Tauhid merupakan tujuan utama Allah dalam mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus para rasul kepada kaum-kaum yang sebenarnya sudah mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pengatur alam semesta ini.
“Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zukhruf: 87). “Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’” (QS. Az-Zumar: 38).
Masalah utama mereka sebenarnya adalah penyimpangan dalam akidah. Mereka menetapkan perantara di antara mereka dengan Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa berhala, kuburan, maupun perantara lainnya. Mereka mengatakan, “Para perantara ini dapat lebih mendekatkan kami kepada Allah.” “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3).
Maka Allah mengutus para rasul untuk menjelaskan kepada umat-umat tersebut mengenai besarnya kesalahan penyimpangan ini, serta menegaskan bahwa kewajiban manusia adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung, tanpa perlu membuat perantara apa pun antara dirinya dengan Sang Pencipta.
Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, diutus menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan beliau wafat pada usia 63 tahun. Artinya, masa kenabian dan risalah beliau berlangsung selama 23 tahun saja. Beliau menghabiskan 13 tahun di antaranya di kota Makkah, untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan agama semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla. Barulah setelah beliau berhijrah ke Madinah, selama 10 tahun sisanya, beliau menyeru manusia untuk menjalankan syariat-syariat Islam lainnya.
Perhatikanlah betapa agungnya kedudukan tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencurahkan 13 tahun dari total 23 tahun masa dakwahnya khusus untuk mengajak manusia mewujudkan tauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, sepatutnya kita mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seluruh rasul lainnya, dalam memberikan perhatian besar terhadap pemurnian tauhid dan ketaatan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab jika seseorang wafat dalam keadaan bertauhid, maka ia berada dalam kebaikan dan akan menuju kebaikan.
Bahkan jika ia termasuk pelaku dosa besar, lalu masuk dan diazab di dalam neraka, pada akhirnya tempat kembalinya tetaplah ke surga. Keyakinan Ahlussunnah wal jamaah menegaskan bahwa pelaku dosa besar yang wafat dalam keadaan bertauhid, apabila mereka masuk neraka, mereka tidak akan kekal di dalamnya. Namun mereka akan dikeluarkan dari neraka berkat rahmat Allah Yang Maha Pengasih, lalu mereka masuk ke dalam surga. Jadi, siapa pun yang wafat di atas ketauhidan, akhir perjalanannya adalah surga, meski mungkin harus diazab di neraka terlebih dahulu.
Musibah yang sebenarnya adalah bagi mereka yang wafat dalam keadaan musyrik, karena Allah telah mengharamkan surga baginya. “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka…” (QS. Al-Maidah: 72). “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa: 116).
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (QS. An-Nisa: 48).
=====
التَّوْحِيدُ هُوَ الَّذِي لِأَجْلِهِ أَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ وَأَنْزَلَ الْكُتُبَ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَرْسَلَ الرُّسُلَ إِلَى أَقْوَامٍ مُقِرِّيْنَ بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْخَالِقُ الرَّازِقُ الْمُدَبِّرُ لِهَذَا الْكَوْنِ
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
الْمُشْكِلَةُ عِنْدَهُمْ انْحِرَافٌ فِي الْعَقِيدَةِ جَعَلُوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَسَائِطَ مِنْ أَصْنَامٍ أَوْ مِنْ قُبُورٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ وَقَالُوا هَذِهِ الْوَسَائِطُ تُقَرِّبُنَا إلَى اللَّهِ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ
فَأَرْسَلَ اللَّهُ الرُّسُلَ لِتُبَيِّنَ لِهَذِهِ الْأُمَمِ خَطَأَ هَذَا الِانْحِرَافِ وَأَنَّ الْوَاجِبَ عَلَى الْإِنْسَانِ أَنْ يَعْبُدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُبَاشَرَةً مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ وَسَائِطَ
وَنَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثَ وَعُمْرُهُ أَرْبَعُونَ وَمَاتَ وَعُمْرُهُ ثَلَاثٌ وَسِتُّونَ أَيْ أَنَّهُ بَقِيَ فِي الْبِعْثَةِ وَالرِّسَالَةِ ثَلَاثًا وَعِشْرِينَ سَنَةً فَقَط أَمْضَى مِنْهَا ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً فِي مَكَّةَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فِي الْعَشْرِ السَّنَوَاتِ الْمُتَبَقِّيَةِ دَعَا النَّاسَ إلَى بَقِيَّةِ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ
فَانْظُرُوا إِلَى عَظِيمِ شَأْنِ التَّوْحِيد بَقِيَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً مِنْ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ يَدْعُو النَّاسَ إِلَى تَحْقِيْقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
فَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَقْتَدِيَ بِرَسُولِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِالرُّسُلِ جَمِيعًا فِي الْعِنَايَةِ بِتَحْقِيقِ التَّوْحِيدِ وَإِخْلَاصِ الدِّينِ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالْإِنْسَانُ إِذَا مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَهُوَ عَلَى خَيْرٍ وَإِلَى خَيْرٍ
حَتَّى وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ وَدَخَل النَّارَ وَعُذِّبَ فِي النَّارِ فَإِنَّ مَآلَهُ يَكُونُ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَى الْجَنَّةِ وَمُعْتَقَدُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَنَّ مَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ مِنْ أَهْلِ الْكَبَائِرِ إِذَا دَخَلُوا النَّارَ لَا يُخَلَّدُونَ فِيهَا بَلْ يُخْرَجُونَ مِنْهَا بِرَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ وَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَمَنْ مَاتَ عَلَى التَّوْحِيدِ فَمَآلُهُ لِلْجَنَّةِ حَتَّى وَإِنْ عُذِّبَ فِي النَّارِ
وَإِنَّمَا الْمُصِيبَةُ فِي مَنْ مَاتَ عَلَى الشِّرْكِ فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا