3 Kelompok Manusia yang Tidak Allah Terima Shalat Mereka – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

3 Kelompok Manusia yang Tidak Allah Terima Shalat Mereka – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا مَرْفُوعًا ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلَاةً

Hadis dari Ibnu Umar -radhiallahu ‘anhuma- secara marfu’, “Ada 3 kelompok manusia yang tidak Allah terima shalat mereka: …

مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Pertama: Orang yang mengimami suatu kaum (sekelompok orang) namun mereka membenci dia, …

وَرَجُلٌ أَتَى الصَّلَاةَ دِبَارًا

Kedua: Orang yang melaksanakan shalat setelah terlewat waktunya, …

وَرَجُلٌ اعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ

Ketiga: Seseorang yang memperbudak orang yang telah dia merdekakan.”

رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالطَّبْرَنِيُّ بِسَنَدٍ جَيِّدٍ

Hadis ini diriwayatkan Abu Daud dan Thabrani dengan sanad yang bagus.

ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُمْ صَلَاةً هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ مَنْ هُمْ؟

Tiga kelompok orang yang tidak akan Allah terima shalat mereka, ini adalah ancaman yang keras, siapa saja mereka?

الْأَوَّلُ مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ يَكْرَهُونَهُ بِحَقٍّ

Golongan pertama, orang yang mengimami suatu kaum (sekelompok orang) namun mereka membencinya, membenci dengan alasan yang benar secara syar’i.

أَمَّا إِنْ كَانُوا يَكْرَهُونَهُ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْوَعِيدِ

Adapun apabila mereka membenci dia tanpa alasan yang benar secara syar’i, maka tidak termasuk dalam ancaman ini,

بَلْ يَكْرَهُونَهُ مِنْ بَابِ الْهَوَاءِ وَانْتِوَاءِ التَّفَرُّغَاتِ

bahkan mereka membencinya atas dasar hawa nafsu saja dan bermaksud menyingkirkannya.

النَّاسَ لَا يُرْضِيهُمْ أَحَدٌ

Tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan keridhaan semua orang.

فَهَذَا لَا يَدْخُلُ فِي الْحَدِيثِ إِنَّمَا إِذَا كَانُوا يَكْرَهُونَهُ لِحَقٍّ

Yang seperti ini tidak termasuk dalam hadis ini. Hanya yang membencinya karena kebenaran secara syar’i saja yang termasuk dalam hadis tersebut,

لِكَوْنِهِ شَيْئًا فِي دِينِهِ أَوْ شَيْئًا فِي أَمَانَتِهِ فَيَكْرَهُونَهُ

misalnya karena dia bermasalah dalam hal agama dan amanahnya sehingga mereka membencinya,

فَهَذَا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ

inilah yang tidak diterima shalatnya, tidak akan diterima shalatnya.

وَجَاءَ فِي الْحَدِيثِ أَنَّهُ لَا تَتَجَاوَزُ صَلَاتُهُ رَأْسَهُ لَا تَرْتَفِعُ إِلَى السَّمَاءِ

Dan dalam hadis lain disebutkan bahwa shalatnya tidak akan naik melebihi kepalanya, tidak akan diangkat ke langit.

هَذَا إِذَا كَانُوا يَكْرَهُونَهُ بِحَقٍّ لِكَوْنِهِ عَلَى مَذْهَبٍ بَاطِلٍ أَوْ عَقِيدَةٍ فَاسِدَةٍ

Ini apabila mereka membenci dia karena alasan yang benar; karena dia berpegang pada mazhab yang keliru atau akidah yang rusak,

أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ لَكِنِ اسْتَوْلَى عَلَى الْمَسْجِدِ بِقُوَّةِ السُّلْطَانِ وَ بِقُوَّةٍ

atau karena hal lain, namun dia menguasai masjid karena wewenang dari penguasa dan dengan paksaan,

فَإِنَّهُ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ وَلَوْ صَلَّى بِهِمْ

maka sungguh tidak akan diterima shalatnya walaupun dia shalat mengimami mereka.

الثَّانِي نَعَمْ مَنْ… أَتَى الصَّلَاةَ دِبَارًا… مَنْ لَا… مَنْ… يَأْتِي الصَّلَاةَ دِبَارًا

Golongan kedua, baiklah, orang yang mengerjakan shalat setelah terlewat waktunya, yaitu orang yang mengerjakan shalat setelah habis waktunya.

يَعْنِي يَتَأَخَّرُ تَأَخَّرَ عَنِ الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ حَتَّى تَفُوتَهُ

Yakni dia terlambat, tertinggal dari shalat berjamaah hingga selesai shalatnya,

أَوْ يَتَأَخَّرُ عَنِ الصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا حَتَّى يَخْرُجَ وَقْتُهَا

atau dia terlambat mengerjakan shalat pada waktunya hingga keluar dari waktunya,

فَهَذَا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ لِأَنَّهُ صَلَّاهَا فِي غَيْرِ وَقْتِهَا

maka orang ini tidak akan diterima shalatnya tersebut karena dia shalat di luar waktunya,

أَوْ أَنَّهُ تَأَخَّرَ عَنِ الجَمَاعَةِ بِغَيْرِ عُذْرٍ هَذَا أَيْضًا لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ

atau karena dia melewatkan shalat jamaah tanpa alasan, orang ini juga tidak diterima shalatnya.

هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ وَإِنْ كَانَ لَا يُأْمَرُ بِالْإِعَادَةِ لَكِنَّ هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ عَلَيْهِ

Ini adalah ancaman yang keras walaupun dia tidak diperintahkan untuk mengulang shalatnya, namun ini adalah ancaman keras baginya.

الثَّالِثُ مَنِ اسْتِعْبَدَ حُرًّا

Golongan ketiga adalah orang yang memperbudak orang merdeka.

إِنْسَانٌ الْأَصْلُ فِي الْمُسْلِمِ الْأَصْلُ فِي الْإِنْسَانِ أَيًّا كَانَ الْأَصْلُ فِي الْآدَمِيِّيْنَ الْحُرِّيَّةُ

Semua manusia, hukum asalnya, seorang muslim dan juga semua manusia siapa pun itu, hukum asalnya semua manusia adalah orang yang merdeka.

وَلَا يَثْبُتُ عَلَيْهِ الرِّقُّ إِلَّا بِحُكْمٍ شَرْعِيٍّ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَا سَبَقَ

Dan tidaklah sah perbudakan itu kecuali berdasarkan hukum syar’i yaitu dengan cara perang di jalan Allah (jihad yang syar’i), sebagaimana telah lalu pembahasannya,

فَالَّذِينَ يَغْصِبُونَ الْأَحْرَارَ يَنْهَبُونَهُمْ وَهُمْ صِغَارٌ يَسْتَرِقُونَهُمْ وَيَبِيعُونَهُمْ

Adapun orang yang menangkap orang-orang merdeka dan menculik anak-anak untuk dijadikan budak dan dijual,

هَؤُلَاءِ لَا تُقْبَلُ صَلَاتُهُ وَإِنْ صَلَّوا

mereka ini tidak akan diterima shalat mereka walaupun mereka mengerjakan shalat.

أَوْ أَنَّ عِنْدَهُ عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ أَنَّ عِنْدَهُ عَبْدًا مَمْلُوكًا يُعْتِقُهُ ثُمَّ يَجْحَدُ عِتْقَهُ

Atau ketika seseorang memiliki budak, kemudian dia bebaskan budak tersebut namun kemudian dia tidak mengakui kebebasannya.

وَيَسْتَخْدِمُهُ عَلَى أَنَّهُ رَقِيقٌ هَذَا اسْتَعْبَدَ حُرًّا

Dia masih saja memperbudaknya seolah-olah dia masih berstatus budak, seperti ini juga bentuk memperbudak orang merdeka.

الْوَاجِبُ أَنْ يُعْلِنَ الْوَاجِبُ أَنْ يُعْلِنَ أَنَّهُ أَعْتَقَهُ وَلَا يَجْحَدُ

Maka seseorang wajib untuk mengumumkan, dia harus mengumumkan bahwa dia telah memerdekakan budaknya dan tidak mengingkarinya.

وَلَا يَجْحَدُ ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَسْتَعْبِدَهُ نَعَمْ

Dia tidak boleh mengingkarinya karena ingin terus memperbudaknya. Demikian..

وَهَذَا مَحَلُّ الشَّاهِدِ مِنَ الْحَدِيثِ اِسْتَعْبَدَ حُرًّا

Dan inilah sisi pendalilan dari hadis tersebut, orang yang memperbudak orang merdeka,

هَذَا مِنَ الظُّلْمِ فِي الْأَبدَانِ نَعَمْ

ini adalah bentuk kezaliman terhadap badan seseorang. Demikian..

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعًا

Dan dari Abu Umamah -radhiallahu ‘anhu- secara marfu’,

مَنْ جَرَّدَ ظَهْرَ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Barang siapa membuka dan mencambuk punggung seorang muslim tanpa alasan yang benar, …

لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ- رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ

…dia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” (HR. Thabrani)

مَنْ جَرَّدَ ظَهْرَ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Barang siapa membuka dan mencambuk punggung seorang muslim tanpa alasan yang benar,…”

يَعْنِي كَشَفَ ظَهْرَهُ لِيَضْرِبَهُ بِغَيْرِ حَقٍّ

maksudnya menyingkap pakaiannya untuk dipukul punggungnya, tanpa alasan yang benar,

يَجْلِدُهُ بِغَيْرِ حَقٍّ وَكَشَفَ ظَهْرَهُ لِيَشْتَدَّ لِيَشْتَدَّ عَلَيْهِ الْأَلَمُ

dia mencambuknya tanpa asalan yang benar secara syar’i, dia menyingkap punggungnya untuk menambah dan memperparah rasa sakitnya.

لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ هَذَا وَعِيدٌ شَدِيدٌ

“Dia akan menemui Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya.” Ini merupakan ancaman yang keras.

دَلَّ هَذَا دَلَّ عَلَى أَنَّ الَّذِي يَظْلِمُ النَّاسَ فِي أَبْدَانِهِمْ بِالضَّرْبِ

Hadis ini menerangkan bahwa orang yang menzalimi orang lain pada badannya dengan pukulan,

الَّذِي يَظْلِمُ النَّاسَ فِي أَبْدَانِهِمْ بِالضَّرْبِ أَنَّ اللهَ يَغْضَبُ عَلَيْهِ

orang yang menzalimi badan orang lain dengan pukulan, sungguh Allah akan murka kepadanya.

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذَا كَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ نَعَمْ

Dan ini juga menunjukkan bahwa perbuatan zalim ini merupakan salah satu dari dosa besar. Demikian..

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.