Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ
Jika seseorang memulai shalatnya,

شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ
Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah:

السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ
Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.

وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ
yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits

فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ
dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih.

فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ
tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…

أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi”

لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
…bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ
Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an,

وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ
yaitu periwayatan para ulama qira’at.

وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

أَنْوَاعًا عِدَّةً
berbagai macam lafazh ta’awwudz,

ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini…

أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ
Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih…

هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.”

اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ
“Jika kamu membaca al-Qur’an,

فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ
Inilah lafazh yang diutamakan,

كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ
sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya,

إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ
“Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan…

جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا
…kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali…

عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ
sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih…

لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا
…menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.”

فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ
Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini.

وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ
Dan jika hendak menambah lafazhnya,

فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ
hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim”

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.”

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.”

بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ
…membacanya dengan idgham atau tidak.

وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ
Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at.

وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ
Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan…

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ
dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at,

لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ
Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan…

عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ
oleh sekelompok ulama salaf.

وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ
tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih.

وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ
Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya…

لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ
karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat,

فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ
sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh

أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ
Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan.

وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ
Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.

وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ
Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat…

يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ
dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah…

لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ
karena seorang hamba tidak memiliki cara lain…

إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ
kecuali dengan berlindung kepada Allah.

أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ
Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia,

فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik.

كَمَا قَالَ تَعَالَى
Allah Ta’ala berfirman:

اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik,

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.”

وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ
Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata,

شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ
“Setanmu yang menggoda adalah musuhmu…

فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ
…maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya…

وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ
…adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya,…

وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي
…dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu)…

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.