Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Kapan waktu terbaik untuk membaca al-Quran? Kapan waktu terbaik untuk mendengar al-Quran? Dan kapan waktu terbaik untuk mentadabburi al-Quran? Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan apa yang Aku wajibkan kepadanya’.” Dan …

Baca selengkapnya…Waktu Terbaik Membaca Al-Quran – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Cara Agar Tidak Sibuk dengan Aib Orang Lain – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Penanya berkata, “Bagaimana caranya menyibukkan diri dengan aib sendiri, sehingga saya bisa meninggalkan mengurusi aib orang lain?” Jawabannya adalah dengan fokus memperhatikan diri Anda sendiri, dengan menyibukkan diri mengawasi perilaku Anda sendiri dan terus-menerus introspeksi diri (muhasabah). Karena seorang hamba ketika bisa muhasabah diri sendiri dan mencari-cari kekurangan dirinya, hal tersebut akan memalingkan dia dari mengikuti aib-aib orang lain, dan sibuk mengurusi kekurangan mereka.

Sebagaimana para Salaf -semoga Allah Ta’āla merahmati mereka- selalu muhasabah diri mereka sendiri, sehingga muhasabah ini membuat mereka tidak sempat mengurusi aib-aib orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Rabī’ bin Khuṡaim -semoga Allah merahmati beliau-, ketika beliau hendak tidur, beliau meneliti kembali amalan-amalannya, jika dia menemukan kebaikan, maka dia memuji Allah, namun jika mendapati keburukan dia bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beliau berkata, “Aku ingin saudara-saudaraku seperti ini juga, karena jika mereka mati, mati dalam keadaan taubat, dan jika terbangun, bangun dalam keadaan taubat. Dan Fuḍail bin ‘Iyaḍ mengabarkan, “Sungguh aku mengenal seseorang yang memuhasabah perkataannya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.” Ketika seperti ini keadaan mereka, di puncak muhasabah, dan kesempurnaan muraqabah (merasa diawasi Allah), hal ini menghalangi mereka dari mengurusi aib orang lain.

Dengan demikian, siapa yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka, dia akan berhenti dari mengurusi aib orang lain. Terlebih lagi jika hal tersebut dibarengi, atau dihiasi dengan iman dalam hati dan sibuk menyelami makna-makna hidayah, cahaya, iman, ihsan, ilmu, dan keutamaan-keutamaan Islam lainnya yang sempurna. Ketika itulah jiwanya akan sibuk dengan hal ini dan berpaling dari perbuatan-perbuatan rendahan, seperti mengikuti aib-aib manusia, mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka dan mencederai kehormatan mereka.

===========================

يَقُولُ هَذَا السَّائِلُ: كَيْفَ يَكُونُ الْاِشْتِغَالُ بِعُيُوبِ النَّفْسِ

حَتَّى أَتْرُكَ عُيُوبَ غَيْرِي

الْجَوَابُ أَنَّ ذَلِكَ يَكُونُ بِإِقْبَالِكَ عَلَى نَفْسِكَ

بِالْاِشْتِغَالِ بِالنَّظَرِ فِي تَطْبِيقِكَ وَدَوَامِ مُحَاسَبَتِكَ لِنَفْسِكَ

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَضْمَنَ مُحَاسَبَتَهُ إِلَى نَفْسِهِ وَتَفَقَّدَ عُيُوبَهُ

كَانَ ذَلِكَ صَارِفًا لَهُ عَنِ النَّظَرِ إِلَى تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالْاِشْتِغَالِ بِنَقَائِصِهِمْ

كَمَا كَانَ السَّلَفُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى يُدِيمُونَ مُحَاسَبَةَ أَنْفُسِهِمْ

فَتَكُفُّهُمْ هَذِهِ الْمُحَاسَبَةُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ غَيْرِهِمْ

كَمَا كَانَ رَبِيعُ بْنُ خُثَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

إِذَا أَتَى إِلَى فِرَاشِهِ نَظَرَ فِي عَمَلِهِ

فَمَا وَجَدَ مِنْ خَيْرٍ حَمِدَ اللهَ

وَمَا وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ تَابَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

وَكَانَ يَقُولُ: أُحِبُّ هَذَا لِإِخْوَانِيْ

فَإِنْ مَاتُوا مَاتُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَإِنْ قَامُوا قَامُوا عَلَى التَّوْبَةِ

وَكَانَ فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ يَقُولُ: وَإِنِّي لَأَعْرِفُ مَنْ يَعُدُّ

كَلَامَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ

فَلَمَّا كَانَتْ هَذِهِ أَحْوَالُهُمْ مِنْ تَمَامِ الْمُحَاسَبَةِ

وَكَمَالِ الْمُرَاقَبَةِ كَانَ ذَلِكَ كَافًّا لَهُمْ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

فَمَنْ سَارَ بِسَيْرِهِمْ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِمْ كَفَّهُمْ ذَلِكَ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِعُيُوبِ النَّاسِ

وَلَا سِيَّمَا إِذَا اِقْتَرَنَ بِهَذِهِ التَّقْضِيَةِ

إِذَا اقْتَرَنَ بِهَا تَحْلِيَّةُ الْقَلْبِ بِالْإِيْمَانِ

وَإِشْغَالُ النَّفْسِ بِطَلَبِ الْمَعَانِي مِنَ الْهُدَى وَالنُّورِ وَالْإِيْمَانِ

وَالْإِحْسَانِ وَالْعِلْمِ وَالْفَضَائِلِ الشَّرْعِيَّةِ التَّامَّةِ

فَحِيْنَئِذٍ تَكُونُ نَفْسُهُ مَشْغُولَةً بِهَذَا الْأَمْرِ

عَنِ الْاِلْتِفَاتِ إِلَى هَذِهِ الْحَقَارَاتِ مِنْ تَتَبُّعِ عُيُوبِ النَّاسِ

وَالنَّظَرِ فِي نَقَائِصِهِمْ وَالاِسْتِطَالَةِ فِي أَعْرَاضِهِمْ

 

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama Tafsir Ayat Kursi. Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu al-Mundzir, ayat al-Qur’an apa yang kamu hafal yang paling agung?” Ia berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’” Beliau bertanya lagi, …

Baca selengkapnya…Ayat Kursi dan Artinya (Tafsir Ayat Kursi ) – Syaikh Shalih Al-Ushaimi #NasehatUlama

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi Allah Ta’āla berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” “Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” “Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki lagi Maha Kuat dan Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58) Dan firman-Nya Subḥānahu wa …

Baca selengkapnya…Rezeki Terbaik yang Sering Dilupakan – Syaikh Shalih Al-Ushoimi

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Siapa Nama Asli Abu Lahab Mengapa Nama Aslinya Tidak Dicantumkan di al-Quran?

Firman Allah: (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) yakni telah merugi kedua tangan Abu Lahab. Dia adalah salah satu dari paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penulis -waffaqahullah- menyebutkan makna firman Allah Ta’ala (تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ) Yakni telah merugi kedua tangannya, yaitu kedua tangan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib. Dan ‘kun-yah’ dalam bahasa arab digunakan sebagai apa? Sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan. Sehingga jika kamu memanggil seseorang ‘Wahai Abu Fulan’, maka itu adalah bentuk penghormatan dan pemuliaan baginya. Dan dengan cara ini orang-orang arab memberi penghormatan saat memanggil seseorang.

Orang arab pada dasarnya tidak memberi penghormatan saat memanggil seseorang dengan menggunakan laqab (julukan) Dan laqab (julukan) sangat sedikit mereka gunakan. Namun mereka memberi penghormatan dengan menggunakan ‘kun-yah’ (yaitu menggunakan kata “abu” atau “ummu”) Lalu mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan Abu Lahab dengan kun-yahnya? Mengapa Allah menyebutnya dengan kun-yahnya, sedangkan dalam bahasa arab digunakan untuk penghormatan; padahal al-Quran juga menggunakan bahasa arab? Benar Karena nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hamba al-‘Uzza), sehingga Namanya itu tidak pantas untuk disebutkan dalam ayat ini. Baik, ada jawaban lain? Bagus! Ini dua jawaban yang lain, tinggal satu jawaban lagi.

Bagus! Kita dapat menjawab hal ini dengan empat alasan:
PERTAMA: Kun-yah Abu Lahab juga merupakan nama aslinya. Karena orang arab terkadang memanggil dengan nama asli dan terkadang dengan kun-yah dan terkadang dengan kun-yah. Seperti Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang tabi’in; Nama aslinya adalah Abu Salamah, beliau tidak memiliki nama lain. Sehingga terdapat pendapat bahwa Abu Lahab adalah nama aslinya yang berbentuk kun-yah.

KEDUA: Pada salah satu pendapat, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Dalam salah satu pendapat disebutkan, nama aslinya adalah Abdul ‘Uzza (hambanya al-‘Uzza) Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan. Sehingga namanya menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, maka hal itu tidak layak untuk disebutkan.

KETIGA: Penyebutan kun-yahnya pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Penyebutan kun-yahnya (Abu Lahab) pada saat dijelaskan keburukan keadaannya adalah sebagai hinaan baginya. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala (ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ) “Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.” (QS. Ad-Dukhan: 49) Yakni sebagai hinaan dan olokan baginya. Yakni jika kamu merasa sebagai orang yang perkasa dan mulia, maka sekarang rasakanlah azabmu ini!

KEEMPAT: Karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan, karena kata ‘Lahab’ artinya adalah “kobaran api”, karena kata ‘Lahab’ berarti “kobaran api”, karena kun-yahnya sesuai dengan azab yang dia dapatkan. Karena kata ‘Lahab’ artinya adalah kobaran api.

===============================

قَوْلُهُ تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ مِنْ أَعْمَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

ذَكَرَ الْمُصَنِّفُ وَفَّقَهُ اللهُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ

أَنَّهُ خَسِرَتْ يَدَاهُ وَهُوَ أَبُو لَهَبٍ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

وَالْكُنْيَةُ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِأَيِّ شَيْءٍ؟

لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالتَّكْرِيْمِ

فَإِذَا خَاطَبْتَ أَحَدًا قُلْتَ لَهُ يَا أَبَا فُلَانٍ هَذَا تَكْرِيْمٌ وَتَعْظِيْمٌ

وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُعَظِّمُ بِهَذَا

الْعَرَبُ مَا تُعَظِّمُ بِالْأَلْقَابِ فِيْ أَصْلِ كَلَامِهَا

فَالْأَلْقَابُ عِنْدَهُمْ قَلِيْلَةٌ وَيَزْهَدُوْنَ فِيْهَا

وَإِنَّمَا كَانُوا يُعَظِّمُوْنَ بِالْكُنْيَةِ

فَكَيْفَ يَذْكُرُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُنْيَةِ

كَيْفَ يَذْكُرُهُ بِالْكُنْيَةِ وَهِيَ فِيْ كَلَامِ الْعَرَبِ لِلتَّعْظِيْمِ وَالْقُرْآنُ عَرَبِيٌّ

نَعَمْ

لِاَنَّ اسْمَهُ عَبْدُ الْعُزَّى فَلَا يُنَاسِبُ تَعْبِيْدُهُ لِغَيْرِ اللهِ فِي الْآيَةِ

طَيِّبٌ وَغَيْرُهُ؟

طَيِّبٌ هَذِهِ وَجْهَيْنِ أُخْرَيَيْنِ طَيِّبٌ بَقِيَ وَجْهٌ وَاحِدٌ

أَحْسَنْتَ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ وَوَقَعَ ذَلِكَ لِأُمُوْرٍ أَرْبَعَةٍ

أَوَّلُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ هِيَ اسْمُهُ

فَالْعَرَبُ قَدْ تُسَمِّي بِالاِسْمِ وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ

وَقَدْ تُسَمِّي بِالْكُنْيَةِ

فَمَثَلًا أَبُو سَلَمَةَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ

مِنْ أَعْيَانِ التَّابِعِيْنَ

هَذَا اسْمُهُ أَبُو سَلَمَةَ لَيْسَ لَهُ اسْمًا آخَرَ

فَقِيْلَ إِنَّ أَبَا لَهَبٍ اسْمٌ لَهُ فِي صُوْرَةِ الْكُنْيَةِ

وَثَانِيْهَا أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى

أَنَّ اسْمَهُ فِيْمَا قِيْلَ عَبْدُ الْعُزَّى

وَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ

فَهُوَ مُعَبَّدٌ لِغَيْرِ اللهِ فَلَا يُنَاسِبُ ذِكْرَهُ

وَثَالِثُهَا أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ

أَنَّ ذِكْرَهُ بِالْكُنْيَةِ عِنْدَ بَيَانِ سُوْءِ حَالِهِ لِلْإِهَانَةِ

وَمِنْهُ قَوْلُهُ تَعَالَى ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ

ذُقْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ

عَلَى وَجْهِ التَّحْقِيْرِ وَالْمَهَانَةِ لَهُ

بِأَنَّكَ أَنْتَ إِنْ كُنْتَ تَرَى أَنَّكَ عَزِيْزًا كَرِيْمًا فَهَذَا عَذَابُكَ

وَرَابِعُهَا أَنَّ كُنْيَتَهُ أَنَّ كُنْيَتَهُ فِيْهَا مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

أَنَّ كُنْيَتَهُ مُنَاسِبَةٌ لِعُقُوْبَتِهِ

فَللَّهَبُ هُوَ اشْتِعَالُ النَّارِ

Melihat Allah di Mahsyar dan di Surga, Apa Beda Keduanya? – Syaikh Sholeh al-Ushoimi

Melihat Allah di Mahsyar dan di Surga, Apa Beda Keduanya? – Syaikh Sholeh al-Ushoimi

Salah satu bentuk keimanan kepada Allah dan kitab-kitab-Nya adalah mengimani bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di hari kiamat dengan mata kepala mereka dengan sejelas-jelasnya. Lafazh “dengan mata kepala” diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahihnya.

Dalam hadits Jarir bin Abdullah al-Bajaliy: “Kalian akan melihat Tuhan kalian dengan mata kepala kalian.” Diriwayatkan dari hadits Abu Syihab al-Hannadh, dari Ismail bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir radhiyallahu ‘anhu: Orang-orang beriman akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang mahsyar. Yakni di tempat yang luas di hari kiamat. Kemudian mereka dapat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala lagi saat di surga. Dan perbedaan antara dua kesempatan melihat Allah itu dari dua sisi.

Perbedaan antara dua kesempatan melihat Allah itu dari dua sisi:

PERTAMA:
Melihat Allah di padang mahsyar pada hari kiamat adalah sebagai bentuk ujian dan pengenalan. Melihat Allah saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah sebagai bentuk ujian dan pengenalan. Sedangkan melihat Allah saat di surga adalah sebagai bentuk kenikmatan dan pemuliaan. Sedangkan melihat Allah saat di surga… adalah sebagai bentuk karunia dan pemuliaan.

KEDUA:
Melihat Allah saat di surga khusus bagi orang-orang beriman. Melihat Allah saat di surga khusus bagi orang-orang beriman.
Sedangkan saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah bagi orang-orang beriman dan yang lainnya. Sedangkan saat di padang mahsyar pada hari kiamat adalah bagi orang-orang beriman dan yang lainnya menurut pendapat yang paling benar dari para ulama Ahlussunnah. Karena itu adalah bentuk ujian dan pengenalan. Sehingga terjadi pada seluruh makhluk. Sedangkan kenikmatan dan pemuliaan adalah khusus bagi orang-orang beriman. Sehingga hanya diistimewakan bagi mereka saja ketika di surga.

=================================================

مِنَ الْإيمَانِ بِاللهِ وَبِكُتُبِهِ

الْإيمَانُ بِأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

عِيَانًا بِأَبْصَارِهِمْ بِلَا خَفَاءٍ

وَقَدْ ثَبَتَ هَذَا اللَّفْظُ عِيَانًا عِنْدَ الْبُخَارِيِّ فِي صَحِيحِهِ

فِي حَديثِ جَرِيرٍ بْن عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا

رَوَاهُ مِنْ حَديثِ أَبِي شِهَابٍ الحَنَّاضِ

عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْن أَبِي خَالِدٍ عَنْ قَيسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ

عَنْ جَرِيرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

فَيَرَوْنَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ

أَيْ مُتَّسَعَاتِهَا

ثُمَّ يَرَوْنَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي الْجَنَّةِ

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الرُّؤْيَتَيْنِ مِنْ وَجْهَينِ

وَالْفَرْقُ بَيْنَ الرُّؤْيَتَيْنِ مِنْ وَجْهَينِ

أَحَدُهُمَا أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

هِي رُؤْيَةُ امْتِحَانٍ وَتَعْرِيفٍ

أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

هِي رُؤْيَةُ امْتِحَانٍ وَتَعْرِيفٍ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ

فَهِي رُؤْيَةُ إِنْعَامٍ وَتَشْرِيفٍ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ

فَهِي رُؤْيَةُ إِنْعَامٍ وَتَشْرِيفٍ

وَالْآخَرُ أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ تَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

أَنَّ الرُّؤْيَةَ الَّتِي تَكُونُ فِي الْجَنَّةِ تَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

فَهِي مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَغَيْرِهِمْ

أَمَّا الرُّؤْيَةُ الَّتِي تَكُونُ فِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

فَهِي مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَغَيْرِهِمْ

فِي أَصَحِّ أَقْوَالِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ

لِأَنَّهَا لِلْاِمْتِحَانِ وَالتَّعْرِيفِ

وَهُوَ وَاقِعٌ عَلَى جَمِيعِ الْخَلْقِ

أَمَّا الْإِنْعَامُ وَالتَّشْرِيفُ فَيَخْتَصُّ بِالْمُؤْمِنِينَ

فَيَكُونُ لَهُمْ فِي الْجَنَّةِ دُونَ غَيْرِهِمْ