Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Menghafal al-Quran Dulu atau Menuntut Ilmu? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

تَقُولُ هَذِهِ الْأُخْتُ
Saudari kita ini bertanya:

طَالِبُ الْعِلْمِ الَّذِي لَمْ يَخْتِمِ الْقُرْآنَ بَعْدُ
Penuntut ilmu yang belum selesai menghafal al-Qur’an,

وَهُوَ مَعَ حِفْظِ الْقُرْآنِ يَحْفَظُ الْمُتُونَ وَيَتَلَقَّى شَرْحَهَا
bersamaan dengan itu, dia juga menghafal matan-matan dan mempelajari penjelasannya,

وَيَضِيقُ عَلَيْهِ الْوَقْتُ لِقِرَاءةِ تَفْسِيرِهَا
sehingga dia tidak memiliki waktu lagi untuk membaca tafsir al-Qur’an,

فَيَمْضِي فِي الْحِفْظِ فَقَطْ
hanya fokus menghafal al-Qur’an saja.

هَلْ هُنَاكَ طَرِيقَةٌ يَتْبَعُهَا لِتَحْصِيلِ مَا فَعَلَهُ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ؟
Apakah ada metode agar dapat meraih seperti yang diraih para sahabat -radhiyallahu ‘anhum?

مَا هِي التَّفَاسِيرُ الَّتِي تَنْصَحُونَ بِهَا لِتَحْقِيقِ هَذَا؟
Kitab-kitab tafsir apa saja yang Anda sarankan untuk merealisasikan ini?

الْجَوَابُ أَنَّ الْمُنَازَعَاتِ الَّتِي تَقَعُ فِي نُفُوسِ الطَّلَبَةِ وَالطَّالِبَاتِ
Jawabannya: Kegalauan yang ada dalam diri para penuntut ilmu

مِمَّا يَتَعَلَّقُ بِالْعِلْمِ
yang berkaitan dengan ilmu,

لَا يَمْحُوهَا إِلَّا إِرْشَادُ مُرْشِدٍ
tidak akan sirna kecuali dengan bimbingan dari orang yang berpengalaman.

فَإِنِ ابْتَدَأَ الْمُتَعَلِّمُ النَّظَرَ مِنْ نَفْسِهِ
Jika seorang murid mulai mencermati dirinya, (dia akan mendapati dirinya)…

يَسْلُكُ طَرِيقًا يَنْدَمُ عَلَيْهِ
menempuh suatu metode yang kemudian dia sesali…

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ ثُمَّ يَشْرَعُ فِيهِ
Lalu dia berpindah ke metode lain dan menempuhnya.

ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى آخَرَ
Lalu berpindah lagi ke metode lainnya.

فَلَا يَزَالُ مُتَنَقِّلًا لَا يَهْتَدِي إِلَى صَوَابٍ
Dan begitu seterusnya tanpa menemukan metode yang benar,

فَيَنْبَغِي أَنْ يَرْجِعَ إِلَى مَنْ يَسْتَرْشِدُ بِهِ
Maka hendaklah dia menghadap kepada orang yang dapat menuntunnya…

وَالْإِمَامُ أَحْمَدُ سَأَلَهُ رَجُلٌ
Imam Ahmad pernah ditanya seorang lelaki,

هَلْ أَطْلُبُ الْعِلْمَ أَمْ أَحْفَظُ الْقُرْآنَ؟
“Apakah lebih baik aku menuntut ilmu atau menghafal al-Qur’an?”

فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَوَجَدَهُ كَبِيرًا
beliau mencermati lelaki itu, dan mendapatinya telah dewasa.

فَقَالَ اُطْلُبِ الْعِلْمَ
Maka beliau menjawab, “Tuntutlah ilmu!”

أَيْ إِنَّ مَا يَلْزَمُ الْإِنْسَانَ بَعْدَ بُلُوغِهِ مِنَ الْأَحْكَامِ
Yakni karena tuntutan hukum-hukum Islam terhadapnya setelah dia baligh,…

فَوْقَ مَا يَلْزَمُهُ مِنْ حِفْظِ الْقُرْآنِ
lebih besar daripada tuntutannya untuk menghafal al-Qur’an…

إِذْ حِفْظُ الْقُرْآنِ الَّذِي لَا بُدَّ مِنْهُ هُوَ الْفَاتِحَةُ
Karena hafalan al-Qur’an yang wajib dia miliki hanyalah al-Fatihah

وَيَتْبَعُهُ مَا تَقُومُ بِهِ صَلَاةُ الْإِنْسَانِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ
dan ilmu yang dia gunakan agar dapat mendirikan shalat secara sempurna.

فَمِنْهُ وَاجِبٌ وَمِنْهُ مُسْتَحَبٌّ
Di antara ilmu itu ada yang wajib, dan ada pula yang mustahab (sunnah)

وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الزِّيَادَةِ عَلَيْهِ
Serta ilmu lainnya di samping semua itu.

وَالْبُلُوغُ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ هَذِهِ مَرْتَبَةٌ عَظِيمَةٌ
Adapun menghafal al-Qur’an merupakan kedudukan agung yang memiliki banyak keutamaan

فِيهَا فَضَائِلُ وَثَبَتَتْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ
yang disebutkan dalam al-Qur’an as-Sunnah dan al-Ijma’.

خِلَافًا لِمَنْ يُمَوِّهُ بِأَنَّهُ
Bukan seperti perkataan orang bahwa,..

لَيْسَ مِنْ هَدْيِ الْإِسْلَامِ الْحِرْصَ عَلَى الْحِفْظِ وَإِنَّمَا الْحِرْصُ عَلَى الْفَهْمِ
“Tuntunan agama Islam tidak tertaut pada menghafal, namun pada memahami.”

فَهَدْيُ الْإِسْلَامِ الْحِرْصُ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَفَهْمِهِ
Sebab tuntunan agama Islam memberi perhatian pada menghafal al-Qur’an dan memahaminya

لَكِنْ بِاعْتِبَارِ مَا يَحُفُّ بِذَلِكَ مِنَ الْقَرَائِنِ
Namun itu tergantung pada keadaan-keadaan yang melingkupi;

فَالْمُتَعَلِّمُ إِذَا كَانَ صَغِيرًا وُجِّهَ إِلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَأُفْرِغَ لَهُ
Jika penuntut ilmu masih kecil, maka dianjurkan untuk fokus menghafal al-Qur’an

أَمَّا إِذَا كَانَ كَبِيرًا
Namun jika telah dewasa,…

فَإِنَّهُ يَطْلُبُ مِنَ الْعِلْمِ الْمُتَأَكِّدِ فِي حَقِّهِ وَمَا بَعْدَهُ
maka ia harus mencari ilmu yang sangat berkaitan dengan kewajibannya dan lain sebagainya.

فَيَحْفَظُ وَيَسْتَشْرِحُ بُطُونَ الْعِلْمِ
Maka ia harus menghafal dan mempelajari ilmu yang mendalam,

مَعَ الْحِرْصِ عَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ وَالْاِجْتِهَادِ بِذَلِكَ بِحَسَبِ وُسْعِهِ
sembari tetap berusaha keras menghafal al-Qur’an sesuai kemampuannya,

وَيَأْخُذُ كُلَّ ذَلِكَ شَيْئًا فَشَيْئًا حَتَّى يَصِلَ
serta melakukan semua itu sedikit demi sedikit hingga dapat mencapainya.

فَإِنَّ الْعُمُرَ لَوْ كَانَ كَعُمُرِ نُوْحٍ لَمْ يَفْرَغْ لِلْعِلْمِ
Karena umur manusia meski sepanjang umur Nabi Nuh, tetap tidak cukup untuk mencari ilmu.

فَالْعِلْمُ بَحْرٌ وَاسِعٌ
Karena ilmu adalah lautan luas.

لَكِنَّ الْإِنْسَانَ يَأْخُذُهُ شَيْئًا فَشَيْئًا مَعَ مُهِمَّاتِهِ
Namun manusia harus berusaha mencarinya sedikit demi sedikit sesuai kebutuhannya.

وَمَنْ صَبَرَ وَثَابَرَ
Barangsiapa yang bersabar dan berjuang

فَسَيَصِلُ إِلَى الْخَيْرِ الْكَثِيرِ مِنْهُ
niscaya akan meraih banyak kebaikan.

وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّحِيحِ
Dalam hadits shahih, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

ذَكَرَ مِنْ أَحْوَالِ هَذِهِ الْأُمَّةِ الْمُخِلَّةِ
menyebutkan salah satu keadaan umat ini yang tidak baik

بِسَيْرِهَا الْاِسْتِعْجَال
yaitu yang berjalan dengan terburu-buru.

أَيْ قَالَ وَلَكِنَّكُمْ قَوْمٌ تَسْتَعْجِلُونَ
Yakni beliau bersabda, “Namun kalian kaum yang terburu-buru.”

وَهَذَا ظَاهِرٌ فِي أَحْوَالِ النَّاسِ فِي بَابِ الْعِلْمِ
Dan hal ini tampak sekali dalam perkara mencari ilmu,..

أَوْ فِي بَابِ الْعَمَلِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَبْوَابِ
dalam bekerja, atau dalam perkara lainnya.

فَيَنْبَغِي أَنْ يَسِيرَ الْإِنْسَانُ سَيْرًا وَئِيدًا مُسْتَرْشِدًا
Maka hendaklah seseorang berjalan dengan tenang sesuai petunjuk.

وَلَا يَلْزَمُ أَنْ يَقْرِنَ بَيْنَ الْحِفْظِ وَمَعْرِفَةِ الْمَعَانِي
Tidak harus menghafal al-Qur’an dan mengetahui makna-maknanya sekaligus,

فَهَذِهِ مَرْتَبَةٌ كُمْلَى
karena ini merupakan derajat yang tertinggi.

وَمَا كَانَ عَلَيْهِ الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Adapun dahulu para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- (dalam mencari ilmu),

كَانَ لَهُمْ فِيهِ مَا يُسَاعِدُهُمْ
mereka memiliki banyak aspek pendukung;

مِنْ صِحَّةِ فُهُوْمِهِمْ وَسَلَامَةِ أَلْسَنَتِهِمْ
seperti pemahaman yang benar, kefasihan bahasa,

وَشُهُودِهِمُ التَّنْزِيلَ
dan berada di zaman turunnya wahyu,

فَيَظْهَرُ لَهُمْ مِنْ مَعَانِي الْقُرْآنِ لِأَوَّلِ وَهْلَةٍ
sehingga makna-makna al-Qur’an jelas bagi mereka, meski baru pertama mereka dengar…

مَا لَا يَظْهَرُ لَنَا
yang bagi kita belum jelas.

فَأَنْتَ إِذَا سَأَلْتَ جُمْهُورَ النَّاسِ
Jika kamu bertanya pada kebanyakan orang…

مَا مَعْنَى أَنْ تُبْسَلَ ؟
Apa makna kalimat “An Tubsala”?

رُبَّمَا لَمْ تَخْرُجْ إِلَّا بِقَلِيلٍ مِنْهُمْ
Mungkin yang dapat menjawabmu hanya sedikit saja.

وَأَمَّا الصَّحَابَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Sedangkan para sahabat -radhiyallahu ‘anhum-,

فَكَانُوا يَتَكَلَّمُونَ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ
mereka berbicara dengan bahasa arab tulen

فَيَعْرِفُونَ غَالِبَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنَ الْمَعَانِي
sehingga mereka mengetahui mayoritas makna kalimat dalam al-Qur’an.

وَيَنْبَغِي أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ أَخْذَ الْعِلْمِ فِي الْأُمَّةِ
Dan yang harus diketahui bahwa metode menuntut ilmu pada umat ini

تَتَطَوَّرُ أَحْوَالُهُ بِقَدْرِ مَا يُحْفَظُ فِيهَا
telah mengalami perkembangan, sejalan dengan metode yang dapat menjaga ilmu itu.

فَقَدْ يَكُونُ شَيْئًا كَانَ فِي الْأَوَّلِ
Sehingga terkadang suatu metode pada awalnya dipakai…

غَيْرَ مَعْمُولٍ بِهِ فِي الْآخِرِ
namun kemudian tidak berlaku lagi.

وَهَذَا لَهُ شَوَاهِدُ كَثِيرَةٌ مِنْهَا هَذِهِ الْمُتُونُ
Ada banyak sekali contohnya, di antaranya adalah matan-matan ilmu ini.

فَلَمْ يَكُنْ فِي عَهْدِ أَبِي بِكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Di zaman Abu Bakar, Umar, dan ‘Utsman -radhiyallahu ‘anhum-

فَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِينَ شَيْءٌ اسْمُهُ الْمُتُونُ
juga di zaman tabi’in dan tabi’ut tabi’in, tidak ada sesuatu yang dinamakan dengan matan.

وَلَكِنْ بَعْدَ ذَلِكَ اِسْتَقَرَّ الْأَمْرُ عَلَى هَذَا
Namun setelah itu, matan-matan ini banyak digunakan.

وَأَيْضًا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ مَا يُسَمَّى بِجَمْعِ الْقِرَاءَاتِ
Dan juga, di zaman mereka tidak ada yang dinamakan pengumpulan qira’at al-Qur’an.

وَبَعْدَ ذَلِكَ لَمَّا صَارُوا يَقْرَؤُونَ بِهَا كَانُوا يُفْرِدُونَ الرِّوَايَةَ الْوَاحِدَةَ
Namun setelah itu; ketika mereka membaca dengan berbagai qira’at, mereka memilih satu riwayat

ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ صَارَ مِنْ عَادَةِ النَّاسِ بَعْدَ خَمْسِ مِئَةٍ أَنَّهُمْ يَجْمَعُونَ الْقِرَاءَاتِ
kemudian setelah berjalan 500 tahun, orang-orang mulai terbiasa mengumpulkan bacaan qira’at.

وَأَنَّ هَذَا الطَّرِيقَ لِحِفْظِ الْعِلْمِ لِئَلَّا يَضِيْعَ
Dan ini merupakan metode untuk menjaga ilmu agar tidak lenyap.

وَإِدْرَاكُ هَذِهِ الْمَعَانِي مَوْكُوْلٌ لِمَنْ لَهُمْ مَعْرِفَةٌ بِالتَّرْبِيَةِ الْعِلْمِيَّةِ
Dan untuk mengetahui hal ini, harus diserahkan kepada orang yang memahami tarbiyah ilmiyah.

الَّذِينَ امْتَزَجَتْ قَلُوبُهُمْ بِالْعِلْمِ
Yang hati mereka telah menyatu dengan ilmu,

فَأَحَبُّوا الْعِلْمَ وَعَاشُوا لَهُ
sehingga mereka mencintai ilmu dan hidup untuk itu.

فَهَؤُلَاءِ هُمُ الَّذِينَ لَهُ لَهُمْ بَصيرَةٌ
Merekalah yang memiliki kejernihan pandangan

إِذَا وَفَّقَهُمُ اللهُ وَاسْتَعَانُوا بِهِ
jika mereka mendapat taufik, dan memohon pertolongan kepada Allah.

وَأَمَّا النَّاعِتُونَ طَرِيقَ الْعِلْمِ
Adapun orang yang mengada-ada metode menuntut ilmu…

فَكَمْ مِنْ نَاعِتٍ نَاعِقٌ ؟
maka betapa banyak dari mereka yang hanya berbual

إِذْ يُرْشِدُ إِلَى أَشْيَاءَ هِي مِنْ ضَرْبِ الْخَيَالِ
karena mereka hanya memberi arahan yang mustahil dilakukan,

وَيَقِلُّ انْتِفَاعُ النَّاسِ بِهَا
dan sedikit sekali yang mendapat manfaat darinya.

فَأَنَا كَمَا نَبَّهْتُ إِلَى أَصْلٍ كُلِّيّ فِي هَذَا الْأَمْرِ
Dan aku menjelaskan kaidah umum dalam hal ini,

أُنَبِّهُ إِلَى الْحِرْصِ عَلَى الْاِسْتِرْشَادِ
selain itu aku juga menganjurkan untuk selalu meminta bimbingan…

بِأَهْلِ الْمَعْرِفَةِ وَالْأَخْذِ لِلْعِلْمِ فِي هَذَا وَمِثْلِهِ
kepada orang yang berpengalaman dalam bidang ilmu dan menuntut ilmu dalam hal ini dan lainnya.

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menjelaskan bahwa kitabnya mengandung tiga jenis ‘Ulumul Qur’an. Yaitu ilmu aqidah dan asas-asas tauhid. Penulis -rahimahullahu Ta’ala- menyebutkan bahwa ini adalah ilmu yang paling mulia secara mutlak, paling utama dan paling sempurna. Dengan ilmu ini, hati dapat teguh di …

Baca selengkapnya…Mengapa Ilmu Aqidah itu Ilmu yang Paling Mulia? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Terdapat 6 zikir setelah shalat. Pertama: Membaca istighfar sebanyak 3 kali. Dan lafazh yang paling sempurna adalah (ASTAGHFIRULLAAHA WA ATUUBU ILAIIH). Sedangkan yang paling pendek adalah (ASTAGHFIRULLAAH) Inilah zikir pertama yang dapat dibaca setelah selesai mengerjakan shalat fardhu lima waktu, yaitu membaca …

Baca selengkapnya…Bacaan Istighfar Setelah Shalat Wajib yang Paling Bagus – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Ayo Belajar Fiqih Hadis – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pembahasan ke-14 adalah Fiqih al-Hadits. Ibnu ‘Uyainah berkata -yakni Sufyan bin ‘Uyainah al-Hilali-,
“Wahai ash-Habul Hadits (yaitu ulama hadis dan orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), pelajarilah fiqih hadits.” “Wahai para ash-Habul Hadits, pelajarilah fiqih hadits.” Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqih wa al-Mutafaqqih. Dan yang dimaksud dengan fiqih hadits adalah pemahaman hadits dengan pemahaman yang benar. Fiqih Hadits adalah salah satu cabang ilmu hadits yang disebutkan para ulama terdahulu. Namun Fiqih Hadits ini dilalaikan oleh para ulama muta’akhir.

Para ulama muta’akhir yang mengklasifikasi cabang-cabang ilmu hadits seperti Ibnu ash-Shalah, al-‘Iraqi, hingga as-Suyuthi;
mereka menyebutkan lebih dari 90 cabang, namun tidak memasukkan cabang (fiqih hadits) ini. Padahal Abu Abdillah al-Hakim, pengarang kitab Ma’rifatu Ulum al-Hadits menyebutkan salah satu cabang ilmu hadits adalah fiqih hadits. Yaitu dengan mengetahui, memahami, dan meneliti hukum-hukum suatu hadits. Dan petunjuk pada hal ini merupakan petunjuk agar berusaha memahami apa yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena melalui pemahamannya, akan menghasilkan pengamalan tuntunan Nabi, karena seluruh hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Baik itu yang berasal dari perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat beliau semuanya mengandung tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan cara untuk memahami tuntunan itu agar dapat diamalkan adalah dengan mengetahui kandungan fiqihnya; yakni dengan memahami hadits tersebut dan mengetahui makna-maknanya, sehingga jika makna-makna tersebut telah dipahami dengan benar, maka kamu baru dapat mengamalkannya.

Sebagai contoh, kamu mendengar hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam Shahih Muslim dari riwayat Tamim, “Agama adalah nasehat.” Para sahabat bertanya, “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan bagi para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.” Jika kamu hendak mengamalkan hadits ini, kamu harus mengetahui tuntunan Nabi dalam menjalankan nasehat ini, dan kamu harus mengetahui makna-makna yang terkandung pada kalimat, “Nasehat bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya -shallallahu ‘alaihi wa sallam- para pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin. Apabila kamu tidak mendalami fiqih hadits, meski hanya melalui pendalaman dari sisi bahasa arab, maka akan timbul kesalahan dalam memahami makna-maknanya, yang dapat menjerumuskannya ke dalam kerusakan dan kesalahan pemahaman, karena orang tersebut menisbatkan makna-makna yang ia pahami kepada hadits-hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal bukan seperti itu maknanya.

Maka ia harus memiliki perhatian besar dalam memahami sunnah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena jika ia memahaminya dengan benar, maka ia telah menjaga keselamatan pemikirannya. Karena pemahaman hadits itu tidak merujuk pada makna yang salah yang tidak dimaksudkan oleh hadits tersebut. Dan akhir-akhir ini tersebar luas di masyarakat, karena memahami hadits hanya dengan pandangan akalnya semata. Bahkan oleh sebagian orang yang mengaku mempelajari hadits. Dia mengatakan, “Tampaknya maksud hadits ini adalah begini dan begitu.” Yang ia maksud dengan ‘tampaknya’ adalah yang terbesit dalam dirinya. Namun jika kamu mencarinya, kamu tidak akan mendapati ulama Islam yang memahaminya seperti itu. Bahkan jika kamu mencarinya di setiap generasi umat ini, kamu tidak akan mendapati seorang pun dari mereka yang mengatakan bahwa salah satu syariat, baik itu yang sunnah atau wajib yang telah ditetapkan adalah bagian dari makna hadits itu.

Yang menjadi bukti kesalahan dalam memahami hadits yakni ketika dikeluarkan dari konteks yang seharusnya yang merupakan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan diriwayatkan kepada kita dari para sahabat, dan para sahabat meriwayatkannya kepada para tabi’in, dan tabi’in meriwayatkannya kepada tabi’ut tabi’in, begitu seterusnya di setiap generasi umat. Maka jika kamu hendak mengetahui fiqih hadits, kamu harus memulai dari generasi yang meriwayatkan hadits itu kepadamu. Dan ini terkadang kembali pada perhatian kepada pengetahuan tentang hadits. Dan terkadang pula kembali pada penguasaan bahasa arab yang benar. Karena salah satu hal yang merusak pemahaman adalah kerusakan bahasa arab.

Al-Hasan al-Bashri dan Abu ‘Amr bin al-Ala’ menyebutkan, bahwa para pelaku bid’ah bersumber dari ‘ujmah, yakni ketidaktahuan mereka terhadap bahasa arab, menghasilkan dalam diri mereka makna-makna yang salah yang mereka terapkan pada teks-teks syariat. Dan saat ini banyak sekali yang berkaitan dengan keselamatan pemikiran. Bahwa meskipun banyak orang yang mengaku sebagai orang arab, namun lisan mereka bukan lisan arab. Mereka hanya orang arab dari sisi silsilah nasab saja, namun jika kamu perhatikan kemampuan bahasa arab mereka, kamu mendapati mereka tidak menguasai bahasa arab, padahal dengan bahasa arab inilah teks-teks syariat dapat dipahami. Dan apabila ada orang yang kemampuan bahasanya tidak dapat dipercaya, maka bagaimana dia akan dipercaya untuk memahami syariat? Dan hal ini telah disampaikan oleh Abu Muhammad Ibnu Hazm -rahimahullahu Ta’ala-

===============================================================================

وَالْمُفْرَدَةُ الرَّابِعَةَ عَشْرَةَ فِقْهُ الْحَديثِ

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ وَهُوَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ الْهِلَالِيُّ

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ

تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ

يَا أَصْحَابَ الْحَديثِ تَعَلَّمُوا فِقْهَ الْحَديثِ

رَوَاهُ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي الْفَقِيهِ وَالْمُتَفَقِّهِ

وَالْمُرَادُ بِفِقْهِ الْحَديثِ

أَيْ فَهْمُهُ عَلَى الْوَجْهِ الصَّحِيحِ

وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ الَّتِي ذَكَرَهَا الْمُتَقَدِّمُونَ

وَأَهْمَلَهَا الْمُتَأَخِّرُونَ

فَالْعَادُّونَ عُلُومَ الْحَديثِ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ

كَابْنِ الصَّلَاحِ ثُمَّ الْعِرَاقِيِّ وَانْتِهَاءً إِلَى السُّيُوطِيِّ

وَبَلَّغُوهَا بِضْعًا وَتِسْعِينَ نَوْعًا تَرَكُوا هَذَا النَّوْعَ

مَعَ أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللهِ الْحَاكِمَ

صَاحِبَ مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَديثِ

ذَكَرَهُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَديثِ فِقْهَ الْحَديثِ

بِمَعْرِفَتِهِ وَدِرَايَتِهِ وَالْاِطِّلَاعِ عَلَى أَحْكَامِهِ

وَالْإِرْشَادُ إِلَى هَذَا هُوَ إِرْشَادٌ إِلَى طَلَبِ فَهْمِ

مَا يُنْقَلُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

لِأَنَّ فَهْمَ ذَلِكَ يُظْهِرُ التَّطْبِيقَ لِلْهَدْيِ النَّبَوِيِّ

فَالْأَحَادِيثُ الَّتِي رُوِيَتْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَوْلًا أَوْ فِعْلًا أَوْ تَقْرِيرًا أَوْ صِفَةً

يَسْتَكِنُّ فِيهَا هَدْيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَسَبِيلُ فَهْمِهَا لِتَطْبِيقِ هَذَا الْهَدْيِ

مَعْرِفَةُ فِقْهِهَا

بِأَنْ تَفْقَهَ هَذَا الْحَديثَ وَتَعْرِفَ مَعَانِيِهِ

حَتَّى إِذَا ثَبَتَتْ فِيهِ هَذِهِ الْمَعَانِي

بَادَرْتَ إِلَى تَطْبِيقِهَا

فَمَثَلًا أَنْتَ تَسْمَعُ الْحَديثَ الْمَرْوِيَّ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مُسْلِمٍ

مِنْ حَديثِ تَمِيْمٍ الدِّينُ النَّصِيحَةُ

قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟

قَالَ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تُطَبِّقَ هَذَا الْحَديثَ

اِفْتَقَرْتَ إِلَى مَعْرِفَةِ الْهَدْيِ النَّبَوِيِّ فِي صِفَةِ الْقِيَامِ بِهَذِهِ النَّصِيحَةِ

فَتَحْتَاجُ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا يَنْدَرِجُ فِي مَعَانِي

النَّصِيحَةِ لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

فَإِذَا لَمْ تَتَطَلَّبْ فِقْهَ الْحَديثِ

نَشَأَ وَلَوْ بِمُجَرَّدِ الْاِقْتِصَارِ عَلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

نَشَأَ مِنْ ذَلِكَ الْغَلَطُ فِي فَهْمِ مَعَانِيْهِ

مِمَّا يُوقِعُ فِي فَسَادِ الْعَقْلِ وَاخْتِلَالِهِ وَاضْطِرَابِهِ

لِأَنَّ الْمَرْءَ يَصِيْرُ يَنْسِبُ الْمَعَانِي الَّتِي يَدَّعِيهَا

إِلَى أَحَادِيثِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهِي لَيْسَتْ مِنْهَا

فَلَا بُدَّ أَنْ يَعْتَنِيَ الْمَرْءُ بِفِقْهِ

مَا نُقِلَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ السُّنَّةِ

فَإِنَّهُ إِذَا فَقِهَهُ عَلَى الْوَجْهِ الْأَتَمِّ

حَفِظَ أَمْنَ فِكْرِهِ، لِأَنَّ

الْفَهْمَ لِهَذَا الْحَديثِ لَا يَتَوَجَّهُ إِلَى مَعْنًى فَاسِدٍ

لَمْ يُرَدْ بِهَذَا الْحَديثِ

وَهَذَا شَاعَ بِالنَّاسِ بِأَخَرَةٍ

لاِقْتِصَارِهِمْ عَلَى مُجَرَّدِ النَّظَرِ الْعَقْلِيِّ

حَتَّى مِمَّنْ يَنْتَسِبُ إِلَى الْأَثَرِ

فَتَجِدُهُ يَقُولُ ظَاهِرُ هَذَا الْحَديثِ كَذَا وَكَذَا

وَيُرِيدُ بِالظَّاهِرِ مَا وَقَعَ فِي نَفْسِهِ

وَإِذَا رَأَيْتَ هَذَا الظَّاهِرَ

لَمْ تَجِدْ أَحَدًا قَدْ قَالَ بِهِ مِنْ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ

حَتَّى أَنَّكَ تَتَصَفَّحُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ قَرْنًا بَعْدَ قَرْنٍ فَلَا تَجِدُ أَحَدًا قَالَ

إِنَّ مِنْ مَعَانِي الشَّرِيعَةِ مَا اسْتُنْبِطَ مِنَ الِاسْتِحْبَابِ أَوِ الْإِيجَابِ

مِنْ مَعَانِي هَذَا الْحَديثِ

مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْغَلَطِ فِي فِقْهِ الْحَديثِ

لَمَّا اُقْتُطِعَ عَنْ سِيَاقِهِ الَّذِي جَاءَ فِيهِ

مِنْ كَوْنِهِ مِنْ كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَأَنَّهُ نُقِلَ إِلَيْنَا عَنِ الصَّحَابَةِ

وَأَنَّ الصَّحَابَةَ نَقَلُوهُ إِلَى التَّابِعِينَ

وَأَنَّ التَّابِعِينَ نَقَلُوهُ إِلَى أَتْبَاعِ التَّابِعِينَ

وَهَكَذَا فِي طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ

فَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ فِقْهَ الْحَديثِ

يَنْبَغِي أَنْ تَبْتَدِئَ مِنَ الطَّبَقَاتِ الَّتِي نَقَلَتْ إِلَيْكَ هَذَا الْحَديثَ

وَهَذَا يَرْجِعُ تَارَةً إِلَى مَا تَقَدَّمَ مِنَ الْعِنَايَةِ بِمَعْرِفَةِ الْآثَارِ

وَتَرْجِعُ تَارَةً أُخْرَى إِلَى صِحَّةِ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

فَإِنَّ مِمَّا يُفْسِدُ الْعَقْلَ

فَسَادَ اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

قَدْ ذَكَرَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَأَبُو عَمْروٍ بْنُ الْعَلَاءِ

أَنَّ أَهْلَ الْبِدَعِ أُتُوا مِنَ الْعُجْمَةِ

أَيْ أَنَّ عَدَمَ مَعْرِفَتِهِمْ بِاللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

أَنْتَجَتْ فِي نُفُوسِهِمْ مَعَانٍ فَاسِدَةً لِلْخِطَابِ الشَّرْعِيِّ حَمَلُوهَا عَلَيْهَا

وَهَذَا يُوجَدُ الْيَوْمَ فِي مُتَعَلِّقَاتِ الْأَمْنِ الْفِكْرِيِّ

أَنَّ النَّاسَ وَإِنْ كَانُوا فِيمَا يَزْعُمُونَ عَرَبًا

لَكِنْ لَيْسَتْ أَلْسِنَتُهُمْ عَرَبِيَّةً

فَهُمْ عَرَبٌ بِاعْتِبَارِ سُلَالَاتِ أَنْسَابِهِمْ

لَكِنْ إِذَا جِئْتَ إِلَى اللِّسَانِ الْعَرَبِيِّ

لَا تَجِدُ عِنْدَهُمْ قُوَّةَ اللِّسَانِ

الَّتِي يُفْهَمُ بِهَا خِطَابُ الشَّرْعِ

وَإِذَا كَانَ الْمَرْءُ لَا يُؤْمَنُ عَلَى اللِّسَانِ

فَكَيْفَ يُؤْمَنُ عَلَى فَهْمِ الشَّرِيعَةِ بِهِ ؟

وَقَدْ ذَكَرَ هَذَا أَبُو مُحَمَّدٍ بْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

 

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apa Bacaan Ta’awudz yang Dibaca dalam Shalat ? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jika seseorang memulai shalatnya, Maka disyariatkan baginya untuk melakukan dua sunnah: Sunnah yang pertama adalah membaca ta’awwudz.Dan bacaan ta’awwudz Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diriwayatkan dari jalur-jalur riwayat hadits dalam kitab Sunan dan lainnya, tidak ada satu haditspun yang shahih.

Setiap hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang ta’awwudz dalam shalat, seperti…“A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi” ..bukan berasal dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun lafazh ta’awwudz diriwayatkan dari jalur periwayatan al-Qur’an, yaitu periwayatan para ulama qira’at.

Para ulama qira’at meriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berbagai macam lafazh ta’awwudz, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jazari -rahimahullah- dalam kitab an-Nasyr, dan juga ulama selain beliau juga menyebutkan tentang ini. Dan kalimat yang paling banyak disepakati oleh para ulama qira’at dan ulama fiqih adalah kalimat, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.” Sebagai bentuk pengamalan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Jika kamu membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Inilah lafazh yang diutamakan, sebagaimana disebutkan asy-Syathibi dalam bait sya’irnya, “Kapanpun kamu hendak membaca al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan dengan bacaan yang jelas tanpa terkecuali sesuai lafazh yang ada di surat an-Nahl yang mudah dibaca, dan jika ingin lebih menyucikan Allah (dengan menambah lafazhnya) maka itu bukan kebodohan darimu.” Maka setiap hamba dapat berta’awwudz dengan lafazh yang telah disepakati ini. Dan jika hendak menambah lafazhnya, hendaklah memilih lafazh yang disebutkan para ulama qira’at. Seperti lafazh, “A’uudzu billaahis-samii-‘il-‘aliimi minasy-syaithoonirrojiim” Atau lafazh, “A’uudzu billaahil-‘azhiimi minasy-syaithoonir-rojiim.” Atau lafazh, “A’uudzu billaahi minasy-syaithoonirrojiim innahu huwas-samii’-‘ul-‘aliim.” membacanya dengan idgham atau tidak. Dan terdapat lafazh-lafazh lain yang disebutkan para ulama qira’at. Maksudnya adalah agar kamu mengetahui bahwa lafazh isti’adzah yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah melalui riwayat qira’at, karena qira’at juga bersumber dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- Qira’ah merupakan sunnah yang shahih, sebagaimana yang dikatakan oleh sekelompok ulama salaf.

Sedangkan riwayat hadits-hadits tentang sifat shalat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lafazh isti’adzah, maka sama sekali tidak ada yang shahih. Dan seorang hamba disyariatkan untuk membaca ta’awwudz di awal shalatnya karena dapat menjauhkannya dari musuh yang tidak terlihat, sebab setiap orang memiliki dua jenis musuh Pertama, musuh yang tidak terlihat, yaitu setan. Kedua, musuh yang terlihat, yaitu setan-setan dari jenis manusia.Dan al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa musuh yang tidak terlihat dapat dihindari dengan memohon perlindungan kepada Allah karena seorang hamba tidak memiliki cara lain kecuali dengan berlindung kepada Allah.

Adapun musuh yang terlihat dari golongan manusia, maka dapat dihindari dengan memperlakukannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman: “Tolaklah (keburukan) dengan perbuatan baik, maka antara kamu dan orang yang memusuhimu itu akan berbalik menjadi temanmu yang setia.” Hal ini seperti yang disebutkan Ibnu al-Jazari -rahimahullahu Ta’ala- dengan berkata, “Setanmu yang menggoda adalah musuhmu maka mohonlah perlindungan dan penjagaan kepada Allah darinya adapun musuhmu dari jenis manusia; kenali rasa cintanya, maka kamu akan menguasainya, dan perlakukan (dengan baik), maka akan menjadi (teman setiamu).

===============================================================================

إِذَا اسْتَفْتَحَ الْمُصَلِّيُّ

شُرِعَتْ لَهُ سُنَّتَانِ اثْنَتَانِ

السُّنَّةُ الْأُوْلَى أَنْ يَتَعَوَّذَ

وَتَعَوُّذُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الْمَنْقُولُ بِالطُّرُقِ الْحَديثِيَّةِ

فِي السُّنَنِ وَغَيْرِهَا لَا يَثْبُتُ مِنْهُ حَديثٌ وَاحِدٌ

فَكُلُّ الْأَحَادِيثِ الْمَرْوِيَّةِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ مِثْلُ

أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

لَا يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
.
وَإِنَّمَا تَثْبُتُ الْاِسْتِعَاذَةُ بِطَرِيقِ النَّقْلِ الْقُرْآنِيِّ

وَهُوَ نَقْلُ عُلَمَاءِ الْقِرَاءَاتِ

وَقَدْ نَقَلَ عُلَمَاءُ الْقِرَاءَاتِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنْوَاعًا عِدَّةً

ذَكَرَهَا ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي النَّشْرِ وَغَيْرُهِ

أَجَمْعُهَا وَهُوَ الَّذِي وَقَعَتْ عَلَيْهِ الْكَلِمَةُ جَمْعَاءٌ بَيْنَ الْقُرَّاءِ وَالْفُقَهَاءِ

هُوَ قَوْلُ أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِئْتِمَارًا بِقَوْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ

فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَهَذَا هُوَ اللَّفْظُ الْمُقَدَّمُ

كَمَا قَالَ الشَّاطِبِيُّ فِي قَصِيدَتِهِ

إِذَا مَا أَرَدْتَ الدَّهْرَ تَقْرَأُ فَاسْتَعِذْ

جِهَارًا مِنَ الشَّيْطَانِ بِاللهِ مُسْجَلًا

عَلَى مَا أَتَى فِي النَّحْلِ يُسْرًا وَإِنْ تَزِدْ

لِرَبِّكَ تَنْزِيهًا فَلَسْتَ مُجَهَّلًا

فَالْعَبْدُ لَهُ أَنْ يَسْتَعِيذَ بِهَذَا اللَّفْظِ الَّذِي اتُّفِقَ عَلَيْهِ

وَإِذَا أَرَادَ الزِّيَادَةَ

فَإِنَّهُ يَنْظُرُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْقُرَّاءُ

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَمِنْهَا أَعَوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

بِالْإِدْغَامِ وَعَدَمِهِ

وَثَمَّ أَوْجُهٌ أُخْرَى ذَكَرَهَا الْقُرَّاءُ

وَالْمَقْصُودُ أَنْ تَعْرِفَ أَنَّ الْاِسْتِعَاذَةَ الثَّابِتَةَ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا هِي بِطَرِيقِ نَقْلِ الْقِرَاءَاتِ

لِأَنَّ الْقِرَاءَاتِ مُتَلَقَّاةٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَالْقِرَاءةُ سُنَّةٌ ثَابِتَةٌ كَمَا صَحَّ

عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ السَّلَفِ

وَأَمَّا الْأَحَادِيْثُ الْمَروِيَّةُ فِي صِفَةِ صِلَاتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فِي الْاِسْتِعَاذَةِ فَلَا يَثْبُتُ مِنْهَا حَدِيثٌ

وَإِنَّمَا شُرِعَ لِلْعَبْدِ أَنْ يَسْتَعِيذَ فِي صَدْرِ صِلَاتِهِ

لِأَنَّهُ يَدْفَعُ بِذَلِكَ عَدُوَّ الْبَاطِنِ عَنْهُ

فَإِنَّ الْمَرْءَ لَهُ نَوْعَانِ مِنَ الْأَعْدَاءِ

أَحَدُهُمَا عَدُوُّ الْبَاطِنِ وَهُوَ الشَّيْطَانُ

وَالثَّانِي عَدُوُّ الظَّاهِرِ وَهُمْ شَيَاطِينُ الْإِنْسِ

وَقَدْ دَلَّ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ عَلَى أَنَّ عَدُوَّ الْبَاطِنِ

يُدْفَعُ بِالْاِسْتِعَاذَةِ بِاللهِ

لِأَنَّهُ لَا سَبِيلَ لِلْعَبْدِ إِلَيْهِ

إِلَّا بِالْاِلْتِجَاءِ وَالْاِعْتِصَامِ إِلَى اللهِ

أَمَّا عَدُوُّ الظَّاهِرِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ

فَإِنَّهُ يُدْفَعُ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

كَمَا قَالَ تَعَالَى

اِدْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

وَإِلَى هَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ ابْنُ الْجَزَرِيِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بِقَوْلِهِ

شَيْطَانُكَ الْمُغْوِي عَدُوٌّ

فَاعْتَصِمْ بِاللهِ مِنْهُ وَالْتَجِي وَتَعَوَّذِ

وَعَدُوُّكَ الْإِنْسِيُّ دَارِ وِدَادَهُ تَمْلِكُهُ

وَادْفَعْ بِالَّتِي فَإِذَا الَّذِي

 

3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

3 Rukun Syukur yang Wajib Kamu Tahu dan Amalkan – Syaikh Shalih al-Fauzan #NasehatUlama

Wahai hamba Allah, syukur itu tidak sekedar dengan lisan saja, syukur memiliki 3 rukun yang harus dilakukan semuanya,
sehingga apabila tidak ada atau hilang salah satunya maka syukur tidak bisa terwujud.

Tiga rukun syukur itu.

PERTAMA:
Mengucapkan dengan lisan, mengabarkan nikmat Allah dengan lisannya, menyebut-nyebut nikmat tersebut dengan niat untuk mengungkapkan syukur atas nikmat tersebut. Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 11) Ketika Allah memberi tahu dan menyebutkan nikmat-nikmat-Nya kepada Nabi-Nya,

“Bukankah Allah mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. …

Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Ad-Duha: 6-11)

Sebut-sebutlah nikmat Allah!

“Hai Bani Israil, sebutlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu. …” (QS. Al-Baqarah: 40)

Jangan sandarkan kenikmatan kepada selain Allah, jangan menyandarkannya kepada diri Anda sendiri, jangan pula kepada siapapun! Namun hanya Allah saja yang memberikan semua kenikmatan yang telah sampai kepada Anda, maka syukurilah!

Pertama, hendaknya seseorang mengabarkannya dengan lisannya, sebutlah dengan lisan Anda! Dan jangan mengatakan bahwa nikmat ini adalah adalah dari si A atau si B tapi katakan bahwa ini dari Allah.

KEDUA:
Rukun syukur yang kedua adalah mengakui nikmat tersebut secara batin, dari dalam hatinya.

Karena ada orang yang menyebut-nyebut nikmat Allah dan memuji Allah dengan lisannya akan tetapi dia tidak mengakui bahwa nikmat itu dari Allah bahkan dia menganggap bahwa itu karena usahanya, kekuatannya, ketekunannya, kesungguhannya, pekerjaannya dan kecerdasannya.

Sebagaimana perkataan Qarun ketika kaumnya menegurnya, Qarun telah dikaruniai Allah, diberi oleh Allah perbendaharaan berupa harta yang banyak jumlahnya, banyak sekali.

“Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qasash: 76)

Sekumpulan orang tidak mampu membawa kunci-kuncinya, karena banyaknya kunci perbendaraannya.

Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, …” (Al-Qasash: 76)
Maksudnya bangga karena sombong, congkak dan takabur.

“… Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qasash: 76)

“Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…”

“… dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasash: 77)

Apa jawaban orang bodoh (Qarun) ini?

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qasash: 78)

Allah tidak punya andil dalam hal itu, aku mendapatkannya karena kerja kerasku, pekerjaanku, pengalamanku dalam membuat barang, pengalamanku dalam berdagang, dan Qarun tidak berkata bahwa ini adalah dari Allah.

Qarun berkata, “Aku pantas mendapatkannya di sisi Allah dan ini bukan karena karunia dari Allah, aku berhak mendapatkannya, bukan karena Allah, ini adalah hakku.”

Sebagaimana ucapan banyak orang, “Ini adalah hak kami, kami berhak mendapatkanya.” Mereka tidak berkata, “Ini adalah karunia dari Allah subhanahu wa ta’ala, ini adalah pemberian dari Allah.”

Semestinya dia memuji Allah atas karunia tersebut dan memperhatikan fakir miskin di sekitarnya.

Namun dia justru menganggap nikmat ini karena kerja kerasnya, upayanya, usahanya dan lain sebagainya, pekerjaannya, pengalamannya, ijazah-ijazahnya dan seterusnya. Tidak! Ini semua dari Allah ‘azza wa jalla.

Karena selain Andapun, selain Anda ada yang lebih pandai dari Anda, lebih pintar dari Anda, namun Allah hanya ingin menguji Anda dengan harta dan kenikmatan ini, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat ini!

KETIGA:
Rukun syukur yang ketiga adalah menggunakan nikmat pemberian Allah dalam ketaatan kepada Allah jalla wa ‘ala, dalam ketaatan kepada Allah yang memberi nikmat. Jangan Anda gunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang haram, berfoya-foya, boros, pergi ke negara-negara kafir, untuk memuaskan syahwat yang terlarang.
Manfaatkan untuk ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, jangan gunakan untuk membuka tempat-tempat yang menciptakan keburukan, memunculkan alat-alat musik dan seruling, memunculkan nyanyian-nyanyian dan menimbulkan berbagai dosa.

Dan tempat-tempat yang tidak menghasilkan apapun kecuali kejelekan, membuka pintu keburukan kepada manusia, menyebarkan keburukan dengan perbuatan dan tempat-tempat yang Anda buat.

Ini adalah bentuk kufur nikmat, kufur dalam perbuatan.

Allah jalla wa ‘ala berfirman kepada Nabi Sulaiman ketika Allah telah ajarkan kepadanya ilmu yang tidak diajarkan kepada yang lainnya, dan ketika Allah berikan kepadanya kerajaan yang tidak Allah berikan kepada yang lainnya. Allah berfirman kepada Nabi Sulaiman:

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).”
(QS. Saba’: 13)

“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

Yakni ketika Allah memberi karunia kepada Nabi Daud ‘alaihissalaam, Nabi Daud ‘alaihissalaam diajari oleh Allah kemampuan dalam membuat baju besi.

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, …

“… buatlah zirah yang besar-besar, …” (QS. Saba’: 10-11)
Yaitu baju besi.

“…dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Saba’: 11)

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Rabnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba’: 12)

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya …”

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba’: 13)

Allah menyebut pekerjaan yang baik dari harta yang baik dengan sebutan syukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dan hal ini menunjukkan bahwa perbuatan buruk dalam menggunakan harta; membuka tempat-tempat yang buruk dan menghasilkan hal-hal yang merusak, berpergian untuk perkara yang haram, melampiaskan syahwat yang terlarang, yang mana seseorang mengeluarkan hartanya untuk hal-hal tersebut, ini merupakan bentuk tidak bersyukur terhadap nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

================================================================================

الشُّكْرُ يَا عِبَادَ اللهِ لَيْسَ هُوَ بِاللِّسَانِ فَقَطْ الشُّكْرُ لَهُ أَرْكَانٌ ثَلَاثَةٌ لَا بُدَّ أَنْ تَتَحَقَّقَ جَمِيعًا

فَإِذَا فُقِدَ…فُقِدَ وَاحِدٌ مِنْهَا لَمْ يَحْصُلِ الشُّكْرُ

الْأَرْكَانُ الثَّلَاثَةُ الْأَوَّلُ التَّحَدُّثُ بِاللِّسَانِ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ بِاللِّسَانِ وَذِكْرُ النِّعْمَةِ

لِأَجْلِ الْقِيَامِ بِشُكْرِهَا قَالَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا لِنَبِيِّهِ
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 11

لَمَّا ذَكَرَ عَدَّدَ نِعَمَهُ عَلَيْهِ

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
الضُّحَى الْآيَةُ 6 – 11

اذْكُرْ نِعْمَةَ اللهِ

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
الْبَقَرَةُ – الْآيَةُ 40

فَلَا تُضِفِ النِّعْمَةَ إِلَى غَيْرِ اللهِ لَا تُضِفْهَا إِلَى نَفْسِكَ وَلَا إِلَى أَحَدٍ بَلِ اللهُ هُوَ الْمُتَفَرِّدُ بِهَذِهِ النِّعْمَةِ الَّتِي وَصَلَتْ إِلَيْكَ فَاشْكُرْهَا

أَوَّلًا يَتَحَدَّثُ بِهَا بِلِسَانِهِ وَاذْكُرْهَا بِاللِّسَانِ وَلَا تَقُلْ هَذِهِ مِنْ فُلَانٍ وَعَلَّانٍ بَلْ قُلْ هِيَ مِنَ اللهِ

الرُّكْنُ الثَّانِي الْاِعْتِرَافُ بِهَا بَاطِنًا فِي قَلْبِهِ

لِأَنَّ هُنَاكَ مَنْ يَذْكُرُ النِّعْمَةَ وَيَحْمَدُ اللهَ بِلسَانِهِ لَكِنَّهُ لَا يَعْتَرِفُ أَنَّهَا مِنَ اللهِ بَلْ يَرَى أَنَّهَا بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ وَجُهْدِهِ وَكَدِّهِ وَعَمَلِهِ وَحِذْقِهِ

كَمَا قَالَ قَارُونُ لَمَّا ذَكَّرَهُ قَوْمُهُ قَارُونُ آتَاهُ اللهُ آتَاهُ اللهُ مِنَ الْخَزَائِنِ وَالْأَمْوَالِ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ الشَّيْءَ الْعَظِيمَ

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

الْجَمَاعَةُ مَا يَحْمِلُونَ الْمَفَاتِيحَ مَفَاتِيحَ الْخَزَائِنِ مِنْ كَثْرَتِهَا

إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76
يَعْنِي فَرَحَ الْأَشَرِ وَالْبَطَرِ التَّكَبُّرُ

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 76

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 77

مَاذَا كَانَ جَوَابُ هَذَا الْمِسْكِينِ ؟

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِندِي
الْقَصَصُ – الْآيَةُ 78

لَيْسَ لِلهِ فَضْلٌ فِي ذَلِكَ أَنَا حَصَّلْتُهُ بِكَدِّي وَكَسْبِي وَخِبْرَتِي لِلصَّنَائِعِ وَخِبْرَتِي لِلتِّجَارَةِ مَا قَالَ هَذَا مِنَ اللهِ

قَالَ هَذَا أَوْ أَنَا مُسْتَحِقٌّ لَهُ عِنْدَ اللهِ مَا هُوَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ أَنَا مُسْتَحِقٌّ عَلَى اللهِ هَذَا هَذَا حَقِّي

كَمَا يَقُولُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ هَذِهِ حُقُوقُنَا وَهَذَا حَقُّنَا مَا يَقُولُ هَذَا فَضْلٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَمَنٌّ مِنَ اللهِ

فَيَحْمَدُ اللهَ عَلَى ذَلِكَ وَيَنْظُرُ إِلَى مَنْ حَوْلَهُ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

بَلْ يَنْسِبُ هَذَا إِلَى كَدِّهِ وَكَسْبِهِ وَحِيَلِهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَظِيفَتِهِ خِبْرَتِهِ شَهَادَاتِهِ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ لَا هَذَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَإِلَّا غَيْرُكَ قَدْ يَكُونُ غَيْرُكَ أَحْذَقَ مِنْكَ وَأَعْرَفَ مِنْكَ

وَلَكِنَّ اللهَ اِبْتَلَاكَ اِمْتَحَنَكَ بِهَذَا الْمَالِ وَهَذِهِ النِّعْمَةِ فَاشْكُرِ اللهَ عَلَيْهَا

الْأَمْرُ الثَّالِثُ وَهُوَ الرُّكْنُ الثَّالِثُ مِنْ أَرْكَانِ الشُّكْرِ صَرْفُهَا فِي طَاعَةِ اللهِ جَلَّ وَعَلَا

فِي طَاعَةِ الْمُنْعِمِ لَا تَصْرِفْهَا فِي الْمُحَرَّمَاتِ فِي الْإِشْرَافِ فِي التَّبْذِيرِ فِي الْأَسْفَارِ إِلَى الْبِلَادِ الْكَافِرَةِ لِلشَّهْوَاتِ الْمُحَرَّمَةِ

اصْرِفْهَا فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا تَصْرِفْهَا فِي فَتْحِ الْمَحَلَّاتِ الَّتِي
الْمَحَلَّاتِ الَّتِي تُنْتِجُ الشُّرُورَ تُنْتِجُ الْمَعَازِفَ وَالْمَزَامِيرَ وَتُنْتِجُ الأَغَانِي وَتُنْتِجُ الْآثَامَ

وَالْمَحَلَّاتِ الَّتِي لَا تُنْتِجُ إِلَّا الشَّرُّ تَفْتَحُ عَلَى النَّاسِ بَابَ الشَّرِّ تَنْشُرُ الشَّرَّ بِمَصَانِعِكَ وَمَحَلَّاتِكَ

هَذَا مِنْ كُفْرِ النِّعْمَةِ كُفْرٌ بِالْعَمَلِ

اللهُ جَلَّ وَعَلَا قَالَ لِنَبِيِّهِ سُلَيمَانَ لَمَّا عَلَّمَهُ مَا عَلَّمَهُ وَأَعْطَاهُ مِنَ الْمُلْكِ مَا أَعْطَاهُ

قَالَ لَهُ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا
سَبَإ – الْآيَةُ 13

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

يَعْنِي لَمَّا… لَمَّا أَعْطَى دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ دَاوُودَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَعْطَاهُ اللهُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ صِنَاعَةَ الدُّرُوعِ

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ
سَبَإ الْآيَةُ 10 – 11
وَهِيَ الدُّرُوعُ

وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ ۖ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
سَبَإ – الْآيَةُ 11

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ ۖ وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ ۖ وَمِنَ الْجِنِّ مَن يَعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَمَن يَزِغْ مِنْهُمْ عَنْ أَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ
سَبَإ الْآيَةُ 12

…يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِن مَّحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَّاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
سَبَإ – الْآيَةُ 13

فَسَمَّى الْعَمَلَ الصَّالِحَ بِالْمَالِ الصَّالِحِ سَمَّاهُ شُكْرًا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ السَّيِّءَ مِنَ الْمَالِ فَتْحُ الْمَحَلَّاتِ الْفَاسِدَةِ الْمُنْتَجَاتِ الْفَاسِدَةِ الْأَسْفَارُ الْمُحَرَّمَةُ الشَّهْوَاتُ الْمُحَرَّمَةُ الَّتِي يُنْفِقُ الْأَمْوَالَ فِيهَا هَذَا كُفْرٌ كُفْرٌ لِنِعْمَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
.