Tiga Permintaan Penting Dalam Istikharah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Tiga Permintaan Penting Dalam Istikharah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama Banyak orang, ketika beristikharah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, menyangka bahwa setelah salat istikharah, mereka akan bermimpi di malam hari, yang memberitahukan pilihan yang benar di antara dua pilihan, atau ketika dia membuka buku atau Al-Quran, lalu membacanya, kemudian dia mendapat petunjuk, mana yang harus …

Baca selengkapnya…Tiga Permintaan Penting Dalam Istikharah – Syaikh Abdussalam Asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Lima Wasiat Penting Untuk Pemuda – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Lima Wasiat Penting Untuk Pemuda – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dan di antara wasiat-wasiat dari ulama salaf—semoga Allah merahmati mereka—untuk para pemuda, adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab al-Ḥilyah: Dari Abu al-Malīḥ, beliau berkata bahwa Maimun bin Mihrān—saat kami bermajelis bersamanya—berkata,

(WASIAT PERTAMA)
“Wahai para pemuda, letakkan kekuatan dan semangat muda kalian pada ketaatan kepada Allah.” Maksudnya, manfaatkan kekuatan dan semangat di masa muda tersebut untuk ketaatan kepada Allah, dan semua hal yang mendekatkan kepada-Nya Subḥānahu wa Taʿāla.

(WASIAT KEDUA)
Kemudian beliau berkata, “Wahai para orang tua, sampai kapan? Wahai para orang tua, sampai kapan?”

Yakni, sampai kapan kalian menunggu dan tidak memanfaatkan hidup kalian untuk ketaatan kepada Allah Subḥānahu wa Taʿāla?

Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam kitab al-Ḥilyah, dari al-Firyabi, beliau berkata,

“Suatu ketika, Sufyan aṯ-Ṯauri menunaikan salat, kemudian menoleh ke para pemuda dan berkata,

(WASIAT KETIGA)
‘Jika kalian tidak salat sekarang, lantas kapan?’”

Maksudnya, jika kalian tidak salat sekarang, yaitu saat masih muda, kuat, dan semangat, lantas kapan kalian akan salat? Kapan akan salat?

Jika para pemuda tidak memanfaatkan masa mudanya untuk memperbanyak sujud kepada Allah Subḥānahu wa Taʿāla, mungkin akan tiba suatu masa dalam hidupnya, dia ingin bersujud, namun sudah tidak mampu.

Dia ingin bersujud, meletakkan keningnya di tanah, namun sudah tidak mampu. Dia tidak mampu, dia ingin, tapi sudah tidak mampu.

Karena kekuatan di masa muda menghasilkan gerakan yang fleksibel, mudah, dan ringan, dan bisa mengerjakan sesuatu dengan mudah dan gampang.

Namun jika dia sia-siakan, mungkin akan datang masanya di mana dia ingin bersujud, namun sudah tidak memiliki kemampuan karena melemahnya kekuatan, atau rasa sakit di sebagian badannya, sehingga tidak mampu lagi bersujud, dia tidak mampu lagi bersujud.

Oleh sebab itulah, beliau berkata, “Jika kalian tidak salat sekarang, lantas kapan?”

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dalam kitab beliau, Ṣifatu al-Jannah, dari ar-Rabīʿah bin Kulṯum, bahwasanya beliau berkata, “Al-Hasan melihat ke arah kami, yaitu para pemuda yang duduk di sekitarnya, beliau kemudian berkata,

(WASIAT KEEMPAT)
‘Wahai para pemuda, apakah kalian tidak rindu bertemu al-Ḥūru al-ʿAin (bidadari surga)?’

‘Wahai para pemuda, apakah kalian tidak rindu bertemu al-Ḥūru al-ʿAin?’”

Ini adalah pengingat agar seseorang rindu dengan surga dan nikmatnya, karena jika hal ini ada dalam hati seorang pemuda, dengan izin Allah Subḥānahu wa Taʿālā, akan menggerakkannya untuk beramal untuk akhirat dan berusaha menggapainya.

Allah berfirman, “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra’: 19)

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dalam kitab beliau, Ṭūlu al-ʾAmali, dari ‘Uqbah bin Abi Ṣaḥbāʾ,

(WASIAT KELIMA)
beliau berkata, “Aku mendengar al-Hasan berkata, ‘Wahai para pemuda, waspadalah terhadap menunda-nunda: nanti aku lakukan, nanti aku lakukan.” Ini adalah penyakit para pemuda. Penyakit pada masa muda adalah ucapan “Nanti aku lakukan.”

Penyakit yang banyak membinasakan para pemuda adalah ucapan “Nanti aku akan taubat, akan menjaga salat, akan berbakti kepada orang tuaku.”

Nanti, nanti, dan terus menunda, enggan melakukannya, tidak bersegera dan tidak memanfaatkan kesempatan, tapi terus menunda-nunda, setiap kali jiwanya mengajaknya untuk bertaubat, menjaga salat, berbakti kepada orang tua, atau amalan lainnya, penyakit ini datang menghampirinya, kemudian menunda, dia berkata, “Nanti, bulan depan, tahun depan, jika aku sudah berumur sekian.”

Dia menunda dan menunda, hingga kehilangan keberkahan masa mudanya, dan tidak bisa memanfaatkan waktunya dan terus menunda, bahkan sebagian mereka menunda taubat, hingga umur tertentu dalam hidupnya, namun ajal terlebih dahulu datang, sebelum dia mencapai umur itu. Ajal terlebih dahulu menjemputnya, sebelum dia sampai umur tersebut. Sehingga beliau berkata, “Wahai para pemuda, waspadalah terhadap menunda-nunda, nanti aku lakukan, nanti aku lakukan.”

================================================================================

مِنْ جُمْلَةِ أَيْضًا وَصَايَا السَّلَفِ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى لِلشَّبَابِ

مَا رَوَاهُ أَبُو نُعَيمٍ فِي الْحِلْيَةِ

عَنِ أَبِي الْمَلِيحِ قَالَ: قَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ وَنَحْنُ حَوْلَهُ

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ قُوَّتَكُم اجْعَلُوهَا فِي شَبَابِكُمْ وَنَشَاطِكُمْ فِي طَاعَةِ اللهِ

يَعْنِي اسْتَغِلُّوا قُوَّةَ الشَّبَابِ وَالنَّشَاطِ اسْتَغِلُّوا ذَلِكَ فِي طَاعَةِ اللهِ

وَمَا يُقَرِّبُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

ثُمَّ قَالَ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ حَتَّى مَتَى؟ يَا مَعْشَرَ الشُّيُوخِ حَتَّى مَتَى؟

يَعْنِي حَتَّى مَتَى تَنْتَظِرُونَ لَا تَسْتَغِلُّونَ حَيَاتَكُمْ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَرَوَى أَبُو نُعَيمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنِ الْفِرْيَابِيِّ قَالَ

كَانَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ يُصَلِّي ثُمَّ يَلْتَفِتُ إِلَى الشَّبَابِ فَيَقُولُ

إِذَا لَمْ تُصَلُّوا الْيَوْمَ فَمَتَى؟

إِذَا لَمْ تُصَلُّوا الْيَوْمَ أَيْ فِي مَرْحَلَةِ شَبَابِكُمْ وَقُوَّتِكُمْ وَنَشَاطِكُمْ

فَمَتَى تُصَلُّونَ؟ فَمَتَى تُصَلُّونَ؟

إِذَا لَمْ يَسْتَغِلِّ الشَّبَابُ مَرْحَلَةَ الشَّبَابِ فِي السُّجُودِ لِلهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

قَدْ تَأْتِي مَرْحَلَةٌ مِنْ حَيَاتِهِ يَوَدُّ أَنْ يَسْجُدَ لَكِنْ لَا يَسْتَطِيعُ

يَوَدُّ أَنْ يَسْجُدَ يَوَدُّ أَنْ يَجْعَلَ جَبْهَتَهُ فِي الْأَرْضِ

فَلَا يَسْتَطِيعُ

لَا يَسْتَطِيعُ وَهُوَ رَاغِبٌ فِي ذَلِكَ لَكِنْ لَا يَسْتَطِيعُ

لَكِنَّ حَرَكَةَ الْقُوَّةِ فِي مَرْحَلَةِ الشَّبَابِ حَرَكَةٌ مَرِنَةٌ وَسَهْلَةٌ وَيَسِيرَةٌ

وَيَتَمَكَّنُ بِيُسْرٍ وَبِسُهُولَةٍ

فَإِذَا فَرَّطَ رُبَّمَا يَأْتِي عَلَيْهِ مَرْحَلَةٌ يَوَدُّ أَنْ يَسْجُدَ

لَكِنْ مَا تُصْبِحُ عِنْدَهُ قُدْرَةٌ بِسَبَبِ ضَعْفِ قُوَاهُ

أَوْ بَعْضِ الْإِصَابَاتِ فِي بَعْضِ بَدَنِهِ فَلَا يَتَمَكَّنُ مِنَ السُّجُودِ

لَا يَتَمَكَّنُ مِنَ السُّجُودِ

فَيَقُولُ: إِذَا لَمْ تُصَلُّوا الْيَوْمَ فَمَتَى؟

وَرَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِهِ صِفَةِ الْجَنَّةِ

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كُلْثُومٍ قَالَ

نَظَرَ إِلَيْنَا الْحَسَنُ وَنَحْنُ حَوْلَهُ شَبَابٌ فَقَالَ

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ أَمَا تَشْتَاقُونَ إِلَى الْحُوْرِ الْعِينِ؟

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ أَمَا تَشْتَاقُونَ إِلَى الْحُوْرِ الْعِينِ؟

وَهَذَا التَّنْبِيهُ إِلَى الشَّوْقِ إِلَى الْجَنَّةِ وَنَعِيمِهَا

وَأَنَّهُ إِذَا قَامَ فِي قَلْبِ الشَّابِّ حَرَّكَهُ بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

لِعَمَلِ الْآخِرَةِ وَالسَّعْيِ لَهَا

وَاللهُ يَقُولُ: وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا

وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا

وَرَوَى ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِي كِتَابِهِ طُولِ الْأَمَلِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي الصَّهْبَاءِ

قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ إِيَّاكُمْ وَالتَّسْوِيفَ

سَوْفَ أَفْعَلُ سَوْفَ أَفْعَلُ

وَهَذِهِ آفَةُ الشَّبَابِ

آفَةُ مَرْحَلَةِ الشَّبَابِ سَوْفَ أَفْعَلُ

الآفَةُ الَّتِي أَهْلَكَتْ كَثِيرًا مِنَ الشَّبَابِ

سَوْفَ أَتُوبُ سَوْفَ أُحَافِظُ عَلَى الصَّلَاةِ سَوْفَ أَبِرُّ وَالِدِي

سَوْفَ سَوْفَ يُؤَجِّلُ لَا يَفْعَلُهُ وَلَا يُبَادِرُ وَلَا يَغْتَنِمُ

وَإِنَّمَا يُؤَجِّلُ كُلَّمَا حَدَّثَتْهُ نَفْسُهُ بِتَوْبَةٍ أَوْ مُحَافَظَةٍ عَلَى الصَّلَاةِ

أَوْ عِنَايَةٍ بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ جَاءَتْهُ هَذِهِ الْآفَةُ

وَأَجَلَّ قَالَ: سَوْفَ أَفْعَلُ بَعْدَ شَهْرٍ بَعْدَ سَنَةٍ إِذَا بَلَغْتُ مِنَ الْعُمْرِ كَذَا

يُؤَجِّلُ وَيُؤَجِّلُ حَتَّى يَفُوتَهُ بَرَكَةُ الشَّبَابِ

يَفُوتَهُ اِغْتِنَامُ الْوَقْتِ وَلَا يَزَالُ فِي تَسْوِيفٍ وَرُبَّمَا أَنَّ بَعْضَهُمْ أَجَّلَ التَّوْبَةَ

إِلَى أَنْ يَصِلَ إِلَى عُمْرٍ مَا مِنْ حَيَاتِهِ فَاحْتَرَمَتْهُ الْمَنِيَّةُ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى ذَلِكَ الْعُمْرِ

اِحْتَرَمَتْهُ الْمَنِيَّةُ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى ذَلِكَ الْعُمْرِ

فَكَانَ يَقُولُ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ إِيَّاكُمْ وَالتَّسْوِيفَ سَوْفَ أَفْعَلُ سَوْفَ أَفْعَلُ

 

Lakukan Ini Agar Allah Angkat Musibah – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Lakukan Ini Agar Allah Angkat Musibah – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama Jika ini adalah bagian dari sebab (musibah), maka bagaimana seharusnya sikap kita terhadap sebab ini, wahai saudara-saudara? Sikap kita adalah kembali kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Saya berdoa kepada Allah agar menolong kita untuk melakukannya. Kembali sepenuhnya. Kita introspeksi diri kita, kita periksa keikhlasan kita …

Baca selengkapnya…Lakukan Ini Agar Allah Angkat Musibah – Syaikh Ibnu Utsaimin #NasehatUlama

Jika Jatuh Pada Dua Fitnah Ini Maka Kamu Tak Selamat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Jika Jatuh Pada Dua Fitnah Ini Maka Kamu Tak Selamat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Pada tasyahud akhir, sebelum salam, kita disyariatkan membaca doa memohon perlindungan kepada Allah dari 4 perkara: neraka jahanam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, dan fitnah dajjal. Pada akhir video, Anda bisa lihat doanya. Oleh sebab inilah, sebagian ulama berpendapat, …

Baca selengkapnya…Jika Jatuh Pada Dua Fitnah Ini Maka Kamu Tak Selamat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Jangan Lupakan Doa Penting Ini dalam Shalatmu! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Jangan Lupakan Doa Penting Ini dalam Shalatmu! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Perkataan Abu Bakar, “Ajarkan saya doa yang bisa saya baca dalam salat.” Hal ini mengindikasikan bahwa doa ini disunahkan untuk dibaca dalam salat, baik ketika sujud, karena Nabi Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memperbanyak doa ketika sedang sujud, beliau bersabda, “Sungguh itu adalah …

Baca selengkapnya…Jangan Lupakan Doa Penting Ini dalam Shalatmu! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Dia Sifat-sifat Ibadurrahman. Ayo Kita Tiru ! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Dia Sifat-sifat Ibadurrahman. Ayo Kita Tiru ! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Sifat pertama dari para hamba Allah yang Maha Pengasih (‘ibadurrahman) adalah: sikap yang tenang, damai, dan tunduk kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, serta rendah hati (tawaduk) terhadap para hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang lain. Jadi, mereka adalah orang-orang yang memiliki ketenangan, ketentraman, kerendahan hati, kelembutan jiwa, dan jauh dari kekerasan, kebengisan, kekakuan, dan lain sebagainya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

“Berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” artinya berjalan dengan tenang, tentram, rendah hati, damai, dan jauh dari kecongkakan dan keangkuhan diri, dan juga jauh dari kesombongan terhadap hamba-hamba Allah yang lain, serta jauh dari sifat-sifat tercela lainnya. Dan bukti kesempurnaan ketenangan dan kedamaian mereka, jika mereka berjalan melewati orang-orang yang lalai dan tempat-tempat yang melalaikan, maka mereka akan berjalan dengan menjaga kehormatan diri.

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)

Jadi, salah satu sifat mereka, atau salah satu bentuk kesempurnaan ketenangan mereka, jika orang-orang jahil berkata kepada mereka, yakni dengan ucapan jahil dan tidak berfaedah, maka para hamba Allah ini akan menjawab mereka dengan ucapan yang tidak mengandung kejahilan dan kebodohan, yaitu dengan membalas ucapan mereka dengan ucapan yang lebih baik, Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat lain, “Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik, .…” Mereka tidak membalas kejahilan orang jahil dengan kejahilan yang serupa, namun mereka membalasnya dengan hal yang mengandung keselamatan dari kejahilan orang-orang jahil, yaitu dengan membalasnya dengan hal yang lebih baik. Dan sebagaimana yang telah disebutkan, ini merupakan bentuk kesempurnaan ketenangan dan kedamaian mereka.

==============================================================================

الصِّفَةُ الْأُولَى لِعِبَادِ الرَّحْمَنِ

الْوَقَارُ وَالسَّكِينَةُ وَالتَّوَاضُعُ لِلهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

وَالتَّوَاضُعُ مَعَ عِبَادِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَهُمْ أَهْلُ سَكِينَةٍ وَوَقَارٍ وَتَوَاضُعٍ وَلِيْنِ جَانِبٍ

وَبُعْدٍ عَنِ الْغِلْظَةِ وَالْفَظَاظَةِ وَالشِّدَّةِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا أَيْ بِسَكِينَةٍ وَوَقَارٍ وَتَوَاضُعٍ

وَطُمَأْنِينَةٍ وَبُعْدٍ عَنْ العُلُوِّ وَالْعُجْبِ بِالنَّفْسِ

وَالتَّكَبُّرِ عَلَى عِبَادِ اللهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الصِّفَاتِ الذَّمِيمَةِ

وَمِنْ كَمَالِ وَقَارِهِمْ وَسَكِيْنَتِهِمْ أَنَّهُمْ إِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ أَيْ بِأَهْلِهِ وَمَجَالِسِ اللَّغْوِ

مَرُّوا كِرَامًا

نَعَمْ وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

فَمِنْ صِفَاتِهِم أَوْ مِنْ كَمَالِ وَقَارِهِمْ أَنَّهُمْ إِذَا خَاطَبَهُم أَهْلُ الْجَهْلِ

أَي بِخِطَابِ الْجَهْلِ وَالسَّفَهِ

خَاطَبُوْهُمْ خِطَابًا تَكُونُ فِيهِ السَّلَامَةُ مِنْ جَهْلِ الْجَاهِلِينَ وَسَفَهِ السُّفَهَاءِ

وَذَلِكَ بِالدَّفْعِ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي مَوْطِنٍ آخَرَ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

فَهُمْ لَا يُقَابِلُوْنَ سَفَهَ الْجَاهِلِ بِسَفَهٍ مِثْلِهِ

وَإِنَّمَا يُقَابِلُونَهُ بِمَا تَكُونُ فِيهِ سَلَامَتُهُم مِنْ جَهْلِ الْجَاهِلِينَ

وَذَلِك بِالدَّفْعِ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

وَهَذَا كَمَا قَدَّمْتُ مِنْ تَمَامِ وَقَارِهِمْ وَكَمَالِ سَكِيْنَتِهِمْ