INILAH MAKNA HADIS “MUKMIN YANG KUAT LEBIH BAIK DAN DICINTAI ALLAH” – Syaikh Sa’ad Al-Khatslan

Sabda Nabi, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Apa yang dimaksud “kuat” dalam hadis ini? Apakah yang dimaksud kekuatan fisik? Jawabannya: bukan. Yang dimaksud bukan kekuatan fisik. Bisa saja seorang mukmin kuat fisiknya, tetapi ia pelaku maksiat dan kejam terhadap manusia. Apakah lantas ia lebih baik daripada seorang mukmin yang kurus dan lemah? Dengan demikian, bukan itu maknanya.

Sebagian Sahabat Nabi bertubuh kurus, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ibnu Mas’ud. Maka yang dimaksud bukanlah kuat dan lemahnya fisik, melainkan maksudnya, sebagaimana kata Imam An-Nawawi rahimahullah, “Yang dimaksud dengan kekuatan di sini adalah tekad jiwa yang kuat dan hasrat yang kuat terhadap urusan-urusan akhirat.” Tekad jiwa yang kuat dan hasrat yang kuat terhadap urusan akhirat.

Yakni kuat dalam iman, ilmu, dan takwa. Sehingga orang yang memiliki sifat ini lebih berani menghadapi musuh dalam jihad, lebih kuat tekadnya dalam amar makruf nahi mungkar, lebih sabar menghadapi gangguan dan memikul berbagai kesulitan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, lebih bersemangat dalam salat, puasa, zikir, dan seluruh ibadah lainnya, serta lebih giat mengejar dan menjaganya, dan seterusnya.

Inilah yang dimaksud dengan mukmin yang kuat, yaitu yang kuat tekadnya, ia memiliki tekad jiwa yang kuat, dan bersegera melakukan amal-amal saleh. Dan tekad yang kuat di atas petunjuk ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memintanya kepada Allah Ta’ala. Bahkan terdapat dalam hadis Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila manusia menimbun emas dan perak, timbunlah kalimat-kalimat ini: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan, dan tekad yang kuat di atas petunjuk. Aku juga memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu hati yang selamat, dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

Di sini Nabi berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam segala urusan dan tekad yang kuat di atas petunjuk.” Nabi ‘alaihish shalatu was salam senantiasa memanjatkan doa ini dan mewasiatkan agar berdoa memohon tekad yang kuat di atas petunjuk. Semakin kuat tekad, maka semakin dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah makna sabda beliau, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah,” yaitu mukmin yang paling kuat tekadnya. Karena bila tekad itu kuat, maka pemilik tekad yang kuat itu akan lebih banyak salatnya, puasanya, sedekahnya, pengorbanannya, infaknya, dan penyebaran ilmunya. Ia memiliki banyak amalan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

============

قَوْلُهُ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ. مَا الْمُرَادُ بِالْقُوَّةِ فِي الْحَدِيثِ؟ هَلْ مَقْصُودٌ بِهَا الْقُوَّةُ الْبَدَنِيَّةُ؟ الْجَوَابُ: لَا، لَيْسَ الْمَقْصُودَ بِهَا الْقُوَّةُ الْبَدَنِيَّةُ. قَدْ يَكُونُ مُؤْمِنًا قَوِيَّ الْبَدَنِ لَكِنَّهُ فَاجِرٌ وَيَبْطِشُ بِالنَّاسِ، فَهَلْ هُوَ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ النَّحِيلِ الضَّعِيفِ؟ إِذَنْ هَذَا لَيْسَ هُوَ الْمَعْنَى.

وَبَعْضُ الصَّحَابَةِ كَانَ عِنْدَهُمْ نَحَالَةٌ فِي أَجْسَادِهِمْ، مِثْلَ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَمِثْلَ ابْنِ مَسْعُودٍ. فَإِذَنْ لَيْسَ الْمَقْصُودُ بِذَلِكَ قُوَّةَ الْبَدَنِ وَضَعْفَ الْبَدَنِ، وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ كَمَا قَالَ النَّوَوِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: الْمُرَادُ بِالْقُوَّةِ هُنَا عَزِيمَةُ النَّفْسِ وَالْقَرِيحَةُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ. عَزِيمَةُ النَّفْسِ وَالْقَرِيحَةُ فِي أُمُورِ الْآخِرَةِ.

أَي الْقُوَّةُ فِي الْإِيمَانِ وَفِي الْعِلْمِ وَفِي التَّقْوَى، فَيَكُونُ صَاحِبُ هَذَا الْوَصْفِ أَكْثَرَ إِقْدَامًا عَلَى الْعَدُوِّ فِي الْجِهَادِ، وَأَشَدَّ عَزِيمَةً فِي الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَالصَّبْرِ عَلَى الْأَذَى وَاحْتِمَالِ الْمَشَاقِّ فِي ذَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَرْغَبَ فِي الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْأَذْكَارِ وَسَائِرِ الْعِبَادَاتِ، وَأَنْشَطَ طَلَبًا لَهَا وَمُحَافَظَةً عَلَيْهَا وَنَحْوَ ذَلِكَ.

هَذَا هُوَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، يَعْنِي قَوِيَّ الْعَزِيمَةِ، عِنْدَهُ عَزِيمَةُ النَّفْسِ، وَعِنْدَهُ مُبَادَرَةٌ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَالْعَزِيمَةُ عَلَى الرُّشْدِ. كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو اللَّهَ تَعَالَى بِهَا، بَلْ إِنَّهُ جَاءَ فِي حَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ فَاكْنِزْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ.

هُنَا قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. فَكَانَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَدْعُو بِهَا، وَيُوصِي بِالدُّعَاءِ بِالْعَزِيمَةِ عَلَى الرُّشْدِ. فَالْعَزِيمَةُ كُلَّمَا قَوِيَتْ كَانَ هَذَا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. وَهَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، يَعْنِي الْمُؤْمِنَ الْأَقْوَى عَزِيمَةً. لِأَنَّ الْعَزِيمَةَ إِذَا قَوِيَتْ فَإِنَّ صَاحِبَ هَذِهِ الْعَزِيمَةِ الْقَوِيَّةِ سَيَكُونُ أَكْثَرَ صَلَاةً وَصِيَامًا وَصَدَقَةً وَبَذْلًا وَإِنْفَاقًا، وَنَشْرًا لِلْعِلْمِ، وَعِنْدَهُ أَعْمَالٌ كَثِيرَةٌ يُفِيدُ بِهَا نَفْسَهُ وَيُفِيدُ بِهَا النَّاسَ.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.