Jadilah Kamu Seorang Keluarga Al-Quran – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Dan tidak diragukan lagi bahwa perkataan ini menjadi mulia karena kadar kemuliaan apa yang dibicarakan, yaitu perkataan Allah ‘azza wa jalla, dan terdapat riwayat dalam beberapa tambahan redaksi hadis yang tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda;

Dan sesungguhnya keutamaan perkataan Allah ‘azza wa jalla atas semua perkataan adalah seperti keutamaan Allah ‘azza wa jalla atas seluruh makhluknya.” (HR. Ad-Darimi)

Dan oleh sebab itu imam at-Tirmizi meriwayatkan sebuah hadis dari al-Haris al-A’war dari Ali -semoga Allah meridainya- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Kitab Allah di dalamnya terdapat kabar orang-orang sebelum kalian, berita orang-orang setelah kalian, dan penetapan hukum untuk kalian, dan al-Qur’an itu serius dan bukan senda gurau, barang siapa meninggalkannya karena kesombongan niscaya Allah akan membinasakannya, tidak akan pernah habis keajaibannya dan tidak akan usang karena seringnya diulang-ulang.”

Al-Qur’an yang agung ini sungguh mengagumkan perkaranya dan mulia kedudukannya, oleh sebab itu sungguh barang siapa yang menghafalkannya dan mendapatkan bagian darinya niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memberikan dia ganjaran yang besar dan dan menempatkan dia pada kedudukan yang tinggi.

Dan di antara hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal ini, dan ada banyak hadis, adalah hadis sahih dalam Sahih Muslim dari Usman bin Affan -semoga Allah meridai beliau-bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Ini adalah kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi bukti yang nyata, jelas dan pasti bahwa manusia yang paling baik secara mutlak dan yang paling mulia tanpa ada seorangpun yang bisa mendekati ketinggian derajatnya adalah orang yang mengemban al-Qur’an yang agung ini, mengetahui hak-haknya, menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah Allah ‘azza wa jalla perintahkan dan menjauhi larangan-larangan-Nya yang ada di dalamnya.

Dan sungguh orang yang mengemban al-Qur’an disifati dengan status yang lebih agung dari itu, dan status yang lebih agung daripada status sebagai manusia yang paling baik adalah disematkannya status yang lebih agung bahwa seorang yang telah menghafal al-Qur’an dan mengembannya adalah “keluarga Allah” dan orang khusus di sisi-Nya. Dan oleh sebab itu, telah sahih hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan sanadnya tidak bermasalah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keluarga (ahli) al-Qur’an itu adalah keluarga Allah dan orang khusus di sisi-Nya.”

Dan penyandaran ini adalah bentuk pemuliaan yang dengannya dia mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan berupa pahala yang besar di sisi-Nya ‘azza wa ‘ala dan juga kedudukan yang tinggi lagi mulia di sisi-Nya subhanahu wa ta’ala, oleh sebab itu, telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada para pembaca al-Qur’an; ‘Bacalah dengan tartil!’…”

Dan dalam riwayat yang tidak sahih, “Bacalah dan naikilah tangga tersebut!” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

“(Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil) sebagaimana dahulu kau membacanya dengan tartil di dunia, karena kedudukanmu di surga adalah pada akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Dawud dan selain beliau)

Maka, semakin banyak seseorang menghafal al-Qur’an, hal itu semakin menunjukkan bahwa di semakin dekat dengan Allah jalla wa ‘ala, semakin tinggi derajatnya di surga dan semakin mulia kedudukannya.

Keluarga (ahli) al-Qur’an telah membawa kemuliaan yang agung dan mendapat keutamaan yang banyak dan oleh sebab itu telah sahih hadis dari Abdullah bin Amru bin al-Ash -semoga Allah meridai mereka berdua- bahwa beliau berkata:

Barang siapa yang telah menghafal keseluruhan al-Qur’an, sungguh dia telah mengemban perkara yang agung karena telah diletakkan di antara kedua bahunya risalah kenabian, meskipun dia tidak pernah menerima wahyu.” (HR. Al-Hakim)

Wahai saudaraku, ini hanya sedikit dan setetes saja dari melimpah ruahnya kebaikan yang telah Allah berikan kepada para keluarga (ahli) al-Qur’an. Akan tetapi, perlu kita ketahui, sebelum kita membahas bagaimana sifat-sifat seorang keluarga (ahli) al-Qur’an, bahwa tidak setiap orang yang menghafal al-Qur’an, tidak semua orang yang membaca ayat-ayatnya dan mempelajari surat-surat di dalamnya pasti mendapatkan keutamaan yang agung ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita bahwa sikap manusia terhadap al-Qur’an terbagi menjadi tiga kelompok:

Dua kelompok berlebihan dan satu kelompok pertengahan; (1) Kelompok yang berlebihan, (2) Kelompok yang menyepelekan, dan (3) Kelompok pengemban al-Quran yang tidak berlebihan dan tidak menyepelekan.

Telah sahih dalam Sunan Abi Daud sebuah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari -semoga Allah meridai beliau- bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya diantara bentuk pemuliaan dari Allah jalla wa ‘ala adalah Dia memuliakan orang yang beruban, memuliakan keluarga (ahli) al-Qur’an yang tidak berlebihan terhadapnya dan tidak menyepelekannya dan memuliakan seorang pemimpin yang adil.” (HR. Abu Daud)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa orang yang berhak mendapatkan kemuliaan di dunia dari kalangan orang-orang yang beriman dan yang akan Allah ‘azza wa jalla muliakan di dunia dan di akhirat hanyalah pengemban al-Qur’an yang bersikap tidak berlebihan terhadapnya dan tidak menyepelekannya.

Dan ini juga menunjukkan kepada kita bahwa ada banyak manusia yang mengemban ayat-ayat dalam kitab Allah ‘azza wa jalla dan menghafalkannya memiliki sifat berlebihan terhadap al-Qur’an atau bersifat menyepelekannya.

Dan tidak bisa diketahui yang mana kelompok yang pertengahan dan yang benar yang merupakan keluarga Allah, orang-orang khusus di sisi-Nya dan manusia terbaik kecuali dengan mengenali sifat-sifat keluarga (ahli) al-Qur’an tersebut, yang apabila mereka memiliki sifat-sifat ini dalam amalan dan perbuatan hati, anggota badan dan lisan mereka, maka mereka ketika itu menjadi keluarga (ahli) al-Qur’an.

Sehingga baru saja kita memahami masalah pertama, bahwa tidak setiap orang yang mempelajari huruf demi huruf dari kitab ini ataupun yang mengemban ayat-ayatnya dalam diri mereka dengan hafalan dan ketepatan serta merta menjadi keluarga (ahli) al-Qur’an yang sebenarnya. Masalah lainnya, yang harus kita perhatikan, yaitu sebagaimana telah kita ketahui bahwa surga dan neraka itu bertingkat-tingkat, demikian pula status-status lain seperti iman, takwa, kebaikan dan lain sebagainya, dan termasuk status seseorang yang merupakan keluarga (ahli) al-Qur’an juga bertingkat-tingkat.

Maka derajat sebagai keluarga (ahli) al-Qur’an tidak hanya dua derajat saja, ahli al-Qur’an dan bukan ahli al-Qur’an, namun derajatnya banyak dan bertingkat-tingkat dimana masing-masing orang berbeda derajatnya sesuai dengan kadar bertambahnya, keistiqamahannya dan pengamalannya terhadap sifat-sifat keluarga (ahli) al-Qur’an yang apabila seseorang bersifat dan beramal dengannya maka mereka menjadi keluarga Allah dan orang-orang khusus di sisi-Nya yang juga merupakan sebaik-baik manusia.

Saudara-saudaraku, sifat-sifat ini telah dijelaskan kepada kita oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sifat-sifat ini bisa ada pada sebagian manusia secara keseluruhan dan bisa juga ada pada sebagian mereka sebagiannya saja karena adanya kekurangan dalam diri mereka.

Dan telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kitab Sahih sebuah hadis dari Abu Musa al-Asy’ari -semoga Allah meridai beliau-bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya seorang muslim yang membaca al-Qur’an seperti buah utrujjah, aromanya sedap dan rasanya enak, sedangkan orang munafik yang membaca al-Qur’an permisalannya seperti buah raihanah, aromanya sedap namun rasanya pahit, dan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an permisalannya seperti buah kurma, tidak ada aromanya namun rasanya enak. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan kepada kita bahwa al-Qur’an yang agung ini manfaatnya bisa diambil bahkan oleh orang munafik, namun manfaat untuknya hanya sebatas zahir saja dan tidak bermanfaat untuk batinnya sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

======================================================================================================

 

وَلَا شَكَّ أَنَّ الْحَدِيثَ يَعْظُمُ بِعِظَمِ الْمُتَحَدَّثِ عَنْهُ وَهُوَ كَلَامُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَقَدْ جَاءَ فِي بَعْضِ زِيَادَاتِ الْحَدِيثِ أَنْ لَا ثَابِتٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ

وَإِنَّ فَضْلَ كَلَامِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ
رَوَاهُ الدَّارِمِيُّ

وَلِذَلِكَ قَدْ رَوَى التِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ الْحَارِثِ الْأَعْوَر عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ خَبَرُ مَنْ قَبْلَكُمْ وَنَبَأُ مَنْ بَعْدَكُمْ وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ وَهُوَ الْجِدُّ لَيْسَ بِالْهَزْلِ مَنْ تَرَكَهُ مِنْ جَبَّارٍإلَّا قَصَمَهُ اللَّهُ

لَا تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ وَلَا يَخْلَقُ عَلَى كَثْرَةِ الرَّدِّ

هَذَا الْقُرْآنُ الْعَظِيمُ أَمْرُهُ عَجِيبٌ وَشَأْنُهُ جَلِيلٌ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ حَمَلَهُ وَنَالَ قِسْطًا مِنْهُ

فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنِيلُهُ أَجْرًا عَظِيمًا وَيُنْزِلُهُ مَنْزِلَةً رَفِيعَةً

فَمِمَّا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي ذَلِكَ وَقَدْ جَاءَ عَنْهُ كَثِيرٌ مَا ثَبَتَ فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

وَهَذَا مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَليلٌ قَاطِعٌ وَجَزْمٌ تَامٌّ لَازِمٌ بِأَنَّ خَيْرَ النَّاسِ عَلَى الْإِطْلَاقِ وَأَفْضَلَهُمْ بِلَا اِقْتِرَابٍ مِنْ أَحَدٍ إِلَيْهِ فِي الدَّرَجَةِ

هُوَ مَنْ كَانَ حَامِلًا لِهَذَا الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَكَانَ عَارِفًا بِحُقُوقِهِ وَكَانَ قَدْ أَدَّى الْوَاجِبَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ وَانْكَفَّ عَنِ الْمَنْهِيَّاتِ فِيهِ

إِنَّ مَنْ يَحْمِلُ الْقُرْآنَ يُوْصَفُ بِنَعْتٍ أَعْظَمَ مِنْ ذَلِكَ فَمِنْ أَعْظَمِ فَأَعْظَمُ مِنْ كَوْنِهِ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ

يُوْصَفُ نَعْتًا أَعْظَمَ وَهُوَ أَنَّ صَاحِبَ الْقُرْآنِ وَحَامِلَهُ هُوَ مِنْ أَهْلِ اللهِ وَخَاصَّتِهِ

وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ عِنْدَ ابْنِ مَاجَه وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ

أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ

وَهَذِهِ الْإِضَافَةُ إِضَافَةُ التَّشْرِيفِ يَتْبَعُهَا مَا يَتْبَعُهَا مِنَ الْأَجْرِ الْعَظِيمِ عِنْدَهُ جَلَّ وَعَلَا وَالْمَنْزِلَةِ الرَّفِيعَةِ السَّامِيَةِ عِنْدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَلِذَلِكَ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُقَالُ لِقَارِئِ الْقُرْآنِ اِقْرَأْ وَرَتِّلْ

وَفِي رِوَايَةٍ فِي خَارِجِ الصَّحِيحِ اِقْرَأْ وَارْتَقِ فِي الدَّرَجَاتِ
أَخْرَجَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ

(اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ)
كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ فِي الْجَنَّةِ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ

فَكُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَكْثَرَ كُلَّمَا كَانَ ذَلِكَ دَلِيلًا عَلَى قُرْبِهِ مِنَ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

وَعُلُوِّ دَرَجَتِهِ فِي الْجَنَّةِ وَرِفْعَةِ مَنْزِلَتِهِ فِيهَا

أَهْلُ الْقُرْآنِ قَدْ حُمِّلُوا حَمْلًا عَظِيمًا وَأُوْتُوْا فَضْلًا عَمِيمًا وَ لِذَلِكَ ثَبَتَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْروِ بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ

مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ فَقَدْ حَمَلَ أَمْرًا عَظِيمًا لَقَدْ اُدْرِجَتِ النُّبُوَّةُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُوحَى إِلَيْهِ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ

هَذَا أَيُّهَا الْأِخْوَةُ غَيْضٌ مِنْ فَيْضٍ وَبُلَالَةٌ مِنْ خَيْرٍ عَمِيمٍ جَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْقُرْآنِ

وَلَكِنْ لِنَعْلَمَ قَبْلَ أَنْ نَتَكَلَّمَ عَنْ صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَنْ حَمِلَ الْقُرْآنَ وَلَا كُلُّ مَنْ تَلَى آيَاتٍ مِنْهُ وَتَعَلَّمَ سُوَرًا

فَإِنَّهُ يَنَالُ هَذَا… فَإِنَّهُ يَنَالُ هَذَا الْفَضْلَ الْعَظِيمَ إِذْ قَدْ بَيَّنَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّاسَ فِي الْقُرْآنِ ثَلَاثَةُ أَطْرَافٍ

فَطَرَفَانِ وَوَسَطٌ غَالٍ وَجَافٍّ وَحَامِلٌ لِلْقُرْآنِ غَيْرُ غَالٍ وَلَا جَافٍّ

فَقَدْ ثَبَتَ عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ وَإِكْرَامَ حَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِّي عَنْهُ وَإِكْرَامَ السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

فَبَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الَّذِي يَسْتَحِقُّ الْإكْرَامَ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَأَنَّ الَّذِي يُكْرِمُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

إِنَّمَا هُوَ حَامِلُ الْقُرْآنِ غَيْرُ الْغَالِي فِيهِ وَلَا الْجَافِّي عَنْهُ

وَهَذَا يَدُلُّنَا عَلَى أَنَّ أُنَاسًا كَثِيرِيْنَ يَحْمِلُونَ آيَاتٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَحْفَظُونَهَا وَهُمْ مَنْعُوتُونَ إِمَّا بِكَوْنِهِمْ غَالِينَ فِيهِ وَإِمَّا مَنْعُوتِينَ بِأَنَّهُمْ جَافُّونَ عَنْهُ

وَلَا يُعْرَفُ الْوَسَطُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا الْحَقُّ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ الَّذِينَ هُمْ خَيْرُ النَّاسِ إِلَّا بِمَعْرِفَةِ صِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ

الَّتِي إِذَا امْتَثَلُوا هَذِهِ الصِفَاتِ فِي أَفْعَالِ قُلُوبِهِمْ وَأَفْعَالِ جَوَارِحِهِمْ وَفِي لِسَانِهِمْ فَإِنَّهُمْ حِينَئِذٍ يَكُونُ أَهْلَ الْقُرْآنِ

إِذَنْ عَرَفْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ الْمَسْأَلَةَ الْأُولَى وَهِيَ أَنَّهُ لَيْسَ كُلُّ مَنْ تَعَلَّمَ حَرْفًا مِنْ هَذَا الْكِتَابِ أَوْ حَوَى بَيْنَ كَتِفَيْهِ وَجَنْبَيْهِ آيَاتٍ مِنْهُ حِفْظًا وَضَبْطًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنْ أَهْلِهِ عَلَى الْحَقِيقَةِ

مَسْأَلَةٌ أُخْرَى لَا بُدَّ أَنْ نَنْتَبِهَ لَهَا أَنَّهُ مَعْلُومٌ أَنَّ الْجَنَّةَ دَرَجَاتٌ كَمَا أَنَّ النَّارَ دَرَكَاتٌ

فَكَذَلِكَ هَذِهِ الْأَوْصَافُ كَالْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى وَالْبِرِّ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَوْصَافِ وَمِنْهَا كَوْنُ الْمَرْءِ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ أَنَّهُ دَرَجَاتٌ

فَلَيْسَتِ الدَّرَجَاتُ فِيهِ دَرَجَتَيْنِ فَقَطْ إِثْبَاتٌ وَنَفْيٌ

وَإِنَّمَا هِيَ دَرَجَاتٌ مُتَعَدِّدَةٌ يَخْتَلِفُ النَّاسُ فِيهَا بِحَسَبِ زِيَادَتِهِمْ وَضَبْطِهِمْ وَالْإِتْيَانِ بِصِفَاتِ أَهْلِ الْقُرْآنِ الَّتِي مَنِ اتَّصَفَ بِهَا وَامْتَثَلَ

فَإِنَّهُ يَكُونُ مِنْ أَهْلِ اللهِ وَخَاصَّتِهِ الَّذِينَ هُمْ خَيْرُ النَّاسِ

هَذِهِ الصِفَاتُ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ بَيَّنَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا تُوْجَدُ فِي بَعْضِ النَّاسِ كَامِلَةً وَتُوْجَدُ فِي بَعْضِ النَّاسِ طَرَفًا بِسَبَبِ نَقْصٍ فِي ذَلِكَ الرَّجُلِ

وَقَدْ ثَبَتَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُسْلِمَ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ

رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَالْمُنَافِقُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُهُ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

وَالْمُؤْمِنُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُهُ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ

فَدَلَّنَا ذَلِكَ عَلَى أَنَّ هَذَا الْقُرْآنَ الْعَظِيمَ أَثَرُهُ نَافِعٌ حَتَّى فِي الْمُنَافِقِينَ وَإِنَّمَا يَنْتَفِعُ بِحَسَبِ الظَّاهِرِ وَلَا يَنْفَعُ فِي الْبَاطِنِ كَمَا بَيَّنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Ketika Syeikh Abdurrazzaq Muda Dinasehati oleh Syeikh bin Baz dan Syeikh bin Utsaimin #NasehatUlama

Aku ceritakan kepada kalian sebuah kisah yang aku alami sendiri, aku ceritakan karena ada faedah di dalamnya. Dahulu, ketika aku berada di majelis Imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau-, ketika itu banyak orang mengelilingi beliau, berkerumun untuk bertanya. Dan aku sendiri juga memiliki pertanyaan sehingga aku ingin bertanya, namun beliau sedang dikerumuni banyak orang. Ketika azan mulai dikumandangkan, orang-orang meninggalkan beliau, kala itu, mereka sudah faham sedangkan aku sendiri belum faham dan belum mengerti. Aku katakan pada diriku sendiri, “Wahai Abdurrazzaq, ini adalah kesempatanmu untuk bertanya, Syeikh tidak sedang bersama siapapun.” Kemudian aku mendekati Syeikh dan aku ucapkan salam kepada beliau, “Assalamualaikum Syeikh, aku ingin bertanya.” Beliau berkata, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!” Beliau mengulang dua kali, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!” Ucapan ini beliau ucapkan -Semoga Allah merahmati beliau- kepadaku ketika sesi tanya jawab, majelis ilmu dan semua aktifitas berhenti. Beliau -Semoga Allah merahmati beliau- mendengar dan menyimak azan dan beliau mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan namun aku mendatangi beliau dengan prasangka bahwa ini adalah kesempatan berharga bagiku karena beliau sedang tidak bersama siapapun. Maka aku katakan, “Wahai Syeikh, aku ingin bertanya.” Dan beliau menjawab, “Dengarkan azan! dengarkan azan!” Dan ini adalah pesan berharga dari Syeikh untuk kita semua, “Dengarkan azan! Dengarkan azan!”

Ingatlah dan ambil manfaat darinya, ketika waktu azan dengarkan azan, dengarkan azan dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan. Bahkan apabila Anda sedang menyimak al-Qur’an atau Anda memiliki kewajiban untuk menyimak al-Qur’an, dengarkan azan dulu dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan. Subhanallah, hal ini akan mendatangkan berkah yang sangat luar biasa terkait dengan salat, dan memberikan dampak yang tidak sedikit dalam kekhusyuan Anda dalam shalat dan tumakninah Anda dalam salat. Ini akan memberi dampak yang besar. Ketika azan berkumandang, yang merupakan panggilan yang agung lagi sempurna, kemudian Anda menghentikan segala aktifitas untuk menghormati panggilan ini, karena memahami keagungannya, kedudukannya dan betapa pentingnya azan sehingga Anda mengarkan dengan seksama dan mengucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan, niscaya Anda akan mendapatkan ketenangan, tumakninah dan kesungguhan dalam melaksanakan shalat dan akan berguguran dari hati Anda berbagai ketergantungan duniawi, kesibukan duniawi akan menghilang.

Sehingga Anda akan mendapati dada Anda lapang menuju rumah Allah, bersegera ke masjid, mengamalkan sunnah-sunnahnya dan bisa berzikir kepada Allah kemudian Anda salat dengan salat yang berbeda dari salat orang lain. Perhatikan hal ini dan Anda akan melihat dampak yang besar dalam salat Anda, seketika mendengarkan azan, hentikan segala aktifitas, simaklah azan dan ucapkan sebagaimana yang muazin ucapkan.

Ada pula kisah yang aku alami bersama Syeikh Ibnu Utsaimin. Masa muda adalah masa ketergesaan dan buru-buru. Suatu ketika aku datang ke masjid beliau, dan sepertinya ini adalah kali pertama aku berjumpa beliau atau kali kedua aku berjumpa beliau -Semoga Allah merahmati beliau-. Beliau mengimami shalat dan setelah salam dari salat, beliau baru duduk sebentar dan aku langsung berdiri mendekati beliau dan aku berkata, “Aku ingin bertanya.” – Lagi. Maka aku berdiri mendekati Syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- ketika beliau sedang duduk di tempat beliau dan orang-orang juga sedang duduk. Ketika beliau melihat aku datang mendekat, beliau memberi isyarat demikian dan berkata, “Duduklah! Bertasbihlah! Bertasbihlah!” Ini sebenarnya sebuah faedah untuk sebagian orang yang datang kepada seorang syeikh atau seorang penuntut ilmu padahal dia sedang menghitung tasbih dan disela dengan “Aku ingin bertanya.” Tidak demikian! Itu bukanlah waktu bertanya, waktu untuk bertasbih digunakan untuk bertasbih dan berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Maka beliau memberikan isyarat kepadaku di hadapan orang-orang, “Duduklah! Duduklah! Bertasbihlah! Bertasbihlah!” Sehingga waktu untuk bertasbih, yaitu setelah shalat, tidak terpotong. Dan realita ini sebenarnya adalah masalah, yakni sekarang ketika Anda menghitung zikir, seharusnya Anda menghitung tiga puluh tiga kali tasbih, bukankah begitu?

Berzikir tiga puluh empat kali atau tahmid tiga puluh tiga kali, dan ketika Anda sedang berzikir, subhanallah, subhanallah, kemudian tiba-tiba seseorang datang berkata, “Assalamualaikum.” Kemudian dia menjabat tangan Anda. Hilang hitungan ini, tiga puluh tiga ini hilang, selesai sudah. “Bagaimana kabar Anda?” “Semoga kabar Anda baik.” Selesai sudah, hilanglah hitungannya. Seharusnya Anda berzikir sebanyak tiga puluh tiga kali, tiga puluh tiga ini adalah jumlah yang disyariatkan, maka hitunglah dan sempurnakan jumlahnya.

Anda akan dapati seseorang yang sebenarnya ingin fokus, yakni dia ingin menyempurnakan hitungan zikirnya namun tiba-tiba seseorang menjabat tangannya dan mengucapkan salam, “Assalamualaikum, bagaimana kabar Anda? Baik? Sehat?” Sudah, hilang sudah hitungannya. Apabila Anda ingin menghitung lagi dari awal, ini jadi masalah, atau Anda ingin mengingat kembali sampai berapa hitungan Anda tadi atau tidak, ini juga masalah.

Aku sampaikan ini agar kita semua memperhatikan masalah ini karena kita memiliki banyak kesalahan yang sebagian kita harus mengingatkan sebagian yang lainnya tentang kesalahan ini sehingga perlahan kesalahan ini hilang -Dengan izin Allah- dan kita bisa tetap berada di atas Sunnah dan tetap bersemangat menjalankan amalan-amalan yang mulia seperti ini dan terbiasa mengamalkannya.

======================================================================================================

أَرْوِيْ لَكُمْ قِصَّةً حَصَلَتْ لِي أَنَا… أَرْوِيْهَا لِمَا فِيهَا فَائِدَةٌ

فِي وَقْتٍ قَدِيمٍ كُنْتُ فِي مَجْلِسِ الْإمَامِ ابْنِ بَاز رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِ كَثِيرٌ يَسْأَلُونَهُ وَمُتَزَاحِمِينَ عَلَيْهِ

وَأَنَا فِي نَفْسِي السُّؤَالُ أُرِيدُ أَنْ أَسْأَلَ لَكِنَّ الزِّحَامَ عِنْدَ الشَّيْخِ

فَلَمَّا بَدَأَ يُؤَذِّنُ الْمُؤَذِّنُ تَفَرَّقَ عَنْهُ النَّاسُ وَهُمْ يَعْرِفُونَ وَأَنَا ذَاكَ الْوَقْتَ لَا… لَا أعْرِفُ وَلَا أَدْرِي

فَقُلْتُ فِي نَفْسِيْ: فُرْصَتُكَ يَا عَبْدَالرَّزَّاقِ، الشَّيْخُ مَا عِنْدَ أحَدٍ

وَرُحْتُ عِنْدَ الشَّيْخِ سَلَّمْتُ عَلَيْهِ: السَّلَامُ عَلَيْكُم الشَّيْخُ، عِنْدِيْ سُؤَالٌ

قَالَ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

عَادَهَا مَرَّيْنِ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

هَذَا قَالَهُ لِي رَحْمَةُ اللهِ فَالْأسْئِلَةُ وَ الْعِلْمُ وَ… كُلُّ يَتَوَقَّفُ

وَ كَانَ رَحِمَهُ اللهُ مُطْرِقٌ وَ يَسْمَعُ الْأَذَانَ وَيَقُولُ مِثْلَ مَا يَقُولُ لَكِنَّ جِئْتُ وَفِي ظَنِّيْ أَنَّهُ فُرْصَةٌ ثَمِينَةٌ مَا عِنْدَهُ أَحَدٌ

فَقُلْتُ: عِنْدِيْ سُؤَالٌ يَا الشَّيْخُ. قَالَ: اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

فَهَذِهِ وَصِيَّةٌ مِنَ الشَّيْخِ لَنَا جَمِيعًا
اسْمَعِ الْأَذَانَ! اسْمَعِ الْأَذَانَ

اذْكُرُوْاهَا وَانْتَفَعُوْا بِهَا أَنَّ وَقْتَ الْأَذَانِ، اسْمَعِ الْأَذَانَ! اِسْمَعِ الْأَذَانَ! وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

حَتَّى لَوْ كُنْتَ تَسْتَمِعُ الْقُرْآنَ أَوْ كِفْلَ سَمَاعِ الْقُرْآنِ وَاسْمَعِ الْأَذَانَ وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

سُبْحَانَ اللهِ – هَذَا فِيهِ بَرَكَةٌ عَجِيبَةٌ عَجِيبَةٌ جِدًا تَتَعَلَّقُ بِالصَّلَاَةِ نَفْسِهَا

وَأثَرٌ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ فِي خُشُوعِكَ فِي صِلَاتِكَ وَطُمَأْنِينَتِكَ فِيهَا

لَهُ أثَرٌ عَظِيمٌ جِدًا، لَمَّا يَبْدَأُ الْأَذَانُ هَذِهِ الدَّعْوَةُ التَّامَّةُ الْعَظِيمَةُ تُدَوِّي وَتُوْقِفُ أَنْ تَعْمَلَ كُلَّهَا مُعَظِّمًا هَذَا النِّدَاءِ

مُدْرِكًا عَظَمَتَهُ وَمَكَانَتَهُ وَأهَمِّيَّتَهُ وَتَسْتَمِعُ إِلَيْهِ بِدِقَّةٍ وَ تَقَوْلُ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

يَنْزِلُ عَلَيْكَ مِنَ السُّكُونِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالْإقْبَالِ عَلَى الصَّلَاَةِ وَ يَتَسَاقَطُ مِنْ قَلبِكَ هَذِهِ التَّعَلُّقَاتُ الدُّنْيَوِيَّةُ وَالْاِهْتِمَامَاتُ كُلُّهَا تَتَسَاقَطُ

وَتَجِدُ نَفْسَكَ مُنْشَرِحَ الصَّدْرِ لِبَيْتِ اللهِ مُبَكِّرًا لِلْمَسْجِدِ تَتَسَنَّنُ وَ تَذْكُرُ اللهَ ثُمَّ تُصَلِّي صَلَاَةً تَخْتَلِفُ عَنْ صَلَاَةِ الْآخَرِينَ

وَانْظُرْ هَذَا تَرَى لَهُ أثَرًا عَظِيمًا عَلَيْكَ فِي صَلَاَتِكَ، مُجَرَّدُ مَا تَسْمَعُ النِّدَاءَ أَوْقِفْ كُلَّ شَيْءٍ وَاسْتَمِعْ لِلْمُؤَذِّنِ وَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ

حَصَلَتْ لِي قِصَّةٌ مَعَ ابْنِ عُثَيْمِيْنَ وَمَرْحَلَةُ الشَّبَابِ مَرْحَلَةُ السُّرْعَةِ وَالنْدِفَاعِ

فمَرَّيْتُ بِمَسْجِدِهِ وَأَظَنُّ أَنَّهُ الْمَرَّةُ الْأُوْلَى الَّتِي أُقَابِلُهُ أَوْ ثَانِي مَرَّةٍ أُقَابِلُهُ رَحِمَهُ اللهُ

فَبَعْدَ أَنْ سَلَّمَ وَهُوَ الْإمَامُ سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاَةِ جَلَسَ قَلِيلًا وَمُبَاشِرَةً قُمْتُ إِلَيْهِ: عِنْدِيْ سُؤَالٌ – أَيْضًا

فَقُمْتُ إِلَى الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللهُ وَهُوَ جَالِسٌ فِي… فِي مَكَانِهِ وَ النَّاسُ جُلُوسٌ

فَلَمَّا رَآنِيْ الْمُقْبِلَ قَال – يُشِيْرُ هَكَذَا: اِجْلِس! سَبِّحْ! سَبِّحْ

فَهَذِهِ حَقِيْقَةٌ فَائِدَةٌ لِبَعْضِ النَّاسِ، يَأْتِيْ إِلَى الشَّيْخِ أَوْ طَالِبِ الْعِلْمِ وَهُوَ يَعُدُّ التَّسْبِيحَ وَيُقَاطِعُ: يَا الشَّيْخُ عِنْدِيْ سُؤَالٌ

لَا! مَا هُوَ وَقْتُ لِلسُّؤَالِ، وَقْتُ لِلتَّسْبِيحِ تَسْبِيحٌ وَذِكْرُ الله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فَأَشَارَ لِيْ أَمَامَ النَّاسِ: ِاجْلِسْ! اجْلِسْ! سَبِّحْ! سَبِّحْ

فَوَقْتُ التَّسْبِيْحِ الَّذِي هُوَ بَعْدَ الصَّلَاَةِ مَا يُقْطَعُ وَحَقِيقَةٌ هَذِهِ مُشَكَّلَةٌ الْآنَ يَعْنِيْ الْآنَ لَمَّا تَعُدُّ – مَطْلُوبٌ مِنْكَ – ثَلَاثَةً وَ ثَلَاثِيْنَ تَسْبِيحًا أَلَيْسَ كَذَلِكَ؟

وَأَرْبَعَةً أَوْ ثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ تَحْمِيدًا أَوْ… فَلَمَّا تَكُوْنُ تَعُدُّ: سُبْحَانَ اللهِ… سُبْحَانَ اللهِ… ثُمَّ فَجْأَةً وَاحَدٌ جَاءَ: اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَيُدْخِلُ يَدَهُ فِي يَدِكَ

رَاحَ الْعَدَدُ، ثَلَاثَةً وَثَلَاثِينَ هَذِهِ رَاحَتْ – اِنْتَهَى

كَيْفَ حَالُكَ ؟ عَسَاكَ طَيِّبَةً… أَخْبَارُكَ ! خَلَاصٌ اِنْتَهَى الْعَدَدُ

وَهُوَ مَطْلُوبٌ مِنْكَ ثَلَاثَة وَثَلَاثِينَ ثَلَاثَة وَثَلَاثِينَ مَطْلُوبَةٌ بِالْعَدِّ تَعُدُّهَا وَتَضْبِطُهَا

تَجِدُ… تَجِدُ الْإِنْسَانَ مُرَكِّزًا يَعْنِي يُرِيدُ أَنْ يَضْبِطَ الْعَدَدَ فَجْأَةً يَدْخُلُ الْيَدُ فِي يَدِهِ: السِّلَامُ عَلَيْكُمْ، كَيْفَ حَالُكَ ؟ طَيِّبٌ ؟ خَيْرٌ ؟ اِنْتَهَى، الْعَدَدُ اِنْتَهَى رَاحَ

إِنْ بَدَأْتَ تَعُدُّ مِنْ جَدِيدٍ مُشْكِلَةٌ أَوْ إِنْ حَاوَلْتَ أَنْ تَسْتَحْضِرَ كَمِ الْعَدَدَ وَلَا… أَيْضًا مُشْكِلَةٌ أُخْرَى

فَأَقُولُ هَذَا حَتَّى نَنْتَبِهَ لِأَنَّ عِنْدَنَا أَخْطَاءً لَا بُدَّ أَنْ نُنَبِّهَ بَعْضُ… نُنَبِّهَ بَعْضُنَا بَعْضًا عَلَيْهِ

حَتَّى تَتَلَافَى -بِإِذْنِ اللهِ- وَنَبْقَى عَلَى السُّنَّةِ وَعَلَى الْحِرْصِ عَلَى مِثْلِ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الْجَلِيلَةِ وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَيْهَا

Inilah yang Membuat Hatimu Keras – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Inilah yang Membuat Hatimu Keras – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily #NasehatUlama

Inilah hati, gumpalan kecil dalam jasad manusia, segumpal daging, sebuah organ yang menakjubkan karena mudah berbolak-balik, bisa melembut dan mengeras, bisa sehat dan sakit, bisa bersih dan terkotori.

Maka orang yang beriman dituntut untuk mensucikan hatinya. Dan kajian saya dua pekan lalu di Dubai juga membahas tentang penyucian hati. Dan penyucian diri adalah sebuah jalan menuju selamatnya hati dari kerasnya hati. Namun saya hanya memberikan satu sebab saja yang sekarang banyak tersebar yang merupakan sebab kerasnya hati dan renggangnya hubungan antar sesamayaitu berlebihan dalam menggunakan media sosial modern.

Kita dapati kebanyakan manusia hidupnya telah terikat erat secara total dengan perangkat-perangkat ini. Dan ini menyebabkan hati mengeras dan hubungan antar manusia terputus, sampai-sampai beberapa orang duduk bersama dalam satu tempat namun masing-masing tidak peduli dengan yang lainnya.

Oleh sebab itu di antara nasihat berharga dalam masalah ini hendaknya seseorang menjadwalkan waktu khusus dalam melihat perangkat-perangkat ini,untuk melihat hal-hal yang baik dan menghindari perkara-perkara yang buruk,apalagi kita mengerti bahwa kebanyakan isinya adalah menebar fitnah, mengeraskan hati, mencaci pemerintah, berita bohong terhadap pemerintah, kesalahan yang dikabarkan sebagai kezaliman, dan ajakan untuk berbuat buruk yang menyebabkan hati mengeras.

Maka nasihatku adalah agar kita mengurangi hal ini semampu kita. Salah satunya adalah Anda menjadwalkan waktu khusus untuk hal tersebut dalam setiap hari Anda, dan hal-hal yang Anda ketahui memiliki keburukan harus Anda jauhi dan orang-orang yang Anda kenal membawa keburukan harus Anda tinggalkan, kemudian sisa waktu dalam hari Anda, hindarilah melihat perangkat-perangkat itu dan isilah dengan hal-hal yang memperbaiki hati Anda, dan menyebabkan lembutnya hati Anda.

======================================================================================================

هَذَا الْقَلْبُ الْقِطْعَةُ الصَّغِيرَةُ فِي جِسْمِ الْإِنْسَانِ

الْمُضْغَةُ عُضْوٌ عَجِيبٌ يَتَقَلَّبُ يَلِينُ وَيَقْسُو

يَصِحُّ وَيَمْرَضُ يَسْلَمُ وَيَتَلَوَّثُ

وَالْمُؤْمِنُ مَطْلُوبٌ مِنْهُ أَنْ يُزَكِّيَ قَلْبَهُ

وَقَدْ كَانَتْ لِي مُحَاضَرَةٌ قَبْلَ أُسْبُوعَيْنِ فِي إِمَارَةِ دُبَيْ عَنْ تَزْكِيَةِ الْقُلُوبِ

وَتَزْكِيَةُ الْقُلُوبِ هِي طَرِيقُ السَّلَاَمَةِ مِنْ قَسْوَةِ الْقُلُوبِ

وَلَكِنِّي أُشِيرُ إِلَى سَبَبٍ يَنْتَشِرُ الْآنَ كَثِيرًا

وَسَبَّبَ الْقَسْوَةَ فِي الْقُلُوبِ وَالْجَفَاءَ بَيْنَ النَّاسِ

أَلَا وَهُوَ الْإغْرَاقُ فِي وَسَائِلِ الْإعْلَاَمِ الْمُعَاصِرِ

فَتَجِدُ أَنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ أَصْبَحَتْ حَيَاتُهُمْ مُرْتَبِطَةً اِرْتِبَاطًا كُلِّيًّا بِهَذِهِ الْأَجْهِزَةِ

وَهَذَا سَبَّبَ لِلْقُلُوبِ قَسْوَةً وَلِلنَّاسِ اِنْقِطَاعًا

حَتَّى أَصْبَحَ النَّاسُ يَجْلِسُونَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ كَلٌّ مِنْهُمْ مُنْشَغِلٌ عَنِ الْآخَرِ

وَلِذَلِكَ مِنَ النَّصَائِحِ الْقَيِّمَةِ فِي هَذَا الْبَابِ أَنَّ الْإِنْسَانَ يُخَصِّصُ وَقْتًا لِلْاِطِّلَاعِ عَلَى مَا فِي هَذِهِ الْأَجْهِزَةِ

مِنْ خَيْرٍ وَيَجْتَنِبُ الشَّرَّ

لَاسِيَّمَا أَنَّا وَجَدْنَا أَنَّ أَكْثَرَ مَا فِيهَا نَشْرُ فِتْنَةٍ

وَيُقَسِّى الْقُلُوبَ إشَاعَاتٌ عَلَى وُلَاةِ الْأَمْرِ

وَكَذِبٌ عَلَيهِمْ وَالْأَخْطَاءُ تُسَمَّى خَطَايَا

وَدَعْوَةٌ إِلَى شُرُورٍ مِمَّا يَجْعَلُ الْقُلُوبَ تَقْسُو

فَالنَّصِيحَةُ أَنْ نُخَفِّفَ مِنْهَا مَااسْتَطِعْنَا

وَمِنْ ذَلِكَ أَنْ تُخَصِّصَ لَهَا وَقْتًا فِي يَوْمِكَ

أَيْضًا مَا عَرَفْتَهُ بِالشَّرِّ ابْتَعِدْ عَنْهُ وَمَنْ عَرَفْتَهُ بِالشَّرِّ تَخَلَّصْ مِنْهُ

ثُمَّ بَقِيَّةُ الْيَوْمِ أَعْرِضْ عَنْهَا وَاشْتَغِلْ بِمَا يُصْلِحُ قَلْبَكَ

وَيُسَبِّبُ لَكَ رِقَّةَ الْقَلْبِ

Solusi untuk Mereka yang Terburu-buru dalam Berzikir – Syaikh al-Albany #NasehatUlama


Aku perhatikan kebanyakan manusia yang zahirnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang tidak hanya menjaga ibadah wajibnya bahkan ibadah sunah dan perkara-perkara yang disunahkan lainnya.

Seperti misalnya dzikir setelah salat, membaca tasbih, tahmid, takbir dan dzikir lainnya, dan aku melihat sebagian mereka ketika ingin mengamalkan sabda Nabi ‘alaihissalaam

Barang siapa membaca subhanallaah setelah salat tiga puluh tiga kali, alhamdulillaah tiga puluh tiga kali dan allaahuakbar tiga puluh tiga kali, Kemudian menggenapinya seratus dengan mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli sya’in qadiir.’ Dia akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” Ini adalah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih beliau.

Ketika mereka ingin mengamalkan hadis ini, Anda akan melihat sebagian mereka hampir-hampir tidak menggerakkan mulut mereka ketika bertasbih, bertahmid dan bertakbir kepada Allah. Dan apa yang kalian dengar? Barangkali kalian juga menyaksikan apa yang aku saksikan, aku tidak sendirian dalam klaim ini.

Ini kita sebut apa? Sabsabis? Kemudian, yang demikian ini buka tasbih dan bukan pula tahmid, hanya beberapa detik saja selesai berdzikir seratus kali. Barang siapa yang mengamalkan dzikir seratus kali ini, apa ganjarannya? Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.

Namun apabila cara mengamalkannya ‘basbasah’ seperti ini, demi Allah, tidak mungkin! Dia tidak boleh tergesa-gesa, hendaknya dia ucapkan seperti ini subhanallaah, subhanallaah, subhanallaah, alhamdulillaah, dan seterusnya. Aku tidak bermaksud dengan ucapanku ini untuk menghalangi manusia dari bertasbih tiga puluh tiga kali dan mengamalkan keseluruhan hadis tersebut, akan tetapi aku ingin menunjukkan kepada mereka sesuatu yang lebih utama bagi mereka secara syariat dan lebih mudah diamalkan, lebih utama secara syariat dan lebih mudah untuk diamalkan.

Perkiraanku, kalian akan mendengar hadis ini untuk pertama kalinya atau minimal sebagian dari kalian, yaitu sebuah hadis yang sangat penting sekali, hadis sahih juga, yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dan Al-Hakim dan selain mereka, dari dua sahabat dengan dua sanad yang sahih bahwa seseorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya bertemu seseorang yang bertanya kepadanya, “Apa yang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kalian?”

Dia menjawab, “Beliau mengajari kami dzikir subhanallaah….” Kemudian menyebut jumlah dzikir yang dijelaskan dalam hadis sebelumnya. Maka orang tersebut berkata kepada seseorang yang melihatnya dalam mimpi, “Jadikan dzikir tersebut dua puluh lima kali, jadikan dzikir tersebut dua puluh lima kali.”

Maksudnya, ucapkanlah “Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar.”

Sehingga hitungan dzikir seratus kali yang biasanya dibaca seseorang, diubah menjadi dzikir dua puluh lima kali. Dengan cara membaca dzikir dua puluh lima kali ini seseorang tidak akan tergesa-gesa dalam melafazkannya, yang merupakan cara berdzikir yang sangat kita ingkari. Dengan ini, walaupun dia tergesa-gesa dalam berdzikir, “subhanallaah” kemudian berganti mengucapkan “alhamdulillah”, walaupun dia membacanya dengan cepat, namun kalian perhatikan dzikir ini lebih sempurna dari pada mengucapkan, “subhanallaah, subhanallaah, subhanallaah…..” terus menerus sampai “Laa ilaaha Illallaah, laa ilaaha Illallaah, Laa ilaaha Illallaah ….”

Kemudian lama-kelamaan kalian tidak akan mendengar apapun kecuali dia mengucapkan, “Allah, Allah, Allah, Allah, ….” Begitu sampai selesai.

Maka untuk mencegah orang-orang yang suka tergesa-gesa setelah selesainya salat dalam bertasbih dan bertahmid yang dijelaskan dalam hadis pertama, maka mereka hendaknya mereka mengumpulkan empat lafaz dzikir tersebut dan diucapkan sebanyak dua puluh lima kali.

Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar.
Dua puluh lima kali, dan ini lebih utama, dalilnya adalah kelanjutan hadis tentang seseorang yang mimpi tadi.

Memang bisa saja mimpi hanyalah mimpi biasa dan tidak bisa menjadi penjelasan suatu hukum karena memang kita bukan ahli dalam hal tafsir mimpi. Namun orang yang melihat dalam mimpinya ini kemudian menceritakan mimpinya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menjawab, “Jika demikian, lakukan saja.”

Dari sini, muncul pertanyaan masalah fikih, “Apakah hadis ini penghapus hukum hadis yang pertama tadi, yaitu membaca tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali dan terakhir membaca tahlil sekali?”

Tidak! Hadis tersebut tidak menghapus hukum ini, namun hanya pilihan yang lebih utama. Maka apabila seseorang selesai salat kemudian berdzikir dengan hitungan tiga puluh tiga kali ini dengan tumakninah dan tidak tergesa-gesa, maka tidak menjadi masalah. Namun lebih utama baginya untuk mengumpulkan empat lafaz sekaligus sebanyak dua puluh lima kali “Subhanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah,wallaahuakbar, …. subhanallaah walhamdulillaah, ….” Begitu seterusnya sebanyak dua puluh lima kali, cara ini lebih utama baginya dari pada cara yang dijelaskan pada hadis yang sebelumnya.

Kiat Menumbuhkan Prasangka Baik Kepada Allah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Kiat Menumbuhkan Prasangka Baik Kepada Allah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama Ketika seseorang memperbagus amalannya niscaya hatinya tenang, ketika dia memperbagus amalannya prasangkanya terhadap Tuhannya akan menjadi baik. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku akan bersamanya apabila dia mengingat Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka ketika dia memperbagus …

Baca selengkapnya…Kiat Menumbuhkan Prasangka Baik Kepada Allah – Syaikh Bin Baz #NasehatUlama

Dosa Melotot

Urwah bin az-Zubair mengatakan, مَا بَرَّ وَالِدَيْهِ مَنْ أَحَدَّ النَّظَرَ إِلَيْهِمَا “Tidaklah berbakti kepada orang tua seorang anak yang melototi keduanya.” (al-Birr karya Ibnul Jauzi no 113) Anak berkewajiban berbakti kepada orang tuanya meski sudah berkeluarga. Isteri tetap wajib berbakti kepada ortunya meski sudah bersuami. Haram atas suami melarang isteri berbakti kepada ortunya. Durhaka kepada …

Baca selengkapnya…Dosa Melotot