Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu—dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dan lainnya—beliau berkata: “Fitnah akan ditimpakan kepada tiga golongan manusia…” Maksudnya, merekalah orang yang paling sering terkena fitnah dan menjadi sebab bergejolaknya fitnah tersebut.
Orang yang pertama kali terjerumus ke dalamnya ada tiga golongan. Beliau menyebutkan: “(Pertama), orang yang tegas lagi cerdik. Yaitu orang yang tidak ingin satu pun bangkit menentangnya, melainkan ia akan menindasnya dengan pedang karena keberaniannya.”
Beliau melanjutkan: “(Kedua), orator yang pandai menarik perhatian orang dalam berbagai perkara kepada dirinya.” Maksudnya adalah sosok yang selalu diminta oleh masyarakat untuk berbicara. Oleh karena itu, siapa pun yang diuji dengan menjadi pembicara di berbagai majelis maupun mimbar, maka sesungguhnya ia tidak harus mengomentari setiap peristiwa yang terjadi.Ia juga tidak harus mengungkapkan pandangannya terhadap semua berita. Namun, kewajibannya adalah bersikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa Allah mencintai sifat tenang dan tidak tergesa-gesa.
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Dan (ketiga), tokoh terpandang yang namanya selalu disebut-sebut.” Tokoh terpandang yang selalu disebut-sebut adalah mereka yang memiliki kedudukan tinggi dan menjadi pemimpin bagi kaumnya. Ia sering kali diminta pendapatnya secara terburu-buru sebelum jelas perkara sebenarnya. Fitnah itu apabila baru datang akan tampak samar, dan apabila telah berlalu, barulah jelas hakikatnya.
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu lalu berkata: “Adapun orang yang tegas lagi cerdik, maka fitnah akan menumbangkannya. Sedangkan dua golongan lainnya—yaitu sang orator dan tokoh terpandang bagi kaumnya—maka fitnah akan menguji, lalu menampakkan jati diri mereka.” Maksudnya, akan terungkap apakah mereka memiliki ilmu atau tidak, punya akal yang cerdas atau tidak, serta apakah mereka memiliki ketaatan beragama atau justru sebaliknya.
=====
وَثَبَتَ عَنْهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ عِنْدَ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ وَغَيْرِهِ قَالَ وُكِلَتِ الْفِتَنُ بِثَلَاثَةٍ أَيْ أَكْثَرُ مَنْ تُصِيبُهُمُ الْفِتَنُ وَيَكُونُونَ سَبَبًا فِي إِذْكَائِهَا
وَأَوَّلُ مَنْ يَقَعُ فِيهَا ثَلَاثَةٌ قَالَ بِالْجَادِّ النِّحْرِيرِالَّذِي لَا يُرِيدُ أَنْ يَرْتَفِعَ لَهُ شَيْءٌ إِلَّا قَمَعَهُ بِالسَّيْفِ لِشَجَاعَتِهِ
قَالَ وَبِالْخَطِيبِ الَّذِي يَدْعُو إِلَيْهِ الْأُمُورَ أَي الَّذِي يَطْلُبُ مِنْهُ النَّاسُ الْكَلَامَ وَلِذَلِكَ فَإِنَّ مَنْ بُلِيَ بِأَنْ يَكُونَ مُتَكَلِّمًا فِي أَيِّ مَحْفَلٍ وَمِنْبَرٍ فَإِنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَتَكَلَّمَ عِنْدَ وُقُوعِ كُلِّ حَدَثٍ وَلَا يَلْزَمُهُ أَنْ يُبْدِيَ الرَّأْيَ عِنْدَ كُلِّ خَبَرٍ وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ وَقَدْ بَيَّنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْحِلْمَ وَالْأَنَاةَ
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَبِالشَّرِيفِ الْمَذْكُورِ وَهُوَ الثَّالِثُ وَالشَّرِيفُ الْمَذْكُورُ هُوَ الَّذِي يَكُونُ عَالِيًا فِي قَوْمِهِ مُتَصَدِّرًا لَهُمْ إِذْ يُطْلَبُ مِنْهُ الرَّأْيُ عَلَى عُجَالَةٍ قَبْلَ الِاسْتِبَانَةِ وَالْفِتَنُ إِذَا أَقْبَلَتْ تَشَابَهَتْ وَإِذَا أَدْبَرَتْ تَمَايَزَتْ
قَالَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَأَمَّا الْجَادُّ النِّحْرِيرُ فَتَصْرَعُهُ وَأَمَّا هَذَانِ وَيَعْنِي بِهِ الْخَطِيبَ وَالشَّرِيفَ الْمَذْكُورَ أَي الْمُتَقَدِّمَ فِي قَوْمِهِ فَتَبْحَثُهُمَا فَتَبْلُو مَا عِنْدَهُمَا أَيْ مَا عِنْدَهُمَا مِنَ الْعِلْمِ وَعَدَمِهِ وَالْعَقْلِ وَفَقْدِهِ وَالدِّيَانَةِ وَضِدِّهَا