Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama Dan terakhir adalah tahap ketiga, yaitu tahap setelah belajar. Jika seorang murid selesai belajar dan sebelum datang jadwal belajar selanjutnya, baik itu harian, mingguan, atau lainnya, maka hendaklah ia memperhatikan dua perkara…Hendaklah ia memperhatikan dua perkara… Pertama: Berusaha menghafal ilmu. …

Baca selengkapnya…Penuntut Ilmu Sejati: 2 Hal Penting Ini Wajib Kamu Kerjakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Apakah Boleh Menambah Lafadz Dzikir? – Syaikh Shalih al-Ushoimi #NasehatUlama

Baik, andai ada yang mengucapkan zikir, “…dan janganlah Engkau serahkan urusanku kepadaku meski hanya sekejap mata ATAU LEBIH SINGKAT DARI ITU.” (Ada yang menjawab)
“Tidak shahih dalilnya.” (Ada yang menjawab)
“Bahkan tidak ada dalilnya.”
Namun seandainya ada yang mengucapkannya. Andai ada yang menambah zikir dengan, “… atau lebih singkat dari itu.”

Apa?
Mengapa?
Apa?

(Ada yang menjawab)
“Terlalu memaksakan…”
(Ada yang menjawab)
“Seandainya itu baik, pasti diucapkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
Apa?
(Ada yang menjawab)
“Yakni harus sesuai tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…”
Biarkan kita tetapkan kaidah umumnya terlebih dahulu.
Apakah dibolehkan menambah lafazh zikir atau tidak?

Agar kita dapat menjawab ini. Kembali pada kaidah lebih penting daripada terombang-ambing dalam perkara turunannya.Oleh sebab itu, ilmu yang terbangun di atas kaidah-kaidah, akan menjauhkan orang yang membahasnya dari kesalahan. Adapun yang hanya mencermati perkara turunannya saja, ilmunya ada kecacatan. Terkadang yang ia katakan menyelisihi perkataannya di masalah lain. Sebab kaidah yang ia miliki tidak tertata.

Jadi, apa jawaban dari permasalahan kita ini?
Apa?

(Ada yang menjawab)
“Jika zikir itu lafazhnya dimaksudkan sebagai ibadah, maka boleh namun jika lafazhnya tidak dimaksudkan sebagai ibadah, maka tidak boleh…”
Bukan.
Apa?
(Ada yang menjawab)
“Yakni tidak boleh ada tambahan lafazh…”
Baiklah.
Kita atau para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang lebih banyak ilmunya?
Apa jawabannya?
Kamu, apa jawabannya?!
Kita atau para sahabat yang lebih banyak ilmunya?
Para sahabat.

Dalam ash-Shahih, Ibnu Umar ketika menyebutkan doa talbiyah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- ia berkata, “Dan aku menambah lafazhnya ‘Labbaika wa sa’daika…’” dan seterusnya.
Ia berkata, “Aku menambahnya.” Penambahan lafazh zikir telah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.
Jadi jawabannya, penambahan lafazh zikir dibolehkan.
Penambahan lafazh zikir dibolehkan…

DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi.
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti ibadah shalat)
DENGAN SYARAT:
Bukan pada zikir yang harus dibaca sesuai dengan riwayatnya, yang terikat tuntunan dari Nabi).
(Yaitu pada ibadah yang sudah ditetapkan bacaannya oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti ibadah shalat)
Seperti bacaan dalam shalat.
(Jadi bacaan shalat harus sesuai dengan tuntunan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, TIDAK BOLEH DITAMBAH)

Pada dasarnya, bacaan shalat terikat dengan tuntunan dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Adapun doa yang bersifat umum, seseorang dapat menambah lafazhnya sesuai yang ia kehendaki seseorang dapat menambahnya sesuai yang ia kehendaki…

Contoh doa yang umum seperti ucapan,…
“Subhanallah wa bihamdihi” yang dibaca di siang dan malam hari.
Baik, seandainya seseorang mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi wa atubu ilaihi” maka tambahan itu tidak terlarang. Penambahan itu tidak dilarang.

Namun zikir yang terikat dengan pembacaan pada ibadah tertentu maka pendapat yang lebih kuat, tetap harus diamalkan sesuai lafazh yang ada. Tapi penambahan lafazh itu dibolehkan (jika sesuai dengan syarat di atas), dan tidak diharuskan. Yakni bukan perkara yang dianjurkan, terlebih lagi diwajibkan. Ia boleh dilakukan, namun tidak diharuskan.
Adapun penambahan lafazh yang kita bahas di awal, tidak diperbolehkan…
Mengapa?
Karena itu adalah tambahan yang tidak benar dari sisi maknanya. seperti ucapan saudara kita tadi. Yakni jika seseorang mengucapkan, “…meski hanya sekejap mata, atau lebih singkat dari itu.” Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”
Tidak ada ungkapan “yang lebih singkat dari itu.”
Karena yang paling singkat adalah kejapan mata. Sehingga yang lebih singkat dari itu, masuk dalam cakupan kata ‘sekejap mata’
Tidak ada yang lebih singkat dari batas yang disebutkan Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Demikian.

===============================================================================

طَيِّبٌ لَوْ قَالَ قَائِلٌ

وَلا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

لَمْ تَثْبُتْ؟

لَمْ تَرِدْ أَصْلًا

لَكِنَّ الْكَلَامَ لَوْ قَالَهَا

لَوْ أَنَّهُ فِي الذِّكْرِ قَالَ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

هَا؟

لِمَاذَا؟

أَيْش؟

التَّكَلُّفُ

لَوْ كَانَ فِيهَا خَيْرٌ لَقَالَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

هَا ؟

يَعْنِي بِمَعْنَى التَّوْقِيفِيَّة

دَعَوْنَا نُقَرِّرُ أَصْلًا عَامًّا

هَلْ تَجُوزُ الزِّيَادَةُ فِي أَذْكَارِ الْأَلْفَاظِ أَمْ لَا تَجُوزُ ؟

حَتَّى نُجِيْبَ

الرُّجُوعُ إلَى الْأُصُولِ أَهَمُّ مِنَ التَّفَارِيْقِ وَالفُصُولِ

وَلِذَلِك الْعِلْمُ الْمَبْنِيُّ عَلَى قَوَاعِدَ وَأُصُولٍ

يَحْمِي الْمُتَكَلِّمَ فِيهِ مِنَ الْغَلَطِ

أَمَّا الَّذِي يَنْظُرُ إلَى أَفْرَادِ الْمَسَائِلِ يَخْتَلُّ عِلْمُهُ

فَتَارَةً يَقُولُ كَلِمَةً يُنَاقِضُهَا فِي مَوْضِعٍ آخَرَ

لِأَنَّ الْأُصُولَ عِنْدَهُ لَمْ تَنْضَبِطْ

فَلِذَلِكَ مَا الْجَوَابُ عَلَى هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ

أَيْش ؟

يَقُولُ إذَا كَانَ مُتَعَبَّدٌ بِاللَّفْظِ فَيَجُوزُ

لَكِنَّ غَيْرَ مُتَعَبَّدٍ بِاللَّفْظِ فَلَا يَجُوزُ

يَعْنِي

أَيْش ؟

يَعْنِي مَا تَجُوزُ زِيَادَةٌ

طَيِّبٌ

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمْ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟

مَا الْجَوَابُ ؟

أَنْتَ مَا الْجَوَابُ ؟

نَحْنُ أَعْلَمُ أَمِ الصَّحَابَةُ

الصَّحَابَةُ

فَابْنُ عُمَرَ فِي الصَّحِيحِ لَمَّا ذَكَرَ تَلْبِيَةَ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

قَالَ وَزِدْتُ أَنَا

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ . إلَى آخِرِ مَا ذَكَرَ

قَال زِدْتُ أَنَا

وَصَحَّتِ الزِّيَادَةُ فِي الْأَذْكَارِ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَأَتْبَاعِ التَّابِعِيْنَ

الْجَوَابُ أَنَّ الزِّيَادَةَ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ

الزِّيَادَةُ عَلَى الْأَذْكَارِ جَائِزَةٌ

بِشَرْطِ أَنْ لَا يَكُونَ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ

أَنْ لَا يَكُونُ الْمَحَلُّ مُقَيَّدًا بِمَا وَرَدَ

كَالصَّلَاةِ

فَالصَّلَاةُ الْأَصْلُ أَنَّ أَلْفَاظَهَا مُقَيَّدَةٌ بِمَا وَرَدَ

أَمَّا الدُّعَاءُ الْعَامُّ

فَهَذَا لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ

لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَزِيدَ فِيهِ مَا شَاءَ

فَمَثَلًا مِنَ الدُّعَاءِ الْعَامِّ مَثَلًا

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ

طَيِّبٌ لَو إِنْسَانٌ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

كَانَ ذَلِكَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ

كَانَ غَيْرَ مَمْنُوْعٍ مِنْهُ

لَكِنْ الْمُقَيَّدُ بِمَحَلٍّ

فَهَذَا الْأَظْهَرُ أَنَّهُ يَبْقَى عَلَى تَقْيِيدِهِ

لَكِنَّ الزِّيَادَةَ تَكُونُ حِيْنَئِذٍ جَائِزَةٌ

وَلَيْسَتْ مَطْلُوبَةً

يَعْنِي لَيْسَتْ مُسْتَحَبَّةً فَضْلاً عَنْ أَنْ تَكُونَ وَاجِبَةً

فَيَجُوز لَكِنَّ

لَكِنَّهَا غَيْرُ مَطْلُوبَةٍ

وَأَمَّا فِي هَذَا الْمَحَلِّ فَلَا

لِمَاذَا ؟

لِأَنَّهَا زِيَادَةٌ لَا تَصِحُّ مَعْنىً

كَمَا قَالَ الْأَخُ

أَنَّ إِذَا قَالَ الْإِنْسَانُ

طَرْفَةَ عَيْنٍ وَلَا أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ

لَا يُوجَدُ مَا هُوَ أَقَلُّ مِنْ ذَلِكَ

فَأَقَلُّ مَا يَكُونُ هُوَ طَرَفةُ الْعَيْنِ

فَمَا هُوَ أَقَلُّ مُنْدَرِجٌ فِي قَوْلِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ

فَلَا أَقَلَّ مِنَ الْحَدِّ الَّذِي انْتَهَى إلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

نَعَم

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

4 Bantahan Terhadap Anggapan Perintah Berhijab Hanya untuk Istri Nabi – Syaikh Shalih Alushoimi

Allah -subhanah- memerintahkan dalam al-Qur’an al-Karim para wanita untuk menutup aurat dan menetap di rumah dan melarang wanita mengumbar aurat serta mendayu-dayu saat berbicara dengan lelaki.

Dengan tujuan menghindarkan wanita dari kerusakan, dan tidak menjadi sebab fitnah.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa; maka jangan kalian tunduk dalam berbicara sehingga mengundang nafsu orang yang hatinya berpenyakit.

Dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kalian tetap di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian mengumbar aurat seperti orang Jahiliyah dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al-Ahzab: 32-33)

Penulis -rahimahullahu Ta’ala- memulainya dengan menyebutkan dalil haramnya mengumbar aurat dan besarnya bahayanya.

Beliau menyebutkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Hai isteri-isteri Nabi, kalian tidaklah seperti wanita yang lain…”
Ayat dari surat al-Ahzab. Banyak orang yang menganggap bahwa ayat ini hanya khusus ditujukan bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga tidak dapat diterapkan sebagai hukum yang umum bagi seluruh istri kaum mukmin. Dan anggapan ini terbantahkan, melalui empat bantahan.

BANTAHAN PERTAMA:
Kandungan dari keseluruhan ayat ini…
Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.”
Perintah-perintah ini merupakan hukum-hukum yang umum tidak hanya berlaku bagi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini menunjukkan bahwa perintah dalam ayat ini dan juga larangannya, berlaku bagi seluruh kaum wanita.
Adapun para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan secara khusus, sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka, sebab mereka wanita yang paling utama untuk mendapat hal-hal yang sempurna itu.

Ini sama seperti perintah Allah -‘Azza wa Jalla- kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- melalui firman-Nya: “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah.” Atau firman-Nya, “Bersabarlah seperti kesabaran para rasul ulul azmi,” yang disebutkan dalam ayat lain.

Penyebutan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada perintah itu, untuk memuliakan beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

BANTAHAN KEDUA:
Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan sebab larangan itu dengan berfirman, “Sehingga timbul nafsu pada orang yang ada penyakit dalam hatinya.”
Dan sebab ini tidak hanya terjadi terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Namun sebab ini dapat terjadi pada setiap perbincangan yang terjadi antara lelaki dan wanita.
Dan salah satu kaidah ushul fiqih disebutkan: “Keumuman sebab mengharuskan keumuman hukumnya bagi semua orang.”
Sebagaimana dikhawatirkan timbulnya nafsu dari orang yang ada penyakit dalam hatinya terhadap para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, kekhawatiran ini juga dapat timbul terhadap wanita selain istri beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-

BANTAHAN KETIGA:
Penyebutan perintah kepada para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal mereka begitu menjaga kehormatan dan kesucian, menunjukkan bahwa wanita selain mereka juga masuk bersama mereka dalam perintah ini. Sebab wanita lain tidak setara dengan para istri Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam tingkat kesucian dan kehormatan, serta keselamatan dari sebab kesesatan dan perbuatan hina.

BANTAHAN KEEMPAT:
Bahwa perintah dan larangan ini jika diturunkan pada abad pertama, di zaman para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, padahal ketakwaan mereka begitu tinggi dan keadaan mereka begitu sempurna, maka penerapan hukum ini terhadap umat di zaman setelahnya lebih layak dan lebih utama.

Demikian.

================================================================================

وَقَدْ أَمَرَ اللهُ سُبْحَانَهُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ

بِتَحَجُّبِ النِّسَاءِ وَلُزُوْمِهِنَّ الْبُيُوتَ

وَحَذَّرَ مِنَ التَّبَرُّجِ وَالْخُضُوعِ بِالْقَوْلِ لِلرِّجَالِ

صِيَانَةً لَهُنَّ عَنِ الْفَسَادِ وَتَحْذِيْرًا لَهُنَّ مِنْ أَسْبَابِ الْفِتْنَةِ

وَقَالَ تَعَالَى يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ

لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيّةِ الْأُولَى

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ . الْآيَةَ

بَدَأَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

فِي ذِكْرِ الْأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى حُرْمَةِ التَّبَرُّجِ

وَعَظِيْمِ خَطَرِهِ

فَأَوْرَدَ قَوْلَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ

الْآيَةَ مِنْ سُورَةِ الْأَحْزَابِ

وَهَذِهِ الْآيَةُ تَوَهَّمَ مُتَوَهِّمُوْنَ

أَنَّهَا مُخْتَصَّةٌ بِأَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَلَا تَصْلُحُ أَنْ تَكُونَ حُكْمًا عَامًّا

لِنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ

وَهَذَا الَّذِي تَوَهَّمُوْهُ مَرْدُوْدٌ

مِنْ أَرْبَعَةِ وُجُوهٍ

فَالْوَجْهُ الْأَوَّلُ تَمَامُ الْآيَةِ

إِذْ فِيهِ قَوْلُهُ تَعَالَى

وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِيْنَ الزَّكَاةَ

وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ

فَإِنَّ هَذِهِ الْأَوَامِرَ أَحْكَامٌ عَامَّةٌ

لَا تَخْتَصُّ بِنِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْمَأْمُورَ بِهِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ

وَالْمَنْهِيَّ عَنْهُ شَامِلٌ لِجَمِيْعِ النِّسَاءِ

وَإِنَّمَا خُصَّ نِسَاءُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْخِطَابِ

تَعْظِيْمًا لَهُنَّ

إِذْ هُنَّ أَوْلَى النِّسَاءِ

بِإِحْرَازِ هَؤُلَاءِ الْكَمَالَاتِ

كَأَمْرِهِ عَزَّ وَجَلَّ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللهَ

أَوْ قَوْلِهِ فَاصْبِرْ

كَمَا صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فِي آيٍ أُخَرَ

فَإِنَّ مُبَاشَرَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ

لِإِرَادَةِ تَعْظِيْمِهِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ

ثَانِيهَا

أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ذَكَرَ عِلَّةَ ذَلِكَ

بِقَوْلِهِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

وَهَذِهِ الْعِلَّةُ لَا يَقْتَصِرُ وُجُودُهَا

عَلَى جَنَابِ حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

بَلْ هِيَ عِلَّةٌ مَوْجُوْدَةٌ

فِي سَائِرِ مَا يَجْرِي مِنَ الْخِطَابِ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ

وَمِنْ قَوَاعِدِ الْأُصُولِ

أَنَّ عُمُومَ الْعِلَّةِ

يُوجِبُ تَعْمِيْمَهَا فِي الْأَفْرَادِ

فَكَمَا يُخْشَى مِنْ طَمَعِ

مَنْ فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ فِي حُرَمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

فَإِنَّهُ يُخْشَى مِنْهُ فِي الطَّمَعِ بِحُرَمِ غَيْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَثَالِثُهَا

أَنَّ تَوْجِيهَ الْخِطَابِ بِمَا ذُكِرَ إِلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَعَ عِفَّتِهِنَّ وَطَهَارَتِهِنَّ

دَالٌّ عَلَى أَنَّ غَيْرَهُنَّ مِنَ النِّسَاءِ

مُلْحَقٌ بِهِنَّ

فَإِنَّ النِّسَاءَ لَا يَبْلُغْنَ مَبْلَغَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مِنْ مَرَاتِبِ الطَّهَارَةِ وَالْعَفَافِ

وَالْبُعْدِ عَنْ أَسْبَابِ الْغَوَايَةِ وَالرَّدْءِ

وَرَابِعُهَا

أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ

إِذَا كَانَ وَاقِعًا فِي زَمَنِ الْقَرْنِ الْأَوَّلِ

مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَعَ مَا هُمْ عَلَيْهِ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى

وَكَمَالِ الْأَحْوَالِ

فَجَرَيَانُهُ فِي قُرُونِ الْأُمَّةِ الْأُخْرَى

أَحْرَى وَأَوْلَى

نَعَمْ

 

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama

Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama Dulu ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika menjelang ajalnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, kemudian berkata kepadanya, “Wahai pemuda, katakanlah: “Laa ilaaha illallaah (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah!)” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata …

Baca selengkapnya…Tangisan Syaikh Shalih al-Fauzan: La Ilaha Illallah yang Agung #NasehatUlama

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Nasehat yang Indah tentang Niat Baik dan Niat Buruk – Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi keadaan manusia berdasarkan niat hanya menjadi empat kelompok.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di dunia ini hanya terdapat empat jenis orang, empat kelompok manusia, ….

PERTAMA: Seseorang yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta dan ilmu sehingga dia mengerti hak Allah pada harta tersebut, dia menyambung silaturahmi dan bertakwa kepada Allah dengan harta tersebut, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.

KEDUA: Seorang hamba yang Allah berikan kepadanya ilmu namun tidak Allah berikan harta. Dia memiliki niat yang jujur. Dia berkata, ‘Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti si fulan.’ Dan dia konsisten dengan niatnya maka pahala mereka berdua sama. …

KETIGA: Seorang hamba yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya harta namun tidak Allah berikan ilmu sehingga dia berlaku sembarangan pada hartanya dan tidak pula bertakwa pada Allah dengan harta tersebut, tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan dia tidak mengerti hak Allah, maka orang ini berada pada derajat yang paling buruk. …

KEEMPAT: Seorang hamba yang tidak Allah berikan kepadanya harta dan tidak pula ilmu, dan dia berkata, ‘Seandainya saya memiliki harta, pasti aku akan berbuat seperti si fulan.’ Dan dia dengan niatnya tersebut maka dosa mereka berdua sama.”
(HR. Tirmizi)

Renungkan, wahai saudara-saudara! Dampak niat terhadap keadaan manusia! Orang pertama berniat baik dan mengamalkannya sehingga dia berada pada kedudukan yang paling utama dengan kesaksian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang kedua tidak memiliki harta namun dia memiliki niat yang baik dan berkata, “Andai kata aku memiliki harta, sungguh aku akan beramal seperti amal perbuatan orang baik ini.” Dan dia konsisten di atas niatnya sehingga pahala mereka berdua sama.

Maksudnya, dia mendapat pahala sama besarnya seperti orang yang sudah bersedekah di jalan Allah, menurut pendapat yang lebih kuat dari beberapa pendapat ulama, walaupun kedudukan orang yang sudah bersedekah tetap lebih tinggi, dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang ini berada pada kedudukan yang paling mulia.”

Adapun orang ketiga adalah orang yang Allah berikan rezeki berupa harta namun tidak dikaruniai ilmu sehingga dia berbuat sembarangan dalam hartanya, tidak membedakan yang halal dan yang haram, tidak menyambung silaturahmi, tidak mengerti hak Allah pada harta tersebut, orang ini berada pada derajat yang paling buruk.

Dan seseorang yang tidak Allah beri harta dan tidak pula ilmu namun karena dia memiliki niat buruk dan berkata, “Seandainya saya memiliki harta, sungguh aku akan berbuat seperti si fulan.” Maka dosa mereka berdua sama.

Dengarkan, wahai saudara-saudara! Ini adalah kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan dampak niat terhadap keadaan manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa tidur dalam keadaan berniat untuk kemudian bangun salat malam namun kemudian dia tertidur pulas hingga pagi tiba, ditulis baginya pahala sesuai niatnya dan tidurnya adalah sedekah dari Allah kepadanya.” (HR. An-Nasa’i)

Barang siapa yang sebelum tidur berniat bahwa dia sungguh akan bangun di akhir malam untuk salat karena Allah ‘azza wa jalla namun tertidur pulas hingga pagi hari, dia tidak bangun kecuali setelah muazin mengumandangkan azan salat Subuh, apa kabar gembira untuknya? Dituliskan baginya pahala sebagaimana yang dia niatkan.

Apabila dia berniat untuk salat sebelas rakaat, akan ditulis baginya pahala salat sebelas rakaat.

Apabila dia berniat untuk salat tujuh rakaat, akan ditulis baginya pahala salat tujuh rakaat pula.

Kemudian perhatikan kebalikannya, wahai saudara-saudara! Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila dua orang muslim bertarung dengan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh di neraka.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja masuk neraka, namun kok yang terbunuh juga masuk neraka?” Beliau bersabda, “Sungguh karena dia juga berniat sangat ingin membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika dua pedang sudah saling bertemu, masing-masing ingin membunuh saudaranya namun salah seorang dari mereka lebih duluan membunuh sehingga dia berada di neraka karena membunuh saudaranya.

Demikian juga yang terbunuh juga di neraka karena sebenarnya dia juga berniat ingin membunuh saudaranya dan telah berusaha melakukannya dengan menebaskan pedangnya ke arah saudaranya.

===============================================================================

بَلِ اسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصَرَ أَحْوَالَ النَّاسِ فِي أَرْبَعَةٍ تَتْبَعُ النِّيَّةَ

فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ أَرْبَعَةِ أَصْنَافٍ

عَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًا

وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَا عَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ وَلَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

وَعَبْدٌ رَزَقَهُ… لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

تَأَمَّلُوْا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ أَثَرَ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ الْأَوَّلُ نَوَى الْخَيْرَ وَعَمِلَ فَهُوَ بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ بِشَهَادَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَالثَّانِي لَا مَالَ عِنْدَهُ لَكِنَّ لَهُ نِيَّةً طَيِّبَةً فَيَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ هَذَا الرَّجُلِ الطَّيِّبِ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ

أَيْ أَنَّهُ يُؤْجَرُ كَمَنْ تَصَدَّقَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَلَى الرَّاجِحِ مِنْ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ وَإِنْ كَانَ الَّذِي تَصَدَّقَ أَعْلَى مِنْهُ

بِدَلِيلِ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ

وَأَمَّا الثَّالِثُ فَهُوَ رَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْ… رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي الْمَالِ لَا يَعْرِفُ حَلَالًا مِنْ حَرَامٍ وَلَا يَصِلُ بِهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْرِفُ لِلهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

وَرَجُلٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا لَكِنَّ نِيَّتَهُ خَبِيثَةٌ فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ عِنْدِي مَالًا لَعَمِلْتُ مِثْلَ فُلَانٍ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

اِسْمَعُوا أَيُّهَا الْإِخْوَةُ هَذِهِ الْبِشَارَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى أَثَرِ النِّيَّةِ فِي الْأَحْوَالِ

يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنَ اللهِ
رَوَاهُ النَّسَائِيُّ

مَنْ جَاءَ إِلَى فِرَاشِهِ وَنَوَى عِنْدَ نَوْمِهِ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ فِي آخِرِ اللَّيْلِ يُصَلِّي لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى أَصْبَحَ

مَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَالْمُؤَذِّنُ يُنَادِي لِصَلَاةِ الْفَجْرِ مَا بِشَارَتُهُ؟ يُكْتَبُ لَهُ مَا نَوَاهُ

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كُتِبَ لَهُ أَجْرُ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

إِنْ نَوَى أَنْ يُصَلِّيَ سَبْعَ رَكَعَاتٍ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ سَبْعِ رَكَعَاتٍ

ثُمَّ اُنْظُرُوا فِي الْمُقَابِلِ أَيُّهَا الْإِخْوَةُ يَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

قَالُوْا يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ أَخِيهِ
رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

سَيْفَانِ تَقَابَلَا كُلٌّ مِنْهُمَا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ فَسَبَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ الْقَاتِلُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ قَتَلَ أَخَاهُ

وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ لِأَنَّهُ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ أَخَاهُ وَقَدْ سَعَى فِي هَذَا وَشَهَرَ سَيْفَهُ عَلَى أَخِيهِ

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Nasehat Indah Syaikh bin Baz untuk Pemuda yang Menceraikan Istrinya – Syaikh Abdurrazzaq al-Badr

Sudah semestinya wanita dipahami berdasarkan sifat bawaannya, karena ini adalah sifat seorang wanita; baik itu ia seorang wanita berpendidikan tinggi, guru, atau yang lainnya.
Wanita tidak akan selamat dari kekurangan ini, oleh karena itu para suami hendaknya memperlakukan istri-istri mereka dengan memperhatikan kondisinya ini.

Dan ini adalah tabiat bawaan yang tidak mungkin dihilangkan dari dalam diri wanita.
Aku ceritakan sebuah nasehat indah dari imam Bin Baz -Semoga Allah merahmati beliau- ketika aku dulu bersama beberapa teman mengunjungi rumah beliau di Thaif, setelah salat subuh.

Ketika kami sedang bermajelis bersama beliau, seseorang menelepon beliau dan aku menduga bahwa dia adalah seorang pemuda karena aku mendengar syeikh berkata, “Wahai anakku!” Dan beliau mengulang-ulanginya.

Pemuda tersebut telah menceraikan istrinya dan aku mendengar syeikh -Semoga Allah merahmati beliau- menasehati pemuda tersebut, beliau mengucapkan nasehat yang indah, yang beliau ulangi berkali-kali.

Beliau berkata, “Wahai anakku, di dunia ini tidak ada bidadari, di dunia ini tidak ada bidadari.” Beliau ulang-ulangi perkataan ini, -Semoga Allah merahmati beliau-.

Maksudnya, seorang wanita, siapapun dia, pasti memiliki kekurangan, wanita manapun itu pasti memiliki kekurangan, tidak ada yang terbebas dari hal tersebut.

===============================================================================

إِذَنْ يَنْبَغِي أَنْ تُفْهَمَ الْمَرْأَةُ عَلَى هَذِهِ الطَّبِيعَةِ وَأَنَّ هَذِهِ حَالُ الْمَرْأَةِ حَتَّى لَوْ كَانَتْ كَمَا يُقَالُ مُثَقَّفَةً أَوْ مُتَعَلِّمَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ

لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ لَا تَسْلَمُ مِنْ هَذَا الْعِوَجِ وَيَنْبَغِي عَلَى الْأَزْوَاجِ أَنْ يَتَعَامَلُوْا مَعَ الزَّوْجَاتِ مُرَاعِيْنِ هَذَا… هَذِهِ الْحَالَة

وَهَذَا… وَهَذِهِ الطَّبِيعَةُ الَّتِي فِي الْمَرْأَةِ وَالَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْهَا

وَأَذْكُرُ فِي هَذَا الْمَقَامِ كَلِمَةً جَمِيلَةً لِلْإِمَامِ ابْنِ بَازٍ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ كُنْتُ مَعَ بَعْضِ الْإِخْوَةِ فِي زِيَارَةٍ لَهُ فِي بَيْتِهِ فِي الطَّائِفِ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ

وَكُنَّا فِي مَجْلِسِهِ فَاتَّصَلَ بِهِ مُتَّصِلٌ وَأَظُنُّهُ مِنَ الشَّبَابِ لِأَنِّي أَسْمَعُ الشَّيْخَ يَقُولُ لَهُ يَا ابْنِي وَيُكَرِّرُهَا

وَكَانَ قَدْ طَلَّقَ زَوْجَتَهُ فَسَمِعْتُ الشَّيْخَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَهُوَ يُهَاتِفُ الشَّابَّ وَيُنَاصِحُهُ قَالَ كَلِمَةً جَمِيلَةً كَرَّرَهَا مَرَّاتٍ

قَالَ لَهُ يَا… يَا بُنَيَّ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ الدُّنْيَا مَا فِيهَا حُوْرٌ عِيْنٌ يُكَرِّرُهَا رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ

يَعْنِي أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ أَيَّ امْرَأَةٍ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ فِيهَا نَقْصٌ لَا تَسْلَمُ مِنْ ذَلِكَ