4 Kalimat Luar Biasa yang Dapat Menggugurkan Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

4 Kalimat Luar Biasa yang Dapat Menggugurkan Dosa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Penulis berkata, “Barangsiapa yang bertakbir, bertahmid, bertahlil, dan bertasbih kepada Allah.” Bertakbir yakni membaca ALLAHU AKBAR. Bertahmid yakni membaca ALHAMDULILLAH. Bertahlil yakni membaca LAA ILAAHA ILLALLAAH. Bertasbih yakni membaca SUBHANALLAH. Dan beristighfar, yaitu memohon ampun kepada Allah. Dengan membaca ASTAGHFIRULLAH WA ATUUBU ILAIHI, ALLAAHUMMAGHFIRLII DZAMBII. Kalimat ini juga merupakan bentuk permohonan ampun kepada Allah. Bentuk permohonan ampun kepada Allah. Empat kalimat tersebut mengandung pahala yang agung dan balasan yang besar. Sedangkan istighfar dapat menghapus dosa-dosa dapat menghapus dosa-dosa.

Dan empat kalimat itu juga sebenarnya penghapus dosa-dosa yang luar biasa. Empat kalimat itu sendiri sangat luar biasa dalam menghapus dosa-dosa. Ia luar biasa sekali dalam menyucikan seorang hamba dari dosa-dosanya. Dalam hadits shahih riwayat at-Tirmidzi dan lainnya, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berjalan bersama para sahabatnya, dan ketika itu beliau membawa tongkat di tangannya. Lalu beliau melewati pohon kering yang dedaunannya telah kering, maka beliau memukul pohon itu dengan tongkat yang ada di tangannya itu. Sehingga apa yang terjadi? Ya? Daun-daun itu berguguran. Para sahabat melihat dedaunan pohon itu berjatuhan di depan mereka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dengarkan dengan baik apa yang beliau sabdakan. Beliau bersabda ketika mereka melihat daun-daun berguguran.

Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILALLAAH, WALLAAHU AKBAR menggugurkan atau menjatuhkan dosa-dosa seorang hamba. Sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran. Sebagaimana dedaunannya berguguran. Dan para sahabat melihatnya berguguran. Ini perumpamaan yang Nabi buat bagi mereka. Untuk menjelaskan bagaimana 4 kalimat itu dapat menggugurkan dosa-dosa. Maka subhanallah. Seorang hamba mengulang-ulang kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. Lalu dosa-dosa yang dia pikul berjatuhan.

Betapa butuh seorang hamba untuk menggugurkan dosa-dosanya dengan beberapa kalimat ini SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR” Nabi bersabda, “Sungguh kalimat SUBHANALLAH, WALHAMDULILLAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR. menggugurkan dosa-dosa seorang hamba sebagaimana dedaunan pohon ini berguguran.” Maka empat kalimat ini sangat agung keutamaannya dalam meninggikan derajat. Dan di samping itu pula, ia memiliki keutamaan besar dalam menggugurkan dosa-dosa dan melenyapkan kesalahan-kesalahan, menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

================================================================================

قَالَ فَمَنْ كَبَّرَ اللهَ وَحَمِدَ اللهَ وَهَلَّلَ اللهَ وَسَبَّحَ اللهَ

كَبَّرَ اللهَ قَالَ اللهُ أَكْبَرُ

حَمِدَ اللهَ قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ

هَلَّلَ اللهَ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

سَبَّحَ اللهَ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ

وَاسْتَغْفَرَ اللهَ أَيْ طَلَبَ مِنَ اللهِ الْمَغْفِرَةَ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي

وَهَذَا أَيْضًا فِي الْعِنَايَةِ بِالِاسْتِغْفَارِ

الْعِنَايَةِ بِالِاسْتِغْفَارِ

الكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ

فِيهَا ثَوَابٌ عَظِيمٌ وَأَجْرٌ جَزِيلٌ

وَالِاسْتِغْفَارُ فِيهِ مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ

فِيهِ مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ

وَالْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ نَفْسُهَا سُبْحَانَ اللهِ فِيهَا مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ عَجِيبٌ جِدًّا

الكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ نَفْسُهَا فِيهَا مَحْوٌ لِلسَّيِّئَاتِ عَجِيبٌ

وَشَأْنُهَا عَجِيبٌ فِي تَطْهِيرِ الْعَبْدِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

صَحَّ فِي التِّرْمِذِي وَغَيْرِهِ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

كَانَ يَمْشِي يَوْمًا مَعَ أَصْحَابِهِ وَمَعَهُ عَصًا بِيَدِه

فَمَرَّ بِشَجَرَةٍ يَابِسَةٍ

فِيهَا وَرَقٌ يَابِسٌ

وَخَبَطَ الشَّجَرَةَ بِعَصَاهُ الَّتِي فِي يَدِهِ

مَاذَا يَحْدُثُ؟

نَعَم؟

تَسَاقَطَ الْوَرَقُ

الصَّحَابَةُ يَرَوْنَ أَمَامَهُمْ وَرَقَ الشَّجَرِ يَتَسَاقَطَ

فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

وَاسْتَمِعُوا إِلَى مَا قَالَ

فَقَالَ وَهُمْ يَرَوْنَ الْوَرَقَ يَتَسَاقَطُ

قَالَ إِنَّ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ

وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ لَتُحَاتُّ أَوْ لَتُسَاقِطُ ذُنُوبَ الْعَبْدِ

كَمَا تَسَاقَطَ وَرَقُ هَذِهِ الشَّجَرَةِ

كَمَا تَسَاقَطَ الصَّحَابَةُ يَرَوْنَ الْوَرَقَ يَتَسَاقَطُ

هَذَا مِثَالٌ ضَرَبَه لَهُمْ

يُبَيِّنُ كَيْفَ أَنَّ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ الْأَرْبَعَ تُسَاقِطُ الذُّنُوبَ

فَيَا سُبْحَانَ اللهِ

يُكَرِّرُ الْعَبْدُ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

وَتَتَسَاقَطُ هَذِهِ الذُّنُوبُ الَّتِي الَّذِي هُوَ مُتَحَمِّلُهَا

فَمَا أَحْوَجَ الْعَبْدُ إِلَى أَنْ يُسَاقِطَ الذُّنُوبَ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

قَالَ إِنَّ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

لَتُسَاقِطُ ذُنُوبَ الْعَبْدِ كَمَا تَسَاقَطَ وَرَقُ هَذِهِ الشَّجَرَةِ

فَالْكَلِمَاتُ الْأَرْبَعُ هَذِهِ لَهَا شَأْنٌ عَظِيمٌ فِي رِفْعَةِ الدَّرَجَاتِ

وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ

لَهَا شَأْنٌ عَظِيمٌ فِي تَسَاقُطِ الذُّنُوبِ وَحَطِّ السَّيِّئَاتِ

وَتَكْفِيرِ الذُّنُوبِ والْخَطِيْئَاتِ

 

Taubat dari Meninggalkan Shalat, Bagaimana Caranya? Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Taubat dari Meninggalkan Shalat, Bagaimana Caranya? Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Orang-orang yang dulunya sering tidak shalat, kemudian tatkala mereka bertaubat kepada Allah, mereka menyesal dan menyadari kelalaian mereka, mereka berharap memiliki jalan keluar dari masalah ini. Menurut pandangan mayoritas ulama, mereka akan berkata, “Kalian harus bertaubat, dan harus mengqadha’ (mengganti) shalat yang kalian tinggalkan meski telah berlalu lama sekali.

Semisal, dengan shalat sekali lagi setiap selesai mendirikan suatu shalat. Kerjakan shalat subuh terkini dan satu shalat subuh lain sebagai ganti yang dulu. Kerjakan shalat zhuhur terkini dan satu shalat zhuhur lain sebagai ganti yang dulu. Lakukan itu hingga setara dengan hari-hari yang kamu lalui tanpa melakukan shalat.

Sedangkan para ulama yang berpendapat bahwa qadha’ shalat itu tidak diterima, mereka berdalil bahwa kamu sengaja meninggalkannya hingga terlewat dari waktunya. Sehingga shalat itu tidak diterima jika kamu mengerjakannya setelah waktunya terlewat. Para ulama itu akan mengatakan, “Bertaubatlah kepada Allah, dan perbanyaklah melakukan shalat sunnah! Semoga ketika kamu datang di hari kiamat dan amalanmu diperiksa.

Sedangkan amalan seorang hamba yang pertama dihisab yang berkaitan dengan dirinya dan Allah adalah shalat. Amal pertama yang dihisab yang berkaitan dengan hak Allah adalah shalat. Sedangkan yang berkaitan dengan sesama hamba adalah perkara darah (nyawa). Terdapat amalan prioritas dalam proses hisab di hari kiamat. Hak Allah yang pertama dihisab dari seorang hamba adalah shalat. Terdapat hak-hak Allah yang lain seperti zakat, puasa, dan haji. Ada juga amalan berkaitan dengan hak sesama hamba. Dan hak sesama hamba yang pertama dihisab dari seseorang adalah perkara darah (nyawa). Hak-hak sesama hamba yang lain seperti perkara harta, kehormatan, penghinaan, dan lainnya.

Adapun shalat, ketika amalan seorang hamba diperiksa pada hari kiamat lalu terdapat kekurangan pada shalatnya. Semisal, shalat wajib ini pada hari ini tidak dia kerjakan. Juga shalat ini, ini, dan ini. Maka Allah akan berfirman kepada para malaikat, Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah? Allah Maha Pengasih. Allah Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Sehingga Allah berfirman kepada para malaikat, Lihatlah, apakah hamba-Ku ini punya amalan shalat sunnah? Maka kekurangan pada shalat wajibnya ditutup dengan shalat sunnah yang ia kerjakan. Tentu kita tidak mengetahui satu shalat wajib setara dengan berapa shalat sunnah, sehingga dapat dikatakan, misalnya satu shalat wajib setara 70 shalat sunnah, atau setara dengan kurang atau lebih dari itu. Allahu a’lam.

Namun manfaat shalat sunnah adalah jika ada kekurangan pada shalat wajib, maka akan dilengkapi dan diganti dengan pahala shalat sunnah. Tentu pahala shalat sunnah berbeda. Salah satu manfaat shalat sunnah adalah melengkapi kekurangan shalat wajib. Salah satu manfaat shalat sunnah adalah melengkapi kekurangan shalat wajib. Para ulama ini akan berkata kepada orang yang bertaubat itu, “Kamu harus menyesali kesalahanmu dan bertekad untuk tidak mengulanginya, lalu menjaga shalat-shalat wajib yang akan datang, serta perbanyaklah mengerjakan shalat sunnah!”

================================================================================

الَّذِينَ فَوَّتُوْا صَلَوَاتٍ

عِنْدَمَا يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ

وَيَنْدَمُوْنَ وَيُوْقِنُوْنَ بِالتَّفْرِيْطِ

يَتَمَنَّوْنَ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ حَلٌّ لَهُمْ

أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِجُمْهُورِ أَهْلِ الْعِلْمِ

سَيَقُولُونَ لَهُمْ عَلَيْكُمْ التَّوْبَةُ

وَعَلَيْكُم قَضَاءُ الصَّلَوَاتِ

وَلَوْ كَانَتْ مُدَّةً طَوِيلَةً

صَلِّ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ صَلَاةً مَثَلًا

صَلِّ مَعَ الْفَجْرِ الْحَاضِرِ فَجْرًا مِمَّا مَضَى

وَصَلِّ مَعَ الظُّهْرِ الْحَاضِرِ ظُهْرًا عَمَّا مَضَى

حَتَّى تُنْهِيَ الْمُدَّةَ الَّتِي فَاتَتْكَ

بِلَا صَلَوَاتٍ

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُقْبَلُ

أَنْتَ الْآنَ تَعَمَّدْتَ إِخْرَاجَ عَنْ وَقْتِهَا

فَلَا تُقْبَلُ مِنْكَ إِذَا أَدَّيْتَ بَعْدَ وَقْتِهَا

سَيَقُولُونَ لَهُ تُبْ إِلَى اللهِ

وَأَكْثِرْ مِنَ النَّوَافِلِ

لَعَلَّكَ إِذَا جِئْتَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَنُظِرَ فِي عَمَلِكَ

وَأَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ مِنْ عَمَلِهِ

الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ

الصَّلَاةُ

أَوَّلُ مُحَاسَبَةٍ فِي حُقُوقِ اللهِ الصَّلَاةُ

أَمَّا حُقُوقُ الْعِبَادِ الدِّمَاءُ

فِيهِ أَوْلَوِيَّاتٌ فِي الْقَضَاءِ الْحِسَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

حُقُوقُ اللهِ أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ

فِيهِ الزَّكَاةُ وَالصِّيَامُ وَالْحَجُّ

وَهُنَاك حُقُوقُ الْعِبَادِ

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ مِنْ حُقُوقِ الْعِبَادِ الدِّمَاءُ

طَبْعًا فِيهِ الْأَمْوَالُ وَالْإِعْرَاضُ وَالشَّتَائِمُ وَإِلَى آخِرِهِ

الصَّلَاةُ إِذَا نُظِرَ فِي عَمَلِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

وَوُجِدَ الْخَلَلُ فِي صَلَاتِهِ

أَنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ الْيَوْمَ الْفُلَانِيَّ الْفَرْضَ الْفُلَانِيَّ مَا أَدَّاهَا

وَهَذِهِ وَهَذِهِ وَهَذِهِ

يَقُولُ اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ

اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟

يَعْنِي اللهُ رَحِيمٌ

اللهُ رَحِيمٌ وَكَرِيْمٌ

فَيَقُولُ اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ

اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟

فَيَكُونُ جَبْرَ نَقْصِ الْفَرِيضَةِ مِنَ النَّوَافِلِ الَّتِي صَلَّاهَا

طَبْعًا مَا نَدْرِي الْفَرِيضَةَ الْوَاحِدَةَ كَمْ نَافِلَةً تَعْدِلُ

حَتَّى يُقَالَ وَاللهِ الْفَرِيضَةُ بِسَبْعِينَ نَافِلَةٍ أَوْ

بِأَقَلَّ أَوْ بِأَكْثَرَ اللهُ أَعْلَمُ

لَكِنْ فَائِدَةُ النَّوَافِلِ

أَنَّهُ لَوْ كَانَ هُنَاكَ تَفْرِيطٌ فِي الْفَرَائِضِ

تُقْضَى مِنْهَا يُتِمُّ التَّعْوِيضَ مِنْهَا

غَيْرَ أَجْرِ النَّوَافِلِ طَبْعًا

فَمِنْ فَوَائِدِ النَّوَافِلِ

تَعْوِيضُ نَقْصِ الْفَرَائِضِ

مِنْ فَوَائِدِ النَّوَافِلِ تَعْوِيضُ نَقْصِ الْفَرَائِضِ

فَسَيَقُولُونَ لِلتَّائِبِ

عَلَيْك النَّدَمُ

وَالْعَزْمُ عَلَى عَدَمِ الْعَوْدَةِ وَالْمُحَافَظَةُ عَلَى صَلَوَاتِكَ الْفَرَائِضِ القَادِمَةِ

وَأَكْثِرْ مِنَ النَّوَافِلِ

 

Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Sebab Penting Lembutnya Hati – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Segala puji hanya bagi Allah. Umar bin Shalih al-Baghdadi pernah berkata. Aku pernah bertanya al-Imam Ahmad bin Hambal. Apa yang dapat melembutkan hati? Maka beliau melihatku lalu menundukkan kepalanya, Kemudian kembali melihatku lalu menundukkan kepalanya, Kemudian melihatku lagi seraya berkata. Dengan apa hati dapat menjadi lembut? Dengan memakan makanan yang halal! Tidakkah kita memahami hubungan antara memakan makanan yang halal dan kelembutan hati?

================================================================================

الْحَمْدُ لِلهِ

عُمَرُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ يَقُولُ

سَأَلْتُ الْإِمَامَ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ

أَيُّ شَيْءٍ

يُلَيِّنُ الْقُلُوبَ؟

فَنَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ ثُمَّ أَطْرَقَ

ثُمَّ نَظَرَ إِلَيَّ قَالَ

بِأَيِّ شَيءٍ تَلِيْنُ الْقُلُوبُ؟

بِأَكْلِ الْحَلَالِ

هَلَّا اسْتَوْعَبْنَا الْعَلَاقَةَ بَيْنَ

أَكْلِ الْحَلَالِ وَلِيْنِ الْقَلْبِ؟

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama Wahai Ahlul Qur’an, jadikanlah Allah dan Allah selalu dalam keikhlasanmu. Jika ada kebaikan datang kepadamu dari perkara dunia karena sebab al-Qur’an maka itu adalah karunia dari Allah, dan tidak membawa mudharat bagi kalian.dan tidak mengurangi pahala kalian. Namun janganlah sekali-kali menjadikan itu sebagai tujuan kalian. …

Baca selengkapnya…Nasehat Indah untuk Penghafal al-Quran – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Ketika Hatimu Condong pada Kebaikan – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Kemudian, -semoga Allah menjaga Anda.- Perhatikanlah penghujung kalimat pada ayat yang mulia ini
Allah berfirman, “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Sadar dan bangunlah! “Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ini adalah peringatan dan penggugah jiwa, bahwa ketika kebaikan mendatangi Anda.
Ketika datang kepada Anda musim-musim kebaikan, maka manfaatkan baik-baik.
Ketika Anda dapati kelapangan dalam dada Anda untuk berbuat ketaatan dan kecondongan untuk melakukan ibadah, waspadalah dan waspadalah! Jangan sampai Anda menangguhkannya
atau menundanya, atau mengakhirkan yang bisa diamalkan hari ini hingga esok hari! Berhati-hatilah dengan perbuatan seperti itu! Karena jiwa ini, yang terkadang condong pada kebaikan pada waktu tertentu, namun Anda, sang pemilik jiwa, memilih untuk menunda dan mengakhirkannya.
Terkadang jiwa ini terlanjur enggan pada kebaikan.
“Karena Allah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Terkadang jiwa terlanjur enggan pada kebaikan.
Karena betapa banyak orang yang jiwanya menginginkan kebaikan namun dia palingkan jiwanya darinya,
dan dia menunda-nunda dalam ketaatan tersebut dan menangguhkannya.
Kemudian akhirnya jiwanya terus-menerus enggan hingga ajal tiba.
Akhirnya jiwanya terus-menerus berpaling hingga ajal menjemput.
Dan ketahuilah, …”Dan ketahuilah bahwa Allah-lah yang menghalangi antara manusia dan hatinya.” (QS. Al-Anfal: 24)
Tidak setiap waktu jiwa ini condong pada kebaikan dan tidak setiap saat hati ini terasa lapang.
Jadi, ketika seseorang dapati dalam dirinya kelapangan dan kecondongan pada kebaikan,
hendaknya dia manfaatkan itu baik-baik, bersegera, dan langsung memenuhi
panggilan tersebut karena Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.
Karena jiwa kadang condong pada kebaikan dan kadang berpaling darinya,
kadang menginginkannya dan kadang enggan.
Dan orang cerdas akan memanfaatkan kesempatan ketika jiwanya sedang condong pada kebaikan.
Dan bersungguh-sungguh untuk memaksimalkan kesempatan tersebut.
Pada musim-musim kebaikan, terutama bulan Ramadan, jiwa akan bergelora dan bersemangat,
sehingga memunculkan kecondongan pada kebaikan.
Seperti ini harus dimanfaatkan untuk menjawab seruan Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

==============================================================================

ثُمَّ تَأَمَّلْ رَعَاكَ اللهُ فِي تَمَامِ هَذَا السِّيَاقِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ

قَالَ: وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- اَلْأَنْفَالُ: ٢٤

اِنْتَبِهْ تَيَقَّظْ- وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

وَهَذَا تَنْبِيهٌ وَإِيْقَاظٌ لِلْقُلُوبِ إِذَا أَقْبَلَ عَلَيْكَ الْخَيْرُ

أَقْبَلَتْ عَلَيْكَ مَوَاسِمُهُ فَاغْتَنِمْهَا

إِذَا وَجَدْتَ مِنْ صَدْرِكَ شَيئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ لِلطَّاعَةِ

وَالْإِقْبَالِ عَلَى الْعِبَادَةِ إِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ أَنْ تُسَوِّفَ

أَوْ أَنْ تُؤَجِّلَ أَوْ أَنْ تُؤَخِّرَ عَمَلَ الْيَوْمِ إِلَى الْغَدِ

اِحْذَرْ أَشَدَّ الْحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ

فَهَذِهِ النَّفْسُ الَّتِي قَدْ تُقْبِلُ حِيْنًا مِنَ الدَّهْرِ عَلَى الْخَيْرِ

فَتُسَوِّفُ أَنْتَ يَا صَاحِبَهَا وَتُؤَجِّلُ

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

قَدْ لَا تُقْبِلُ مَرَّةً أُخْرَى

وَكَمْ مِنْ إِنْسَانٍ أَقْبَلَتْ نَفْسُهُ فَأَعْرَضَ عَنْ إِقْبَالِهَا

وَأَجَّلَ فِي الطَّاعَةِ وَسَوَّفَ

ثُمَّ بَقِيَتْ مُدْبِرَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

ثُمَّ بَقِيَتْ مُعْرِضَةً إِلَى أَنْ مَاتَ

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ- الْأَنْفَالُ: ٢٤

لَيْسَ كُلُّ وَقْتٍ تُقْبِلُ النَّفْسُ لَيْسَ كُلُّ الْوَقْتِ يَنْشَرِحُ الصَّدْرُ

فَإِذَا وَجَدَ الْإِنْسَانُ مِنْ نَفْسِهِ شَيْئًا مِنَ الْاِنْشِرَاحِ وَالْإِقْبَالِ

فَلْيَغْتَنِمْ ذَلِكَ وَلْيُبَادِرْ وَلْيُسَارِعْ

إِلَى الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَالنَّفْسُ لَهَا إِقْبَالٌ وإِدْبَارٌ

تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ

وَالْعَاقِلُ يَغْتَنِمُ… يَغْتَنِمُ إِقْبَالَ نَفْسِهِ

وَيَحْرِصُ عَلَى اغْتِنَامِ ذَلِكَ

فِي مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ وَخَاصَّةً رَمَضَانَ تَتَهَيَّجُ النُّفُوسُ وَتَتَحَرَّكُ

وَيَحْصُلُ مِنْهَا إِقْبَالٌ

هَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُغْتَنَمَ فِي تَحْقِيقِ الْاِسْتِجَابَةِ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

 

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

Kalimat yang Membuat Setan Menjadi Lebih Kecil dari Lalat – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid

At-Tasmiyah (bacaan BISMILLAH) adalah perkara agung. Huruf Ba’ dalam kalimat (بِسْمِ اللهِ) adalah untuk memohon pertolongan dan keberkahan. Kalimat BISMILLAH ini disyariatkan untuk dibaca sebelum makan, minum, berhubungan suami istri (jima’), berkendara, dan termasuk zikir di pagi dan petang hari. Ia sangat berguna untuk menolak tipu daya dan was-was setan. Jika BISMILLAH dibaca, maka setan akan menjadi kerdil hingga menjadi seperti lalat. Dengan BISMILLAH, aurat akan terlindung dari pandangan jin. Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan. Setan telah bertekad untuk menyertai kita dalam harta dan keturunan kita.
“Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak.” (QS. Al-Isra: 64)

Oleh sebab itu disyariatkan berdoa: “BISMILLAAH, ALLAAHUMMA JANNIBNASY SYAITHOONA WA JANNIBISY SYAITHOONA MAA ROZAQTANAA.” ketika seseorang hendak berhubungan suami istri (jima’). Dengan BISMILLAH, kemaluan akan terlindung dari gangguan setan. Anak keturunan akan terjaga dari tipu daya setan.
Seorang muslim akan terjaga ketika keluar rumah. Makanan dan minumannya akan terlindung dari sentuhan setan.
Setan akan terhalang untuk ikut ke dalam rumahnya, ketika bermalam, saat di tempat tidur, dan ketika makan dan minum. Kendaraan akan terlindung dari gangguan setan. Seorang muslim akan dikaruniai pasangan dan hewan tunggangan yang terbaik.

Dengan BISMILLAH, tempat tinggal dan wadah-wadah akan terlindung. (Dalam hadits): “Tutuplah wadah, ikatlah tempat air, tutuplah pintu, dan rapatkanlah pintu-pintu.” “Tutuplah wadah-wadah, ikatlah tempat air, dan ucapkanlah BISMILLAH.” Tidak ada perkara yang berat di hadapan kalimat BISMILLAH.

Terdapat kisah yang terjadi pada seorang sahabat yang bernama Abu Tamimah al-Hujaimi. Ia berkata, “Siapa yang pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Lalu ia melanjutkan, “Aku pernah dibonceng Nabi di atas keledai, kemudian keledai itu terpeleset maka aku berkata, “Celakalah setan!” Yakni dia berkata ketika keledai itu terpeleset. Sahabat tersebut mencela setan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’” Yakni mencela setan tidak ada manfaatnya! Mencela setan tidak ada faidahnya!
Namun apa yang bermanfaat? Beliau bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan!’…Karena jika kamu mengatakan ‘Celakalah setan!’ maka setan akan menyombongkan diri; Dan ia akan berkata, ‘Aku telah mengalahkannya dengan kekuatanku’. Yakni setan akan merasa sombong. Namun jika kamu berkata, ‘BISMILLAH’
maka setan akan menjadi kerdil hingga ia menjadi lebih kecil daripada seekor lalat.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan ini adalah hadits yang shahih.

================================================================================

التَّسْمِيَةُ شَيْءٌ عَظِيمٌ

بِسْمِ اللهِ الْبَاءُ هَذِهِ بَاءُ الِاسْتِعَانَةِ وَالتَّبَرُّكِ

هَذِهِ بِسْمِ اللهِ تُشْرَعُ عِنْدَ

الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَالْجِمَاعِ وَرُكُوبِ الدَّابَّةِ مِنْ أَذْكَارِ الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

وَلَهَا أَثَرٌ عَجِيبٌ فِي رَدِّ كَيْدِ الشَّيْطَانِ وَوَسْوَسَتِهِ

فَإِنَّهَا إِذَا قِيْلَتْ تَتَصَاغَرُ الشَّيْطَانُ حَتَّى يَصِيرَ مِثْلَ الذُّبَابِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُصَانُ الْعَوْرَاتُ عَنْ أَعْيُنِ الْجِنِّ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

إِنَّ الشَّيْطَانَ تَعَهَّدَ أَنْ يُشَارِكَنَا فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالأَوْلَادِ

وَلِذَلِكَ قَالَ بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ

وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا عِنْدَ الْجِمَاعِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْفُرُوجُ أَنْ يَمَسَّهَا الشَّيْطَانُ

وَتُحْفَظُ الذُّرِّيَّةُ مِنْ كَيْدِ الشَّيْطَانِ

وَيُحْفَظُ الْمُسْلِمُ عِنْدَ خُرُوجِهِ مِنْ بَيْتِهِ

وَيُحْفَظُ طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ أَنْ يَمَسَّهُ الشَّيْطَانُ

وَيُمْنَعُ مِنْ مُشَارَكَتِهِ لَهُ فِي بَيْتِهِ

مَبِيتِهِ فِرَاشِهِ طَعَامِهِ شَرَابِهِ

تُحْفَظُ الْمَرَاكِبُ أَنْ يَنَالَهَا الشَّيْطَانُ

يُرْزَقُ الْمُسْلِمُ خَيْرَ زَوْجَتِهِ وَخَيْرَ دَابَّتِهِ

بِالتَّسْمِيَةِ تُحْفَظُ الْمَنَازِلُ وَالْأَوَانِي

غَطِّ الْإِنَاءَ أَوْكُوا السِّقَاءَ أَغْلِقِ الْبَابَ أَجِيْفُوا الْأَبْوَابَ

غَطُّوا الْآنِيَةَ أَوْكُوا الأَسْقِيَةَ قُولُوا بِسْمِ اللهِ

لَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللهِ شَيْءٌ

فِيهِ قِصَّةٌ لَطِيفَةٌ حَدَثَتْ لِصَحَابِيّ

يُقَالُ لَهُ أَبُو تَمِيمَةَ الْهُجَيْمِيُّ

يَقُولُ

عَمَّنْ كَانَ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ كُنْتُ رَدِيفُهُ عَلَى حِمَارٍ

فَعَثَرَ الْحِمَارُ

فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

يَعْنِي لَمَّا تَعَثَّرَ الْحِمَارُ

سَبَّ الشَّيْطَانَ الصَّحَابِيُّ هَذَا

فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

يَعْنِي سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ

سَبُّهُ مَا فِيْهِ فَائِدَةٌ

لَكِنَّ الَّذِي يَنْفَعُ

قَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ تَعِسَ الشَّيْطَانُ

تَعَاظَمَ الشَّيْطَانُ فِي نَفْسِهِ

وَقَال صَرَعْتُهُ بِقُوَّتِي

يَعْنِي الشَّيْطَانَ يَخْتَالُ

فَإِذَا قُلْتَ بِسْمِ اللهِ

تَصَاغَرَتْ إِلَيْهِ نَفْسُهُ الشَّيْطَانُ

حَتَّى يَكُونَ أَصْغَرَ مِنْ ذُبَابٍ

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ