12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid Ada pertanyaan: “Kita sekarang berada pada bulan Ramadan. Apa nasihat Anda terkait sedekah bagi seseorang yang memiliki kelebihan harta dan ingin menyedekahkan hartanya.” PERTAMA: (Wakaf untuk Membantu Menyebarkan Ilmu) Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, yang aku nasihatkan adalah memberi wakaf untuk membantu menyebarkan ilmu. …

Baca selengkapnya…12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Wahai orang-orang yang aku cintai, aku ingin berbicara kepadamu tentang sesuatu yang dicari manusia, yang pada zaman ini banyak dari mereka mengeluh tidak memilikinya…Sesuatu yang semua orang menginginkannya; anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan wanita. Sesuatu itu adalah KEBAHAGIAAN, yang banyak manusia pada zaman sekarang …

Baca selengkapnya…Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.”
Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau,

“Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim)

Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah.
Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.”
Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya.

Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu.

Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran.

Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat.

================================================================================

سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ

يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢

وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ

مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ

مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ

وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ

عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي

فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي

فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ

هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ

تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي

تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ

هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً

وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ

اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ

وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ

وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ

فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا

وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ

وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ

وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ

وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ

فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ

إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ

 

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya.

Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya.

Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah.

============================================================================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ

أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ

بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ

وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ

فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ

وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ

وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ

فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ

فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ

وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ

كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا

وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ

هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ

الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ

لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ

تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ

فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ

أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ

فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ

أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي

يُمْرِضُ الْقَلْبَ

يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ

وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ

فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا

وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي

زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ

إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ

بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ

يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي

تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ

وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ

إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ

إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ

وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ

الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ

وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ

لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ

وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ

فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ

فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا

كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ

وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ

تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Di setiap saat, seorang mukmin tidak boleh mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari demi kepentingan dunia. Dan tidak diragukan lagi, permusuhan antara dua orang mukmin lebih dari tiga hari dapat menunda datangnya ampunan bagi mereka berdua. Di setiap kesempatan Allah …

Baca selengkapnya…Allah Menunda Ampunanmu Jika Kamu Lakukan Dosa Ini – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Hukum Mencukur Jenggot – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Hukum Mencukur Jenggot – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Berkenaan dengan jenggot pria, Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dia menciptakan kaum wanita dengan bentuk yang baik untuk mereka dan dan sesuai bagi mereka. Dan Dia menciptakan kaum pria dengan bentuk yang baik untuk mereka dan dan sesuai bagi mereka. Dia mengaruniakan kaum pria berupa jenggot. Dan mencukur jenggot secara keseluruhan hukumnya haram, sebagaimana ijma’ para ulama. Adapun hukum lain yang dikatakan sebagian ulama muta’akhir madzhab syafi’i, telah didahului adanya ijma’.

Ibnu Hazm rahimahullah ‘Azza wa Jalla berkata, “Dan para ulama telah bersepakat memotong seluruh jenggot merupakan bentuk merusak penciptaan, dan tidak boleh dilakukan.” Dan Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak mengomentari hal ini dalam kitab “Naqd Maratib al-Ijma'”, yakni beliau menyetujui pernyataan itu. Ibnu al-Qatthan rahimahullah ‘Azza wa Jalla juga berkata, “Dan para ulama telah bersepakat, memotong seluruh jenggot merupakan bentuk merusak penciptaan, tidak boleh dilakukan.” Dan demikianlah yang aku dapati di kitab para ulama fiqih generasi terdahulu. Mereka semua menyatakan haramnya mencukur jenggot secara keseluruhan. Dan juga pendapat yang rajih, tidak boleh mencukur sebagian jenggot, kecuali jika telah panjang sekali sehingga merusak penampilan, maka yang rajih menurutku -wallahu a’lam-, tidak mengapa dipotong.

Jika ia ingin, maka ia boleh memotong jenggot yang memanjang ke bawah dan ke samping, jika memang panjang sekali, hingga keluar dari batas normal, agar ia mengembalikannya ke batas normal saja. Adapun mengukurnya dengan satu genggaman, lalu memotong yang melebihinya. Maka ini diriwayatkan pernah dilakukan sebagian sahabat -ridhwanullah ‘alaihim- jika ada yang melakukannya, maka tidak boleh dicela. tidak boleh pula dicibir. Namun hukumnya yang menurutku benar -wallahu a’lam- secara fiqih dan pengamatan tidak boleh juga memotong jenggot yang panjangnya melebihi satu genggaman tangan. Namun wajibnya adalah memelihara dan memanjangkan jenggot. Kecuali jika telah panjang sekali melebihi batas normal maka boleh untuk dipotong agar kembali ke batas normal, Insya Allah. Jadi, kita punya beberapa perkara dalam masalah jenggot.

PERTAMA:
Mencukur secara keseluruhan, dan ini tidak boleh dilakukan
dan HARAM sesuai kesepakatan, sebagaimana yang aku baca dalam kitab para ulama fiqih generasi terdahulu serta yang diriwayatkan dan ditetapkan sebagian ulama yang perhatian pada ijma’.

KEDUA:
Memotong jenggot yang panjangnya kurang dari satu genggaman.
Dalam perkara ini terdapat perselisihan pendapat para ulama fiqih; namun yang rajih, itu tidak boleh dilakukan. tidak ada dalil yang membolehkannya.

KETIGA:
Memotong jenggot yang panjangnya lebih dari satu genggaman. Ini pernah dilakukan beberapa sahabat -ridhwanullah ‘alaihim- sehingga yang melakukan ini tidak boleh dicela, tidak boleh dianggap fasik, dan lain sebagainya. Namun menurutku -wallahu a’lam-, jenggot itu tetap wajib dipelihara. KEEMPAT:
Memotong jenggot yang melewati batas normal pada panjangnya yang ke bawah dan ke samping; agar kembali ke bentuk normal. Dan yang menurutku benar -wallahu a’lam-, itu boleh dilakukan karena itulah asalnya di syariat dalam hal ini.

================================================================================

مَا يَتَعَلَّقُ بِلِحْيَةِ الرَّجُلِ وَاللهُ حَكِيْمٌ عَلِيمٌ

خَلَقَ النِّسَاءَ عَلَى هَيْئَةٍ

تَصْلُحُ لَهُنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ

وَخَلَقَ الرِّجَالَ عَلَى هَيْئَةٍ

تَصْلُحُ لَهُمْ وَتُصْلِحُهُمْ

فَكَرَّمَ الرِّجَالَ بِاللِّحَى

وَحَلْقُ اللِّحْيَةِ بِالْكُلِّيَّةِ حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ أَهْلِ الْعِلْمِ

وَمَا حَكَاهُ بَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ الْمُتَأَخِّرُونَ مَسْبُوْقٌ بِالْإِجْمَاعِ

يَقُولُ ابْنُ حَزْمٍ رَحِمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّفَقُوا

أَنَّ حَلْقَ جَمِيعِ اللِّحْيَةِ مُثْلَةٌ

لَا تَجُوزُ

وَلَمْ يَتَعَقَّبْهُ ابْنُ تَيْمِيَّةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي نَقْدِ مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ

يَعْنِي أَنَّهُ يُوَافِقُهُ عَلَى ذَلِكَ

وَقَالَ ابْنُ الْقَطَّانِ رَحِمَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

وَاتَّفَقُوا أَنَّ حَلْقَ جَمِيعِ اللِّحْيَةِ مُثْلَةٌ لَا تَجُوزُ

وَهَذَا الَّذِي رَأَيْتُهُ فِي كُتُبِ الْفُقَهَاءِ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ

كُلُّهُمْ يَنُصُّوْنَ عَلَى حُرْمَةِ حَلْقِ اللِّحْيَةِ بِالْكُلِّيَّةِ

وَكَذَلِكَ عَلَى الرَّاجِحِ لَا يَجُوزُ الْأَخْذُ مِنْهَا

إِلَّا إِذَا طَالَتْ طُوْلًا زَائِدًا مُشَوِّهًا

فَالرَّاجِحُ عِنْدِيْ وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا حَرَجَ

إِنْ شَاءَ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ طُولِهَا وَعَرْضِهَا إِنْ زَادَ

حَتَّى خَرَجَ عَنِ الْحَدِّ الْمُعْتَادِ

لِيَرُدَّهَا إِلَى الْمُعْتَادِ فَقَطْ

وَأَمَّا الْقَبْضُ بِالْقَبْضَةِ وَأَخْذُ مَا زَادَ

فَهَذَا ثَبَتَ عَنْ بَعْضِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

فَمَنْ فَعَلَهُ لَا يُنْبَزُ

وَلَا يُتَنَقَّصُ مِنْه

لَكِنَّ الَّذِي يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ فِقْهًا وَنَظَرًا

أَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْقَبْضَةِ

بَلِ الْوَاجِبُ إِحْفَاؤُ اللِّحْيَةِ وَتَرْكُ اللِّحْيَةِ

إِلَّا إِذَا طَالَتْ طُوْلًا زَائِدًا عَنِ الْمُعْتَادِ

فَتُرَدُّ إِلَى الْمُعْتَادِ فَلَا بَأْسَ إِنْ شَاءَ اللهُ

إِذًا عِنْدَنَا أُمُورٌ فِي اللِّحْيَةِ

الْأَمْرُ الْأَوَّلُ الْحَلْقُ بِالْكُلِّيَّة وَهَذَا لَا يَجُوزُ

وَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ فِيمَا اطَّلَعْتُ عَلَيْهِ مِنْ كُتُبِ الْفُقَهَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ
وَنَقَلَهُ وَنَصَّ عَلَيْهِ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ الْمُهْتَمِّيْنَ بِالْإِجْمَاعِ

وَالْأَمْرُ الثَّانِي تَقْصِيرُ اللِّحْيَةِ أَقَلُّ مِنَ الْقَبْضَةِ

وَهَذَا مَحَلُّ خِلَافٍ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ لَكِنَّ الرَّاجِحَ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ

وَلَمْ يَأْتِ دَلِيلٌ عَلَى الْجَوَازِ

وَالْأَمْرُ الثَّالِثُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْقَبْضَةِ

وَهَذَا ثَبَتَ عَنْ عَدَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ

وَهُوَ يَمْنَعُ التَّنَقُّصَ وَالتَّفْسِيْقَ وَغَيْرَ ذَلِكَ

لَكِنَّ الَّذِي يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ يَجِبُ أَنْ تُتْرَكَ

وَالْمَرْحَلَةُ الرَّابِعَةُ أَخْذُ مَا زَادَ عَنِ الْمُعْتَادِ

فِي طُولِ اللِّحْيَةِ وَعَرْضِهَا حَتّى تُرَدَّ إِلَى الْمُعْتَادِ

وَهَذَا يَظْهَرُ لِي وَاللهُ أَعْلَمُ أَنَّهُ جَائِزٌ لِأَنَّ هَذَا هُوَ الْأَصْلُ

فِي الشَّرِيعَةِ فِي مِثْلِ هَذَا