Masuk Surga Karena Dosa

Salah satu ulama Salaf mengatakan,

 إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار

“Sungguh ada orang yang melakukan dosa namun malah masuk surga. Sebaliknya ada yang melakukan amal kebaikan malah masuk neraka.” (Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shoyyib hal 13)

“Ketika buah dari amal kebaikan adalah bangga dan sombong maka nerakalah dampaknya.” 

“Sebaliknya jika buah dari maksiat adalah serius bertaubat yang ditandai dengan totalitas beramal sholih maka surgalah kesudahannya karena Allah mencintai orang yang sungguh-sungguh bertaubat.”

Pesan di atas bukanlah motivasi untuk berbuat maksiat karena tidak ada yang menjamin tidak akan mati ketika melakukan maksiat sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat.

Jika Anda tiba-tiba mati sedang melakukan maksiat, gimana?

***

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, 

إِنَّ الرَّجُلَ يُذْنِبُ الذَّنْبَ فَلَا يَنْسَاهُ وَمَا يَزَالُ مُتَخَوِّفًا مِنْهُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ 

“Sungguh ada seorang yang melakukan dosa lantas dia senantiasa ingat dosa tersebut dan khawatir dampak buruknya. Akhirnya dia pun masuk surga karenanya.” (az-Zuhd karya Imam Ahmad nomor 338)

Terkadang berbuat dosa itu bisa menjadi ‘sebab’ masuk surga

Hal ini bisa terjadi manakala dosa tersebut  membuahkan inabah.

Inabah adalah kondisi ibadah dan amal sholih setelah berbuat dosa dan bertaubat jauh meningkat drastis dibandingkan kondisi sebelum berbuat dosa. 

Ada perubahan signifikan ke arah yang semakin lebih baik setelah bertaubat, inilah yang disebut inabah.

Kiat penting mencapai inabah adalah senantiasa terngiang-ngiang dosa yang telah dilakukan dan khawatir dampak buruk dosa tersebut. 

Hal ini dijadikan motivasi untuk selalu semangat beribadah dan beramal shalih. 

Rasa takut terhadap dosa itu terpuji jika mendorong semangat beribadah

Namun rasa takut terhadap dosa itu tercela jika menyebabkan putus asa dari ampunan dan kasih sayang Allah.

Semoga Allah wafatkan penulis dan semua pembaca tulisan ini dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari semua dosa. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.