Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

طَيِّبٌ لَوْ قَالَ قَائِلٌ
Baik, andai ada yang mengucapkan zikir,…

(Bagian yang ana kasih font merah tolong di video di kasih warna kuning ya akhi..)

وَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“…dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepadaku meski hanya sekejap mata ATAU LEBIH SINGKAT DARI ITU.”

لَمْ تَثْبُتْ؟
(Ada yang menjawab)
“Tidak shahih dalilnya.”

لَمْ تَرِدْ أَصْلًا
(Ada yang menjawab)
“Bahkan tidak ada dalilnya.”

لَكِنَّ الْكَلَامَ لَوْ قَالَهَا
Namun seandainya ada yang mengucapkannya.

لَوْ أَنَّهُ فِي الذِّكْرِ قَالَ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
Andai ada yang menambah zikir dengan, “… atau lebih singkat dari itu.”

هَا؟
Apa?

لِمَاذَا؟
Mengapa?

أَيْش؟
Apa?

التَّكَلُّفُ
(Ada yang menjawab)
“Terlalu memaksakan…”

لَوْ كَانَ فِيهَا خَيْرٌ لَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Ada yang menjawab)
“Seandainya itu baik, pasti diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”

هَا ؟
Apa?

يَعْنِي بِمَعْنَى التَّوْقِيفِيَّة
(Ada yang menjawab)
“Yakni harus sesuai tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”

دَعَوْنَا نُقَرِّرُ أَصْلًا عَامًّا
Biarkan kita tetapkan kaidah umumnya terlebih dahulu.

هَلْ تَجُوزُ الزِّيَادَةُ فِي أَذْكَارِ الْأَلْفَاظِ أَمْ لَا تَجُوزُ ؟
Apakah dibolehkan menambah lafazh zikir atau tidak?

حَتَّى نُجِيْبَ
Agar kita dapat menjawab ini.

الرُّجُوعُ إلَى الْأُصُولِ أَهَمُّ مِنَ التَّفَارِيْقِ وَالفُصُولِ
Kembali pada kaidah lebih penting daripada terombang-ambing dalam perkara turunannya.

وَلِذَلِك الْعِلْمُ الْمَبْنِيُّ عَلَى قَوَاعِدَ وَأُصُولٍ
Oleh sebab itu, ilmu yang terbangun di atas kaidah-kaidah,

يَحْمِي الْمُتَكَلِّمَ فِيهِ مِنَ الْغَلَطِ
akan menjauhkan orang yang membahasnya dari kesalahan.

أَمَّا الَّذِي يَنْظُرُ إلَى أَفْرَادِ الْمَسَائِلِ يَخْتَلُّ عِلْمُهُ
Adapun yang hanya mencermati perkara turunannya saja, ilmunya ada kecacatan.

فَتَارَةً يَقُولُ كَلِمَةً يُنَاقِضُهَا فِي مَوْضِعٍ آخَرَ
Terkadang yang ia katakan menyelisihi perkataannya di masalah lain.

لِأَنَّ الْأُصُولَ عِنْدَهُ لَمْ تَنْضَبِطْ
Sebab kaidah yang ia miliki tidak tertata.

فَلِذَلِكَ مَا الْجَوَابُ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ
Jadi, apa jawaban dari permasalahan kita ini?

أَيْش ؟
Apa?

يَقُولُ إذَا كَانَ مُتَعَبَّدٌ بِاللَّفْظِ فَيَجُوزُ
(Ada yang menjawab)
“Jika zikir itu lafazhnya dimaksudkan sebagai ibadah, maka boleh…

لَكِنَّ غَيْرَ مُتَعَبَّدٍ بِاللَّفْظِ فَلَا يَجُوزُ
…namun jika lafazhnya tidak dimaksudkan sebagai ibadah, maka tidak boleh…”

يَعْنِي
Bukan.

أَيْش ؟
Apa?

يَعْنِي مَا تَجُوزُ زِيَادَةٌ
(Ada yang menjawab)
“Yakni tidak boleh ada tambahan lafazh…”

طَيِّبٌ
Baiklah.

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟
Kita atau para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lebih banyak ilmunya?

مَا الْجَوَابُ ؟
Apa jawabannya?

أَنْتَ مَا الْجَوَابُ ؟
Kamu, apa jawabannya?!

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمِ الصَّحَابَةُ
Kita atau para sahabat yang lebih banyak ilmunya?

الصَّحَابَةُ
Para sahabat.

فَابْنُ عُمَرَ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا ذَكَرَ تَلْبِيَةَ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dalam ash-Shahih, Ibnu Umar ketika menyebutkan doa talbiyah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

قَالَ وَزِدْتُ أَنَا
ia berkata, “Dan aku menambah lafazhnya…
لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ . إلَى آخِرِ مَا ذَكَرَ
‘Labbaika wa sa’daika…’” dan seterusnya.

قَال زِدْتُ أَنَا
Ia berkata, “Aku menambahnya.”

وَصَحَّتِ الزِّيَادَةُ فِي الْأَذْكَارِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ
Penambahan lafazh zikir telah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

الْجَوَابُ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ
Jadi jawabannya, penambahan lafazh zikir dibolehkan.

الزِّيَادَةُ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ
Penambahan lafazh zikir dibolehkan…

بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi.
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ibadah shalat)

أَنْ لَا يَكُونُ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi).
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti ibadah shalat)

كَالصَّلَاةِ
Seperti bacaan dalam shalat.
(Jadi bacaan shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, TIDAK BOLEH DITAMBAH)

فَالصَّلَاةُ الْأَصْلُ أَنَّ أَلْفَاظَهَا مُقَيَّدَةٌ بِمَا وَرَدَ
Pada dasarnya, bacaan shalat terikat dengan tuntunan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

أَمَّا الدُّعَاءُ الْعَامُّ
Adapun doa yang bersifat umum,

فَهَذَا لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ
seseorang dapat menambah lafazhnya sesuai yang ia kehendaki…

لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ
seseorang dapat menambahnya sesuai yang ia kehendaki…

فَمَثَلًا مِنَ الدُّعَاءِ الْعَامِّ مَثَلًا
Contoh doa yang umum seperti ucapan,…

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ
“Subhanallah wa bihamdihi” yang dibaca di siang dan malam hari.

طَيِّبٌ لَو إِنْسَانٌ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Baik, seandainya seseorang mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi wa atubu ilaihi”…

كَانَ ذَلِكَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ
maka tambahan itu tidak terlarang.

كَانَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ
Penambahan itu tidak dilarang.

لَكِنْ الْمُقَيَّدُ بِمَحَلٍّ
Namun zikir yang terikat dengan pembacaan pada ibadah tertentu

فَهَذَا الْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَبْقَى عَلَى تَقْيِيدِهِ
maka pendapat yang lebih kuat, tetap harus diamalkan sesuai lafazh yang ada.

لَكِنَّ الزِّيَادَةَ تَكُونُ حِيْنَئِذٍ جَائِزَةٌ
Tapi penambahan lafazh itu dibolehkan (jika sesuai dengan syarat di atas),

وَلَيْسَتْ مَطْلُوبَةً
dan tidak diharuskan.

يَعْنِي لَيْسَتْ مُسْتَحَبَّةً فَضْلاً عَنْ أَنْ تَكُونَ وَاجِبَةً
Yakni bukan perkara yang dianjurkan, terlebih lagi diwajibkan.

فَيَجُوز لَكِنَّ
Ia boleh dilakukan, namun…

لَكِنَّهَا غَيْرُ مَطْلُوبَةٍ
namun tidak diharuskan.

وَأَمَّا فِي هَذَا الْمَحَلِّ فَلَا
Adapun penambahan lafazh yang kita bahas di awal, tidak diperbolehkan…
لِمَاذَا ؟
Mengapa?

لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ مَعْنىً
Karena itu adalah tambahan yang tidak benar dari sisi maknanya.

كَمَا قَالَ الْأَخُ
seperti ucapan saudara kita tadi.

أَنَّ إِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ
Yakni jika seseorang mengucapkan,

طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ
“…meski hanya sekejap mata, atau lebih singkat dari itu.”

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”

فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ هُوَ طَرَفةُ الْعَيْنِ
Karena yang paling singkat adalah kejapan mata.

فَمَا هُوَ أَقَلُّ مُنْدَرِجٌ فِي قَوْلِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Sehingga yang lebih singkat dari itu, masuk dalam cakupan kata ‘sekejap mata’

فَلَا أَقَلَّ مِنَ الْحَدِّ الَّذِي انْتَهَى إلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Tidak ada yang lebih singkat dari batas yang disebutkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

نَعَم
Demikian.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.