MINTA DIDOAKAN ORANG SALEH, BOLEHKAH? INI JAWABAN LENGKAP SYAIKH UTSAIMIN #NasehatUlama

Adapun hadis Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika ia hendak berumrah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Jangan lupakan kami dalam doamu,”

atau “Sertakanlah kami dalam doamu,” maka ini hadis daif (lemah), meskipun penulis kitab mensahihkannya.

Namun penulis rahimahullah memiliki kebiasaan: apabila suatu riwayat termasuk keutamaan amal (fadhailul a’mal), beliau bersikap longgar terhadapnya.

Sikap ini, meski lahir dari niat yang baik, tetap saja yang wajib adalah mengikuti kebenaran.

Yang sahih tetap sahih, yang daif tetaplah daif. Dan keutamaan amal dapat diraih dengan cara lain,

yakni tanpa harus mensahihkan hadis-hadis yang lemah.

Baik.

Nabi ‘alaihish shalatu was salam memerintahkan siapa yang bertemu Uwais Al-Qarni atau Al-Qarani agar meminta doa kepadanya. Namun ini khusus bagi Uwais saja.

Sebab ia seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak mengangkat namanya di dunia ini sebelum balasan di akhirat.

Karena itu, Nabi ‘alaihish shalatu was salam tidak pernah memerintahkan seseorang meminta didoakan oleh orang lain, padahal beliau sendiri lebih utama daripada Uwais!

Abu Bakar jelas lebih utama daripada Uwais, tanpa ragu. Para sahabat yang lain pun lebih utama darinya dari sisi status sebagai sahabat.

Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam tidak pernah memerintahkan seseorang untuk berkata, “Mintalah Abu Bakar…” atau “Mintalah Umar…” atau semisalnya “…untuk mendoakan kalian.”

Maka yang benar: tidak sepatutnya seseorang meminta didoakan oleh orang lain, sekalipun orang itu saleh.

Sebab ini bukan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan bukan pula petunjuk para Khulafaur Rasyidin.

Adapun bila doa itu bersifat umum, yakni engkau meminta orang saleh itu memanjatkan doa yang umum,

seperti memintanya berdoa kepada Allah Ta’ala agar diturunkan hujan, atau agar fitnah diangkat dari manusia, atau semisalnya,

maka tidak mengapa, karena ini untuk kemaslahatan orang lain. Seperti bila engkau meminta harta untuk seorang fakir, engkau tidak dicela dan tidak dicaci karenanya.

Demikian pula Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Para sahabat meminta Nabi berdoa kepada Allah untuk mereka, dan itu termasuk kekhususan beliau.

Seperti ucapan seorang sahabat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menceritakan tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab,

lalu ‘Ukkasyah bin Mihshan berdiri dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar menjadikanku termasuk mereka!” Nabi bersabda, “Engkau termasuk mereka.”

Lalu berdiri orang lain, dan beliau bersabda, “‘Ukkasyah telah mendahuluimu.” (Muttafaq ‘alaih)

Juga seperti seorang wanita yang menderita ayan, ia meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mendoakannya.

Nabi bersabda, “Jika engkau mau, aku berdoa kepada Allah untukmu, dan jika engkau mau bersabar, bagimu surga.” Wanita itu berkata, “Aku akan bersabar. Namun doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” (Muttafaq ‘alaih)

Kesimpulannya: termasuk kekhususan Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam adalah diminta berdoa. Adapun selain beliau, tidak.

Ya, jika seseorang hendak meminta doa dari orang lain dengan maksud kemaslahatan orang itu,

yakni maksudnya agar Allah memberi pahala kepada orang itu karena mendoakan saudaranya, atau agar Allah Ta’ala mengabulkan doanya,

sebab bila seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat berkata, “Amin, dan bagimu yang semisalnya.” (HR. Muslim)

Maka amal itu tergantung niatnya. Orang ini tidak berniat untuk kemaslahatan dirinya semata, melainkan untuk kemaslahatan dirinya dan saudaranya yang ia mintai doa. Amal itu tergantung niatnya.

Adapun bila untuk kemaslahatan pribadi semata, maka ini sebagaimana kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, termasuk “permintaan yang tercela”.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pernah membaiat para sahabatnya agar tidak meminta apa pun kepada manusia. Wallahul muwaffiq.

=====

حَدِيثُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يَعْتَمِرَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا تَنْسَنَا مِنْ دُعَائِكَ.

أَوْ أَشْرِكْنَا فِي دُعَائِكَ فَحَدِيثٌ ضَعِيفٌ وَإِنْ صَحَّحَهُ الْمُؤَلِّفُ.

لَكِنَّ الْمُؤَلِّفَ رَحِمَهُ اللَّهُ لَهُ طَرِيقَةٌ وَهِيَ أَنَّهُ مَا كَانَ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَإِنَّهُ يَتَسَاهَلُ بِهِ.

وَهَذَا وَإِنْ كَانَ يَصْدُرُ عَنْ حُسْنِ نِيَّةٍ، لَكِنَّ الْوَاجِبَ اتِّبَاعُ الْحَقِّ.

فَالصَّحِيحُ صَحِيحٌ وَالضَّعِيفُ ضَعِيفٌ، وَفَضَائِلُ الْأَعْمَالِ تُدْرَكُ بِغَيْرِ هَذَا.

أَيْ بِغَيْرِ تَصْحِيحِ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ.

نَعَمْ.

أَمَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ رَأَى أُوَيْسَ الْقَرْنِيَّ أَوِ الْقَرَنِيَّ أَنْ يَطْلُبَ مِنْهُ الدُّعَاءَ، لَكِنَّ هَذَا خَاصٌّ بِهِ.

لِأَنَّهُ كَانَ رَجُلًا بَارًّا بِأُمِّهِ، فَأَرَادَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَنْ يَرْفَعَ ذِكْرَهُ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا قَبْلَ جَزَاءِ الْآخِرَةِ.

وَلِهَذَا لَمْ يَأْمُرِ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنْ يَطْلُبَ أَحَدٌ مِنْ أَحَدٍ أَنْ يَدْعُوَ لَهُ، مَعَ أَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْ أُوَيْسٍ.

فَأَبُو بَكْرٍ أَفْضَلُ مِنْ أُوَيْسٍ بِلَا شَكٍّ، وَغَيْرُهُ مِنَ الصَّحَابَةِ أَفْضَلُ مِنْهُ مِنْ حَيْثُ الصُّحْبَةُ.

وَمَا أَمَرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَحَدًا أَنْ يَقُولَ: اجْعَلُوا أَبَا بَكْرٍ، اجْعَلُوا عُمَرَ أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ يَدْعُو لَكُمْ.

فَالصَّوَابُ: لَا يَنْبَغِي أَنْ يُطْلَبَ الدُّعَاءُ مِنْ غَيْرِهِ، وَلَوْ كَانَ رَجُلًا صَالِحًا.

وَذَلِكَ لِأَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ هَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَلَا مِنْ هَدْيِ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ.

أَمَّا إِذَا كَانَ الدُّعَاءُ عَامًّا يَعْنِي تُرِيدُ أَنْ تَطْلُبَ مِنْ هَذَا الرَّجُلِ الصَّالِحِ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ عَامٍّ.

كَأَنْ تَطْلُبَ مِنْهُ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ تَعَالَى بِالْغَيْثِ، أَوْ بِرَفْعِ الْفِتَنِ عَنِ النَّاسِ، أَوْ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ.

فَلَا بَأْسَ، لِأَنَّ هَذَا لِمَصْلَحَةِ غَيْرِكَ. كَمَا لَوْ سَأَلْتَ الْمَالَ لِفَقِيرٍ فَإِنَّكَ لَا تُلَامُ عَلَى هَذَا وَلَا تُذَمُّ.

وَكَذَلِكَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَإِنَّ سُؤَالَ الصَّحَابَةِ لَهُ مِنْ خُصُوصِيَّاتِهِ، يَسْأَلُونَهُ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ لَهُمْ.

كَمَا قَالَ الرَّجُلُ حِينَ حَدَّثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَبْعِينَ أَلْفًا الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ.

فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ قَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: أَنْتَ مِنْهُمْ.

ثُمَّ قَامَ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ.

وَكَمَا قَالَتِ الْمَرْأَةُ الَّتِي كَانَتْ تُصْرَعُ، طَلَبَتْ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ لَهَا.

فَقَالَ: إِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ لَكِ، وَإِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ. فَقَالَتْ: أَصْبِرُ، وَلَكِنِ ادْعُ اللَّهَ أَلَّا تَنْكَشِفَ عَوْرَتِي.

فَالْحَاصِلُ أَنَّ الرَّسُولَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مِنْ خُصُوصِيَّاتِهِ أَنْ يُسْأَلَ الدُّعَاءَ، أَمَّا غَيْرُهُ فَلَا.

نَعَمْ، لَوْ أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَسْأَلَ مِنْ غَيْرِهِ الدُّعَاءَ، وَقَصْدُهُ مَصْلَحَةُ الْغَيْرِ.

يَعْنِي قَصْدُهُ أَنَّ اللَّهَ يُثِيبُ هَذَا الرَّجُلَ عَلَى دَعْوَتِهِ لِأَخِيهِ، أَوْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْتَجِيبُ دَعْوَتَهُ.

لِأَنَّهُ إِذَا دَعَا الْإِنْسَانُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ.

فَالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ. هَذَا مَا نَوَى لِمَصْلَحَةِ نَفْسِهِ خَاصَّةً بَلْ لِمَصْلَحَةِ نَفْسِهِ وَمَصْلَحَةِ أَخِيهِ الَّذِي طَلَبَ مِنْهُ الدُّعَاءَ. فَالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ.

أَمَّا لِلْمَصْلَحَةِ الْخَاصَّةِ فَهَذَا كَمَا قَالَ شَيْخُ الْإِسْلَامِ رَحِمَهُ اللَّهُ يَدْخُلُ فِي الْمَسْأَلَةِ الْمَذْمُومَةِ.

وَقَدْ بَايَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ عَلَى أَلَّا يَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.