Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging di hadapannya. sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Sang anjing menunggu orang itu lengah sedikit saja untuk menyambar dagingnya. Sepotong daging itu adalah iman.
Ketahuilah, wahai Muslim, bahwa engkau memiliki musuh yang mengancam imanmu. Ia melihatmu, sementara engkau tidak melihatnya. Ia terus berupaya menguasaimu setiap saat, mendatangimu dari segala arah, sedangkan engkau tidak melihatnya. Tidak ada targetnya selain iman yang ada pada dirimu. Ia bekerja siang dan malam dengan segala sarana dan berbagai cara untuk melenyapkan iman itu darimu. Tidak ada yang menjadi perhatiannya selain hal tersebut.
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perihal dan keadaan musuh ini dalam firman-Nya Jalla fi ‘Ulahu tentang setan, semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita darinya. Allah berfirman, “Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)
Kapan ia mengucapkan perkataan ini? Kapan setan mengucapkannya? Ia telah mengucapkannya sejak dahulu, ketika ia telah jatuh dalam kesesatan. Iblis berkata, “Wahai Rabbku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…” (QS. Al-Hijr: 39). Saat itulah ia mengucapkan perkataan tadi. Iblis berkata, “Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17). Inilah sangkaan Iblis terhadap manusia: bahwa mereka akan menjadi seperti itu.
Karena itulah Allah berfirman dalam Surah Saba’, “Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20). Saya akan mengungkapkannya dengan ungkapan sehari-hari yang barangkali dapat membantu menjelaskan maknanya. Saya katakan, kebanyakan manusia ternyata benar-benar sesuai dengan sangkaan Iblis terhadap mereka. Iblis menyangka bahwa sebagian besar manusia akan menjadi pengikutnya. Sangkaan yang ia sangkakan itu benar-benar terjadi pada kebanyakan manusia, kecuali sedikit orang yang Allah selamatkan.
Karena itu, bersungguh-sungguhlah agar engkau termasuk orang-orang yang memperoleh keselamatan, yang selamat dari musuh ini, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkanmu untuk memperlakukannya sebagai musuh. Menentukan siapa yang menjadi musuh kita bukanlah urusan yang kita tetapkan menurut pendapat sendiri. Sekarang, sebagian orang justru menentukan sendiri siapa musuh-musuhnya. Ia membuat penetapan sendiri, hingga engkau mendapatinya memusuhi orang yang tidak semestinya dimusuhi.
Demi Allah, sebagian orang sekarang justru memusuhi orang-orang saleh dari kalangan hamba Allah. Ia membenci dan tidak menyukai orang-orang saleh, hatinya dipenuhi kedengkian dan berbagai hal buruk terhadap mereka. Bahkan ia menganggap orang-orang saleh sebagai musuh bebuyutannya. Padahal semua itu berasal dari hasutan setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang telah menentukan bagi kita siapa musuh-musuh kita.
Bukankah Allah berfirman, “Dan Allah lebih mengetahui tentang musuh-musuh kalian.” (QS. An-Nisa’: 45). Allah ‘Azza wa Jalla-lah Yang Maha Mengetahui. Dialah yang telah menjelaskannya kepada kita. Dan musuh terbesar kita, yang benar-benar wajib kita perlakukan sebagai musuh, adalah setan.
“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6). Karena itu, dalam perkara ini seseorang benar-benar perlu menjadikan setan sebagai musuh dalam perkara memperbarui iman. Imanmu tidak akan selamat kecuali dengan memperlakukan setan sebagai musuh. Engkau benar-benar memusuhinya.
Dan permusuhan yang kuat ini akan melahirkan kewaspadaan yang tinggi terhadap hasutan setan, berbagai waswasnya, dan upayanya memalingkan manusia dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta kewaspadaan terhadap berbagai cara yang ditempuhnya.
Ibnul Qayyim rahimahullah Ta’ala memberikan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan keadaan setan terhadap manusia, sebuah perumpamaan yang memperjelas hal tersebut. Ibnul Qayyim berkata, “Perumpamaan setan dan manusia seperti seseorang yang memiliki sepotong daging. Sepotong daging itu adalah iman. Di hadapannya ada sepotong daging, sedangkan di sekelilingnya ada seekor anjing lapar yang terus mengitarinya dari segala arah. Anjing itu menunggu sedikit saja kelengahan dari pemilik daging untuk menyambar dagingnya.” (Lihat At-Tibyan fi Aqsam Al-Qur’an)
Demikianlah keadaan setan, subhanallah! Setan terus mengitari manusia dari segala arah dan mengintainya di setiap jalan. Sebagaimana sabda Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, “Sesungguhnya setan mengintai anak Adam di jalan-jalannya, di setiap jalan yang ditempuhnya.” (Lihat HR. An-Nasa’i no. 3134).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau sanggupi dengan ajakanmu, kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki, bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak, serta berilah mereka janji. Padahal setan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai penjaga.” (QS. Al-Isra’: 64–65)
Ini adalah perkara yang harus benar-benar disadari oleh seorang hamba. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Musuh yang melihatmu sedangkan engkau tidak melihatnya, sangat berat untuk dihadapi.” Namun kesulitan yang berat ini menjadi ringan dengan kuatnya hubungan dengan Allah dan zikir kepada-Nya. Sesungguhnya zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan benteng yang sangat kokoh dari setan yang terkutuk. “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” (QS. Al-Isra’: 65)
Seorang hamba yang senantiasa berzikir kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, setan tidak memiliki jalan untuk menguasainya. Setan mendapatkan jalan terhadap orang yang berpaling dari mengingat Allah. “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami jadikan baginya setan, maka setan itu menjadi teman karibnya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)
=====
مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ
وَاعْلَمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُ أَنَّ لَكَ عَدُوًّا فِي إِيمَانِكَ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ مُتَسَلِّطٌ عَلَيْكَ فِي كُلِّ وَقْتٍ، يَأْتِيكَ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ وَأَنْتَ لَا تَرَاهُ وَلَيْسَ لَهُ مُهِمَّةٌ إِلَّا هَذَا الْإِيمَانَ الَّذِي عِنْدَكَ يَعْمَلُ لَيْلَ نَهَارَ بِكُلِّ الْوَسَائِلِ وَشَتَّى الطُّرُقِ لِيُذْهِبَ عَنْكَ هَذَا الْإِيمَانَ لَا هَمَّ لَهُ إِلَّا هَذَا
كَمَا ذَكَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ شَأْنِ وَحَالِ هَذَا الْعَدُوِّ فِي قَوْلِهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ عَنِ الشَّيْطَانِ أَعَاذَنَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُ قَالَ: ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
هَذِهِ قَالَهَا مَتَى؟ مَتَى قَالَهَا الشَّيْطَانُ؟ قَالَهَا قَدِيمًا عِنْدَمَا حَصَلَتْ مِنْهُ الْغَوَايَةُ قَالَ: رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي حِينَذَاكَ قَالَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ قَالَ: وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ هَذَا ظَنٌّ ظَنَّهُ فِي النَّاسِ أَنَّهُمْ يَكُونُونَ كَذَلِكَ
وَلِهَذَا قَالَ اللهُ فِي سُورَةِ سَبَأٍ وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَقُولُهَا بِعِبَارَةٍ دَارِجَةٍ رُبَّمَا يَكُونُ لَهَا شَيْءٌ مِنَ الْوَاقِعِ فِي فَهْمِ الْمَعْنَى أَقُولُ: أَكْثَرُ النَّاسِ مَا خَيَّبُوا ظَنَّ إِبْلِيسَ فِيهِمْ ظَنَّ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ أَنْ يَكُونُوا أَتْبَاعَهُ هَذَا الظَّنُّ الَّذِي ظَنَّهُ حَصَلَ فِي أَكْثَرِ النَّاسِ، إِلَّا الْقَلِيلَ الَّذِينَ نَجَّاهُمُ اللهُ
وَلِهَذَا اجْتَهِدْ أَنْ تَكُونَ فِي أَهْلِ النَّجَاةِ، أَهْلِ السَّلَامَةِ مِنْ هَذَا الْعَدُوِّ الَّذِي أَمَرَكَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ تَتَّخِذَهُ عَدُوًّا لَيْسَتْ مَسْأَلَةُ الْأَعْدَاءِ مَسْأَلَةَ اقْتِرَاحَاتٍ الْآنَ بَعْضُ النَّاسِ هُوَ الَّذِي يُحَدِّدُ مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُهُ وَيَقْتَرِحُ، وَتَجِدُهُ يُعَادِي مَنْ لَا يُعَادَى
وَاللهِ، بَعْضُ النَّاسِ الْآنَ يُعَادِي الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَيُبْغِضُهُمْ وَيَكْرَهُهُمْ، وَيَمْتَلِئُ قَلْبُهُ فِي الْغِلِّ وَأَشْيَاءَ كَثِيرَةٍ عَلَيْهِمْ وَيَعْتَبِرُهُمْ هُمُ الْعَدُوَّ اللَّدُودَ لَهُ، وَهَذَا كُلُّهُ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ الْعَدُوُّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هُوَ الَّذِي حَدَّدَ لَنَا مَنْ هُمْ أَعْدَاؤُنَا
أَلَيْسَ اللهُ قَالَ: وَاللهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ؟ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ الْأَعْلَمُ، هُوَ الَّذِي بَيَّنَ لَنَا وَأَشَدُّ الْأَعْدَاءِ لَنَا، الَّذِي يَجِبُ أَنْ نَتَّخِذَهُ فِعْلًا عَدُوًّا، الشَّيْطَانُ
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ وَلِهَذَا يَحْتَاجُ الْإِنْسَانُ فِعْلًا فِي هَذَا الْبَابِ، بَابِ تَجْدِيدِ الْإِيمَانِ أَنْ يَتَّخِذَ الشَّيْطَانَ عَدُوًّا لَا يُمْكِنُ أَنْ يَسْلَمَ لَكَ إِيمَانُكَ إِلَّا بِاتِّخَاذِ الشَّيْطَانِ عَدُوًّا تُعَادِيهِ عَدَاوَةً شَدِيدَةً
تُوَلِّدُ هَذِهِ الْعَدَاوَةُ الْحَذَرَ الشَّدِيدَ مِنْ نَزْغِ الشَّيْطَانِ وَوَسَاوِسِهِ وَصَدِّهِ عَنْ دِينِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالْحَذَرَ مِنْ طَرَائِقِهِ
ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى ضَرَبَ مِثَالًا لِبَيَانِ حَالِ الشَّيْطَانِ مَعَ الْإِنْسَانِ، مِثَالًا يُوَضِّحُ يَقُولُ: مَثَلُ الشَّيْطَانِ وَالْإِنْسَانِ كَمَثَلِ شَخْصٍ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ الْقِطْعَةُ مِنَ اللَّحْمِ هِيَ الْإِيمَانُ مَعَهُ قِطْعَةٌ مِنَ اللَّحْمِ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَحَوْلَهُ كَلْبٌ جَائِعٌ يَطُوفُ بِهِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ يَنْتَظِرُ أَقَلَّ غَفْلَةٍ مِنْ صَاحِبِ اللَّحْمِ لِيَخْطَفَ مِنْهُ لَحْمَهُ
وَهَذِهِ حَالُ الشَّيْطَانِ، سُبْحَانَ اللهِ يَطُوفُ بِالْإِنْسَانِ مِنْ كُلِّ جِهَةٍ، وَقَاعِدٌ لَهُ بِكُلِّ طَرِيقٍ كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَاعِدٌ لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ بِكُلِّ طَرِيقٍ
اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُم بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا
هَذَا أَمْرٌ لَا بُدَّ أَنْ يَسْتَشْعِرَهُ الْعَبْدُ وَكَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: عَدُوٌّ يَرَاكَ وَلَا تَرَاهُ، شَدِيدُ الْمُؤْنَةِ لَكِنْ هَذِهِ الْمُؤْنَةُ الشَّدِيدَةُ تَهُونُ مَعَ قُوَّةِ الصِّلَةِ بِاللهِ وَالذِّكْرِ لِلهِ فَإِنَّ ذِكْرَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ
الْعَبْدُ الذَّاكِرُ لِلهِ، الْمُلْتَجِئُ إِلَى اللهِ، لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ سَبِيلٌ سَبِيلُهُ عَلَى مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ