Betapa perlunya kita memperhatikan hal ini, wahai saudara-saudara, yaitu mengosongkan hati kita untuk ibadah, saat kita sedang beribadah. Sehingga kita tidak tersibukkan oleh selain ibadah itu.
Penulis berkata: Yaitu dengan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah dalam ibadah tersebut, serta mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menghadapkan diri kepada Allah di dalam ibadah itu, dan memusatkan hatinya pada ibadah itu, serta melaksanakannya dengan cara yang paling baik dan paling sempurna, baik secara lahir maupun batin. Karena salat memiliki sisi lahir dan sisi batin.
Sisi lahirnya adalah gerakan-gerakan yang terlihat dan bacaan-bacaan yang terdengar. Sedangkan sisi batinnya adalah kekhusyukan dan merasa diawasi oleh Allah, yaitu mengosongkan hati hanya untuk Allah dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada-Nya dalam salat itu, sehingga hatinya tidak berpaling dari-Nya kepada selain-Nya.
Sisi batin ini kedudukannya ibarat ruh bagi salat. Sedangkan gerakan-gerakannya ibarat jasadnya. Maka apabila salat itu kosong dari ruhnya, ia seperti jasad tanpa ruh.
Tidakkah seorang hamba merasa malu? Tidakkah seorang hamba merasa malu menghadap Rabbnya dalam keadaan seperti itu?
Karena itu, salat tersebut digulung sebagaimana pakaian usang digulung, lalu dipukulkan ke wajah pemiliknya. Dan salat itu berkata, “Semoga Allah menyia-nyiakanmu sebagaimana engkau telah menyia-nyiakanku!”
=====
مَا أَحْوَجَنَا إِلَى أَنْ نَتَنَبَّهَ لِهَذَا يَا إِخْوَةُ أَنْ نُفَرِّغَ قَلْبَنَا لِلْعِبَادَةِ وَنَحْنُ فِي الْعِبَادَةِ بِحَيْثُ لَا نَشْتَغِلُ بِغَيْرِهَا
قَالَ وَهُوَ أَنْ يُفَرِّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ فِيهَا وَيَسْتَفْرِغَ جُهْدَهُ فِي إِقْبَالِهِ فِيهَا عَلَى اللَّهِ وَجَمْعِ قَلْبِهِ عَلَيْهَا وَإِيقَاعِهَا عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ وَأَكْمَلِهَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فَإِنَّ الصَّلَاةَ لَهَا ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ
فَظَاهِرُهَا الْأَفْعَالُ الْمُشَاهَدَةُ وَالْأَقْوَالُ الْمَسْمُوعَةُ وَبَاطِنُهَا الْخُشُوعُ وَالْمُرَاقَبَةُ وَتَفْرِيغُ الْقَلْبِ لِلَّهِ وَالْإِقْبَالُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى اللَّهِ فِيهَا بِحَيْثُ لَا يَلْتَفِتُ قَلْبُهُ عَنْهُ إِلَى غَيْرِهِ
فَهَذِهِ بِمَنْزِلَةِ الرُّوحِ لَهَا وَالْأَفْعَالُ بِمَنْزِلَةِ الْبَدَنِ فَإِذَا خَلَتْ مِنَ الرُّوحِ كَانَتْ كَبَدَنٍ لَا رُوحَ فِيهِ
أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَفَلَا يَسْتَحِي الْعَبْدُ أَنْ يُوَاجِهَ سَيِّدَهُ بِمِثْلِ ذَلِكَ
وَلِهَذَا تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَتَقُولُ ضَيَّعَكَ اللَّهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي