Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama
Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih.
Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at.
Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf.
Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah.
Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu).
3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama
Wahai hamba Allah, syukur itu tidak sekedar dengan lisan saja, syukur memiliki 3 rukun yang harus dilakukan semuanya,
sehingga apabila tidak ada atau hilang salah satunya maka syukur tidak bisa terwujud.
Tiga rukun syukur itu.
PERTAMA:
Mengucapkan dengan lisan, mengabarkan nikmat Allah dengan lisannya, menyebut-nyebut nikmat tersebut dengan niat untuk mengungkapkan syukur atas nikmat tersebut. Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 11) Ketika Allah memberi tahu dan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada Nabi-Nya,
“Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. …
Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 6-11)
Sebut-sebutlah nikmat Allah!
“Hai Bani Israil, sebutlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. …” (QS. Al-Baqarah: 40)
Jangan sandarkan kenikmatan kepada selain Allah, jangan menyandarkannya kepada diri Anda sendiri, jangan pula kepada siapapun! Namun hanya Allah saja yang memberikan semua kenikmatan yang telah sampai kepada Anda, maka syukurilah!
Pertama, hendaknya seseorang mengabarkannya dengan lisannya, sebutlah dengan lisan Anda! Dan jangan mengatakan bahwa nikmat ini adalah adalah dari si A atau si B tapi katakan bahwa ini dari Allah.
KEDUA:
Rukun syukur yang kedua adalah mengakui nikmat tersebut secara batin, dari dalam hatinya.
Karena ada orang yang menyebut-nyebut nikmat Allah dan memuji Allah dengan lisannya akan tetapi dia tidak mengakui bahwa nikmat itu dari Allah bahkan dia menganggap bahwa itu karena usahanya, kekuatannya, ketekunannya, kesungguhannya, pekerjaannya dan kecerdasannya.
Sebagaimana perkataan Qarun ketika kaumnya menegurnya, Qarun telah dikaruniai Allah, diberi oleh Allah perbendaharaan berupa harta yang banyak jumlahnya, banyak sekali.
“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qasash: 76)
Sekumpulan orang tidak mampu membawa kunci-kuncinya, karena banyaknya kunci perbendaraannya.
Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, …” (Al-Qasash: 76)
Maksudnya bangga karena sombong, congkak dan takabur.
“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qasash: 76)
“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…”
“… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash: 77)
Apa jawaban orang bodoh (Qarun) ini?
Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasash: 78)
Allah tidak punya andil dalam hal itu, aku mendapatkannya karena kerja kerasku, pekerjaanku, pengalamanku dalam membuat barang, pengalamanku dalam berdagang, dan Qarun tidak berkata bahwa ini adalah dari Allah.
Qarun berkata, “Aku pantas mendapatkannya di sisi Allah dan ini bukan karena karunia dari Allah, aku berhak mendapatkannya, bukan karena Allah, ini adalah hakku.”
Sebagaimana ucapan banyak orang, “Ini adalah hak kami, kami berhak mendapatkanya.” Mereka tidak berkata, “Ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, ini adalah pemberian dari Allah.”
Semestinya dia memuji Allah atas karunia tersebut dan memperhatikan fakir miskin di sekitarnya.
Namun dia justru menganggap nikmat ini karena kerja kerasnya, upayanya, usahanya dan lain sebagainya, pekerjaannya, pengalamannya, ijazah-ijazahnya dan seterusnya. Tidak! Ini semua dari Allah ‘azza wa jalla.
Karena selain Andapun, selain Anda ada yang lebih pandai dari Anda, lebih pintar dari Anda, namun Allah hanya ingin menguji Anda dengan harta dan kenikmatan ini, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini!
KETIGA:
Rukun syukur yang ketiga adalah menggunakan nikmat pemberian Allah dalam ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala, dalam ketaatan kepada Allah yang memberi nikmat. Jangan Anda gunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang haram, berfoya-foya, boros, pergi ke negara-negara kafir, untuk memuaskan syahwat yang terlarang.
Manfaatkan untuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, jangan gunakan untuk membuka tempat-tempat yang menciptakan keburukan, memunculkan alat-alat musik dan seruling, memunculkan nyanyian-nyanyian dan menimbulkan berbagai dosa.
Dan tempat-tempat yang tidak menghasilkan apapun kecuali kejelekan, membuka pintu keburukan kepada manusia, menyebarkan keburukan dengan perbuatan dan tempat-tempat yang Anda buat.
Ini adalah bentuk kufur nikmat, kufur dalam perbuatan.
Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi Sulaiman ketika Allah telah ajarkan kepadanya ilmu yang tidak diajarkan kepada yang lainnya, dan ketika Allah berikan kepadanya kerajaan yang tidak Allah berikan kepada yang lainnya. Allah berfirman kepada Nabi Sulaiman:
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”
(QS. Saba’: 13)
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)
Yakni ketika Allah memberi karunia kepada Nabi Daud ‘alaihissalaam, Nabi Daud ‘alaihissalaam diajari oleh Allah kemampuan dalam membuat baju besi.
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, …
“… buatlah zirah yang besar-besar, …” (QS. Saba’: 10-11)
Yaitu baju besi.
“…dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 11)
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Rabnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya …”
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)
Allah menyebut pekerjaan yang baik dari harta yang baik dengan sebutan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla.
Dan hal ini menunjukkan bahwa perbuatan buruk dalam menggunakan harta; membuka tempat-tempat yang buruk dan menghasilkan hal-hal yang merusak, berpergian untuk perkara yang haram, melampiaskan syahwat yang terlarang, yang mana seseorang mengeluarkan hartanya untuk hal-hal tersebut, ini merupakan bentuk tidak bersyukur terhadap nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.
20 Keutamaan Shalat Malam yang Menakjubkan – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama
Dan diantara amalan ini adalah salat malam, yaitu menghidupkan malam setelah salat isya’ sampai sebelum terbitnya fajar dengan melakukan salat sesuai dengan kemampuannya, baik di awal, pertengahan atau akhir malam. Akhir malam adalah waktu yang paling utama.
(SATU)
Salat malam adalah salah satu ketaatan yang paling agung dan ibadah yang paling mulia, menjadi penenang hati, penghapus kesedihan dan media untuk berkomunikasi dengan Allah yang Maha Mengetahui segala perkara gaib. Allah mendengar ketika Anda menyeru-Nya dalam kegelapan.
(DUA)
Dengan salat malam maka jiwa akan bahagia, kedekatan dengan Allah akan terwujud karena Dia turun pada sepertiga malam yang terakhir. Salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh dan ciri khas orang beriman.
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16)
(TIGA)
Salat malam adalah sebaik-baik salat setelah salat wajib sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim)
Allah mengajarkan Nabi-Nya untuk salat malam dan mewajibkannya atas beliau di saat beliau harus mengemban beratnya beban dakwah.
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit saja, (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu atau tambahlah dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 1-5)
(EMPAT)
Jadi, salat malam itu membantu meringankan beban ketika menyampaikan dakwah islam kepada manusia.
Dan ini adalah bentuk persiapan. Allah mempersiapkan Nabi-Nya dengan sebaik-baik ketaatan.
(LIMA)
Salat malam adalah salah satu ciri hamba Allah yang saleh.
“… Mereka melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)
(ENAM)
Kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malamnya. Tidaklah seseorang terhalang dari salat malam kecuali dia terhalang dari kebaikan.
Sebagaimana perkataan Fudhail, “Jika Anda tidak mampu salat di malam hari dan tidak pula puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa Anda terhalang dari kebaikan karena Anda terbelenggu dengan dosa-dosa Anda.”
Tidaklah seseorang meninggalkan salat malam kecuali dia adalah orang yang lalai.
(TUJUH)
Sungguh Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Barang siapa berdiri salat malam membaca sepuluh ayat, dia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai.” (HR. Abu Dawud)
(DELAPAN)
Barang siapa mengerjakan salat malam, dia tercatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah. “Barang siapa bangun malam dan dia membangunkan istrinya, kemudian mereka salat malam dua rakaat berjamaah, mereka akan tercatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)
(SEMBILAN)
Orang yang merutinkan salat malam berhak mendapat pujian. “Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika dia mau salat pada sebagian waktu malam.” (HR. Bukhari)
(SEPULUH)
Salat malam adalah pembersih dari sifat munafik sebagaimana pernah dikatakan bahwa orang yang tidak salat malam adalah orang munafik.
(SEBELAS)
Salat malam mendatangkan kedekatan kepada Allah. “Sedekat-dekatnya Allah dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir.” (HR. Tirmizi)
(DUA BELAS)
Orang yang salat malam adalah salah satu dari tiga orang yang Allah cintai, Allah tertawa dan bahagia karena mereka.
“… Dan orang yang memiliki istri yang cantik dan ranjang yang nyaman dan bagus namun dia tetap melaksanakan salat malam, Allah berfirman, “Dia meninggalkan syahwatnya dan mengingat Aku padahal apabila mau dia akan tidur.” (HR. Al-Hakim dan yang lainnya)
(TIGA BELAS)
Salat malam adalah bentuk memenuhi tuntutan syariat dan sebagai gantinya hajat Anda akan dikabulkan dan dipenuhi oleh Allah.
“Sungguh pada sebagian malam terdapat waktu yang apabila seorang muslim bisa tepat berada pada waktu itu kemudian memohon kebaikan kepada Allah untuk perkara dunia dan akhirat, niscaya apa yang dia minta akan Allah berikan. Dan waktu itu ada pada setiap malam.” (HR. Muslim)
“Barang siapa terbangun di malam hari kemudian dia mengucapkan
LAA ILAAHA IL-LALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMD WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR
ALHAMDULILLAAH WA SUBHAANALLAAH WA LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BIL-LAAH
Kemudian dia berdoa: ALLAAHUMMAGH FIRLII
Atau dia berdoa (dengan doa bebas) niscaya akan dikabulkan doanya.
Apabila dia berwudu kemudian salat, niscaya salatnya diterima oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Seseorang yang bangun malam dengan berzikir; yaitu ketika terbangun dia membolak-balikkan badannya, lantas tersadar kemudian berzikir kepada Allah.
(EMPAT BELAS)
Dengan salat malam dosa-dosa akan diampuni dan kesalahan-kesalahan akan dihapuskan. “Sungguh seorang hamba apabila dia bangun dan salat malam, dosa-dosanya akan didatangkan dan diletakkan di atas kepala dan pundaknya sehingga setiap kali dia rukuk dan sujud berguguranlah dosa-dosa tersebut.” (HR. Az-Zahabi dan selainnya)
(LIMA BELAS)
Diringankan urusan seseorang di hari Kiamat. Al-Auza’i berkata, “Barang siapa memperpanjang salat malamnya niscaya Allah akan mempermudah dia ketika berdiri di hari Kiamat.”
(ENAM BELAS)
Salat malam adalah sebab masuk surga. “Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan dan salatlah di malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, kamu akan masuk surga dengan selamat.” (Hadis sahih riwayat Tirmizi)
Dan Allah telah menyiapkan bagi mereka sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit dalam hati manusia, sebagaimana Allah ta’ala berfirman
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.”
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16-17)
(TUJUH BELAS)
Ada kebaikan yang banyak, nikmat yang melimpah ruah, kesenangan, kebahagiaan, kelezatan dan suka cita. Di dalam surga terdapat ruangan yang nampak bagian luarnya dari dalam dan terlihat bagian dalamnya dari luar, untuk siapa? Untuk siapa? Untuk siapa?
Sahabat Nabi bertanya, “Untuk siapa semua itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Untuk mereka yang baik perkataannya, memberikan makanan dan melewati malamnya dengan salat ketika orang-orang tertidur.” (HR. Tirmizi)
(DELAPAN BELAS)
Orang yang terbiasa salat malam akan diberi pakaian dari cahaya. Barang siapa yang salat malam niscaya akan bagus wajahnya di siang hari. Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Salat malamlah kalian, karena salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.
… Sungguh salat malam adalah sebab kedekatan dengan Allah, penghenti dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. Tirmizi)
(SEMBILAS BELAS)
Orang yang terbiasa mengerjakan salat malam pasti akan menjauhi dosa-dosa besar. Nabi ‘alaihish shalaatu was salam bersabda ketika ada yang mengabarkan kepada beliau bahwa ada seseorang yang melakukan salat malam tapi mencuri di pagi hari.
Beliau bersabda, “Sungguh salat malamnya akan mencegah dia dari perbuatan yang kau kabarkan.” Hadis riwayat Ahmad dan hadis ini sahih.
(DUA PULUH)
Salat malam membuat jiwa semangat. Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Setan akan mengikat di atas tengkuk salah seorang dari kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. …” yaitu di pangkal kepala.
“… Setan mengencangkan setiap ikatan itu (sambil berkata) ‘Malammu masih panjang, tidurlah dulu!’ Dan apabila seseorang terbangun dan berzikir kepada Allah, satu ikatan akan terlepas. Dan apabila dia berwudu akan terlepas ikatan yang lain. Dan apabila dia salat terlepaslah ikatan terakhir…
… Sehingga dia bangun dalam keadaan semangat dan bugar badannya. Namun apabila sebaliknya, dia akan bangun kehilangan kebugaran dan bermalas-malasan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Cukuplah seseorang dikatakan gagal dan buruk apabila dia tidur hingga pagi tiba. Sungguh setan telah mengencingi telinganya.
Sungguh orang saleh terdahulu (salafus saleh) telah menang dalam perlombaan di arena ini. Mereka menangis ketika hendak berpisah dengan salat malam.
Mereka bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan membaca al-Quran, tangisan dan khusyuk, sehingga tempat sujud mereka basah karena tetesan air mata.
“Adakah yang lebih baik daripada orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut dengan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (QS. Az-Zumar: 9)
Tips Sukses Belajar: 3 dari Pancaindra ini Harus Fokus Ketika Belajar – Syaikh Shalih al-Ushoimi
Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sumber-sumber ilmu dan indra yang dapat mengantarkan kepada ilmu, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Tiga indra inilah yang menjadi jalan untuk mendapatkan ilmu. Maka ketika sedang belajar, kamu harus memfokuskan penglihatan, pendengaran, dan hatimu. Agar ilmu yang disampaikan kepadamu dapat menetap dalam dirimu. Maka ketika ada murid yang menghadiri pelajaran, namun memalingkan penglihatannya kesana kemari. Terkadang membolak-balikkan kitab dan melihat hadits-hadits yang akan dipelajari. Dan terkadang melihat ke kanan dan ke kiri. Terkadang menghitung lampu yang mati, yang ada di atap masjid. Maka yang seperti ini telah melemahkan kemampuan indra penglihatannya. Hal ini seperti orang yang ingin mencari angin karena kepanasan. Namun dia terus membuka dan menutup jendela berulang kali. Pada akhirnya dia menjadi lemah dari sisi penglihatan.
Berbeda dengan orang yang memfokuskan pandangannya. Pada hadits-hadits yang dibaca dan pada biografi yang disebutkan. Demikian pula dengan orang yang tidak memfokuskan pendengarannya. Maka ia juga akan lemah dalam menangkap ilmu, sesuai dengan tingkat fokus pendengarannya. Dan contoh yang paling jelas di zaman sekarang ini adalah handphone. Ketika handphone itu berdering, maka akan mengganggu pemiliknya dan orang lain dalam memfokuskan pendengaran. Dan biasanya sangat sulit bagimu untuk memalingkan pendengaran dari suara handphone itu. Dan yang lebih parah dari itu, jika dia menelpon dan mendengar apa yang dikatakan padanya. Termasuk dalam jenis ini juga, pesan suara. Terkadang ada murid ketika dalam pelajaran, dia seperti tidak menjawab panggilan telepon, namun pada hakikatnya dia menjawabnya dia membuka pesan suara, kemudian memegang handphone-nya seperti ini. Kamulah orang yang paling merugi. Karena ilmu yang kamu lewatkan, tergantung dengan pendengaran yang tidak kamu fokuskan. Terlebih lagi adalah yang terlewatkan di majelis periwayatan hadits Nabi atau periwayatan kitab. Sebab pendengaran hanya mampu fokus pada satu hal, Antara kamu mendengar apa yang dibaca dan disampaikan. Atau mendengar selain itu.
Sebagai contoh, orang yang hadir di majelis periwayatan Shahih al-Bukhari atau Kitab at-Tauhid. Kemudian ada yang menelepon dan dia mengangkatnya, lalu dia berbicara sebentar. Satu, dua, tiga, empat, atau lima menit; kemudian dia menutup teleponnya. Apakah dia mendengar periwayatan itu seluruhnya atau ada yang terlewat? Ada yang terlewat, karena ketika itu pendengarannya sibuk dengan selain apa yang dibacakan. Dengan demikian, ada yang terlewat darinya. Padahal dahulu para ulama takut terlewat darinya huruf Wawu dan Fa’ saat mendengar riwayat. Namun sekarang ada sebagian orang meminta ijazah, dan telah terlewat darinya banyak hal. Akan tetapi ditulis baginya, ‘telah mendengarkan sepenuhnya’. Pada salah satu majelis, Salah satu dari mereka memanfaatkan tempat kosong di belakang masjid. Dia datang ke sana dan tidur sejenak, sekitar satu jam. Lalu dia kembali untuk mengikuti majelis itu dan mengambil kertas yang telah tertulis padanya ‘Telah mendengar kitab ini dan ini seluruhnya: Fulan bin Fulan’. Terkadang mereka juga keluar majelis dalam waktu lama sehingga ada riwayat yang tidak mereka dengarkan. Terkadang mereka mendengar riwayat melalui handphone dan lainnya, dan dia tidak dapat mendengar dengan jelas. Namun tetap saja ditulis baginya, ‘Telah mendengarnya seluruhnya’. Meskipun hal ini tidak diketahui manusia, namun tidak dapat tersembunyi dari Tuhan seluruh manusia. Tidak ada yang mempermudah perolehan ilmu kecuali kejujuran. Imam Waki’ berkata, “Tidak ada yang dapat unggul dalam hal ini (menuntut ilmu) kecuali orang jujur.” Yang meninggikan dan merendahkan seseorang dalam ilmu adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari hadits Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-. Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
“Sesungguhnya dengan al-Qur’an ini Allah meninggikan beberapa kaum, dan dengannya merendahkan yang lain.” Yang berkuasa untuk meninggikan dan merendahkan dalam ilmu adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Jika seseorang berbuat curang dalam mendapat ilmu, maka Allah akan merendahkannya dan mendatangkan keburukan padanya di masa depan. Termasuk hal ini juga, mencerai-berai fokus indra pendengaran seperti yang telah kita jelaskan. Maka indra pendengaran harus fokus saat pelajaran. Begitu pula dengan hati yang juga harus ikut fokus saat pelajaran. Yaitu dengan memfokuskan pikiran sepenuhnya pada ucapan yang disampaikan kepadanya. Bukan dengan memfokuskan penglihatan dan pendengarannyanamun hatinya pergi entah kemana, Karena ini tidak akan berguna Sebab saat itu kemampuan indra akan melemah Dan indra yang paling berpengaruh ketika tidak fokus adalah hati Jika seseorang hadir di majelis pelajaran dengan mendengar dan melihat syeikh tanpa menoleh.
Namun saat itu dia memikirkan dalam hatinya, Saat kita keluar setelah pelajaran ini, apa yang harus aku lakukan? Kemana kita akan pergi? Bagus tidak jika kita menyisihkan waktu untuk pergi nongkrong dan minum kopi? Dimana kita akan minum kopi? Cocok tidak di tempat yang itu? Apakah cukup kopi saja atau dengan makan malam juga? Dan terus melayang-layang dengan pikiran-pikiran itu dan lainnya pada saat pelajaran. Dalam keadaan seperti itu, hatinya tidak akan fokus. Sehingga kemampuannya dalam menangkap ilmu akan melemah. Maka selain harus adanya indra untuk menangkap ilmu, indra itu juga harus fokus saat berada di majelis ilmu.
Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran? Firman Allah (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar”. Dia adalah Ummu Jamil yang membawa ranting pohon yang besar dan berduri. Untuk dia letakkan di jalan yang biasa dilalui Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- agar dapat menyakiti beliau. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan …
Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama
Masalah yang kelima: di antara perkara terbesar yang menjadi penghalang ilmu adalah ketika seseorang tidak mengamalkannya. Ketika seseorang tidak mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, sungguh yang demikian itu menjadi sebab tidak berkah ilmunya. Abu Abdurrahman as-Sulami berkata, “Orang-orang yang dahulu belajar dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada kami bahwa mereka tidak akan menambah lebih dari 10 ayat sampai mereka menghafalnya, memahami isinya tentang halal dan haram, kemudian mengamalkannya.” Mengamalkan kandungannya.
Orang yang mengamalkan ilmunya adalah orang mendapat taufik, oleh sebab itu terdapat sebuah hadis dari Mutharrif dari Ibnu Abbas, diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Mas’ud dan selain beliau bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ilmu itu adalah rasa takut.” (HR. Ahmad) Khasyyah, yaitu rasa takut kepada Allah azza wa jalla. Barang siapa yang mengetahui bahwa suatu transaksi adalah transaksi ribawi atau mengerti bahwa muamalah tertentu adalah bentuk suap kemudian ia meninggalkannya setelah dia mengilmuinya, orang inilah yang diberkahi ilmunya.
Orang inilah yang diberkahi ilmunya karena dia tahu kemudian meninggalkan suatu perbuatan atau dia tahu kemudian mengamalkannya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang ahli al-Quran selayaknya dikenal menghidupkan malamnya ketika orang-orang tertidur, berpuasa ketika orang-orang tidak berpuasa, diam ketika manusia membicarakan hal yang sia-sia.” Orang yang berilmu harus terlihat pengaruh ilmu dalam dirinya. Apabila tidak nampak pengaruh ilmu pada dirinya maka dia harus menginstrospeksi diri. Artinya, sungguh ada masalah pada ilmu yang telah Anda pelajari. Muzahim pernah ditanya, “Aku memasuki sebuah negeri, siapa penduduk negeri ini yang paling berilmu?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa di antara mereka.” Semakin seseorang bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, dan maksud bertakwa adalah mengamalkan ilmunya, maka dialah orang yang alim, orang berilmu yang sesungguhnya.
Adapun perkataan sebagian ulama, “Ambil ilmu dariku… adapun maksiatku tidak akan membahayakanmu.” Ini hanyalah bentuk tawadhu mereka. Akan tetapi orang yang berilmu wajib bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan secara umum para penuntut ilmu, mereka harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia hendaknya menyadari bahwa tanggung jawabnya lebih besar daripada tanggung jawab orang lain, karena orang-orang pasti memperhatikan shalat Anda ketika Anda menjadi imam, mereka akan melihat bagaimana Anda menjaga sunah ketika Anda menisbatkan diri kepada ilmu. Kesimpulannya, seseorang harus mengamalkan ilmunya agar ilmu itu mengakar kuat dan tidak berkurang atau bahkan hilang keberkahannya.