Syaikh Saad, salah seorang pendengar bertanya mengenai nasihat bagi para imam. Ada imam yang shalatnya terlalu panjang, dan ada pula yang terlalu singkat. Selain itu, ada pula yang hanya memberikan jeda sangat singkat antara azan dan iqamah. Adakah nasihat khusus tentang hal ini?
Ya. Seorang imam adalah orang yang memegang amanah. Ia harus berupaya menjaga tumakninah dalam shalatnya. Sebab, ada sebagian imam—terutama dalam Shalat Tarawih—yang mempercepat shalat, bagaikan burung yang mematuk-matuk makanan, sehingga rukun tumakninah tidak terpenuhi. Padahal, barang siapa yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah, maka tidak ada yang ia peroleh dari shalatnya kecuali rasa lelah. Shalatnya tidak sah, tidak sah juga shalat orang yang menjadi makmumnya.
Pernah datang seorang lelaki ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lelaki itu shalat, lalu mendatangi Rasulullah dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya, lalu beliau bersabda: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Lelaki itu pun shalat lagi, lalu datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Ia pun shalat lagi. Lalu ia datang lagi dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab salamnya. Lalu beliau bersabda lagi: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.”Lelaki itu berkata: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarilah aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengajarkannya tumakninah dalam shalat. Beliau bersabda: “Jika kamu berdiri untuk shalat, menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al-Qur’an yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dengan tenang hingga mencapai posisi rukuk yang sempurna. Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak dengan tenang…”Dan seterusnya hingga akhir hadits.
Sabda Nabi: “Shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat,” ini merupakan suatu penafian (peniadaan). Secara kaidah, peniadaan pada asalnya merujuk pada peniadaan wujud (keberadaan fisik). Jika peniadaan wujud tidak memungkinkan, maka maknanya beralih pada peniadaan keabsahan. Jika itu pun tidak memungkinkan, barulah beralih pada peniadaan kesempurnaan. Peniadaan wujud di sini tidak mungkin terjadi, karena shalatnya ada dan dilakukan. Maka, maknanya beralih pada peniadaan keabsahan shalatnya.
Dengan demikian, seseorang yang mengerjakan shalat tanpa tumakninah di dalamnya, maka shalatnya tidak sah. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat.” Artinya, shalatmu tidak sah. Selain itu, imam hendaknya memberikan kesempatan bagi para makmum untuk dapat menjalankan sunnah-sunnah shalat, terlebih lagi untuk memenuhi perkara wajib dan rukun shalat.
Sebaliknya, janganlah imam memperlama shalatnya hingga membuat orang-orang ingin pergi. Hal ini berdasarkan teguran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Muadz memperlama shalatnya: “Wahai manusia! Sungguh, di antara kalian ada yang membuat orang lain menjauh. Barang siapa mengimami orang banyak, hendaknya ia meringankan.” Maka, jangan terlalu lama hingga membuat orang pergi.
Juga, hendaknya imam memperhatikan keadaan orang-orang pada zaman ini. Kondisi orang-orang pada zaman ini, tidak seperti kondisi pada zaman Sahabat atau Tabi’in. Sehingga harus memperhatikan juga kondisi-kondisi ini. Imam hendaknya berusaha untuk mengambil jalan tengah dengan memimpin shalat yang penuh tumakninah, tanpa durasi yang terlalu lama, tanpa menyulitkan, atau membebani para makmum. Serta ia tetap wajib menjaga tumakninah sebagaimana mestinya.
=====
شَيْخُ سَعْدٍ مِنْ أَسْئِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ سُؤَالٌ حَوْلَ تَوْجِيهٍ لِلْأَئِمَّةِ الْبَعْضُ أَنْ يُطِيلَ جِدًّا وَالْبَعْضُ يُقَصِّرُ جِدًّا وَأَيْضًا الْبَعْضُ يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ يَعْنِي فِي فَتْرَةٍ وَجِيزَةٍ فَهَلْ مِنْ تَوْجِيهٍ حَوْلَ هَذَا الْمَوْضُوعِ
نَعَمْ الْإِمَامُ مُؤْتَمَنٌ وَعَلَيْهِ أَنْ يَحْرِصَ عَلَى الطُّمَأْنِينَةِ فِي الصَّلَاةِ لِأَنَّ بَعْضَ الْأَئِمَّةِ خَاصَّةً فِي صَلَاةِ التَّرَاوِيحِ يُسْرِعُونَ فِي الصَّلَاةِ وَيَنْقُرُونَهَا نَقْرًا لَا يَتَحَقَّقُ مَعَهُ رُكْنُ الطُّمَأْنِينَةِ وَمَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا فَلَيْسَ لَهُ مِنْ صَلَاتِهِ إِلَّا التَّعَبُ لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ وَلَا صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ
فَقَدْ جَاءَ رَجُلٌ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثُمَّ صَلَّى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى وَسَلَّمَ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ قَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أُحْسِنُ غَيْرَ هَذَا فَعَلِّمْنِي فَعَلَّمَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّمَأْنِينَةَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَاسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ وَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا إِلَى آخِرِ الْحَدِيثِ
وَقَوْلُهُ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ هَذَا نَفْيٌ وَالأَصْلُ فِي النَّفْيِ أَنَّهُ يَنْصَرِفُ إِلَى نَفْيِ الْوُجُودِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ فَإِلَى نَفْيِ الْكَمَالِ وَنَفْيُ الْوُجُودِ هُنَا مُتَعَذِّرٌ فَالصَّلَاةُ مَوْجُودَةٌ وَقَائِمَةٌ فَيَنْصَرِفُ إِذًا إِلَى نَفْيِ الصِّحَّةِ
وَعَلَى ذَلِكَ فَالَّذِي يُصَلِّي صَلَاةً لَمْ يَطْمَئِنَّ فِيهَا لَا تَصِحُّ صَلَاتُهُ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ أَيْ أَنَّ صَلَاتَكَ غَيْرُ صَحِيحَةٍ كَذَلِكَ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُمَكِّنَ الْمَأْمُومِينَ مِنَ الْإِتْيَانِ بِالسُّنَنِ فَضْلًا عَنِ الْوَاجِبَاتِ وَالْأَرْكَانِ
وَأَيْضًا فِي الْمُقَابِلِ لَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً لِقَوْلِ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَمَّا أَطَالَ مُعَاذٌ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ أَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ فَلَا يُطِيلُ إِطَالَةً مُنَفِّرَةً
وَيُرَاعِي أَيْضًا أَحْوَالَ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَحْوَالُ النَّاسِ فِي هَذَا الزَّمَانِ لَيْسَتْ كَأَحْوَالِ النَّاسِ زَمَنَ الصَّحَابَةِ أَوْ زَمَنَ التَّابِعِينَ فَلَا بُدَّ أَيْضًا مِنْ مُرَاعَاةِ هَذِهِ الْأَحْوَالِ وَيَحْرِصُ الْإِمَامُ عَلَى الِاعْتِدَالِ بِأَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةً مُطْمَئِنًّا فِيهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَحْصُلَ فِيهَا إِطَالَةٌ أَوْ إِشْقَاقٌ أَوْ إِثْقَالٌ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَأَيْضًا يَطْمَئِنُّ فِيهَا الِاطْمِئْنَانَ الْمَطْلُوبَ