Manusia Mulia

Ayub as-Sikhtiyani mengatakan, 

لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْعِفَّةُ عَمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّجَاوُزُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ 

“Seorang itu tidak akan menjadi mulia kecuali setelah memiliki dua hal, tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan memaafkan gangguan dari orang lai.” (Min Akhbar As-Salaf ash-Shalih hlm 331)

Ada dua ciri manusia mulia karena akhlaknya.

  1. Qana’ah, merasa cukup dengan rezki dan karunia Allah untuk dirinya sehingga tidak berharap belas kasihan orang lain.
  2. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Memaafkan itu ada dua level. Level kedua lebih mulia dibandingkan level pertama.

Memaafkan dengan menerima apapun alasan orang tersebut dan tidak bertanya lebih lanjut mengenai alasan tersebut. 

Memaafkan tanpa meminta kepada orang tersebut alasan yang menyebabkannya melakukan hal yang menyakiti dirinya.

Memaafkan memang akhlak mulia. Akan tetapi tidak kalah mulia adalah akhlak mudah meminta maaf. 

Untuk bisa meminta maaf seorang itu harus menyingkirkan ego dan gengsinya. 

Tidak semua orang mudah untuk menyingkirkan ego dan gengsi pribadinya. 

Oleh karena itu, hargailah perjuangan orang yang datang meminta maaf dengan memaafkannya. 

Semoga Allah mudahkan penulis dan semua pembaca tulisan ini untuk menjadi insan mulia dengan akhlak mulia. Aamiin. 

Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.