Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

وَهِيَ سِتَّةُ أَذْكَارٍ
Terdapat 6 zikir setelah shalat.

الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا
Pertama:
Membaca istighfar sebanyak 3 kali.

وَأَكْمَلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH)

وَأَدْنَاهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH)

هَذَا هُوَ النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنَ الْأَذْكَارِ الَّتِي تُقَالُ
Inilah zikir pertama yang dapat dibaca

دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ الْمَفْرُوضَةِ
setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu,

وَهُو الِاسْتِغْفَارُ ثَلَاثًا
yaitu membaca istighfar sebanyak tiga kali,

لِمَا رَوَاهُ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ
berdasarkan riwayat Imam Muslim dari al-Walid bin Muslim,

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيِّ
dari Abu ‘Amr al-Auza’i,

عَنْ شَدَّادِ بْنِ عَمَّارٍ
dari Syaddad bin ‘Ammar,

عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ
dari Abu Asma’ ar-Rahabi,

عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ
Dari Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ
Bahwa apabila Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyelesaikan shalatnya,..

اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
beliau membaca istighfar sebanyak 3 kali.

وَمَعْنَى انْصَرَفَ سَلَّمَ
Dan makna dari kata (انْصَرَفَ) yakni telah melakukan salam.

وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ
Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…

لَهُ مَعْنَيَانِ
memiliki dua makna.

وَالِانْصِرَافُ مِنَ الصَّلَاةِ الْوَارِدُ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ
Dan kalimat ‘selesai dari shalat’ yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi…

لَهُ مَعْنَيَانِ
memiliki dua makna.

أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا
Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat)

أَحَدُهُمَا التَّسْلِيمُ مِنْهَا
Pertama: Telah melakukan salam (di akhir shalat)

وَالْآخَرُ الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ
Kedua: Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid.

الْقِيَامُ عَنْهَا بِالْخُرُوجِ مِنَ الْمَسْجِدِ
Telah selesai shalat dan pergi meninggalkan masjid.

وَالْمُرَادُ هُنَا هُوَ الْأَوَّلُ
Dan makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang pertama (yaitu telah melakukan salam di akhir shalat)

فَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ مُسَلِّمًا
Yakni apabila Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menutup shalatnya dengan salam,..

اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا
beliau beristighfar sebanyak 3 kali.

وَالْحَدِيْثُ خَبَرٌ عَنْ وُقُوعِ الِاسْتِغْفَارِ
Hadits ini menyatakan bahwa beliau beristighfar,

دُونَ تَعْيِينِ صِيْغَتِهِ
tanpa menentukan lafazh istighfarnya.

وَعِنْدَ مُسْلِمٍ بَعْدَهُ
Dan pada lanjutan riwayat Imam Muslim disebutkan,

قَالَ الْوَلِيدُ ابْنُ مُسْلِمٍ
al-Walid bin Muslim berkata,

قُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟
“Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?”

قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.”

قُلْت لِلْأَوْزَاعِيِّ مَا الِاسْتِغْفَارُ؟
“Aku bertanya kepada al-Auza’i, bagaimana istighfar itu?”

قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Ia menjawab, “Dengan mengucapkan ‘ASTAGHFIRULLAAH’.”

وَهَذَا قَدْرٌ مَجْزُوْمٌ بِهِ
Inilah lafazh yang paling minimal.

لِأَنَّ الْخَبَرَ عَنْ سُؤَالِ الْمَغْفِرَةِ يَقَعُ بِهِ
Karena permohonan ampun terkandung pada lafazh itu,

فَإِنَّ الْمُسْتَغْفِرَ يَقُولُ جَزْمًا أَسْتَغْفِرُ اللهَ
sebab seorang yang memohon ampunan secara pasti mengucapkan ‘Astaghfirullah’ (Aku memohon ampun kepada Allah)

لِأَنَّهُ يَطْلُبُ الْمَغْفِرَةَ وَيَسْتَدْعِيْهَا بِهَذَا الْقَوْلِ
Dia memohon ampun dengan lafazh tersebut.

وَلَمْ يَذْكُرِ الْأَوْزَاعِيُّ كَوْنَهُ مُسْنَدًا
Dan imam al-Auza’i tidak menyebutkannya sebagai riwayat hadits,

فَلَمْ يَأْثُرْهُ عَمَّن فَوْقَهُ
sehingga ia tidak menisbatkannya kepada perawi sebelumnya.

فَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ قَالَهُ مِنْ قِبَلِ فَهْمِهِ
Ini kemungkinan ia mengatakannya berdasarkan pemahamannya,

أَيْ أَنَّ مَعْنَى الِاسْتِغْفَارِ الْمَطْلُوبِ مِنَ الْعَبْدِ
yakni permohonan ampun yang harus diucapkan seseorang…

أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
adalah dengan ucapan (ASTAGHFIRULLAAH)

وَلَمْ أَجِدْ فِي الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ وَلَا الْآثَارِ السَّلَفِيَّةِ
Dan aku belum menemukan hadits Nabi atau ucapan para salaf

عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالتَّابِعِيْهِمْ
dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in

مَا يُعَيِّنُ الِاسْتِغْفَارَ
yang menetapkan lafazh istighfar

الْوَارِدَ بَعْدَ الصَّلَاةِ فِي صِيغَتِهِ
yang dibaca setelah shalat dengan lafazh tertentu.

وَأَمْثَلُ مَا جَاءَ فِيهِ
Dan lafazh istighfar yang paling baik adalah…

مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
yang diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Ali -radhiyallahu ‘anhu-,

أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ
Ia berkata: Jika Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebelum melakukan salam di akhir shalatnya…

قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
beliau mengucapkan: “ALLAAHUMMAGHFIR LII

مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ . الْحَدِيثَ
MAA QODDAMTU WAMAA AKH-KHORTU WAMAA ASRORTU WAMAA A’LANTU WAMAA ASROFTU WAMAA ANTA A’LAMU BIHI MINNII ANTAL MUQODDIMU WA ANTAL MU-AKH-KHIRU LAA ILAAHA ILLAA ANTA.”

وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ
Para perawinya tsiqat (dapat dipercaya),

لَكِنَّ الْمَحْفُوظَ فِيهِ لَفْظُ مُسْلِمٍ فِي صَحِيحِهِ
namun yang lebih kuat (terkait dengan doa istighfar tersebut) adalah lafazh pada riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim,

أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ بَيْنَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُهُ قَبْلَ التَّسْلِيمِ
yang di Shahih Muslim itu disebutkan bahwa beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca istighfar dengan lafazh tersebut sebelum melakukan salam.

يَعْنِي فِي الْأَذْكَارِ الَّتِي تَكُونُ قَبْلَ سَلَامِ الْإِنْسَانِ
Yakni ia termasuk zikir yang dibaca sebelum seseorang melakukan salam.

فَمَعْنَى قَوْلِهِ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ كَانَ إذَا سَلَّمَ
Sehingga makna kalimat dalam riwayat ini (كَانَ إذَا سَلَّمَ)…

يَعْنِي إذَا قَرُبَ مِنَ التَّسْلِيمِ
yakni jika telah dekat melakukan salam (sebelum salam),

فَيَجْعَلُهُ مِنْ آخِرِ دُعَائِهِ
maka ia adalah doa terakhir yang ia baca sebelum salam.

فَلَمْ يُؤْثَرْ شَيْءٌ مُعَيَّنٌ فِي تَبْيِينِ صِيْغَةِ الِاسْتِغْفَارِ
Dengan demikian, tidak ada satu riwayat yang menetapkan lafazh khusus istighfar…

الْمُرَادَةِ فِي قَوْلِ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اسْتَغْفَرَ ثَلاثًا
yang dimaksud dalam riwayat Tsauban -radhiyallahu ‘anhu-, “Membaca istighfar sebanyak tiga kali”.

وَوَقَعَ فِي كَلَامِ جَمَاعَةٍ مِنَ الْفُقَهَاءِ
Dan beberapa ulama fiqih menyebutkan…

الزِّيَادَةُ عَلَى أَسْتَغْفِرُ اللهَ
beberapa lafazh tambahan dari (Astaghfirullah)

بِأَنَّ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Seperti dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHAL ‘AZHIIM)

أَوْ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Atau (ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QOYYUUM)

فَذَكَرُوا أَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ بِقَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Yakni mereka menyebutkan bahwa Nabi beristighfar dengan lafazh (ASTAGHFIRULLAAH),…

أَوْ بِهَذِهِ الصِّيَغِ الَّتِي ذَكَرْنَا
atau dengan lafazh lainnya yang telah kita sebutkan itu.

وَالْحُكْمُ بِأَنَّ قَوْلَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ هُوَ الْأَقَلُّ
Dan penetapan lafazh (Astaghfirullah) merupakan yang paling pendek,

لِأَنَّهُ الْمَجْزُومُ بِهِ
karena ia yang paling minimal.

فَإِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Karena jika seseorang mengucapkan (Astaghfirullah),

قُطِعَ بِأَنَّهُ اسْتَغْفَرَ
maka dapat dikatakan ia telah memohon ampun.

لَكِنْ يَتَعَذَّرُ تَعْيِيْنُهُ جَزْمًا دُونَ غَيْرِهِ
Namun lafazh ini tidak dapat ditetapkan sebagai lafazh satu-satunya,

إِذْ لَيْسَ فِي الْأَخْبَارِ مَا يَقْتَضِي تَعْيِينَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ دُونَ غَيْرِهَا
karena dalam hadits tidak ada hal yang menunjukkan penetapan lafazh ini saja.

وَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ
Dan lafazh istighfar yang paling sempurna

مَا كَانَ يُلَازِمُهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
adalah yang senantiasa dibaca Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي آخِرِ حَيَاتِهِ بَعْدَ نُزُوْلِ سُورَةِ النَّصْرِ عَلَيْهِ
di akhir-akhir masa hidup beliau setelah surat an-Nasr diturunkan kepada beliau.

وَهُوَ قَوْلُهُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Yaitu dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIHI)

فَإِنَّ هَذَا كَانَ أَكْثَرَ اسْتِغْفَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Inilah lafazh istighfar yang paling banyak diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

فِي آخِرِ عُمُرِهِ
di akhir-akhir masa hidup beliau,

كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ
sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim

وَلَا يُعَكِّرُ كَمَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ
Namun -sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim,

وَأَصْلُهُ عِنْدَ الْبُخَارِي
yang sebenarnya ada dalam Shahih al-Bukhari-…

وَلَا يُعَكِّرُ عَلَى هَذَا حَدِيثُ شَدَّادِ ابْنِ أَوْسٍ
bahwa lafazh ini tidak menyelisihi hadits riwayat Syaddad bin Aus…

عِنْدَ الْبُخَارِيِّ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ
dalam Shahih al-Bukhari tentang bacaan Sayyidul Istighfar,

وَذَكَرَ الْذِكْرَ الْمَشْهُورَ
dan hadits itu menyebutkan zikir yang telah banyak dikenal ini.

فَإِنَّ هَذَا سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ بِاعْتِبَارِ عَظَمَةِ مَا فِيهِ
Zikir ini adalah Sayyidul Istighfar (tuan atau rajanya istighfar) dari sisi keagungan kandungannya.

أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ
Adapun dari sisi pengamalan,

فَإِنَّ الْوَارِدَ فِي السُّنَّةِ جَعَلَهُ فِي أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ
maka disebutkan dalam sunnah bahwa bacaan Sayyidul Istighfar dibaca pada zikir pagi dan sore.

أَمَّا بِاعْتِبَارِ الْعَمَلِ فِيمَا يُكْثِرُ مِنْهُ الْعَبْدُ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ
Sedangkan dari sisi banyaknya istighfar yang harus dibaca seseorang…

فَهُوَ أَنْ يَقُولَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
maka lafazh zikirnya adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH).

كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sebagaimana Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

يُكْثِرُ مِنْ ذَلِكَ
memperbanyak bacaan istighfar ini.

فَأَكْمَلُ الِاسْتِغْفَارِ هُوَ قَوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Sehingga lafazh istighfar yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA…

وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
…WA ATUUBU ILAIIH)

وَاقْتَصَرَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي الْأَذْكَارِ
Dan para ulama yang membahas zikir-zikir, hanya menyebutkan…

عَلَى قَوْلِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِأَنَّهَا أَقَلُّ الْقَدْرِ الْمَجْزُومِ بِهِ
lafazh (ASTAGHFIRULLAAH), karena ia adalah kadar minimal ucapan istighfar.

فَيُشْرَعُ لِلْفَارِغِ مِنْ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ أَنْ يَسْتَغْفِرَ
Dengan demikian, orang yang selesai shalat fardhu disyariatkan untuk beristighfar…

بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
dengan mengucapkan (ASTAGHFIRULLAAH),

أَوْ بِقَوْلِهِ أَسْتَغْفِرُ اللهَ
atau (ASTAGHFIRULLAAHA…

وَأَتُوبُ إِلَيْهِ وَهِيَ أَكْمَلُ وَاللهُ أَعْلَمُ
WA ATUUBU ILAIIH) dan ini lebih sempurna. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.