20 Keutamaan Shalat Malam yang Menakjubkan – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

20 Keutamaan Shalat Malam yang Menakjubkan – Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid #NasehatUlama

Dan diantara amalan ini adalah salat malam, yaitu menghidupkan malam setelah salat isya’ sampai sebelum terbitnya fajar dengan melakukan salat sesuai dengan kemampuannya, baik di awal, pertengahan atau akhir malam. Akhir malam adalah waktu yang paling utama.

(SATU)
Salat malam adalah salah satu ketaatan yang paling agung dan ibadah yang paling mulia, menjadi penenang hati, penghapus kesedihan dan media untuk berkomunikasi dengan Allah yang Maha Mengetahui segala perkara gaib. Allah mendengar ketika Anda menyeru-Nya dalam kegelapan.

(DUA)
Dengan salat malam maka jiwa akan bahagia, kedekatan dengan Allah akan terwujud karena Dia turun pada sepertiga malam yang terakhir. Salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh dan ciri khas orang beriman.
“Lambung mereka jauh dari tempat tidur. Mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16)

(TIGA)
Salat malam adalah sebaik-baik salat setelah salat wajib sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR. Muslim)
Allah mengajarkan Nabi-Nya untuk salat malam dan mewajibkannya atas beliau di saat beliau harus mengemban beratnya beban dakwah.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit saja, (yaitu) seperduanya atau kurangilah sedikit dari seperdua itu atau tambahlah dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 1-5)

(EMPAT)
Jadi, salat malam itu membantu meringankan beban ketika menyampaikan dakwah islam kepada manusia.

Dan ini adalah bentuk persiapan. Allah mempersiapkan Nabi-Nya dengan sebaik-baik ketaatan.

(LIMA)
Salat malam adalah salah satu ciri hamba Allah yang saleh.
“… Mereka melalui malam dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)

(ENAM)
Kemuliaan seorang mukmin terletak pada salat malamnya. Tidaklah seseorang terhalang dari salat malam kecuali dia terhalang dari kebaikan.

Sebagaimana perkataan Fudhail, “Jika Anda tidak mampu salat di malam hari dan tidak pula puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa Anda terhalang dari kebaikan karena Anda terbelenggu dengan dosa-dosa Anda.”

Tidaklah seseorang meninggalkan salat malam kecuali dia adalah orang yang lalai.

(TUJUH)
Sungguh Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Barang siapa berdiri salat malam membaca sepuluh ayat, dia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai.” (HR. Abu Dawud)

(DELAPAN)
Barang siapa mengerjakan salat malam, dia tercatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah. “Barang siapa bangun malam dan dia membangunkan istrinya, kemudian mereka salat malam dua rakaat berjamaah, mereka akan tercatat sebagai laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)

(SEMBILAN)
Orang yang merutinkan salat malam berhak mendapat pujian. “Sebaik-baik orang adalah Abdullah jika dia mau salat pada sebagian waktu malam.” (HR. Bukhari)

(SEPULUH)
Salat malam adalah pembersih dari sifat munafik sebagaimana pernah dikatakan bahwa orang yang tidak salat malam adalah orang munafik.

(SEBELAS)
Salat malam mendatangkan kedekatan kepada Allah. “Sedekat-dekatnya Allah dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir.” (HR. Tirmizi)

(DUA BELAS)
Orang yang salat malam adalah salah satu dari tiga orang yang Allah cintai, Allah tertawa dan bahagia karena mereka.

“… Dan orang yang memiliki istri yang cantik dan ranjang yang nyaman dan bagus namun dia tetap melaksanakan salat malam, Allah berfirman, “Dia meninggalkan syahwatnya dan mengingat Aku padahal apabila mau dia akan tidur.” (HR. Al-Hakim dan yang lainnya)

(TIGA BELAS)
Salat malam adalah bentuk memenuhi tuntutan syariat dan sebagai gantinya hajat Anda akan dikabulkan dan dipenuhi oleh Allah.

“Sungguh pada sebagian malam terdapat waktu yang apabila seorang muslim bisa tepat berada pada waktu itu kemudian memohon kebaikan kepada Allah untuk perkara dunia dan akhirat, niscaya apa yang dia minta akan Allah berikan. Dan waktu itu ada pada setiap malam.” (HR. Muslim)

“Barang siapa terbangun di malam hari kemudian dia mengucapkan
LAA ILAAHA IL-LALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMD WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI-ING QODIIR

ALHAMDULILLAAH WA SUBHAANALLAAH WA LAA ILAAHA ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BIL-LAAH

Kemudian dia berdoa: ALLAAHUMMAGH FIRLII
Atau dia berdoa (dengan doa bebas) niscaya akan dikabulkan doanya.

Apabila dia berwudu kemudian salat, niscaya salatnya diterima oleh Allah.” (HR. Bukhari)

Seseorang yang bangun malam dengan berzikir; yaitu ketika terbangun dia membolak-balikkan badannya, lantas tersadar kemudian berzikir kepada Allah.

(EMPAT BELAS)
Dengan salat malam dosa-dosa akan diampuni dan kesalahan-kesalahan akan dihapuskan. “Sungguh seorang hamba apabila dia bangun dan salat malam, dosa-dosanya akan didatangkan dan diletakkan di atas kepala dan pundaknya sehingga setiap kali dia rukuk dan sujud berguguranlah dosa-dosa tersebut.” (HR. Az-Zahabi dan selainnya)

(LIMA BELAS)
Diringankan urusan seseorang di hari Kiamat. Al-Auza’i berkata, “Barang siapa memperpanjang salat malamnya niscaya Allah akan mempermudah dia ketika berdiri di hari Kiamat.”

(ENAM BELAS)
Salat malam adalah sebab masuk surga. “Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan dan salatlah di malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, kamu akan masuk surga dengan selamat.” (Hadis sahih riwayat Tirmizi)

Dan Allah telah menyiapkan bagi mereka sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terbersit dalam hati manusia, sebagaimana Allah ta’ala berfirman

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan rezeki yang Kami berikan.”

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16-17)

(TUJUH BELAS)
Ada kebaikan yang banyak, nikmat yang melimpah ruah, kesenangan, kebahagiaan, kelezatan dan suka cita. Di dalam surga terdapat ruangan yang nampak bagian luarnya dari dalam dan terlihat bagian dalamnya dari luar, untuk siapa? Untuk siapa? Untuk siapa?

Sahabat Nabi bertanya, “Untuk siapa semua itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Untuk mereka yang baik perkataannya, memberikan makanan dan melewati malamnya dengan salat ketika orang-orang tertidur.” (HR. Tirmizi)

(DELAPAN BELAS)
Orang yang terbiasa salat malam akan diberi pakaian dari cahaya. Barang siapa yang salat malam niscaya akan bagus wajahnya di siang hari. Nabi ‘alaihish shalatu was salaam bersabda, “Salat malamlah kalian, karena salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian.

… Sungguh salat malam adalah sebab kedekatan dengan Allah, penghenti dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan dan pengusir penyakit dari dalam tubuh.” (HR. Tirmizi)

(SEMBILAS BELAS)
Orang yang terbiasa mengerjakan salat malam pasti akan menjauhi dosa-dosa besar. Nabi ‘alaihish shalaatu was salam bersabda ketika ada yang mengabarkan kepada beliau bahwa ada seseorang yang melakukan salat malam tapi mencuri di pagi hari.

Beliau bersabda, “Sungguh salat malamnya akan mencegah dia dari perbuatan yang kau kabarkan.” Hadis riwayat Ahmad dan hadis ini sahih.

(DUA PULUH)
Salat malam membuat jiwa semangat. Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda, “Setan akan mengikat di atas tengkuk salah seorang dari kalian ketika tidur dengan tiga ikatan. …” yaitu di pangkal kepala.

“… Setan mengencangkan setiap ikatan itu (sambil berkata) ‘Malammu masih panjang, tidurlah dulu!’ Dan apabila seseorang terbangun dan berzikir kepada Allah, satu ikatan akan terlepas. Dan apabila dia berwudu akan terlepas ikatan yang lain. Dan apabila dia salat terlepaslah ikatan terakhir…

… Sehingga dia bangun dalam keadaan semangat dan bugar badannya. Namun apabila sebaliknya, dia akan bangun kehilangan kebugaran dan bermalas-malasan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Cukuplah seseorang dikatakan gagal dan buruk apabila dia tidur hingga pagi tiba. Sungguh setan telah mengencingi telinganya.

Sungguh orang saleh terdahulu (salafus saleh) telah menang dalam perlombaan di arena ini. Mereka menangis ketika hendak berpisah dengan salat malam.

Mereka bersungguh-sungguh menghidupkan malam dengan membaca al-Quran, tangisan dan khusyuk, sehingga tempat sujud mereka basah karena tetesan air mata.

“Adakah yang lebih baik daripada orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut dengan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (QS. Az-Zumar: 9)

================================================================================

وَمِنْ هَذِهِ الْأَعْمَالِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَهُوَ عِمَارَةُ مَا بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ بِالصَّلَاةِ عَلَى مَا تَيَسَّرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ وَسَطِهِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ وآخِرُهُ أَفْضَلُ

قِيَامُ اللَّيْلِ مِنْ أَعْظَمِ الطَّاعَاتِ وَأَجَلِّ الْعِبَادَاتِ رَاحَةُ الْقُلُوبِ وَجَلَاءُ الْهُمُومِ وَمُخَاطَبَةُ عَلَّامِ الْغُيُوبِ وَهُوَ يَسْمَعُكَ فِي الظُّلُومَاتِ وَأَنْتَ تُنَادِيهِ

تَسْعَدُ النُّفُوسُ بِقِيَامِ اللَّيْلِ وَيَحْصُلُ الْقُرْبُ مِنَ الرَّبِّ لِأَنَّهُ يَدْنُو فِي الثُّلُثِ الْآخِرِ مِنَ اللَّيْلِ قِيَامُ اللَّيْلِ دَأْبُ الصَّالِحِيْنِ وَشِعَارُ الْمُؤْمِنِينَ

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
السَّجْدَةُ – الْآيَةُ 16

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

أَرْشَدَ اللهُ نَبِيَّهُ إِلَيْهِ وَكَلَّفَهُ بِهِ مَعَ حَمْلِ أَعْبَاءِ الدَّعْوَةِ

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِّصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
الْمُزَمِّلُ الْآيَةُ 1 – 5

إِذَنْ قِيَامُ اللَّيْلِ يُعِينُهُ عَلَى تَحَمُّلِ الْاَعْبَاءِ فِي تَبْلِيغِ النَّاسِ دِيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَهَذَا مِنَ الْإِعْدَادِ وَاللهُ يُعِدُّ نَبِيَّهُ بِأَفْضَلِ الطَّاعَاتِ

قِيَامُ اللَّيْلِ سِيمَةُ عِبَادِ الرَّحْمَنِ
يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
الْفُرْقَانُ – الْآيَةُ 64

شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ لَا يُحْرَمُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ إِلَّا مَحْرُومٌ

كَمَا قَالَ الْفُضَيْلُ إِذَا لَمْ تَقْدِرْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ وَالصِّيَامِ النَّهَارِ فَاعْلَمْ أَنَّكَ مَحْرُومٌ كَبَلَتْكَ خَطِيئَتُكَ

لَا يَتْرُكُهُ إِلَّا غَافِلٌ وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُودَ

مَنْ قَامَ اللَّيْلَ كُتِبَ مِنَ الذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
رَوَاهُ أَبُو دَاوُودَ

صَاحِبُهُ يَسْتَحِقُّ الثَّنَاءَ نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللهِ لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

وَطَهَارَةٌ مِنَ النِّفَاقِ كَانَ يُقَالُ مَا قَامَ اللَّيْلَ مُنَافِقٌ

وَيَحْصُلُ بِهِ الْقُرْبُ مِنَ اللهِ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنَ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

الْقَائِمُ بِاللَّيْلِ مِنَ الثَّلَاثِ الَّذِينَ يُحِبُّهُمُ اللهُ وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمْ وَيَسْتَبْشِرُ

وَالَّذِينَ… وَالَّذِي لَهُ امْرَأَةٌ حَسَنَةٌ وَفِرَاشٌ لَيِّنٌ حَسَنٌ فَيَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَقُولُ يَذَرُ شَهْوَتَهُ وَيَذْكُرُنِي وَلَوْ شَاءَ رَقَدَ
رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَغَيْرُهُ

وَبِقِيَامِ اللَّيْلِ تُلَبِّي هَذَا الْمَطْلَبَ الشَّرْعِيَّ وَ تُقْضَى حَاجَتُكَ وَتُلَّبَى فِي الْمُقَابِلِ

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنَ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

الْحَمْدُ لِلهِ وَسُبْحَانَ اللهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ واللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اُسْتُجِيبَ لَهُ

فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

فَهَذَا الَّذِي يَقُومُ بِهَذَا الصَّوْتِ يَقُومُ عَلَى ذِكْرِ رَبِّهِ يَتَقَلَّبُ يَنْتَبِهُ فَيَذْكُرُ رَبَّهُ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ

بِقِيَامِ اللَّيْلِ تُغْفَرُ الذُّنُوبُ وَتُكَفَّرُ السَّيِّئَاتُ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَجُعِلَتْ عَلَى رَأْسِهِ وعَاتِقَيْهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تَسَاقَطَتْ عَنْهُ
رَوَاهُ الذّهَبِيُّ وَغَيْرُهُ

يُهَوَّنُ عَلَيْهِ الْمَوْقِفُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ الأَوْزَاعِيُّ مَنْ أَطَالَ قِيَامَ اللَّيْلِ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ الْوُقُوفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

سَبَبُ دُخُولِ الْجَنَّةِ أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوْا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

وَأَعَدَّ اللهُ لِهَؤُلَاءِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ كَمَا قَالَ تَعَالَى

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
السَّجْدَةُ الْآيَةُ 16-17

مِنَ الْخَيْرِ الْكَثِيرِ وَالنَّعِيمِ الْغَزِيرِ وَالْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ وَالْحُبُورِ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةٌ يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا لِمَنْ؟ لِمَنْ؟ لِمَنْ؟

لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَبَاتَ قَائِمًا وَالنَّاسُ نِيَامٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

يُكْسَى قَائِمُ اللَّيْلِ نُوْرًا مَنْ قَامَ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ

وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ ومَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطَرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

الْقِيَامُ اللَّيْلِ هَذَا مَنِ اعْتَادَهُ لَا بُدَّ أَنْ يَتْرُكَ الْكَبَائِرَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ قَالَ لَمَّا قِيلَ لَهُ إِنَّ فُلَانًا يُصَلِّي بِاللَّيْلِ فَإِذَا أَصْبَحَ سَرَقَ

قَالَ إِنَّهُ سَيَنْهَاهُ مَا تَقُولُ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَحَدِيثٌ صَحِيحٌ

يُنَشِّطُ النَّفْسَ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ عَلَى مُؤَخِّرَةِ الرَّأْسِ

يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ

فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

حَسْبُ الرَّجُلِ مِنَ الْخَيْبَةِ وَالشَّرِّ أَنْ يَنَامَ حَتَّى يُصْبِحَ وَقَدْ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنِهِ

وَقَدْ أَحْرَزَ السَّلَفُ قَصَبَ السَّبْقِ…قَصَبَ السَّبْقِ فِي هَذَا الْمِضْمَارِ وَكَانُوا يَبْكُونَ عِنْدَ الْاِحْتِضَارِ عَلَى فِرَاقِ قِيَامِ اللَّيْلِ

كَانُوا يَجْتَهِدُونَ فِي اللَّيْلِ قُرْآنًا وَبُكَاءً وَخُشُوعًا وَمَوَاضِعُ سُجُودِهِمْ رَطْبَةً مِنَ الدُّمُوعِ الَّتِي تَسِيلُ

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ
الزُّمَرُ – الْآيَةُ 9

Tips Sukses Belajar: 3 dari Pancaindra Ini Harus Fokus Ketika Belajar – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Tips Sukses Belajar: 3 dari Pancaindra ini Harus Fokus Ketika Belajar – Syaikh Shalih al-Ushoimi

Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sumber-sumber ilmu dan indra yang dapat mengantarkan kepada ilmu, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Tiga indra inilah yang menjadi jalan untuk mendapatkan ilmu. Maka ketika sedang belajar, kamu harus memfokuskan penglihatan, pendengaran, dan hatimu. Agar ilmu yang disampaikan kepadamu dapat menetap dalam dirimu. Maka ketika ada murid yang menghadiri pelajaran, namun memalingkan penglihatannya kesana kemari. Terkadang membolak-balikkan kitab dan melihat hadits-hadits yang akan dipelajari. Dan terkadang melihat ke kanan dan ke kiri. Terkadang menghitung lampu yang mati, yang ada di atap masjid. Maka yang seperti ini telah melemahkan kemampuan indra penglihatannya. Hal ini seperti orang yang ingin mencari angin karena kepanasan. Namun dia terus membuka dan menutup jendela berulang kali. Pada akhirnya dia menjadi lemah dari sisi penglihatan.

Berbeda dengan orang yang memfokuskan pandangannya. Pada hadits-hadits yang dibaca dan pada biografi yang disebutkan. Demikian pula dengan orang yang tidak memfokuskan pendengarannya. Maka ia juga akan lemah dalam menangkap ilmu, sesuai dengan tingkat fokus pendengarannya. Dan contoh yang paling jelas di zaman sekarang ini adalah handphone. Ketika handphone itu berdering, maka akan mengganggu pemiliknya dan orang lain dalam memfokuskan pendengaran. Dan biasanya sangat sulit bagimu untuk memalingkan pendengaran dari suara handphone itu. Dan yang lebih parah dari itu, jika dia menelpon dan mendengar apa yang dikatakan padanya. Termasuk dalam jenis ini juga, pesan suara. Terkadang ada murid ketika dalam pelajaran, dia seperti tidak menjawab panggilan telepon, namun pada hakikatnya dia menjawabnya dia membuka pesan suara, kemudian memegang handphone-nya seperti ini. Kamulah orang yang paling merugi. Karena ilmu yang kamu lewatkan, tergantung dengan pendengaran yang tidak kamu fokuskan. Terlebih lagi adalah yang terlewatkan di majelis periwayatan hadits Nabi atau periwayatan kitab. Sebab pendengaran hanya mampu fokus pada satu hal, Antara kamu mendengar apa yang dibaca dan disampaikan. Atau mendengar selain itu.

Sebagai contoh, orang yang hadir di majelis periwayatan Shahih al-Bukhari atau Kitab at-Tauhid. Kemudian ada yang menelepon dan dia mengangkatnya, lalu dia berbicara sebentar. Satu, dua, tiga, empat, atau lima menit; kemudian dia menutup teleponnya. Apakah dia mendengar periwayatan itu seluruhnya atau ada yang terlewat? Ada yang terlewat, karena ketika itu pendengarannya sibuk dengan selain apa yang dibacakan. Dengan demikian, ada yang terlewat darinya. Padahal dahulu para ulama takut terlewat darinya huruf Wawu dan Fa’ saat mendengar riwayat. Namun sekarang ada sebagian orang meminta ijazah, dan telah terlewat darinya banyak hal. Akan tetapi ditulis baginya, ‘telah mendengarkan sepenuhnya’. Pada salah satu majelis, Salah satu dari mereka memanfaatkan tempat kosong di belakang masjid. Dia datang ke sana dan tidur sejenak, sekitar satu jam. Lalu dia kembali untuk mengikuti majelis itu dan mengambil kertas yang telah tertulis padanya ‘Telah mendengar kitab ini dan ini seluruhnya: Fulan bin Fulan’. Terkadang mereka juga keluar majelis dalam waktu lama sehingga ada riwayat yang tidak mereka dengarkan. Terkadang mereka mendengar riwayat melalui handphone dan lainnya, dan dia tidak dapat mendengar dengan jelas. Namun tetap saja ditulis baginya, ‘Telah mendengarnya seluruhnya’. Meskipun hal ini tidak diketahui manusia, namun tidak dapat tersembunyi dari Tuhan seluruh manusia. Tidak ada yang mempermudah perolehan ilmu kecuali kejujuran. Imam Waki’ berkata, “Tidak ada yang dapat unggul dalam hal ini (menuntut ilmu) kecuali orang jujur.” Yang meninggikan dan merendahkan seseorang dalam ilmu adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari hadits Umar bin Khattab -radhiyallahu ‘anhu-. Bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Sesungguhnya dengan al-Qur’an ini Allah meninggikan beberapa kaum, dan dengannya merendahkan yang lain.” Yang berkuasa untuk meninggikan dan merendahkan dalam ilmu adalah Allah -Subhanahu wa Ta’ala- Jika seseorang berbuat curang dalam mendapat ilmu, maka Allah akan merendahkannya dan mendatangkan keburukan padanya di masa depan. Termasuk hal ini juga, mencerai-berai fokus indra pendengaran seperti yang telah kita jelaskan. Maka indra pendengaran harus fokus saat pelajaran. Begitu pula dengan hati yang juga harus ikut fokus saat pelajaran. Yaitu dengan memfokuskan pikiran sepenuhnya pada ucapan yang disampaikan kepadanya. Bukan dengan memfokuskan penglihatan dan pendengarannyanamun hatinya pergi entah kemana, Karena ini tidak akan berguna Sebab saat itu kemampuan indra akan melemah Dan indra yang paling berpengaruh ketika tidak fokus adalah hati Jika seseorang hadir di majelis pelajaran dengan mendengar dan melihat syeikh tanpa menoleh.

Namun saat itu dia memikirkan dalam hatinya, Saat kita keluar setelah pelajaran ini, apa yang harus aku lakukan? Kemana kita akan pergi? Bagus tidak jika kita menyisihkan waktu untuk pergi nongkrong dan minum kopi? Dimana kita akan minum kopi? Cocok tidak di tempat yang itu? Apakah cukup kopi saja atau dengan makan malam juga? Dan terus melayang-layang dengan pikiran-pikiran itu dan lainnya pada saat pelajaran. Dalam keadaan seperti itu, hatinya tidak akan fokus. Sehingga kemampuannya dalam menangkap ilmu akan melemah. Maka selain harus adanya indra untuk menangkap ilmu, indra itu juga harus fokus saat berada di majelis ilmu.

==============================================================================

ثُمَّ بَيَّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَوَارِدَ الْعِلْمِ

وَالْقُوَّةِ الْمَوْصِلَةِ إِلَيْهِ

وَهِي السَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالْفُؤَادُ

هَذِهِ الْقُوَّةُ الثَّلَاثُ هِي الَّتِي تُدْرِكُ بِهَا الْعِلْمَ

فَيَنْبَغِي أَنْ تَجْمَعَ فِي الدَّرْسِ

بَصَرَكَ وَسَمْعَكَ وَفُؤَادَكَ

حَتَّى يَسْتَقِرَّ مَا يُلْقَى إِلَيْكَ مِنَ الْعِلْمِ فِي نَفْسِكَ

فَحِيْنَئِذٍ عَنْدَمَا يَحْضُرُ الطَّالِبُ

وَيُبَدِّدُ بَصَرَهُ

فَتَارَةً يُقَلِّبُ صَفَحَاتِ الْكِتَابِ وَيَنْظُرُ الْأَحَادِيثَ الْمُسْتَقْبَلَةَ

وَتَارَةً يَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ وَيَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ

وَيُعَدِّدُ تَارَةً الْأَنْوَارَ الْمُنْطَفِئَةَ فِي شَرَائِطِ الْمَسْجِدِ فِي سَقْفِ الْمَسْجِدِ

فَمِثْلُ هَذَا قَدْ أَضْعَفَ قُوَّتَهُ الْبَصَرِيَّةَ

فَهُوَ أَشْبَهُ بِمَنْ يُرِيدُ أَنْ يَتَبَرَّدَ بِالْهَوَاءِ

وَيَفْتَحُ نَافِذَةً تَارَةً وَيُغْلِقُهَا تَارَةً أُخْرَى

فَيَحْصُلُ لَهُ ضَعْفٌ مِنْ جِهَةِ الْبَصَرِ

بِخِلَافِ مَنْ يَجْمَعُ بَصَرَهُ

عَلَى الْأَحَادِيثِ إِذَا قُرِئَتْ وَالتَّرْجَمَةِ إِذَا ذُكِرَ

وَمِثْلُهُ كَذَلِكَ إِذَا بَدَّدَ سَمْعَهُ وَفَرَّقَهُ

فَإِنَّهُ يَحْصُلُ لَهُ ضَعْفٌ فِي الْإِدْرَاكِ

بِحَسَبِ مَا يَفُوتُهُ مِنَ السَّمْعِ

وَمِنْ أَعْظَمِ مُثُلِهِ فِي الْأَزْمِنَةِ الْمُتَأَخِّرَةِ هَذِهِ الْهَوَاتِفُ الْجَوَّالَةُ

فَعَنْدَمَا يَرُنُّ الْجَوَّالُ

يُسَبِّبُ تَشْوِيشًا عَلَى صَاحِبِهِ وَعَلَى الآخَرِيْنَ فِي أسْمَاعِهِمْ

وَيَشُقُّ غَالِبًا أَنْ تَجْتَذِبَ سَمْعَكَ مِنَ الرُّكُوْنِ وَالْإِصْغَاءِ إِلَيْهِ

وَمِنْهُ وَهُوَ أَشَدُّ

أَنْ يُهَاتِفَ بِالْجَوَّالِ فَيَسْمَعُ مَا يُقَالُ إِلَيْهِ

وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ الرَّسَائِلُ الصَّوْتِيَّةُ

فَتَجِدُ بَعْضَ الطَّلَبَةِ فِي الدَّرْسِ

وَلَا يُجِيبُ عَلَى الْجَوَّالِ حَقِيقَةً وَيُجِيبُ عَلَيْهِ حُكْمًا

يُشَغِّلُ الرِّسَالَةَ الصَّوْتِيَّةَ ثُمَّ يُمْسِكُ هَاتِفَهُ بِهَذَا الشَّكْلِ

أَنْتَ الْخَاسِرُ الْأكْبَرُ

فَإِنَّهُ يَفُوتُكَ مِنَ الْعِلْمِ بِقَدْرِ مَا يَفُوتُكَ مِنَ السَّمْعِ

وَأَشَدُّهُ فَوْتًا مَجَالِسُ السَّمَاعِ فِي الْحَديثِ النَّبَوِيِّ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْكُتُبِ

فَإِنَّ قُوَّةَ السَّمْعِ وَاحدَةٌ

فَإِمَّا أَنْ تَسْتَمِعَ وَتَسْمَعَ مَا يُقْرَأُ وَيُلْقَى

وَإِمَّا أَنْ تَسْمَعَ غَيْرَهُ

فَمَثَلًا الَّذِي يَجْلِسُ فِي سَمَاعٍ لِلْبُخَارِيِّ أَوْ لِكِتَابِ التَّوْحِيدِ

ثُمَّ يُتَّصَلُ بِهِ فَيَرُدُّ وَيُكَلِّمُ شَيْئًا قَلِيلَا

كَدَقِيْقَةٍ أَوْ دَقيقَتَيْنِ وَثَلَاثٍ وَأَرْبَعٍ أَوْ خَمْسٍ ثُمَّ يُغْلِقُهُ

هَذَا حَصَلَ لَهُ السَّمَاعُ كَامِلًا أَمْ عَلَيْهِ فَوْتٌ ؟

عَلَيْهِ الْفَوْتُ لِأَنَّهُ هَذِهِ الْمُدَّةُ كَانَ سَمْعُهُ مَشْغُولًا بِغَيْرِ مَا يُقْرَأُ

فَحِيْنَئِذٍ يَكُونُ قَدْ فَاتَهُ

وَأهْلُ الْعِلْمِ كَانُوا يَتَوَقَّوْنَ فِي الْوَاوِ وَالْفَاءِ فِي فَوْتِهَا فِي السَّمَاعِ

وَالْآنَ تَجِدُ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَسْتَجِيزُ

أَنَّهُ يَفُوتُهُ أَشْيَاءٌ كَثِيرَةٌ

ثُمَّ يَكْتُبُ لَهُ سَمِعَ كَامِلًا

فَفِي أَحَدِ الْمَجَالِسِ

اِغْتَنَمَ أحَدُهُمْ وَجُودَ فَرَاغٍ فِي آخِرِ الْمَسْجِدِ

ثُمَّ ذَهَبَ فَنَامَ نَوْمَةً يَسِيرَةً تَبْلُغُ سَاعَةً

ثُمَّ رَجَعَ لِيَجْلِسَ فِي الْمَجْلِسِ

وَيَأْخُذُ وَرَقَةً مَكْتُوبٌ فِيهَا

سَمِعَ كِتَابَ كَذَا وَكَذَا كَامِلًا فُلَانٌ بْن فُلَانٍ

وَتَارَةً يَخْرُجُونَ مُدَّةً طَوِيلَةً

وَيَحْصُلُ لَهُمْ فَوْتٌ فِي السَّمَاعِ

وَتَارَةً يَسْمَعُونَ بِهَذِهِ الْهَوَاتِفِ الْجَوَّالَةِ وَبِغَيْرِهَا

وَيَكُونُ السَّمَاعُ غَيْرَ وَاضِحٍ

وَمَعَ ذَلِكَ يُكْتَبُ السَّمَاعُ الْكَامِلُ

وَهَذَا إِذَا خَفِيَ عَلَى النَّاسِ

لَا يَخْفَى عَلَى رَبِّ النَّاسِ

وَلَا يَرُوجُ فِي صَنْعَةِ الْعِلْمِ إِلَّا الصِّدْقُ

قَالَ وَكِيعٌ لَا يَرْتَفِعُ فِي هَذِهِ الصَّنْعَةِ إِلَّا صَادِقٌ

الْعِلْمُ الرَّافِعُ الْخَافِضُ فِيهِ هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَعِنْدَ مُسْلِمٍ مِنْ حَديثِ عُمَرَ بْن الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْقُرْآنِ أَقْوَامًا

وَيَخْفِضُ بِهِ آخَرِيْنَ

فَالَّذِي بِيدِهِ الرَّفْعُ وَالْخَفْضُ فِي الْعِلْمِ

هُوَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

وَإِذَا غَشَّ الْإِنْسَانُ فِيهِ وَضَعَ مِنْ نَفْسِهِ

وَلَحِقَهُ السُّوءُ فِيمَا يَسْتَقْبِلُ مِنْ أيَّامِهِ

وَمِنْ هَذَا الْجِنْسِ تَبْدِيدُ قُوَّةِ السَّمَاعِ

عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي ذَكَرْنَاهُ

فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ قُوَّةُ السَّمْعِ حَاضِرَةً

وَكَذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ قُوَّةُ الْقَلْبِ حَاضِرَةً

فَيَجْمَعُ قَلْبَهُ بِالْكُلِّيَّةِ

عَلَى الْكَلَامِ الَّذِي يُلْقَى إِلَيْهِ

فَلَا يُرْسِلُ بَصَرَهُ وَيُقْبِلُ بِأُذُنِهِ

وَالْقَلْبُ مِنْهُ فِي كُلِّ وَادٍ شَعْبَةٍ

فَهَذَا لَا يَنْفَعُ

فَالْقُوَّةُ هُنَا تَكُونُ ضَعِيفَةٌ

وَأَشَدُّ الْقُوَّةِ مَضَرَّةً إِذَا فُقِدَتْ هِي قُوَّةُ الْقَلْبِ

فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ يَحْضُرُ مَجْلِسَ الدَّرْسِ وَيَسْمَعُ وَيُبْصِرُ الشَّيْخَ وَلَا يَلْتَفِتُ

وَلَكِنَّهُ يُفَكِّرُ الْآنَ بِقَلْبِهِ

بَعْدَ هَذَا الدَّرْسِ إِذَا خَرَجْنَا كَيْفَ أُرَتِّبُ؟

أَيْنَ سَنَذْهَبُ؟

هَلْ مِنَ الْمُنَاسِبِ أَنْ يَكُونَ وَقْتٌ فَنَذْهَبُ وَنَجْلِسُ وَنَتَقَهْوَى؟

ثُمَّ أَيْنَ نَتَقَهْوَى؟

هَلْ مِنَ الْمُنَاسِبِ لِلْمَكَانِ الْفُلَاَنِيِّ؟

هَلْ تَكُونُ قَهْوَةً فَقَطْ أَمْ يَكُونُ مَعَ الْقَهْوَةِ عَشَاءٌ؟

وَسَرْحَانُ فِي الدَّرْسِ عَلَى هَذِهِ الْأَفْكَارِ أَوْ غَيْرِهَا مِنَ الْأَفْكَارِ

فَمِثْلُ هَذَا قُوَّتُهُ الْقَلْبِيَّةُ غَيْرُ مُجْتَمِعَةٍ

فَعِنْدَ ذَلِكَ يَضْعُفُ إِدْرَاكُهُ

فَلَا بُدَّ مِنْ وُجُودِ الْقُوَّةِ الْمُدْرِكَةِ لِلْعِلْمِ

حَاضِرَةً فِي مَجْلِسِ الدَّرْسِ

 

Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran?

Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran? Firman Allah (وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ) “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar”. Dia adalah Ummu Jamil yang membawa ranting pohon yang besar dan berduri. Untuk dia letakkan di jalan yang biasa dilalui Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- agar dapat menyakiti beliau. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan …

Baca selengkapnya…Siapa Nama Asli Istri Abu Lahab? Mengapa Namanya Tidak Disebut Dalam al-Quran?

Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Sebab Hilangnya Keberkahan Ilmu – Syaikh Abdussalam asy-Syuwai’ir #NasehatUlama

Masalah yang kelima: di antara perkara terbesar yang menjadi penghalang ilmu adalah ketika seseorang tidak mengamalkannya. Ketika seseorang tidak mengamalkan ilmu yang telah ia pelajari, sungguh yang demikian itu menjadi sebab tidak berkah ilmunya. Abu Abdurrahman as-Sulami berkata, “Orang-orang yang dahulu belajar dari para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan kepada kami bahwa mereka tidak akan menambah lebih dari 10 ayat sampai mereka menghafalnya, memahami isinya tentang halal dan haram, kemudian mengamalkannya.” Mengamalkan kandungannya.

Orang yang mengamalkan ilmunya adalah orang mendapat taufik, oleh sebab itu terdapat sebuah hadis dari Mutharrif dari Ibnu Abbas, diriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu Mas’ud dan selain beliau bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Ilmu itu adalah rasa takut.” (HR. Ahmad) Khasyyah, yaitu rasa takut kepada Allah azza wa jalla. Barang siapa yang mengetahui bahwa suatu transaksi adalah transaksi ribawi atau mengerti bahwa muamalah tertentu adalah bentuk suap kemudian ia meninggalkannya setelah dia mengilmuinya, orang inilah yang diberkahi ilmunya.

Orang inilah yang diberkahi ilmunya karena dia tahu kemudian meninggalkan suatu perbuatan atau dia tahu kemudian mengamalkannya. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang ahli al-Quran selayaknya dikenal menghidupkan malamnya ketika orang-orang tertidur, berpuasa ketika orang-orang tidak berpuasa, diam ketika manusia membicarakan hal yang sia-sia.” Orang yang berilmu harus terlihat pengaruh ilmu dalam dirinya. Apabila tidak nampak pengaruh ilmu pada dirinya maka dia harus menginstrospeksi diri. Artinya, sungguh ada masalah pada ilmu yang telah Anda pelajari. Muzahim pernah ditanya, “Aku memasuki sebuah negeri, siapa penduduk negeri ini yang paling berilmu?” Beliau menjawab, “Yang paling bertakwa di antara mereka.” Semakin seseorang bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, dan maksud bertakwa adalah mengamalkan ilmunya, maka dialah orang yang alim, orang berilmu yang sesungguhnya.

Adapun perkataan sebagian ulama, “Ambil ilmu dariku… adapun maksiatku tidak akan membahayakanmu.” Ini hanyalah bentuk tawadhu mereka. Akan tetapi orang yang berilmu wajib bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan secara umum para penuntut ilmu, mereka harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla. Dia hendaknya menyadari bahwa tanggung jawabnya lebih besar daripada tanggung jawab orang lain, karena orang-orang pasti memperhatikan shalat Anda ketika Anda menjadi imam, mereka akan melihat bagaimana Anda menjaga sunah ketika Anda menisbatkan diri kepada ilmu. Kesimpulannya, seseorang harus mengamalkan ilmunya agar ilmu itu mengakar kuat dan tidak berkurang atau bahkan hilang keberkahannya.

================================================================================

الْأَمْرُ الْخَامِسُ وَهُوَ مَسْأَلَةٌ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ عَوَائِقِ الْعِلْمِ وَعَدَمِ تَحْصِيلِهِ أَنْ لَا يَعْمَلَ الْمَرْءُ بِهِ

فَإِذَا لَمْ يَعْمَلِ الْمَرْءُ بِالْعِلْمِ الَّذِي تَعَلَّمَهُ فَإِنَّهُ يَكُونُ سَبَبًا لِعَدَمِ الْبَرَكَةِ فِيهِ

يَقُولُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُِّ حَدَّثَنَا الَّذِينَ كَانُوا يُقْرِئُونَنَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَتَجَاوَزُونَ عَشْرَ آيَاتٍ حَتَّى يَحْفَظُوهَا وَيَعْلَمُوا مَا فِيهَا مِنَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ وَيَعْمَلُوا بِهَا يَعْمَلُوا بِهَا

الْمَرْءُ إِذَا عَمِلَ بِعِلْمِهِ فَهُوَ الْمُوَفَّقُ وَلِذَلِكَ جَاءَ مِنْ… مِنْ حَدِيثِ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَرُوِيَ مَرْفُوعًا عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

إِنَّمَا الْعِلْمُ الْخَشْيَةُ رَوَاهُ أَحْمَدُ خَشْيَةٌ الْخَشْيَةُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ

فَمَنْ عَرَفَ أَنَّ هَذِهِ الصُّورَةَ صُورَةٌ مِنَ الرِّبَا أَوْ أَنَّ هَذَا التَّعَامُلَ تَعَامُلٌ مِنَ الرِّشَا الرِّشْوَةِ فَتَرَكَهُ بَعْدَ عِلْمِهِ فَهَذَا الَّذِي يُبَارَكُ لَهُ فِي عِلْمِهِ

هَذَا الَّذِي يُبَارَكُ لَهُ فِي عِلْمِهِ لِأَنَّهُ عَلِمَ فَتَرَكَ عَلِمَ فَعَمِلَ

يَقُولُ ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَنْبَغِي لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ أَنْ يُعْرَفَ بِلَيْلِهِ إِذَا النَّاسُ نَائِمُونَ وَيُعْرَفَ بِصَوْمِهِ إِذَا النَّاسُ مُفْطِرُونَ وَيُعْرَفَ بِسُكُوتِهِ إِذَا النَّاسُ خَائِضُونَ

صَاحِبُ الْعِلْمِ يَجِبُ أَنْ يُعْرَفَ يَجِبُ أَنْ يَظْهَرَ عَلَى آثَارِهِ إِذَا لَمْ يَظْهَرْ عَلَى آثَارِهِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُرَاجِعَ نَفْسَهُ

بِمَعْنَى أَنَّ الْعِلْمَ الَّذِي تَعَلَّمْتَهُ فِيهِ مُشْكِلَةٌ

قِيلَ لِمُزَاحِمٍ إِنِّي دَخَلْتُ بَلَدًا فَمَنْ أَعْلَمُ أَهْلِ الْبَلَدِ ؟ قَالَ أَتْقَاهُمْ

كُلَّمَا كَانَ الْمَرْءُ تَقِيًّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَعْنِي بِالتَّقِيِّ مَنْ يَعْمَلْ بِعَمَلِهِ فَهُوَ الْعَالِمُ هُوَ الْعَالِمُ حَقِيقَةً

وَأَمَّا قَوْلُ بَعْضِهِمْ خُذْ عِلْمِي وَلَا يَضُرُّكَ تَقْصِيرِي هَذَا هَذَا هَذَا مِنْ بَابِ التَّوَاضُعِ مِنْهُمْ

وَلَكِنْ يَجِبُ عَلَى الْعَالِمِ أَنْ يَتَّقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَطَالِبِ الْعِلْمِ عُمُومًا أَنْ يَتَّقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ

وَلِيَعْلَمَ أَنَّ الشَّأْنَ عَلَيْهِ أَعْظَمُ مِنَ الشَّأْنِ مِنْ غَيْرِهِ

النَّاسُ يَنْظُرُونَ لِصَلَاتِكَ إِذَا كُنْتَ إِمَامًا وَيَنْظُرُونَ لِمُحَافَظَتِكَ عَلَى السُّنَّةِ إِنْ كُنْتَ مَنْسُوبًا لِلْعِلْمِ وَطَلَبِهِ

فَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الْمَرْءِ أَنْ يُعْنَى بِالْعَمَلِ بِالْعِلْمِ لِكَيْ يَثْبُتَ وَأَنْ لَا يَنْقُصَ وَتَذْهَبَ بَرَكَتُهُ

Pelaku Dosa Besar Jadi Ulama, Apa Bisa? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pelaku Dosa Besar Jadi Ulama, Apa Bisa? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Pertanyaan: Apakah mungkin seorang menjadi ulama alim rabbani padahal dulu dia pelaku dosa besar, jika ia bertaubat? Jawabnya: Telah ada orang-orang yang menjadi alim rabbani padahal dahulu mereka terjatuh dalam kekafiran, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Bukhari berkata, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru belajar ketika mereka sudah tua.” Apabila taubat seorang hamba telah sah, dia jujur, lalu dia bersungguh-sungguh dalam mencari kesempurnaan imannya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberinya hidayah. Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah al-Hafid berkata, “Yang dinilai itu adalah kesempurnaan di akhir dan bukan pada kekurangan di awal.” Karena tidak ada seorangpun dari kita kecuali datang dengan serba kekurangan, Allah ta’ala berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan kamu tidak mengetahui sesuatupun.” (QS. an-Nahl: 78)

================================================================================

يَقُولُ هَلْ مِنَ الْمُمْكِنِ أَنْ يَكُونَ عَالِماً رَبَّانِيًّا مَنْ كَانَ يَرْتَكِبُ الْكَبَائِرَ إِذَا تَابَ؟

الْجَوَابُ قَدْ صَارَ عَالِمًا رَبَّانِيًّا مَنْ كَانَ فِي الْكُفْرِ وَهُمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ الْبُخَارِيُّ وَتَعَلَّمَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِبَارًا

فَإِذَا صَحَّتِ التَّوْبَةُ وَصَدَقَ الْعَبْدُ وَاجْتَهَدَ فِي… وَاجْتَهَدَ فِي طِلَابِ الْكَمَالَاتِ هَدَاهُ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى إِلَيْهَا

وَمِنْ هُنَا قَالَ ابْنُ تَيمِيَّةَ الْحَفِيدُ الْعِبْرَةُ بِكَمَالِ النِّهَايَةِ لَا بِنَقْصِ الْبِدَايَةِ

فَمَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا جَاءَ نَاقِصًا قَالَ تَعَالَى

وَاللهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا
النَّحْلُ – الْآيَةُ 78

Nabi Yusuf yang Menginspirasi: Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nabi Yusuf yang Menginspirasi: Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr Bab ini membahas tentang mimpi dua pemuda. Ketika Nabi Yusuf ‘alaihis salam masuk penjara. Masuk pula bersama beliau dua pemuda. Dua pemuda ini melihat pada diri Nabi Yusuf ‘alaihis salam Sifat-sifat yang sangat mulia yang menarik mereka, dan menghadirkan ketenangan dalam diri …

Baca selengkapnya…Nabi Yusuf yang Menginspirasi: Kami Melihatmu Termasuk Orang Baik – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr