Ketahuilah, beriman bahwa Allah Maha Tinggi dan berada di atas makhluk-Nya, yaitu ketinggian Allah di atas makhluk-Nya, tanpa ada yang meliputi-Nya, dan tanpa membahas bagaimananya (kaifiyah), tanpa membatasi-Nya, dan tanpa membuat permisalan bagi-Nya (tamtsil), tanpa mempertanyakan bagaimananya (takyif), dan tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tasybih), sebagaimana disebutkan dalam Kitab yang Mulia (Al-Qur’an) dan Sunah yang sahih, maka inilah pokok dan fondasi dalam perkara ini.
Perhatikan, ini sesuatu yang mengherankan! Hari ini, sebagian orang berkata kepadamu, “Saudaraku, jangan membesar-besarkan masalah ini. Ini cuma persoalan filsafat dan olah akal semata. Ada yang mengatakan, ‘Allah di langit, beristiwa di atas Arsy.’ Ada yang mengatakan, ‘Allah ada di mana-mana.’ Ada pula yang mengatakan, ‘Saya tidak tahu di mana Allah berada.’ Masing-masing dianggap benar, semua dianggap sah.”
Tidak! Bagaimana bisa semuanya dianggap sah? Ini berkaitan dengan iman kepada Allah. Apa makna iman kepada Allah? Yakni beriman kepada sifat-sifat Allah, dan ini termasuk sifat Allah yang paling agung. Karena itu, beliau kemudian menyebutkan pengaruh akidah ini terhadap ibadah dan kondisi batin seseorang.
Beliau berkata, “Barang siapa yang telah kokoh dalam perkara ini, —yakni ia yakin bahwa Allah beristiwa di atas Arsy, di atas seluruh makhluk-Nya— maka hatinya memiliki kiblat menuju Rabb yang menguasai dan menciptakannya, dalam menghadapkan diri kepada-Nya, salat, dan ibadahnya, serta dalam seluruh amalan lahir dan batinnya.
Hal itu pun menjadi tambatan bagi hatinya.” Artinya, hatinya terpaut kepada Allah, dengan ketinggian-Nya, Subhanahu. Hatinya bisa berkelana ke berbagai hal, memikirkan berbagai hal. Namun, kemudian ia kembali kepada tambatannya. Ia kembali terpaut kepada Allah. Beliau berkata, “Bagaikan seekor kuda yang berkelana, lalu kembali ke pancangnya…” Yaitu tempat kuda itu ditambatkan.
Maka renungkanlah bagaimana pengaruh akidah ini, yaitu pengaruh iman kepada ketinggian Allah terhadap ibadah seorang hamba. Dengan itu, hatimu memiliki kiblat dalam salat dan doamu.
=====
وَاعْلَمْ أَنَّ الْإِيمَانَ بِمَسْأَلَةِ الْعُلُوِّ وَالْفَوْقِيَّةِ شُفْ عُلُوَّ اللهِ عَلَى خَلْقِهِ مِنْ غَيْرِ إِحَاطَةٍ وَلَا كَيْفِيَّةٍ وَلَا حَصْرٍ وَلَا تَمْثِيلٍ وَلَا تَكْيِيفٍ وَلَا تَشْبِيهٍ كَمَا وَرَدَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ الْعَزِيزِ وَفِي السُّنَّةِ الصَّحِيحَةِ هُوَ أَصْلُ هَذَا الشَّأْنِ وَأَسَاسُهُ
شُفْ شَيْءٌ عَجِيبٌ بَعْضُ النَّاسِ الْيَوْمَ يَقُولُ لَكَ يَعْنِي يَا أَخِي لَا تُكَبِّرْ هَذِهِ الْمَسَائِلَ، هَذِهِ مَسَائِلُ فَلْسَفِيَّةٌ عَقْلِيَّةٌ اللِّي يَقُولُ: اللهُ فِي السَّمَاءِ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى وَاللِّي يَقُولُ: اللهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَاللِّي يَقُولُ: مَا أَدْرِي وَيْنَ اللهُ كُلُّ وَاحِدٍ، كُلُّهُ يَمْشِي
لَا، كَيْفَ كُلُّهُ يَمْشِي؟ هَذَا إِيمَانٌ بِاللهِ، أَيْشْ مَعْنَى الْإِيمَانِ بِاللهِ؟ إِيمَانٌ بِصِفَاتِ اللهِ، وَهَذِهِ مِنْ أَعْظَمِ الصِّفَاتِ لِلَّهِ وَلِذَلِكَ هُوَ يَذْكُرُ الْآنَ أَثَرَ هَذِهِ الْعَقِيدَةِ عَلَى الْعِبَادَةِ وَالْمَشْهَدِ
يَقُولُ فَمَنْ رَسَخَ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ يَعْنِي عِنْدَهُ يَقِينٌ بِأَنَّ اللهَ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى فَوْقَ كُلِّ الْمَخْلُوقَاتِ صَارَ لِقَلْبِهِ قِبْلَةٌ إِلَى مَوْلَاهُ وَفَاطِرِهِ فِي تَوَجُّهِهِ وَصَلَاتِهِ وَعِبَادَتِهِ وَسَائِرِ مَسَاعِيهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
وَصَارَ ذَلِكَ لِقَلْبِهِ مَعْلَقًا يَعْنِي تَعَلَّقَ الْقَلْبُ بِاللهِ بِعُلُوِّهِ سُبْحَانَهُ يَجُولُ قَلْبُهُ فِي الْأَشْيَاءِ، يَتَفَكَّرُ فِي الْأَشْيَاءِ ثُمَّ يَعُودُ إِلَى مَعْلَقِهِ، تَعَلَّقَ بِاللهِ قَالَ: كَالْفَرَسِ يَجُولُ ثُمَّ يَعُودُ إِلَى آخِيَّتِهِ الْمَكَانِ الَّذِي يُرْبَطُ فِيهِ الْفَرَسُ
فَتَأَمَّلْ كَيْفَ أَثَرُ هَذِهِ الْعَقِيدَةِ الْإِيمَانِ بِعُلُوِّ اللهِ عَلَى عِبَادَةِ الْعَبْدِ يَكُونُ لِقَلْبِكَ قِبْلَةٌ فِي صَلَاتِكَ وَفِي دُعَائِكَ