Himmah (semangat dan tekad yang tinggi) dapat diupayakan.
Ini termasuk karunia dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar jangan ada orang yang berkata, “Saya tidak punya himmah!” lalu ia mengarang-ngarang alasan untuk dirinya.
Namun, himmah itu dapat diupayakan. Dan himmah dapat diupayakan dengan beberapa cara.
Di antaranya: memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berdoa kepada-Nya, meminta taufik dari-Nya, dan meminta pertolongan-Nya dalam segala urusan.
Bahkan orang yang secara tabiat telah memiliki himmah sekalipun, ia tetap sangat fakir dan sangat memerlukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ia sangat memerlukan sesuatu yang mengasah dan menyalakan himmah itu, agar berjalan di jalur yang benar.
Seorang muslim tahu bahwa seluruh urusan ada di tangan Allah, dan bahwa ubun-ubun para makhluk (yakni kendali atas mereka) ada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.
Dan bahwa orang yang beruntung adalah yang diberi taufik oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Ia tetap menempuh sebab-sebab, tetapi hatinya tidak bersandar pada sebab-sebab itu, ia hanyalah bersandar pada taufik dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ia tahu, jika Allah ‘Azza wa Jalla tidak memberinya taufik, boleh jadi usahanya sendiri yang menjadi sebab ia tersandung, dan justru mencelakakannya.
Bila tak ada pertolongan Allah bagi seseorang, yang pertama mencelakakannya adalah usahanya sendiri.
Maka ia memohon taufik kepada Rabbnya, memohon pertolongan-Nya, memohon petunjuk-Nya, dan memohon kelurusan. Ia menampakkan kefakiran dan hajatnya di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, mengamalkan firman Rabbnya,
“Wahai manusia, kalianlah yang sangat memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Kita fakir, dan Rabb kita Maha Kaya, dan Allah juga Hamid, yakni Maha Terpuji, Subhanahu wa bihamdihi, atas sifat-sifat dan nama-nama-Nya, Maha Terpuji atas perbuatan-perbuatan-Nya, dan Maha Terpuji atas nikmat-nikmat-Nya, Subhanahu wa bihamdihi.
Allah juga Maha Penyayang, wahai saudara-saudara. Allah Ta’ala berfirman, “Tuhanmu Maha Kaya lagi penuh rahmat (kasih sayang).” (QS. Al-An’am: 133) Bersama kekayaan-Nya ada rahmat, dan bersama semua itu ada karunia, kemurahan, dan kebaikan.
Seorang hamba hanya perlu mengangkat kedua telapak tangannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, memohon taufik dan pertolongan-Nya, dan memohon agar tercapai apa yang ia cita-citakan dan ia pedulikan.
Karena itu Nabi Syu’aib ‘alaihish shalatu was salam berkata saat mendakwahi kaumnya,
“Aku tidak bermaksud menyalahi kalian (dengan melakukan) apa yang aku larang. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup.” (QS. Hud: 88) Ini kehendak seorang nabi, wahai saudara-saudara, tidak ada kehendak yang lebih tinggi darinya, tetapi beliau tidak bersandar pada niat itu, melainkan bersandar pada taufik Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Lalu Nabi Syu’aib berkata, “Tidak ada taufik bagiku kecuali dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Hud: 88)
Nabi Syu’aib menyandarkan urusan kepada Zat yang di tangan-Nya segala urusan, Subhanahu wa bihamdihi. Dan Nabi Syu’aib menyebut sebab-sebab taufik, tidak diragukan, taufik itu ada sebab-sebabnya: di antaranya niat yang tulus, tawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kembali kepada-Nya, Subhanahu wa bihamdihi.
Maka seseorang melepaskan diri, berlepas dari daya dan upayanya sendiri, dan hatinya menghadap kepada Rabbnya, Subhanahu wa bihamdihi, memohon taufik kepada-Nya.
=====
وَقَدْ تَكُونُ الْهِمَّةُ مُكْتَسَبَةً
وَهَذَا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنِعْمَتِهِ، حَتَّى لَا يَقُولَ بَعْضُ النَّاسِ: لَيْسَتْ لَدَيَّ هِمَّةٌ! فَيَخْتَلِقَ الْأَعْذَارَ لِنَفْسِهِ
لَكِنَّ الْهِمَّةَ تُكْتَسَبُ، وَتُكْتَسَبُ بِأُمُورٍ
مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ: سُؤَالُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَدُعَاؤُهُ، وَطَلَبُ التَّوْفِيقِ مِنْهُ، وَطَلَبُهُ الْإِعَانَةَ فِي كُلِّ شَيْءٍ
حَتَّى مَنْ كَانَتْ هِمَّتُهُ غَرِيزَةً هُوَ أَفْقَرُ وَأَحْوَجُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحْوَجُ إِلَى مَا يَصْقُلُ هَذِهِ الْهِمَّةَ وَيُذْكِيهَا حَتَّى تَسِيرَ فِي الْمَسَارِ الصَّحِيحِ
يَعْلَمُ الْمُسْلِمُ أَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِ اللَّهِ وَأَنَّ نَوَاصِيَ الْمَخْلُوقِينَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَأَنَّ الْمُوَفَّقَ هُوَ مَنْ وَفَّقَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَعَ أَنَّهُ يَفْعَلُ الْأَسْبَابَ، لَكِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى هَذِهِ الْأَسْبَابِ وَإِنَّمَا يَلْتَفِتُ إِلَى تَوْفِيقِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَإِعَانَتِهِ
وَيَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ لَمْ يُوَفِّقْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ تَكُونُ أَسْبَابُهُ سَبَبًا لِتَعَثُّرِهِ وَتَكُونُ جَانِيَةً عَلَيْهِ
إِذَا لَمْ يَكُنْ عَوْنٌ مِنَ اللَّهِ لِلْفَتَى … فَأَوَّلُ مَا يَجْنِي عَلَيْهِ اجْتِهَادُهُ
لَكِنَّهُ يَسْأَلُ رَبَّهُ التَّوْفِيقَ، وَيَسْأَلُهُ الْإِعَانَةَ، وَيَسْأَلُهُ الْهُدَى، وَيَسْأَلُهُ السَّدَادَ وَيُظْهِرُ فَقْرَهُ وَحَاجَتَهُ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُتَمَثِّلًا قَوْلَ رَبِّهِ:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ
فَنَحْنُ فُقَرَاءُ، وَرَبُّنَا غَنِيٌّ، وَهُوَ حَمِيدٌ أَيْضًا أَيْ مَحْمُودٌ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ عَلَى صِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ وَمَحْمُودٌ عَلَى أَفْعَالِهِ، وَمَحْمُودٌ عَلَى نِعَمِهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
وَهُوَ رَحِيمٌ أَيْضًا يَا إِخْوَانُ قَالَ تَعَالَى: وَرَبُّكَ ٱلْغَنِىُّ ذُو ٱلرَّحْمَةِ فَمَعَ الْغِنَى رَحْمَةٌ، وَمَعَ ذَلِكَ كُلِّهِ فَضْلٌ وَجُودٌ وَإِحْسَانٌ
وَمَا عَلَى الْعَبْدِ إِلَّا أَنْ يَرْفَعَ أَكُفَّهُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَيَطْلُبَ مِنْهُ التَّوْفِيقَ وَالْإِعَانَةَ، وَأَنْ يَصِلَ إِلَى مَا يُهِمُّهُ وَمَا يَهْتَمُّ لَهُ
وَلِهَذَا قَالَ شُعَيْبٌ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهُوَ يَدْعُو قَوْمَهُ
وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَآ أَنْهَىٰكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا ٱلْإِصْلَـٰحَ مَا ٱسْتَطَعْتُ وَهَذِهِ إِرَادَةُ نَبِيٍّ يَا إِخْوَانُ لَيْسَ فَوْقَهَا إِرَادَةٌ لَكِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى هَذِهِ النِّيَّةِ، وَإِنَّمَا يَلْتَفِتُ إِلَى تَوْفِيقِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ يَقُولُ: وَمَا تَوْفِيقِىٓ إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
فَأَسْنَدَ الْأَمْرَ إِلَى مَنْ بِيَدِهِ الْأَمْرُ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَذَكَرَ أَسْبَابَ التَّوْفِيقِ لَا رَيْبَ أَنَّ لِلتَّوْفِيقِ أَسْبَابًا وَمِنْهَا النِّيَّةُ الصَّادِقَةُ، وَمِنْهَا التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَمِنْهَا الْإِنَابَةُ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ
فَيَتَخَلَّصُ الْإِنْسَانُ، وَيَتَبَرَّأُ مِنْ حَوْلِهِ وَطَوْلِهِ وَيَلْتَفِتُ قَلْبُهُ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَبِحَمْدِهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ التَّوْفِيقَ