسْبَابِ الْفِتْنَةِ

وَقَالَ تَعَالَى يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ

لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ الْأُولَى

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ . الْآيَةَ

بَدَأَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

فِي ذِكْرِ الْأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى حُرْمَةِ التَّبَرُّجِ

وَعَظِيْمِ خَطَرِهِ

فَأَوْرَدَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ

الْآيَةَ مِنْ سُورَةِ الْأَحْزَابِ

وَهَذِهِ الْآيَةُ تَوَهَّمَ مُتَوَهِّمُوْنَ

أَنَّهَا مُخْتَصَّةٌ بِأَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَلَا تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ حُكْمًا عَامًّا

لِنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ

وَهَذَا الَّذِي تَوَهَّمُوْهُ مَرْدُوْدٌ

مِنْ أَرْبَعَةِ وُجُوهٍ

فَالْوَجْهُ الْأَوَّلُ تَمَامُ الْآيَةِ

إِذْ فِيهِ قَوْلُهُ تَعَالَى

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ

فَإِنَّ هَذِهِ الْأَوَامِرَ أَحْكَامٌ عَامَّةٌ

لَا تَخْتَصُّ بِنِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْمَأْمُورَ بِهِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ

وَالْمَنْهِيَّ عَنْهُ شَامِلٌ لِجَمِيْعِ النِّسَاءِ

وَإِنَّمَا خُصَّ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِطَابِ

تَعْظِيْمًا لَهُنَّ

إِذْ هُنَّ أَوْلَى النِّسَاءِ

بِإِحْرَازِ هَؤُلَاءِ الْكَمَالَاتِ

كَأَمْرِهِ عَزَّ وَجَلَّ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ

أَوْ قَوْلِهِ فَاصْبِرْ

كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فِي آيٍ أُخَرَ

فَإِنَّ مُبَاشَرَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ

لِإِرَادَةِ تَعْظِيْمِهِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ

ثَانِيهَا

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ عِلَّةَ ذَلِكَ

بِقَوْلِهِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

وَهَذِهِ الْعِلَّةُ لَا يَقْتَصِرُ وُجُودُهَا

عَلَى جَنَابِ حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

بَلْ هِيَ عِلَّةٌ مَوْجُوْدَةٌ

فِي سَائِرِ مَا يَجْرِي مِنَ الْخِطَابِ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

وَمِنْ قَوَاعِدِ الْأُصُولِ

أَنَّ عُمُومَ الْعِلَّةِ

يُوجِبُ تَعْمِيْمَهَا فِي الْأَفْرَادِ

فَكَمَا يُخْشَى مِنْ طَمَعِ

مَنْ فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ فِي حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَإِنَّهُ يُخْشَى مِنْهُ فِي الطَّمَعِ بِحُرَمِ غَيْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَثَالِثُهَا

أَنَّ تَوْجِيهَ الْخِطَابِ بِمَا ذُكِرَ إِلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَعَ عِفَّتِهِنَّ وَطَهَارَتِهِنَّ

دَالٌّ عَلَى أَنَّ غَيْرَهُنَّ مِنَ النِّسَاءِ

مُلْحَقٌ بِهِنَّ

فَإِنَّ النِّسَاءَ لَا يَبْلُغْنَ مَبْلَغَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مِنْ مَرَاتِبِ الطَّهَارَةِ وَالْعَفَافِ

وَالْبُعْدِ عَنْ أَسْبَابِ الْغَوَايَةِ وَالرَّدْءِ

وَرَابِعُهَا

أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ

إِذَا كَانَ وَاقِعًا فِي زَمَنِ الْقَرْنِ الْأَوَّلِ

مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَعَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى

وَكَمَالِ الْأَحْوَالِ

فَجَرَيَانُهُ فِي قُرُونِ الْأُمَّةِ الْأُخْرَى

أَحْرَى وَأَوْلَى

نَعَمْ

 

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama Dulu ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menjelang ajalnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, kemudian berkata kepadanya, “Wahai pemuda, katakanlah: “Laa ilaaha illallaah (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah!)” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata …

Baca selengkapnya…Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama