Nasehat Dari Segelas Air

Suatu ketika al-Hasan al-Bashri diberi minuman air putih segar. Tatkala beliau memegang gelas berisi air tersebut tiba-tiba beliau pingsan. Gelas pun jatuh dari tangan beliau. 

Setelah beliau siuman ditanyakan kepada beliau:

“Ada apa wahai Abu Said?”

Jawaban beliau:

ذَكَرْتُ أُمْنِيَّةَ أَهْلِ النَّارِ حِيْنَ يَقُوْلُوْنَ لِأَهْل الْجَنَّةِ

Segelas air itu mengingatkan diriku dengan angan-angan penduduk neraka ketika mereka berkata kepada penduduk surga:

“Berikan kepada kami sedikit air atau rezki yang Allah berikan kepadamu.” (QS al-A’raf: 50)

(Ayyuhal Walad karya Abu Hamid al-Ghazali hlm 48-49, Dar al-Minhaj Jeddah)

Inilah beda orang yang benar-benar shalih dengan orang yang kayaknya shalih. Orang yang benar-benar shalih hatinya lembut, mudah mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan hal-hal sepele di sekitar dirinya. 

Lain halnya dengan orang yang kayaknya shalih, sulit mengambil pelajaran dan berdzikir ingat Allah Ta’ala dengan sebab hal-hal di sekitarnya. 

Manfaat penting membaca cuplikan kisah hidup orang shalih di masa silam adalah menghancurkan kesombongan dan perasaan sudah shalih. 

Bagi Al-Hasan al-Bashri segelas air minum sudah cukup untuk membuat beliau ingat dengan surga dan neraka, bahkan merasa takut dengan neraka. Akhirnya beliau pingsan karena hal ini. 

Coba bandingkan beliau dengan kita. Nampak sekali seberapa buruk kualitas hati kita. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.