Sebagian orang berkata, “Saya tahu pentingnya salat, kedudukannya yang agung dalam agama, bahwa salat adalah tiang agama Islam, dan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Namun, saya sering kalah oleh hawa nafsu sehingga tidak mampu menjaganya.” Jika ia laki-laki, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat berjamaah di masjid.” Jika perempuan, ia berkata, “Saya belum bisa menjaga salat tepat waktu.” Lalu, apa solusi dan obatnya?
Jawabannya dengan satu kalimat singkat: Jika kamu ingin menjaga salat, maka tingkatkan kepedulianmu terhadap salat. Jadikan salat sebagai prioritas utamamu. Jangan menjadikan salat sebagai kegiatan sampingan.
Jika kepedulianmu terhadap salat kuat, demi Allah, tidak ada satu salat pun yang akan terlewat darimu. Namun, jika kepedulianmu terhadap salat lemah, kamu akan merasa berat dan malas-malasan. Kadang kamu dikalahkan tidur, kadang pula tersibukkan oleh hal lain. Karena kepedulianmu lemah.
Ambillah contoh dari urusan dunia yang mendapat perhatian besar. Misalnya, kamu punya jadwal penerbangan di bandara pada waktu Salat Subuh. Apakah kamu akan terlambat dari jadwal itu dengan alasan tidurmu terlalu lelap? Apakah kamu akan bermalas-malasan? Apakah kamu akan bersantai-santai? Jawabannya: tidak. Justru kamu akan segera berangkat ke bandara, bahkan mungkin lebih berhati-hati, kamu datang ke bandara lebih awal karena khawatir tertinggal penerbangan. Mengapa demikian? Karena perhatianmu besar.
Begitu pula seorang pelajar yang akan menghadapi ujian. Ia punya ujian pada jam tertentu. Kita dapati pelajar itu, bahkan semua pelajar, datang pada waktu yang telah ditentukan. Kita tidak akan mendapati seorang pun beralasan bahwa tidurnya terlalu lelap, atau ia malas, dan alasan semacamnya. Memang, terkadang ada keadaan darurat, seperti sakit dan semisalnya. Hal seperti ini ada. Namun, kita tidak mendapati orang beralasan karena tidurnya terlalu lelap, atau karena malas dan semisalnya. Karena kepedulian terhadap ujian itu besar.
Jadi, wahai saudara-saudaraku, persoalannya adalah kepedulian. Saya ingat, ada seorang saudara bercerita kepada saya tentang seseorang yang dahulu tidak salat berjamaah di masjid. Lalu ia mendengar nasihat saya dengan makna seperti ini: bahwa ia harus meningkatkan perhatiannya terhadap salat, dan bahwa Salat Subuh jangan sampai terlewat darinya. Ia bercerita, “Orang itu pun menerapkan nasihat itu dan meningkatkan kepeduliannya terhadap Salat Subuh. Akhirnya, sekarang Salat Subuh berjamaah di masjid tidak pernah lagi terlewat darinya. Sebab, ia telah meningkatkan kepeduliannya terhadap salat itu. Salat pun menjadi prioritas utamanya, serta menjadi salah satu urusan terpenting dalam hidupnya. Dengan itu, ia menjadi orang yang menjaga salat berjamaah di masjid.
Jadi, persoalannya adalah kepedulian. Siapa yang kepeduliannya terhadap salat besar, salat tidak akan terlewat darinya. Namun, siapa yang kepeduliannya terhadap salat lemah, ia akan merasa berat dan malas. Bisa jadi ia dikalahkan hawa nafsu, tidur, dan semisalnya. Karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sungguh, salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
=====
بَعْضُ النَّاسِ يَقُولُ: أَعْرِفُ أَهَمِّيَّةَ الصَّلَاةِ
وَعَظِيمَ مَنْزِلَتِهَا فِي الدِّينِ
وَأَنَّهَا عَمُودُ دِينِ الْإِسْلَامِ وَالرُّكْنُ الثَّانِي مِنْ أَرْكَانِ الْإِسْلَامِ
لَكِنْ تَغْلِبُنِي نَفْسِي فَلَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا إِذَا كَانَ رَجُلًا يَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْمَرْأَةُ تَقُولُ: لَا أُحَافِظُ عَلَيْهَا فِي وَقْتِهَا فَمَا الْحَلُّ وَمَا الْعِلَاجُ؟
الْجَوَابُ بِجُمْلَةٍ مُخْتَصَرَةٍ إِذَا أَرَدْتَ الْمُحَافَظَةَ عَلَى الصَّلَاةِ فَارْفَعْ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا اجْعَلْهَا أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِكَ لَا تَجْعَلْهَا عَلَى الْهَامِشِ
إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِالصَّلَاةِ قَوِيًّا فَوَاللَّهِ لَنْ تَفُوتَكَ أَيُّ صَلَاةٍ أَمَّا إِذَا كَانَ اهْتِمَامُكَ بِهَا ضَعِيفًا فَسَتَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا يَغْلِبُكَ النَّوْمُ تَارَةً وَرُبَّمَا تَنْشَغِلُ تَارَةً لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ ضَعِيْفٌ
وَخُذْ مِثَالًا لِذَلِكَ بِأُمُورِ الدُّنْيَا الَّتِي يَكُونُ الِاهْتِمَامُ بِهَا كَبِيرًا كَأَنْ يَكُونَ عِنْدَكَ مَوْعِدٌ فِي الْمَطَارِ فِي وَقْتِ صَلَاةِ الْفَجْرِ هَلْ تَتَأَخَّرُ عَنْ هَذَا الْمَوْعِدِ بِحُجَّةِ أَنَّ نَوْمَكَ ثَقِيلٌ؟ هَلْ تَتَكَاسَلُ؟ هَلْ تَتَرَاخَى؟ الْجَوَابُ: لَا وَإِنَّمَا تَنْطَلِقُ لِلْمَطَارِ وَرُبَّمَا تَحْتَاطُ وَتَأْتِي لِلْمَطَارِ مُبَكِّرًا خَشْيَةَ أَنْ تَفُوتَكَ الرِّحْلَةُ لِمَاذَا؟ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَانَ كَبِيرًا
كَذَلِكَ أَيْضًا الطَّالِبُ الَّذِي عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ عِنْدَهُ اخْتِبَارٌ مُحَدَّدٌ فِي سَاعَةِ كَذَا نَجِدُ أَنَّ الطَّالِبَ بَلْ جَمِيعَ الطُّلَّابِ يَأْتُونَ فِي الْوَقْتِ الْمُحَدَّدِ وَلَمْ نَجِدْ أَنَّ أَحَدًا اعْتَذَرَ بِأَنَّ نَوْمَهُ ثَقِيلٌ أَوْ أَنَّهُ تَكَاسَلَ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ نَعَمْ، قَدْ يَكُونُ هُنَاكَ ظُرُوفٌ قَاهِرَةٌ كَمَرَضٍ مَثَلًا وَنَحْوِ ذَلِكَ هَذَا يُوجَدُ، لَكِنْ لَمْ نَجِدْ مَنْ يَعْتَذِرُ بِثِقَلِ النَّوْمِ أَوِ التَّكَاسُلِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لِأَنَّ الِاهْتِمَامَ كَبِيرٌ
فَالْمَسْأَلَةُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هِيَ مَسْأَلَةُ الِاهْتِمَامِ أَذْكُرُ أَنَّ أَحَدَ الْإِخْوَةِ نَقَلَ لِي عَنْ شَخْصٍ كَانَ لَا يُصَلِّي مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَ مِنِّي كَلِمَةً بِهَذَا الْمَعْنَى بِأَنْ يَرْفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِالصَّلَاةِ وَأَنَّ صَلَاةَ الْفَجْرِ لَنْ تَفُوتَهُ يَقُولُ: وَطَبَّقَ هَذِهِ الْفِكْرَةَ فَرَفَعَ مُسْتَوَى اهْتِمَامِهِ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ فَأَصْبَحَ الْآنَ لَا تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْفَجْرِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ أَبَدًا لِأَنَّهُ رَفَعَ مُسْتَوَى الِاهْتِمَامِ بِهَا وَأَصْبَحَتِ الصَّلَاةُ أَوَّلَ اهْتِمَامَاتِهِ وَأَصْبَحَتْ مِنْ أُمُورِهِ الْأَسَاسِيَّةِ فِي الْحَيَاةِ فَبِذَلِكَ أَصْبَحَ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فِي الْمَسْجِدِ
الْمَسْأَلَةُ إِذًا هِيَ مَسْأَلَةُ اهْتِمَامٍ مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ كَبِيرًا فَلَنْ تَفُوتَهُ الصَّلَاةُ أَبَدًا أَمَّا مَنْ كَانَ اهْتِمَامُهُ بِالصَّلَاةِ ضَعِيفًا فَسَيَجِدُ ثِقَلًا وَتَكَاسُلًا وَرُبَّمَا تَغْلِبُهُ نَفْسُهُ وَيَغْلِبُهُ النَّوْمُ وَنَحْوُ ذَلِكَ وَلِهَذَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ