Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Baik, ini adalah faidah yang disebutkan oleh penulis -rahimahullahu Ta’ala- Jika tiga perkara ini ada dalam diri seorang hamba Maka Allah tidak akan membuatnya kecewa dalam keinginannya Dan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- tidak akan menolak permintaannya Namun Dia akan …

Baca selengkapnya…Lakukan 3 Perkara ini, Lalu Mintalah Pada Allah Apa yang Kamu Inginkan! – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Allah Marah kepada Kamu yang Tidak Mau Berdoa – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Semakin besar perhatian seorang hamba kepada doa Maka semakin besar pula kecintaan Allah baginya yang ia dapatkan Bahkan Nabi -‘alaihi asshalatu wassalam- bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih Allah cintai melebihi doa.” Dan beliau -‘alaihi asshalatu wassalam- juga bersabda, “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka kepadanya.”

Allah akan murka jika kamu tidak meminta kepada-Nya, Sedangkan anak adam akan marah jika dimintai Allah -Subhanahu wa Ta’ala- mencintai orang-orang yang memohon dan berdoa Dan Dia -Subhanahu wa Ta’ala- berjanji akan mengabulkan doa mereka, Memberi apa yang mereka harapkan, Dan memenuhi apa yang mereka minta

Namun banyak dalil dari kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa doa yang tidak akan ditolak memiliki syarat-syarat Penjelasannya terdapat dalam kitabullah dan sunnah Nabi-Nya -‘alaihi asshalatu wassalam- Para ulama menyebutnya dengan syarat-syarat dan adab-adab doa Dan hal ini sangat penting Orang yang berdoa harus memperhatikan adab-adab doa ini Agar doanya menjadi mustajab Dan ia harus menjauhi hal-hal yang menjadi penghalang dikabulkannya doa agar doanya tidak tertolak.

================================================================================

وَكُلَّمَا عَظُمَتْ عِنَايَةُ الْعَبْدِ بِالدُّعَاءِ

عَظُمَ حَظُّهُ وَنَصِيبُهُ مِنْ مَحَبَّةِ اللهِ لَهُ

بَلْ قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ

لَيْسَ شَيْءٌ أكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَّامُ

مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

والله يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ

وَبُنِّيُّ آدَمَ حِينَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى السَّائِلِينَ الدَّاعِينَ

وَوَعَدَهُمْ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِأَنْ يُجِيبَ دُعَاءَهُمْ

وَأَنْ يُعْطِيَهُمْ رَجَاءَهُمْ

وَأَنْ يُحَقِّقَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى سُؤْلَهُمْ

لَكِنْ دَلَّتْ نُصُوصٌ عَدِيدَةٌ فِي كِتَابِ اللهِ

وَسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَنَّ الدُّعَاءَ الَّذِي يُوْصَفُ بِأَنَّهُ لَا يَرُدُّ لَهُ ضَوَابِطُ

جَاءَ بَيَانُهَا فِي كِتَابِ اللهِ

وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

يُسَمِّيهَا الْعُلَمَاءُ شُرُوطَ الدُّعَاءِ وَآدَابَهُ

وَهِي مُهِمَّةٌ جِدًّا

يَنْبَغِي لِلدَّاعِي مَعَ دعَائِه أَنْ يَتَحَرَّى آدَابَ الدُّعَاءِ

لِيَكُونَ الدُّعَاءُ مُسْتَجَابًا

وَأَنْ يَحْذَرَ مِنْ مَوَانِعِ الْإِجَابَةِ مِنْ أَجْلِ أَنْ لَا يُرَدُّ دُعَاءُهُ

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Orang Berakhlak Adalah yang Dapat Menjaga Lisannya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Adapun pilar kedua adalah menjaga lisan dan memperbaiki ucapan Seseorang tidak mungkin menjadi beradab melainkan dengan menjaga lisannya Dalam hadits kedua, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Pilar kedua ini merupakan salah satu pilar-pilar akhlak yaitu dengan menjaga lisan dan memperbaiki ucapan.

Sebagaimana diketahui, bahwa adab-adab dalam syariat terbagi menjadi dua: Adab dalam berbicara dan adab dalam berperilaku Dan bagiamana seseorang dapat memiliki adab dalam berbicara, jika dia tidak menjaga lisannya Dan jika dia tidak dapat menjaga lisannya, maka lisan itu akan merusak anggota badan yang lain Sebagaimana Nabi –‘alaihisshalatu wassalam- bersabda: Jika seseorang masuk waktu pagi, maka seluruh anggota badannya akan mengingkari lisannya Dengan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, karena kami tergantung pada dirimu…Jika kamu istiqamah, maka kami juga akan istiqamah Dan jika kamu tergelincir, maka kami juga akan tergelincir” Maka barangsiapa yang lisannya tergelincir, dan tidak terjaga dengan aturan syariat

Maka bagaimana pemilik lisan itu akan menjadi orang yang berakhlak mulia dan adab yang terpuji Oleh sebab itu, salah satu asas kebaikan akhlak dan keindahan adab Adalah dengan menjaga lisan dan menganggap perkataannya bagian dari amalannya Barangsiapa yang menganggap perkataannya sebagai bagian dari amalannya maka lisannya akan terjaga dan ucapannya akan baik -biidznillah-Dan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits ini: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Mengandung petunjuk tentang cara terbaik dalam menjaga lisan Yaitu sebelum berbicara, maka seseorang harus memperhatikan ucapan yang akan dia ucapkan Karena ucapanmu sebelum diucapkan itu masih dalam kuasamu Sedangkan jika telah diucapkan, maka ucapan itu akan menguasaimu, dan kamu akan menjadi penanggung akibatnya

Dalam hadits itu disebutkan petunjuk untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan “Hendaklah dia berbicara yang baik atau diam” Kapan seseorang dapat menyiapkan diri untuk berbicara dengan ucapan yang baik, atau diam dari ucapan yang buruk…Sedangkan dia tidak memperhatikan dan mencermati ucapannya sebelum diucapkan? Dan hadits tersebut mengandung seruan untuk memperhatikan dan mencermati ucapan sebelum diucapkan Yaitu dengan memperhatikan apakah ucapan ini adalah ucapan yang baik atau ucapan yang buruk? Jika kamu dapat memperhatikan ucapanmu sebelum kamu mengucapkannya Maka kamu akan mendapati ucapan yang hendak kamu ucapkan itu tidak terlepas dari tiga hal: Pertama, ucapan itu adalah ucapan yang baik sepenuhnya Maka ucapan ini boleh kamu ucapkan

Rasulullah bersabda, “Katakanlah yang baik” sedangkan ini adalah ucapan yang baik Sama sekali tidak mengandung keburukan, sehingga tidak mengapa untuk diucapkan Kedua, ucapan itu adalah ucapan yang buruk sepenuhnya Maka wajib bagimu untuk tidak mengucapkannya sedikitpun Dan ketiga, ucapan yang meragukanmu Kamu tidak mengetahui secara jelas apakah itu ucapan yang baik atau buruk Maka di sini, amalkanlah sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya” Sehingga lebih baik bagimu untuk menahan diri dari ucapan yang meragukan itu Agar agamamu selamat, dan kehormatanmu juga selamat Sebagiamana sabda Rasulullah –‘alaihisshalatu wassalam-:
“Barangsiapa yang menjauhi syubhat maka ia telah menyelamatkan agamanya dan kehormatannya” Menyelamatkan agamanya yakni urusannya antara dirinya dengan Allah Sedangkan menyelamatkan kehormatannya yakni urusannya antara dirinya dengan sesama manusia Jika seorang hamba telah menjaga lisannya dan memperbaiki ucapannya Maka itu telah menjadi pilar yang agung dalam meraih akhlak terpuji dan adab mulia Adapun orang yang ucapannya tidak terkontrol Maka bagaimana dengan keadaan seperti itu dia akan memiliki akhlak terpuji dan adab yang baik?

===========================================================================

أَمَّا الرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ فَهِيَ إِصْلَاحُ اللِّسَانِ وَصِيَانَتِهِ

وَلَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُوْنَ خَلُوْقاً ذَا أَدَبٍ إِلَّا مَنْ يَصُوْنُ لِسَانَهُ

وَفِي الْحَدِيْثِ الثَّانِيْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامِ

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

فَالرَّكِيْزَةُ الثَّانِيَةُ مِنْ رَكَائِزِ الْأَخْلَاقِ الَّتِيْ عَلَيْهَا يَقُوْمُ الْخُلُقُ صِيَانَةِ اللِّسَانِ وَحِفْظِهِ

وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ تَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ

آدَابٍ قَوْلِيَّةٍ وَآدَابٍ فِعْلِيَّةٍ

وَأَنَّى تَتَأَتَّى لِلْمَرْءِ آدَابُ الشَّرِيْعَةِ الْقَوْلِيَّةِ إِذَا لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ

ثُمَّ إِنَّهُ إِنْ لَمْ يَصُنْ لِسَانَهُ جَنَى عَلَى بَقِيَّةِ جَوَارِحِهِ

كَمَا قَالَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كَلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانِ

تَقُوْلُ اتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ

فَإِنَّ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا

وَإِنِ اعَوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

فَمَنْ كَانَ لِسَانُهُ مُعْوَجّاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ لَيْسَ مَزْمُوْماً بِزِمَامِ الشَّرِيْعَةِ

كَيْفَ يَتَأَتَّى مِنْهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَا خُلُقٍ رَفِيْعٍ وَأَدَبٍ عَالٍ

وَلِهَذَا مِنْ أَسَاسِيَّاتِ صَلَاحِ الْأَخْلَاقِ وَجَمَالِ الْآدَابِ

أَنْ يَصُوْنَ الْمَرْءُ لِسَانَهُ وَأَنْ يَعُدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ

وَمَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ

اِسْتَقَامَ لِسَانُهُ وَصَلُحَ بِإِذْنِ اللهِ

وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم َفِيْ هَذَا الْحَدِيْثِ

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

فِيْهِ تَنْبِيْهٌ إِلَى الطَّرِيْقَةِ الْمُثْلَى فِي صِيَانَةِ اللِّسَانِ

وَهِيَ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمَرْءِ قَبْلَ أَنْ يَتَحَدَّثَ نَظَرٌ فِيْمَا سَيَتَحَدَّثُ بِهِ

لِأَنَّ الْكَلِمَةَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهَا تَمْلِكُهَا

وَأَمَّا إِذَا تَكَلَّمْتَ بِهَا فَإِنَّهَا تَمْلِكُكَ وَتَتَحَمَّلُ تَبَعَاتِهَا

فَفِي هَذَا الْحَدِيْثِ إِرْشَادٌ إِلَى تَأَمُّلِ الْكَلَامِ وَالنَّظَرِ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ

فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

مَتَى يَتَهَيَّأُ لِلْمَرْءِ أَنْ يَقُوْلَ الْخَيْرَ أَوْ يَصْمُتَ عَنِ الشَّرِ

إِذَا كَانَ لَا يَنْظُرُ فِي كَلَامِهِ وَلَا يَتَأَمَّلُ فِيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ ؟

فَالْحَدِيْثُ فِيْهِ دَعْوَةٌ إِلَى النَّظَرِ وَالتَّأَمُّلِ فِي الْكَلَامِ قَبْلَ أَنْ يَبْدَأَ بِهِ

ثُمَّ يَنْظُرُ هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ؟

وَإِذَا حَصَلَ مِنْكَ تَأَمُّلٌ فِي كَلَامِكَ قَبْلَ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ

سَتَجِدُ أَنَّ الْكَلَامِ الَّذِيْ تُرِيْدُ أَنْ تَتَكَلَّمَ بِهِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أُمُوْرٍ ثَلَاثَةٍ

إِمَّا أَنْ يَتَبَيَّنَ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ لَا شَرَّ فِيْهِ

فَهَذَا تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ

فَلْيَقُلْ خَيْراً هَذَا خَيْرٌ لَكَ أَنَّهُ خَيْرٌ

لَا شَرَّ فِيْهِ تَكَلَّمْ بِهِ وَلَا حَرَجَ

وَالْقِسْمُ الثَّانِيْ مِنَ الْكَلَامِ يَتَبَيَّنُ لَكَ أَنَّهُ شَرٌّ لَا خَيْرَ فِيْهِ

فَالْوَاجِبُ عَدَمُ التَّكَلُّمِ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ

وَالْقِسْمُ الثَّالِثُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ تُرِيْدُ تَتَكَلَّمُ بِالْكَلَامِ لَكِنَّهُ يَشْتَبِهُ عَلَيْكَ

لَا تَدْرِي تَمَاماً هَلْ هُوَ مِنَ الْخَيْرِ أَوْ مِنَ الشَّرِّ

فَطَبِّقْ فِي ذَلِكَ قَوْلَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

وَمِنَ الْخَيْرِ لَكَ أَنْ تَمْنَعَ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْكَلَامِ

حَتَّى يَسْلَمَ لَكَ دِيْنُكَ وَيَسْلَمَ لَكَ عِرْضُكَ

كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ

لِدِيْنِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ

وَعِرْضِهِ أَيْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ

فَإِذَا حَصَلَتْ مِنَ الْعَبْدِ هَذِهِ الصِّيَانَةِ وَالرِّعَايَةِ لِلِسَانِهِ

كَانَ ذَلِكَ رَكِيْزَةً عَظِيْمَةً لِحُسْنِ خُلُقِهِ وَجَمَالِ أَدَبِهِ

أَمَّا مَنْ كَانَ لِسانٌ مُنْفَلِتاً غَيْرَ مُنْضَبِطٍ غَيْرِ مُسْتَقِيْمٍ

أَنَّى وَالْحَالَةُ هَذِهِ أَنْ يَسْتَقِيْمَ لَهُ خُلُقٌ أَوْ يَنْتَظِمَ لَهُ أَدَبٌ؟

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Apa Beda Abu Jahal dan Abu Lahab? – Syaikh Utsman al-Khamis

Pertanyaan: Apakah perbedaan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab?
Kamu mengingatkanku pada suatu kisah Seseorang yang menjadi imam shalat jama’ah, yaitu salah satu shalat jahriyah (imam mengeraskan bacaan suratnya) Imam itu membaca تَبَّتْ يَدَا (surat al-Lahab) Namun dia membaca تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ Sehingga makmum yang berada di belakangnya membenarkan “أَبُو لَهَبٍ”,” أَبُو لَهَبٍ” Yakni sebagian orang tidak dapat membedakan antara Abu Jahal dengan Abu Lahab Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- Abu Lahab adalah Abdul ‘Uzza bin Abdul Mutthalib, dan dia adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Itulah Abu Lahab Dan dialah yan dimaksud dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala “تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ” Sedangkan Abu jahal adalah ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi ‘Amr bin Hisyam al-Makhzumi adalah yang dimaksud Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Fir’aunnya umat ini. Dia adalah pemimpin kaum Quraisy setelah kematian Abdul Mutthalib Nama Abu Jahal adalah ‘Amr bin Hisyam, dan dia juga yang dimaksud dalam sabda Nabi Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau cintai, ‘Amr bin Hisyam atau Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-

Dan doa ini dikabulkan bagi Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu- ‘Amr bin Hisyam adalah salah satu pemimpin kaum Quraisy, dan inilah Abu Jahal Abu Lahab juga salah satu pemimpin Quraisy, namun Abu Jahal jauh lebih kuat karismanya daripada Abu Lahab Namun pada intinya, yang satu (Abu Jahal) berasal dari Bani Makhzum, dan yang satunya lagi (Abu Lahab) berasal dari Bani Abdul Manaf Yakni, Abu Lahab dari Abdul Manaf, dari Bani Hasyim Sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum, dan merupakan paman Khalid bin Walid -radhiyallahu ‘anhu- Dan juga paman dari Ummul Mu’minin Maimunah Yakni pada intinya, mereka masih dalam satu keluarga; yaitu Bani Quraisy Dan Abu Jahal adalah Fir’aunnya umat ini, yang berasal dari Bani Makhzum Sedangkan Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan dia berasal dari Bani Abdul Manaf

===============================================================================

يَقُوْلُ مَا الْفَرْقُ بَيْنَ أَبِيْ جَهْلٍ وَأَبِيْ لَهَبٍ؟

ذَكَّرْتَ فِيْهِ طُرْفَةٌ

فَكَانَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي يَعْنِيْ جَمَاعَةً بِالنَّاسِ الْمُهْمُّ جَهْرِيَّةً

فَقَرَأَ تَبَّتْ يَدَا

فَقَالَ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ جَهْلٍ وَتَبَّ

فَالَذِي وَرَاءَهُ يَرُدُّ عَلَيْهِ أَبُو لَهَبٍ أَبُو لَهَبٍ

الْبَعْضُ يَعْنِيْ خَلَطَ بَيْنَ أَبِي جَهْلٍ وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ

أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَهُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَبُو لَهَبٍ

وَهُوَ الَّذِيْ نَزَلَ فِيْهِ قَوْلُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهْبٍ وَتَبَّ

أَمَّا أَبُو جَهْلٍ فَهُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ

عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ الْمَخْزُوْمِيُّ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ

وَهُوَ كَانَ زَعِيْمَ قُرَيْشٍ بَعْدَ وَفَاةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

أَبُو جَهْلٍ هُوَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامِ وَهُوَ الَّذِيْ قَالَ عَنْهُ النَّبِيُّ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ عَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ أَوْ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ

فَكَانَتْ مِنْ نَصِيْبِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

فَعَمْرٌو بْنُ هِشَامٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ الَّذِي هُوْ أَبُو جَهْلٍ

وَكَذَلِكَ أَبُو لَهَبٍ مِنْ سَادَاتِ قُرَيْشٍ لَكِنْ أَبُو جَهْلٍ شَخْصِيَّتُهُ أَقْوَى بِكَثِيْرٍ مِنْ شَخْصِيَّةِ أَبِيْ لَهَبٍ

لَكِنْ عَلَى كُلِّ حَالٍ هَذَا مَخْزُوْمِيُّ وَهَذَا مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ

يَعْنِي أَبُو لَهَبٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ مِنْ بَنِيْ هَاشِمٍ مِنْ عَبْدِ مَنَافٍ

وَأَبُو جَهْلٍ مِنْ بَنِيْ مَخْزُوْمٍ وَهُوَ يَكُوْنُ خَالَ خَالِدٍ بْنِ الْوَلِيْدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

وَأَيْضاً خَالَ مَيْمُوْنَةَ أُمُّ الْمُؤْمِنِيْنَ

فَالْقَصْدُ أَنَّهُ يَعْنِي مِنَ الْأُسْرَةِ الوَاحِدَةِ عَلَى كُلِّ حَالٍ قُرَيْشٌ

فَالْقَصْدُ أَنَّ أَبَا جَهْلٍ هُوَ فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهُوَ مِنْ بَنِي مَخْزُوْمٍ

بَيْنَمَا أَبُو لَهَبٍ هُوَ عَمُّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jagalah Lisanmu – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kemudian Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan pokok dari segala perkara Dengan bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pokok dari semua itu?” Dan kata (الْمِلَاكُ) dengan kasrah atau fathah pada huruf Mim, bermakna pokok dan inti dari sesuatu Yakni inti dari segala perkara Kemudian beliau bersabda, “كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ” yakni jagalah lisanmu Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan Mengapa demikian? Mengapa beliau menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan itu tergantung pada penjagaan lisan? BagusKarena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan
Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia karena orang yang dapat menjaga lisan, mampu melaksanakan amalan.

Sedangkan orang yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan sibuk dengan hal yang sia-sia
Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya
Karena banyak bicara akan melemahkan anggota tubuh lainnya
Sedangkan penjagaan lisan, dapat menguatkan badan seseorang, sehingga dapat membantunya dalam beramal
Sehingga inti dari kebaikan dan keburukan seorang hamba ada pada lisannya
Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan”
“Aku tidak melihat sesuatu yang lebih layak untuk ditahan melebihi lisan”
Oleh sebab itu, salah satu inti dari kebaikan seorang hamba adalah sedikit bicara
Barangsiapa yang sedikit bicara maka ia akan selamat
Dan ini merupakan salah satu sifat yang paling agung yang dimiliki para salaf
Akan tetapi, sekarang sifat sedikit bicara telah dilalaikan
Dan banyak bicara dianggap sebagai sifat yang terpuji
Seringkali kamu mendengar pujian bagi orang yang banyak bicara
Dan perhatian terhadap orang yang pandai bicara dengan memujinya sebagai khatib yang ulung dan fasih
Dan sedikit sekali kamu temui orang yang mengajarkanmu untuk diam
Iyas al-‘Ijliy pernah berkata, “Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam”
“Aku melawan diriku selama 10 tahun untuk belajar diam” karena begitu besarnya manfaat diam
Dan diam adalah salah satu hal terbesar yang dapat membantu seseorang untuk beribadah
Oleh sebab itu, Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjadikan seluruh apa yang telah disebutkan tersebut, berporos pada penjagaan seorang hamba terhadap lisannya

===============================================================================

ثُمَّ بَيَّنَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِمَاعَ الْأَمْرِ

فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟

وَالْمِلَاكُ بِكَسْرِ الْمِيْمِ وَتُفْتَحُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ هُوَ قَوَامُ الشَّيْءِ وَنِظَامُهُ

أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ أَيِ الْأَمْرُ الْجَامِعُ لَهُ

ثُمَّ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ لِسَانَكَ أَيْ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ

فَجَعَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى كَفِّ اللِّسَانِ

فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمِيْعَ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ

لِمَاذَا؟

لِمَاذَا؟ جَعَلَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ مَرْدُوْداً إِلَى اللِّسَانِ هَيَّا هَيَّا

أَحْسَنْتَ

لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ

وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ

لِأَنَّ مَنْ أَمْسَكَ لِسَانَهُ قَدِرَ عَلَى الْعَمَلِ وَمَنْ أَرْسَلَ لِسَانَهُ رَعَى مَعَ الْهَمَلِ

فَإِنَّ كَثْرَةِ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ

فَإِنَّ كَثْرَةَ الْهَذْرِ تُضْعِفُ أَعْضَاءِ الْإِنْسَانِ

وَيُقَوِّيْ إِمْسَاكُ اللِّسَانِ بَدَنَ الْعَبْدِ فَيُعِيْنُهُ عَلَى الْعَمَلِ

فَمَدَارُ صَلَاحِ الْعَبْدِ وَفَسَادِهِ عَلَى أَمْرِ لِسَانِهِ

قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ

مَا رَأَيْتُ شَيْئاً أَحَقَّ بِطُوْلِ حَبْسٍ مِنْ لِسَانٍ

وَلِهَذَا فَإِنَّ مِنْ أُصُوْلِ صَلَاحِ الْعَبْدِ صَمْتُهُ

فَمَنْ صَمَتَ نَجَا

وَهُوَ مِنْ أَجَلِّ الصِّفَاتِ الَّتِي كَانَتْ مِنْ خِصَالِ السَّلَفِ

وَقَدْ صَارَ الصَّمْتُ مَهْجُوْراً

وَصَارَ الْكَلَامُ مَمْدُوْحاً

فَكَثِيْراً مَا تَسْمَعُ الْإِشَادَةَ بِالْكَلَامِ

وَالاِعْتِنَاءَ بِمَعْرِفَةِ مَا يَكُوْنُ بِهِ الْإِنْسَانُ خَطِيْباً مُفَوَّهاً فَصِيْحاً

وَقَلَّ أَنْ تَجِدَ إِنْسَاناً يُعَلِّمُكَ الصَّمْتَ

وَقَدْ قَالَ إِيَاسٌ الْعِشْرِيَ إِيَاسٌ الْعِجْلِيُّ جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ

جَاهَدْتُ نَفْسِيْ فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتَ عَشَرَ سِنِيْنَ لِعِظَمِ مَنْفَعَةِ الصَّمْتِ

الصَّمْتُ مِنْ أَعْظَمِ مَا يُعِيْنُ الْإِنْسَانَ عَلَى الْعُبُوْدِيَّةِ

وَلِأَجْلِ هَذَا رَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّ مَا تَقَدَّمَ إِلَى إِمْسَاكِ الْعَبْدِ لِسَانَهُ

 

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Sebutan yang Benar untuk Pengikut Nabi Musa dan ‘Isa – Syaikh Sholih al-Ushoimi #NasehatUlama

Huruf Alif dan Lam dalam kata (الْيَهُوْدُ) dan (النَّصَارَى) adalah untuk istighraqiyyah (mencakup keseluruhan) yakni seluruh orang Yahudi dan Nasrani adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan orang-orang yang dimurkai. Namun sebutan ini tidak mencakup orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa –‘alaihishalatu wassalam- dan kepada Nabi Isa –‘alaihishalatu wassalam-. Dan orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa disebut mukminun Bani Israil sedangkan orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa disebut al-Masihiyun Adapun orang-orang yang mengubah dan mengganti agama Yahudi dan Nasrani sehingga mereka mendapat kemurkaan dari Allah dan kesesatan, maka mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengikuti para Nabi mereka.

==============================================================================

الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الْأَلِفُ وَالَّلامُ هُنَا فِيْهِمَا اِسْتِغْرَاقِيَّةٌ

بِاعْتِبَارِ كُلٌ مَنْ كَانَ مِنَ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى فَإِنَّهُ يَكُوْنُ مِنَ الضَّالِّيْنَ وَالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ

وَلَمْ يَكُنْ هَذَا الاِسْمُ اسْماً لِلْمُؤْمِنِيْنَ بِمُوْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَبِعِيْسَى عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

فَالْمُؤْمِنُوْنَ بِمُوْسَى هُمْ مُؤْمِنُوْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ

وَالْمُؤْمْنُوْنَ بِعِيْسَى هُمُ الْمَسِيْحِيُّوْنَ

وَأَمَّا الَّذِيْنَ غَيَّرُوْا وَبَدَّلُوْا وَصَارَ لَهُمْ حَظٌّ مِنَ الْغَضَبِ وَالضَّلَالِ

فَهُمُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى الَّذِيْنَ لَمْ يَتْبَعُوا الْأَنْبِيَاءَ