Apa itu tawakal kepada Allah? Hakikat tawakal kepada Allah tersusun dari dua perkara: Pertama, hati bersandar dan menyerahkan urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seseorang bersandar dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, mengerahkan sebab-sebab yang memungkinkan untuk ditempuh. Ketika seseorang menggabungkan kedua perkara ini: bersandar kepada Allah, percaya kepada Allah, dan menyerahkan urusan kepada Allah, sekaligus menempuh sebab-sebab yang disyariatkan dan dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka saat itulah ia telah bertawakal dengan tawakal yang syar’i.
Karena itu, sebagian ulama mendefinisikan tawakal dengan mengatakan, “Tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah sebab-sebab itu dipersiapkan.” Kapan perhatian kepada sebab-sebab itu dipalingkan? Setelah sebab-sebab tersebut ditempuh. Atau sebagaimana dinukil Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij As-Salikin. Beliau menukil perkataan indah dari sebagian ulama:
“Tawakal adalah gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” “Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak.” Apa maksudnya? Gerak berarti anggota badan terus bergerak dan berusaha. Sedangkan diam adalah ketenangan dan kepercayaan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tanpa gejolak hati, keraguan, ataupun keputusasaan. Jadi, apa itu tawakal? Gerak tanpa diam, dan diam tanpa gerak. Dengan inilah seseorang benar-benar bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Renungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan adanya keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, sekaligus menempuh sebab. Sebab, burung itu tidak hanya duduk diam. Apa yang dilakukan burung itu? Ia pergi pada pagi hari mencari rezeki. Kemudian ia kembali setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan rezeki kepadanya. Demikianlah tawakal yang syar’i.
Manusia terjerumus dalam beberapa kesalahan dalam memahami tawakal. Di antara kesalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah:
Kesalahan pertama, seseorang bertawakal kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla dalam perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terjadi pada orang yang tidak mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan berbuat syirik kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Hal ini banyak terjadi pada para penyembah kubur. Hati mereka bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menghilangkan kesusahan, melapangkan kegundahan, mengampuni dosa, dan menyingkirkan berbagai rintangan. Bahkan, hampir seluruh urusannya ia serahkan kepada orang yang ia jadikan sesembahan, baik masih hidup maupun telah meninggal. Ini adalah perkara yang sangat besar.
Karena itu, sebagian orang sering melantunkan bait-bait syair yang menunjukkan penyerahan diri yang mengandung kesyirikan ini. Mereka bersyair, “Jika pada hari kembaliku kelak engkau tidak menggandeng tanganku sebagai karunia, maka sungguh celakalah aku karena tergelincir.” Ucapan ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut keyakinannya, kepercayaan dan penyerahan urusannya tertuju kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak demikian, menurutnya kebinasaan akan terjadi di akhirat.
Ia bertawakal kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan keselamatan di akhirat! Tidak diragukan lagi, ini adalah tawakal yang mengandung kesyirikan. Semoga Allah melindungi saya dan kalian darinya. Maka waspadalah terhadap perkara ini, semoga Allah menjagamu.
Kesalahan kedua, sebagian orang terjerumus dalam syirik kecil, yaitu ketika hatinya berpaling kepada makhluk dan menggantungkan sebagian sandarannya kepada makhluk dalam suatu urusan dunia.
Maksudnya, terkadang seseorang sedang memerlukan sesuatu. Jika engkau memerlukan bantuan seseorang dan terpaksa meminta kepadanya, dalam perkara yang memang berada dalam kemampuannya, ia mampu membantumu, menjadi perantara bagimu, atau menyampaikan permohonan untukmu, maka perhatikanlah bahwa kebolehan meminta bantuan di sini disyaratkan agar hatimu tetap bersandar hanya kepada Allah.Yang meminta hanyalah anggota badanmu, sedangkan hatimu tetap percaya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bukan kepada makhluk.
Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa tawakal adalah memalingkan perhatian dari sebab-sebab setelah menempuh sebab-sebab tersebut. Maka siapa yang hatinya berpaling kepada makhluk dalam memperoleh manfaat atau menolak bahaya, ia telah terjerumus ke dalam jenis syirik kecil. Ini ibarat lautan yang tidak bertepi. Betapa banyak orang yang keliru di dalamnya! Kita memohon kepada Allah agar memberi kita keselamatan dan mengampuni kita.
Kesalahan ketiga, sebagian orang dalam perkara tawakal justru lalai menempuh sebab-sebab. Ia mengira bahwa tawakal yang benar adalah meninggalkan sebab. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk seraya berkata, “Jika Allah menghendaki memberiku ini dan menjadikan untukku begini dan begitu, tentu hal itu akan terjadi.”
Ia berkata demikian tanpa bergerak dan tanpa mengerahkan kemampuan. Hakikatnya, ini adalah tawakul, bukan tawakal.
Sebagaimana telah kita ketahui, tawakal harus menghimpun dua perkara: kepercayaan dan penyerahan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, disertai dengan menempuh sebab. “Niscaya Allah memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”
Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, penghulu orang-orang yang bertawakal, tidak meninggalkan sebab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakan dua lapis baju besi pada Perang Uhud. Dalam peperangan, beliau juga mengenakan mighfar, yaitu pelindung kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menempuh sebab untuk menghalangi kaum musyrikin mencapai Madinah, yaitu dengan menggali parit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyimpan persediaan makanan untuk keluarganya selama setahun.
Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun beliau adalah orang yang paling sempurna tawakalnya, tapi beliau tidak meninggalkan sebab. Maka menempuh sebab sama sekali tidak mencederai tawakal. Menempuh sebab tidak mencederai tawakal. Justru meninggalkan sebablah yang mencederai tawakal. Sebagian orang melakukan kesalahan besar dalam perkara ini.
Anehnya, orang yang mengaku meninggalkan sebab karena bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebenarnya telah keliru sekaligus berdusta.
Ia pendusta! Mustahil seseorang sama sekali tidak melakukan sebab apa pun.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan kisah seseorang yang mengaku bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga ia sama sekali tidak mau menempuh sebab apa pun. Ia bepergian melintasi padang tandus dari satu tempat ke tempat lain tanpa membawa bekal. Namun ia berkata, “Aku tetap harus membawa tiga benda: wadah untuk berwudu, jarum, dan benang.” Ia berkata, “Barangkali pakaianku robek, maka aku perlu menjahitnya agar auratku tidak tersingkap sehingga salatku batal. Aku juga harus membawa wadah untuk menaruh air ketika hendak berwudu.” Jadi, apa yang ternyata tidak mampu dilakukan orang ini? Meninggalkan sebab! Bahkan, perpindahannya dari satu tempat ke tempat lain untuk tujuan apa pun, pada hakikatnya sudah merupakan bentuk menempuh sebab. Jadi, tidak seorang pun mampu meninggalkan seluruh sebab secara mutlak. Tidak seorang pun dapat mengklaim hal seperti itu.
Kesalahan keempat, dan ini sangat penting: sebagian orang ketika mendengar pembahasan tawakal, pikirannya hanya tertuju kepada urusan dunia. Ia mengira bahwa tawakal hanya terbatas pada perkara rezeki dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Seolah-olah hanya itulah tawakal!
Padahal ini merupakan kekeliruan dan kekurangan. Ada tawakal yang jauh lebih agung daripada itu, yaitu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menaati-Nya Jalla wa ‘Ala, dalam menuntut ilmu, dan dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jauh lebih agung! Demi Allah, engkau tidak akan mampu melakukan satu pun dari perkara-perkara itu kecuali dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.
Karena itu, tingkatan tekad manusia dalam perkara ini berbeda-beda. Jauh sekali perbedaan antara orang yang tawakalnya hanya untuk memperoleh sepotong roti, dengan orang yang seluruh tawakalnya ia arahkan untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menunaikan ibadah kepada-Nya.
Jadi, jika bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam urusan rezeki, pekerjaan, dan semisalnya merupakan perkara yang dianjurkan, dan memang termasuk perkara baik yang dianjurkan,
maka bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya, menyerahkan urusan kepada-Nya, serta bersandar kepada-Nya Jalla wa ‘Ala dalam menaati-Nya, jauh lebih utama dan lebih penting.
Karena itu, apa yang diucapkan seorang muslim ketika mendengar hai’alatain dalam azan (“Hayya ‘alash-sholah” dan “Hayya ‘alal-falah”)? Apa yang dia ucapkan? Ia mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” — tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau baru saja dipanggil menuju salat: “Marilah menuju salat, marilah menuju keberuntungan.” Jawabanmu adalah dengan menyerahkan urusan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan menyatakan bahwa engkau bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Pada dirimu sendiri tidak ada daya apa pun, engkau tidak mampu bergerak ataupun melakukan sesuatu hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan dan menguatkanmu dengan pertolongan serta taufik-Nya Jalla wa ‘Ala.
Maka perhatikanlah, semoga Allah menjagamu. Dalam setiap urusan dunia, dan yang lebih penting lagi dalam setiap urusan agama, bertawakallah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan mengandalkan dirimu sendiri. Jangan mengandalkan imanmu, kesungguhanmu, kecerdasanmu, ataupun merasa yakin karena dahulu engkau telah melakukan berbagai amal. Boleh jadi engkau tidak diberi pertolongan justru karena terlalu mengandalkan diri sendiri. Yang semestinya menjadi sikapmu dalam setiap keadaan adalah bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
=====
التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ مَا هُوَ؟ التَّوَكُّلُ عَلَى اللهِ حَقِيقَةٌ مُرَكَّبَةٌ مِنْ أَمْرَيْنِ اعْتِمَادٌ وَتَفْوِيضٌ قَلْبِيٌّ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَعْتَمِدُ الْإِنْسَانُ وَيُفَوِّضُ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَالْأَمْرُ الثَّانِي: بَذْلُ الْأَسْبَابِ الْمُمْكِنَةِ فَمَتَى مَا جَمَعَ الْإِنْسَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْأَمْرَيْنِ: اعْتَمَدَ عَلَى اللهِ وَوَثِقَ بِاللهِ، فَوَّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ مَعَ كَوْنِهِ قَدْ قَامَ بِالْأَسْبَابِ الَّتِي شَرَعَهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَحَلَّهَا، فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَكُونُ قَدْ تَوَكَّلَ التَّوَكُّلَ الشَّرْعِيَّ
وَلِذَا عَرَّفَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ التَّوَكُّلَ بِقَوْلِهِ: هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ بَعْدَ تَهْيِئَةِ الْأَسْبَابِ قَطْعُ النَّظَرِ إِلَى الْأَسْبَابِ مَتَى؟ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ أَوْ كَمَا نَقَلَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ فِي “مَدَارِجِ السَّالِكِينَ”، نَقَلَ كَلِمَةً جَمِيلَةً عَنْ بَعْضِهِمْ، أَلَا وَهِيَ
أَنَّ التَّوَكُّلَ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ، مَا مَعْنَى هَذَا الْكَلَامِ؟ اضْطِرَابٌ يَعْنِي حَرَكَةً بِلَا سُكُونٍ، وَذَلِكَ بِالْجَوَارِحِ وَسُكُونٌ طُمَأْنِينَةٌ وَثِقَةٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْقَلْبِ، بِدُونِ اضْطِرَابٍ، بِدُونِ حَرَكَةِ قَلْبٍ وَلَا شَكٍّ وَلَا يَأْسٍ إِذًا التَّوَكُّلُ هُوَ مَاذَا؟ اضْطِرَابٌ بِلَا سُكُونٍ، وَسُكُونٌ بِلَا اضْطِرَابٍ. بِهَذَا يَكُونُ الْإِنْسَانُ قَدْ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ التَّوَكُّلِ
تَأَمَّلْ فِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
هَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى حُصُولِ يَقِينٍ وَتَفْوِيضٍ، وَعَلَى بَذْلِ سَبَبٍ؛ لِأَنَّ الطَّيْرَ مَا جَلَسَتْ الطَّيْرُ مَاذَا فَعَلَتْ؟ ذَهَبَتْ وَغَدَتْ تَبْحَثُ عَنِ الرِّزْقِ، ثُمَّ عَادَتْ وَقَدْ مَنَّ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَيْهَا بِالرِّزْقِ. إِذًا هَكَذَا يَكُونُ التَّوَكُّلُ الشَّرْعِيُّ
يَقَعُ النَّاسُ فِي أَخْطَاءٍ فِي هَذَا الْبَابِ، أَهَمُّ تِلْكَ الْأَخْطَاءِ مَا يَأْتِي
أَوَّلًا، أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى غَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فِيمَا لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَهَذَا يَقَعُ فِي حَالِ مَنْ لَمْ يَقْدِرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ قَدْرِهِ، وَمَنْ أَشْرَكَ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
وَيَكْثُرُ هَذَا فِي عُبَّادِ الْقُبُورِ، يَكُونُ قَلْبُهُ مُعَلَّقًا بِغَيْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي تَفْرِيجِ الْكُرُوبِ، وَتَنْفِيسِ الْهُمُومِ، وَمَغْفِرَةِ الذُّنُوبِ، وَإِزَالَةِ الْعَقَبَاتِ بَلْ يَكَادُ أَنْ يَكُونَ قَدْ فَوَّضَ كُلَّ شَيْءٍ إِلَى سَيِّدِهِ الَّذِي يَعْبُدُهُ، حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا. وَهَذَا أَمْرٌ عَظِيمٌ
وَلِذَا كَمْ يَتَدَاوَلُ بَعْضُ النَّاسِ أَبْيَاتًا تَدُلُّ عَلَى هَذَا التَّفْوِيضِ الشِّرْكِيِّ. تَجِدُ أَنَّهُمْ يُنْشِدُونَ إِنْ لَمْ تَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا، وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ. يُخَاطِبُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا عِنْدَهُ أَنَّ ثِقَتَهُ وَتَفْوِيضَهُ إِنَّمَا هِيَ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِلَّا فَالْهَلَاكُ حَاصِلٌ فِي الْآخِرَةِ
تَوَكَّلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ النَّجَاةِ فِي الْآخِرَةِ! وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذَا تَوَكُّلٌ شِرْكِيٌّ، عَافَانِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنْ ذَلِكَ. إِذًا تَنَبَّهْ يَا رَعَاكَ اللهُ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ
الأَمْرُ الثَّانِي: بَعْضُ النَّاسِ يَقَعُ فِي شِرْكٍ أَصْغَرَ، وَذَلِكَ بِأَنَّهُ يُلَاحِظُ الْمَخْلُوقَ بِقَلْبِهِ وَيَعْتَمِدُ عَلَيْهِ بَعْضَ الِاعْتِمَادِ فِي شَأْنٍ مِنَ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ
يَعْنِي بَعْضُ النَّاسِ يَكُونُ فِي حَاجَةٍ إِلَى شَيْءٍ مَا. الَّذِي يَنْبَغِي عَلَيْكَ أَنَّكَ إِذَا احْتَجْتَ إِلَى أَحَدٍ، وَاضْطَرَرْتَ إِلَى سُؤَالِ أَحَدٍ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ، يَقْدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَتَوَسَّطَ لَكَ أَوْ يَشْفَعَ لَكَ فَإِنَّكَ يَنْبَغِي أَنْ تُلَاحِظَ أَنَّ الْجَوَازَ هَا هُنَا مَشْرُوطٌ بِكَوْنِ قَلْبِكَ مُعْتَمِدًا عَلَى اللهِ فَقَطْ إِنَّمَا أَنْتَ تَطْلُبُ بِجَوَارِحِكَ، أَمَّا قَلْبُكَ فَإِنَّهُ وَاثِقٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا بِالْمَخْلُوقِ
وَنَحْنُ قَدْ عَلِمْنَا قَبْلَ قَلِيلٍ أَنَّ التَّوَكُّلَ هُوَ قَطْعُ النَّظَرِ فِي الْأَسْبَابِ بَعْدَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ الْتِفَاتٌ فِي قَلْبِهِ إِلَى مَخْلُوقٍ فِي تَحْصِيلِ مَنْفَعَةٍ أَوْ دَفْعِ مَضَرَّةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ قَدْ وَقَعَ فِي جِنْسِ الشِّرْكِ الْأَصْغَرِ وَهَذَا بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَمَا أَكْثَرَ الْمُخْطِئِينَ فِيهِ! نَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنَا وَأَنْ يَغْفِرَ لَنَا
الْأَمْرُ الثَّالِثُ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ فِي مَسْأَلَةِ التَّوَكُّلِ يَغْفَلُ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَسْبَابِ يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ الصَّحِيحَ هُوَ أَنْ يَتْرُكَ الْإِنْسَانُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ لَا يَفْعَلُ شَيْئًا، يَجْلِسُ، وَيَقُولُ: إِنْ شَاءَ اللهُ أَنْ يُعْطِيَنِي وَأَنْ يَصْنَعَ لِي كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ سَيَكُونُ دُونَ أَنْ يَتَحَرَّكَ وَدُونَ أَنْ يَبْذُلَ الْمُسْتَطَاعَ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ تَوَاكُلٌ لَا تَوَكُّلٌ
التَّوَكُّلُ كَمَا قَدْ عَلِمْنَا لَا بُدَّ أَنْ يَجْتَمِعَ فِيهِ الْأَمْرَانِ: يَجْتَمِعُ الثِّقَةُ بِالْقَلْبِ وَالتَّفْوِيضُ مِنَ الْقَلْبِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، مَعَ بَذْلِ الْأَسْبَابِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَعُودُ بِطَانًا
هَذَا النَّبِيُّ الْكَرِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي هُوَ سَيِّدُ الْمُتَوَكِّلِينَ، مَا تَرَكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ فِي أُحُدٍ دِرْعَيْنِ، كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ فِي الْحُرُوبِ الْمِغْفَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ سَبَبًا يَمْنَعُ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الْوُصُولِ إِلَى الْمَدِينَةِ، أَلَا وَهُوَ حَفْرُ الْخَنْدَقِ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْتَفِظُ بِقُوتِ أَهْلِهِ مُدَّةَ سَنَةٍ
إِذًا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَنَّهُ أَعْظَمُ النَّاسِ تَوَكُّلًا لَا يَتْرُكُ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ إِذًا اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ. اتِّخَاذُ الْأَسْبَابِ لَيْسَ قَدْحًا فِي التَّوَكُّلِ بَلْ تَرْكُ الْأَسْبَابِ هُوَ الْقَدْحُ فِي التَّوَكُّلِ وَبَعْضُ النَّاسِ يُخْطِئُ فِي هَذَا الْبَابِ خَطَأً عَظِيمًا
وَالْعَجِيبُ أَنَّ الَّذِي يَدَّعِي أَنَّهُ يَتْرُكُ اتِّخَاذَ السَّبَبِ تَوَكُّلًا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَخْطَأَ وَكَذَبَ فِي نَفْسِ الْوَقْتِ هُوَ كَاذِبٌ، مُسْتَحِيلٌ أَنَّ إِنْسَانًا يَمْتَنِعُ عَنْ فِعْلِ أَيِّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ
ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ ذَكَرَ قِصَّةً عَنْ أَحَدِهِمْ وَهِيَ أَنَّهُ ادَّعَى أَنَّهُ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَبِالتَّالِي فَإِنَّهُ لَا يَتَّخِذُ أَيَّ سَبَبٍ عَلَى الْإِطْلَاقِ فَكَانَ يُسَافِرُ وَيَتَنَقَّلُ فِي الْقِفَارِ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ دُونَ أَنْ يَحْمِلَ زَادًا مَعَهُ. لَكِنَّهُ يَقُولُ: لَا بُدَّ أَنْ أَحْمِلَ مَعِي ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ إِنَاءً لِلْوُضُوءِ، وَإِبْرَةً، وَخَيْطًا. يَقُولُ: رُبَّمَا يَنْقَطِعُ ثَوْبِي فَأَنَا بِحَاجَةٍ إِلَى أَنْ أَخِيطَ ثَوْبِي حَتَّى لَا تَظْهَرَ عَوْرَتِي فَتَبْطُلَ صَلَاتِي وَلَا بُدَّ لِي مِنْ إِنَاءٍ أَضَعُ فِيهِ الْمَاءَ إِذَا أَرَدْتُ الْوُضُوءَ. إِذًا هَذَا الرَّجُلُ مَا اسْتَطَاعَ مَاذَا؟ أَنْ يَتْرُكَ اتِّخَاذَ الْأَسْبَابِ بَلْ حَتَّى خُرُوجُهُ مِنْ مَكَانٍ إِلَى آخَرَ لِأَيِّ هَدَفٍ كَانَ، هُوَ فِي الْحَقِيقَةِ اتِّخَاذٌ لِلسَّبَبِ إِذًا لَا يَسْتَطِيعُ إِنْسَانٌ أَنْ يَكُونَ تَارِكًا لِفِعْلِ الْأَسْبَابِ مُطْلَقًا، هَذَا أَمْرٌ لَا يُمْكِنُ لِأَحَدٍ أَنْ يَدَّعِيَهُ
الْأَمْرُ الرَّابِعُ، وَهِيَ مَسْأَلَةٌ مُهِمَّةٌ: أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ إِذَا سَمِعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِالتَّوَكُّلِ لَا يَنْصَرِفُ ذِهْنُهُ إِلَّا إِلَى الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ يَعْنِي يَظُنُّ أَنَّ التَّوَكُّلَ مَحْصُورٌ فِي مَسْأَلَةِ الرِّزْقِ وَمَا يَدُورُ فِي فَلَكِ هَذَا الْأَمْرِ فَقَطْ، هَذَا هُوَ التَّوَكُّلُ
وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ خَطَأٌ، وَهَذَا فِي الْحَقِيقَةِ نَقْصٌ. بَلْ ثَمَّ تَوَكُّلٌ أَعْظَمُ مِنْ هَذَا وَهُوَ أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي شَأْنِ طَاعَتِهِ جَلَّ وَعَلَا، وَفِي شَأْنِ طَلَبِ الْعِلْمِ، وَفِي شَأْنِ الدَّعْوَةِ إِلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى هَذَا أَعْظَمُ بِكَثِيرٍ! وَاللهِ إِنَّكَ لَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ إِلَّا بِإِعَانَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَلِذَا هِمَمُ النَّاسِ فِي هَذَا الْبَابِ مُتَفَاوِتَةٌ. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي حُصُولِ رَغِيفٍ وَمَنْ يَكُونُ تَوَكُّلُهُ فِي طَاعَةِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَدَاءِ عِبَادَتِهِ
إِذًا إِذَا كَانَ مِمَّا يُطْلَبُ وَهَذَا مِنَ الْأَمْرِ الْحَسَنِ الْمَطْلُوبِ أَنْ يَتَوَكَّلَ الْإِنْسَانُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَأْنِ الرِّزْقِ وَالْأَعْمَالِ وَمَا إِلَيْهَا فَإِنَّ التَّوَكُّلَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَالِاسْتِعَانَةَ بِهِ، وَتَفْوِيضَ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالِاعْتِمَادَ عَلَيْهِ جَلَّ وَعَلَا فِي طَاعَتِهِ هَذَا أَوْلَى وَأَوْلَى وَأَهَمُّ
وَلِذَا مَاذَا يَقُولُ الْمُسْلِمُ إِذَا سَمِعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ فِي الْأَذَانِ؟ يَقُولُ مَاذَا؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ أَنْتَ دُعِيتَ الْآنَ إِلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، جَوَابُكَ بِأَنْ تُفَوِّضَ الْأَمْرَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَتُعْلِنَ اعْتِمَادَكَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَأَنَّكَ لَا شَيْءَ، لَا يُمْكِنُ أَنْ تَتَحَرَّكَ وَلَا تَفْعَلَ شَيْئًا حَتَّى يَأْذَنَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَيُمِدَّكَ بِعَوْنِهِ وَتَوْفِيقِهِ جَلَّ وَعَلَا
إِذًا لَاحِظْ يَا رَعَاكَ اللهُ، فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَأَهَمُّ مِنْهَا فِي كُلِّ أَمْرٍ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ، أَنْ تَتَوَكَّلَ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِيَّاكَ أَنْ تَثِقَ بِنَفْسِكَ، تَثِقَ بِإِيمَانِكَ، تَثِقَ بِاجْتِهَادِكَ، تَثِقَ بِذَكَائِكَ، تَثِقَ بِأَنَّكَ فَعَلْتَ وَفَعَلْتَ فِي السَّابِقِ رُبَّمَا تُخْذَلُ بِسَبَبِ هَذِهِ الثِّقَةِ فِي النَّفْسِ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ شَأْنُكَ فِي كُلِّ حَالِهِ هُوَ الثِّقَةُ بِاللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى