Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada Anda. Ada yang bertanya: apa batasan At-Taghaful terhadap kesalahan istri? Apa cara yang benar untuk menghindari perselisihan?
Orang yang bertanya ini, (sepertinya) tidak ingin bersikap At-Taghaful. Dalam kehidupan, sikap memaklumi itu tidaklah terbatas. Kecuali dalam perkara mungkar dan meninggalkan kewajiban.
Sebagaimana ucapan para salaf, “At-Taghaful itu sembilan persepuluh kehidupan.” Ini berlaku untuk semua orang. Jika engkau tidak pandai memaklumi, engkau akan menderita dan membuat orang lain menderita.
Sikap memaklumi ini tidak ada batasnya. Kecuali terhadap perbuatan mungkar, maka tidak boleh mengabaikannya. Terhadap kewajiban yang ditinggalkan, juga tidak boleh mengabaikannya. Begitu pula terhadap hal-hal yang membahayakan, tidak boleh mengabaikannya. Kecuali pada tiga perkara tersebut.
Selain itu, hendaknya seseorang pandai memaklumi. Kadang seseorang tampak seolah-olah pura-pura tidak tahu, tapi ia berusaha menanganinya dengan cerdas. Mungkin ia melihat sesuatu yang tidak ia sukai. Secara lahir, ia tampak tidak mempermasalahkannya. Namun, ia berusaha menanganinya dengan cara yang lain. Ia menanganinya dengan cara lain.
Suatu kali, ada seseorang bercerita. Ia mengatakan bahwa ia menikahi seorang wanita. Istrinya tidak memberi garam pada makanan. Ia berkata, “Padahal aku tidak suka makan tanpa garam.” Ia berkata, “Aku tidak langsung mengatakannya kepada istriku.” “Aku bersabar sebentar, pada awal-awal ia menyajikan makanan,” katanya. “Lalu aku bercerita seakan-akan ada orang malang yang mengadu dan mengeluh,” ujarnya. “Aku katakan pada orang itu, ‘Semoga Allah menolongmu dan mengaruniakan istri baik yang memahami apa yang engkau sukai.’” Ia bilang bahwa istrinya akhirnya paham. Istrinya pun menyelesaikan masalah itu.
Wahai saudara-saudaraku, sikap pura-pura tidak tahu dan memaklumi hal kecil (At-Taghaful) adalah garam kehidupan. Siapa yang tidak pandai memaklumi orang lain, hidupnya tidak akan terasa nyaman. Namun, tidak boleh abai terhadap perbuatan mungkar. Tidak pula dalam hal meninggalkan kewajiban. Dan tidak pula dalam hal yang membahayakan. Kecuali 3 hal itu, lautan At-Taghaful dalam kehidupan ini sangat luas.
Saya memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi saya dan kalian pemahaman dalam agama-Nya. Semoga Allah mengaruniakan kepada saya dan kalian kehidupan yang baik. Semoga Allah menjadikan saya dan kalian termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menjadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai hal yang membahagiakan kita saat bertemu dengan-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Tinggi lagi Maha Mengetahui. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita.
=====
أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ يَقُولُ: مَا هُوَ الضَّابِطُ فِي التَّغَافُلِ عَنِ الزَّوْجَةِ؟ وَمَا هِيَ الطَّرِيقَةُ الْقَوِيمَةُ لِتَجَنُّبِ النِّزَاعِ؟
الَّذِي يَسْأَلُ هَذَا السُّؤَالَ مَا يُرِيدُ أَنْ يَتَغَافَلَ التَّغَافُلُ لَا حَدَّ لَهُ فِي الْحَيَاةِ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ وَتَرْكِ الْوَاجِبَاتِ
كَمَا قَالَ السَّلَفُ: التَّغَافُلُ تِسْعَةُ أَعْشَارِ الْحَيَاةِ مَعَ كُلِّ النَّاسِ إِذَا لَمْ تُعْمِلِ التَّغَافُلَ سَتَشْقَى وَتُشْقِي
وَالتَّغَافُلُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ إِلَّا عَنِ الْمُنْكَرَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوْ تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ فَلَا تَغَافُلَ أَوِ الْأُمُورِ الضَّارَّةِ فَلَا تَغَافُلَ ثَلَاثَةُ أُمُورٍ
وَغَيْرُ ذَلِكَ يُعْمِلُ الْإِنْسَانُ التَّغَافُلَ وَقَدْ يَتَغَافَلُ الْإِنْسَانُ فِي الظَّاهِرِ وَلَكِنَّهُ يَتَصَرَّفُ بِذَكَاءٍ قَدْ يَرَى شَيْئًا أَوْ هُنَاكَ شَيْءٌ مَا يُعْجِبُهُ فَيَتَغَافَلُ فِي الظَّاهِرِ لَكِنْ يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى يُوصِلُ الْأَمْرَ بِطَرِيقَةٍ أُخْرَى
مَرَّةً أَحَدُ الْإِخْوَةِ يَحْكِي يَقُولُ: أَنَّهُ تَزَوَّجَ امْرَأَةً وَلَا تَضَعُ فِي الطَّعَامِ مِلْحًا يَقُولُ: وَأَنَا لَا أُحِبُّ الْأَكْلَ بِلَا مِلْحٍ يَقُولُ: مَا قُلْتُ لَهَا يَقُولُ: صَبَرْتُ قَلِيلًا، أَوَّلَ مَا تَضَعُ قَالَ: يَعْنِي فَالْمِسْكِينُ يَشْتَكِي وَكَذَا وَقُلْتُ لَهُ: يَعْنِي أَعَانَكَ اللَّهُ وَاللَّهُ يَرْزُقُكَ امْرَأَةً طَيِّبَةً تَعْرِفُ مَا تُحِبُّ وَكَذَا قَالَ: فَالْمَرْأَةُ فَهِمَتْ وَأَصْلَحَتِ الْمَوْضُوعَ
يَا إِخْوَةُ، التَّغَافُلُ مِلْحُ الْحَيَاةِ مَنْ لَمْ يَتَغَافَلْ مَعَ النَّاسِ لَنْ تَطِيبَ لَهُ الْحَيَاةُ لَكِنْ لَا تَغَافُلَ فِي فِعْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَلَا فِي تَرْكِ الْوَاجِبَاتِ وَلَا فِيمَا يَضُرُّ وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَبَحْرُ التَّغَافُلِ وَاسِعٌ فِيهَا
أَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُفَقِّهَنِي وَإِيَّاكُمْ فِي دِينِهِ وَأَنْ يَرْزُقَنِي وَإِيَّاكُمْ الْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ وَأَنْ يَجْعَلَنِي وَإِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ وَأَنْ يَجْعَلَ مَا نَقُولُهُ وَنَفْعَلُهُ مِمَّا يَسُرُّنَا عِنْدَ لِقَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَى وَأَعْلَمُ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَلَّمَ