3 JENIS SABAR YANG HARUS KITA MILIKI SAMPAI MATI – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili #NasehatUlama

Wasiat ketiga yang saya pesankan kepada diri saya dan saudara-saudara saya adalah sabar. Maka bersabarlah, bersabarlah, wahai hamba-hamba Allah.

Sabar adalah cahaya bagi seorang mukmin di dunia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sabar adalah sinar.” (HR. Muslim)

Sabar juga menjadi sebab kemenangan besar ketika berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Wasiat saya, wahai saudara-saudaraku: hendaklah kita bersabar dalam menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersabar menahan diri dari maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan bersabar menghadapi pahitnya takdir Allah ‘Azza wa Jalla.

Kita bersabar dalam menaati Allah, dan terus memaksa diri untuk bersabar dalam ketaatan kepada-Nya. Kita ingatkan diri kita bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mencintai ketaatan ini dan mencintai orang yang menaati-Nya. Allah menjadikan kehidupan yang baik bagi orang yang menaati-Nya. “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Bila ketaatan terasa berat, kita ingatkan diri bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan ketaatan sebagai sebab masuk surga. Dan Allah telah menyediakan di surga-Nya bagi orang-orang yang taat apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.

Bila kita membaca dan menghafal Al-Qur’an, dan alangkah baiknya itu, lalu terasa berat bagi kita, kita ingatkan diri bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah. Allah mencintai orang yang membaca kalam-Nya dan mencintai orang yang menadaburi kalam-Nya. Allah memberikan kemuliaan kepada orang yang menghafal kalam-Nya. Allah mengangkat derajatnya di dunia, dan Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajatnya di surga. Dengan mengingat itu, terasa ringan bagi kita untuk mengikat diri kita pada membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Bila salat berjemaah terasa berat, kita ingatkan diri bahwa Allah mencintainya, mencintai orang yang mengerjakannya, dan bahwa ia adalah jalan menuju surga. Demikian pula dalam seluruh ketaatan lainnya.

Kita bersabar menahan diri dari maksiat kepada Allah. Bila jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan menyeru kita berbuat maksiat, dan setan dari kalangan jin dan manusia mengajak kita bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kita ingatkan diri bahwa Allah melihat kita dan mendengar ucapan kita. Maka, kita malu kepada Allah bila Dia melihat kita berbuat maksiat. Kita malu kepada Allah bila Dia mendengar kita mengucapkan kata-kata maksiat.

Kita ingatkan diri bahwa Allah telah mengancam para pelaku maksiat dengan neraka Jahanam, yang panasnya melebihi segala panas. Kita ingatkan diri bahwa kelak kita akan berdiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Allah akan berbicara kepada kita dan menanyai kita tentang dosa-dosa kita. Dengan jawaban apa kita akan menjawab Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala?

“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Rabbnya akan berbicara kepadanya, tanpa penerjemah antara dirinya dan Rabbnya. Ia melihat ke sebelah kanannya, dan tidak melihat kecuali amal yang telah ia kerjakan. Ia melihat ke sebelah kirinya, dan tidak melihat kecuali amal yang telah ia kerjakan. Lalu ia melihat ke depan, dan tidak melihat kecuali neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada hari Kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menghisab hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang Allah dekatkan dan Dia naungi dengan tutupan-Nya, lalu Allah berfirman kepadanya, “Ingatkah engkau dosa ini? Ingatkah engkau dosa itu? Ingatkah engkau dosa yang ini?” Bayangkanlah, wahai hamba Allah, pada hari kiamat Allah Yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa Memaksa (Al-Jabbar), menanyaimu tentang dosa-dosa yang engkau berlezat-lezat di dunia. Betapa dahsyatnya kedudukan itu! Maka, ingatkanlah dirimu akan itu. Sebab itulah yang akan menghardikmu agar berhenti dari bermaksiat kepada Allah, dan menolongmu bersabar menahan diri dari maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita bersabar menghadapi pahitnya takdir. Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan segala takdir, yang manis maupun yang pahit. Bila musibah menimpa, kita bersabar menghadapi pahitnya takdir sejak awal musibah itu datang. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang menangis di sisi kubur anaknya, atau salah seorang kerabatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata, “Menjauhlah dariku! Engkau tidak tertimpa musibah seperti musibahku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meninggalkannya dan berlalu. Ketika diberi tahu bahwa beliau adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun terkejut bukan kepalang. Ia pun bergegas menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga menemui beliau di rumahnya. Wanita itu meminta maaf seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tadi saya tidak mengenali Anda! Wahai Rasulullah, tadi saya tidak mengenali Anda!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya kesabaran itu pada guncangan pertama.” (Muttafaq ‘alaih)

Kita bersabar atas takdir Allah, bersabar menghadapi pahitnya takdir, karena kita tahu bahwa Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Kita adalah hamba-hamba Allah, dan Allah adalah Rabb kita. Maka Allah berbuat terhadap kita sesuai kehendak-Nya, Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita menyatakan bahwa Allah tidak melakukan sesuatu kecuali dengan hikmah.

Kita bersabar menghadapi pahitnya takdir, karena Zat yang menguji kita dengan musibah ini adalah Zat yang telah menganugerahi kita segala nikmat. Kita bersabar menghadapi pahitnya takdir, karena kita mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka kita bersabar dalam menaati Allah, bersabar menahan diri dari maksiat kepada Allah, dan bersabar menghadapi pahitnya takdir, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala rida kepada kita.

=====

وَالْوَصِيَّةُ الثَّالِثَةُ الَّتِي أُوصِي نَفْسِي وَإِخْوَانِي بِهَا الصَّبْرُ. فَالصَّبْرَ الصَّبْرَ عِبَادَ اللَّهِ.

فَالصَّبْرُ نُورٌ لِلْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ.

وَالصَّبْرُ سَبَبٌ لِلْفَوْزِ الْعَظِيمِ عِنْدَ لِقَاءِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ.

فَوَصِيَّتِي أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَأَنْ نَصْبِرَ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَنْ نَصْبِرَ عَلَى مُرِّ أَقْدَارِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

نَصْبِرُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ وَنَتَصَبَّرُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ. وَنُذَكِّرُ أَنْفُسَنَا بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ هَذِهِ الطَّاعَةَ، وَيُحِبُّ مَنْ أَطَاعَهُ. وَجَعَلَ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ لِمَنْ أَطَاعَهُ. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً.

إِذَا صَعُبَتْ عَلَيْنَا الطَّاعَةُ ذَكَّرْنَا أَنْفُسَنَا بِأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ جَعَلَ الطَّاعَةَ سَبَبًا لِدُخُولِ الْجَنَّةِ. وَأَنَّ اللَّهَ أَعَدَّ فِي جَنَّتِهِ لِلطَّائِعِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ.

إِذَا كُنَّا نَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَنَحْفَظُ الْقُرْآنَ وَنِعِمَّا هِي وَصَعُبَ عَلَيْنَا ذَلِكَ ذَكَّرْنَا أَنْفُسَنَا بِأَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامُ اللَّهِ. وَأَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ مَنْ يَقْرَأُ كَلَامَهُ، وَيُحِبُّ مَنْ يَتَدَبَّرُ كَلَامَهُ. وَجَعَلَ الْعِزَّةَ لِمَنْ حَفِظَ كَلَامَهُ. رَفَعَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا، وَيَرْفَعُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الْجَنَّةِ. فَيَهُونُ عَلَيْنَا أَنْ نَحْبِسَ أَنْفُسَنَا عَلَى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَعَلَى حِفْظِ الْقُرْآنِ.

إِذَا صَعُبَتْ عَلَيْنَا الصَّلَاةُ مَعَ الْجَمَاعَةِ ذَكَّرْنَا أَنْفُسَنَا بِأَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهَا، وَيُحِبُّ مَنْ يَفْعَلُهَا، وَأَنَّهَا طَرِيقُ الْجَنَّةِ. وَهَكَذَا فِي سَائِرِ الطَّاعَاتِ.

وَنَصْبِرُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ. وَإِذَا دَعَتْنَا النَّفْسُ الْأَمَّارَةُ بِالسُّوءِ إِلَى الْمَعْصِيَةِ وَدَعَتْنَا شَيَاطِينُ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِلَى الْمَعْصِيَةِ، إِلَى أَنْ نَعْصِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، ذَكَّرْنَا أَنْفُسَنَا بِأَنَّ اللَّهَ يَرَانَا، وَأَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ كَلَامَنَا. فَنَسْتَحِي مِنَ اللَّهِ أَنْ يَرَانَا وَنَحْنُ نَعْمَلُ الْمَعْصِيَةَ. نَسْتَحِي مِنَ اللَّهِ أَنْ يَسْمَعَنَا وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِالْمَعْصِيَةِ.

نُذَكِّرُ أَنْفُسَنَا بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ تَوَعَّدَ الْعُصَاةَ بِنَارِ جَهَنَّمَ الَّتِي هِيَ أَشَدُّ حَرًّا مِنْ كُلِّ حَرٍّ. نُذَكِّرُ أَنْفُسَنَا بِأَنَّا سَنَقِفُ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَأَنَّ اللَّهَ سَيُكَلِّمُنَا، وَأَنَّ اللَّهَ سَيَسْأَلُنَا عَنْ ذُنُوبِنَا. فَبِأَيِّ أَمْرٍ نُجِيبُ رَبَّنَا سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى؟

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ. فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ. وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلَا يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ. وَيَنْظُرُ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ.

اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُحَاسِبُ عِبَادَهُ. فَمِنْهُمْ مَنْ يُدْنِي عَلَيْهِ كَنَفَهُ. وَيَقُولُ لَهُ: أَتَذْكُرُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَذْكُرُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَذْكُرُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَتَصَوَّرْ يَا عَبْدَ اللَّهِ، أَنَّ اللَّهَ الْقَوِيَّ الْعَزِيزَ الْجَبَّارَ فِي يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَسْأَلُكَ عَنْ هَذِهِ الذُّنُوبِ الَّتِي تَلْتَذُّ بِهَا فِي الدُّنْيَا فَمَا هَذَا الْمَقَامُ. فَذَكِّرْ نَفْسَكَ بِذَلِكَ. فَإِنَّ ذَلِكَ يَزْجُرُكَ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَيُعِينُكَ عَلَى الصَّبْرِ عَنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

نَصْبِرُ عَلَى مُرِّ الْأَقْدَارِ. فَاللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَّرَ الْأَقْدَارَ حُلْوَهَا وَمُرَّهَا. فَإِذَا أَصَابَتْنَا الْمَصَائِبُ، صَبَرْنَا عَلَى مُرِّ الْقَدَرِ عِنْدَ أَوَّلِ الْمُصِيبَةِ. مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِي عَلَى قَبْرٍ لِابْنِهَا أَوْ قَرِيبٍ لَهَا. فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي. فَقَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي. فَتَرَكَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَضَى. فَلَمَّا أُخْبِرَتْ بِأَنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَالَهَا ذَلِكَ. وَأَصْبَحَتْ تَسْعَى وَرَاءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَدْرَكَتْهُ فِي بَيْتِهِ. وَأَخَذَتْ تَقُولُ مُعْتَذِرَةً: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَرَفْتُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَرَفْتُكَ. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى.

نَصْبِرُ عَلَى أَقْدَارِ اللَّهِ، نَصْبِرُ عَلَى مُرِّ الْقَدَرِ، لِأَنَّا نَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ. وَأَنَّا عِبَادٌ لِلَّهِ، وَأَنَّ اللَّهَ رَبُّنَا، فَيَفْعَلُ بِنَا مَا شَاءَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. وَنَحْنُ نَجْزِمُ أَنَّهُ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا إِلَّا لِحِكْمَةٍ.

نَصْبِرُ عَلَى مُرِّ الْقَدَرِ، لِأَنَّ الَّذِي ابْتَلَانَا بِهَذِهِ الْمُصِيبَةِ هُوَ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِكُلِّ النِّعَمِ. نَصْبِرُ عَلَى مُرِّ الْقَدَرِ لِأَنَّا نَرْجُو الثَّوَابَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

فَنَصْبِرُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ وَنَصْبِرُ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَنَصْبِرُ عَلَى مُرِّ الْأَقْدَارِ لِنُرْضِيَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.