Sepotong Cerita Tentang Kiswah Ka’bah Sedari pertama kali memandang, aura kesucian dan keindahan telah nampak, menarik hati untuk melihatnya di rumah Allah yang Maha Tahu segala yang gaib. Tiga ratus enam puluh lima hari dihabiskan untuk membuat maha karya yang indah nan suci ini. Di kompleks produksi Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah yang Mulia …
Rahasia Doa yang Mungkin Anda Lupa – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama
Segala puji hanya bagi Allah. Terkadang, seseorang yang berdoa kepada Allah meminta sesuatu, pikirannya hanya fokus dengan permintaannya tersebut, apakah dikabulkan? Tidak dikabulkan? Ditunda?
Dan bisa jadi dia lupa bahwa sesungguhnya amalan doa itu sendiri, yang dia amalkan memiliki pahala yang teramat besar,
bahkan bisa jadi lebih besar dari pada sekedar permintaan yang dia minta, karena doa adalah bentuk permintaan tolong kepada Allah, perasaan butuh pada-Nya, menampakkan kebutuhannya dan pengesaan terhadap Allah.
Oleh sebab itu, pahala doa akan dia dapatkan walaupun mungkin permintaannya tidak dikabulkan.
Penuntut Ilmu yang Sombong Dapat Apa? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Penghalang pertama dalam mendapatkan ilmu adalah ketika seseorang sombong dalam menuntutnya. Terdapat hadis sahih dalam Sahih Bukhari, dari Mujahid bin Jabr, murid Ibnu Abbas -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa Mujahid berkata: “Pemalu dan orang yang sombong tidak akan pernah mendapatkan ilmu.” Barang siapa …
Kenapa Terkadang Para Ulama Memilih Diam? – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama
Diam itu sebenarnya adalah salah satu cara untuk menyampaikan ilmu dan mengarahkannya. Oleh sebab itu telah ditetapkan dalam kaidah usul yang darinya atau dengannya sebuah hukum bisa diambil, dan juga bisa dijadikan dalil dalam perkataan kita sehari-hari, yaitu diam ketika dituntut untuk menjelaskan adalah sebuah penjelasan.
Berdasarkan hal tersebut, maka diamnya orang berilmu dalam beberapa kondisi dan keengganannya untuk berkata dalam keadaan tertentu sebenarnya sudah menjadi penjelasan dan keterangan.
Ada riwayat dari sebagian salaf seperti Ibrahim bin Adham dan Muhammad bi ‘Ajlan dan selain mereka, bahwa mereka berkata,Orang yang paling menyulitkan setan adalah orang berilmu, karena ketika dia berkata maka dia berkata dengan ilmu, dan apabila dia diam maka dia diam dengan ilmu. Dan dalam redaksi lain, “Diam dengan kelembutan.”
Sehingga diamnya orang berilmu itu banyak sekali faedahnya, namun itu hanya dalam beberapa keadaan yang telah disebutkan oleh para ulama bahwa diam pada keadaan itu akan membawa manfaat.
Pembahasan ini sangat panjang namun akan saya sampaikan beberapa saja yang disebutkan oleh para ulama tentang sebab-sebab diamnya orang berilmu.
PERTAMA:
Dan di antara sebabnya, para ulama berkata, “Seorang yang berilmu, bisa jadi, tidak menjawab pertanyaan bertujuan untuk mendidik muridnya atau dia tidak suka dengan pertanyaan yang disampaikan oleh muridnya.”
Oleh sebab itu, konon katanya, Abu Salamah bin Abdurrahman terhalang untuk mendapatkan ilmu yang banyak, sebagaimana dikabarkan oleh Abu Umar bin Abdul Barr -semoga Allah merahmati beliau-
Dan beliau dinasehati, “Seandainya kau bisa berlemah lembut dengan Ibnu Abbas sungguh kau akan mendapatkan ilmu yang banyak darinya.”
Ibnu Abdil Barr berkata bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman dahulu sering mendebat Ibnu Abbas.
Maka Ibnu Abbas, dengan maksud untuk mengajari adab kepada Abu Salamah, beliau tidak mau menjawab pertanyaannya dan tidak mau memberi apa yang dia inginkan, dan oleh sebab itulah dia kehilangan banyak sekali ilmu.
KEDUA:
Dan di antara sebab diamnya orang berilmu, bahwa dia wajib diam ketika tidak yakin mana pendapat yang benar, atau tidak jelas baginya suatu permasalahan.
Bahkan sungguh seseorang ketika semakin banyak ilmunya dan semakin kuat penguasaan ilmunya maka dia akan semakin banyak diam dan tidak berbicara,
sehingga dia fokus dalam berfatwa dan berijtihad.
Oleh sebab itu, Imam Malik -semoga Allah merahmati beliau- pernah ditanya sekitar enam puluh pertanyaan dan beliau menjawab lebih dari lima puluh pertanyaan dengan jawaban, “Aku tidak tahu!”
Dan sebagian salaf berkata, “Orang yang berilmu apabila enggan berkata ‘Aku tidak tahu.’ pasti dia akan binasa.”
KETIGA:
Dan sebab lainnya, sebagaimana disebutkan oleh para ulama, bahkan mereka mengarang kitab-kitab khusus membahas masalah ini, bahwa diam dalam beberapa keadaan akan menjadi sebab keselamatan dari fitnah.
Dan Syeikh Imam bin Albanna -semoga Allah merahmati beliau- telah menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “al-Ghunyah fii as-Sukuut”
Dalam kitab ini beliau menjelaskan bahwa seorang yang berilmu harus diam dalam beberapa kondisi dengan syarat-syarat yang sudah diketahui oleh para ulama dan telah dibatasi dengan batasan-batasan tertentu.
Dan saya tutup perkataan saya dan semua pembahasan ini dengan sebuah riwayat yang datang dari Yazid bin Abi Habib -semoga Allah merahmati beliau- bahwa beliau berkata,
“Sesungguhnya fitnah bagi orang yang berilmu muncul ketika dia lebih suka berbicara daripada diam dan lebih suka berbicara daripada mendengarkan.”
Berdasarkan hal ini, apabila keadaan seseorang adalah kebalikannya, maka sungguh dia telah diberi taufik menuju sebuah jalan yang dengan ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla akan menjadi sebab menuju sebuah tujuan
dari menuntut ilmu, yaitu mengajari ilmu pada manusia dan menunjukkan kebaikan kepada mereka.
Syeikh Shalih al-Fauzan pernah berkata, -semoga Allah menjaga beliau-, dan beliau adalah salah satu gunung dari gunung-gunung ilmu, (pembawa) kebenaran dan sunnah pada zaman ini. Semoga Allah menjaga beliau dan memberikan umat Islam manfaat dari ilmu beliau.
Beliau berkata, “Bermazhab dengan salah satu mazhab dari empat mahzab, yaitu empat mazhab Ahlu Sunah wal Jamaah yang sudah dikenal, yang masih ada, terjaga dan terhimpun mazhabnya di tengah kaum muslimin, dan menisbatkan diri kepada salah satunya tidaklah mengapa, sehingga seseorang disebut Syafi’i, fulan adalah Hambali, fulan adalah Hanafi atau fulan adalah Maliki. Dan penyebutan seperti ini masih ada dan telah ada sejak zaman dahulu di kalangan para ulama bahkan ulama-ulama besar, sehingga disebut fulan Hambali, misalnya Ibnu Taimiyah al-Hambali dan Ibnul Qayyim al-Hambali.”
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pada awal mulanya beliau bermazhab Hambali dalam masalah ushul dan furu’, dalam masalah-masalah pokok dan cabang-cabangnya. Kemudian beliau mulai berijtihad dengan memilih pendapat-pendapat para ulama dengan tetap berpegang pada kaidah-kaidah Imam Ahmad karena menurut beliau lebih dekat dengan sunah.
Oleh sebab itulah sebagian ulama menisbatkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan karya-karya beliau kepada mazhab Hambali dan demikian pula Ibnul Qayyim. Dan yang semisalnya.” Ini adalah perkataan syeikh Shalih, “Dan yang demikian itu tidak masalah dan sekedar menisbatkan diri kepada suatu mazhab tidaklah mengapa. Namun dengan syarat bahwa dia tidak taklid pada mazhab ini sehingga dia mengambil semua dalam mazhab tersebut baik yang benar ataupun yang salah, baik yang tepat ataupun yang keliru. Dan seharusnya dia mengambil pendapat yang benar saja dan pendapat yang telah dia ketahui bahwa itu salah tidak boleh diamalkan. Maka ketika sudah jelas baginya pendapat yang benar, dia harus mengambil pendapat itu, baik pendapat itu berasal dari mazhab yang dia menisbatkan dirinya kepadanya atau berasal dari mazhab lain, …” demikian Syeikh berkata.
Bagi siapa saja yang telah jelas baginya sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain. Sehingga yang boleh diikuti secara mutlak hanyalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…
Kita mengikuti suatu mazhab selama tidak menyelisihi perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…
Apabila ada pendapat yang menyelisihi perkataan beliau maka ini adalah kesalahan dari seorang mujtahid dan wajib bagi kita untuk meninggalkannya dan mengikuti sunah dan mengambil pendapat yang kuat yang bersesuaian dengan sunah dari pendapat-pendapat para mujtahid dari mazhab apapun mereka…
Adapun orang yang mengikuti pendapat seorang imam secara mutlak, baik pendapat itu salah ataupun benar maka ini namanya adalah taklid buta.”
Kisah Ajaib Awan Berbicara dengan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani – Syaikh Shalih al-Ushoimi Tanpa ilmu akan muncul fitnah, oleh sebab itu, dalam salah satu kisah cerita Abdul Qadir al-Jailani, kalian tahu siapa Abdul Qadir al-Jailani? Siapakah beliau? Beliau adalah orang alim dari kalangan ulama mazhab Hambali yang nasabnya bersambung dengan anak keturunan Abu Bakar ash-Shiddiq. …