Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ
Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits.

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ
Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-,

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ
“Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam),

تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ
pelajarilah fiqih hadits.”

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ
“Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.”

رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ
Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih.

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ
Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah

أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ
pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar.

وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ
Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu.

وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ
Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir.

فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ
Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits

كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ
seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi;

وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ
mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini.

مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ
Padahal Abu Abdillah al-Hakim,

صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ
pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits

ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ
menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits…

بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ
Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits.

وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ
Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami

مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ
karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi,

فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً
baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau…

يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ
Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan

مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا
adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya;

بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ
yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya,

حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي
sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar,

بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا
maka kamu baru dapat mengamalkannya.

فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ
Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ
dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim

مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ
dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.”

قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟
Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?”
50
قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ
Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya,

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.”

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ
Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini,

اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ
kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini,

فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي
dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada

النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.

فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ
Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits,

نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab,

نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ
maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya,

مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ
yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman,

لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا
karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami

إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا
padahal bukan seperti itu maknanya.

فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ
Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami

مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ
sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ
karena jika ia memahaminya dengan benar,

حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ
maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena…

الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ
pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah

لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ
yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut.

وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ
Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat,

لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ
karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata.

حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ
Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits.

فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا
Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.”

وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ
Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya.

وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ
Namun jika kamu mencarinya,

لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ
kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu.

حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ
Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan

إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ
bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan

مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ
adalah bagian dari makna hadits itu.

مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ
Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits

لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ
yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya

مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ
dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat,

وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ
dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in,

وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ
dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in,

وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ
begitu seterusnya di setiap generasi umat.

فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ
Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits,

يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ
kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu.

وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ
Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits.

وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar.

فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ
Karena salah satu hal yang merusak pemahaman

فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
adalah kerusakan bahasa arab.

قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ
Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan,

أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ
bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah,

أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab,

أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا
menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat.

وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ
Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran.

أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا
Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab,

لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً
namun lisan mereka bukan lisan arab.

فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ
Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja,

لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka,

لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ
kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab,

الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ
padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami.

وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ
Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya,

فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟
maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat?

وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى
Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala-

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.