Amalan paling utama di bulan Ramadan setelah amalan wajib dan puasa itu sendiri, adalah amalan-amalan yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Amalan pertama, yang tidak diragukan lagi keutamaannya, adalah Salat Malam (Qiyamul Lail/Tarawih). Terkait amalan ini, terdapat dua hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertama, bahwa barang siapa yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan, maka akan diampuni seluruh dosanya. Bahkan dikatakan, orang yang mengerjakan Salat Malam di bulan Ramadan akan diampuni dosanya dua kali.
Sebab, pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Lalu, kedua, dalam sabda lainnya, beliau bersabda: “Barang siapa mendirikan Salat Malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Ini menunjukkan kepada kita bahwa di antara amalan utama yang paling penting pada bulan ini adalah Salat Malam dan mengisi waktu malamnya dengan ibadah. Oleh karena itu, dulu para ulama bersungguh-sungguh untuk mendirikan Salat Malam. Seolah-olah hal itu sudah menjadi ketetapan bagi mereka, bahkan mereka mengkaji tata cara manakah yang paling utama dalam Salat Malam.
Ketika Umar bin Khattab melakukan hal itu, apa yang beliau katakan? Beliau berkata: “Orang yang mengerjakannya di akhir malam itu lebih utama.” Beliau memandang adanya kemaslahatan bagi orang banyak untuk meraih sunnah ini dengan mengerjakannya di awal malam. Namun, bagi siapa pun yang mendirikannya di akhir malam, maka itu jauh lebih utama.
Ubay bin Ka’ab ingin menggabungkan dua keutamaan tersebut; beliau shalat bersama jamaah di awal malam, lalu ketika memasuki tiga rakaat terakhir, beliau keluar dan tidak mengikuti Salat Witir bersama mereka. Kemudian beliau melaksanakan Salat Witir sendirian di rumahnya (di akhir malam). Beliau melebihkan amalannya, demi meraih amalan yang paling utama, dan mendahulukannya di atas amalan yang sekadar afdal, yaitu ikut Salat Witir tiga rakaat bersama orang banyak (di awal malam).
=====
أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ الَّتِي تُفْعَلُ فِي رَمَضَانَ بَعْدَ الْوَاجِبَاتِ بَعْدَ الصِّيَامِ أُمُورٌ وَرَدَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَوَّلُ هَذِهِ الْأُمُورِ أَنَّ أَفْضَلَ مَا يُفْعَلُ فِيهِ لَا شَكَّ هُوَ قِيَامُ اللَّيْلِ وَلِذَا وَرَدَ حَدِيثَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ ذَنْبُهُ كُلُّهُ حَتَّى قِيلَ إِنَّ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ سَيُغْفَرُ لَهُ الذَّنْبُ مَرَّتَيْنِ
فَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَفِي الثَّانِيَةِ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ مِنْ أَهَمِّ الْأَعْمَالِ الْفَاضِلَةِ فِي هَذَا الشَّهْرِ هُوَ رَمَضَانُ هُوَ قِيَامُهُ وَإِحْيَاءُ لَيْلِهِ وَلِذَا كَانَ الْعُلَمَاءُ يَجْتَهِدُونَ فِي الْقِيَامِ وَكَأَنَّهُ مُسَلَّمٌ عِنْدَهُمْ بَلْ يَجْتَهِدُونَ مَا هِيَ صِفَةٌ أَفْضَلُ فِي الْقِيَامِ
لَمَّا فَعَلَ ذَلِكَ عُمَرُ مَاذَا قَالَ قَالَ وَالَّذِي يُصَلِّيهَا فِي آخِرِ اللَّيْلِ أَفْضَلُ فَهُوَ نَظَرَ أَنَّ الْمَصْلَحَةَ لِلْعُمُومِ فِي إِدْرَاكِ هَذِهِ السُّنَّةِ أَنْ يُصَلُّوهَا فِي أَوَّلِهَا لَكِنْ مَنْ صَلَّاهَا فِي آخِرِهَا فَكَانَ أَفْضَلَ
أُبَيٌّ أَرَادَ الْجَمْعَ فَكَانَ يُصَلِّي مَعَهُمْ فَإِذَا حَضَرَتِ الثَّلَاثُ الرَّكَعَاتِ الْأَخِيرَةِ خَرَجَ وَلَمْ يُصَلِّ بِهِمُ الْوِتْرَ ثُمَّ صَلَّاهَا فِي بَيْتِهِ وَحْدَهُ فَزَادَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ بَابِ تَحْقِيقِ الْأَفْضَلِ وَتَقْدِيمِهِ عَلَى الْفَاضِلِ وَهُوَ إِدْرَاكُ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ الثَّلَاثِ مَعَ عُمُومِ النَّاسِ