REZEKI SUDAH TERTULIS, LALU UNTUK APA KITA BERUSAHA? – Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad

Bab ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tawakal adalah ibadah hati yang sangat agung, yang senantiasa menyertai seorang muslim dalam seluruh urusannya, baik urusan agama maupun dunianya.

Karena seorang mukmin bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam melakukan berbagai hal yang mendekatkannya kepada Allah, berupa perkataan yang lurus dan amal-amal saleh. Ia juga bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengupayakan berbagai kemaslahatan duniawi dan segala hajatnya.

Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla adalah sebaik-baik Zat yang mencukupi dan sebaik-baik Pelindung.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Allah juga berfirman, “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)

Maka tawakal adalah ibadah yang agung, yang sepatutnya senantiasa dijaga oleh seorang muslim, dengan bertawakal kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dalam seluruh urusannya.

Penulis berkata, “Anjuran untuk senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki,” yakni kepada Allah. “Dan tidak ada satu pun makhluk melata melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk melata. Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya.

Seorang hamba tidak akan mati hingga ia menerima seluruh rezeki yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan baginya. Telah berlalu bersama kita hadis Ash-Shadiq Al-Mashduq (Nabi yang jujur lagi dibenarkan), yaitu hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu malaikat itu diperintahkan mencatat empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia sengsara atau bahagia.” (Lihat HR. Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643).

Maka rezeki manusia, yaitu segala yang ia konsumsi, makan, dan minum dalam kehidupan ini, semuanya telah tertulis. Baik sedikit maupun banyak, berupa minuman ataupun makanan, semuanya telah dicatat. Telah dicatat baginya rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuknya.

Maka kewajiban seorang hamba adalah bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, dan bertawakal kepada Allah dalam usahanya mencari rezeki.

Oleh karena itu, disyariatkan bagi seorang muslim setiap kali keluar dari rumahnya untuk suatu kemaslahatan agama maupun dunianya, agar membaca: “Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Apabila ia mengucapkannya, akan dikatakan kepadanya, “Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Dawud no. 5095 dan At-Tirmidzi no. 3426).

Hal ini menjelaskan kepada kita dampak yang besar atau buah-buah penuh berkah yang diperoleh orang yang bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ia diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.

Penulis kitab rahimahullah Ta’ala mengawali bab ini dengan hadis Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allah telah mencatat semua takdir lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.’” (Lihat HR. Muslim no. 2653). “Allah telah menetapkan takdir,” yakni takdir seluruh makhluk. Dan di antara yang ditakdirkan adalah rezeki. Berupa makanan maupun minuman, semuanya telah ditakdirkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Penetapan takdir yang dimaksud dalam hadis ini adalah takdir umum. Sedangkan penetapan takdir dalam hadis Ibnu Mas’ud adalah takdir ‘umri (takdir seumur hidup), yaitu penetapan takdir yang khusus bagi setiap manusia sepanjang hidupnya. Ia merupakan suatu penetapan takdir setelah penetapan takdir sebelumnya, yang tercakup di dalam takdir umum.

Intinya, rezeki para hamba telah dibagi-bagi. “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf: 32). Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Masing-masing pasti akan mendapatkan bagiannya, tidak lebih dan tidak kurang.

Keimanan seorang hamba bahwa rezeki telah dibagi tidak berarti ia meninggalkan amal dan ikhtiar. Karena syariat datang dengan perintah beriman kepada takdir, kepada qadar dan qada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun pada saat yang sama syariat juga mendorong manusia untuk beramal.

Beliau ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647). Seseorang tidak mengetahui apa yang ditakdirkan untuknya, tetapi ia harus berupaya melakukan sebab-sebab, serta memohon taufik kepada Allah, kebaikan, keberkahan, juga kebaikan dunia dan akhirat.

“Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201). “Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32). Maka ia berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya bantuan, pertolongan, serta taufik. Pada saat yang sama, ia juga berupaya melakukan sebab-sebab.

“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ia mengupayakan sebab. “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2664). “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2517) Syariat datang membawa perintah untuk melakukan sebab-sebab, tetapi hati tidak boleh disandarkan kepada sebab-sebab tersebut.

Hati hanyalah boleh disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang di Tangan-Nya kendali segala urusan dan perbendaharaan langit dan bumi. Silakan.

Abu Hatim rahimahullah Ta’ala berkata, “Kewajiban orang yang berakal adalah senantiasa bertawakal kepada Zat Yang menjamin rezeki. Karena tawakal adalah pengikat iman dan pendamping tauhid. Tawakal merupakan sebab yang menepis kefakiran dan menghadirkan ketenangan.

Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah Jalla wa ’Ala dengan hati yang sehat, hingga jaminan Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya sendiri, melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah melainkan Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya.”

Di antara kedua klausa ini terdapat kalimat sisipan yang menjelaskan bagaimana tawakal itu benar-benar terwujud. Beliau berkata, “Tidaklah seseorang bertawakal kepada Allah dengan hati yang sehat.” Maksudnya, tawakal yang lahir dari hati yang sehat, yaitu keimanan yang sehat, hubungan dengan Allah, dan kepercayaan kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Itulah hati yang sehat. “Hingga jaminan pencukupan dari Allah Jalla wa ’Ala lebih ia percayai daripada apa yang berada dalam genggamannya.” Artinya, karena kuatnya tawakal yang lahir dari hati yang sehat, ia lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada dalam genggamannya sendiri.

Hal itu dikarenakan kuatnya tawakal kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. “Maka barang siapa bertawakal kepada Allah, Allah tidak akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya, dan Allah akan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka.” “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Silakan.

Beliau berkata, “Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi membacakan syair kepadaku: Bertawakallah kepada Ar-Rahman dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.

Kapan pun Pemilik Arasy menghendaki suatu perkara menimpa hamba-Nya, niscaya perkara itu akan menimpanya, dan hamba tidak memiliki pilihan terhadap ketetapan tersebut. Terkadang manusia binasa dari arah yang disangkanya aman, dan selamat dengan izin Allah dari arah yang justru ia takutkan.

Bait-bait syair ini berisi anjuran untuk bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat. “Dalam setiap hajat,” yakni dalam seluruh keperluan dan kemaslahatanmu, hendaklah engkau bertawakal kepada Allah. Karena seluruh urusan berada di Tangan-Nya. Di Tangan-Nyalah pemberian dan penahanan, merendahkan dan meninggikan, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan. Semuanya berada di Tangan Allah.

“Bertawakallah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap hajat yang kau inginkan, karena Allah-lah yang menetapkan keputusan dan takdir.” Segala urusan berjalan berdasarkan qada dan qadar Allah. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal berkaitan erat dengan iman kepada takdir.

Tawakal seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berkaitan erat dengan keimanannya bahwa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti berlaku dan bahwa kekuasaan-Nya Jalla fi ’Ulahu meliputi segala sesuatu. “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20)

Tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang mampu melemahkan-Nya. Tidak ada satu pun hajat yang terlalu besar bagi-Nya Subhanahu. Bila hajat itu dimohonkan kepada-Nya, Dia pun memberikannya, Jalla fi ‘Ulahu.

=====

هَذِهِ التَّرْجَمَةُ فِي الْحَثِّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ قَلْبِيَّةٌ عَظِيمَةٌ تُصَاحِبُ الْمُسْلِمَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ

فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ مُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي قِيَامِهِ بِمَا يُقَرِّبُهُ إِلَى اللَّهِ مِنْ سَدِيدِ الْأَقْوَالِ وَصَالِحِ الْأَعْمَالِ وَمُتَوَكِّلٌ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْقِيَامِ بِمَصَالِحِهِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَنْوَاعِ حَاجَاتِهِ

وَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ نِعْمَ الْحَسْبُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ وَقَالَ: أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ عَظِيمَةٌ يَنْبَغِي عَلَى الْمُسْلِمِ أَنْ يَكُونَ مُلَازِمًا لَهَا مُتَوَكِّلًا فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

قَالَ: الْحَثُّ عَلَى لُزُومِ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ ضَمِنَ الْأَرْزَاقَ أَيْ عَلَى اللَّهِ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

فَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ضَمِنَ لِكُلِّ دَابَّةٍ رِزْقَهَا

وَلَنْ يَمُوتَ عَبْدٌ إِلَّا وَقَدِ اسْتَوْفَى رِزْقَهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ قَدْ مَرَّ مَعَنَا فِي حَدِيثِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: فَيُرْسَلُ إِلَيْهِ مَلَكٌ وَيُؤْمَرُ بِكَتْبِ أَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ هُوَ أَوْ سَعِيدٌ

فَرِزْقُ الْإِنْسَانِ وَهُوَ مَا يَقْتَاتُهُ وَيَطْعَمُهُ وَيَشْرَبُهُ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ كُلُّهُ مَكْتُوبٌ دَقَّ أَوْ جَلَّ مِنْ شَرَابٍ أَوْ طَعَامٍ كُلُّ ذَلِكَ كُتِبَ كُتِبَ لَهُ مَا قَسَمَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَهُ مِنْ رِزْقٍ

فَالْوَاجِبُ عَلَى الْعَبْدِ أَنْ يَكُونَ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي عِبَادَتِهِ لِلَّهِ وَمُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ فِي طَلَبِهِ لِلرِّزْقِ

وَلِهَذَا شُرِعَ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَقُولَ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يَخْرُجُ فِيهَا مِنْ بَيْتِهِ لِمَصَالِحِهِ الدِّينِيَّةِ أَوِ الدُّنْيَوِيَّةِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ

وَهَذَا مِمَّا يُبَيِّنُ لَنَا الْأَثَرَ الْعَظِيمَ أَوِ الثِّمَارَ الْمُبَارَكَةَ الَّتِي يَنَالُهَا الْمُتَوَكِّلُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّهُ يُهْدَى وَيُكْفَى وَيُوقَى

وَالْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى صَدَّرَ هَذِهِ التَّرْجَمَةَ بِحَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ قَدَّرَ اللَّهُ الْمَقَادِيرَ أَيْ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ وَمِمَّا قُدِّرَ: الْأَرْزَاقُ مِنْ طَعَامٍ وَشَرَابٍ هَذَا كُلُّهُ مُقَدَّرٌ

قَدَّرَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ وَهَذَا التَّقْدِيرُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ هُوَ التَّقْدِيرُ الْعَامُّ وَالتَّقْدِيرُ الَّذِي فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ هَذَا تَقْدِيرٌ عُمُرِيٌّ يَخْتَصُّ بِكُلِّ إِنْسَانٍ وَهُوَ تَقْدِيرٌ مِنْ بَعْدِ تَقْدِيرٍ تَقْدِيرٌ دَاخِلٌ فِي التَّقْدِيرِ الْعَامِّ

فَالشَّاهِدُ أَنَّ أَرْزَاقَ الْعِبَادِ مَقْسُومَةٌ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا قَسَمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بَيْنَ الْعِبَادِ أَرْزَاقَهُمْ وَكُلٌّ سَيَأْخُذُ نَصِيبَهُ لَا يَزِيدُ عَنْهُ وَلَا يَنْقُصُ

وَإِيمَانُ الْعَبْدِ بِأَنَّ الْأَرْزَاقَ مَقْسُومَةٌ لَا يَعْنِي ذَلِكَ تَعْطِيلَ الْعَمَلِ فَإِنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ بِقَدَرِ اللَّهِ وَقَضَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ بِالْحَثِّ عَلَى الْعَمَلِ

قَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ وَالْإِنْسَانُ لَا يَدْرِي مَا الَّذِي قُدِّرَ لَهُ لَكِنْ عَلَيْهِ أَنْ يَبْذُلَ السَّبَبَ وَيَسْأَلَ اللَّهَ التَّوْفِيقَ وَالْخَيْرَ وَالْبَرَكَةَ خَيْرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ فَيَلْجَأُ إِلَى اللَّهِ وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْمَدَدَ وَالْعَوْنَ وَالتَّوْفِيقَ وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ يَبْذُلُ الْأَسْبَابَ

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ يَبْذُلُ السَّبَبَ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ جَاءَتِ الشَّرِيعَةُ بِالْأَمْرِ بِفِعْلِ الْأَسْبَابِ وَلَا يُعْتَمَدُ عَلَى الْأَسْبَابِ

وَإِنَّمَا يُعْتَمَدُ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الَّذِي بِيَدِهِ أَزِمَّةُ الْأُمُورِ وَمَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ نَعَمْ

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ لُزُومُ التَّوَكُّلِ عَلَى مَنْ تَكَفَّلَ بِالْأَرْزَاقِ إِذِ التَّوَكُّلُ هُوَ نِظَامُ الْإِيمَانِ وَقَرِينُ التَّوْحِيدِ وَهُوَ السَّبَبُ الْمُؤَدِّي إِلَى نَفْيِ الْفَقْرِ وَوُجُودِ الرَّاحَةِ

وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا مِنْ صِحَّةِ قَلْبِهِ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَهُ مِنَ الْكَفَالَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ مِمَّا حَوَتْهُ يَدُهُ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَا تَوَكَّلَ أَحَدٌ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ

جَاءَ بَيْنَهُمَا هَذِهِ الْجُمْلَةُ الْمُعْتَرِضَةُ الَّتِي فِيهَا بَيَانُ تَحَقُّقِ التَّوَكُّلِ قَالَ: مَا تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ يَعْنِي تَوَكُّلٌ عَنْ صِحَّةِ قَلْبٍ صِحَّةِ إِيمَانٍ وَصِلَةٍ بِاللَّهِ وَثِقَةٍ بِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ صِحَّةِ قَلْبٍ حَتَّى كَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَلَا بِمَا تَضَمَّنَ مِنَ الْكِفَايَةِ أَوْثَقَ عِنْدَهُ بِمَا حَوَتْهُ يَدُهُ يَعْنِي مِنْ قُوَّةِ صِحَّةِ قَلْبِهِ فِي تَوَكُّلِهِ عَلَى اللَّهِ يَكُونُ أَوْثَقَ بِمَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الشَّيْءِ الَّذِي هُوَ فِي يَدِهِ

مِنْ قُوَّةِ تَوَكُّلِهِ عَلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَمَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ إِلَّا لَمْ يَكِلْهُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ وَآتَاهُ رِزْقَهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ نَعَمْ

قَالَ: وَأَنْشَدَنِي مَنْصُورُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكُرَيْزِيُّ تَوَكَّلْ عَلَى الرَّحْمَنِ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ

مَتَى مَا يُرِيدُ ذُو الْعَرْشِ أَمْرًا بِعَبْدِهِ يُصِبْهُ وَمَا لِلْعَبْدِ مَا يَتَخَيَّرُ وَقَدْ يَهْلِكُ الْإِنْسَانُ مِنْ وَجْهِ أَمْنِهِ وَيَنْجُو بِإِذْنِ اللَّهِ مِنْ حَيْثُ يَحْذَرُ

هَذِهِ الْأَبْيَاتُ فِيهَا الْحَثُّ عَلَى التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَيْ فِي جَمِيعِ حَاجَاتِكَ وَمَصَالِحِكَ كُنْ مُتَوَكِّلًا عَلَى اللَّهِ لِأَنَّ الْأُمُورَ كُلَّهَا بِيَدِهِ بِيَدِهِ الْعَطَاءُ وَالْمَنْعُ وَالْخَفْضُ وَالرَّفْعُ وَالْقَبْضُ وَالْبَسْطُ وَالْعِزُّ وَالذُّلُّ كُلُّهُ بِيَدِ اللَّهِ

تَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي كُلِّ حَاجَةٍ أَرَدْتَ فَإِنَّ اللَّهَ يَقْضِي وَيُقَدِّرُ الْأُمُورُ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَهَذَا فِيهِ التَّنْبِيهُ إِلَى أَنَّ التَّوَكُّلَ مُرْتَبِطٌ بِالْإِيمَانِ بِالْقَدَرِ

تَوَكُّلُ الْعَبْدِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مُرْتَبِطٌ بِإِيمَانِهِ بِأَنَّ مَشِيئَةَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى نَافِذَةٌ وَأَنَّ قُدْرَتَهُ جَلَّ فِي عُلَاهُ شَامِلَةٌ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ لَا يَتَعَاظَمُهُ حَاجَةٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يُسْأَلَهَا فَيُعْطِيَهَا جَلَّ فِي عُلَاهُ

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.