Allah Suka Diminta, Teruslah Berdoa, Pertolongan Allah Dekat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidak merasa bosan oleh desakan orang-orang yang terus memohon. Bahkan, Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Allah suka untuk diminta, serta murka apabila tidak diminta.”

Benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka untuk diminta, dan Allah menyukai apabila kita terus bersungguh-sungguh memohon kepada-Nya. Sementara manusia tidak suka terus-menerus dimintai dan tidak suka didesak dengan permintaan.

Adapun Ar-Rabb Jalla fi ‘Ulahu, Dia justru mencintai hamba-Nya yang terus memohon, merendahkan diri, serta memperbanyak doa, permohonan, dan ketundukan kepada-Nya. Benar. Dia merasa malu kepada hamba-Nya, ketika sang hamba tidak merasa malu kepada-Nya.

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah. Dia merasa malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.” (Lihat HR. Abu Dawud no. 1488, At-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Majah no. 3865).

Benar. Allah menutupi aib hamba-Nya ketika sang hamba tidak menutupi dirinya sendiri, dan merahmatinya ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Allah menyerunya dengan berbagai nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan karunia-Nya, menuju kemuliaan dan keridaan-Nya, tetapi hamba itu menolak.

Maka Allah mengutus para rasul-Nya untuk mencarinya dan bersama mereka mengirimkan perjanjian-Nya kepadanya. Kemudian Dia Subhanahu wa Ta’ala sendiri turun kepadanya, dan Allah berfirman, ‘Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya?’” Semua itu, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kaya dengan kesempurnaan mutlak. Dia Jalla wa ‘Ala sama sekali tidak memerlukan hamba tersebut.

Namun, Allah tetap menyeru hamba-Nya dengan berbagai nikmat-Nya, terus melimpahkan kebaikan-Nya kepadanya, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab kepadanya. Bahkan setelah semua itu, Allah Jalla fi ‘Ulahu turun setiap malam ke langit dunia, sebagaimana telah sahih dalam hadis mutawatir dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam, Allah turun setiap malam ke langit dunia seraya berfirman, “Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya?” (Lihat HR. Bukhari no. 6321, Muslim no. 758).

Dalam sebagian riwayat hadis ini juga disebutkan, “Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada siapa pun selain diri-Ku.” (Lihat HR. Ahmad no. 16218).

Benar. Dan disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat yang sampai kepada kita, “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar tertawa melihat kesempitan dan keputusasaan kalian, padahal begitu cepat Dia mengabulkan doa kalian.” Lalu seseorang berkata kepada beliau…

Benar. Ini juga menetapkan sifat tertawa bagi Allah terhadap keadaan para makhluk yang sedang berada dalam kesempitan, yakni ketika mereka berputus asa. Apabila hujan tidak turun dan bumi mengalami kekeringan, manusia menjadi putus asa, kehilangan harapan, dan merasa bahwa turunnya hujan masih lama. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu. Allah Jalla wa ‘Ala tertawa melihat hamba-hamba-Nya. Dia melihat mereka dalam keadaan sempit dan berputus asa, maka Allah terus tertawa, sementara Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat. Dia pun menurunkan hujan kepada mereka, menumbuhkan rerumputan dan tanaman untuk mereka, serta menyediakan air yang melimpah bagi mereka.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura: 28)

Allah Subhanahu juga berfirman, “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan. Kemudian Dia membentangkannya di langit sebagaimana yang Dia kehendaki dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.

Ketika Dia menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, seketika mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa.” Yakni dalam keadaan putus asa dan kehilangan harapan.

“Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, sungguh mereka benar-benar telah berputus asa…Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering)…” (Lihat QS. Ar-Rum: 48–50)

Inilah seperti yang disebutkan dalam hadis: ketika hujan tidak kunjung turun, para hamba diliputi rasa putus asa dan kehilangan harapan. Sementara Allah Jalla wa ‘Ala tertawa terhadap keadaan itu, dan Dia mengetahui bahwa jalan keluar bagi mereka telah dekat.

Benar.

=====

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ وَلَا يَتَبَرَّمُ بِإِلْحَاحِ الْمُلِحِّينَ بَلْ يُحِبُّ الْمُلِحِّينَ فِي الدُّعَاءِ وَيُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَيَغْضَبُ إِذَا لَمْ يُسْأَلْ

نَعَمْ، يُحِبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يُسْأَلَ وَيُحِبُّ أَنْ نُلِحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ بَيْنَمَا ابْنُ آدَمَ يَكْرَهُ أَنْ يُسْأَلَ وَيَكْرَهُ أَنْ يُلَحَّ عَلَيْهِ بِالسُّؤَالِ

أَمَّا الرَّبُّ جَلَّ فِي عُلَاهُ فَيُحِبُّ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَكُونَ مُلِحًّا مُتَضَرِّعًا مُكْثِرًا مِنَ الدُّعَاءِ وَالسُّؤَالِ وَالتَّذَلُّلِ نَعَمْ يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ حَيْثُ لَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ مِنْهُ

إِنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ، يَسْتَحِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

نَعَمْ وَيَسْتُرُهُ حَيْثُ لَا يَسْتُرُ نَفْسَهُ، وَيَرْحَمُهُ حَيْثُ لَا يَرْحَمُ نَفْسَهُ دَعَاهُ بِنِعَمِهِ وَإِحْسَانِهِ وَأَيَادِيهِ إِلَى كَرَامَتِهِ وَرِضْوَانِهِ، فَأَبَى

فَأَرْسَلَ رُسُلَهُ فِي طَلَبِهِ وَبَعَثَ إِلَيْهِ مَعَهُمْ عَهْدَهُ ثُمَّ نَزَلَ سُبْحَانَهُ إِلَيْهِ بِنَفْسِهِ وَقَالَ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَذَا كُلُّهُ مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، مَعَ كَمَالِ غِنَاهُ جَلَّ وَعَلَا عَنْ هَذَا الْعَبْدِ

لَكِنَّهُ دَعَا عَبْدَهُ بِنِعَمِهِ وَوَالَى عَلَيْهِ إِحْسَانَهُ، وَأَرْسَلَ إِلَيْهِ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ إِلَيْهِ الْكُتُبَ وَمَعَ هَذَا كُلِّهِ جَلَّ فِي عُلَاهُ يَنْزِلُ كُلَّ لَيْلَةٍ كَمَا صَحَّ بِذَلِكَ فِي الْحَدِيثِ الْمُتَوَاتِرِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلَّ لَيْلَةٍ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا يَقُولُ: مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟

وَيَقُولُ كَمَا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ هَذَا الْحَدِيثِ: لَا أَسْأَلُ عَنْ عِبَادِي أَحَدًا غَيْرِي نَعَمْ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيَضْحَكُ مِنْ أَزْلِكُمْ وَقُنُوطِكُمْ وَسُرْعَةِ إِجَابَتِكُمْ فَقَالَ لَهُ

نَعَمْ، وَهَذَا أَيْضًا فِيهِ إِثْبَاتٌ أَنَّ اللهَ يَضْحَكُ مِنْ أَزْلِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْنِي يَأْسِهِمْ الْمَخْلُوقُونَ، الْخَلْقُ، إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ وَأَجْدَبَتِ الْأَرْضُ فَإِنَّهُمْ يَيْأَسُونَ وَيَقْنَطُونَ وَيَسْتَبْعِدُونَ نُزُولَ الْمَطَرِاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ يَضْحَكُ مِنْ عِبَادِهِ، يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ آزِلِينَ قَانِطِينَ فَيَظَلُّ يَضْحَكُ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ، وَيُنْزِلُ عَلَيْهِمُ الْمَطَرَ وَيُنْبِتُ لَهُمُ الْكَلَأَ وَالزُّرُوعَ، وَيُوَفِّرُ لَهُمُ الْمِيَاهَ

كَمَا قَالَ تَعَالَى: وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

وَقَالَ سُبْحَانَهُ: اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ

فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ يَعْنِي آيِسِينَ قَانِطِينَ

وَإِن كَانُوا مِن قَبْلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيْهِم مِّن قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ فَانظُرْ إِلَىٰ آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا

فَهَذَا مِثْلُ مَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ مِنْ أَنَّ الْعِبَادَ إِذَا انْحَبَسَ الْمَطَرُ يَحْصُلُ عِنْدَهُمْ يَأْسٌ وَقُنُوطٌ وَاللهُ جَلَّ وَعَلَا يَضْحَكُ مِنْ ذَلِكَ، يَعْلَمُ أَنَّ فَرَجَهُمْ قَرِيبٌ

نَعَمْ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.