4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama Beberapa perkara yang dapat membantu menyelamatkan diri dari berbagai fitnah maksiat, terkhusus lagi perbuatan zina. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini. Saya punya materi khutbah jumat tentang ini, yang aku sarikan dari kisah (Nabi Yusuf). Saya kira ada tujuh perkara penting yang dapat …

Baca selengkapnya…4 Perkara yang Membantumu Menjauhi Maksiat – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ini Contoh Pelit Dalam Berdoa. Jangan Lakukan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Dalam hal memohon kebutuhan dalam perkara agama dan duniawi, janganlah kamu sekali-kali merasa perkara itu terlalu besar, atau merasa itu terlalu banyak bagi dirimu. Sebagian orang, pelit terhadap dirinya sendiri saat berdoa, dan menganggap beberapa perkara terlalu banyak untuk dirinya.

Saya buatkan satu contoh, meskipun banyak sekali contoh dalam hal ini, namun saya cukup buatkan satu contoh yang menjelaskan pelitnya sebagian orang terhadap dirinya sendiri saat berdoa. Karena begitu pelitnya seseorang terhadap dirinya saat berdoa dan merasa kebaikan terlalu banyak dan terlalu besar untuk dirinya, sebagian orang mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau agar memasukkan aku ke dalam surga, meski hanya di depan pintunya.” Ini orang yang pelit terhadap diri sendiri!

Perhatikan doa yang diucapkan orang ini, dan perhatikan tuntunan dari Nabi dalam berdoa. Nabi ‘alaihis shalatu wassalam bersabda, “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, …” “Jika kalian meminta surga kepada Allah, maka mintalah surga al-Firdaus al-A’la, … karena ia adalah surga yang paling tinggi dan paling tengah. Dan di atasnya terdapat ‘arsy Allah.”

Maka janganlah seseorang merasa permintaannya terlalu besar atau kebutuhannya terlalu besar, namun mintalah kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh dan hati yang yakin dalam meminta kebaikan dunia dan akhirat. Meminta dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam permintaan dan permohonannya. Dan tidak ada yang dianggap besar oleh Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada yang susah bagi Allah Jalla wa ‘Ala.

============================================

فَفِي بَابِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ الدِّينِيَّةِ وَالدُّنْيَوِيَّةِ

إِيَّاكَ أَنْ تَتَعَاظَمَ أَمْرًا

أَوْ تَتَكَاثَرَ شَيْئًا عَلَى نَفْسِكَ

بَعْضُ النَّاسِ يَبْخَلُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَيَتَكَاثَرُ أُمُورًا عَلَى نَفْسِهِ

أَضْرِبُ مِثَالًا وَإِنْ كَانَتِ الْأَمْثِلَةُ كَثِيرَةً

لَكِنْ أَضْرِبُ مِثَالًا

يُوَضِّحُ لَنَا بُخْلَ بَعْضِ النَّاسِ

عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

مِنْ بُخْلِ بَعْضِ النَّاسِ عَلَى نَفْسِهِ فِي الدُّعَاءِ

وَتَكَاثُرِ الْخَيْرِ عَلَى نَفْسِهِ وَتَعَاظُمِهِ

بَعْضُهُمْ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ وَلَوْ عِنْدَ بَابِهَا

هَذَا بَخِيلٌ عَلَى نَفْسِهِ

اُنْظُرْ مَا يَقُولُ هَذَا

وَانْظُرْ تَوْجِيْهَ النَّبِيِّ

النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَقُولُ إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا

الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ الْجَنَّةَ فَاسْأَلُوا الْفِرْدَوْسَ الْأَعْلَى

فَإِنَّهُ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَوَسَطُ الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ

فَلَا يَتَعَاظَمُ الْإِنْسَانَ مَطْلَبٌ

وَلا يَتَعَاظَمُ حَاجَةٌ

بَلْ يَسْأَلُ اللهَ جَلَّ وَعَلَا بِصِدْقٍ وَقَلْبٍ ثَبْتٍ

مِنْ خَيْرَاتِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

صَادِقًا مُلِحًّا عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

فِي سُؤَالِهِ وَطَلَبِهِ

وَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ

وَلَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ جَلَّ وَعَلَا

 

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Akhlakul Karimah Perlu Latihan! – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Penulis—rahimahullah—berkata, “Dan salah satu sebabnya adalah dengan melatih diri untuk mengamalkan akhlak mulia ini, dan berupaya membiasakan diri pada setiap keadaan yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan akhlak yang mulia ini.” Ini juga merupakan bab yang sangat penting dalam meraih akhlak yang mulia. Berakhlak mulia itu harus dilatih! Terkadang, kamu melihat orang yang lemah badannya, lalu selang beberapa waktu ternyata badannya berubah menjadi kuat dan bergairah. Lalu kamu bertanya kepadanya rahasianya. Dia menjawab, “Aku membiasakan diri berolahraga sehingga badanku menjadi kuat.” Kamu lihat ada orang yang lemah dalam berhitung (matematika), lalu selang beberapa lama ternyata ia menjadi mahir berhitung. Kamu bertanya padanya, dan dia menjawab, “Aku berlatih berhitung, … sehingga aku menjadi mahir.”

Demikian juga dalam akhlak mulia. Akhlak mulia juga perlu dilatih, perlu latihan dan pembiasaan diri. Oleh sebab itu, sebagian orang-orang cerdas dalam perkara seperti ini, jika mendapati suatu keadaan yang tidak ia sukai, maka ia segera menganggap dirinya sedang berada di medan untuk melatih akhlak mulia. Ia menganggap dirinya sedang berada di arena latihan untuk berakhlak mulia. Dan seakan-akan orang yang memancing kemarahannya itu adalah bahan latihan baginya untuk berakhlak mulia, dan objek untuk membiasakan akhlak mulia. Sehingga caranya bersikap menjadi berubah, karena latihan dan pembiasaan diri, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan menjadikan seseorang memiliki akhlak mulia.

Dan ini adalah salah satu bentuk berjihad melawan hawa nafsu. “Dan orang-orang yang berjihad mencari keridhaan Kami, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)

==========================

قَالَ رَحِمَهُ اللهُ

وَمِنَ الْأَسْبَابِ رِيَاضَةُ النَّفْسِ وَتَمْرِيْنُهَا

عَلَى هَذِهِ الْأَخْلَاقِ

وَتَوْطِيْنُهَا عَلَى كُلِّ سَبَبٍ

يُدْرِكُ بِهِ هَذَا الْخُلُقَ الْفَاضِلَ

وَهَذَا أَيْضًا بَابٌ مُهِمٌّ جِدًّا فِي كَسْبِ الْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ

الْأَخْلَاقُ لاَ بُدَّ فِيهَا مِنْ رِيَاضَةٍ

أَحْيَانًا تَرَى شَخْصًا ضَعِيفَ الْبَدَنِ

ثُمَّ تَرَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِبَدَنِهِ نَشِيْطٌ وَقَوِيٌّ

تَسْأَلُهُ

يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ فَأَصْبَحَ بَدَنِي قَوِيًّا

تَرَى شَخْصًا ضَعِيفًا فِي الْحِسَابِ وَالْعَدِّ

ثُمَّ تَلْقَاهُ بَعْدَ مُدَّةٍ وَإِذَا بِهِ مَاهِرٌ

فَتَسْأَلُهُ يَقُولُ مَارَسْتُ الرِّيَاضَةَ رِيَاضَةَ الْحِسَابِ

حَتَّى أَصْبَحْتُ مَاهِرًا

وَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ فِي حُسْنِ الْخُلُقِ

الْخُلُقُ يَحْتَاجُ إِلَى رِيَاضَةٍ

إِلَى تَمْرِينٍ تَدْرِيبٍ لِلنَّفْسِ

وَلِهَذَا بَعْضُ الْأَكْيَاسِ الْفَطِنِيْنَ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَقَامِ

إِذَا جَاءَ فِي مَوْقِفٍ

وَكَانَ فِي سُوءِ تَعَامُلٍ مَعَهُ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ فَوْرًا أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

يَفْتَرِضُ نَفْسَهُ أَنَّهُ فِي مَيْدَانٍ لِلتَّدَرُّبِ عَلَى حُسْنِ الْخُلُقِ

وَكَأَنَّ هَذَا الْخَصْمَ الَّذِي أَثَارَهُ

يَتَدَرَّبُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

وَيَتَمَرَّنُ عَلَيْهِ حُسْنُ الْخُلُقِ

فَتَتَغَيَّرُ طَرِيقَتُهُ فِي التَّعَامُلِ لِأَنَّ التَّمْرِيْنَ وَالتَّدْرِيْبَ لِلنَّفْسِ

بِإِذْنِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يُكْسِبُ الْإِنْسَانَ حُسْنَ الْخُلُقِ

وَهُوَ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْمُجَاهَدَةِ لِلنَّفْسِ

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

 

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Empat Bahagia & Sengsara di Dunia – Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily #NasehatUlama

Bab tentang kebahagiaan. Di antara faktor lahiriyah terbesar yang bisa mendatangkan kebahagiaan, adalah apa yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, “Empat perkara yang membahagiakan.”

“Empat perkara yang membahagiakan:

(1) istri yang salihah,

(2) tempat tinggal yang luas,

(3) tetangga yang baik, dan

(4) kendaraan yang nyaman.

Sedangkan empat perkara yang menyengsarakan:

(1) tetangga yang buruk,

(2) istri yang tidak salihah,

(3) tempat tinggal yang sempit, dan

(4) kendaraan yang tidak baik.” (HR. Ibnu Hibban)

Empat hal yang menjadi sebab kebahagiaan seseorang, jika dia mendapatkannya di dunia.

(ISTRI SALIHAH)
Istri salihah atau pasangan yang baik. Letak kebahagiaannya adalah ketika Anda memandangnya, Anda merasa senang. Jika Anda mendengar perkataannya, hati Anda bahagia.Jika Anda pergi meninggalkannya, dia menjaga kehormatan dirinya dan harta Anda. Seperti itulah istri salihah yang merupakan aset kebahagiaan di dunia.

(TEMPAT TINGGAL YANG LAPANG)
Di antara sebab kebahagiaan adalah tempat tinggal yang lapang,
yang lengkap fasilitasnya, sehingga seseorang bisa tenang beristirahat di dalamnya.

(TETANGGA YANG BAIK)
Kemudian, di antara sebab kebahagiaan adalah tetangga yang baik, yang jika melihat kebaikan akan menyebarkannya dan mengajak orang untuk melakukannya, dan jika melihat keburukan, dia menutupinya, dan mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tetangga yang menginginkan kebaikan untuk tetangganya, sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya. Orang yang memuliakan tetangganya lebih berharga daripada harta benda dunia. Sehingga, tetangga yang baik adalah salah satu faktor terbesar kebahagiaan di dunia.

(KENDARAAN YANG NYAMAN)
Kemudian, kendaraan yang nyaman, yang dengannya Anda mendapatkan apa yang Anda butuhkan, dan mengantarkan Anda ke tempat-tempat yang Anda inginkan, dan berkumpul dengan orang lain, dan teman-teman Anda. Barang siapa dikaruniai empat hal ini, sungguh dia telah mendapat faktor-faktor kebahagiaan lahiriyah di dunia. Adapun orang yang tidak mendapatkannya, sehingga diuji dengan istri yang buruk rupa dan perangainya, yang jika dia memandangnya, hanya menambah keruh jiwanya. jika mendengar ucapannya, hanya mendapati kata-kata buruk dan lisan yang tajam. Jika dia meninggalkannya, dia selalu khawatir dengan hartanya dan keburukan istrinya. Kemudian, orang yang diuji dengan tetangga yang buruk, yang menutupi kebaikan dan menyebarkan keburukan, sehingga jika dia tidak menemukan keburukan tetangganya, akan mengada-adakan fitnah dan menambah-nambah keburukan tentangnya. Demi Allah, ini adalah kesengsaraan! Lalu, orang yang diuji dengan tempat tinggal yang sempit, sehingga dia tidak bisa mendapatkan keinginan dalam hidupnya, karena hal itu mempersempit kehidupannya. Selanjutnya, orang yang diuji dengan kendaraan yang buruk, dia tidak bisa mencapai tujuannya, terhambat di tengah jalan, dan terlambat dalam pertemuannya. Semua hal ini akan menyebabkan kesengsaraan baginya di dunia.

===============================================================================

بَابُ السَّعَادَةِ

وَمِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْحِسِّيَّةِ لِلسَّعَادَةِ

مَا أَخْبَرَنَا بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاوَةِ

الْجَارُ السُّوءُ وَالْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ

أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ إِذَا وُجِدَتْ فِي دُنْيَاهُ

الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ

وَسَعَادَتُهَا أَنَّكَ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ

وَإِذَا سَمِعْتَ كَلَامَهَا طَيَّبَتْ قَلْبَكَ

وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا أَمِنْتَهَا عَلَى نَفْسِهَا أَمِنْتَهَا عَلَى مَالِكَ

فَتِلْكَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ كَنْزُ السَّعَادَةِ فِي الدُّنْيَا

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ

كَثِيرُ الْمَرَافِقِ الَّذِي يَرْتَاحُ فِيهِ الْإِنْسَانُ

وَمِنْ أَسْبَابِ السَّعَادَةِ الْجَارُ الصَّالِحُ

الَّذِي إِذَا رَأَى خَيْرًا نَشَرَهُ وَشَجَّعَ عَلَيْهِ

وَإِذَا رَأَى سُوءًا سَتَرَهُ وَأَمَرَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

جَارٌ يُحِبُّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

جَارٌ إِكْرَامُهُ لِجَارِهِ أَطْيَبُ عِنْدَهُ مِنْ كُنُوزِ الدُّنْيَا

فَالْجَارُ الصَّالِحُ مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ سَعَادَةِ الدُّنْيَا

وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

الَّذِي يُحَقِّقُ لَكَ مَقْصُودَكَ

وَيُوصِلُكَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي تُرِيدُهُ

وَتَكُونُ مَعَ النَّاسِ مَعَ رِفْقَتِكَ

فَمَنْ رُرِقَ هَذَا فَقَدْ رُرِقَ أَسْبَابَ السَّعَادَةِ الْحِسِّيَّةِ فِي الدُّنْيَا

أَمَّا مَنْ حُرِمَ ذَلِكَ فَكَانَتْ لَهُ امْرَأَةُ سَوءٍ وَسُوءٍ

إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا لَمْ يَرَ إِلَّا مَا يُكَدِّرُهُ

وَإِذَا اسْتَمَعَ إِلَيْهَا لَمْ يَسْتَمِعْ إِلَّا لِقَوْلٍ بَغِيضٍ وَلِسَانٍ سَلِيطٍ

وَإِذَا غَابَ عَنْهَا خَافَ عَلَيْهَا مِنْهَا وَخَافَ عَلَى مَالِهِ مِنْهَا

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِالْجَارِ السُّوءِ

الَّذِي يَدْفِنُ الْمَحَاسِنَ وَيُظْهِرُ الْمَسَاوِئَ

إِنْ لَمْ يَجِدْ سَيِّئَةً لِجَارِهِ كَذَبَ عَلَى جَارِهِ

وَأَضَافَ إِلَيْهِ السَّيِّئَاتِ فَذَاكَ الشَّقَاءُ وَاللهِ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَسْكَنٍ ضَيِّقٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ لَهُ فِي حَيَاتِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُضَيِّقُ عَلَيْهِ حَيَاتَهُ

وَمَنِ ابْتُلِيَ بِمَرْكَبٍ سُوءٍ

لَا يُحَقِّقُ الْمَقْصُودَ يَقْطَعُ الْإِنْسَانَ فِي الطَّرِيقِ وَيُؤَخِّرُهُ عَنْ رِفْقَتِهِ

فَإِنَّ هَذَا يُسَبِّبُ شَقَائَهُ فِي الدُّنْيَا

 

 

Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Sabarlah Pada Tiga Hal Ini Maka Kau Bahagia – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Kemudian beliau berkata, “Dan bersabarlah dalam menjauhi maksiat, menerima takdir-Nya, dan dalam ketaatan kepada-Nya, agar kamu bahagia.” Dalam bait yang indah ini, beliau menyebutkan tiga jenis kesabaran. Sabar ada tiga jenis:

(1) sabar dalam ketaatan,

(2) sabar dalam menjauhi maksiat, dan

(3) sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Demikianlah, beliau kumpulkan tiga jenis kesabaran dalam bait ini.

(SABAR MENJAUHI MAKSIAT)
“Bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan,” ini jenis pertama. Maksudnya, “Tahan dan larang dirimu dari berbuat maksiat.” Setiap kali jiwamu ingin berbuat maksiat, larang ia, takut-takuti ia dengan Allah, dan ingatkan ia tentang-Nya dan bahwa Dia mengawasi dan melihatmu. Bersabarlah! Karena barang siapa berusaha bersabar, niscaya Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali dirimu ingin bermaksiat, sabarkan ia! “Wahai jiwa, bersabarlah! Bersabarlah, karena kematian teramat dekat!” Sebagian orang tidak mampu bersabar menjauhi maksiat, hingga dia mati saat bermaksiat kepada Allah. Banyak sekali, orang meninggal dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, padahal orang yang berusaha bersabar, pasti Allah akan membuatnya mampu bersabar. Setiap kali jiwa ingin melakukan maksiat, katakan “Bersabarlah, wahai jiwa! Bersabarlah, agar kau mendapat hasil yang terpuji!” “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 18) Maka, hendaknya seseorang bersabar dalam menjauhi maksiat.

(SABAR MENERIMA TAKDIR ALLAH)
Kemudian beliau berkata, “Bersabarlah menerima hukum-Nya,” yaitu bersabar menerima takdir-Nya. Jadi, ketika seseorang tertimpa musibah, hendaknya ia bersabar. “Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innā lillāhi wa innā ilaihi rājiʿūn.'” (QS. Al-Baqarah: 155-156)

(SABAR DALAM KETAATAN)
“Dan bersabarlah dalam ketaatan,” dan ini jenis ketiga dari jenis-jenis kesabaran, yaitu sabar dalam menaati Allah. “Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (QS. Taha: 132) Bersabarlah dalam ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran. Orang yang tidak mampu bersabar, akankah dia mengerjakan salat Subuh? Akankan mengerjakan salat-salat lainnya? Akankah berbakti kepada orang tuanya? Sanggupkah berbuat kebaikan? Jika tidak punya kesabaran, pasti tidak mampu berbuat ketaatan, karena taat membutuhkan kesabaran, sehingga orang yang tidak bersabar tidak akan mampu. Sehingga, seorang hamba butuh kesabaran untuk taat kepada Allah, untuk menjauhi maksiat kepada-Nya, dan untuk menghadapi musibah-musibah menyakitkan. Inilah maksud perkataan beliau, “Dan bersabarlah dalam menjauhi kemaksiatan, dalam menerima hukum-Nya, dan dalam ketaatan, agar kamu bahagia.” Dan perkataan beliau—semoga Allah merahmatinya—di penghujung bait ini, “agar kamu bahagia,” di dalamnya ada pesan dari beliau—semoga Allah merahmatinya— bahwasanya kesabaran dengan ketiga jenisnya tersebut merupakan jalan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

=======================================================================

ثُمَّ قَالَ: تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ

فِي هَذَا الْبَيْتِ الْجَمِيلِ ذَكَرَ أَنْوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

الصَّبْرُ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ صَبْرٌ عَلَى الطَّاعَاتِ

وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَصَبْرٌ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ الْمُؤْلِمَةِ

وَجَمَعَ رَحِمَهُ اللهُ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَنَوَاعَ الصَّبْرِ الثَّلَاثَةَ

تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ هَذَا النَّوْعُ الْأَوَّلُ

أَيْ احْرِصْ نَفْسَكَ وَامْنَعْهَا عَنِ الْمَعْصِيَةِ

كُلَّمَا أَرَادَتْ نَفْسُكَ مَعْصِيَةً امْنَعْهَا وَخَوِّفْهَا بِاللهِ

وَذَكِّرْهَا بِهِ وَذَكِّرْهَا بِرُؤْيَةِ اللهِ لَكَ وَاطِّلَاعِهِ عَلَيْكَ

تَصَبَّرْ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا هَمَّتْ نَفْسُكَ بِمَعْصِيَةٍ صَبِّرْهَا

يَا نَفْسُ اصْبِرِي يَا نَفْسُ اصْبِرِي فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

بَعْضُ النَّاسِ لَمْ يَصْبِرْ عَنِ الْمَعْصِيَةِ وَمَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

وَهُمْ كَثِيرُونَ مَاتَ وَهُوَ عَاصٍ لِلهِ

لَكِنْ مَنْ يُصَبِّرْ نَفْسَهُ يُصَبِّرْهُ اللهُ

كُلَّمَا أَرَادَتِ النَّفْسُ مَعْصِيَةً مِنَ الْمَعَاصِي قَالَ: يَا نَفْسُ اصْبِرِي

اصْبِرِي لَكِ الْعَاقِبَةُ الْحَمِيدَةُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ

وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللهَ

فَيُصَبِّرُ نَفْسَهُ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَقَالَ: وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَهَذَا الصَّبْرُ عَلَى أَقْدَارِ اللهِ

إِذَا أُصِيبَ الْمَرْءُ بِمُصِيبَةٍ يَصْبِرُ

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ

قَالُوا إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ وَهَذَا النَّوعُ الثَّالِثُ مِنْ أَنْوَاعِ الصَّبْرِ

الصَّبْرُ عَلَى طَاعَةِ اللهِ

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْعَلَيْهَا

صَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ الطَّاعَةُ تَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ

مَنْ لَيْسَ عِنْدَهُ الصَّبْرُ هَلْ يُصَلِّي الْفَجْرَ؟

هَلْ يُصَلِّي الصَّلَوَاتِ؟

هَلْ يَبِرُّ وَالِدَيْهِ؟

هَلْ يَقُومُ بِأَعْمَالِ إِحْسَانٍ؟

إِذَا مَا عِنْدَهُ الصَّبْرُ مَا يَعْمَلُ الطَّاعَاتِ

الطَّاعَاتُ تَحْتَاجُ إِلَى صَبْرٍ وَمَنْ لَا صَبْرَ عِنْدَهُ لَا يَتَمَكَّنُ

فَالْعَبْدُ يَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيُطِيعَ اللهَ

وَيَحْتَاجُ إِلَى الصَّبْرِ لِيَكُفَّ عَنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَيَحْتَاجُ أَيْضًا إِلَى الصَّبْرِ فِي الْمَصَائِبِ الْمُؤْلِمَةِ

هَذَا مَعْنَى قَوْلِهِ تَصَبَّرْ عَنِ الْعِصْيَانِ

وَاصْبِرْ لِحُكْمِهِ وَصَابِرْ عَلَى الطَّاعَاتِ عَلَّكَ تَسْعَدُ

وَقَوْلِهِ رَحِمَهُ اللهُ فِي خَاتِمَةِ هَذَا الْبَيْتِ

عَلَّكَ تَسْعَدُ فِيهِ تَنْبِيهٌ مِنْهُ رَحِمَهُ الله تَعَالَى

إِلَى أَنَّ الصَّبْرَ بِأَنْوَاعِهِ الثَّلَاثَةِ سَبِيلُ السَّعَادَةِ

وَالْفَلَاحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

 

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Tanda Doa Dikabulkan Allah – Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr #NasehatUlama

Ada perkataan seorang salaf, saya tidak ingat siapa namanya,bahwa dia berkata kepada beberapa saudara-saudaranya, “Aku tahu doa mana yang akan Allah kabulkan bagiku.” Mereka berkata, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Aku tahu doa mana yang Allah kabulkan bagiku, aku mengetahuinya.” Mereka bertanya, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” Dia berkata, “Ketika hatiku khusyuk, seluruh badanku tenang, mataku meneteskan air mata, dan kesungguhanku dalam doa bertambah, aku yakin bahwa doa ini akan dikabulkan.”

Adapun doa yang keluar dari hati yang tidak khusyuk, lalai, dan tidak fokus, bagaimana mungkin akan dikabulkan? Sebagaimana sabda nabi kita ʿalaihiṣ ṣalātu was salām, “Berdoalah kepada Allah dengan meyakini bahwa doamu akan dikabulkan, karena, ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” “… Sungguh Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi)

Hati yang lalai, yaitu hati yang berpaling dan tidak menghadap kepada Allah, yang tidak yakin dalam doanya, sebagaimana telah kita bahas dalam atsar dari Ibnu Mas’ud, doa seperti ini, sangat layak untuk tidak dikabulkan! Allah akan mengabulkan doa dari hamba-Nya yang menghadapkan wajahnya kepada-Nya, memfokuskan hati kepada-Nya, jujur terhadap Tuhannya, sungguh-sungguh dalam doanya, khusyuk dalam doanya, dan yakin kepada Tuhannya yang Mahasuci lagi Mahatinggi, doa seperti ini yang sangat layak untuk dikabulkan, doa seperti ini sangat layak untuk dikabulkan.

===========

جَاءَ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ لَا أَذْكُرُ مَنْ هُوَ الْآنَ

أَنَّهُ قَالَ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ

إِنَّنِيْ أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي يَسْتَجِيبُهُ اللهُ لِيْ

قَالُوا: وَكَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: أَعْرِفُ الدُّعَاءَ الَّذِي اسْتَجَابَهُ اللهُ لِيْ أَعْرِفُهُ

قَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟

قَالَ: إِذَا خَشَعَ قَلْبِيْ وَلَانَتْ جَوَارِحِيْ وَدَمَعَتْ عَيْنِيْ

وَعَظُمَ إِلْحَاحِيْ أَيْقَنْتُ أَنَّ هَذَا دُعَاءٌ مُسْتَجَابٌ

أَمَّا الدُّعَاءُ الَّذِي يَصْدُرُ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ وَمِنْ قَلْبٍ لَاهٍ وَمِنْ قَلْبٍ مُعْرِضٍ

فَهَذَا أَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ؟

كَمَا قَالَ نَبِيُّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ

فَإِنَّ اللهَ أَوْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ

فَإِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ ‏- رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

أَيْ الْقَلْبُ الَّذِي مُنْصَرِفٌ عَنِ الْإِقْبَالِ عَلَى اللهِ

لَيْسَ ثَبْتًا فِي الدُّعَاءِ كَمَا مَرَّ مَعَنَا فِي أَثَرِ ابْنِ مَسْعُودٍ

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ بِأَنْ لَا يُسْتَجَابَ لَهُ

فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَجِيبُ مِنْ عَبْدِهِ الَّذِي أَقْبَلَ بِوَجْهِهِ

وَأَقْبَلَ بِقَلْبِهِ وَصَدَقَ مَعَ رَبِّهِ وَأَلَحَّ فِي دُعَائِهِ

وَأَقْبَلَ فِي سُؤَالِهِ وَوَاثِقٌ بِرَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

فَمِثْلُ هَذَا حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ

حَرِيٌّ أَنْ يُسْتَجَابَ