Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama Dan pendalilan terhadap kesesuaian dengan judul ini ada dua sisi: Yang pertama pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kalian berkata, ‘Keselamatan atas Allah.’” Ini adalah larangan untuk berkata demikian. Larangan ini berarti hukumnya haram. Dan pendalilan kedua pada sabda …

Baca selengkapnya…Jangan Bilang Amin di Beberapa Kalimat Doa Qunut Ini – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Semua orang yang mendapat musibah akan melihat akhir yang baik jika ia dapat bersabar. Semua yang terkena musibah. Oleh sebab itu, semua yang terkena musibah dihibur, yakni tidak dikatakan di sini hanya Nabi Yusuf ‘alaihissalam dihibur dengan firman-Nya, “Dan Kami wahyukan kepadanya, ‘Kamu akan …

Baca selengkapnya…Kabar Gembira untuk Orang yang Sabar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dua Waktu Mustajab Berdoa 5X Sehari – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr #NasehatUlama

Dan beliau berkata, “Dan ketika azan, dan ketika azan.” Ketika azan maksudnya selepas azan langsung, dan ini adalah waktu yang tepat untuk sungguh-sungguh dalam berdoa. Dan setelah itu beliau menyebutkan waktu ketiga, yaitu waktu antara azan dan iqamah. Beliau menyebutkan dua waktu yaitu: (1) Langsung seketika setelah azan. (2) Antara azan dan iqamah. Dan keduanya merupakan waktu yang sangat agung untuk terkabulnya doa.

Adapun waktu setelah azan langsung, berdasarkan hadis Abdullah bin Amr dalam Sunan Abu Dawud, bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, para muazin telah mengungguli kami.” Mereka mengalahkan kami dalam amal kebaikan. Mereka mengumpulkan pahala yang teramat banyak, “Para muazin telah mengungguli kami.” Ini adalah bentuk berlomba dalam kebaikan dan kesungguhan dan keseriusan mereka terhadap kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika kau mendengarkan muazin mengumandangkan azan, maka ucapkanlah sebagaimana yang muazin ucapkan, dan apabila sudah selesai, mintalah niscaya akan diberi.”

Jika telah selesai, ucapkan seperti apa yang diucapkan muazin dan jika Anda telah selesai, mintalah niscaya akan diberi, maka perhatikanlah keterkaitan ini: Mendengar azan, sembari mengucapkan seperti apa yang diucapkan muazin, kemudian melakukan apa yang dianjurkan dalam sunah, bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memohonkan kedudukan yang mulia kepada Allah untuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika setelah itu terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, terbuka bagi Anda pintu untuk berdoa, yang waktu itu merupakan waktu yang mulia dan sangat tepat agar doa Anda dikabulkan. Anda telah mendengar azan, inilah perantara menuju doa Anda, kemudian Anda bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Anda memohon kepada Allah untuk beliau ‘alaihis shalatu was salam kedudukan yang mulia, setelah itu jangan berhenti! (Kemudian langsung setelah itu) berdoalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa untuk meminta kepada Allah apa saja yang Anda mau karena doa pada waktu itu mustajab.

Waktu ketiga adalah waktu antara azan dan iqamah, terdapat hadis dalam kitab Sunan, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda “Doa antara azan dan iqamah tidak akan tertolak.” (HR. Abu Dawud) Oleh sebab itu, waktu antara azan dan iqamah inilah seharusnya memperbanyak doa. Inilah waktu untuk memperbanyak doa dan seorang hamba harus menyempatkan diri bermunajat kepada Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dan meminta kepada-Nya yang Maha Mulia ketinggian-Nya.

===========

قَالَ وَعِنْدَ الْأَذَانِ وَعِنْدَ الْأَذَانِ

عِنْدَ الْأَذَانِ أَيْ بُعَيدَ الْأَذَانِ مُبَاشَرَةً

وَهَذَا وَقْتٌ عَظِيمٌ فِي تَحَرِّي الدُّعَاءِ

وَذَكَرَ بَعْدَهُ الْمَوْضِعَ الثَّالِثَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

ذَكَرَهُمَا مَوْضِعَيْنِ بَعْدَ الْأَذَانِ مُبَاشِرَةً وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

وَكِلَاهُمَا وَقْتَانِ عَظِيمَانِ لِإِجَابَةِ الدُّعَاءِ

أَمَّا الَّذِي بَعْدَ الأَدَانِ مُبَاشَرَةً فَهَذَا دَلَّ عَلَيْهِ حَدِيثُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ

أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمَ

يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا

سَبَقُونَا بِالْفَضْلِ

حَازُوا فَضِيلَةً عَظِيمَةً إِنَّ الْمُؤَذِّنِينَ يَفْضُلُونَنَا

هَذَا مِنَ التَّنَافُسِ فِي الْخَيْرِ وَحِرْصِهِمْ وَحِرْصُهُمْ عَلَى الْخَيْرِ

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِذَا سَمِعْتَ الْمُؤَذِّنَ

فَقُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ

فَإِذَا انْتَهَيْتَ سَلْ تُعْطَهُ

إِذَا انْتَهَيْتَ قُلْ مِثْلَ مَا يَقُولُ إِذَا انْتَهَيْتَ

سَلْ تُعْطَهُ فَلَاحِظْ هَذَا الْاِرْتِبَاطَ

بِسَمَاعِ الْأَذَانِ وَأَنْ تَقُولَ مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

ثُمَّ تَأْتِي مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ

الصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه وَسَلَّمُ

ثُمَّ سُؤَالَ اللهَ الْوَسِيلَةَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلَامُ

ثُمَّ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ انْفَتَحَ لَكَ بَابُ الدُّعَاءِ

وَهُوَ وَقْتٌ عَظِيمٌ حَرِيٌّ بِأَنْ يُجَابَ دُعَائُكَ فِيهِ

سَمِعْتَ الْأَذَانَ هَذِهِ وَسَائِلُ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ صَلَّيْتَ عَلَى النَّبِيِّ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتَ اللهَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسّلامُ

الْوَسِيلَةَ بَعْدَ هَذَا لَا تَقِفْ

اُدْعُ اللهَ وَتَحَرَّ مِنَ الدُّعَاءِ مَا شِئْتَ

لِاَنَّ الدُّعَاءَ حِينَئِذٍ مُسْتَجَابٌ

الْمَوْطِنُ الثَّالِثُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ جَاءَ فِي السُّنَنِ

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

وَلِهَذَا هَذَا الْوَقْتُ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ وَقْتٌ يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ

أَنْ يُسْتَكْثَرَ فِيهِ مِنَ الدُّعَاءِ وَأَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ لِنَفْسِهِ فِيه نَصِيبًا مِنْ دُعَاءِ

اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَسُؤَالِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Membaca Alquran dengan Irama (Maqamat) – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Membaca al-Qur’an dengan irama, tentu ini bukan pembahasan musik. Musik adalah pembahasan lain lagi, kita sekarang tidak sedang membahas musik. Kita membahas tentang suara manusia, suara asli manusia. Seseorang yang membaca al-Qur’an dengan suaranya, tidak lepas dari dua kondisi:

KONDISI PERTAMA:
Lahn (irama). Tentu irama yang dimaksud sekarang adalah cara mengeluarkan suara ini dengan merdu. Cara melantunkan suara semacam ini apabila muncul secara spontan dan apa adanya, tanpa dipaksakan dan tidak dibuat-buat maka tidak mengapa walaupun iramanya mencocoki salah satu irama dari maqamat yang ada. Yakni misalnya, saya misalnya, saya tidak pernah belajar irama maqamat dan tidak mengerti sama sekali maqamat. Saya bertakbir kemudian saya membaca, yakni saya berusaha untuk memperbagus suara saya, dan memperindah suara saya dalam membaca al-Qur’an karena demikian sunahnya.

Lantunannya alami, namun mencocoki salah satu irama maqamat, yakni ada seseorang yang paham tentang irama-irama maqamat ini. Setelah shalat, ia berkata, “Wahai Syaikh, demi Allah, hari ini Anda bagus sekali melantunkan maqam Hijaz.” Atau entah apa nama maqam-nya, Saka? Sika? Saki? Sika? Sika sepertinya, wallahu a’lam. Yakni Anda menguasai maqam ini, Anda bagus sekali melantunkan irama ini, merdu sekali, pas sekali iramanya. Anda… … baiklah, saya jawab, “Saya tidak berniat demikian, seperti itu irama saya keluar.” Ini tidak masalah sama sekali! Dan ini termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Barangsiapa yang tidak melagukan bacaan Al-Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Bukhari) Apa maksud melagukan bacaan al-Qur’an? Maksudnya memperbagus suaranya ketika membaca al-Qur’an dan memperindah lantunan bacaannya. Ini sunah.

“Allah tidak mendengar sesuatu sebagaimana Ia mendengar seorang nabi yang bagus suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an.” (HR. Abu Daud) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara dengan Abu Musa, dan apa yang Abu Musa katakan? “Aku sungguh akan memperbagus untuk Anda.” (Muttafaqun ‘Alaihi) Maksudnya aku akan memperindah dan memerdukan suaraku. Baiklah…

KONDISI KEDUA:
Irama yang dibuat-buat dan intonasi suara yang tidak mungkin didapat kecuali dengan belajar dan berlatih. Yang menggunakan nada-nada, notasi-notasi suara, irama maqamat yang telah dikenal di kalangan mereka. Mereka menyebutnya maqam Hijaz, Nawahand, dan entah apa namanya, itulah maqam irama di kalangan mereka. Semacam ini pasti dan harus ada seseorang yang mengajari Anda atau Anda mengunduh video-video kemudian Anda pelajari, dari YouTube atau dari jejaring sosial lainnya. Ini bentuk membebani diri, tercela lagi buruk, kenapa? Karena ini sama sekali bukan pembawaan para ahli al-Qur’an, ini adalah pembawaan para penyanyi.

Ada orang yang datang kemudian memasukkannya ke dalam bacaan al-Qur’an. Dia berkata agar suaranya tidak sumbang, agar begini dan agar begitu, sehingga mereka menyerupai para penyanyi. Dan mereka belajar dari para penyanyi dan menerapkan kaidah-kaidah dalam nyanyian, menerapkannya dalam bacaan al-Qur’an. Apa kata Ibnul Qayyim -Semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab Zadul Ma’ad? Beliau berkata, “Semua orang yang paham keadaan orang-orang shaleh terdahulu akan sangat mengerti bahwa mereka berlepas diri dari cara membaca al-Qur’an dengan irama-irama musik yang dipaksa-paksakan, yang merupakan ritme dan intonasi yang terukur, terbatas, dan tertata. Dan sungguh mereka paling takut pada Allah sehingga tidak membaca dengan irama-irama ini dan tidak pula memperkenankannya. Dan akan paham betul bahwa mereka, -yakni para ulama salaf- membaca dengan penuh penghayatan … dan memperbagus suara mereka ketika membaca al-Qur’an, terkadang membacanya dengan irama yang merdu dan terkadang dengan penuh kerinduan.

Dan ini adalah hal yang sudah tertanam dalam tabiat manusia, syariat tidak melarang hal ini bahkan memerintahkannya dan menganjurkannya, Jadi apabila muncul secara spontan dan natural maka tidak terlarang. Adapun dengan mempelajari irama-irama dari para pemusik dan penyanyi kemudian mempraktikkannya. Tidak! Tidak! Naik! Turun! Perlembut! Pendekkan!” Yakni dia melatih mereka seperti itu, -Subhanallah!-Sebagian orang, sebagian mereka adalah orang yang gemar bermaksiat kepada Allah, menyertai para qari al-Qur’an dan melatih mereka dengan suara-suara dengan intonasi modern yang terdiri dari notasi, intonasi dan aturan-aturan bernyanyi. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kebaikan.

======================

الْقِرَاءةُ بِالْأَلْحَانِ طَبْعًا غَيْرُ مَوْضُوعِ الْمُوسِيقَى

الْمُوسِيقَى هَذِهِ عَالَمٌ آخَرُ فَمَا نَتَكَلَّمُ الْآنَ عَنِ الْمُوسِيقَى

نَتَكَلَّمُ عَنِ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ الصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ

قِرَاءةُ الْإِنْسَانِ بِالصَّوْتِ الْبَشَرِيِّ لِلْقُرْآنِ لَا تَخْرُجُ عَنْ حَالَتَيْنِ

لَحْنٌ يَعْنِي الْمَقْصُودُ بِاللَّحْنِ طَبْعًا الْآنَ الْأَدَاءُ هَذَا الصَّوْتِ الشَّجِيِّ

هَذَا طَرِيقَةُ الْأَدَاءِ الصَّوْتِيَّةِ إِذَا كَانَتْ تِلْقَائِيًّا عَفَوِيًّا

مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلَا تَصَنُّعٍ لَا بَأْسَ وَلَوْ وَافَقَتْ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ

يَعْنِي مَثَلًا أَنَا مَثَلًا مَا دَرَسْتُ الْمَقَامَاتِ وَلَا أَعْرِفُ مَا هِيَ الْمَقَامَاتُ

كَبَّرْتُ قَرَأْتُ يَعْنِي اجْتَهَدْتُ يَعْنِي أُحَسِّنُ صَوْتِيْ

وَأُجَمِّلُ صَوْتِي بِالْقُرْآنِ كَمَا هِيَ السُّنَّةُ

الْأَدَاءُ الطَّبِيعِيُّ وَافَقَ مَقَامًا مِنَ الْمَقَامَاتِ يَعْنِي جَاءَ وَاحِدٌ يَعْرِفُ الْمَقَامَاتِ

بَعْدَ الصَّلَاةِ قَالَ وَاللهِ يَا شَيْخُ أَنْتَ الْيَوْمَ ضَبَطْتَ مَقَامَ الْحِجَازِ

وَلَا مَقَامَ مَا أَدْرِي أَيْش ؟ سَكَّ؟ سِيْكَ ؟ السَّاكِ ؟ سِيكَا ؟ السِّيكَا يُمْكِنُ وَاللهُ أَعْلَمُ

يَعْنِي ضَبَطْتَ أَنْتَ جَيِّدٌ مَقَامًا يَعْنِي مَقَامًا جَيِّدٌ مَقَامًا الْيَوْمَ يَعْنِي إِبْدَاعُ مَقَامٍ ضَبَطْتَ الْمَقَامَ

أَنْتَ طَيِّبٌ أَنَا مَا قَصَدْتُ هُوَ طَلَعَ كَذَا

لَا حَرَجَ أَبَدًا وَيُعْتَبَرُ هَذَا مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

أَيْش يَعْنِي يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ ؟ يَعْنِي يُجَمِّلُ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ يُحَسِّنُ أَدَاءَهُ بِالْقُرْآنِ

هَذَا مُسْتَحَبٌّ

مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِأَبِي مُوسَى يَعْنِي أَيْش قَالَ أَبُو مُوسَى؟

لَحَبَّرْتُ لَكَ تَحْبِيرًا – مُتَّفَقٌ عَلَيهِ جَوَّدْتُهُ وَحَسَّنْتُهُ طَيِّبٌ

الْحَالَةُ الثَّانِيَةُ الْأَلْحَانُ الْمَصْنُوعَةُ وَالْإِيقَاعَاتُ الصَّوْتِيَّةُ الَّتِي لَا تَحْصُلُ إِلَّا بِالتَّعَلُّمِ وَالتَّمْرِيْنِ

وَلَهَا مَقَادِيرُ وَنِسَبٌ صَوْتِيَّةٌ مَقَامَاتٌ مَعْرُوفَةٌ عِنْدَهُمْ

يَقُولُونَ الْحِجَازُ نَهَاوَنْد مَا أَدْرِي أَيْش عِنْدَهُمْ كَذَا مَقَامٌ

وَهَذِهِ لَازِمٌ تُوجِبُ الْوَاحِدَ أَنْ يُعَلِّمَكَ أَوْ أَنْتَ تَأْخُذُ مَقَاطِعًا وَتَتَعَلَّمُهَا

أَوْ مِنَ اليُوتُيوب وَلَا مِنْ…يَعْنِي إِلَى آخِرِهِ

هَذَا تَكَلُّفٌ مَذْمُومٌ قَبِيحٌ لِأَيْش؟

لِأَنَّهُ أَصْلًا مَا هُوَ تَبَعَةُ أَهْلِ الْقُرْآنِ هَذَا تَبَعَةُ أَهْلِ الْغِنَاءِ

فَجَاءَ مَنْ جَاءَ وَأَدْخَلَهُ فِي أَيْش ؟ فِي قِرَاءةِ الْقُرْآنِ

وَقَالَ عَشَانِ مَا يُصِيْرُ نَشَازًا عَلَشَان عَلَشَان وَهُمْ يُوَافِقُونَ أَصْحَابَ الْغِنَاءِ

وَيَتَعَلَّمُونَ مِنْ أَصْحَابِ الْغِنَاءِ وَيُطَبِّقُونَ قَوَاعِدَ الْغِنَاءِ يُطَبِّقُونَ فِي الْقُرْآنِ

مَاذَا قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي زَادِ الْمَعَادِ؟

قَالَ وَكُلُّ مَنْ لَهُ عِلْمٌ بِأَحْوَالِ السَّلَفِ يَعْلَمُ قَطْعًا

أَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنَ الْقِرَاءَةِ بِأَلْحَانِ الْمُوسِيقَى

الْمُتَكَلَّفَةِ الَّتِي هِيَ إِيقَاعَاتٌ وَحَرَكَاتٌ مَوْزُونَةٌ مَعْدُودَةٌ مَحْدُودَةٌ

وَأَنَّهُمْ أَتْقَى لِلهِ مِنْ أَنْ يَقْرَأُوا بِهَا وَيُسَوِّغُوهَا

وَيَعْلَمُ قَطْعًا أَنَّهُمْ يَعْنِي السَّلَفَ كَانُوا يَقْرَؤُونَ بِالتَّحْزِينِ

وَيُحَسِّنُونَ أَصْوَاتَهُمْ بِالْقُرْآنِ وَيَقْرَؤُونَهُ بِشَجِيٍّ تَارَةً وَبِشَوْقٍ تَارَةً

وَهَذَا أَمْرٌ مَرْكُوزٌ فِي الطِّبَاعِ

لَمْ يَنْهَ عَنْهُ الشَّرْعُ بَلْ أَرْشَدَ إِلَيْهِ وَنَدَبَ إِلَيْهِ

إِذَنْ إِذَا جَاءَ تِلْقَائِيٌّ عَفَوِيٌّ لَا مَانِعَ

بِالتَّعَلُّمِ مِنْ عِنْدَ أَهْلِ الْمُوسِيقَى أَهْلِ الأَغَانِي مَقَامَاتٍ وَطَبَّقُوا

لَا لَا اُطْلُعْ اِنْزِلْ زَوِّقْ قَصِّرْ لِأَنْ يُدَرِّبُوهُمْ عَلَيْهَا سُبْحَانَ اللهِ

بَعْضُ مَنْ لَا… بَعْضُ… بَعْضُ مَنْ يَعْنِي يَعْصِي اللهَ يُجِيبُ قُرَّاءَ الْقُرْآنِ وَيُدَرِّبُهُمْ عَلَيْهَا

الْأَصْوَاتُ بِالنَّغَمَاتِ الْمُحْدَثَةِ الْمُرَكَّبَةِ عَنْ أَوْزَانٍ وَالْأَوْضَاعِ وَالْقَوَانِينِ الْغِنَائِيَّةِ

نَسْأَلُ اللهَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

 

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Hukum Shalat Membaca Al-Quran – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid #NasehatUlama

Baiklah, apa hukum membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat? Membaca al-Qur’an dari mushaf ketika shalat dibolehkan, baik itu di bulan Ramadhan maupun lainnya, di shalat sunnah maupun shalat wajib saat shalat jahriyah, jika itu memang dibutuhkan. Dalilnya adalah dahulu Dzakwan, budak ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjadi imam shalatnya di bulan Ramadhan dengan membaca dari mushaf.

Imam al-Bukhari menyebutkan dalam ash-Shahih komentar yang tegas; “Jika seorang imam tidak menghafal surat-surat mufasshal, tidak pula surat-surat lainnya dalam al-Qur’an, maka boleh baginya membaca dari mushaf.” Di sebagian negeri, sebagian kampung, dan bahkan sebagian kota mungkin saja ada imam masjid yang tidak memiliki hafalan; Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek.”
– Bahkan di Shalat Subuh?
– Kami katakan, “Bahkan di Shalat Subuh.”
Kamu dapat membaca lebih dari satu surat dalam satu rakaat. Kita umpamakan saja ada orang awam yang hanya menghafal surat-surat pendek, namun ia ingin shalat malam selama 2 jam. Maka bagaimana caranya agar ia dapat shalat malam selama 2 jam. Kami katakan, “Bacalah surat-surat pendek setelah al-Fatihah dengan mengulang-ulanginya. Ulangi 10 kali… atau 20 kali… Tidak mengapa. Dan jika kamu ingin membaca dari mushaf juga tidak mengapa.

===============

طَيِّبٌ مَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ؟

تَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الْمُصْحَفِ

فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ فِي النَّافِلَةِ وَفِي الْفَرِيضَةِ

أَثْنَاءَ الصَّلَاةِ الْجَهْرِيَّةِ

إِذَا دَعَتِ الْحَاجَةُ إِلَى ذَلِكَ

الدَّلِيلُ كَانَ ذَكْوَانُ مَوْلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

يُصَلِّي بِهَا فِي رَمَضَانَ مِنْ مُصْحَفٍ

ذَكَرَهَا الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيْقًا مَجْزُوْمًا بِهِ

فَإِذَا كَانَ الْإِمَامُ لَا يَحْفَظُ الْمُفَصَّلَ

وَلَا غَيْرَهُ مِنْ بَقِيَّةِ الْقُرْآنِ جَازَ لَهُ أَنْ يَقْرَأَ مِنَ الْمُصْحَفِ

فِي بَعْضِ البُلْدَانِ فِي بَعْضِ الْقُرَى حَتَّى الْمُدُنِ

مُمْكِنٌ يَعْنِي يَصِيرُ فِيهِ إِمَامٌ لِلْمَسْجِدِ بَسْ مَا يَحْفَظُ

نَقُولُ اقْرَأْ مِنْ قِصَارِ السُّوَرِ

– يَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ؟
– نَقُولُ حَتَّى فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

مُمْكِنٌ تَقْرَأُ أَكْثَرَ مِنْ سُورَةِ فِي الرَّكْعَةِ الْوَاحِدَةِ

يَعْنِي لِنَفْتَرِضَ أَنَّ هُنَاكَ شَخْصٌ عَامِّيٌّ

لَا يَحْفَظُ إِلَّا قِصَارَ السُّوَرِ وَيُرِيدُ أَنْ يُصَلِّيَ اللَّيْلَ سَاعَتَيْنِ

كَيْفَ يُصَلِّي اللَّيْلَ سَاعَتَيْن؟

نَقُولُ اقْرَأْ قِصَارَ السُّوَرِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ وَكَرِّرْهَا

كَرِّرْهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ عِشْرِينَ مَرَّةً لَا مَانِعَ

وَإِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَقْرَأَ مِنْ مُصْحَفٍ فَلَا مَانِعَ

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Agama Nabi Musa Yahudi dan Nabi Isa Nasrani? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Penanya ini berkata, “Apakah agama yang Allah turunkan kepada Musa dan Isa adalah agama Yahudi dan Nasrani?”

Jawabannya BUKAN, Yahudi dan Nasrani adalah nama agama Bani Israil. Mereka dulu bersama para Nabi tersebut, setelah itu agama ini diganti dan diubah oleh mereka.

==========================================

يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ هَلِ الدِّينُ الَّذِي أَنْزَلَهُ اللهُ عَلَى مُوسَى وَعِيسَى هُوَ الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ؟

الْجَوَابُ لَا الْيَهُودِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ اِسْمٌ لِدِينِ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءِ بَعْدَ التَّبْدِيلِ وَالتَّغْيِيرِ