Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, ….

PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.

KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. …

KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. …

KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.”
(HR. Tirmizi)

Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama.

Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.”

Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk.

Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama.

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i)

Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan.

Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat.

Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula.

Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya.

Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya.

===============================================================================

بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ

عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا

وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ

بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ

يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ
رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ

مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ

ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ

وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya.
Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini.

Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita.
Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh.

Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya.

Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali.

Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-.

Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut.

===============================================================================

إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة

وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا

وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا

وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ

قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ

يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ
Saudari kita ini bertanya:

طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ
Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an,

وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا
bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya,

وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا
sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an,

فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ
hanya fokus menghafal al-Qur’an saja.

هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟
Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum?

مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟
Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini?

الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ
Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu

مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ
yang berkaitan dengan ilmu,

لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ
tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman.

فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ
Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)…

يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ
menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali…

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ
Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya.

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ
Lalu berpindah lagi ke metode lainnya.

فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ
Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar,

فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ
Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya…

وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ
Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki,

هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟
“Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?”

فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا
beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa.

فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ
Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!”

أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ
Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,…

فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ
lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an…

إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ
Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah

وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ
dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna.

فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ
Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah)

وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ
Serta ilmu lainnya di samping semua itu.

وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ
Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan

فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ
yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’.

خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ
Bukan seperti perkataan orang bahwa,..

لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ
“Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.”

فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ
Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya

لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ
Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi;

فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ
Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an

أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا
Namun jika telah dewasa,…

فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ
maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya.

فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ
Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam,

مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ
sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya,

وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ
serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya.

فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ
Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu.

فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ
Karena ilmu adalah lautan luas.

لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ
Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya.

وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ
Barangsiapa yang bersabar dan berjuang

فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ
niscaya akan meraih banyak kebaikan.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ
Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ
menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik

بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال
yaitu yang berjalan dengan terburu-buru.

أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ
Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.”

وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ
Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,..

أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ
dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا
Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk.

وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي
Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus,

فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى
karena ini merupakan derajat yang tertinggi.

وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu),

كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ
mereka memiliki banyak aspek pendukung;

مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ
seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa,

وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ
dan berada di zaman turunnya wahyu,

فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ
sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar…

مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا
yang bagi kita belum jelas.

فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ
Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang…

مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟
Apa makna kalimat “An Tubsala”?

رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ
Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja.

وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-,

فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
mereka berbicara dengan bahasa arab tulen

فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي
sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an.

وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ
Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini

تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا
telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu.

فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ
Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai…

غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ
namun kemudian tidak berlaku lagi.

وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ
Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini.

فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum-

فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ
juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan.

وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا
Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan.

وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ
Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an.

وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ
Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat

ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ
kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at.

وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ
Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap.

وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ
Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah.

الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ
Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu,

فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ
sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu.

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ
Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan

إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ
jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah.

وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ
Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu…

فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟
maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual

إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ
karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan,

وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا
dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya.

فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ
Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini,

أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ
selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan…

بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ
kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di …

Baca selengkapnya…Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca …

Baca selengkapnya…Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-,
“Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir.

Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi;
mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya.

Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya.

Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu.

Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab.

Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala-

===============================================================================

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ

تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ

رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ

أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ

وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ

وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ

فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ

كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ

وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ

مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ

صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ

ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ

بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ

وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ

مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ

فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً

يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ

مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا

بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ

حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي

بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا

فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ

مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ

قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟

قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ

اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ

فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي

النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ

نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ

مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ

لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا

إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا

فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ

مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ

فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ

حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ

الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ

لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ

وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ

لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ

حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ

فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا

وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ

وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ

لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ

حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ

إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ

مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ

مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ

لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ

مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ

وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ

وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ

وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ

فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ

يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ

وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ

وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ

فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ

أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ

أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا

وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ

أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا

لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً

فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ

لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ

الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ

وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ

فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟

وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى