Hadis kedua dari riwayat Ibnu Umar, menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang pria yang sedang mencela saudaranya karena rasa malunya. Ia berkata: “Kamu ini terlalu pemalu,” seolah-olah ia ingin mengatakan: “Sifat pemalumu itu sudah merugikan dirimu sendiri!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda: “Biarkanlah dia, karena sesungguhnya rasa malu itu adalah bagian dari iman.”Rasa malu yang mendorong pemiliknya untuk menjauhi perbuatan mungkar, itulah yang dianggap sebagai bagian dari keimanan.
Namun, rasa malu yang justru menghalangi seseorang untuk berbuat baik, maka sebagaimana telah kita bahas, itu merupakan rasa malu yang tercela. Sebagai contoh, seseorang merasa malu untuk menghadiri majelis ilmu. Apakah rasa malu seperti ini tercela atau terpuji? Ini malu yang tercela. Malu bergabung dengan halaqah hafalan Al-Qur’an, inilah malu yang tercela. Merasa malu untuk bertanya, ketika ia perlu untuk bertanya. Inilah malu yang tercela.
Namun, jika ia merasa malu untuk mendatangi tempat-tempat maksiat, maka inilah malu yang terpuji. Merasa malu berbicara dengan kata-kata kotor, inilah malu yang terpuji. Pada dasarnya, rasa malu adalah sifat dan akhlak yang mulia, jika rasa malu itu membentengi seseorang dari perbuatan mungkar dan hal-hal buruk.
Orang yang paling memerlukan rasa malu adalah wanita. Hendaknya setiap wanita menghiasi dirinya dengan rasa malu. Ketika rasa malu dicabut dari diri seorang wanita, maka akan muncul darinya berbagai perilaku yang tidak pantas.
Inilah realitas yang kita temukan pada sebagian wanita masa kini, yang telah dicabut rasa malu dari diri mereka. Mereka tidak lagi segan bercampur baur dengan kaum laki-laki, berani mengucapkan kata-kata kotor, dan boleh jadi mereka melakukan perilaku-perilaku yang tidak pantas. Semua itu terjadi semata-mata karena hilangnya rasa malu.
=====
وَفِي الْحَدِيثِ الثَّانِي حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ يَقُولُ إِنَّكَ لَتَسْتَحِي حَتَّى كَأَنَّهُ يَقُولُ قَدْ أَضَرَّ بِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الْإِيمَانِ فَالْحَيَاءُ الَّذِي يَحْمِلُ صَاحِبَهُ عَلَى تَرْكِ الْمُنْكَرَاتِ فَهَذَا يُعْتَبَرُ مِنَ الْإِيمَانِ
وَلَكِنَّ الْحَيَاءَ الَّذِي يَمْنَعُ صَاحِبَهُ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ هَذَا كَمَا ذَكَرْنَا هُوَ حَيَاءٌ مَذْمُومٌ فَمَثَلًا كَوْنُ الْإِنْسَانِ يَسْتَحِي أَنْ يَحْضُرَ دُرُوسَ الْعِلْمِ هَلْ هَذَا حَيَاءٌ مَذْمُومٌ أَوْ حَيَاءٌ مَحْمُودٌ هَذَا مَذْمُومٌ يَسْتَحِي أَنْ يَلْتَحِقَ بِحَلَقَةِ تَحْفِيظِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ هَذَا حَيَاءٌ مَذْمُومٌ يَسْتَحِي أَنْ يَسْأَلَ إِذَا احْتَاجَ لِلسُّؤَالِ هَذَا حَيَاءٌ مَذْمُومٌ
لَكِنْ إِذَا كَانَ يَسْتَحِي أَنْ يَذْهَبَ لِلْأَمَاكِنِ الَّتِي فِيهَا مُنْكَرَاتٌ هَذَا حَيَاءٌ مَحْمُودٌ يَسْتَحِي مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِفُحْشٍ مِنَ الْقَوْلِ هَذَا حَيَاءٌ مَحْمُودٌ فَأَصْلُ الْحَيَاءِ هُوَ صِفَةٌ وَخُلُقٌ كَرِيمٌ إِذَا كَانَ يَحْجِزُ الْإِنْسَانَ عَنِ ارْتِكَابِ الْمُنْكَرَاتِ وَعَمَّا يُشِينُ
وَأَكْثَرُ مَا يَحْتَاجُ الْحَيَاءَ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةُ يَنْبَغِي أَنْ تَتَّصِفَ بِصِفَةِ الْحَيَاءِ عِنْدَمَا يُنْزَعُ الْحَيَاءُ مِنَ الْمَرْأَةِ فَإِنَّهَا تَظْهَرُ مِنْهَا أُمُورٌ مُشِينَةٌ
وَهَذَا مَا نَجِدُهُ فِي الْوَاقِعِ مِنْ بَعْضِ النِّسَاءِ اللَّاتِي نُزِعَ مِنْهُنَّ الْحَيَاءُ وَأَصْبَحْنَ يُخَالِطْنَ الرِّجَالَ وَيَتَكَلَّمْنَ بِالْكَلَامِ الْفَاحِشِ وَرُبَّمَا يَتَصَرَّفْنَ تَصَرُّفَاتٍ غَيْرَ مُنَاسِبَةٍ وَذَلِكَ بِسَبَبِ نَزْعِ الْحَيَاءِ