Menunda-nunda Pernikahan adalah Kesalahan Besar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama


Menunda-nunda Pernikahan adalah Kesalahan Besar – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Beliau -rahimahullah- menyebutkan hadits ini dalam kitab ash-Shahih bahwa Nabi ‘alaihis shalatu wassalam pernah melihat seorang wanita, maka beliau mendatangi istrinya, Zainab,lalu beliau menunaikan hajatnya pada istrinya tersebut, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan…maka jika seseorang dari kalian melihat wanita yang membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya.”

Kecenderungan yang aku sebutkan ini, yakni kecenderungan lelaki terhadap wanita, dan kecenderungan wanita terhadap lelaki. Jika pandangan lelaki tertuju kepada seorang wanita sehingga membuatnya takjub meski pada asalnya adalah dengan menahan dan menundukkan pandangan, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Katakanlah kepada kaum lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya,…” (QS. An-Nur: 30)

Maka jika pandangannya tertuju (pada wanita)-yakni pandangan pertama yang wajib segera ia palingkan setelah itu-lalu wanita itu membuatnya takjub, rasa takjub padanya masuk ke dalam dirinya. Dan hal ini perkara normal pada seorang lelaki, yang memiliki kecenderungan ini dan tertarik pada hal seperti ini. Ini perkara yang normal. Lalu di sini Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memberi pengarahan jika seseorang masuk pada hal seperti ini. “Jika seseorang dari kalian melihat wanita dan membuatnya takjub, maka hendaklah ia mendatangi istrinya,…karena itu dapat menghilangkan apa yang ada di dalam dirinya itu.”

“Karena itu dapat menghilangkan apa yang ada di dalam dirinya itu.” Perhatikan kalimat, “Apa yang ada dalam dirinya”, karena diri seseorang…terkadang terkait dengan sesuatu.

Karena diri seseorang terkadang terkait dengan sesuatu maka hendaklah ia mendatangi istrinya. Hendaklah ia mendatangi istrinya, karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu. Dan hadits ini mengandung motivasi untuk menikah dan menyegerakannya, mempercepat pernikahan, dan menjaga kehormatan dengannya, dan melindungi diri dengannya. Oleh sebab itu, orang yang sudah menikah disebut dengan “Muhshan” (terlindungi) karena ia telah melindungi dirinya dengan pernikahan itu.

Maka pernikahan harus disegerakan, terlebih lagi dengan banyaknya fitnah yang ada. Salah satu penanggulangan yang paling baik bagi pemuda terhadap banyaknya fitnah yang terjadi adalah dengan bersegera menikah dan tidak menunda-nunda pernikahan. Dan salah satu pemahaman yang salah saat ini adalah menunda pernikahan, bahkan sebagian mereka sudah sampai usia 25 tahun dan lebih dari itu, dan ketika ditanya tentang pernikahan, ia menjawab, “Masih kecil”. Jika ditanya tentang pernikahan, ia menjawab, “Aku masih kecil”. Kenyataan ini adalah salah satu bentuk kelemahan. Perhatikanlah perkataan penting ini!

Ibnu al-Qayyim berkata tentang pembahasan tadi, “Adapun mencintai istri-istri tidaklah sesuatu yang tercela pelakunya, bahkan itu bagian dari tanda kesempurnaannya.” Itu bagian dari tanda kesempurnaan lelaki. Salah satu tanda kesempurnaan lelaki adalah dengan mempercepat dan menyegerakan nikah, dan menjaga kehormatan dirinya. Ini adalah salah satu tanda kesempurnaannya.

Dan jika seseorang tidak lagi peduli terhadap hal ini dan tidak terpaut padanya, tidak pula memiliki semangat dalam hal ini. Maka ini bentuk kekurangan dirinya. Ini bentuk kekurangan dirinya. Salah satu bentuk kesempurnaan lelaki adalah dengan menyegerakan hal ini, menyukai hal ini, dan menjaga kehormatannya, serta berusaha melaksanakannya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian dan yang layak menikah dari para budak kalian yang lelaki dan yang perempuan…Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)

Menikah adalah salah satu pintu-pintu rezeki, dan salah satu pintu-pintu kekayaan, dan salah satu pintu-pintu untuk meraih keutamaan. Ia mengandung kebaikan yang agung.

Dan kesimpulannya, Nabi ‘alaihis shalatu wassalam memberi tuntunan bahwa barangsiapa yang melihat wanita lalu ada ketertarikan dalam dirinya dan membuatnya takjub serta dirinya condong padanya dan seterusnya; maka hendaklah ia mendatangi istrinya, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu. Karena itu dapat menghilangkan apa yang ada dalam dirinya itu.

Ibnu al-Qayyim berkata, “Hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya adalah mengandung tuntunan untuk menunaikan keinginan (yang haram) dengan hal (halal) yang sejenis.

Ini adalah kaidah dalam segala perkara;sebagaimana makanan dapat menggantikan makanan lain, dan pakaian mengganti pakaian lain. Juga mengandung perintah untuk mengobati ketakjuban terhadap wanita yang menggugah syahwatnya, dengan obat yang paling manjur. Pertama-tama hanya berupa ketakjuban, lalu setelah itu syahwatnya tergugah, maka hendaklah ia berusaha memadamkan syahwat itu dengan mendatangi istrinya.

Dan ini adalah pengobatan hal tersebut dengan obat yang paling manjur yakni dengan menunaikan syahwatnya kepada istrinya, dan itu dapat memadamkan syahwatnya terhadap wanita yang membuatnya takjub itu. Dan ini juga mengandung tuntunan agar dua orang yang saling mencintai untuk menikah.

Ini juga mengandung bab lain. Jika seseorang jatuh cinta kepada wanita maka hendaklah ia berusaha menikahinya, jika rasa cintanya itu telah menguasai dirinya, dan rasa kasih sayangnya telah menguasai dirinya, maka hendaklah ia segera menikahinya. Jika ia melakukan itu dan diterima untuk menikahinya, maka itulah yang diharapkan.

Namun jika tidak diterima, maka hendaklah ia menjauhkan diri darinya. Dan Ibnu al-Qayyim -rahimahullah- telah menyebutkan sebelumnya tentang cara-cara yang sangat bermanfaat dalam perkara ini. Demikian.

———————-

أَوْرَدَ رَحِمَهُ اللهُ هَذَا الْحَدِيثَ

فِي الصَّحِيحِ عَنْ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَنَّهُ رَأَى امْرَأَةً فَأَتَى زَيْنَبَ

فَقَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا

وَقَالَ إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ

فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

هَذَا الْمَيْلُ الَّذِي أَشَرْتُ إِلَيْهِ

فِي الرَّجُلِ تِجَاهَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةِ تِجَاهَ الرَّجُلِ

إِذَا وَقَعَ نَظَرُ الرَّجُلِ

عَلَى امْرَأَةٍ

فَأَعْجَبَتْهُ

الْأَصْلَ

هُوَ كَفُّ هُوَ غَضُّ الْبَصَرِ

كَمَا قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

فَإِنْ وَقَعَ نَظَرُهُ

وَهِيَ النَّظْرَةُ الْأُولَى الَّتِي عَلَى إِثْرِهَا يُطْلَبُ مِنْهُ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ

فَأَعْجَبَتْهُ دَخَلَ إِعْجَابٌ بِهَا فِي نَفْسِهِ

وَهَذَا طَبِيعِيٌّ فِي الرَّجُلِ أَنْ يُوجَدَ فِيهِ هَذَا الْمَيْلُ وَأَنْ يَجْذِبَهُ هَذَا الْأَمْرُ

هَذَا طَبِيعِيٌّ فِي الرَّجُلِ

فَأَرْشَدَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي هَذَا الْمَقَامِ إِذَا وَقَعَ مِثْلُ هَذَا

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

انْتَبِهْ إِلَى كَلِمَةِ مَا فِي نَفْسِهِ لِأَنَّ النَّفْسَ

قَدْ يَعْلَقُ بِهَا شَيْءٌ

النَّفْسُ قَدْ يَعْلَقُ بِهَا شَيْءٌ

فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ

فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

وَهَذَا الْحَدِيثُ يَتَضَمَّنُ

إِلَى حَثٍّ

عَلَى الزَّوَاجِ وَالْمُبَادَرَةِ إِلَيْهِ

وَالْمُسَارَعَةِ عَلَيْهِ وَإِعْفَافِ النَّفْسِ بِهِ

وَتَحْصِيْنِ النَّفْسِ وَلِهَذَا يُسَمَّى الْمُتَزَوِّجُ مُحْصَنًا

لِأَنَّهُ حَصَّنَ نَفْسَهُ بِهَذَا النِّكَاحِ

فَيَحْتَاجُ إِلَى الْمُبَادَرَةِ إِلَيْهِ وَخَاصَّةً مَعَ كَثْرَةِ الْفِتَنِ

الْفِتَنُ كَثْرَتُهَا مِنْ أَنْفَعِ مَا يَكُونُ عِلَاجًا فِي هَذَا الْبَابِ أَنْ يُبَادِرَ الشَّابُّ إِلَى الزَّوَاجِ

وَأَنْ لَا يُؤَخِّرَ الزَّوَاجَ

وَمِنَ النَّظَرَاتِ الْخَاطِئَةِ الْآنَ تَأْخِيْرُ الزَّوَاجِ

حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمْ

يَبْلُغُ مِنَ الْعُمْرِ الْخَمْسَةَ وَعِشْرِيْنَ وَأَزْيَدَ مِنْ ذَلِكَ

وَإِذَا حُدِّثَ فِي الزَّوَاجِ يَقُولُ صَغِيرٌ

إِذَا حُدِّثَ فِي الزَّوَاجِ يَقُولُ مَا زِلْتُ صَغِيرًا

فَهَذَا حَقِيقَةً مِنْ الضَعْفِ

انْتَبِهْ إِلَى كَلَامٍ مُهِمٍّ

قَالَهُ ابْنُ الْقَيِّمِ فِيمَا سَبَقَ أَمَّا مَحَبَّةُ الزَّوْجَاتِ فَلَا لَوْمَ عَلَى الْمُحِبِّ فِيهِ

بَلْ هُوَ مِنْ كَمَالِهِ

هَذَا مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ

هَذَا مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ أَنْ يُبَادِرَ وَأَنْ يُسَارِعَ وَأَنْ يُعِفَّ نَفْسَهُ

هَذَا مِنْ كَمَالِهِ

وَإِذَا أَصْبَحَ غَيْرَ مُبَالٍ بِهَذَا الْأَمْر

وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ هِمَّةٌ فِي هَذَا الْأَمْرِ هَذَا مِنْ نَقْصِهِ

هَذَا مِنْ نَقْصِهِ

مِنْ كَمَالِ الرَّجُلِ أَنْ يُبَادِرَ إِلَى هَذَا الْأَمْرِ

وَأَنْ يَكُونَ مُحِبًّا لِهَذَا الْأَمْرِ وَأَنْ يُعِفَّ نَفْسَهُ

وَأَنْ يَسْعَى فِي ذَلِكَ

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ

الزَّوَاجُ مِنْ أَبْوَابِ الرِّزْقِ

وَمِنْ أَبْوَابِ الْغِنَى

وَمِنْ أَبْوَابِ تَحْصِيلِ الْفَضْلِ

وَفِيهِ خَيْرٌ عَظِيمٌ

فَالْحَاصِلُ أَرْشَدَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

مَنْ رَأَى امْرَأَةً فَوَقَعَتْ فِي نَفْسِهِ أَعْجَبَتْهُ

مَالَتْ نَفْسُهُ إِلَى آخِرِهِ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ

أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

يَقُولُ ابْنُ الْقَيِّمِ هَذَا الْحَدِيثُ فِيهِ فَوَائِدُ

مِنْهَا الْإِرْشَادُ إِلَى التَّسَلِّي عَنِ الْمَطْلُوبِ بِجِنْسِهِ

هَذِهِ قَاعِدَةٌ فِي كُلِّ بَابٍ

كَمَا يَقُومُ الطَّعَامُ مَقَامَ الطَّعَامِ وَالثَّوْبُ مَقَامَ الثَّوْبِ

وَمِنْهَا الْأَمْرُ بِمُدَاوَاةِ الْإِعْجَابِ بِالْمَرْأَةِ

الْمُوْرِثِ لِشَهْوَتِهِ بِأَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ

أَوَّلُ مَا يَكُونُ إِعْجَابٌ ثُمَّ تَثُوْرُ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ شَهْوَةٌ

فَيَحْرِصُ عَلَى إِطْفَاءِ ذَلِكَ بِأَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ

وَهَذَا مُدَاوَاةٌ لِهَذَا الْأَمْرِ بِأَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ

وَهُوَ قَضَاءُ وَطَرِهِ مِنْ أَهْلِهِ

وَذَلِكَ يَنْقُضُ شَهْوَتَهُ لَهَا أَيْ لِتِلْكَ الْمَرْأَةِ

وَهَذَا كَمَا أَرْشَدَ الْمُتَحَابَّيْنِ إِلَى النِّكَاحِ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ آخَرُ

إِذَا وَقَعَ فِي قَلْبِ الْإِنْسَانِ عِشْقٌ أَوْ مَحَبَّةٌ لِامْرَأَةٍ

فَلْيَسْعَ فِي زَوَاجِهَا إِنْ كَانَ عِشْقًا

تَمَكَّنَ مِنْ نَفْسِهِ

وَحُبًّا تَمَكَّنَ مِنْ نَفْسِهِ فَلْيُبَادِرْ إِلَى زَوَاجِهَا

فَإِنْ حَصَلَ ذَلِكَ وَقُبِلَ فَبِهَا

وَإِنْ لَمْ يُقْبَلْ فَلْيَصْرِفْهَا عَنْ نَفْسِهِ

وَابْنُ الْقَيِّمِ ذَكَرَ رَحِمَهُ اللهُ فِيْمَا تَقَدَّمَ وَسَائِلَ نَافِعَةً جِدًّا

فِي هَذَا الْبَابِ نَعَمْ

Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Penanya berkata: “Ya Syaikh kami, ahsanallahu ilaikum. Ada seseorang yang banyak menggunjing orang-orang hingga ia tidak ingat lagi nama-nama mereka, dan ia sekarang ingin bertaubat, maka bagaimana cara ia untuk bertaubat? Dan bagaimana caranya agar ia dapat membayar kezalimannya dan meminta penghalalan dari mereka? Jazakumullahu …

Baca selengkapnya…Cara Bertaubat dari Dosa Ghibah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid Ada pertanyaan: “Kita sekarang berada pada bulan Ramadan. Apa nasihat Anda terkait sedekah bagi seseorang yang memiliki kelebihan harta dan ingin menyedekahkan hartanya.” PERTAMA: (Wakaf untuk Membantu Menyebarkan Ilmu) Demi Allah, wahai saudara-saudaraku, yang aku nasihatkan adalah memberi wakaf untuk membantu menyebarkan ilmu. …

Baca selengkapnya…12 Contoh Sedekah Jariyah yang Paling Utama – Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama Wahai orang-orang yang aku cintai, aku ingin berbicara kepadamu tentang sesuatu yang dicari manusia, yang pada zaman ini banyak dari mereka mengeluh tidak memilikinya…Sesuatu yang semua orang menginginkannya; anak kecil, orang dewasa, laki-laki dan wanita. Sesuatu itu adalah KEBAHAGIAAN, yang banyak manusia pada zaman sekarang …

Baca selengkapnya…Rupanya di Sinilah Letak Kebahagiaan – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Bolehkah Ghibah Terhadap Orang yang Zalim – Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

Wanita ini bertanya, “Apa perbedaan antara ghibah dan mengeluhkan perbuatan seseorang kepada orang lain dengan menceritakan perbuatan orang yang menzaliminya hanya sekedar untuk membela diri saja, tidak lebih dari itu.”
Ghibah hukumnya haram karena Allah Ta’alā berfirman, “Dan janganlah kalian menggunjing satu sama lain. …Adakah seorang di antara kalian suka jika memakan daging saudaranya yang sudah meninggal? …Tentulah kalian akan merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dan pengertian ghibah telah dijelaskan oleh Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau,

“Ghibah itu adalah membicarakan kejelekan saudaramu yang tidak dia sukai.” (HR. Muslim)

Yakni, kejelekan yang benar-benar ada pada dirinya, sehingga hukum asal ghibah adalah haram. Di antara bentuk ghibah adalah membicarakan aib orang lain dan menceritakan apa yang telah dia lakukan, berupa perbuatan-perbuatannya yang tidak terpuji. Ini semua adalah ghibah. Dengan demikian, apa yang disebutkan oleh penanya adalah salah satu bentuk ghibah.
Ketika seorang wanita bercerita kepada temannya, “Si fulanah telah berbuat ini dan itu kepadaku.”
Bahwa si fulanah telah berkata ini dan itu tentang aku. Bahwa si fulanah telah membicarakanku dengan perkataan begini dan begitu. Ini semua adalah ghibah, tidak boleh dilakukan, walaupun menceritakan tentang kezaliman orang lain. Seseorang berkata, “Si fulanah telah menzalimi saya.” Atau dia berkata, “Si fulanah telah mengambil hak saya.”Ini juga kezaliman, ini adalah ghibah walaupun yang dikatakan benar adanya.

Dan ghibah diperbolehkan dalam beberapa kondisi, di antaranya di majelis pengadilan. Dia bisa menggugat, “Si fulan telah berbuat ini dan itu kepada saya.” Agar tergugat bisa diadili dan penggugat bisa mendapatkan haknya. Seperti ini tidak mengapa. Begitu pula ketika ada orang yang datang melamar, ketika pelamar datang. Kemudian dikabarkan tentangnya bahwa dia pernah berbuat ini dan itu atau dia sifatnya begini dan begitu.

Namun hendaknya dia berusaha menyampaikan dengan bahasa yang santun dan tidak vulgar selagi memungkinkan.  Begitu pula ketika ingin menggugurkan kesaksian saksi. Begitu pula ketika ada orang yang melakukan penyimpangan dan penyimpangan tersebut diikuti orang-orang padahal dia adalah orang yang menyelisihi kebenaran.

Kesimpulannya, hukum asal ghibah adalah haram, haram hukumnya menceritakan aib orang lain, kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat.

================================================================================

سَأَلَتْ تَقُولُ: هَلْ هُنَاكَ فَرْقٌ بَيْنَ الْغِيْبَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَشْتَكِيَ الْإِنْسَانُ لِآخَرَ

يَقُولُ مَا ظُلْمَ إِنْسَانٍ لَهُ مِنْ بَابِ فَضْفَضَةٍ فَقَطْ لَا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

الْغِيْبَةُ مُحَرَّمَةٌ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا

فَكَرِهْتُمُوهُ – الحجرات: ١٢

وَالْغِيْبَةُ فَسَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْلِهِ

هِيَ ذِكرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

يَعْنِي مِمَّا هُوَ فِيهِ وَبِالتَّالِي الْأَصْلُ فِي الْغِيبَةِ هُوَ التَّحْرِيمُ

مِنَ الْغِيْبَةِ ذِكْرُ مَعَايِبِ الْآخَرِينَ ذِكْرُ مَا فَعَلُوهُ

مِنْ أُمُورٍ غَيْرِ مُسْتَحْسَنَةٍ كُلُّ هَذَا غِيْبَةٌ

وَمِنْ ثَمَّ مَا ذَكَرَتْهُ سَائِلَةٌ هَذَا نَوْعٌ مِنْ أَنْوَاعِ الْغِيْبَةِ

عِنْدَمَا تَتَحَدَّثُ الْمَرْأَةُ عِنْدَ زَمِيلَتِهَا: فُلَانَةٌ فَعَلَتْ بِي

فُلَانَةٌ قَالَتْ فِيهِ لِي

فُلَانَةٌ تَكَلَّمَتْ فِيَّ بِالْكَلَامِ الْفُلَانِيِّ

هَذَا كُلُّهُ غِيْبَةٌ وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقَالَ حَتَّى مَسَائِلِ الظُّلْمِ

تَقُولُ فُلَانَةٌ ظَلَمَتْنِي

تَقُولُ أَنَّ فُلَانَةً أَخَذَتْ حَقِّيْ

هَذَا ظُلْمٌ هَذَا غِيْبَةٌ وَلَوْ أَنَّهُ كَانَ حَقِيقَةً

وَإِنَّمَا تَجُوزُ الْغِيْبَةُ فِي مَوَاطِنَ مِنْهَا عِنْدَمَا فِي مَجْلِسِ الْقَضَاءِ

اِشْتَكَتْ فُلَانٌ فَعَلَ بِي ذَلِكَ مِنْ أَجْلِ أَنْ يُحْكُمَ عَلَيْهِ

وَيُؤْخَذَ الْحَقُّ هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ

وَمِثْلُهُ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ مَا لَوْ تَقَدَّمَ خَاطِبٌ

فَيُقَالُ فِيهِ أَنَّهُ فَعَلَ الشَّيْءَ الْفُلَانِيَّ أَوْ كَانَ مِنْ صِفَاتِهِ كَذَا

وَيَنْبَغِي أَنْ يُقْتَصَرَ بِالتَّلْمِيحِ عَنِ التَّصْرِيحِ مَتَى أَمْكَنَ ذَلِكَ

وَهَكَذَا فِي الطَّعْنِ فِي شَهَادَةِ الشُّهُودِ

وَهَكَذَا إِذَا كَانَ هُنَاكَ مَنْ يُغَرُّ بِهِ

وَيَكُونُ هُنَاكَ مَنْ يَتَّبِعُ عَلَى طَرِيقَتِهِ وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلْحَقِّ

فَالْأَصْلُ تَحْرِيمُ الْغِيْبَةِ تَحْرِيمُ الْكَلَامِ فِي مَعَايِبِ الْآخَرِينَ

إِلَّا لِمُقْتَضٍ شَرْعِيٍّ

 

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Maksiat Membuatmu Lemah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis rahimahullah berkata, “Di antaranya, maksiat dapat melemahkan hati dan badan. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan hati maka itu sudah sangat jelas, bahkan maksiat terus melemahkan hati hingga dapat mematikan hati itu seluruhnya. Adapun tentang maksiat dapat melemahkan badan, maka sesungguhnya kekuatan seorang mukmin ada pada hatinya, sehingga semakin kuat hatinya, maka semakin kuat pula badannya.

Adapun seorang pelaku dosa, meskipun ia memiliki badan yang kuat, namun badannya akan menjadi lemah sekali ketika dibutuhkan, dan kekuatannya mengecewakannya ketika ia sangat membutuhkannya. Perhatikan saja kekuatan badan kaum Persia dan Romawi, bagaimana mereka dikecewakan kekuatan mereka sendiri saat sangat membutuhkannya, dan akhirnya dikalahkan oleh orang-orang beriman berkat kekuatan badan dan hati mereka.” Ini juga termasuk pengaruh dari maksiat yang dapat menyebabkan kelemahan bagi orang yang bermaksiat itu terhadap hati dan badannya.

Maksiat menyebabkan ‘wahn’, yakni kelemahan pada hati dan badannya. Adapun kelemahan hati maka maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba atau maksiat yang diperbuat oleh seseorang akan membuat hati menjadi berpenyakit. Membuat hati menjadi berpenyakit, karena maksiat itu adalah penyakit. Dan penyakit merupakan bentuk kelemahan. Sehingga akibat maksiat, hati menjadi berpenyakit dan lemah. Dan semakin banyak maksiat yang dilakukan maka akan bertambah pula kelemahan pada hatinya, hingga sebagaimana dikatakan penulis, sampai pada kemaksiatan itu melenyapkan kehidupan hati itu sepenuhnya. Yakni kemaksiatan itu terus menerus melemahkan kehidupan dalam hati hingga hati itu benar-benar kehilangan kehidupannya. Inilah makna ungkapan sebelumnya bahwa MAKSIAT ADALAH PENGANTAR MENUJU KEKAFIRAN. Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran; yakni maksiat itu melemahkan hati dan terus melemahkannya hingga dapat melenyapkan seluruh kehidupan dalam hati itu. Dan yang dimaksud dengan kehidupan di sini adalah kehidupan iman yang merupakan kehidupan yang hakiki. Sedangkan maksiat dapat melemahkan badan adalah karena badan mengikuti keadaan hati. Dan ini dijelaskan pada kita melalui sabda Nabi kita ‘alaihis shalatu wassalam. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, jika ia baik maka seluruh tubuh akan baik; dan jika rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itu adalah hati.” Jadi pergerakan hati akan diikuti oleh badan; jika hati itu kuat maka badan juga ikut menjadi kuat. Namun jika hati itu lemah, maka badan juga ikut menjadi lemah.

============================================================================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِي تُوْهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ

أَمَّا وَهَنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ

بَلْ لَا تَزَالُ تُوْهِنُهُ حَتَّى تُزِيْلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ

وَأَمَّا وَهَنُهَا لِلْبَدَنِ

فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ فِي قَلْبِهِ

وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ

وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ

فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ

فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ أَحْوَجَ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ

وَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ

كَيْفَ خَانَتْهُمْ أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا

وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ

هَذَا أَيْضًا مِنْ آثَارِ

الْمَعَاصِي أَنَّهَا تُسَبِّبُ الْوَهْنَ

لِلْعَاصِي فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ

تُسَبِّبُ الْوَهْنَ أَيْ الضَّعْفَ

فِي قَلْبِهِ وَبَدَنِهِ

أَمَّا وَهْنُ الْقَلْبِ

فَمَا يَقَعُ فِيهَا الْعَبْدُ

أَوْ مَا يَقَعُ فِيهِ الْمَرْءُ مِنْ مَعَاصِي

يُمْرِضُ الْقَلْبَ

يُمْرِضُ الْقَلْبَ لِأَنَّ الْمَعْصِيَةَ مَرَضٌ

وَالْمَرَضُ ضَعْفٌ وَوَهْنٌ

فَيَكُونُ الْقَلْبُ بِسَبَبِ الْمَعَاصِي مَرِيْضًا ضَعِيْفًا

وَكُلَّمَا زَادَتْ الْمَعَاصِي

زَادَ هَذَا الْوَهْنُ وَالضَّعْفُ فِي قَلْبِهِ

إِلَى أَنْ يَصِلَ كَمَا قَالَ الْمُصَنِّفُ

بِأَن تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ

يَعْنِي لَا تَزَالُ بِهِ الْمَعَاصِي

تُضْعِفُهُ أَيْ تُضْعِفُ حَيَاتَهُ إِلَى أَنْ تُذْهِبَ حَيَاتَهُ

وَهَذَا مَعْنَى مَا تَقَدَّمَ إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ

إِنَّ الْمَعَاصِي بَرِيدُ الْكُفْرِ فَالْمَعَاصِي لَا تَزَالُ تُضْعِفُ الْقَلْبَ تُضْعِفُ الْقَلْبَ

إِلَى أَنْ تُذْهِبَ عَنْهُ حَيَاتَهُ

وَالْمُرَادُ بِالْحَيَاةِ حَيَاةُ الْإِيْمَانِ

الَّتِي هِيَ الْحَيَاةُ الْحَقِيقِيَّةُ

وَإِضْعَافُهَا لِلْبَدَنِ

لِأَنَّ الْبَدَنَ تَبَعٌ لِلْقَلْبِ

وَيُوَضِّحُ لَنَا ذَلِكَ قَوْلُ نَبِيِّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً

إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ

فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

فَالْقَلْبُ فِي تَحَرُّكَاتِهِ هُوَ تَبَعٌ لِلْبَدَنِ

فَإِذَا كَانَ الْقَلْبُ قَوِيًّا

كَانَ الْبَدَنُ تَبَعًا لَهُ فِي الْقُوَّةِ

وَإِذَا كَانَ ضَعِيفًا كَانَ الْبَدَنُ

تَبَعًا لَهُ فِي الضَّعْفِ