Wahai hamba Allah, intinya bukanlah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang engkau sukai, melainkan intinya adalah engkau beribadah kepada Allah dengan apa yang Allah cintai. Jadikanlah ini sebagai kaidah dalam hidupmu.
Bid’ah adalah keburukan, kerusakan, kegelapan bagi hati, dan penyakit di dalamnya, wahai hamba-hamba Allah. Bid’ah adalah sikap mengikuti hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Qashas: 50)
Hanya ada dua jalan, tidak ada jalan ketiga: mengikuti Sunnah atau melakukan bid’ah. Maksudnya, mengikuti hawa nafsu, dan mengikuti hawa nafsu adalah kesesatan yang besar. “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashas: 50)
Maka, bid’ah itu pertama-tama adalah bentuk mengikuti hawa nafsu. Yang kedua, bid’ah adalah tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tuduhan bahwa Nabi belum menyampaikan agama ini dengan penjelasan yang nyata. Artinya, ia meyakini bahwa dalam perkara baru yang diada-adakan ini, baik berupa zikir, salat, maulid, maupun perayaan, terdapat kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah, padahal beliau ‘alaihish shalatu was salam mendiamkannya, menyembunyikannya, dan tidak menjelaskannya.Ini adalah tuduhan pengkhianatan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapakah dari kalangan muslimin yang berani melakukan hal ini?
Perkara yang ketiga, dalam bid’ah terdapat tuduhan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau tidak mengetahui agama Allah, sedangkan pelaku perkara baru (pelaku bid’ah) itu mengetahuinya. Ini tidak akan berani dilakukan oleh seorang muslim. Bagaimana mungkin, sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari dan selainnya, “Aku adalah orang yang paling mengetahui Allah di antara kalian dan paling takut kepada-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dengan lafal yang semakna)
Yang paling mengetahui agama Allah adalah Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara pembuat perkara baru yang berbuat bid’ah ini seakan berkata, “Tidak. Aku mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak pernah beliau ajarkan.”
Waspadalah, wahai hamba Allah! Demi Allah, hatimu tidak akan selamat jika amal-amalmu tegak di atas bid’ah, bukan di atas Sunnah. Sebelum engkau melakukan perkara apa pun yang dengannya engkau ingin mendekatkan diri kepada Allah, berhentilah sejenak dan bertanyalah, “Apakah Rasulullah pernah melakukan hal ini?” Jika beliau melakukannya, maka katakanlah, “Aku junjung di atas kepala dan di atas mata.” Jika engkau mendapati stempel kenabian, yakni amal ini distempel dengan stempel kenabian, maka kerjakanlah tanpa ragu.
Adapun jika tidak ada stempel ini padanya, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya atau tidak pernah membimbing kepadanya, maka berhati-hatilah darinya. Karena demi Allah, hal itu tidak akan menambahkan bagimu apa pun kecuali semakin jauh dari Allah.
=====
عَبْدَ اللهِ، لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا تُحِبُّ إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ بِمَا يُحِبُّ اجْعَلْ هَذِهِ قَاعِدَةً فِي حَيَاتِكَ
الْبِدْعَةُ شَرٌّ وَفَسَادٌ وَظَلَامٌ لِلْقَلْبِ وَمَرَضٌ فِيهِ يَا عِبَادَ اللهِ الْبِدْعَةُ اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ
طَرِيقَانِ لَيْسَ لَهُمَا ثَالِثٌ، إِمَّا اتِّبَاعُ السُّنَّةِ أَوِ الْبِدْعَةُ يَعْنِي اتِّبَاعَ الْهَوَى، وَاتِّبَاعُ الْهَوَى ضَلَالٌ عَظِيمٌ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ
إِذًا الْبِدْعَةُ أَوَّلًا اتِّبَاعٌ لِلْهَوَى الْبِدْعَةُ ثَانِيًا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنَّهُ مَا بَلَّغَ الْبَلَاغَ الْمُبِينَ يَعْنِي عَلِمَ أَنَّ فِي هَذَا الْأَمْرِ الْمُحْدَثِ سَوَاءً كَانَ ذِكْرًا، صَلَاةً، مَوْلِدًا، احْتِفَالًا أَنَّ فِيهِ خَيْرًا يُقَرِّبُ إِلَى اللهِ وَسَكَتَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَكَتَمَ وَمَا بَيَّنَ وَهَذَا اتِّهَامٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِيَانَةِ مَنْ يَجْرُؤُ عَلَى هَذَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟
الْأَمْرُ الثَّالِثُ أَنَّ فِي الْبِدْعَةِ اتِّهَامًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ جَهِلَ دِينَ اللهِ وَعَلِمَهُ الْمُحْدِثُ وَهَذَا لَا يَجْرُؤُ عَلَيْهِ مُسْلِمٌ كَيْفَ وَنَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَمَا فِي الصَّحِيحِ فِي الْبُخَارِيِّ وَغَيْرِهِ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ وَأَشَدُّكُمْ لَهُ خَشْيَةً
أَعْلَمُ النَّاسِ بِدِينِ اللهِ، اللهُ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهَذَا الْمُحْدِثُ الْمُبْتَدِعُ يَقُولُ لَا، أَنَا أَعْلَمُ شَيْئًا مَا عَلِمَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَتَقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِمَا لَمْ يُحْدِثْ
حَذَارِ يَا عَبْدَ اللهِ وَاللهِ إِنَّ قَلْبَكَ لَا يَكُونُ سَلِيمًا لَوْ كَانَتْ أَعْمَالُكَ عَلَى الْبِدْعَةِ لَا عَلَى السُّنَّةِ قَبْلَ أَنْ تَفْعَلَ أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدُ أَنْ تَتَقَرَّبَ بِهِ إِلَى اللهِ قِفْ لَحْظَةً وَاسْأَلْ هَلْ فَعَلَ هَذَا رَسُولُ اللهِ؟ إِنْ فَعَلَ، فَقُلْ: عَلَى الرَّأْسِ وَعَلَى الْعَيْنِ إِنْ وَجَدْتَ خَاتَمَ النُّبُوَّةِ، هَذَا الْعَمَلُ مَخْتُومٌ بِخَاتَمِ النُّبُوَّةِ فَأَقْبِلْ عَلَيْهِ بِدُونِ تَرَدُّدٍ
أَمَّا إِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ هَذَا الْخَاتَمُ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ فَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ فَإِنَّهُ وَاللهِ لَا يَزِيدُكَ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا