Menutup & Mendiamkan Makanan yang Masih Panas – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Menutup & Mendiamkan Makanan yang Masih Panas – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Di antara sunah terkait makanan adalah didiamkan hingga hilang panasnya, kemudian baru dimakan.Asma’ -semoga Allah meridainya- dahulu ketika membuat bubur, ketika memasak bubur, beliau menutupnya hingga hilang uapnya, dan dia berkata bahwa Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa yang demikian itu lebih banyak berkahnya. (HR. Ibnu Hibban)

Jadi orang-orang, ketika masakannya masih panas dan mengeluarkan uap haruslah didiamkan dahulu hingga hilang panasnya,barulah kemudian berbincang-bincang untuk menikmati makanan tersebut.

==========================

مِنَ السُّنَنِ فِي الطَّعَامِ أَنْ يُتْرَكَ حَتَّى يَذْهَبَ فَوْرُهُ ثُمَّ يُؤْكَلُ

وَكَانَتْ أَسْمَاءُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا إِذَا ثَرَدَتْ

صَنَعَتْ ثَرِيدًا تُغَطِّيهِ حَتَّى يَذْهَبَ بُخَارُهُ

وَتَقُولُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَ

أَنَّهُ أَعْظَمُ بَرَكَةً – رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ

وَبَعْضُ النَّاسِ إِذَا فَارَ مِثْلُ الْبُخَارِ

لَا بُدَّ أَنْ تَتْرُكَهُ حَتَّى تَذْهَبَ فَوْرَتُهُ

ثُمَّ تَتَحَدَّثُ مَعَهُ لِتَسْتَمْتِعَ بِهِ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.