Tawadhu Itu Ada pada Dua Perkara – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama
Segala puji bagi Allah, dua perkara ini disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud -radhiallaahu ‘anhu-, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah darinya. Pokok kerendahan hati (tawadhu) itu ada pada dua perkara. PERTAMA: Ketika Anda rela duduk di pinggiran pada majelis yang mulia, maksudnya di tempat yang tidak terlihat, tidak harus di tempat yang terhormat dalam majelis tersebut. KEDUA: Anda selalu memulai mengucapkan salam kepada siapa pun yang Anda temui, Anda yang memulai mengucapkan salam! Semoga Allah meridhai orang-orang yang rendah hati (tawadhu)
Dua Cara Mudah Tadabbur Al-Quran – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama
Di antara metode agar Anda dapat merasakan nikmatnya al-Qur’an adalah dengan mentadaburi al-Qur’an ketika Anda sedang membacanya.
“Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Quran?” (QS. Muhammad: 24)
Allah ‘azza wa jalla memotivasi kita untuk mentadaburi al-Qur’an dengan cara kita menghayati ayat-ayatnya.
CARA TADABUR PERTAMA:
Ketika membaca Al-Quran, Anda menyadari bahwa Anda adalah orang yang diajak bicara oleh al-Qur’an.
Sehingga Anda senantiasa berhenti di setiap ayat yang Anda baca, ketika Anda dapati ayat berisi perintah, Anda perhatikan keadaan Anda terhadap perintah ini.
Apakah Anda termasuk orang yang melaksanakan perintah pada ayat tersebut?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun apabila Anda dapati diri Anda lalai, maka bersegeralah untuk mematuhinya…
Dan apabila Anda membaca ayat berisi larangan, Anda perhatikan diri Anda sendiri…
Apakah Anda sudah tinggalkan perbuatan dosa yang Allah ‘Azza wa Jalla larang untuk Anda kerjakan?
Jika Anda dapati diri Anda demikian, maka pujilah Allah dan mohonlah keistiqamahan kepada Allah.
Namun jika Anda dapati Anda melakukan apa yang telah Allah larang dalam kitab-Nya, maka bersegeralah untuk mematuhinya dengan meninggalkan perbuatan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla larang.
CARA TADABUR KEDUA:
Anda memikirkan kandungan al-Qur’an, dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an. “Dan sesungguhnya dalam Al-Quran ini telah Kami jelaskan berulang-ulang agar mereka berpikir.” (QS. Al-Isra’: 41)
Allah telah mengulang-ulang ayat-ayat dalam al-Qur’an agar kita memikirkannya,agar kita merenungkan dan mengambil pelajaran dari apa yang ada di dalam al-Qur’an.
Dan seorang mukmin yang mendapatkan taufik adalah dia yang bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah dalam kitab-Nya,
ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang ada di semesta ini, ayat-ayat Allah pada ciptaan-ciptaan-Nya, dan ayat-ayat Allah dalam berbagai peristiwa, sehingga dia termasuk orang yang mengambil pelajaran, karena ini akan membuahkan nikmatnya iman dalam hatinya.
Berdosakah Jika Tidak Mau Menikah? – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama
Dari Mesir, penanya berkata, “Wahai Syeikh, apakah seorang pemudi atau pemuda berdosa apabila dia bertekad untuk tidak menikah?”
Ya, dia berdosa apabila dia sebenarnya khawatir terjatuh dalam fitnah, maka sungguh dia wajib untuk menikah, agar dia tidak terjatuh dalam fitnah. Adapun apabila dia tidak khawatir dirinya terjatuh dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) saja.
Apabila dalam dirinya ada syahwat namun dia tidak khawatir terjerumus ke dalam fitnah, maka menikah baginya hanya mustahab (sunah) hukumnya. Namun tidak ada seorang pun yang aman dari fitnah!
Jadi, bagaimana pun keadaannya, selagi seseorang mampu menikah hendaknya dia menikah!
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian sudah mampu, maka menikahlah!
Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu maka hendaknya dia berpuasa, karena puasa bisa meredakan syahwat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan juga orang-orang yang shaleh dari kalangan budak-budak kalian yang laki-laki dan yang wanita.
Jika mereka miskin, Allah yang akan mencukupi mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya, hingga Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 33)
Baiklah, semoga Allah limpahkan kebaikan untuk Anda.
Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani? Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.
Arti “Bukan Golongan Kami” (Laisa Minnaa) dalam Hadis Nabi – Syaikh Utsman al-Khamis #NasehatUlama
Makna sabda Rasulullah, “…maka bukan termasuk golongan kami (LAISA MINNAA)”. “Bukan golongan kami” (LAISA MINNAA) di sini maknanya seperti dalam sabda beliau, “Barangsiapa yang menipu kami, maka bukan golongan kami.” Bukan golongan kami (LAISA MINNAA), artinya: “Tidak berada di atas jalan dan tuntunan kami.” Dan yang dimaksud bukanlah menjadi kafir. Namun yang dimaksud adalah ia telah melakukan dosa besar. Melakukan dosa besar. Ketika Rasul bersabda, “Maka ia bukan golongan kami (LAISA MINNAA)” yakni ia telah melakukan dosa besar. Demikian.
Pentingnya Latihan Akal dalam Menghafal – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan adalah 2 kesalahan besar.
Bagian dari hal yang menghalangi seseorang dari ilmu dan hafalan adalah 2 kesalahan besar.
Pertama, tidak melatih akal untuk menghafal.
Tidak melatih akal untuk menghafal. Karena hafalan merupakan kemampuan yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit.
Karena hafalan merupakan kemampuan yang dapat dikuasai sedikit demi sedikit, dan akal harus dilatih untuk menghafal dengan menghafal sedikit saja dulu. Kemudian setelah beberapa waktu ia dapat menambah jumlah hafalannya. Jika ia terus melakukan cara ini, maka akalnya akan semakin kuat dalam menghafal.Sedangkan orang yang tidak melatih akalnya untuk menghafal, dan ingin memiliki hafalan banyak begitu saja, maka ini akan memberatkan akalnya, sehingga akalnya enggan untuk menghafal. Seperti orang yang hendak mengangkat barang yang berat, padahal sebenarnya mengangkat sepersepuluh dari berat itupun ia tidak mampu, namun ia ingin segera mengangkat barang berat ini dengan tangannya sehingga ototnya putus dan tercerai berai, dan akhirnya ia tidak mampu mengangkat barang yang lebih ringan dari itu.
Demikian pula halnya dengan akal, Jika dibebani dengan hafalan yang banyak di permulaannya, tanpa ada latihan bagi akal terlebih dahulu, maka akal akan merasa berat dan enggan untuk menghafal. Maka hendaklah penuntut ilmu menghafal secara bertahap, Dengan mulai menghafal dengan kadar hafalan yang sedikit dan menjalani hal ini beberapa waktu, kemudian jika ia merasa akalnya telah mampu, maka ia dapat menambah kadar hafalannya. Seperti orang yang hendak menghafal al-Qur’an, hendaknya ia mulai menghafal al-Qur’an sedikit saja, mungkin beberapa ayat atau setengah halaman, jika ia memang mampu menghafalnya atau ia menghafal yang lebih sedikit dari itu dulu, kemudian setelah beberapa waktu, ia dapat menambah kadar hafalan sesuai dengan kemampuannya, jika ia merasa telah mampu menghafalnya. Jika ia konsisten melakukan ini, maka dirinya akan memiliki kemampuan untuk menghafal yang tidak ia miliki sebelumnya.
Terdapat satu cerita yang berkaitan dengan ini yang menjelaskan pentingnya melakukan latihan ini, yaitu cerita yang disebutkan Abu Hilal al-‘Askari dalam kitabnya. “Al-Hats ‘ala Hifzhi al-Ilmi”. Ia menceritakan dirinya. Pada awalnya, ia tidak mampu menghafal sya’ir meski hanya sedikit, namun ia terus melatih dirinya untuk menghafal sya’ir sedikit demi sedikit, dan terus menambah hafalannya, hingga pada akhirnya ia mampu menghafal sya’ir yang memiliki kalimat yang sulit. Yaitu sya’ir rajiz yang terkenal, yang dikarang oleh Ru’bah bin al-‘Ajjaj yang berjumlah 300 bait selama waktu sahur. Yakni ia dapat menghafalnya dalam waktu singkat, di waktu sebelum subuh. Ia dapat sampai pada level ini dalam menghafal dengan melatih akalnya, dan menambah hafalan sedikit demi sedikit.